Kelola: Journal of Islamic Education Management April 2026. Vol. 11 No. 1 Hal 26 - 39 P-ISSN : 2548 Ae 4052 E-ISSN : 2685 Ae 9939 A2019 Manajemen Pendidikan Islam. https://ejournal. id/index. php/kelola REKONSTRUKSI EVALUASI PROGRAM SEBAGAI PILAR EVIDENCE-BASED QUALITY ASSURANCE PADA LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM 1Nurfadilla, 2Muhammad Faathir Husain Misba, 1Universitas Islam Negeri Palopo 2Universitas Islam Negeri Palopo E-mail: nurfadilla@uinpalopo. id, muhammadfaathirhusainmisba@uinpalopo. Abstract Program evaluation constitutes a critical component of educational quality assurance systems. however, in many Islamic educational institutions, it remains predominantly administratively oriented and has not been fully utilized as a foundation for evidence-based decision-making. This article aims to reconstruct the role of program evaluation as a central pillar of evidence-based quality assurance within Islamic educational institutions. The study adopts a qualitative approach through a systematic literature review of national and international journal articles, scholarly books, and relevant policy documents. Data were analyzed using content and thematic analysis to identify prevailing patterns of evaluation practices, the extent of their integration within quality assurance systems, and existing conceptual gaps. The findings reveal that program evaluation has been structurally institutionalized, yet the utilization of evaluation data remains limited, integration with internal quality assurance cycles is weak, and a culture of data-driven decision-making has not been optimally established. The discussion underscores the necessity of reconstructing program evaluation to generate robust quality evidence that supports continuous quality improvement while remaining aligned with the values and objectives of Islamic This article positions program evaluation as both a conceptual and operational foundation for strengthening evidence-based quality assurance in Islamic educational Keywords: Program evaluation. Quality of education. Evidence-Based Quality Assurance. Abstrak Evaluasi program merupakan komponen kunci dalam sistem penjaminan mutu pendidikan, namun pada banyak lembaga pendidikan Islam masih berorientasi administratif dan belum dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis bukti. Artikel ini bertujuan merekonstruksi posisi evaluasi program sebagai pilar utama evidence-based quality assurance pada lembaga pendidikan Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur terhadap artikel jurnal nasional dan internasional, buku ilmiah, serta dokumen kebijakan yang relevan. Analisis dilakukan melalui analisis isi dan tematik untuk mengidentifikasi pola praktik evaluasi, tingkat integrasinya dengan sistem penjaminan mutu, serta celah konseptual yang ada. Hasil kajian menunjukkan bahwa evaluasi program telah terinstitusionalisasi secara struktural, namun pemanfaatan data evaluasi masih terbatas. Vol. No. April 2026 28 | Nurfadilla. Muhammad Faathir Husain Misba integrasi dengan siklus penjaminan mutu internal lemah, dan budaya pengambilan keputusan berbasis data belum berkembang optimal. Pembahasan menegaskan bahwa rekonstruksi evaluasi program diperlukan agar mampu menghasilkan quality evidence yang mendukung peningkatan mutu berkelanjutan dan selaras dengan nilai-nilai pendidikan Islam. Artikel ini menegaskan evaluasi program sebagai fondasi konseptual dan operasional dalam penguatan evidence-based quality assurance pada lembaga pendidikan Islam. Kata Kunci: Evaluasi program. Mutu pendidikan. Evidence-Based Quality Assurance. PENDAHULUAN Mutu pendidikan merupakan isu sentral dalam pengelolaan lembaga pendidikan di berbagai belahan dunia, termasuk lembaga pendidikan Islam (Munir et al. , 2. Perkembangan kebijakan pendidikan, tuntutan akreditasi, serta meningkatnya ekspektasi publik terhadap kualitas layanan pendidikan menempatkan lembaga pendidikan Islam pada situasi yang semakin kompleks (Sholehuddin, 2. Lembaga pendidikan Islam tidak hanya dituntut untuk mempertahankan identitas dan nilai-nilai keislaman, tetapi juga diharapkan mampu menunjukkan kinerja mutu yang terukur, akuntabel, dan berkelanjutan sesuai dengan standar nasional maupun global (Murthosia et al. Sistem penjaminan mutu dipahami sebagai mekanisme strategis yang dirancang untuk memastikan bahwa seluruh proses penyelenggaraan pendidikan berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan serta mengalami peningkatan secara berkesinambungan (Ekowati et al. , 2. Evaluasi program menempati posisi kunci dalam sistem tersebut karena berfungsi menyediakan informasi yang sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai efektivitas, efisiensi, relevansi, dan keberlanjutan program-program pendidikan (Navlia & Jannah, 2. Informasi yang dihasilkan melalui evaluasi program seharusnya menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan kelembagaan dan perencanaan peningkatan mutu (Erawadi et al. , 2022. Yanti et al. , 2. Temuan empiris dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa evaluasi program pada lembaga pendidikan Islam masih menghadapi tantangan substantif dalam pelaksanaannya. Evaluasi program kerap dilaksanakan dalam kerangka pemenuhan kewajiban administratif, pelaporan rutin, atau kebutuhan akreditasi tanpa diikuti oleh pemanfaatan hasil evaluasi secara optimal (Azzahra et al. , 2025. Syahbani & Taridi, 2. Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa meskipun evaluasi telah melibatkan berbagai pemangku kepentingan, hasil evaluasi belum sepenuhnya digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan strategis berbasis data. Kondisi tersebut menyebabkan kontribusi evaluasi terhadap peningkatan mutu jangka Kelola: Journal of Islamic Education Management Rekonstruksi Evaluasi . panjang belum berjalan secara maksimal (Fanani & Anwar, 2023. Navlia & Aini, 2024. Putri et al. , 2. Evidence-based quality assurance adalah pendekatan dalam manajemen mutu yang menggunakan bukti ilmiah, data empiris, dan analisis rasional untuk menyusun, menerapkan, dan mengevaluasi proses jaminan mutu (Nurjaman et al. , 2. Pendekatan evidence-based quality assurance menempatkan data dan bukti empiris sebagai fondasi utama dalam perencanaan, pengendalian, dan peningkatan mutu Pendidikan (Madhakomala et al. , 2. Penjaminan mutu berbasis bukti tidak hanya menekankan kepatuhan terhadap standar, tetapi menuntut penggunaan informasi yang valid, reliabel, dan relevan sebagai dasar pengambilan keputusan kelembagaan (Wijiati et al. , 2. Konsep ini mengadopsi prinsip fundamental Evidence-Based Management yang dikemukakan oleh Pfeffer dan Sutton . , yang menolak pengambilan keputusan manajerial berdasarkan asumsi, intuisi, atau kebiasaan masa lalu semata. Dalam konteks pendidikan, hal ini mempertegas bentuk akuntabilitas yang lebih luas. Wagner . mendefinisikan ini bukan sekadar akuntabilitas profesional kepada negara . , melainkan akuntabilitas moral kepada publik dan pemangku Artinya, kegagalan dalam menggunakan data evaluasi yang valid untuk perbaikan mutu bukan hanya kesalahan administratif, melainkan pelanggaran terhadap amanah pengelolaan Pendidikan. Menurut Hargreaves, pendekatan berbasis bukti dalam pendidikan bukanlah sekadar mengumpulkan data, tetapi menggunakannya untuk menjelaskan apakah dan mengapa sesuatu terjadi, serta menginformasikan alokasi sumber daya dan praktik pengajaran (Hargreaves, 1. Dalam kerangka ini, mutu tidak dipahami sebagai capaian statis, melainkan sebagai proses dinamis yang terus dievaluasi dan diperbaiki melalui siklus pengumpulan data, analisis bukti, refleksi kritis, dan tindak lanjut perbaikan. Evaluasi program berperan strategis sebagai sumber utama quality evidence yang memungkinkan lembaga pendidikan untuk menilai efektivitas kebijakan, mengidentifikasi kesenjangan mutu, serta merumuskan strategi peningkatan mutu secara sistematis dan berkelanjutan (Navlia & Aini, 2. Oleh karena itu, evidence-based quality assurance menuntut integrasi yang kuat antara evaluasi program, sistem penjaminan mutu internal, dan tata kelola kelembagaan yang berbasis data (Beerkens, 2. Berbagai praktik yang berkembang menunjukkan bahwa evaluasi program memiliki kapasitas signifikan untuk berperan sebagai instrumen strategis dalam penjaminan mutu apabila dirancang dan dilembagakan secara Model evaluasi yang selaras dengan prinsip continuous quality improvement memperlihatkan bahwa data hasil evaluasi dapat digunakan untuk memetakan capaian mutu, mengidentifikasi kesenjangan kinerja, serta Vol. No. April 2026 30 | Nurfadilla. Muhammad Faathir Husain Misba merumuskan strategi perbaikan secara berkelanjutan (Hidayat et al. , 2025. Sudiansyah & Peterianus, 2. Implementasi pendekatan tersebut masih relatif terbatas dan belum sepenuhnya ditopang oleh kerangka konseptual yang secara eksplisit menempatkan evaluasi program sebagai fondasi utama penjaminan mutu berbasis bukti (Maulana et al. , 2. Tinjauan terhadap penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa evaluasi program dan sistem penjaminan mutu sering diposisikan sebagai dua domain yang berjalan secara paralel. Evaluasi program lebih banyak dipahami sebagai aktivitas teknis penilaian program, sementara penjaminan mutu dipersepsikan sebagai sistem prosedural yang berorientasi pada kepatuhan terhadap standar (Arini et al. , 2. Integrasi konseptual dan operasional antara evaluasi program dan evidence-based quality assurance pada lembaga pendidikan Islam masih relatif terbatas. Celah kajian tersebut menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih integratif dan reflektif. Urgensi kajian ini berkaitan erat dengan risiko sistem penjaminan mutu yang tidak ditopang oleh evaluasi program berbasis bukti. Sistem penjaminan mutu yang lemah secara empiris berpotensi tereduksi menjadi formalitas administratif dan kehilangan daya dorong untuk peningkatan mutu berkelanjutan (Maulana et al. , 2. Kondisi tersebut dapat melemahkan kapasitas lembaga pendidikan Islam dalam menjaga mutu, meningkatkan daya saing, serta memastikan keberlanjutan misi pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Novelty artikel ini terletak pada upaya menempatkan evaluasi program bukan sekadar sebagai instrumen penilaian teknis, melainkan sebagai pilar konseptual dan operasional evidence-based quality assurance yang terintegrasi dalam tata kelola mutu lembaga pendidikan Islam. Artikel ini secara khusus bertujuan untuk merekonstruksi evaluasi program sebagai pilar utama evidence-based quality assurance pada lembaga pendidikan Islam. Fokus tulisan ini bukan hanya pada bagaimana evaluasi dilakukan, tetapi pada bagaimana evaluasi program diposisikan sebagai instrumen strategis dalam tata kelola mutu, pengambilan keputusan berbasis data, dan peningkatan mutu berkelanjutan yang berlandaskan nilai-nilai pendidikan Islam. Argumen utama yang dibangun dalam artikel ini adalah bahwa tanpa rekonstruksi evaluasi program, sistem penjaminan mutu akan kehilangan fondasi empiris dan berpotensi menjadi sekadar formalitas METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi Pendekatan ini dipilih karena penelitian diarahkan untuk mengkaji dan merekonstruksi konsep evaluasi program dalam kerangka evidence-based Kelola: Journal of Islamic Education Management Rekonstruksi Evaluasi . quality assurance pada lembaga pendidikan Islam, bukan untuk menguji hipotesis atau mengukur variabel secara kuantitatif. Studi literatur memungkinkan peneliti menelaah secara kritis perkembangan konseptual dan temuan empiris yang relevan dengan evaluasi program dan sistem penjaminan mutu. Sumber data penelitian berasal dari artikel jurnal nasional dan internasional, buku ilmiah, serta dokumen kebijakan yang berkaitan dengan evaluasi program, penjaminan mutu, dan pengelolaan mutu pendidikan Islam. Literatur dipilih secara purposif berdasarkan relevansi tema dan kontribusinya terhadap pembahasan penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur akademik dengan kata kunci yang relevan, kemudian diseleksi dan diklasifikasikan sesuai fokus kajian. Analisis data dilakukan melalui analisis isi dan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, kecenderungan, serta celah kajian dalam literatur yang Hasil analisis selanjutnya disintesis secara reflektif guna merumuskan kerangka rekonstruksi evaluasi program sebagai pilar evidencebased quality assurance yang memiliki implikasi konseptual dan praktis bagi lembaga pendidikan Islam. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil analisis literatur menunjukkan bahwa evaluasi program pada lembaga pendidikan Islam telah menjadi bagian dari praktik penjaminan mutu, namun posisinya masih cenderung bersifat operasional dan Sebagian besar literatur yang dikaji menempatkan evaluasi program sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan pelaporan, akreditasi, dan pemenuhan standar formal, bukan sebagai sumber utama bukti empiris dalam pengambilan keputusan kelembagaan. Pola ini terlihat konsisten pada berbagai konteks lembaga pendidikan Islam, baik pada tingkat sekolah, madrasah, maupun perguruan tinggi. Posisi evaluasi program dalam sistem penjaminan mutu masih didominasi oleh orientasi operasional dan administratif. Literatur yang dianalisis memperlihatkan bahwa evaluasi program umumnya dilaksanakan pada akhir siklus kegiatan untuk memenuhi kebutuhan pelaporan, akreditasi, dan audit mutu eksternal. Evaluasi belum secara konsisten diposisikan sebagai bagian integral dari proses perencanaan strategis dan pengambilan keputusan berbasis data. Pola ini muncul secara berulang dalam berbagai konteks lembaga pendidikan Islam, baik pada jenjang pendidikan dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi. Vol. No. April 2026 32 | Nurfadilla. Muhammad Faathir Husain Misba Pemanfaatan data hasil evaluasi program menunjukkan keterbatasan yang signifikan. Hasil evaluasi pada banyak lembaga pendidikan Islam cenderung disajikan dalam bentuk laporan deskriptif tanpa analisis lanjutan yang mengaitkan temuan evaluasi dengan kebijakan peningkatan mutu. Data evaluasi jarang digunakan untuk memetakan capaian mutu, mengidentifikasi kesenjangan kinerja, atau menentukan prioritas perbaikan program. Kondisi ini mengindikasikan bahwa evaluasi program belum berfungsi optimal sebagai sumber utama quality evidence dalam sistem penjaminan mutu Hubungan antara evaluasi program dan sistem penjaminan mutu internal memperlihatkan Tingkat integrasi yang masih lemah. Sejumlah literatur mengungkap bahwa evaluasi program sering dilaksanakan oleh unit atau tim tertentu tanpa keterkaitan yang jelas dengan siklus penjaminan mutu Lembaga. Temuan evaluasi tidak selalu terintegrasi ke dalam proses penetapan standar, pengendalian mutu, dan peningkatan mutu berkelanjutan. Fragmentasi tersebut memperkuat indikasi bahwa evaluasi program dan penjaminan mutu masih dipahami sebagai duaa domain yang berjalan secara Praktik evaluasi program yang mengarah pada prinsip continuous quality improvement mulai teridentifikasi dalam sejumlah kajian. Beberapa penelitian mengungkapkan pemanfaatan evaluasi program untuk memantau implementasi kebijakan, menilai efektivitas program, serta merumuskan rekomendasi perbaikan berbasis data. Praktik ini menunjukkan potensi evaluasi program untuk berfungsi sebagai instrumen strategis penjaminan mutu apabila dirancang dan dilembagakan secara sistematis. Intensitas dan konsistensi penerapan pendekatan tersebut masih terbatas dalam konteks Lembaga Pendidikan islam. Sintesis temuan literatur mengungkapkan adanya kesenjangan antara potensi evaluasi program dan pemanfaatannya dalam sistem penjaminan Evaluasi program telah tersedia secara structural, tetapi belum sepenuhnya berfungsi sebagai pilar evidence-bassed quality assurance. Temuan ini menegaskan kebutuhan dan rekonstruksi konseptual dan operasional evaluasi program agar mampu menghasilkan bukti empiris yang relevan, terintegrasi, dan berdaya guna bagi peningkatan mutu lembaga pendidikan islam. PEMBAHASAN Temuan hasil kajian literatur menegaskan bahwa keberadaan evaluasi program pada lembaga pendidikan Islam telah menjadi bagian yang secara struktural melekat dalam sistem penjaminan mutu. Hampir seluruh literatur yang ditelaah menunjukkan bahwa evaluasi program dilaksanakan secara Kelola: Journal of Islamic Education Management Rekonstruksi Evaluasi . rutin dalam berbagai bentuk dan lingkup. Temuan ini sejalan dengan kebijakan nasional dan internasional yang menempatkan evaluasi sebagai instrumen penting dalam tata kelola pendidikan. Keberadaan evaluasi program tersebut menunjukkan adanya kesadaran institusional terhadap pentingnya pengendalian mutu dan akuntabilitas penyelenggaraan Orientasi pelaksanaan evaluasi program pada banyak lembaga pendidikan Islam masih menunjukkan kecenderungan administratif dan Sejumlah penelitian mengungkap bahwa evaluasi program sering kali diposisikan sebagai bagian dari pemenuhan kewajiban formal, terutama dalam konteks akreditasi dan pelaporan kelembagaan (Azzahra et al. , 2025. Syahbani & Taridi, 2. Pola ini tidak hanya ditemukan pada lembaga pendidikan Islam di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global dalam sistem penjaminan mutu pendidikan yang masih berorientasi pada kepatuhan terhadap standar . ompliance-based quality assuranc. sebagaimana diidentifikasi oleh Harvey dan Williams (Harvey & Williams, 2. Dominasi pendekatan administratif dalam evaluasi program berdampak pada terbatasnya pemanfaatan data evaluasi sebagai dasar pengambilan keputusan strategis. Hasil kajian ini mengonfirmasi temuan Fanani dan Anwar (Fanani & Anwar, 2. serta Navlia dan Aini (Navlia & Aini, 2. yang menyatakan bahwa laporan evaluasi sering kali berhenti pada tahap dokumentasi tanpa diintegrasikan ke dalam proses perencanaan dan peningkatan mutu. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan data evaluasi tidak secara otomatis menjamin terwujudnya pengambilan keputusan berbasis bukti. Konsep evidence-based quality assurance memberikan kerangka analitis yang relevan untuk menjelaskan persoalan tersebut. Pendekatan ini menekankan bahwa mutu pendidikan hanya dapat ditingkatkan secara berkelanjutan apabila keputusan kelembagaan didasarkan pada bukti empiris yang valid dan relevan (Beerkens, 2. Dalam konteks ini, evaluasi program seharusnya berfungsi sebagai produsen utama quality evidence yang menopang keseluruhan siklus penjaminan mutu. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi strategis tersebut belum sepenuhnya terwujud pada lembaga pendidikan Islam. Pemanfaatan data evaluasi program yang terbatas juga berkaitan dengan lemahnya budaya pengambilan keputusan berbasis data. Kajian internasional mengungkap bahwa banyak institusi pendidikan mengalami kondisi data-rich but information-poor, yaitu memiliki banyak data tetapi minim pemanfaatan analitis untuk perbaikan mutu (Gaftandzhieva et al. , 2. Fenomena ini tercermin dalam praktik evaluasi program pada lembaga pendidikan Islam, di mana data evaluasi belum dianalisis secara sistematis untuk mengidentifikasi Vol. No. April 2026 34 | Nurfadilla. Muhammad Faathir Husain Misba pola, tren, dan akar permasalahan mutu. Fenomena tumpukan data yang tidak bermakna ini dapat dianalisis menggunakan kerangka Data-Driven Decision Making . M) dari Mandinach dan Jackson . Mereka menekankan bahwa data mentah . aw dat. dari evaluasi tidak akan bermakna tanpa transformasi menjadi informasi dan pengetahuan yang dapat ditindaklanjuti . ctionable knowledg. Hambatan transformasi ini sering kali bersifat politis dan struktural, sebagaimana dijelaskan oleh Weiss . , di mana hasil evaluasi kerap diabaikan jika tidak sejalan dengan status quo atau sekadar digunakan sebagai legitimasi simbolis . ymbolic utilizatio. untuk memuaskan tuntutan eksternal tanpa niat perbaikan internal. Hubungan yang terfragmentasi antara evaluasi program dan sistem penjaminan mutu internal menjadi temuan penting dalam penelitian ini. Literatur menunjukkan bahwa evaluasi program sering dilaksanakan oleh unit tertentu tanpa integrasi yang kuat dengan siklus penjaminan mutu. Arini menegaskan bahwa pemisahan ini menyebabkan hasil evaluasi kehilangan daya dorongnya dalam mendorong perbaikan mutu (Arini et al. , 2. Temuan ini memperkuat argumen bahwa evaluasi program tidak cukup hanya dilaksanakan, tetapi harus dilembagakan secara struktural dalam tata kelola Pelembagaan ini menuntut pergeseran paradigma dari apa yang disebut Ehlers . sebagai Quality Assurance . ekanisme kontrol prosedura. menuju Quality Culture . ilai dan komitmen psikologis bersama terhadap Agar budaya ini terbentuk, desain evaluasi harus diubah. Patton . melalui teori Utilization-Focused Evaluation menyarankan agar evaluasi tidak lagi dirancang 'untuk sekadar tahu', melainkan dirancang dengan memikirkan 'siapa yang akan menggunakan hasilnya' dan 'untuk keputusan apa'. Dengan demikian, setiap instrumen evaluasi yang disebar memiliki tujuan strategis yang spesifik, bukan formalitas belaka. Prinsip continuous quality improvement menawarkan perspektif alternatif dalam memaknai evaluasi program. Pendekatan ini menempatkan evaluasi sebagai proses berkelanjutan yang terintegrasi dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian mutu. Penelitian Hidayat. Sudiansyah dan Peterianus menunjukkan bahwa evaluasi program yang selaras dengan prinsip ini mampu menghasilkan perbaikan mutu yang lebih terarah dan berkelanjutan (Hidayat et al. , 2025. Sudiansyah & Peterianus, 2. Dalam operasionalnya, pendekatan ini dapat memperkuat model CIPP dengan penekanan pada dimensi Improvement-Oriented Evaluation sebagaimana diperbarui oleh Stufflebeam dan Zhang . , yang memandang evaluasi sebagai alat bantu navigasi menuju keunggulan, bukan sekadar rapor akhir. Hal ini sejalan dengan konsep The Learning Organization dari Senge . , di mana lembaga pendidikan Islam harus terhindar dari 'kebutaan belajar' . earning disabilitie. dengan menjadikan evaluasi sebagai sarana refleksi Kelola: Journal of Islamic Education Management Rekonstruksi Evaluasi . Sallis . menambahkan bahwa semangat perbaikan terusmenerus . ontinuous improvemen. ini sangat kompatibel dengan etos Islam tentang 'Ihsan' dan 'Itqan' . rofesionalitas/penyempurnaan kualita. , sehingga sistem penjaminan mutu menjadi manifestasi ibadah yang terukur. Konteks lembaga pendidikan Islam memberikan dimensi tambahan dalam pembahasan evaluasi program dan penjaminan mutu. Pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada internalisasi nilai dan pembentukan karakter. Murthosia menegaskan bahwa mutu pendidikan Islam harus dipahami secara holistik, mencakup dimensi kognitif, afektif, dan spiritual (Murthosia et al. , 2. Oleh karena itu, evaluasi program yang berfungsi sebagai pilar evidence-based quality assurance harus mampu mengakomodasi kompleksitas tujuan tersebut. Kerangka evidence-based quality assurance tidak menafikan nilai dan konteks, melainkan justru menuntut penggunaan bukti yang relevan dengan karakter institusi. Baharun dkk. menekankan bahwa sistem penjaminan mutu yang efektif harus selaras dengan budaya dan nilai kelembagaan. Temuan penelitian ini memperkuat pandangan tersebut dengan menunjukkan bahwa evaluasi program pada lembaga pendidikan Islam perlu direkonstruksi agar mampu menghasilkan bukti empiris yang tidak hanya valid secara teknis, tetapi juga bermakna secara nilai (Baharun et al. , 2. Rekonstruksi evaluasi program sebagaimana diusulkan dalam penelitian ini mencakup perubahan paradigma dari evaluasi sebagai aktivitas akhir menjadi evaluasi sebagai proses reflektif berkelanjutan. Evaluasi program perlu diposisikan sebagai bagian integral dari siklus penjaminan mutu yang mencakup penetapan standar, pelaksanaan program, evaluasi dan pengendalian, serta peningkatan mutu (Supriyanto et al. , 2. Pendekatan ini sejalan dengan model penjaminan mutu internal yang dikembangkan dalam berbagai sistem pendidikan, termasuk PPEPP di Indonesia. Implikasi konseptual dari temuan ini menunjukkan bahwa evaluasi program merupakan pilar utama evidence-based quality assurance. Evaluasi tidak lagi dipahami sebagai alat pengukuran teknis, tetapi sebagai mekanisme pembelajaran organisasi. Annet menegaskan bahwa evaluasi yang efektif harus memberikan dasar rasional bagi pengambilan keputusan dan perbaikan kebijakan (Annet, 2. Temuan penelitian ini menguatkan relevansi pandangan tersebut dalam konteks lembaga pendidikan Islam. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada integrasi evaluasi program dan penjaminan mutu dalam satu kerangka konseptual yang berbasis bukti. Kajian terdahulu cenderung memisahkan kedua aspek tersebut atau membahasnya secara parsial. Penelitian ini menawarkan pendekatan integratif yang menempatkan evaluasi program sebagai sumber utama quality evidence dalam tata kelola mutu. Pendekatan ini diharapkan mampu Vol. No. April 2026 36 | Nurfadilla. Muhammad Faathir Husain Misba menjembatani kesenjangan antara praktik evaluasi dan kebutuhan peningkatan mutu berkelanjutan. Secara praktis, temuan penelitian ini memberikan implikasi bagi penguatan tata kelola lembaga pendidikan Islam. Untuk mencapai kedalaman analisis tersebut, metodologi evaluasi di lembaga pendidikan Islam perlu mengadopsi pendekatan Realist Evaluation (Pawson & Tilley, 1. Pendekatan ini tidak hanya bertanya 'apakah program berhasil?', tetapi menggali lebih dalam: 'apa yang berhasil, bagi siapa, dalam kondisi apa, dan mengapa?'. Pertanyaan evaluatif semacam ini akan menghasilkan bukti empiris yang jauh lebih kaya untuk memandu intervensi kebijakan yang tepat Evaluasi program perlu dirancang dengan indikator yang jelas, mekanisme pengumpulan data yang reliabel, serta prosedur analisis yang mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Integrasi hasil evaluasi ke dalam sistem penjaminan mutu internal menjadi prasyarat bagi terwujudnya evidence-based quality assurance yang efektif. Secara keseluruhan, pembahasan ini menegaskan bahwa evaluasi program memiliki posisi strategis dalam penguatan penjaminan mutu lembaga pendidikan Islam. Tanpa rekonstruksi evaluasi program, sistem penjaminan mutu berisiko tereduksi menjadi formalitas administratif. Temuan penelitian ini memperkuat urgensi pengembangan evaluasi program sebagai pilar evidence-based quality assurance yang mampu mendukung peningkatan mutu berkelanjutan dan keberlanjutan misi pendidikan Islam. PENUTUP Kajian ini menyimpulkan bahwa evaluasi program pada lembaga pendidikan Islam telah menjadi bagian struktural dari sistem penjaminan mutu, namun masih didominasi oleh orientasi administratif dan pemenuhan standar formal. Evaluasi program belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber utama bukti empiris dalam pengambilan keputusan strategis dan peningkatan mutu berkelanjutan. Keterbatasan pemanfaatan data evaluasi, lemahnya integrasi dengan sistem penjaminan mutu internal, serta rendahnya budaya pengambilan keputusan berbasis data menjadi faktor utama yang menghambat terwujudnya penjaminan mutu yang efektif. Rekonstruksi evaluasi program dalam kerangka evidence-based quality assurance menjadi kebutuhan strategis bagi lembaga pendidikan Islam. Evaluasi program perlu diposisikan sebagai pilar utama yang menyediakan quality evidence bagi seluruh siklus penjaminan mutu, sekaligus selaras dengan nilai dan tujuan pendidikan Islam. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan evaluasi program berbasis bukti merupakan prasyarat penting bagi terwujudnya tata kelola mutu yang akuntabel, adaptif, dan berkelanjutan. Kelola: Journal of Islamic Education Management Rekonstruksi Evaluasi . Keterbatasan penelitian ini terletak pada penggunaan studi literatur tanpa pengujian empiris pada konteks kelembagaan tertentu. Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk mengkaji implementasi evaluasi program berbasis bukti secara empiris pada berbagai tipe lembaga pendidikan Islam guna memperkuat validitas dan relevansi praktis temuan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA