CORAK PEMAHAMAN KARYAWAN KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN REJANG LEBONG TERHADAP KONSEP TAKDIR DAN KOHERENSINYA DENGAN ETOS KERJA (STUDI TEOLOGIS PEMAHAMAN TENTANG TAKDIR DAN ETOS KERJA) Ombi Romli Program Studi Filsafat Agama Pascasarjana IAIN Bengkulu Jl. Raden Fatah Kel. Pagar Dewa Kota Bengkulu, 56144 Email: ombi_romli@gmail. Abstract: The purpose of this study is to know about the style of understanding the concept of destiny employees of the Ministry of Religious Rejang Lebong. The work ethic of employees Ministry of Religious Rejang Lebong and how coherence between the understanding of destiny with the work ethic. Research conducted qualitative, with a phenomenological approach. Who became an informant as a data source is partially employee Rejang Lebong Religious Affairs totaling 25 people, consisting of the organizationAos leaders, the heads of sections. Organizer and supervisor of the Islamic religion and the staff all of whom are Muslims. Then the research data were analyzed using analytical techniques deskriftik. In this study, the authors wanted to know and to describe, the following matters: First, the style of understanding the concept of destiny employees of the Ministry of Religious Rejang Lebong, author klsifikasikan to tigaa jabariah pattern that is moderate, that gives meaning to the concept of destiny will be the synergy between the absolute freedom of God with the power of human endeavor. In addition there are patterned qodariah, who interpret memaberikan broadest freedom to power and the power of man, and the last, patterned extreme jabariah, who interpret destiny is the prerogative of God, men did not take part in it, like a puppet-driven human puppeteer. Second, the Ministry of Religious Affairs Employees Work Ethic Rejang Lebong. The result shows that in general, his work ethic were high. With the following indicators: . Employee attitudes toward work: Fleksibilitas while working 2. Adjustment of work . Feelings of an employee: 1. Control 2. senag bekerja. The willingness of the employees to do the job: 1. Compliance work, 2. Willingness to complete the work, . employees currently work: 1. The seriousness of the work The third of the coherence between the understanding of the concept of destiny with the work ethic. From the data I have found the results, that there is a significant relationship between the understanding of religious ministry employees destiny Rejang Lebong with his work ethic. Broadly speaking, that employees who patterned jabariah moderate ideology and Qodariyah work ethic tends to be high, employees were shades of understanding destiny jabariah extreme work ethic tends to be low. Keywords: Understanding, concept of Destiny. Working Performance Abstrak: Tujuan penelitian ini ialah diketahuinya tentang corak pemahaman konsep takdir karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong. Etos kerja karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong dan bagaimana koherensinya antara pemahaman takdir dengan etos kerja. Penelitian yang dilakukan bersifat kualitatif, dengan pendekatan fenomenologis. Yang menjadi informan sebagai sumber datanya adalah sebagian karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong yang berjumlah 25 orang, yang terdiri dari pimpinan organisasi, para kepala seksi. , penyelenggara dan pengawas agama Islam serta para staf yang kesemuanya beragama Islam. Kemudian data penelitian yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan teknik deskriftik Dalam penelitian ini, penulis ingin mengetahui dan mendeskripsikan, hal-hal sebagai berikut: Pertama, corak pemahaman konsep takdir karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong, penulis klsifikasikan kepada tigaa corak yaitu jabariah moderat, yang memberikan pemaknaan pada konsep takdir akan adanya sinergisitas antara kebebasan mutlak Tuhan dengan daya usaha manusia. Selain itu ada yang bercorak qodariah, yang memaknai memaberikan kebebasan seluas-luasnya kepada daya dan kekuatan manusia, dan yang terakhir, bercorak jabariah ekstrim, yang memaknai takdir adalah hak prerogatif Tuhan, manusia tidak mengambil bagian didalamnya, manusia bagaikan wayang yang digerakan dalang Kedua. Etos Kerja Karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong. Hasilnya menunjukan bahwa secara umum, etos kerjanya termasuk kategori tinggi. Dengan indikator sebagai berikut: . Sikap karyawan terhadap kerja:1. Fleksibilitas saat bekerja 2. Penyesuaian kerja . Perasaan seorang karyawan: 1. Penguasaan pekerjaan 2. Senag bekerja. Kesediaan karyawan dalam Manthiq Vol. No. November 2016 melaksanakan pekerjaannya:1. Kepatuhan bekerja, 2. Kemauan menyelesaikan pekerjaan, . Keseriusan karyawan saat bekerja: 1. Kesungguhan dalam bekerja. ketiga tentang koherensinya antara pemahaman konsep takdir dengan etos kerja. Dari data yang penulis temukan hasilnya, bahwa ada hubungan yang cukup signifikan antara pemahaman takdir karyawan kementerian agama Kabupaten Rejang Lebong dengan etos kerjanya. Secara garis besar bahwa karyawan yang bercorak faham jabariah moderat dan qodariyah etos kerjanya cenderung tinggi. Karyawan yang corak pemahaman takdirnya jabariah ekstrim, etos kerjanya cenderung rendah. Kata Kunci: Corak Pemahaman. Konsep Takdir. Etos Kerja Pendahuluan Takdir merupakan ketentuan Tuhan sering kali diberikan pemaknaan yang sama dengan nasib. Padahal sebenarnya kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda. Jika takdir mengajarkan pada manusia agar tegar, dinamis, dan kreatif dalam menyikapi kehidupan. Maka nasib adalah sebaliknya, cenderung mendorong manusia untuk bersikap pasrah, statis, dan malas. Implikasi takdir dan kehendak bebas terhadap persoalan etos kerja salah satu persoalan yang sangat pelik yang ditemukan dalam syariat . dan sangat mempengaruhi etos kerja suatu bangsa atau kelompok. Kalau kita lihat bahwa penafsiran aliran aliran teologi tentang dalil-dalil wahyu . l-QurAoan dan Hadits Nab. yang berkorelasi dengan persoalan takdir kita temukan seolah olah adanya pertentangan. Demikian juga dengan argumen akal. Secara jelas dapat dikatakan bahwa corak pemahaman takdir yang berkembang di Indonesia adalah bercorak jabariyah dikalangan tradisionalis, dan bercorak qodariyah dikalangan intelektual. Tradisionalis yaitu pemikiran tentang takdir Tuhan yang tidak memberikan kebebasan berkehendak dan berbuat kepada manusia, daya yang kecil bagi akal, kekuasaan kehendak Tuhan yang berlaku semutlak mutlaknya, serta terikat pada makna harfiah dalam memberi interpretasi ayat ayat al-QurAoan. 2 Sedangkan pemikiran takdir secara rasional yaitu memberikan kebebasan berbuat dan berkehendak kepada manusia, daya yang kuat pada akal, kekuasaan, dan kehendak mutlak Tuhan yang terbatas, serta tidak terikat pada makna harfiah dan banyak memakai arti majazi dalam memberi interpretasi ayat ayat Al-QurAoan. Agus Mustofa. Mengubah Takdir, (Surabaya: PADMA Press, 2. , h. Rozak dan Anwar. Ilmu . , h. Rozak dan Anwar. Ilmu. , h. Setelah melihat beberapa corak pemahaman takdir yang berkembang di Indonesia. Melalui karya ilmiah ini, berusaha ingin melacak dan mengetahui perubahan dan pergeseran dalam konteks pemahaman takdir yang berkembang diprovinsi Bengkulu yang menurut pengamatan sementara berdasarkan fakta sejarah tidak terlepas dengan perkembangan paham takdir yang berkembang di Indonesia secara umum, tetapi lebih mengarah kepada kedua corak, yaitu bercorak jabariyah dan qodariyah, dikarenakan masyarakat lebih mengenal kedua corak tersebut. Pemahaman konsep takdir yang benar dan mendalam akan mengajari manusia untuk hidup Sebaliknya, pemahaman konsep takdir yang disamakan dengan konsep nasib, cenderung mengarahkan manusia untuk berperilaku kontraproduktif. Sehingga apabila seorang karyawan telah memiliki pemahaman tentang konsep takdir secara benar dan mendalam, maka tidak menutup kemungkinan akan terbentuk pula etos kerja yang Pemahaman tentang dalil-dalil al-qurAoan, inilah salah satu sebagai sumber permasalahan sehingga pemahaman tentang takdir menjadi bermacam-macam. Dalam kenyataan hidup ini setiap orang memiliki pemahaman tentang konsep takdir yang berbeda-beda. Penulis pernah menemui beberapa orang Karyawan Kementerian agama Kabupaten Rejang Lebong yang mengatakan bahwa dirinya telah ditakdirkan jadi orang miskin sehingga usaha yang dia lakukan tetap saja tidak membuatnya kaya. Sebagian yang lain ada yang mengatakan bahwa segala sesuatu memang telah ditakdirkan oleh Tuhan akan tetapi kita sebagai manusia diberikan akal untuk berkreativitas dan usaha, maka kita wajib berusaha semaksimal mungkin adapun akhirnya Tuhan yang menentukan. Berkaca dari pengalaman tersebut, penulis ingin mengetahui corak pemahaman tentang katdir para karyawan Ombi Romli: Corak Pemahaman Karyawan Kementerian Agama Kemenag Kabupaten Rejang Lebong dan apakah ada hubungannya antara corak pemahaman takdir yang dimiliki Karyawan terhadap cara kerjanya, yang penulis rumuskan dengan etos Rumusan Masalah Berdasarkan Batasan masalah yang penulis kemukakan diatas, untuk memudahkan dalam memahami dan mengkajinya, maka penulis rumuskan masalahnya sebagai berikut: Bagaimana corak pemahaman Karyawan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong Tentang takdir? Bagaimana Etos Kerja Karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong? Bagaimana koherensinya corak pemahaman konsep takdir Karyawan kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong terhadap etos Kerjanya? Tujuan Penelitian Untuk mendeskripsikan tentang Corak Pemahaman konsep takdir karyawan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong. Untuk mendeskripsikan tentang etos kerja karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong. Untuk mendeskripsikan koherensinya antara corak pemahaman konsep takdir karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong dengan etos kerjanya. Landasan Teori Takdir dan hubungannya dengan Ethos Kerja Etos kerja seseorang erat kaitannya dengan kepribadian, perilaku dan karakter. Setiap orang memiliki internal being yang merupakan siapa Kemudian internal being menetapkan respon atau reaksi terhadap tuntutan eksternal. Respon internal being terhadap tuntutan eksternal dunia kerja menetapkan etos kerja seseorang. memberikan makna sesuatu yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal sehingga pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan antara manusia dengan makhluk lainnya dapat terjalin dengan baik. Koentjoroningrat etos berasal dari kata Yunani yaitu dari kata ethos yang artinya: ciri, sifat, atau kebiasaan, adat istiadat atau juga kecenderungan moral, pandangan hidup yang dimiliki seseorang, suatu kelompok orang atau baangsa, menurutnya bahwa etos merupakan watak khas yang tampak dari luar, terlihat oleh orang lain. 6 Menurut Mochtar Buchori etos adalah kecenderungan moral, pandangan hidup yang dimiliki seseorang, suatu kelompok orang atau Nurcholish Madjid, etos ialah karakter dan sikap, kebiasaan serta kepercayaan dan seterusnya yang bersifat khusus tentang seorang individu atau sekelompok manusia. Dan dari kata etos terambil pula perkataan AuetikaAy yang merujuk pada makna akhlak atau bersifat akhlaqi yaitu kualitas esensial seseorang atau sekelompok manusia termasuk suatu bangsa. Etos juga berarti jiwa khas suatu kelompok manusia yang dari padanya berkembang pandangan bangsa sehubungan dengan baik dan buruk yakni etika. Menurut Suparman Syukur istilah etika sering digunakan dalam tiga perbedaan yang saling terkait, yang berarti . merupakan pola umum atau jalan AuhidupAy . seperangkat aturan atau Au kode moralAy dan . penyelidikan tentang aturanaturan perilaku, atau merupakan penyelidikan filosofis tentang hakekat dan dasar-dasar moral. Ia merupakan salah satu cabang filsafat, maka pengertian etika menurut filsafat adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh Adapun kerja, dalam Kamus Besar Bahasa ihttp://nasihatbathin. id/2011/12/etos-kerja. diakses tanggal 7 Mei 2016 Menurut Toto Tasmara Etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini, dan iihttp://nasihatbathin. id/2011/12/etos-kerjapegawai. html, diakses tanggal 7 Mei 2016 Koentjoroningrat. Rintangan-rintangan Mental Pembangunan Ekonomi, (Jakarta:LIPI, 1. , h. Mochtar Bochori. Penelitian Pendidikan dan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta. Press, 1. , h. Alwiyah Jamil. Pengaruh Etika Kerja Islam terhadap sikapsikap pada Perubahan Organisasi, (Semarang: Tesis. Universitas diponogoro,2. , h. Suparman Syukur. Etika Religius, . Manthiq Vol. No. November 2016 Indonesia, artinya: kegiatan melakukan sesuatu. 10 EI-Qussy, seorang pakar Ilmu Jiwa berkebangsaan Mesir, menerangkan bahwa kegiatan atau perbuatan manusia ada dua Pertama, perbuatan yang berhubungan dengan kegiatan mental, dan kedua tindakan yang dilakukan secara tidak sengaja. Jenis pertama mempunyai ciri kepentingan, yaitu untuk mencapai maksud atau mewujudkan tujuan tertentu. Sedangkan jenis kedua adalah gerakan random . andom movemen. seperti terlihat pada gerakan bayi kecil yang tampak tidak beraturan, gerakan refleks dan gerakan-gerakan lain yang terjadi tanpa dorongan kehendak atau proses pemikiran. 11 Kerja yang dimaksud di sini tentu saja kerja menurut arti yang pertama, yaitu kerja yang merupakan aktivitas sengaja, bermotif dan bertujuan. Pengertian kerja biasanya terikat dengan penghasilan atau upaya memperoleh hasil, baik bersifat materiil atau nonmateriil. Etos Kerja, menurut Mochtar Buchori dapat diartikan sebagai sikap dan pandangan terhadap kerja, kebiasaan kerja. ciri-ciri atau sifat-sifat mengenai cara kerja yang dimiliki seseorang, suatu kelompok manusia atau suatu bangsa. 12 Ia juga menjelaskan bahwa etos kerja merupakan bagian dari tata nilai individualnya. Demikian pula etos kerja suatu kelompok masyarakat atau bangsa, ia merupakan bagian darai tata nilai yang ada pada masyarakat atau bangsa itu. Jadi dapat kita tangkap maksud yang berujung pada pemahaman bahwa etos kerja merupakan karakter dan kebiasaan berkenaan dengan kerja yang terpancar dari sikap hidup manusia yang mendasar terhadapnya. Dan dapat kita mengerti bahwa timbulnya kerja dalam konteks ini adalah karena termotivasi oleh sikap hidup mendasar Etos kerja dapat berada pada individu dan Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan . ield researc. Yaitu penelitian yang pengambilan datanya langsung kelapangan. Sedangkan Sifat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai Pustaka, 1. Cet. Ke 3, h. Abdul Aziz El-Qussy. Pokok-pokok Kesehatan Jiwa. Terj. Dr. Zakiah Darajat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1. , h. Mochtar Bochori. Penelitian Pendidikan. , h. Mochtar Bochori. Penelitian Pendidikan. , h. penelitian ini adalah kualitatif Yaitu penelitian yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah Pembahasan Corak pemahaman tentang konsep takdir karyawan Kementerian agama Kabupaten Rejang Lebong dan koherensinya dengan etos kerja, menunjukan bahwa ternyata ada hubungan yang cukup berpengaruh. Penulis menemukan bahwa faham-faham mengenai takdir, yang berpareatif, yaitu baik yang bercorak konsep takdirnya jabariah, yang memberikan pemaknaan terhadap takdir semata-mata kekuasaan mutlak Tuhan bagi jabariah ektrim. Dan pemaknaan yang lain, menurut fahan jabariah moderat bahwa takdir adalah wewenang mutlak Tuhan tapi manusia mempunyai bagian didalamnya yaitu usaha, akan tetapi usaha yang ditimbulkan melalui kekuatan manusia itupun kekuatan tersebut berasal dari Tuhan. Dan qodariah memaknai bahwa manusia sebagai pencipta takdir dan Tuhan tidak intervensi terhadap perbuatan manusia. Dari argumentasi tentang corak pemahaman tentang takdir yang terjadi dikalangan karyawan Kementerian agama Kabupaten Rejang Lebong ternyata mempunyai bias yang cukup berpengaruh terhadap etos Bahwa etos kerja yang dilakukan dan dihasilkan dampak dari pemahamannya tentang konsep takdir itu sendiri. Karena secara person, bahwa nilai nilai etos kerja yang telah terlealisir dan berjalan dikalanagan karyawan karena ada keyakinan dalam indipidu masing-masing bahwa kerja adalah ibadah, dan manusia diperintahkan oleh Allah untuk sentiasa bekerja dan beribadah, yang merupakan pantulan dari keyakinannya kepada takdir. Kepercayaan kepada takdir dikalangan Karyawan kementerian agama Kabupaten rejang Lebong telah memberikan keseimbangan jiwa, mereka mempunyai etos kerja yang tinggi. Kemudian tidak berputus asa karena suatu kegagalan dan tidak pula membanggakan diri atau sombong karena suatu keberhasilan. Sebab segala sesuatu tidak hanya bergantung pada dirinya sendiri, malainkan juga kepada keharusan Menurut penulis ada faktor-faktor yang potensial Ombi Romli: Corak Pemahaman Karyawan Kementerian Agama mempengaruhi proses terbentuknya etos kerja, tidak jarang dilatar belakangi oleh kausalitas plural yang kompleks hingga memunculkan berbagai kemungkinan. Maka, tidak aneh kalau sejumlah pakar lalu menampilkan teori bertolak dari tinjauan tertentu yang berbeda antara satu dengan lainnya. Dapat ditambahkan kiranya teori iklim yang dikemukakan oleh sejumlah pakar ilmu Mereka berpendapat iklim berpengaruh terhadap etos kerja penduduk. Negara yang berlokasi di daerah subtropik mempunyai iklim yang merangsang warganya untuk bekerja lebih Sebaliknya negara-negara yang terletak di sekitar khatulistiwa, karena iklimnya panas, menyebabkan warga negaranya kurang giat bekerja dan lebih cepat lelah. David C. McClelland menyatakan teori ini mengandung banyak kelemahan. Teori ini tidak mampu menjelaskan mengapa negara-negara yang iklimnya relatif tidak berbeda, ternyata pertumbuhan ekonominya berbeda. 14 Kalau kita analisis lebih cermat, pendapat Miller dan Form, mungkin mengandung kebenaran meskipun tidak seluruhnya. Apa yang dikemukakan oleh McClelland juga serupa itu. Karena faktor-faktor yang melatar belakangi manusia giat bekerja atau sebaliknya, hakikatnya tidak terbatas pada hanya satu, dua, atau tiga faktor. Demikian pula berkenaan dengan teori-teori lain yang menonjolkan faktor ras, penyebaran budaya, dan sebagainya. Masing-masing tidak ada yang menjadi satu-satunya faktor penyebab, tetapi sangat mungkin masing-masing ikut memberikan pengaruh dan ikut berperan dalam terbentuknya etos kerja. Manusia memang makhluk yang sangat Ia memiliki rasa suka, benci, marah, gembira, sedih, berani, takut, dan lain-lain. juga mempunyai kebutuhan, kemauan, cita-cita, dan angan-angan. Manusia mempunyai dorongan hidup tertentu, pikiran dan pertimbanganpertimbangan dalam menentukan sikap dan Selain itu, ia mempunyai lingkungan pergaulan di rumah atau tempat kerjanya. Realitas sebagaimana tersebut di atas tentu mempengaruhi dinamika kerjanya secara langsung atau tidak. Sebagai misal rasa benci yang terdapat pada seorang pekerja, ketidak cocokan terhadap atasan atau teman satu tim, keadaan Nurdin dan Abbas. Sejarah . , h. seperti itu sangat mungkin untuk menimbulkan dampak negatif pada semangat, konsentrasi, dan stabilitas kerja orang bersangkutan. Sebaliknya, rasa suka pada pekerjaan, kehidupan keluarga yang harmonis, keadaan sosio-kultural, sosial ekonomi dan kesehatan yang baik, akan sangat mendukung kegairahan dan aktivitas kerja. Orang yang bekerja sesuai dengan bidang dan cita-cita dibandingkan dengan orang yang bekerja di luar bidang dan diluar kehendak mereka, niscaya tidak sama dalam antusias dan ketekunan kerja masing-masing. Sejumlah pakar psikologi menyatakan, perilaku adalah interaksi antara faktor kepribadian manusia dengan faktor-faktor yang ada di luar dirinya . aktor lingkunga. Motivasi yang berperan dalam proses terbentuknya etos kerja ternyata tidak tunggal, melainkan lebih dari satu bahkan bisa banyak dan saling berinteraksi antara satu dengan lainnya. Jadi, ia bersifat kompleks dan dinamis. Sedangkan faktor-faktor yang dapat berpengaruh dalam proses itu jelas tidak sedikit meliputi faktor dalam dan faktor luar. Sistem pemahaman keimanan terhadap takdir juga termasuk menjadi landasan yang sangat Kalau penulis pahami tentang koherensi antara pemahaman takdir dengan etos kerja, memang ada hubungan yang sangat stratrgik, walaupun ada faktor-faktor yang lain yang ikut mempengaruhinya, seperti budaya, sosial politik, kondisi lingkungan . eografis, pendidikan dan motifasi individu. Faktor Agama yang merupakan pemahaman tentang takdir didalamnya ia merupakan suatu sistem nilai yang akan mempengaruhi atau menetukan pola hidup para penganutnya. Cara berpikir, bersikap dan bertindak seseorang pastilah diwarnai oleh ajaran dan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Seperti yang dikatakan Auweber Bahwa doktrin predestinasi dalam protestanisme mampu melahirkan etos berpikir rasional, berdisiplin tinggi, bekerja rajin dan sungguh-sungguh, tekun, sistimatik, berorientasi sukses, tidak mengumbar kesenangan namun hemat dan bersahaja . 16 Sejak Nurdin dan Abbas. Sejarah . , h. http//wacademia. edu/654907/Agama and Ekonomi Studi Eos Kerja dalam Komparasi Perbandingan Agama, diakses Juni Manthiq Vol. No. November 2016 Weber menelurkan karya tulis. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, berbagai study tentang etos kerja berbasis agama sudah banyak dilakukan dengan hasil yang secara umum mengkonfirmasikan adanya korelasi positif anatara sebuah sistem kepercayaan tertentu dengan kemajuan ekonomi, kemakmuran dan Berdasarkan pendapat Weber tersebut diatas, bahwa pemahaman akan takdir yang dimiliki oleh sesorang akan memepengaruhi terhadap etos kerjanya. Jadi hal ini terbukti pada keadan karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong akan pemahaman tentang corak konsep takdir dan koherensinya dengan etos kerja, memang pengetahuan tentang takdir delah membawanya kepada cara kerja atau etos kerja yang beraneka ragam ada yang beretos kerja tinggi, sedang dan rendah, tapi secara umum dapat penulis klasifikasikan bahwa etos kerja karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong berkategori tinggi dan antara keduanya adalah terdapat hubungan yang saling Penulis berkeyakinan, bahwa pemahaman terhadap takdir Allah akan erat hubungannya dengan etos erja seseorang, karena takdir Allah itu menekakankan kepada manusia untuk hidup dinamis, agresif dan penuh semangat dan Akan melahirkan manusia yang tangguh, sempurna dan kesetabilan jiwa. Dalam Islam kita mengenal Rukun Iman dan diantaranya adalah mengenai Qadha dan Qadar yaitu menyangkut hal-hal ketentuan serta takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sesuai dengan sifat Asma-Nya. Lalu bagaimana dan apa inti dari kepercayaan dan keyakinan terhadap hal yang susah untuk dirasionalisasi oleh akal pikiran manusia dan bersifat nampak tak ilmiah Karena kepercayaan dan keyakinan yang terbentuk adalah suatu perihal yang utuh merupakan suatu ketundukan yang terbentuk di dalam diri suatu individu langsung kepada yang diyakininya tersebut. Melalui keyakinan dan kepercayaan secara transendental kepada Allah SWT. Bagaimana mewujudkan suatu kepercayaan http//wacademia. edu/654907/Agama and Ekonomi Studi Eos Kerja dalam Komparasi Perbandingan Agama, diakses tanggal 20 Juni 2016 yang berkeyakinan dan menimbulkan efek yang membangun baik dalam berkeyakinan tersebut ataupun dalam kehidupan sosial dari pada setiap individu manusia yang juga berkaitan dengan situasi dan kondisi dari makhluk-Nya dan jalanjalan apa yang dianjurkan untuk membentuk landasan bagi tujuan yang hendak dicapai dalam berkeyakinan. Karena permasalahan ini terdapat kontradiksi dalam kepatuhan serta kepada Allah SWT selaku sang pencipta dan yang disembah sepenuh jiwa dengan keharusan untuk berpikir atau memikirkan segala sesuatu yang menyangkut kehidupan manusia selaku makhluk yang mempunyai akal dan pikiran serta diamanatkan oleh Sang pencipta untuk menghuni dan hidup berkembang dimuka bumi. Menurut Al-QurAoan, manusia bebas memilih perbuatan yang akan dilakukannya. Ia bebas pula menentukan kepercayaan yang dianutnya dan dia akan memperoleh sesuatu, baik itu hukuman atau pahala, sesuai dengan pilihannya itu. Allah hanya menunjukkan jalan yang seharusnya diikuti oleh manusia. Manusia bebas memilih untuk menuruti atau tidak menuruti jalan itu. Allah tidak mengganggu pilihan manusia. Oleh karena itu, manusia harus mengerjakan penyelamatan dirinya dan penyelamatan ini hanya dapat terjadi dengan beriman dan beramal saleh. Untuk memahami qadha dan qadar, manusia harus hidup dengan ikhtiar. Dalam kehidupan sehari-hari, takdir Ilahi berkaitan erat dengan usaha manusia. Usaha manusia harus optimal dan maksimal diiringi dengan doAoa dan Tawakal yang dimaksud adalah tawakal dalam menyerahkan nasib dan kesudahan usaha kita kepada Allah, sementara kita terus berikhtiar serta yakin bahwa penentuan terakhir segalagalanya berada dalam kekuasaan Allah. Takdir yang berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran. Dan semua makhluk dikenai takdir oleh Allah SWT, mereka tak dapat melampaui ketetapan itu dan Allah menuntun kearah yang Perbedaan antara Qadha dengan qadar adalah pada derajat, tingkat dan status. Hal ini terlihat pada status lebih dahulunya qadar dari pada qadha, qadar merupakan suatu ukuran dari apa yang ditetapkan Allah sedangkan qadha adalah hasil dari pada ukuran tersebut dan qadar adalah tahapan yang pada fenomenanya Asifudin. Etos. , h. Ombi Romli: Corak Pemahaman Karyawan Kementerian Agama masih belum terpenuhi dan masih meninggalkan persoalan kemungkinan untuk berubah, karena belum mencapai penyelesaian, sedangkan qadha disebut juga sebagai tahapan akhir, dicapai ketika penyebab lengkap ditetapkan dan tak ada lagi tempat untuk pengharapan. kelihatan adil maupun yang kelihatan tak adil oleh manusia. Merujuk pada pendapat ini dapat dikatakan bahwa manusia hanya merupakan alat bagi Allah, dan tak mempunyai kebebasan bagi diri manusia itu sendiri untuk menentukan Walaupun kritisi yang sering kita munculkan akan bertentangan dengan keyakinan yang seharusnya muncul dari dalam diri kita sendiri sebagai seorang mukmin dan mukminin yang Namun yang akan selalu menjadi permasalahan dalam memahami qadha dan qadar adalah tentang pengertian antara ketentuan dan takdir Tuhan dengan kehendak bebas manusia yang mana dalam setiap keputusan atas segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia sebagai individu bukan hanya berdasarkan keputusan dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT, namun juga terdapat kehendak bebas dari sipemilik akal dan tubuh. Istilah etos salah satu artinya adalah semangat, etos kerja artinya semangat bekerja. Barangsiapa yang etos kerjanya tinggi selalu bergairah dan bersemangat dalam menjalai kegiatan kerja telah diputuskan menjadi bagian dari kehidupannya. Mereka seolah-olah tidak mengenal lelah dan putus asa dalam menggeluti tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam jiwanya telah terpatri motto AyHari ini harus lebih baik dari hari kemarinAy yang berasal dari salah satu ajaran Islam yang sangat hebat tetapi kurang terlihat dari sebagian umat muslim masa kini. Siapa saja pada hari ini yang amalnya lebih baik dari kemarin maka tergolong orang beruntung, siapa yang amalnya sama saja dengan kemarin, tergolong orang yang merugi dan apabila amalnya lebih rendah dari kemarin maka ia tergolong orang celaka. Bagaiman hubungan antara bebasa manusia ini dengan ketentuan dan takdir Tuhan ini dalam pandangan para ahli pun masih saling berbeda pendapat di antaranya ada yang mengganggap bahwa kemungkinan munculnya kehendak bebas manusia yang mana telah ditentukan oleh Allah SWT dalam qadarNya. Disini dianggap bahwa semua kehendak bebas dari manusia yang akan dan telah mereka lakukan sebagai ketentuan yang telah ditetapkan serta ditentukan oleh Allah SWT. Dalam artian, kita sebagai manusia dan penganut teguh Islam haruslah percaya dan meyakini akan ketentuan dan takdir Allah Jawaban yang di kemukakan para ahli mengenai fenomena yang terjadi di dunia, ini terjadi dibawah batasan dan hambatan tertentu, tanpa menghiraukan tempat, waktu dan kondisi. Dan dalam kerajaan alam tak ada makhluk yang tak terbatas, tak terukur dan tak Jadi semua makhluk di dunia itu terukur, terbatas dan bersyarat dalam artian semua yang ada akan selalu memenuhi ketiga syarat diatas dan dapat dikatakan bahwa Allah SWT lah yang mengakibatkan adanya semua eksistensi dari pada yang ada di dunia ini dan secara tak langsung batasan dan ukuran dari semua makhluk itu berada ditangan Allah SWT dan atas kendali-Nya. Pendapat lainnya dari para ahli keagamaan menganggap bahwa kekuasaan Tuhan itu mutlak dan Allah dapat berbuat apa saja, baik yang Dalam realita, cakrawala pandang kaum muslim modern atas dunia kehidupannya terbagi dalam dua kelompok, yakni pertama, kelompok yang lebih terfokus pada urusan AopekerjaanAo, mereka sudah mencoba menampilkan kinerja yang profesional, tetapi motivasi kerjanya sangat rapuh, yakni hanya mencari uang semata. Akibatnya, dari motivasi yang kurang lurus tersebut, keinginannya untuk berderma di jalan Allah amat minim. Ia merasa tidak pantas untuk mengeluarkan sedekah, infak, zakat atau pun yang lainnya karena toh yang bekerja adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Ia merasa bahwa kekayaan yang ia raih bukanlah anugrah dari Allah, namun dari jerih payanya Jadi, dalam mencari nafkah, mereka begitu punya semangat yang tinggi dan etos yang kuat. Akan tetapi lemah dalam pemahaman terhadap takdir Allah Swt. Kelompok kedua adalah mereka kuat dalam keimanan terhadap kadha dan kadar. Kelompok ini amat gandrung pada urusan yang sifatnya Aointelektual-ritualAo, namun kurang bisa menampilkan sikap yang profesional dalam Artinya, pekerjaan yang mereka tunaikan kualitasnya rendah, tidak tepat waktu, dan kurang cita rasa seni. Yang penting selesai. Manthiq Vol. No. November 2016 dalam urusan pekerjaan, mereka tidak punya sikap yang kuat. Pentingnya bekerja dan berusaha dalam Islam, sebagaimana Allah berfirman, (QS Al AeMaidah, 5:. Auhai orang-orang yang beriman, penuhilah aqadaqad . ituAy (QS Al-Maidah, 5:. Perjanjian-perjanjian itu meliputi perjanjianperjanjian antara Tuhan dan manusia, yakni kewajiban-kewajiban manusia kepada Tuhan. perjanjian antar manusia dan dirinya sendiri. dan perjanjian antara individu dan sesamanya. Dengan demikian, perjanjian yang dimaksud oleh ayat tersebut berkisar antara shalat ritual sehari-hari sampai menjual barang dagangan di bazar, dari sembah sujud sehingga kerja mencari Berangkat dari pandangan ayat tersebut, maka etos kerja umat muslim selayaknya memperhatikan kualitas pekerjaannya. Artinya, dalam bekerja, karakteristik spiritual tetap terjaga dan terpelihara serta dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap kerja berarti kesiapan untuk bertanggung jawab di hadapan Yang Mutlak karena kerja adalah saksi bagi semua tindakan manusia. Kesimpulannya adalah meskipun nasib dan takdir manusia berada di tangan Allah, akan tetapi Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk menentukan sendiri beberapa hal yang sudah diijinkan-Nya. Hal ini seharusnya dapat membuat manusia menjadi lebih rajin dalam bekerja untuk dunia sekaligus mengejar kebahagiaan akhirat. Untuk memahami keyakinan qadar dan qadha. Manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT haruslah hidup dengan berikhtiar atau berusaha dengan semangat yang tinggi dan optimisme akan keberhasilan dari apa yang Sebab nyatanya dalam kehidupan sehari hari takdir atau ketentuan dari Illahi sangat berkaitan erat dengan usaha manusia sehingga usaha manusia haruslah maksimal dan optimal serta selalu di iringi dengan doAoa dan tawakal dengan artian setelah berusaha dengan sekuat tenaga hendaknya berdoAoa dan tabah menyerahkan nasib dan usaha kita kepada Allah dan meyakini bahwa penentuan terakhir ada pada kekuasaan Allah SWT. Inilah yang merupakan makna dari ketentuan Allah dalam qadhar dan qadha yaitu proses usaha . , doAoa dan tawakal kepada-Nya. Mengenai kesadaran akan adanya pengawasan dari Yang Maha Kuasa dalam diri manusia akan mengakibatkan meningkatnya kadar keimanan, ketaqwaan dan rasa takut terhadap Allah SWT. Sehingga dalam kehidupan sehari hari ia . akan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua laraangan-Nya. Kesimpulan Berdasarkan beberapa uraian yang telah dipaparkan pada beberapa bab diatas, dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu sebagai Corak pemahaman tentang konsep takdir karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong, dapat penulis diklasifikasikan kepada tiga corak, yaitu: Pertama, bercorak j a b a ri a h ekstri m, ya n g memb e ri kan pemahaman tentang konsef takdir sepenuhnya adalah hak prerogatif Tuhan, sedangkan manusia adalah makhluk yang majbur . , yang tidak memiliki kekuatan, kemampuan dan kekuasaan. Dan manusia adalah pelaksana mutlak kehendak Tuhan. Manusia yang memiliki karakter seperti ini bersifat fatalisme, statis dan kurang Kedua, bercorak jabariah moderat, yang memberikan pemahaman tentang konsep takdir memberikan ruang yang agak luas kepada posisi akal, dimana manusi tidak hanya sebagai objek yang tunduk dan patuh kepada kehendak mutlak Tuhan juga sebagai subyek atau pelaku yang mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk mengekspresikan daya yang dimilikinya, untuk berbuat dan berusaha dalam menyikapi takdir Tuhan, dan akhir dari klimaks usahanya menyandarkan sepenuhnya kepada Tuhan, melalui kerja yang sistimatis, yaitu. sekuat tenaga kemudian berdoAoa Paham ini adanya sinergisitas antara takdir Tuhan dengan daya yang dimiliki oleh manusia yang dinamakan alkasb. Faham ini akan melahirkan manusia-manusia yang oftimis, rajin, ulet dan bertanggung jawab walaupun terkadang cenderung sedikit bersifat Lihat QS. Surat Al-Maidah ayat 1 Ombi Romli: Corak Pemahaman Karyawan Kementerian Agama Ketiga bercorak qodariah, yang memberikan pemahaman terhadap konsep takdir, bahwa manusia sebagai pencipta dan pelaksana takdir itu sendiri, manusia pula yang akan bertanggung jawab atas perbuatannya, karena manusia diberikan kebebasan yang seluas luasnya untuk menentukan hidupnya. Tuhan hanya sebagai pencipta atau Khaliq yang akan menilai kerja manusia, memberikan balasan baik atau buruk terhadap kinerja yang dilakukan oleh manusia. Sikap ini akan menimbulkan dan melahirkan mmanusia yang kreatif, super aktif dan pemberani, angkuh dan sombong ketika mencapai kepada sesuatu yang diinginkan, dan akan menjadi manusia yang prustasi, patah semangat ketika menghadapi kegagalan. Etos Kerja atau semangat kerja merupakan prilaku sikap khas suatu komunitas atau organisasi mencakup sisi spiritual, motivasi, karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode prilaku yang sudah menjadi komitmen dilaksanakan dalam paradigma kerja. Dengan berdasar kepada paradigma tersebut maka Etos kerja Karyawan Kementerian Agama Kabupaten Rejang Lebong secara umum termasuk cukup Hubungan atau koherensi corak pemahaman takdir dengan etos kerja karyawan. Memiliki hubungan yang signifikan. Karena pada tataran karyawan kemenag, bahwa bekerja itu landasan moralnya adalah ibadah dan keyakinan, dan telah membekas pada pribadi masing masing bahwa agama islam adalah agama yang mewajibkan untuk beretos kerja Indikasi indikasi beretos kerja tinggi secara faktual telah terlealisir dengan baik, seperti disiplin, tanggung jawab, loyalitas, kreatifitas dan inisiatif serta keahlian dan kesadaran telah terwujud dengan baik. Arikunto. Suharsimi. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 2006 Asmuni. Yusran. Imu Tauhid. Jakarta: Raja Grafindo, 1996 Amin. Masyhur. Teologi Pembangunan. Paradigma Baru Pemikiran Islam. Yogyakarta: LKPSM-NU, 1989 Ataillah. Muhammad. Al-Hikam. Surabaya: Mutiara Ilmu, 1995 Abdul Rozak dan Rosihan Anwar. Ilmu Kalam. Bandung:Pustaka setia. Cetakan 2, edisi revisi, 2013 Amin Nurdin dan Afifi Fauzi Abbas. Sejarah Pemikiran Dalam Islam. Jakarta:Pustaka Antara Bekerja sama dengan LSIK, 1996 Ahmad Fuad Al-Ahwani. Filsafat Islam. Jakarta:Pproyek Pembinaan Prasarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN, 1984 Ahmad Mudhor. Etika dalam Islam. Surabaya:Alikhlas, 1997 Abdullah Taufiq. Etos Kerja dan Pembangunan Ekonomi. Cet. Kelima. Jakarta: LP3S, 1993 Ahmad Jana Asifuddin. Etos Kerja Islami. Surakarta:Universitas muhammadiyah, 2004 Bagus. Lorens. Kamus Gramedia,2008 Filsafat. Jakarta: Burhan Bungin. Penelitian Kualitatif. Jakarta. Kencana Prenada Graoup, 2008 Burhan Bungin. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta. PT Raja Grapindo Persada, 2001 Dahlan. Abdul Aziz. Asas dan Tujuan Hidup Seorang Muslim. Surabaya: Bina Ilmu, 1996 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1990 Gulen. Fethullah. Qadar. Jakarta: Republika, 2011 Harun Nasution. Sejarah Teologi Islam. Jakarta:UIPress, 2006 Daftar Pustaka