Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia (JKKI) VOLUME 2 ISSU 1. DESEMBER 2022. HALAMAN 70-77 https://ebsina. id/journals/index. php/jkki EISSN 2503-2801 Efektivitas Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Skala Nyeri Sendi pada Lansia di UPT PSTW Jember Sri Puji Rahayu1*. Galuh Yulia Asmara Putri2. Intan Nahdia Ferdiana3. Fahmi Essa Syafriansyah4. Siti Nailatul Rohmah5. Latifa Aini S6. Fahruddin Kurdi7 , 1,2,3,4,5 Fakultas Keperawatan. Universitas Jember. Indonesia 6,7 Departemen Keperawatan Komunitas. Keluarga & Gerontik. Fakultas Keperawatan. Universitas Jember. Indonesia ARTICLE INFO Article History: Submited: 04-11-2022 Reviewed: 15-11-2022 Revised: 05-12-2022 Acepted: 07-12-2022 Keywords: ROP ABSTRACT Increasing age and the aging process can cause various problems, especially physical dissatisfaction, which results in impaired musculoskeletal function, namely joint pain which makes the elderly experience problems in carrying out daily activities. Pain management with non-pharmacological nursing actions that can be used to relieve joint pain in the elderly, namely progressive muscle relaxation therapy (ROP). This study aims to determine the impact of progressive muscle relaxation (ROP) on joint pain in the elderly at Wisma Melati UPT PSTW Jember. This research was conducted quantitatively with the type of quasi-experimental research using a research design approach . ne group pre-test and post-test desig. Samples were taken by purposive The sample population used in this study was elderly at Wisma Melati UPT PSTW Jember, with nine elderly people selected. The results showed that the respondents who took part were on average 77. 11 years old (SD=5. , the youngest was 70 years old and the oldest was 90 years old. The average value of the pain scale before performing progressive muscle relaxation (ROP) is 3. 44 with a minimum value of 2 and a maximum value of 5. The mean value of the pain scale after administration of progressive muscle relaxation (ROP) is 2. 67 with a minimum value of 0 . o pai. and the maximum value is 5. Based on the results of the analysis test using the t-test paired sample test the results of the joint pain scale before and after progressive muscle relaxation (ROP) was carried out, namely 0. <0. There was a change or difference in the decrease in pain scale before and after giving progressive muscle relaxation therapy (ROP) to the elderly. This is an open-access article under the CC BY-SA license. Corresponding Author: Sri Puji Rahayu Fakultas Keperawatan Universitas Jember Jl. Kalimantan No. Krajan Timur. Sumbersari. Kabupaten Jember. Jawa Timur. Indonesia Email: sripujir@gmail. Efektivitas Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Skala Nyeri Sendi pada Lansia Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia (JKKI) VOLUME 2 ISSU 1. DESEMBER 2022. HALAMAN 70-77 https://ebsina. id/journals/index. php/jkki EISSN 2503-2801 PENDAHULUAN Seseorang Dalam proses degeratif lansia akan lansia jika berumur 60-74 tahun yang mengalami perubahan struktur anatomi. Proses menjadi kejiwaan, dan sosial. Lansia merupakan kemunduran di dalam sel dan proses ini kelompok umur pada manusia yang telah berlangsung secara terus menerus yang akhir dari fase akan menyebabkan perubahan anatomis. Kelompok yang dikategorikan fisiologis dan biokemis pada pada jaringan lansia ini akan terjadi suatu proses yang tubuh dan akhirnya mempengaruhi fungsi disebut Aging Process atau proses penuaan dan kemampuan badan secara keseluruhan (Gumay. Di Indonesia, batasan (Ramayanti. Seiring mengenai lanjut usia adalah 60 tahun ke Lanjut usia adalah seseorang yang mengalami penurunan kemampuan tubuh. mencapai usia 60 tahun ke atas, baik pria Masalah degeneratif dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga rentan terkena penyakit, namun infeksi penyakit. Masalah yang sering Lansia dijumpai pada lansia sangat beragam, hal proses kehidupan yang ditandai dengan ini dikarenakan menurunnya fungsi tubuh penurunan kemampuan tubuh. (Fahrizal, dan terganggunya psikologis pada lansia. (Richard, 2. Menurut WHO . penduduk lansia diseluruh dunia Seiring dengan proses menua dan bertambahnya usia maka akan timbul tahun 2020 akan mencapai 1,2 milyar orang dan akan terus bertambah hingga 2 milyar ketidakpuasan fisik yang mengakibatkan orang ditahun 2050. Indonesia termasuk gangguan pada fungsi muskuluskeletal. salah satu negara yang proses penuaan Gangguan yang sering muncul yaitu nyeri penduduknya tercepat di Asia Tenggara. pada sendi yang membuat para lansia Jumlah lansia di Indonesia pada tahun mengalami ganguan aktivitas sehari-hari 2010 sebanyak 23. 553 jiwa . ,77%) dan (Ridhyalla Afnuhazi, 2. Berdasarkan pada tahun 2015 sebanyak 28. 000 jiwa data WHO . melaporkan bahwa . ,34%). Sedangkan jumlah lansia di 20% penduduk dunia merasakan nyeri Provinsi Jawa Timur berjumlah 4. sendi dan 20% mereka yang berusia 55 jiwa . ,12%) (Eva, 2. Peningkatan populasi lanjut usia di Rahayu. , et al. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia (JKKI) VOLUME 2 ISSU 1. DESEMBER 2022. HALAMAN 70-77 https://ebsina. id/journals/index. php/jkki EISSN 2503-2801 dunia saat ini sejalan dengan peningkatan jumlah kasus nyeri sendi (ORSI, 2. terhadap respon otot tubuh Kurang aktifitas fisik merupakan (Murniati, ririn isma, 2. Tehnik faktor risiko timbulnya berbagai penyakit relaksasi otot progresif dapat mengurangi pada populasi lansia, sementara itu jika terdapat peningkatan aktifitas fisik pada meningkatkan kualitas tidur, mengurangi lansia dapat meningkatkan kesehatan, (Kobayashi. , & Koitabashi, 2. menurunkan morbiditas dan mortalitas Sehingga tehnik ini merupakan salah satu (Cornelia Paerunan. Joudy Gessal, 2. terapi komplementer yang dapat diberikan Penyakit sendi yang dialami merupakan untuk membantu mengendalikan dan proses degeneratif dan menimbulkan nyeri mengurangi nyeri. Dengan sendi pada lansia. Nyeri sendiri dapat ini adalah untuk diakibatkan oleh beberapa hal antara lain mengetahui Tehnik relaksasi otot progresif reumatoid athritis, gout . sam ura. , dan dalam menurunkan tingkat nyeri sendi pada lansia. EBNP Salah satu cara yang dapat dilakukan Berdasarkan hasil pengkajian yang untuk mengurangi nyeri adalah dengan dilaksanakan oleh mahasiswa kelompok teknik relaksasi otot progresif. Teknik 2 PSP2N Stase Keperawatan Gerontik relaksasi otot progresif merupakan salah Fakultas Keperawatan Universitas Jember satu teknik untuk mengurangi ketegangan pada tanggal 13 Juni 2022 di Wisma melati proses yang simpel dan UPT didapatkan data sebagian besar lansia di Wisma Melati mengalami nyeri sendi merilekskannya kembali (Marlina T. berjumlah 9 orang . ,5%) dari 24 orang. Tehnik relaksasi otot progresif Para lansia yang ada di wisma juga tidak merupakan terapi yang terfokus untuk mengetahui terkait relaksasi otot progresif mempertahankan kondisi relaksasi yang dalam yang melibatkan kontraksi dan Oleh sebab itu diperlukan relaksasi berbagai kelompok otot mulai latihan terapi relaksasi otot progresif dari kaki kearah atas atau dari kepala ke sebagai terapi untuk mengurangi nyeri arah bawah, dengan cara ini maka akan sendi pada lansia di wisma Melati UPT disadari dimana otot itu akan berada dan PSTW Jember. Maka pemberdayaan ini PSTW. Kabupaten Efektivitas Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Skala Nyeri Sendi pada Lansia Jember Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia (JKKI) VOLUME 2 ISSU 1. DESEMBER 2022. HALAMAN 70-77 https://ebsina. id/journals/index. php/jkki EISSN 2503-2801 dilakukan untuk mengetahui pengaruh bersedia menjadi responden. Sedangkan terapi relaksasi otot progresif terhadap penurunan skala nyeri pada lansia di mengundurkan diri dan tidak mengalami Wisma Melati UPT PSTW Jember. nyeri sendi atau nyeri pada bagian Langkah pertama melakukan METODE Rancangan yang digunakan dalam penilaian skala nyeri (NRS), selanjutnya penelitian ini yaitu quasi eksperimen responden diberikan intervensi relaksasi dengan pendekatan one grup pretest- otot progresif dilakukan satu kali selama posttest design. Penelitian dilaksanakan di PSTW Jember pada tanggal 13- 17 Juni pengukuran skala nyeri NRS. Analisa Responden yang digunkanan pada penelitian ini berjumlah 9 responden prsentase, mean. SD, min dan maks untuk dipilih menggunakan tekhnik purposive menggambarkan variabel. uji statistic sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian menggunakan paired t-test digunakan ini adalah lansia dengan nyeri pada bagian untuk menggambarkan perbedaan rata- ekstermitas atau nyeri pada sendi, mampu rata nyeri pada responden sebelum dan sesudah menerima intervensi. penglihatan yang baik, kooperatif dan HASIL Karakteristik responden lansia Tabel 1. Karakteristik responden menurut usia Pada tabel 1. Menunjukan rentang usia lansia di Wisma Melati dimana dengan jumlah lansia yakni 24 orang berada pada rentang umur 70-80 tahun. termasuk pada rentang lansia akhir . %) Rahayu. , et al. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia (JKKI) VOLUME 2 ISSU 1. DESEMBER 2022. HALAMAN 70-77 https://ebsina. id/journals/index. php/jkki EISSN 2503-2801 Tabel 2. Karakteristik responden menurut jenis kelamin Pada tabel 2. Menunjukan bahwa yakni 1 laki-laki yang merupakan suami dari salah satu anggota di Wisma Melati. kelamin perempuan . ,8%) dan yang lain Tabel 3. Karakateristik responden menurut keluhan Berdasarkan keluhan, pada tabel 3. Menunjukkan mengeluh nyeri sendi . ,5%) dengan sebanyak 9 lansia. Tabel 4. Nilai Skala nyeri sendi sebelum dan setelah relaksasi otot progresif Berdasarkan Tabel 4. Nilai skala skala nyeri sendi rata- rata sestelah nyeri sendi rata-rata sebelum dilakukan dilakukan relaksasi otot progresif yakni relaksasi otot progresif yakni 3,44 dengan 2,67 dengan nilai minimum 0 . idak nilai minimum 2 dan maksimum 5. Nilai merasakan nyer. dan maksimum 5. Tabel 5. Analisis T-test paired sample test skala nyeri sendi lansia sebelum dan setelah dilakukan relaksasi otot progresif Efektivitas Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Skala Nyeri Sendi pada Lansia Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia (JKKI) VOLUME 2 ISSU 1. DESEMBER 2022. HALAMAN 70-77 https://ebsina. id/journals/index. php/jkki EISSN 2503-2801 Berdasarkan tabel 6. Menunjukkan kebanyakan terjadi pada usia 65 tahun ke hasil uji analisis menggunakan T-test atas . Kerusakan tulang rawan paired sample test diperoleh hasil skala dimulai antara usia 20-30 tahun dan nyeri sendi sebelum dan setelah pemberian sebagian besar orang dewasa terpengaruh intervensi adalah 0,023 . <0,. yang berarti terdapat perbedaan skalanya nyeri mengalami gejala setelah usia 50-60 tahun sendi pada lansia sebelum dan sesudah ke atas. Sehingga pada usia tua membawa melakukan relaksasi otot progresif di berbagai kehilangan peran dan fungsi Wisma Melati UPT PSTW Kabupaten Jember. ketergantungan pada orang lain dan juga karena nyeri sendi, kaku, bengkak yang PEMBAHASAN Berdasarkan mengakibatkan gerak sendi terbatas. responden yang mengalami nyeri sendi Karakteristik jenis kelamin pada rata-rata usia lansia berada pada usia diatas penelitian ini mayoritas berjenis kelamin 70 tahun. Penelitian ini sejalan dengan perempuan yakni sebanyak 8 orang penelitian Richard dkk . , 50% . 8%), responden lansia berusia 65-78 tahun. Matongka Lansia mengatakan rata-rata responden yang mengalami lapisan pelindung persendian mengalami nyeri sendi berjenis kelamin mulai menipis dan cairan tulang mulai mengental sehingga akan menyebabkan menjadi kaku dan sakit saat Perempuan dibandingkan dengan laki-laki digerakkan, oleh sebab itu responden yang laki-laki sering mengalami nyeri pinggul, atas berisiko sedangkan perempuan pascamenopause lebih sering terjadi nyeri sendi hal tersebut dibandingkan dengan usia 60 tahun Selain itu juga dapat disebabkan esterogen yang signifikan. Hasil penelitian oleh faktor genetic, life style, aktivitas yang ini didapatkan bahwa ada pengaruh sebelum dan sesudah dilakukan relaksasi menggunakan tumpuan pada sendi secara progresif, skala nyeri sebelum Penelitian lain dari Matongka dilakukan relaksasi otot progresif dkk . , mengatakan bahwa nyeri sendi 5 sedangkan Rahayu. , et al. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia (JKKI) VOLUME 2 ISSU 1. DESEMBER 2022. HALAMAN 70-77 https://ebsina. id/journals/index. php/jkki EISSN 2503-2801 setelah dilakukan relaksasi ototprogresif sehingga dapat menurunkan nyeri sendi. terjadi penurunana skala nyeri yakni tidak Pada penelitian ini terdapat perubahan ada nyeri sampai skala 5. Penelitian ini atau perbedaan pada penurunan skala sejalan dengan penelitian dari Richard dkk . yang mengatakan bahwa ada pemberian terapi relaksasi otot progresif pengaruh sebelum dan sesudah dilakukan (ROP) pada lansia di Wisma Melati UPT terapi relaksasi otot progresif dimana PSTW Jember. sebelum dilakukan terapi relaksasi otot progresif skala nyeri sendi pada lansia REFRENSI yakni skala 4 sampai 7 dan setelah Afnuhazi. Pengaruh senam rematik terhadap penurunan nyeri rematik pada lansia. Menara Ilmu, 12. dilakukan terapi terjadi penurunan skala nyeri yakni pada skala 2 sampai skala 6. Eva KESIMPULAN Penuaan merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan secara terus- menerus dan berkesinambungan. Pada lanjut usia . mengalami penurunan pada sistem muskuloskeletal. Perubahan pada sistem muskuloskeletal kekakuan pada satu atau lebih sendi tangan, pergelangan tangan, kaki, lutut, panggul, dan bahu. Tindakan yang dapat dilakukan untuk meredakan nyeri sendi tidak hanya secara juga secara non farmakologi seperti teknik relaksasi otot progresif (ROP). Teknik relaksasi otot progresif adalah terapi peregangan dan oeleloasan kelompok otot yang akan membuat perasaan rileks secara fisik M. Supriyadi. Cahya T. Hubungan Pola Makan Dengan Nyeri Sendi Pada Lansia Di Wilayah Kerja Puskesmas Andongsari Ambulu Jember. Jurnal Fikes Unmuh Jember Fahrizal. , & Alfikrie. Studi Kasus Penerapan Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Nyeri Artritis Rheumatoid pada Lansia. Jurnal Mahasiswa Keperawatan, 1. Bakri. Utomo. Indraswari. & Widodo,S. Pemeriksaan Kesehatan Lansia dan Upaya Pemberdayaan Kader Posyandu Lansia Pencegahan Demensia Dini dan Peningkatan Kualitas Hidup Lansia di Desa Gulon. Magelang. Jawa Tengah. SNKPPM, 1. , 150-152. Kobayashi. , & Koitabashi. Effects of progressive muscle relaxation on cerebral activity: An MRI investigation. Complementary therapies in medicine, 26, 33-39. Marlina. Efektivitas latihan lutut terhadap penurunan intensitas Efektivitas Relaksasi Otot Progresif Terhadap Penurunan Skala Nyeri Sendi pada Lansia Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia (JKKI) VOLUME 2 ISSU 1. DESEMBER 2022. HALAMAN 70-77 https://ebsina. id/journals/index. php/jkki EISSN 2503-2801 nyeri pasien osteoarthritis lutut di Jurnal Keperawatan Sriwijaya, 2. , 44-56. Murniati. Sundari. , & Dewi. Pelatihan Relaksasi Otot Progresif Pada Kader Posyandu Lansia di Posyandu Lansia RW 05 Desa Kalibagor. Journal Community Engagement in Health, 3. , 74-81. Osteoarthritis Research Society International. Osteoarthritis: A serious disease, submitted to the S food and drug administration. Jurnal Medik dan Rehabilitasi. Paerunan. Gessal. , & Sengkey. Hubungan antara usia dan derajat kerusakan sendi pada pasien osteoartritis lutut di instalasi rehabilitasi medik RSUP. Prof. Dr. RD Kandou Manado periode JanuariAeJuni 2018. Matongka. Astrid. Hastono. Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Pada Lansia Dengan Osteoarthritis Di Puskemas Doda Sulawesi Tengah. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia. Richard. Sari. Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Dalam Menurunkan Nyeri Sendi Pada Lansia. Jurnal Penelitian Keperawatan. Rahayu. , et al.