Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 47-56, e-ISSN 2614-7874 Vol. II No. 1 Hal. 47-56 I e-ISSN 2614-7874 Diterbitkan oleh: Prodi D4 Kebidanan Fakultas Farmasi dan Kesehatan Institut Kesehatan Helvetia Jurnal Bidan Komunitas http://ejournal. id/index. php/jbk ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KARAKTERISTIK WANITA DENGAN KEJADIAN KANKER SERVIKS DI RSU MUTIA SARI PERIODE 2016-2017 Vinta Mayanda* Dosen D3 Kebidanan. Akademi Kebidanan Petro Mandau Husada Duri. Riau. Indonesia *vindha. yanda@gmail. Abstrak Kanker serviks . anker mulut rahi. merupakan penyebab kematian wanita yang kedua di Indonesia setelah kanker payudara. Keadaan tersebut biasanya disertai dengan adanya perdarahan dan pengeluaran cairan vagina yang abnormal, penyakit ini dapat terjadi berulang-ulang. Berdasarkan data (WHO) 630 juta jiwa terjagkit penyakit kanker serviks, di Indonesia setiap tahun terdapat 90-100 Tujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, paritas dan pekerjaan wanita dengan kejadian kanker serviks di RSU Mutia Sari Duri Periode 2016-2017. Penelitian ini adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Berdasarkan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah total sampling, dimana seluruh populasi di jadikan sampel sebanyak 41 responden. Data dianalisis dengan uji statistik univariat dan bivariat. Penelitian dengan uji statistik chi-squre dengan tingkat kepercayaan 95% dimana =0,05 dan diperoleh nilai umur p=0,025, nilai paritas p< . dan nilai pekerjaan p< . Kesimpulan ada hubungan antara usia, paritas, dan pekerjaan wanita dengan kejadian kanker serviks dik RSU Mutia Sari Duri periode 2016-2017. Kata. Kunci : Usia. Paritas. Pekerjaan dan Kanker Serviks The Relationship Characteristics Of Women With Genesis Cervical Cancer In RSU Mutia Sari Duri 2016-2017 Period Abstract Cervical cancer . ervical cance. is the second leading cause of death of women in Indonesia after breast cancer. The situation is usually accompanied by the presence of bleeding and spending of vaginal fluid of abnormal, the disease can occur over and over again. Based on the data (WHO) 630 million terjagkit of cervical cancer disease, in Indonesia every year there are 90-100 cases. The purpose to know the relationship between age, parias and employment of women with cervical cancer incidence in RSU Mutia Sari Duri 2016-2017 Period. This research is a survey of analytical with approach of cross sectional. Based on the technique of sampling in research is total sampling , where the entire population in the sample as much as 41 respondents. The data were analyzed by univariate statistical tests and bivariat. Tthe study with statistical test of chi-squre with a confidence level of 95% which the = 0,05 and retrieved the value of the aged p =0,025, parity value p < . and values the work of p< . The conclusion there is a relationship Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 47-56, e-ISSN 2614-7874 between age, parity, and the work of women with cervical cancer incidence dik RSU Mutia Sari Duri 2016-2017 period. Keywords: Age. Parity, and Cervical Cancer mulut rahi. dan hampir setiap hari nyawa 600 perempuan didunia terenggut olehnya. International Agency For On Cancer (IARC) yang merupakan bagian dari WHO Menyatakan bahwa mulai tahun 2030 kanker diperkirakan akan membunuh sekitar 13,2 juta manusia pertahunnya. Ini berarti hampir dua lipat dari angka kematian akibat kanker pada tahun 2012 . Menurut World Healthy Organization (WHO) tahun 2016, setiap dua menit di negara berkembang terdapat satu penduduk meninggal karena kanker serviks. Kanker serviks banyak dijumpai di negaranegara sedang berkembang seperti Indonesia. India. Banglades. Thailan. Vietnam, dan Filipina. Tingginya angka kematian ini disebabkan karena kanker serviks tidak memiliki ciri yang khas, namun dapat dicegah dengan dilakukan program deteksi dini. Hal ini belum dilakukan khususnya di negara berkembang . Kanker serviks masih menjadi penyakit terbanyak pada wanita di wilayah ASEAN. Kanker serviks ini juga merupakan penyebab kematian pertama, sedangkan di Indonesia dan Filipina, kanker servik menduduki urutan kedua penyebab kematian pada wanita, sementara di Thailandan Malaysia, kanker serviks menduduki penyebab kematian pada wanita yang ke tiga. Amerika sekikat dan Eropa barat, angka insiden kanker serviks telah menjadi penurunan. Hal ini disebabkan oleh alokasi dana kesehatan yang mencukupi, promosi kesehatan yang bagus, serta saran pencagahan dan pengobatan yang mencukupi . Berdasarkan laporan dari Badan Kanker Dunia dalam dua dekade mendatang, diperkirakan akan terjadi peningkatan kasus kanker sebanyak 50%. Dari data 2000 saja, penderita kanker di Indonesia sebanyak 10 juta dan 4,7 juta diantara penderitanya adalah PENDAHULUAN Seiring perkembangan zaman saat ini diikuti perkembangan pola hidup masyarakat yang serba instan. Sehingga banyak menimbulkan masalah pada kesehatan Salah satu penyakit yang saat ini sangat ditakuti oleh kaum wanita adalah kanker leher rahim atau sering disebut dengan istilah kanker serviks. Penyakit ini sangat ganas dan mengakibatkan kematian pada Akan tetapi banyak penderita kanker serviks tidak menyadari gejala serta karaktertistik kanker serviks ini terjadi karena minimnya pengetahuan serta penyuluhan yang masih kurang oleh instansi yang bersangkutan. Kanker serviks adalah kanker leher rahim, terjadi didaerah reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke rahim, dan terletak antara rahim . dan lubang vagina. Kanker servik merupakan pertumbuhan sel-sel abnormal pada serviks dimana sel-sel normal berubah menjadi sel kanker . Kanker serviks adalah suatu proses keganasan yang terjadi pada serviks, sehingga Keadaan tersebut biasanya disertai dengan adanya perdarahan dan pengeluaran cairan vagina yang abnormal, penyakit ini dapat terjadi berulang-ulang . Kanker leher rahim . anker servik. ini adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim, yaitu bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina. Biasanya, kanker serviks menyerang wanita yang berusia 35-55 tahun. Hampir 90% dari kanker serviks berasal sel squamosa yang melapisi serviks, sedangkan 10% berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju rahim . Menurut badan kesehatan dunia World Health Organization tahun 2013, 630 juta perempuan terjangkit kanker serviks . anker Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 47-56, e-ISSN 2614-7874 Namun, diperkirakan pada tahun 2020 kasus kanker akan meningkat pesat hingga 15 Hal ini tentu disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat yang dilakukan dan beredarnya zatzat karsinogenik yang menyebabkan kanker. Khusus berdasarkan dari berbagai rumah sakit, diketahui bahwa 70% penderita kanker datang setelah kondisinya berada pada stadium empat atau akhir, itulah sebabnya kegagalan pengobatan lebih sering terjadi dan berujung pada kematian penderita. Tentu hal ini tidak lagi diharapkan dimasa mendatang, berharap agar lebih banyak penderita serviks yang bisa ditolong dan memiliki harapan hidup lebih lama dengan diagnosis dan deteksi kanker serviks lebih awal . Di Indonesia terdapat 100-900 kasus kanker leher rahim per 100. 000 penduduk. Penyebab kanker serviks 99,7% disebab oleh Human Papilloma Virus (HPV) Onkogenik. HPV tipe 16 dan tipe 18 merupakan penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks didunia. Setiap perempuan tanpa memandang usia dan latar belakang berisiko terkena kanker leher Tingginya kasus dinegara berkembang ini disebabkan oleh terbatasnya akses skrining dan pengobatan sehingga mayoritas penderita yang datang berobat sudah dalam kondisi kritis dan penyakit sudah dalam stadium lanjut . Sedangkan Angka kematian ibu adalah salah satu indikator Millennium Development Goals (MDGAo. yang belum selesai dan perlu dilanjutkan pada agenda pasca 2015 yaitu pembangunan berkelanjutan atau Suistanaible Development Goals (SDG. dengan target pada tahun 2030, mengurangi angka kematian ibu hingga di bawah 70 per 100. 000 kelahiran Indikator ini berkaitan langsung dengan kesehatan reproduksi perempuan. Masalah kesehatan reproduksi yang dihadapi oleh wanita pada saat ini menigkatnya infeksi pada organ reproduksi yang pada akhirnya menyebabkan kanker, salah satunya yaitu kanker serviks . Dampak kanker serviks bagi penderita tidak hanya sakit secara fisik, namun terjangkit virus HPV yang menyebabkan kanker serviks dan juga kutil kelamin, bisa mengganggu penderita secara psikis, yang menyebabkan turunnya tingkat kepercayaan diri dalam kehidupan sosial dan juga kehidupan rumah tangganya, terutama aktivitas seksual bagi pasangan yang sudah menikah atau aktif secara seksual . Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. prevalensi tumor/kanker yang ada di Riau adalah 1,0 per 1000 penduduk artinya dari setiap 1000 orang Indonesia sekitar 4 orang di antaranya menderita kanker. Prevalensi tumor/kanker tertinggi tercatat di Provinsi DIY, yaitu 4,1 per 1000 penduduk, terendah di Provinsi Maluku, yaitu 0,015 per 100. Prevalensi tumor/kanker umumnya lebih tinggi pada perempuan, sebesar 5,7 per 1000 penduduk dibandingkan dengan pada laki-laki, sebesar 0. 029 per 100. 000 penduduk. Sehubungan dalam Riskesdas tidak ada data khusus tentang kanker serviks, maka prevalensi kanker serviks mengacu data ada Profil Kesehatan, namun data dalam profil merupakan jumlah pasien keluar rawat inap dengan diagnosis kanker serviks, sehingga belum menunjukkan jumlah kasus kanker serviks yang terjadi di masyarakat, yaitu 786 kasus . ,78%) dari seluruh pasien rawat inap di seluruh RS di Indonesia. Di provinsi Riau jumlah penderita kanker serviks sebanyak 681 kasus, dengan prevalensi 0,063 per 100. 000 penduduk. Angka tersebut lebih tinggi dari angka prevalensi secara nasional . ,043 per 100. , hal tersebut menunjukkan penyakit kanker serviks merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Angka prevalensi kanker serviks di Riau diperkirakan 0,028 per 100. 000 penduduk, jumlah wanita penderita baru kanker serviks berkisar 90-100 kasus per 100. 000 penduduk. Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 47-56, e-ISSN 2614-7874 Sebagai gambaran dilihat dari jumlah pasien yang menjalani perawatan di RSUDArifin Achmad Pekanbaru menunjukkan bahwa kanker serviks menempati urutan teratas dari seluruh kanker pada wanita yaitu sebanyak 98 Sebagai data pembanding dapat dilihat dari data dari laboratorium terdapat 21 kasus, dari jumlah tersebut 17 kasus sudah berada pada tingkat displasia atau sel-sel ganas . Adapun karakteristik wanita yang mengalami kanker serviks ini ialah Umur, paritas dan pekerjaan. Dimana Umur merupakan faktor alamiah penyebab penderita kanker serviks. Wanita yang rawan menderita kanker serviks adalah wanita yang berusia 35-55 tahun memiliki resiko 2-3 kali lipat untuk menderita kanker serviks . Paritas juga merupakan salah satu faktor alamiah penyebab penderita kanker serviks. dimana, pada umumnya kanker serviks terjadi pada wanita yang sering melahirkan 3-5 kali. Pada paritas tinggi rawan terjadi kanker serviks dimana bila persalinan banyak maka kanker serviks cenderung akan timbul. Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh seorang ibu. Arti lain dari paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim . Semakin banyak prose melahirkan yang dialami oleh seorang ibu maka semakin tinggi risiko terkena kanker serviks, karena saat proses melahirkan janin tentu saja keluar melalui serviks yang merupakan leher rahim, jembata antara rahim dan vagina. Keluarnya janin akan menimbulkan trauma pada serviks, jika serviks mengalami kelahiran terus menerus maka serviks juga akan semakin mengalami trauma . Menurut ahmad zakiyuddin tahun 2015, umur adalah waktu hidup. Jadi umur merupakan rentang waktu yang telah dilalui seseorang yang dihitung sejak waktu Umur merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi memori atau daya ingat seseorangn . Setiap perempuan tanpa memandang usia dan latar belatang berisiko terkena kanker serviks atau kanker leher rahim. Tingginya kasus dinegara berkembang ini antara lain disebabkan oleh terbatasnya akses screening dan pengobatan sehingga mayoritas penderita yang datang berobat sudah dalam kondisi kritis dan penyakitnya sudah dalam stadium lanjut . Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Annisa Sakila dkk, yang dilakukan di Rumah Sakit AL-Islam Bandung Periode Januari 2013-Desember 2014. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel pasien yang diteliti meliputi pasien kanker serviks sebanyak 36 Hasil penelitian ini didapatkan pasien kanker serviks terbanyak yaitu pada pasien dengan paritas Ou3 . ,2%) usia >35 . ,9%) dan tingkat pendidikan SD . ,8%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara karakteristik paritas dan tingkat pendidikan dengan kejadian kanker serviks, sedangkan untuk karakteristik usia dengan kejadian kanker serviks tidak terdapat hubungan . Hasil penelitian yang dilakukan oleh Andre M. Watulingas dkk pada tahun 2013 kanker serviks 0,8% dan kanker payudara sebesar 0,5%. Pada umumnya penyakit ini dirawat kira-kira sekitar 70-75% sudah berada pada stadium lanjut dengan tingkat kematian yang sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuin karakteristik penderita kanker serviks di bagian Obstetrik dan Ginekologi RSUP Prof. Kandou Manado. Metode penelitian yang dilakukan adalah deskriptif retrospektif. Hasil tertinggi yang didapatkan dibagian Obstetrik dan Ginekologi RSUP Prof. Kandou Manado adalah usia 45-49 tahun dengan jumlah 18 pasien . ,48%), stadium i B dengan jumlah 22 pasien . ,12%), dan pekerjaan dari Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 47-56, e-ISSN 2614-7874 penderita sebagai IRT (Ibu Rumah Tangg. merupakan yang terbanyak yaitu 61 pasien . ,35%) . Pekerjaan juga dapat mempengaruhi terjadinya kanker serviks. Dimana, pekerjaan kesehatan diri seseorang yang bekerja akan sering berinteraksi dengan orang lain sehingga akan memiliki pengetahuan yang baik pula. Bagi wanita pekerja kasar, seperti buruh, petani memperlihatkan empat kali lebih dibandinngkan wanita pekerja ringan atau Dua memperlihatkan adanya hubungan antara kanker serviks dengan pekerjaan . Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan dan latar belakang diatas data yang ada di RSU Mutia Sari Duri di Jl. Bathin Betuah No. 1A/Jl. Kebun Karet No. Kecamatan Mandau Duri Riau didapatkan data yang mengalami kanker serviks berjumlah 41 orang pada Periode 2016-2017. Maka peneliti tertarik untuk meneliti hubungan karakteristik dengan kejadian kanker serviks pada wanita di RSU Mutia Sari Duri Periode 2016-2017. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara usia, paritas dan pekerjaan wanita dengan kejadian kanker serviks di RSU Mutia Sari Duri Periode 2016-2017. dengan kanker Serviks di RSU Mutia Sari Duri Periode 2016-2017 . Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan data yang dilakukan pada tiap variabel dari hasil penelitian. Untuk mengetahui hubungan . antara variabel bebas (Independent variabl. dengan variabel terikat (Dependent variabl. Untuk membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat digunakan analisis Chi-square, pada batas kemaknaan perhitungan statistik p value . Maka dikatakan (H. statistik mempunyai hubungan yang signifikan. Kemudian untuk menjelaskan adanya asosiasi . antara variabel terikat dengan variabel bebas digunakan analisis tabulasi silang . HASIL Analisis Univariat Berdasarkan tabel. 1 hasil analisis univariat menunjukkan dapat diketahui bahwa dari 41 responden, ibu dengan umur >35-55 Tahun sebanyak 29 orang . ,7%) dan ibu dengan umur 25-35 Tahun sebanyak 12 orang . ,3%). Berdasarkan paritas dapat diketahui bahwa dari 41 responden, ibu dengan paritas > 3 anak sebanyak 25 orang . ,0%) dan ibu dengan paritas < 3 anak asebanyak 16 orang . ,0%). Berdasarkan pekerjaan dapat diketahui bahwa dari 41 responden ibu yang bekerja sebanyak 25 orang . ,0%) dan ibu yang tidak bekerja sebanyak 16 orang . ,0%). Berdasarkan kanker serviks dapat diketahui bahwa dari 41 responden ibu yang mengalami kanker serviks dengan stadium I & II sebanyak 14 orang . ,1%) dan ibu yang mengalami kanker serviks dengan stadium i & IV sebanyak 27 orang . ,9%). METODE PENELITIAN Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survei analitik dengan menggunakan pendekatan desain cross sectional, yaitu suatu penilitian dimana cara pengukuran variabel bebas dan variabel terikat dalam waktu yang bersamaan yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan karakteristik Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 47-56, e-ISSN 2614-7874 Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur wanita yang mengalami kanker serviks di RSU Mutia Sari Duri periode 2016-2017. Jumlah Variabel Umur > 35-55 Tahun (Berisiko Tingg. 25-35 Tahun (Berisiko renda. Paritas > 3 anak (Berisiko Tingg. < 3 anak (Berisiko Renda. Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Kanker Serviks Stadium I & II Stadium i & IV paritas yang berisiko tinggi (> 3 ana. berjumlah 25 orang . ,9%), paritas > 3 anak pada stadium I & II sebanyak 12 orang . ,3%), paritas > 3 anak dengan stadium i & IV sejumlah 13 orang . ,7%). Dan paritas berisiko rendah (< 3 ana. sebanyak 16 orang . ,0%), < 3 anak dengan stadium I & II sejumlah 2 orang . ,9%), paritas < 3 anak dengan stadium i & IV sejumlah 14 orang . ,1%). Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-squere pada paritas dengan p value = 0,020<= 0,05. Hasil ini menunjukkan ada hubungan paritas dengan kanker serviks di RSU Mutia Sari Duri periode 2016-2017. Berdasarkan pekerjaan dan kanker serviks dapat diketahui bahwa ibu dari 41 responden yang mengalami kanker serviks di RSU Mutia Sari Duri periode 2016-2017. yang yang mengalami kanker serviks terbanyak pada ibu yang bekerja sebanyak 25 orang . ,0%), kelompok ibu yang bekerja pada stadium I & II sejumlah 12 orang . ,3%), kelompok ibu yang bekerja pada stadium i & IV sejumlah 13 orang . ,7%). Dan ibu yang tidak bekerja sebanyak 16 orang . ,0%), kelompok ibu yang tidak bekerja pada stadium I & II sejumlah 2 orang . ,9%), kelompok kelompok ibu yang tidak bekerja Analisis Bivariat Analisa Bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (Independent Variabl. dengan menggunakan crosstab . abulasi silan. , analisa bivariat dibuktikan dengan uji analisa chi-square dengan p-value< . maka dikatakan ada hubungan antara Variabel Independent dan Variable Dependent. Berdasarkan tabel 2 menunjukkan usia dan kanker serviks dapat diketahui dari 41 responden. Ibu yang mengalami kanker serviks terbanyak pada usia yang berisiko tinggi (>3555 Tahu. berjumlah 29 orang . ,7%), dengan stadium I & II terdapat 13 orang . ,7%),pada stadium i & IV terdapat 16 orang . ,0%). Pada kategori usia 25-35 Tahun sebanyak 12 orang . ,3%), dengan kanker serviks stadium I & II terdapat 1 orang . ,4%), usia pada stadium i & IV terdapat 11 orang . ,8%). Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-squere pada usia dengan p value = 0,025< =0,05. Hasil ini menunjukkan ada hubungan usia dengan kanker serviks di RSU Mutia Sari Duri periode 2016-2017. Berdasarkan paritas dan kanker serviks dapat diketahui dari 41 responden. Ibu yang mengalami kanker serviks terbanyak pada Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 47-56, e-ISSN 2614-7874 pada Stadium i & IV sejumlah 14 orang . ,1%). Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-squere pada pekerjaan dengan p value = 0,020< = 0,05. Hasil ini menunjukkan ada hubungan pekerjaan dengan kanker serviks di RSU Mutia Sari Duri periode 2016-2017. Tabel 2. Tabulasi Silang Usia Ibu Dengan Kanker Serviks di RSU Mutia Sari Duri Periode 2016-2017. Kanker Serviks Jumlah Stadium I &II Stadium i &IV Variabel Usia > 35-55 Tahun (Berisiko Tingg. 25-35 Tahun (Berisiko renda. Paritas > 3 anak (Berisiko Tingg. < 3 anak (Berisiko Renda. Pekerjaan Bekerja TidakBekerja 0,020 0,020 reproduksinya karena pada umur tersebut perubahan hormonal yang semakin menurun lesi/perlukaan sehingga memudahkan virus HPV penyebab kanker serviks masuk dengan mudah, selain itu skrinning secara dini kurang pemeriksaan dari awal ada keluhan, sehingga kanker serviks lama terdeteksi . Menurut asumsi peneliti bahwa responden mayoritas yang mengalami kanker serviks berada pada kelompok umur >35-55 tahun dimana pada kelompok umur tersebut akan sangat beresiko terkena kanker serviks. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan pada alat-alat kandungan dan jalan lahir tidak lentur lagi, tingkat kesuburan wanita juga akan perubuhan-perubahan hormonal yang semakin menurun sehingga lesi/perlukaan sehingga memudahkan virus HPV penyebab kanker serviks masuk dengan mudah. Namun umur tidak mutlak mempengaruhi terjadinya kanker serviks karna ada beberapa responden yang mengalami kanker serviks pada kelompok umur 25-35 tahun hal penyebab PEMBAHASAN Hubungan Usia Dengan Kanker Serviks Di RSU Mutia Sari Duri periode 2016-2017. Berdasarkan analisis bivariat antara usia dengan kanker serviks dapat diketahui dari 41 responden. Ibu yang mengalami kanker serviks terbanyak pada usia yang berisiko tinggi (>3555 Tahu. berjumlah 29 orang . ,7%), dengan stadium I & II terdapat 13 orang . ,7%), pada stadium i & IV terdapat 16 orang . ,0%). Pada kategori usia 25-35 Tahun sebanyak 12 orang . ,3%), dengan kanker serviks stadium I & II terdapat 1 orang . ,4%), usia pada stadium i & IV terdapat 11 orang . ,8%). Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-squere pada usia dengan p value = 0,025< =0,05. Hasil ini menunjukkan ada hubungan usia dengan kanker serviks di RSU Mutia Sari Duri. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Siti Halimasyaadiah bahwa umur diatas > 35 tahun mempunyai resiko tinggi terhadap kanker serviks dibanding dengan umur < 35 tahun, dikarenakan pada umur diatas >35 tahun banyak mengalami perubahan secara Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 47-56, e-ISSN 2614-7874 lainnya salah satunya yaitu seperti sosial ekonomi, gizi, kekebalan tubuh yang lemah dan infeksi virus. dandarihasilpenelitian yang dilakukanpenulis di RSU Mutia Sari Duri periode 2016-2017 menunjukkanadanya hubungan umur dengan kanker serviks. yang mengalami kanker serviks berada pada paritas tinggi yaitu > 3 anak. Hal ini sejalan dengan teori dan penelitian terdahulu dimana pada paritas > 3 anak akan sangat beresiko terkena kanker serviks. Hal ini dikarenakan perlukaan setelah melairkan dan juga jarak persalinan yang terlalu dekat sehingga menurunnya kemampuan serviks dalam pempertahankan zona transformasi pada okesrviks terhadap infeksi HPV. Namun paritas juga tidak mutlak memperngaruhi terjadinya kanker serviks dimana ada bebarapa responden yang mengalami kanker serviks pada paritas < 3 anak. Hal ini terjadi karena kebersihan diri yang kurang baik sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual tidak diperkirakan akan memudahkan terjadinya Namu tidak menutup kemungkinan dimana wanita yang belum punya anak juga dapat terkena kanker serviks. Disamping kehidupan seksual yang kurang sehat atau melakukan hubungan seksual sewaktu menstruasi hal inilah yang memudahkan terinfeksi virus HPV. namun tingginya paritas bukan sepenuhnya penyebab terjadinya kanker serviks, tetapi sebagai salah satu faktor risiko untuk terinfeksi virus HPV yang berisiko Hubungan Paritas Dengan Kanker Serviks Di RSU Mutia Sari Duri periode 20162017. Berdasarkan analisis bivariat antara paritas dengan kanker serviks dapat diketahui dari 41 responden. Ibu yang mengalami kanker serviks terbanyak pada paritas yang berisiko tinggi (> 3 ana. berjumlah 25 orang . ,9%), paritas > 3 anak pada stadium I & II sebanyak 12 orang . ,3%), paritas > 3 anak dengan stadium i & IV sejumlah 13 orang . ,7%). Dan paritas berisiko rendah (< 3 ana. sebanyak 16 orang . ,0%), < 3 anak dengan stadium I & II sejumlah 2 orang . ,9%), paritas < 3 anak dengan stadium i & IV sejumlah 14 orang . ,1%). Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chisquere pada paritas dengan p value = 0,020<= 0,05. Hasil ini menunjukkan ada hubungan paritas dengan kanker serviks di RSU Mutia Sari Duri periode 2016-2017. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Nanik Handayani bahwa seseorang memiliki banyak anak terutama yang melahirkan lebih dari 3 kali atau paritas > 3 anak mempunyai resiko tinggi menderita terkena kanker serviks dibanding dengan wanita yang memiliki anak dibawah 3 atau paritas < 3 anak. Hal ini dikarenakan perlukaan setelah melahirkan dan jarak persalinan yang terlalu dekat akan menyebabkan virus penyebab kanker serviks Dengan banyaknya kehamilan sehingga dalam proses melahirkan anak mungkin saja memiliki efek trauma ataupun efek penurunan imunitas tubuh sehingga meningkatkan risiko infeksi HPV . Menurut asumsi peneliti paritas merupakan salah satu penyebab terjadinya kanker serviks, dimana mayoritas responden Hubungan Pekerjaan Dengan Kanker Serviks Di RSU Mutia Sari Duri periode Berdasarkan analisis bivariat antara pekerjaan dengan kanker serviks dapat diketahui bahwa ibu dari 41 responden yang mengalami kanker serviks di RSU Mutia Sari Duri periode 2016-2017. ibu yang yang mengalami kanker serviks terbanyak pada ibu yang bekerja sebanyak 25 orang . ,0%), kelompok ibu yang bekerja pada stadium I & II sejumlah 12 orang . ,3%), kelompok ibu yang bekerja pada stadium i & IV sejumlah 13 orang . ,7%). Dan ibu yang tidak bekerja sebanyak 16 orang . ,0%), kelompok ibu yang tidak bekerja pada stadium I & II Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 47-56, e-ISSN 2614-7874 sejumlah 2 orang . ,9%), kelompok kelompok ibu yang tidak bekerja pada Stadium i & IV sejumlah 14 orang . ,1%). Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chisquere pada pekerjaan dengan p value = 0,020< = 0,05. Hasil ini menunjukkan ada hubungan pekerjaan dengan kanker serviks di RSU Mutia Sari Duri periode 2016-2017. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Damayanti tahun 2013, dimana terdapat hubungan kanker serviks dengan pekerjaan, dan wanita yang pekerja kasar seperti buruh, petani memperlihatkan empat kali lebih mungkin terkena kanker serviks dibandingkan wanita pekerja ringan atau bekerja dikantor. Wanita pekerja kasar identik dengan status sosial ekonomi yang rendah biasanya dikaitkan dengan hygiene, sanitasi dan Pekerjaan penghasilan tidak tetap serta faktor gizi yang kurang akan memudahkan terjadinya infeksi yang menyebabkan daya imunitas tubuh menurun sehingga menimbulkan risiko terjadinya kanker serviks . Berdasarkan menyatakan bahwa kanker serviks mayoritas terjadi pada responden yang bekerja. Menurut asumsi peneliti hal ini dikarenakan kesibukkan responden kurang memperhatikan lebih dalam mengenai kebersihan alat genetalianya apalagi bagi mereka yang sering menggunakan kloset atau WC umum yang sudah terkontaminasi virus tanpa disadari hal ini bisa jadi cara masuknya virus tersebut. Namun ada juga beberapa responden yang tidak bekerja yang mengalami kanker serviks, hal ini dikarenakan rendahnya pengetahuan ibu akan bahaya kanker servik, serta kurangnya kesadaran ibu untuk menjaga kebersihan alat kelamin dan kurangnya minat ibu untuk melakukan pemeriksaan untuk mendeteksi dini, salah satu penyebab lainnyayaitu penghasilannya yang tidak menetap sehingga sosial ekonomi mempengaruhi, dimana golongan ekonomi yang lemah tidak mampu melakukan pemeriksaa IVA/Papsmear untuk mendeteksi dini kanker serviks ataupun melaksanakan vaksinasi HPV. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya maka diperoleh kesimpulan terdapat hubungan antara usia, paritas dan pekerjaan dengan kanker serviks pada wanita. Diharapkan bagi RSU Mutia Sari Duri untuk menambah pengetahuan dan mutu pelayanan kebidanan yang diberikan terutama dalam mengahadapi masalah wanita dengan kejadian kanker serviks. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih saya sampaikan kepada Direktur RSU Mutia Sari Duri yang telah memberikan izin sebagai tempat penelitian. DAFTAR PUSTAKA