PRAXIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Desember 2025. Hal 37-47 DOI: https://doi. org/10. 47776/5kt29b66 PELAKSANAAN PROGRAM CALISTUNG UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN LITERASI NUMERASI DAN PERCAYA DIRI SISWA Yuda Setiawan1. Donna Boedi Maritasari2. Agusniawati3. Zuhratun Hasanah4. Dea Ananda Agustina Putri5. Rista Ariani6. Siti Nur Aulia7. Windy Septiani Hartono8 1-8Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Hamzanwadi Email: yudasetiawan520@gmail. com1, boediselong@gmail. agusniwati387@gmail. Zuhratunhasanah02@gmail. dea930282@gmail. com5, ameliarista@gmail. com6, utsurainilia@gmail. windyseptiani679@gmail. ABSTRAK Program Kerja Baca Tulis Hitung (Proker Calistun. di MI NW Gunung Timba khususnya pada kelas i dan IV, bertujuan untuk menumbuhkan minat baca serta meningkatkan rasa percaya diri pada Proker Calistung ini dibagi menjadi beberapa tahapan siklus pelaksanaan seperti: persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Proker Calistung ini memiliki beberapa kegiatan, diantaranya seperti pada bagian literasi kegiatan berfokus pada pengenalan huruf abjad, penyusunan suku kata, membaca kalimat sederhana, hingga memahami paragraf pendek untuk melatih kemampuan membaca dan menulis siswa. Sedangkan pada numerasi, siswa diperkenalkan pada angka serta dilatih melakukan hitung dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian guna untuk meningkatkan kemampuan berhitung secara bertahap sesuai tingkat pemahaman mereka. Hasil akhir yang di dapatkan pada Proker Calistung ini yaitu siswa mampu meningkatkan kemampuan literasinya, khususnya pada kemampuan membaca. Pada segi psikologis, siswa mampu menumbuhkan rasa percaya dirinya terhadap kemampuannya setelah bisa menguasai kemampuan literasi. Proker ini juga berhasil menumbuhkan kesadaran terutama dilingkungan sekolah maupun masyarakat karena dapat meningkatkan pengaruh positif terhadap pemberdayaan pada kemampuan literasi di MI NW Gunung Timba, khususnya pada kelas i dan IV. Kata Kunci: Proker Calisstung. Literasi Dan Numerasi. Minat Baca. Rasa Percaya Diri ABSTRACT The Reading. Writing, and Arithmetic Work Program (Proker Calistun. at MI NW Gunung Timba, specifically for 3 and 4 grade students, aims to foster a reading interest and boost students' selfconfidence. This Proker Calistung is divided into several implementation cycle stages such as: preparation, implementation, and evaluation. The Proker Calistung involves several activities, including in the literacy section where activities focus on introducing the alphabet, compiling syllables, reading simple sentences, up to comprehending short paragraphs to train students' reading and writing skills. Meanwhile, in numeracy, students are introduced to numbers and trained to perform basic calculations such as addition, subtraction, multiplication, and division, in order to gradually improve their counting abilities according to their level of understanding. The final result obtained from this Proker Calistung is that students are able to enhance their literacy skills, especially in reading ability. Psychologically, students are able to cultivate a sense of selfconfidence in their abilities after mastering literacy skills. This program also succeeded in raising awareness, especially within the school and community environment, as it positively influences the empowerment of literacy skills at MI NW Gunung Timba, particularly in 3 and 4 grades. Keywords: Proker Calistung. Literacy And Numeracy. Reading Interest. Self-Confidence E-ISSN: 2963-9. P-ISSN: 2963-170X | 37 PRAXIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Desember 2025. Hal 37-47 DOI: https://doi. org/10. 47776/5kt29b66 PENDAHULUAN Kemampuan literasi dan numerasi sangat berperan penting dalam membentuk siswa yang kritis, analistis serta mampu mengaplikasikan pengetahuan sehari-hari. Kemampuan ini tidak hanya diperlakukan dalam aktivitas akademik, tetapi juga dalam situasi kehidupan nyata, karena siswa dituntut untuk memahami informasi, menganalisis situasi, serta mengambil keputusan secara tepat berdasarkan pemahaman yang dimiliki sesuai indikator literasi dan numerasi yang telah dijelaskan oleh Kemendikbud . Berkat adanya kepercayaan diri, siswa akan memiliki sikap yang positif terhadap kegiatan Sehingga siswa juga dengan leluasa dapat berfikir dengan terbuka terhadap beragam perspektif dan informasi yang diperoleh dari kegiatan membaca tersebut. Dukungan dari guru, teman, dan keluarga dapat mempengaruhi rasa percaya diri siswa, terlebih lagi rasa berfikir kritis serta dapat memahami konteks bacaan secara Berdasarkan observasi yang telah dilakukan selama tiga minggu hasil yang didapatkan dari Proker Calistung ini menunjukkan bahwa siswa kelas i dan IV yang tidak bisa membaca rata-rata memiliki kemampuan yang sangat kurang dalam literasi dan numerasinya, seperti adanya siswa yang tidak bisa mengenal abjad, siswa yang tidak bisa menulis dengan baik, hingga siswa yang tidak bisa berhitung, sehingga hal tersebut berdampak pada turunnya rasa percaya diri mereka. Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan selama tiga minggu menunjukkan bahwa penyebab siswa kelas i dan IV yang tidak bisa membaca karena lemah dalam literasi dan numerasi. Penyebabnya yaitu karena kurangnya dorongan dan keterlibatan orang tua terhadap kemampuan literasi dan numerasi siswa dirumah dikarenakan orang tua dari siswa tersebut ada yang bercerai, sibuk bekerja dari pagi hingga malam sehingga tidak memiliki waktu untuk mengajarkan siswa literasi dan numerasi, dan juga orang tua siswa yang berasal dari luar daerah sehingga mengakibatkan siswa tersebut tidak mendapatkan cukup perhatian dalam Sehingga hal tersebut dapat berdampak pada rasa kepercayaan diri siswa. Selain itu juga, data yang telah didapatkan oleh mahasiswa AM di lapangan berupa permasalahan yang menjadi faktor utama seperti yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor internalnya yaitu kurangnya minat dan motivasi membaca, rasa percaya diri yang kurang, kurangnya kemampuan kognitif siswa, gangguan persepsi atau konsentrasi, sedangkan faktor eksternal meliputi kurangnya sarana dan prasarana yang memadai serta kurangnya dukungan baik dari beberapa pihak guru maupun kedua orang tua. Selain itu juga permasalahan siswa yang kesulitan membaca ini dirasakan oleh kebanyakan fase B. Fase B yang seharusnya merupakan fase yang mana siswa sudah bisa membaca buku, sekurang-kurangnya siswa sudah bisa mengenal huruf serta menyusun kata dengan mudah dan materi numerasi yang masih Namun, data di lapangan menunjukkan bahwa beberapa siswa mengalami hambatan tersebut yang secara garis besarnya pemasalahan membaca ini yang banyak menjadikan siswa sebagai pihak yang dirugikan. Melalui sudut pandang lingkungan sekolah, kami melihat bahwa adanya pengajaran serta perhatian dari beberapa gutu terhadap siswa, seperti saat guru memberikan siswa catatan tetapi tidak disuruh untuk membaca ulang sehingga lamakelamaan siswa tersebut kurang lancar dalam membaca, guru yang kurang dalam mendidik siswa dapat memberikan dampak sehingga siswa tersebut belum bisa membaca walaupun sudah berada di kelas tinggi. Kemudian dari segi sarana dan prasarana, adanya fasilitas yang kurang di sekolah untuk mengajar siswa yang mengakibatkan siswa tersebut kurang minat untuk belajar, ruang perpustakaan yang menyatu dengan ruang 38 | E-ISSN: 2963-9. P-ISSN: 2963-170X PRAXIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Desember 2025. Hal 37-47 DOI: https://doi. org/10. 47776/5kt29b66 guru membuat siswa tidak merasa bebas dan leluasa dalam membaca, selain itu juga perpustakaan tersebut terlalu sempit dan satu ruangan dengan ruang guru yang merupakan area privasi. Untuk menangani permasalahan yang ada, melalui observasi yang telah dilakukan kami menemukan beberapa permasalahan yang ada terutama pada lingkup literasi dan Hal tersebutlah yang menjadi fokus diskusi kami, sehingga kami menyusun proker yang disebut sebagai Proker Calistung. Pada Proker Calistung ini kami mengharapkan siswa dapat meningkatkan kemampuan literasi dan numerasinya sehingga hal tersebut dapat berdampak baik serta dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap diri siswa serta lingkungan sekolah. Selain itu juga. Proker Calistung ini diharapkan dapat membantu siswa untuk mempersiapkan dirinya dengan kemampuan dasar yang lebih baik, meningkatkan kesiapan belajar siswa dengan dapat mengembangkan kemampuan kognitif, motorik, dan afektif, lalu siswa dapat mengembangkan kemampuan berfikir logis dan analitis, serta secara tidk langsung dapat membantu siswa untuk meningkatkan rasa percaya diri. Proker Calistung ini dibentuk untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung, agar siswa merasa nyaman dan percaya diri untuk belajar, memberikan pelatihan membaca kepada siswa yang belum bisa membaca sesuai dengan tingkat kemampuan siswa mulai dari mengajarkan huruf, suku kata, kata, kalimat dan paragraf sederhana, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih memebaca secara bergantian sehingga dapat membangun kepercayaan diri siswa, menggunakan media seperti kartu baca bergambar dan buku tata cara membaca untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang membaca, melakukan permaianan pada proses proker calistung sehingga siswa tidah mudah jenuh dan bosan pada saat pelaksanan proker berlangsung, memberikan penghargaan kepada siswa yang telah telah berhasil membaca dan berhitung dengan benar, memberikan tugas kepada siswa agar dapat mengulang materi yang sudah dipelajari, serta melakukan evaluasi dari Proker Calistung untuk mengetahui sejauh mana kemampuan calistung siswa meningkat. Oleh karena itu untuk menindaklanjuti masalah tersebut khususnya yang berkaitan pada kemampuan literasi dan rasa percaya diri pada siswa. Proker Calistung ini hadir untuk menyelesaikan permasalahan tersebut di MI NW Gunung Timba khususnya pada kelas i dan IV. Proker Calistung ini dapat membantu siswa secara tidak langsung menumbuhkan minat literasinya khusunya pada kemampuan membaca, serta juga dapat membantu siswa membangun rasa percaya dirinya. Tidak hanya itu saja. Proker Calistung ini juga dapat membantu siswa agar bisa dam mampu memahami dasar literasi dengan lebih baik, menulis kata dan huruf dengan benar, memahami konsep angka dan operasi sederhana . enjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalia. dan dapat memberikan dampak positif terhadap diri mereka sendiri. METODE KEGIATAN Kegiatan Proker Calistung ini dilaksanakan di MI NW Gunung Timba. Desa Denggen Timur. Kecamatan Selong. Kabupaten Lombok Timur. Nusa Tenggara Barat. Proker Calistung ini disusun oleh Mahasiswa Asisten Mengajar Universitas Hamzanwadi sebagai salah satu tugas proker dari Proker ini menargetkan siswa pada kelas i dan IV yang tidak memiliki kemampuan literasi khususnya pada kemampuan membaca dan siswa yang tidak memiliki rasa percaya diri. Proker Calistung ini memiliki beberapa langkah sebagai strataegi dalam persiapannya sebagai Tahap persiapan, pada tahap ini merupakan siklus awal yang penting untuk bisa memastikan apakah Proker Calistung ini berjalan dengan lancar atau tidak. Pada siklus E-ISSN: 2963-9. P-ISSN: 2963-170X | 39 PRAXIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Desember 2025. Hal 37-47 DOI: https://doi. org/10. 47776/5kt29b66 awal ini kami melakukan observasi terlebih dahulu ketika siswa belajar di dalam kelas, pada saat mereka menerapkan kemampun membacanya secara langsung untuk mengetahui bagaiamana kondisi di MI NW Gunung Timba, khususnya pada kelas i dan IV. Kami juga menanyakan beberapa hal terkait dengan kondisi siswa kelas i dan IV pada wali kelas serta kepala sekolah. Selain itu juga, observasi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi kemampuan literasi dan numerasi siswa. Tahap Pelaksanaan, pada siklus kedua ini kami melaksanakan Proker Calistung sesuai dengan proses dan langkah-langkah yang terjadwal dapat berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Proker Calistung ini diadakan setiap hari pada saat jam pertama pembelajaran. Tempat pelaksaan proker ini disesuikan dengan kondisi tertentu, hal ini dilakukan agar siswa tidak merasa bosan dan suntuk saat melaksanakan pembelajaran Calistung. Media yang digunakan untuk Proker Calistung ini seperti kartu abjad dan angka lengkap dengan gambar agar mempermudah siswa mengingatnya, buku bacaan yang berisi tata cara menulis angka dan abjad, aplikasi untuk belajar membaca dan berhitung serta bermain untuk tidak membuat siswa merasa jenuh. Di samping itu juga, kami memberikan latihan berupa tugas menulis, berhitung, atau membaca, serta meberikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswa sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Penerapan Proker Calistung ini diawali dengan mengajar siswa mengenal abjad pada literasi dan angka pada numerasi, kemudian dilanjutkan dengan belajar suku kata, kalimat, dan paragraf pada literasi dan belajar penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian pada numerasi. Di samping itu juga, tahap yang sudah dipaparkan itu dapat membantu siswa secara tidak langsung menumbuhkan rasa percaya dirinya. Tahap evaluasi, pada siklus akhir setelah pelaksanaan Proker Calistung, kami mengevaluasi bagaiamana pelaksanaan proker ini berjalan pada siswa dengan cara menguji siswa tersebut terkait sejauh mana pemahaman siswa tentang literasi dan Selajutnya kami menyusun laporan terkait dengan Proker Calistung yang kami laksanakan agar bisa dijadikan sebagai rujukan untuk kedepannya. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum pelaksanaan Proker Calistung di MI NW Gunung Timba, kami melaksanakan observasi terlebih dahulu. Obervasi merupakan sebuah proses meliputi unsur-unsur yang saling terkait, tersusun dari berbagai macam proses secara biologis maupun psikologis yang melibatkan pada hasil pengamatan, persepsi terhadap berbagai sudut pandang, serta ingatan yang cukup kuat sehingga dapat membantu mempermudah selama proses observasi berlangsung (H. Hasanah. Ada beberapa faktor yang menjadi patokan yang perlu dalam melakukan observasi meliputi exterior physical signs . akaian, gaya rambut, sepatu, tato, perhiasan, dl. , expressive movement . erak-gerakan tubuh seperti gerakan mata, awajah, postur, lengan, senyum, kerutan dahi, dl. , physical location . ersonal space dan lingkungan fisi. , language behavior . enyilangkan kaki, dl. , dan time duration. Adapun obervasi yang telah kami lakukan meliputi bagaimana siswa belajar secara langsung di dalam kelas seperti kemampuan literasi dan numerasi seperti melihat secara langsung anak di dalam kelas tentang bagaimana cara siswa belajar di dalam kelas membaca dan berhitung ataupun diminta untuk maju ke depan kelas untuk membaca dan menjawab soal-soal selama tiga minggu agar bisa mengetahui seberapa jauh kemampuan literasi dan numerasi siswa kelas i dan IV untuk dapat merancang Proker Calistung yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Literasi dan numerasi merupakan suatu pembelajaran yang berkaitan dengan kemampuann berpikir secara kritis dan logis serta kemampuan dalam berbahasa, serta kemampuan matematika seperti berhitung yang diperlukan dalam kehidupan sehari-sehari yang bisa digunakan dalam berbagai konteks, baik itu secara pribadi, sosial, maupun profesional (Muliantara & Suarni, 2. 40 | E-ISSN: 2963-9. P-ISSN: 2963-170X PRAXIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Desember 2025. Hal 37-47 DOI: https://doi. org/10. 47776/5kt29b66 Literasi dan numerasi juga dikenal sebagai keterampilan untuk dapat mengenal, memahami huruf ataupun angka dengan mempelajari sebuah teks bacaan, tulisan, serta hitnghitungan pada saat kegiatan pembelajaran di sekolah berlangsung (Hamidah et al. , 2. Pada zaman yang sudah maju seprti sekarang ini, tentunya kemampuan iterasi dan numerasi sangat dibutuhkan guna untuk mempermudah kehidupan manusia setiap harinya. Oleh karena itu kemampuan literasi dan numerasi ditekankan untuk dapat dipelajari oleh siswa saat berada di jenjang kelas rendah dan dipelajari jika bisa sedini mungkin untuk mencegah terjadinya generasi yang tidak memiliki kemampuan literasi dan numerasi yang tidak bagus. Apalagi bisa dikatakan bahwa literasi dan numerasi ini merupakana salah satu tantangan di era Revolusi Industri 4. dalam ranah dunia pendididikan sehingga kemampuan lliterasi dan numerasi ini sangat penting untuk dapat diperoleh secara menyeluruh (Ayuningtyas et al. , 2. Selain itu juga, individu yang memiliki kemampuan literasi dan numerasi dapat membantu dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dan dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam menghadapai berbagai tantangan di segala situasi yang berkaitan dengan pemikiran kritis dan pemecahan pada sebuah masalah (Dianastiti et al. , n. Setelah dilakukannya observasi, mahasiswa AM kemudian mendiskusikan solusi yang akan diterapkan guna untuk menangani permasalahan yang ada di MI NW Gunung Timba terkait dengan fokus utama masalah yang didapatkan yaitu kurangnya kemampuan literasi dan numerasi serta kurangnya rasa percaya diri, sehingga kami membentuk sebuah proker sebagai solusi kami untuk dapat membantu siswa kelas i dan IV yang kesulitan membaca. Proker merupakan salah satu bentuk kegiatan yang mengoperasionalkan teknis dari terjemahan dari Rencana Strategis (Renstr. dan Rencana Induk Pengembangan (RIP) dalam sebuah organisasi. Biasanya proker ini ada karena sebagai bentuk tugas dari instansi pendidikan seperti kampus maupun sekolah sebagai sarana untuk salah satu solusi dalam memecahkan permasalahan (Pedoman et al. , n. Hasil akhir yang didapatkan setelah melakukan diskusi terkait proker yang akan dilaksanaklan yaitu kami membentuk Proker Calistung sebagai solusi dalam membantu siswa untuk memahami dan mengerti kemampuan dasar dari literasi dan numerasi serta meningkatkan kemampuan percaya diri pada siswa. Calistung bisa saja diajarkan kepada anak sebelum prasekolah, hal ini juga malah dapat membantu anak agar mudah belajar saat sudah masuk Namun, calistung juga bisa diajarkan pertama kali saat anak berada pada tingkat usia dini sebagai keterampilan dasar yang terdiri atas rujukan serta pemehaman dasar pada angka, huruf, dan keterampilan motoroik halus seperti menulis dan bergambar, hal tersebut dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar pada anak (W. Hasanah et al. , 2. Calistung tidak hanya diajarkan pada tingkat usia dini saja tetapi juga calistung sudah banyak menjadi sebuah tolak ukur bagi sekolah-sekolah di jenjang sekolah dasar (SD) ataupun madrasah ibtidaiyah (MI) di indonesia. Jika ada dari calon siswa yang memiliki kemampuan dapat menguasai calistung yang memiliki kemampuan dasar seperti membaca dengan lancar, menulis dengan baik, dan berhitung dengan baik juga, maka hal tersebut dapat memberikan kemudahan bagi siswa dan berkesempatan untuk diterima di sekolah SD atau MI favorit (Pembelajaran & Pada, 2. Pembelajaran calistung umumnya diajarkan pada siswa kelas rendah, khususnya di kelas I. II dan i SD yang pada dasarnya memang perlu bimbingan dalam penyesuaian dan pengoptimalan literasi serta numerasi, namun di tengah zaman yang sudah berkembang ini justru banyak anak di atas kelas i tidak bisa membaca dan bahkan lebih parahnya lagi bahkan tidak bisa mengenal abjad sehingga hal ini menjadi permasalahan yang sangat dan harus segera untuk dicari solusinya. Sehingga calistung hadir di tengah-tengah permasalahan yang sedang terjadi sebagai salah satu cara untuk mengurangi angka presentase siswa yang tidak bisa mmebaca E-ISSN: 2963-9. P-ISSN: 2963-170X | 41 PRAXIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Desember 2025. Hal 37-47 DOI: https://doi. org/10. 47776/5kt29b66 maupun berhitung sehingga calistung ini dapat membantu siswa untuk bisa menapaki ke tahap selanjutnya dan juga bisa dikatakan sebagai bentuk pencapaian kurikulum dalam menyamaratakan peningkatan program literasi dan numerasi di Indonesia terutama pada wilayah yang masih jauh tertinggal, terluar, dan terdalam jauh dari jangkaun pemerintah (Diah et , 2. Sumber: Dokumentasi Tim Pelaksana . Gambar 1. Observasi dan Diskusi Oleh karena Proker Calistung ini dilaksanakan guna untuk membantu siswa dalam belajara literasi dan numerasi sehingga mereka dapat meningkatkan rasa percaya dirinya. Proker Calistung ini dilaksanakan setiap hari pada jam pertama pembelajaran hingga bel istirahat Proker Calistung ini dilaksanakan secara bergantian oleh mahasiswa asistensi mengajar (AM), yang masing-masing memiliki jadwal sebagai penanggung jawab (PJ) pada tiap satu minggu Tempat pelaksanaan Proker Calistung ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah di MI NW Gunung Timba agar siswa tidak mudah bosan dan jenuh ketika Proker Calistung Penggunaan media seperti kartu abjad dan angka yang dilengkapi dengan gambar, buku bacaan yang dilengkapi dengan tata cara menebalkan huruf dan angka sebagai alat bantu dalam pelaksanaan Proker Calistung, sehingga dapat memepermudah siswa untuk mengingat, memahami materi yang diberikan, dan menumbuhkan minat serta motivasi siswa dalam belajar Calistung, sehingga secara perlahan juga mampu memunculkan rasa percaya diri siswa. Adapun rundown yang telah diatur oleh mahasiswa AM dapat dipetakan menjadi kegiatan selama perminggu yaitu sebagai berikut: Minggu Pertama Sumber: Dokumentasi Tim Pelaksana . Gambar 2. Pengenalan Literasi dan Numerasi 42 | E-ISSN: 2963-9. P-ISSN: 2963-170X PRAXIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Desember 2025. Hal 37-47 DOI: https://doi. org/10. 47776/5kt29b66 Pelaksanaan Proker Calistung pada minggu pertama disesuaikan dengan hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa sebagian siswa di MI NW Gunung Timba masih kesulitan mengenal huruf dan angka. Dua orang penanggung jawab mengawasi kegiatan yang dilaksanakan di musholla sekolah. Pembelajaran difokuskan pada pengenalan abjad huruf besar dan kecil serta angka 1Ae50 untuk memperkuat kemampuan dasar literasi dan numerasi. Kegiatan dilakukan dengan metode menyenangkan, seperti penggunaan kartu bergambar dan aplikasi belajar membaca untuk menarik minat siswa. Temuan menunjukkan bahwa sebagian siswa masih berada pada tahap pra-lancar dalam membaca dan berhitung. Hal ini sejalan dengan penelitian Alam & Suminar . yang menegaskan perlunya stimulasi berulang dan pendekatan multisensori pada tahap awal literasi. Menurut Indah et al. , . pembelajaran berbasis aktivitas bermain juga dapat meningkatkan keterlibatan belajar anak. Metode interaktif yang diterapkan membuat siswa lebih antusias dan aktif selama kegiatan, menandakan peningkatan minat belajar. hasil minggu pertama menjadi dasar penting untuk menentukan strategi pembelajaran lanjutan yang lebih adaptif guna memperkuat kemampuan literasi dan numerasi siswa. Minggu Kedua Sumber: Dokumentasi Tim Pelaksana . Gambar 3. Penguasaan suku kata & angka 50-100 Pelaksanaan Proker Calistung pada minggu kedua merupakan tahap lanjutan setelah siswa mengenal huruf dan angka pada minggu sebelumnya. Kegiatan dilaksanakan di ruang Kepala Sekolah yang cukup luas dan nyaman. Fokus pembelajaran minggu ini adalah penguasaan suku kata, di mana siswa mulai belajar membaca serta menyusun kata sederhana. Pada aspek numerasi, siswa dikenalkan dengan angka 50 hingga 100 melalui kegiatan menulis dan menyebutkan angka secara benar menggunakan metode permainan dan media menarik. Temuan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mulai mampu mengenali suku kata dan menyusun kata sederhana dengan bimbingan. Hal ini sejalan dengan pendapat Adawiyah & Irawati . bahwa latihan fonetik dan visual secara bertahap dapat mempercepat kemampuan membaca permulaan. Monoarfa et al. , . juga menekankan pentingnya interaksi sosial dalam membangun kemampuan bahasa anak. Pembelajaran berbasis permainan terbukti meningkatkan fokus dan partisipasi siswa. strategi ini dapat dijadikan model pembelajaran efektif untuk menguatkan dasar literasi dan numerasi, sekaligus meningkatkan motivasi belajar siswa di tahap E-ISSN: 2963-9. P-ISSN: 2963-170X | 43 PRAXIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Desember 2025. Hal 37-47 DOI: https://doi. org/10. 47776/5kt29b66 Minggu Ketiga Sumber: Dokumentasi Tim Pelaksana . Gambar 4. Penyusunan kata dan peningkatan kemampuan membaca Pelaksanaan Proker Calistung pada minggu ketiga merupakan lanjutan dari kegiatan literasi dan numerasi minggu sebelumnya. Kegiatan dilaksanakan kembali di ruang Kepala Sekolah yang cukup luas. Setelah siswa memahami suku kata, pembelajaran difokuskan pada penyusunan kata dan peningkatan kemampuan membaca, di mana siswa belajar menyusun huruf menjadi kata sederhana menggunakan kartu baca dan buku bacaan. Pada aspek numerasi, siswa diajak mempelajari penjumlahan dan pengurangan dasar melalui penggunaan benda konkret dan permainan berhitung agar kegiatan lebih menarik. Sebagian besar siswa sudah mampu menyusun kata sederhana dan memahami konsep penjumlahan dasar dengan bantuan alat peraga. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Argaruri . yang menjelaskan bahwa penggunaan media konkret membantu anak memahami konsep abstrak dalam membaca dan berhitung. Menurut Indah et al. , . pembelajaran yang melibatkan pengalaman langsung memperkuat pemahaman konseptual anak. Penerapan metode berbasis praktik langsung membuat siswa lebih aktif dan percaya diri dalam proses belajar. pendekatan ini efektif untuk mengembangkan keterampilan literasi dan numerasi dasar serta dapat dijadikan model pembelajaran yang adaptif bagi sekolah dasar di tahap awal. Minggu Keempat Sumber: Dokumentasi Tim Pelaksana . Gambar 5. Perangkaian kata menjadi kalimat Pelaksanaan Proker Calistung pada minggu keempat merupakan lanjutan dari pembelajaran minggu ketiga yang berfokus pada penyusunan kata. Kegiatan dilaksanakan di ruang Kepala Sekolah yang cukup luas dan kondusif. Pada minggu ini, pembelajaran difokuskan pada kemampuan menyusun dan membaca kalimat sederhana agar siswa mampu memahami makna dari kalimat yang dibaca. Siswa diajak merangkai beberapa kata menjadi kalimat utuh dan membacanya di depan PJ menggunakan buku bacaan yang telah disiapkan. Pada aspek numerasi, 44 | E-ISSN: 2963-9. P-ISSN: 2963-170X PRAXIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Desember 2025. Hal 37-47 DOI: https://doi. org/10. 47776/5kt29b66 siswa mulai dikenalkan dengan konsep dasar perkalian dan pembagian sederhana melalui permainan angka, benda konkret, dan latihan soal. Siswa mulai mampu membaca kalimat sederhana dengan lancar dan memahami isi bacaan secara umum. Dalam numerasi, siswa juga mulai memahami konsep perkalian 1Ae5 dengan bantuan alat peraga. Hal ini sejalan dengan pendapat Hanifah et al. , . yang menyatakan bahwa anak belajar efektif melalui pengalaman nyata, serta didukung oleh penelitian Tengah . yang menegaskan bahwa penggunaan media nyata meningkatkan pemahaman konsep abstrak. Pendekatan kontekstual dan berbasis praktik langsung mendorong peningkatan kemampuan membaca pemahaman dan berhitung dasar siswa. metode pembelajaran seperti ini dapat diterapkan secara berkelanjutan untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri siswa di tingkat Minggu Kelima Sumber: Dokumentasi Tim Pelaksana . Gambar 6. Pembelajaran Paragraf Sederhana Pada minggu kelima ini dilaksanakan tahap evaluasi untuk mengetahui seberapa efektif pelaksanaan Proker Calistung terhadap peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa serta untuk menilai sejauh mana program ini menumbuhkan rasa percaya diri siswa. Evaluasi merupakan proses terpadu yang digunakan untuk mengetahui dan mengukur kemampuan peserta didik dengan cara-cara tertentu berdasarkan aturan yang berlaku (No Title, 2. Evaluasi dilakukan melalui tes langsung untuk menilai kemampuan siswa dalam mengenal huruf, membaca kata dan kalimat, serta berhitung dasar. Selain itu, observasi perilaku belajar juga dilakukan untuk melihat perkembangan kepercayaan diri siswa selama proses pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan bahwa sebanyak 23 dari 121 siswa . %) masih mengalami hambatan dalam kemampuan membaca, menulis, dan berhitung dasar. Dengan demikian, tingkat kemampuan literasi dan numerasi siswa sebelum program berada pada 81%. Setelah pelaksanaan Proker Calistung selama lima minggu, jumlah siswa yang masih mengalami kesulitan menurun menjadi 7 siswa . %), yang berarti tingkat kemampuan literasi dan numerasi meningkat menjadi 94%. Secara statistik, terdapat peningkatan sebesar 13% dalam kemampuan baca, tulis, dan hitung siswa setelah mengikuti kegiatan program pengabdian ini. Selain itu, hasil angket sederhana yang dibagikan kepada guru pendamping menunjukkan bahwa sekitar 75% siswa kini lebih percaya diri dalam membaca dan berhitung di depan kelas, dibandingkan hanya 50% sebelum program. Dengan demikian, terdapat peningkatan rasa percaya diri sebesar 25% setelah pelaksanaan Proker Calistung. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh SaAodiyah et al. , . yang menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis aktivitas konkret dan menyenangkan mampu meningkatkan kemampuan dasar literasi dan numerasi secara signifikan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pembelajaran yang dirancang E-ISSN: 2963-9. P-ISSN: 2963-170X | 45 PRAXIS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. 2 Desember 2025. Hal 37-47 DOI: https://doi. org/10. 47776/5kt29b66 dengan metode permainan, penggunaan media visual, dan pendampingan aktif efektif dalam memperbaiki kesulitan belajar sekaligus menumbuhkan motivasi dan kepercayaan diri siswa. KESIMPULAN Kesimpulan Proker Calistung ini berlokasi di MI NW Gunung Timba. Desa Denggen Timur. Kecamatan Selong. Kabupaten Lombok Timur. Nusa Tenggara Barat. Proker Calistung ini memberikan dampak positif yang cukup besar pada peningkatan literasi dan numerasi serta dapat menumbuhkan rasa percaya diri siswa. Proker Calistung yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa AM ini berdampak baik dan memberikan pengaruh yang positif terhadap lingkungan sekolah maupun masyarakat. Hal ini terbukti dari peningkatan literasi bahwa siswa sudah bisa membaca dan memahami sedikit tidaknya kalimat serta paragraf yang ada pada teks bacaan, sedangkan pada numerasi siswa sudah dapat menyebut angka 1 sampai 100 serta melakukan pemecahan operasi hitung sederhana meliputi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Kemudian pada sisi psikologis bahwa siswa sudah dapat menumbuhkan rasa percaya dirinya secara perlahan. Keberhasilan Proker sehari Calistung ini menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi sangat penting pada siswa untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya dan juga secara tidak langsung akan menumbuhkan minat baca serta membantu siswa memecahkan permasalahan dalam kehidupan -hari terkait pada bagian numerasi. Saran kegiatan Lanjutan Untuk keberlanjutan program, disarankan agar kegiatan Calistung dilanjutkan melalui pendampingan rutin oleh guru dan mahasiswa agar perkembangan siswa tetap terpantau. Selain itu, perlu diadakan pelatihan bagi guru dan orang tua guna memperkuat dukungan belajar di Pengembangan media pembelajaran kreatif seperti kartu huruf dan angka atau aplikasi sederhana juga dapat meningkatkan minat belajar siswa. Kegiatan lanjutan dapat berupa kelas literasi-numerasi terpadu, program teman belajar . eer teachin. , serta lomba literasi dan numerasi untuk menumbuhkan semangat siswa. Terakhir, perlu dilakukan evaluasi dan penelitian lanjutan guna menilai dampak jangka panjang program terhadap peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri siswa. REFERENSI