JIKMW Ae 2. , 2022. Hal 41-49 Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandala Waluya ISSN : 2809-3151 DOI : https://doi. org/10. 54883/jikmw. https://ejournal. id/jikmw/index Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Timbulnya Keluhan Penyakit Scabies Pada Narapidana Lapas Kelas IIA Kendari Sitti Marya Ulva. Noviati. Resti Sanjaya Prodi Sarjana Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan Universitas Mandala Waluya ABSTRAK Narapidana/warga binaan pemasyarakatan sangat rentan dengan masalah kesehatan seperti penyakit kulit. Hampir di seluruh lapas, penyakit kulit jenis scabies ini menjadi penyakit yang penyebarannya sangat cepat dan membuat warga binaan tidak bisa melakukan aktivitasnya. Perilaku hidup yang tidak bersih, kepadatan hunian yang melampaui kapasitas, kelembaban dan suhu ruangan yang meningkat terutama pada malam hari dan pencahayaan alami yang tidak masuk kedalam ruangan bisa menjadi faktor resiko terjadinya penyakit skabies di lapas. Sehingga, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan timbulnya kejadian penyakit skabies di lapas kelas IIA Kendari. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan klasifikasi merupakan penelitian kuantitatif observasional analitik, dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 703 Warga binaan/narapidana dengan Teknik penarikan sampel menggunakan jenis Simple Random Sampling. Metode yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel yaitu dengan menggunakan rumus Slovin dan berjumlah 254 responden. Adapun metode analisis data menggunakan uji statistic Chi square dengan tingkat kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa: Terdapat hubungan kuat antara timbulnya keluhan penyakit dengan penyediaan air bersih pada narapidana di lapas kelas IIA Kendari. Tidak terdapat hubungan antara timbulnya keluhan penyakit scabies dengan kepadatan hunian pada narapidana di lapas kelas IIA Kendari. Tidak terdapat hubungan antara timbulnya keluhan penyakit scabies dengan kelembaban tempat tinggal narapidana di lapas kelas IIA Kendari. Kata Kunci :Kejadian Skabies. PHBS. Kepadatan Hunian. Kelembaban Factors related to The Incidence of Scabies Disease Complaints in Class IIA Kendari Prison Prisoners ABSTRACT Prisoners/inmates are very vulnerable to health problems such as skin diseases. In almost all prisons, this type of scabies skin disease is a disease that spreads very quickly and makes inmates unable to carry out their activities. Unsanitary living habits, overcrowding of occupants that exceed capacity, increased humidity and room temperature, especially at night and natural lighting that does not enter the room can be risk factors for scabies disease in prisons. Thus, the purpose of this study was to determine the factors associated with the incidence of scabies in Kendari class IIA prison. The type of research used in this study based on the classification is a quantitative observational analytic study, with a crosectional design. The population in this study amounted to 703 inmates/prisoners with the sampling technique using Simple Random Sampling. The method used to determine the number of samples is by using the Slovin formula and totaling 254 respondents. The data analysis method uses the Chi square statistical test with a 95% confidence level. Based on the results and discussion of the research that has been done, it can be concluded that: There is a strong relationship between the onset of disease complaints and clean water supply in inmates at class IIA Kendari prison. There is no relationship between the incidence of complaints of scabies and the occupancy density of inmates at class IIA Kendari prison. There is no relationship between the incidence of scabies complaints and the humidity in the inmates' residence in the Kendari class IIA prison. Keywords: :Scabies incidence, clean water supply, occupancy density, humidity Penulis Korespondensi : Sitti Marya Ulfa Afiliasi : Universitas Mandala Waluya E-mail :ulfam628@gmail. No. Hp : 082293 399988 Info Artikel : Submitted : 30 Agustus 2022 Revised : 09 Desember 2022 Accepted : 29 Desember 2022 Published : 31 Desember 2022 JIKMW Ae 2. , 2022. Hal 41-49 PENDAHULUAN Lembaga Pemasyarakatan merupakan sebuah satuan usaha pemasyarakatan untuk menampung, merawat memberi asuhan, dan membina narapidana. Adapun masalah kesehatan yang dialami para narapidana atau warga binaan di lembaga pemasyarakatan diperkirakan salah satu faktornya adalah kelebihan kapasitas yang meningkatkan resiko penyakit menular atau tidak menular yang bisa menjadi ancaman kesehatan. Karena, salah satu dampak kelebihan penghuni di lapas adalah memburuknya kondisi kesehatan tahanan/warga binaan. Diperkirakan hampir seluruh Lembaga pemasyarakatan di Indonesia mempunyai masalah yang sama, yaitu kelebihan kapasitas dibandingkan dengan kapasitas kamar. Masalah kelebihan kapasitas yang belum bisa ditangani yang berakibat pada proses berjalannya pembinaan terhadap narapidana atau warga binaan itu tidak dapat berjalan dengan maksimal. Penularan penyakit antar tahanan dapat dipengaruhi apabila kebersihan pribadi maupun lingkungan tidak diperhatikan dan dijaga dengan baik sehingga kebersihan lingkungan tempat tinggal dalam hal ini kamar dalam sangat berperan besar dalam mempengaruhi perilaku kebersihan dari seseorang atau tahanan. Kemudian. Kontak fisik yang dekat dan lebih sering, serta berbagi pakaian atau alas tidur antara tahanan lainnya dapat mempercepat terjadi penularan Berdasarkan observasi awal yang dilakukan selama 3 hari di Lapas Kelas IIA Kendari, ditemukan penyakit kulit yang sering dialami oleh narapidana di dalam tahanan yaitu penyakit kulit jenis scabies. Biasanya penularan akan meningkat jika kondisi ruangan yang gelap dan sesak dan penularannya meningkat pada malam hari. Hasil observasi awal di Lapas kelas IIA Kendari dan berdasarkan data Laporan Lapas yang didapatkan sampai bulan Maret tahun 2022, urutan tertinggi dari 10 penyakit yang paling banyak diderita oleh tahanan yaitu penyakit kulit. Berdasarkan data lapas kelas IIA Kendari, ditemukan data penyakit kulit dari bulan januari-Maret tahun 2022 mengalami kenaikan hingga 78 orang. Kemudian batas hunian Lapas kelas IIA Kendari, hingga bulan Maret 2022 diperoleh data sebanyak 12 blok dan 32 kamar dengan kapasitas menampung sebanyak 404 orang, namun saat ini dihuni oleh 703 orang, yang berarti menampung melebihi kapasitas hunian. Dengan demikian, setiap warga binaan yang berada di Lapas akan mengalami keterbatasan dari ketersediaan sanitasi lingkungan seperti luas ruang tahanan yang tidak sesuai dengan jumlah penghuni. Akibat keterbatasan tersebut warga binaan pemasyarakatan mengalami keterbatasan dalam merawat diri secara personal. Disamping itu juga, mayoritas perilaku dari warga binaan pemasyarakatan dalam menggunakan pakaian sehariAehari cukup memperhatikan kebersihan dirinya. Kondisi ini yang akan meningkatkan resiko terjadinya penularan penyakit berbahaya dan menular. METODE Jenis penelitian yang digunakan pada pendekatan penelitian adalah penelitian bersifat kuantitatif observasional analitik. Menurut Notoatmodjo observasional analitik adalah penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan biasa terjadi dan JIKMW Ae 2. , 2022. Hal 41-49 melakukan analisis dinamika korelasi antara faktor resiko maupun antar faktor efek. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional, yaitu penelitian yang digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor yang berpengaruh dengan efek melalui cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat . oint time approac. , (Notoatmodjo, 2012:. Populasi penelitian ini adalah seluruh warga binaan pemasyarakatan (WBP) di lembaga pemasyarakatan kelas IIA Kendari yang belum terdaftar di JKN sebanyak 703 responden, dengan jumlah sampel sebanyak 254 responden. Berlokasi di lembaga pemasyarakatan (Lapa. kelas IIA Kendari Penelitian ini menggunakan kuesioner untuk melihat gejala penyakit dan perilaku hidup bersih pada tahanan lapas dan thermohygrometer untuk mengukur kualitas lingkungan fisik yaitu kelembaban yang membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan dalam penyelesaiannya. Total Berdasarkan menunjukkan bahwa dari 254 responden frekuensi terbanyak adalah narapidana pada usia antara 21-30 tahun dengan persentase sebesar 45,67% dan frekuensi narapidana terendah pada usia 61-70 tahun dengan Kejadian Scabies Adapun Kejadian Skabies diuraikan pada tabel berikut : Tabel 2. Distribusi Kejadian Skabies Narapidana Kelas II A Kendari No. Kejadian Scabies 57,87 Tidak 42,13 Total Berdasarkan tabel 2 diatas dapat diketahui frekuensi terbanyak adalah sebagian besar responden memiliki keluhan penyakit yang baik . idak memiliki gejala penyakit scabie. , yakni sebanyak 180 responden dengan persentase sebesar 70,87%. Sedangkan responden yang memiliki keluhan penyakit yang buruk . emiliki gejala penyakit scabie. , yakni sebanyak 74 responden dengan persentase sebesar HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Umur responden Adapun karakteristik responden berdasarkan umur sebagaimana diuraikan pada tabel Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Karakteristik Usia Narapidana di Lapas Kelas IIA Kendari No. Umur Kepadatan Hunian Adapun kepadatan hunian sebagaimana diuraikanpada tabel berikut : Tabel 3. Distribusi kepadatan hunian Narapidana Kelas II A Kendari No. Kepadatan hunian Memenuhi Tidak memenuhi Total JIKMW Ae 2. , 2022. Hal 41-49 Berdasarkan menunjukkan bahwa dari hasil observasi lingkungan yang dilakukan di 10 kamar pada blok bokori, bahwa 8 kamar memiliki kepadatan hunian yang memenuhi syarat, dan 2 kamar memiliki kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat. blok bokori, bahwa 7 kamar memiliki penyediaan air bersih yang memenuhi syarat, dan 3 kamar memiliki penyediaan air bersih yang tidak memenuhi syarat. Kelembaban Adapun kelembaban sebagaimana diuraikan pada tabel berikut : Penyediaan Air Bersih Adapun penyediaan air bersih sebagaimana pada tabel berikut : Tabel 5. Distribusi kelembaban Narapidana Kelas II A Kendari No. Kelembaban Memenuhi Tidak memenuhi Total Berdasarkan menunjukkan bahwa dari hasil observasi lingkungan yang dilakukan di 10 kamar pada blok bokori, bahwa 4 kamar memiliki kelembaban yang memenuhi syarat, dan 6 kamar memiliki kelembaban yang tidak memenuhi syarat. Tabel 4. Distribusi penyediaan air bersih Narapidana Kelas II A Kendari No. Penyediaan air bersih Memenuhi Tidak memenuhi Total Berdasarkan menunjukkan bahwa dari hasil observasi lingkungan yang dilakukan di 10 kamar pada Hubungan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit scabies pada Narapidana di Lapas Kelas IIA Kendari Tabel 6. Distribusi responden berdasarkan hubungan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit scabies pada Narapidana di Lapas Kelas IIA Kendari Kejadian scabies Kepadatan Memenuhi Tidak Total Uji Baik X2 Hit = 0,49 Tidak baik I = 0,218 Total Tabel 6 diatas terlihat bahwa dari 8 kamar dengan keluhan penyakit kulit yang baik, sebanyak 6 . %) kamar mempunyai kepadatan hunian yang memenuhi syarat, dan 2 . %) kamar memiliki kepadatan yang tidak memenuhi syarat. Sedangkan 2 kamar dengan keluhan penyakit tidak baik, sebanyak 1 . %) kamar mempunyai kepadatan hunian yang memenuhi, dan 1 . %) mempunyai kepadatan hunian yang tidak memenuhi. Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh nilai p = 0,49> = 0. 05, maka Ha ditolak Ho diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kejadian penyakit scabies dengan kepadatan hunian pada narapidana di lapas kelas IIA Kendari. JIKMW Ae 2. , 2022. Hal 41-49 Hubungan penyediaan air bersih dengan kejadian penyakit scabies pada Narapidana di Lapas Kelas IIA Kendari Tabel 7. Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan Penyediaan air bersih dengan kejadian penyakit scabies pada Narapidana di Lapas Kelas IIA Kendari Kejadian scabies Penyediaan air Memenuhi Tidak memenuhi Total Memenuhi Tidak Total Uji X2 Hit = 0,098 I = 0,524 Tabel diatas terlihat bahwa dari 7 kamar Berdasarkan hasil uji Chi Square dengan keluhan penyakit kulit yang baik, diperoleh nilai p = 0. 098> = 0. 05, maka Ha sebanyak 6 . %) kamar mempunyai ditolak Ho diterima, dengan demikian dapat penyediaan air bersih yang memenuhi, dan 1 disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan . kamar memiliki penyediaan air bersih antara timbulnya keluhan penyakit scabies yang tidak memenuhi. Sedangkan 3 kamar dengan penyediaan air bersih pada dengan keluhan penyakit tidak baik, sebanyak narapidana di lapas kelas IIA Kendari. %) kamar mempunyai penyediaan air yang memenuhi, dan 2 . %) mempunyai penyediaan air bersih yang tidak memenuhi. Hubungan kelembaban dengan kejadian penyakit scabies pada Narapidana di Lapas Kelas IIA Kendari Tabel 8. Distribusi Responden Berdasarkan Hubungan Kelembaban dengan kejadian penyakit scabies pada Narapidana di Lapas Kelas IIA Kendari Kejadian scabies Kelembaban Memenuhi Tidak memenuhi Total Memenuhi Tidak Tabel 8 diatas terlihat bahwa dari 4 kamar dengan keluhan penyakit kulit yang baik, sebanyak 4 . %) kamar mempunyai kelembaban yang memenuhi, dan tidak ada kamar memiliki kelembaban yang tidak Total Uji X2 Hit = 0,091 I = 0,535 Sedangkan dari 6 kamar dengan keluhan penyakit tidak baik, sebanyak 3 . %) kamar mempunyai kelembaban yang memenuhi, dan 6 . %) mempunyai kelembaban yang tidak memenuhi. JIKMW Ae 2. , 2022. Hal 41-49 Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh nilai p = 0. 091 > = 0. 05, maka Ha ditolak Ho diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara timbulnya keluhan penyakit scabies narapidana di lapas kelas IIA Kendari. yang substansial bagi morbiditas dan mortalitas global. Prevalensi skabies di seluruh dunia dilaporkan sekitar 300 juta kasus per tahun (Nugraheni, 2. Skabies adalah penyakit kulit akibat infestasi dan sensitisasi oleh tungau Sarcoptes scabiei varietas Skabies ini tidak membahayakan manusia namun adanya rasa gatal pada malam hari ini merupakan gejala utama yang mengganggu aktivitas dan produktivitas. Skabies cenderung tinggi pada anak- anak usia sekolah, remaja bahkan orang dewasa. Dari hasil analisis univariat yang dilakukan, didapatkan bahwa dari hasil observasi lingkungan dari 10 kamar pada blok bokori, terdapat 8 kamar memiliki kepadatan hunian yang memenuhi syarat, dan 2 kamar memiliki kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat. Dan, pada analisis bivariat bahwa dari 8 kamar dengan keluhan penyakit kulit yang baik, sebanyak 6 . %) kamar memenuhi syarat, dan 2 . %) kamar memiliki kepadatan yang tidak memenuhi syarat. Sedangkan 2 kamar dengan keluhan penyakit tidak baik, sebanyak 1 . %) kamar memenuhi, dan 1 . %) mempunyai kepadatan hunian yang tidak memenuhi. Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh nilai p = 0,49> = 0. 05, maka Ha ditolak H0 diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara timbulnya keluhan penyakit scabies dengan kepadatan hunian pada rda narapidana di lapas kelas IIA Kendari. Selanjutnya. Penelitian ini sejalan dengan (Siti & Mushidah, 2. , bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepadatan hunian dengan kejadian skabies, nilai p=0,008 . value < 0,. Kepadatan hunian menjadi PEMBAHASAN Hasil penelitian, dari 254 responden yang memenuhi syarat tidak memiliki keluhan gejala scabies terdapat 180 responden 70,87%. Sedangkan responden yang memiliki keluhan scabies yang buruk yakni sebanyak 74 responden dengan persentase sebesar Dan, yang memiliki perilaku hidup bersih yakni sebanyak 178 responden . ,08%), dan responden yang tidak memiliki perilaku hidup bersih, yakni sebanyak 76 . ,92%). Dari angka-angka ini menunjukan bahwa masih banyak yang memiliki gejala penyakit scabies dan tidak memiliki berperilaku hidup yang bersih. Perilaku hidup yang bersih atau memperhatikan kebersihan diri dan tempat hunian adalah salah satu upaya untuk membantu mencegah tungau scabies yang dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan. Dan, merupakan upaya untuk mengendalikan faktor risiko terjangkitnya tungau scabies pada narapidana pemasyarakatan kelas IIA Kendari. Hubungan kepadatan hunian dengan kejadian scabies pada narapidana lapas kelas IIA Kendari Scabies menurut WHO merupakan suatu penyakit signifikan bagi kesehatan masyarakat karena merupakan kontributor JIKMW Ae 2. , 2022. Hal 41-49 salah satu penyebab tingginya kejadian skabies, penularan skabies ataupun penyakit infeksi lainnya semakin cepat, karena kepadatan hunian dapat mempengaruhi kualitas udara di dalam ruangan, dimana semakin banyak jumlah penghuni, maka akan semakin cepat udara dalam ruangan mengalami pencemaran, oleh karena CO2 dalam ruangan akan cepat meningkat dan akan menurunkan kadar O2 di ruangan, kepadatan hunian sangat berhubungan terhadap jumlah bakteri penyebab penyakit menular seperti scabies. kamar dengan keluhan penyakit kulit yang baik, sebanyak 6 . %) kamar mempunyai penyediaan air bersih yang memenuhi, dan 1 . kamar memiliki penyediaan air bersih yang tidak memenuhi. Sedangkan 3 kamar dengan keluhan penyakit tidak baik, sebanyak 1 . %) kamar mempunyai penyediaan air yang memenuhi, dan 2 . %) mempunyai penyediaan air bersih yang tidak memenuhi. Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh nilai p = 0. 098> = 0. 05, maka Ha ditolak H0 diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara timbulnya keluhan penyakit scabies dengan penyediaan air bersih pada narapidana di lapas kelas IIA Kendari. Selanjutnya, penelitian ini sejalan dengan dengan penelitian(Nazila. Ramadhan, & Nurmala Dewi, 2. , jika Hasil uji statistik yang dilakukan dan menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara penyediaan air bersih dengan keluhan penyakit skabies pada anakanak di Panti asuhan Amaliyah Kota Kendari karena air yang digunakan responden sudah sesuai dengan persyaratan fisik air yaitu air tidak berbau, tidak berwarna dan tidak Hasil penelitian lainnya menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara penyediaan air bersih dengan kejadian Hal ini sejalan dengan peneliti Amelia . , mandi minimal 2x sehari secara teratur dan memakai sabun merupakan salah satu cara untuk memelihara kebersihan kulit. Karena Kulit merupakan pintu masuk tungau scabies untuk melakukan investasi dan membentuk terowongan. Apabila kulit individu itu bersih dan terpelihara, maka hal ini dapat menekan dari proses infestasi tungau scabies (Dinas Sosial Kota Kendari. Hubungan penyediaan air bersih dengan kejadian scabies pada narapidana lapas kelas IIA Kendari Air bersih yang memenuhi syarat adalah penyediaan sarana sumber daya berbasis air yang bermutu baik yang memenuhi Kualitas air harus memenuhi persyaratan-persyaratan, adalah persyaratan kualitas fisik seperti tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak keruh. Air bersih yang digunakan juga harus dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan secara kontinuitas dapat diambil secara terus menerus dari sumbernya (Dinas Kesehatan, 2. Kemudian, air harus mencukupi agar WBP dapat membersihkan diri dengan baik untuk melakukan MCK. Dari menunjukkan bahwa dari hasil observasi lingkungan yang dilakukan pada 10 kamar pada blok bokori, bahwa 7 kamar memiliki penyediaan air bersih yang memenuhi syarat, dan 3 kamar memiliki penyediaan air bersih yang tidak memenuhi syarat. Kemudian pada analisis bivariat menunjukkan bahwa dari 7 JIKMW Ae 2. , 2022. Hal 41-49 Berdasarkan penelitian (Sri & Sri Kurniat. , bahwa ada hubungan yang signifikan antara ketersediaan air bersih dengan kejadian skabies. Scabies merupakan penyakit yang berhubungan dengan air dibedakan menjadi empat menurut cara penularannya yaitu water based, water borne, water related insect vector, dan skabies termasuk kedalam water washed, yaitu penularan penyakit berhubungan dengan air yang digunakan untuk kebersihan. Dengan terjaminnya kebersihan dan tersedianya air yang cukup, maka penyakit-penyakit skabies dapat dikurangi penularannya pada manusia. kamar pada blok bokori, terdapat 4 kamar memiliki kelembaban yang memenuhi syarat, dan 6 kamar memiliki kelembaban yang tidak memenuhi syarat. Kemudian pada hasil bivariat, bahwa terdapat 4 kamar dengan keluhan penyakit kulit yang baik, sebanyak 4 . %) kamar mempunyai kelembaban yang memenuhi, dan tidak ada kamar memiliki Sedangkan dari 6 kamar dengan keluhan penyakit tidak baik, sebanyak 3 . %) kamar mempunyai kelembaban yang memenuhi, dan 6 . %) mempunyai kelembaban yang tidak memenuhi. Berdasarkan hasil uji Chi Square diperoleh nilai p = 0. 091> = 0. maka Ha ditolak Ho diterima, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara timbulnya keluhan penyakit scabies dengan kelembaban tempat tinggal narapidana di lapas kelas IIA Kendari. Selanjutnya, penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Priyani, 2. bahwa hasil pengukuran di Lapas, semua hasil pengukuran menunjukan bahwa kelembaban ruangan Lapas memenuhi syarat kesehatan, selain itu berdasarkan hasil observasi, jenis lantai dan jenis dinding di ruangan juga sudah baik, dinding kamar Lapas merupakan dinding permanen, yaitu dinding yang tidak retak-retak dan sudah di plester, lantai kamar Lapas juga sudah dilapisi Kemudian. menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 kelembaban ruang adalah 40-60%. Artinya semua hasil pengukuran dalam penelitian ini sudah memenuhi syarat. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Pasaribu bahwa terdapat 64% kejadian skabies di Rutan cabang Sibuhuan, namun Hubungan kelembaban dengan kejadian scabies pada narapidana lapas kelas IIA Kendari Kelembaban merupakan ukuran dari jumlah uap air diudara. Jumlah uap air mempengaruhi proses fisika, kimia dan biologi di lingkungan. Jika kandungan uap air lebih atau kurang dari kebutuhan, maka akan mengakibatkan gangguan dan kerusakan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1077 Tahun 2011 Tentang pedoman Penyehatan Udara dalam Ruang rumah bahwan kelembaban yang terlalu tinggi ataupun rendah dapat menyebabkan suburnya pertumbuhan mikroorganisme. Ada menyebabkan kelembaban buruk yaitu konstruksi bangunan yang tidak baik seperti atap bocor, lantai dan dinding bangunan yang tidak kedap air serta kurangnya pencahayaan alami maupun buatan. Kelembaban yang memenuhi syarat yaitu 40-60%. Kemudian pada analisis univariat yang dilakukan, menunjukkan bahwa dari hasil observasi lingkungan yang dilakukan di 10 JIKMW Ae 2. , 2022. Hal 41-49 DAFTAR PUSTAKA Dinas Kesehatan. data penyediaan air bersih. Kendari. Nazila. Ramadhan. , & Nurmaladewi. Hubungan sanitasi lingkungan dan higiene perorangan dengan keluhan penyakit Scabies pada Anak-anak di Panti Asuhan Amaliyah Kota Kendari. Jurnal Kesehatan Masyarakat Celebes, 13-20. Nugraheni. Pengaruh sikap tentang kebersihan diri terhadap timbulnya Priyani. Jul. Kondisi Fisik Lingkungan dan Keberadaan Sarcoptes Scabiei pada kuku Warga Binaan Pemasyarakatan Penderita Skabies di Blok A Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya. Volume 10. Nomor 3, pp. Siti. , & Mushidah. Analisis faktor kejadian penyakit skabies di Pondok Pesantren An-Nur Ciseeng. Bogor. Sri. , & Sri Kurniati. Ketersediaan Air Bersih untuk Kesehatan: Kasus dalam Pencegahan Diare Anak. Optimalisasi Peran Sains dan Teknologi untuk mewujudkan Smart City. memenuhi syarat kesehatan. Luas ventilasi udara, penghuni yang padat, serta pengaruh dari cuaca baik itu panas maupun dingin akan mempengaruhi suatu ruangan memenuhi syarat atau tidak. Jenis lantai dan dinding di Lapas mempengaruhi serta menjaga keseimbangan kelembaban ruangan kamar Lapas. Kelembaban sangat berperan penting dalam pertumbuhan kuman penyakit. Kelembaban yang tinggi dapat menjadi tempat yang disukai oleh kuman untuk Keadaan yang lembab dapat mendukung terjadinya penularan penyakit, termasuk scabies. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara penyediaan air bersih, kepadatan hunian, dan kelembaban dengan kejadian scabies pada Narapidana di lapas kelas IIA Kendari. UCAPAN TERIMA KASIH