Volume 5. Nomor 2. Desember 2021 MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK KELOMPOK B1 MELALUI KEGIATAN MENGANYAM DI PAUD AISYIYAH DALUNG Oleh : Nadya Rusydah Mahiroh1. Elizabeth Prima2, dan Christiani Endah Poerwati3 Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ekonomika Bisnis dan Humaniora. Universitas Dhyana Pura. Badung. Indonesia e-mail: 1rusydahnadya@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menelaah peningkatan kemampuan sosial emosional anak kelompok B1 melalui kegiatan menganyam di PAUD Aisyiyah Dalung. Subjek penelitian adalah anak kelompok B1 di PAUD Aisyiyah Dalung yang berjumlah 15 anak terdiri dari siswa perempuan 10 anak dan siswa laki-laki 5 anak. Jenis penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil observasi awal sebelum dilakukan tindakan menunjukkan belum ada anak yang memenuhi kriteria ketuntasan . %) setelah diberikan kegiatan menganyam, pada Siklus I mengalami peningkatan sebesar 40% dan pada Siklus II mencapai indikator ketuntasan sebesar 86,67%. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa kegiatan menganyam mampu meningkatkan kemampuan sosial emosional pada 15 anak kelompok B1 di PAUD Aisyiyah Dalung. Kata Kunci : Sosial Emosional. Anak Usia Dini. Menganyam Abstract This study aims to explore the increase in the social and emotional abilities of children in group B1 through weaving activities at PAUD Aisyiyah Dalung. The research subjects were group B1 children in PAUD Aisyiyah Dalung, totaling 15 children consisting of 10 female students and 5 male students. The type of research used is Classroom Action Research (CAR), which is carried in two cycles. Each cycle consists of four stages, i. planning, implementation, observation, and reflection. Data collection techniques used were the methods of observation and documentation. This research used the descriptive analysis method. The results of observations before taking action showed that there were no children who met the criteria for completeness . %) after being given weaving activities. In Cycle 1, it increased by 40%. In Cycle 2, it achieved a completeness indicator of Based on these results, can be concluded that weaving activities could improve the social-emotional abilities of 15 children in group B1 at PAUD Aisyiyah Dalung. Keywords : Social-Emotional. Early Childhood. Weaving PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan untuk anak usia lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan dengan pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih lanjut (Permendikbud RI nomor 84 tahun 2. Pendidikan anak usia dini diselenggarakan di Indonesia secara formal, yaitu berbentuk Taman Kanak-kanak dan bentuk lain yang sederajat, yang menggunakan program untuk anak usia 4 Ae 6 tahun dengan prioritas usia 5 dan 6 tahun (Permendikbud RI nomor 146 Pendidikan dikelompokkan dalam kelompok A usia 4-5 tahun dan kelompok B usia 5-6 tahun. Pada masa usia 4-6 tahun ini anak masih dalam masa atau usia keemasan . olden ag. karena usia emas merupakan masa dimana otak anak mengalami perkembangan paling cepat di sepanjang kehidupannya, maka perlu pemberian stimulus yang baik. Menurut Permendikbud nomor 137 tahun 2014 menyatakan bahwa Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Usia Dini Volume 5. Nomor 2. Desember 2021 mencakup aspek nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional serta Semua aspek perkembangan anak perlu distimulasi, salah satunya adalah aspek perkembangan sosial emosional. Perkembangan sosial emosional anak merupakan kepekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat interaksi anak dengan orang lain dimulai dari orang tua, saudara, teman bermain hingga masyarakat luas. Dapat dipahami bahwa perkembangan emosi perkembangan sosial anak usia dini. Tidak perkembangan emosi pada anak usia dini sangat dipengaruhi oleh perkembangan sosial anak, karena emosi yang ditunjukkan oleh anak usia dini merupakan respon dan hubungan sosial yang anak lalui saat bersama dengan orang lain. Jadi pada dasarnya ada semacam siklus antara perkembangan sosial dan perkembangan emosi pada anak usia dini (Wiyani, 2. Perkembangan sosial emosional sangat penting karena permasalahan yang terjadi di sekitar anak, misalnya lingkungan yang tidak baik ataupun perkembangan teknologi yang semakin canggih seperti televisi, gawai . , internet dll. Perkembangan teknologi saat ini membawa dampak pada anak karena tontonan yang tidak sesuai umur dapat mempengaruhi perkembangan emosi anak. Anak dapat menjadi tidak percaya diri dan kurang berinteraksi dengan teman. Kesibukan orang tua juga mengakibatkan tekanan pada sosial emosional anak, sehingga berdampak pada anak seperti mudah kesal dan marah dalam menanggapi sesuatu mengenai dirinya (Soetjiningsih, 2. Permasalahan sosial emosional yang ditemukan di PAUD Aisyiyah Dalung pada kelompok B . sia 5-6 tahu. di masa pandemi Covid-19 ini kurangnya interaksi anak dengan guru maupun teman. Anak lebih sering berinteraksi dengan orang tua, kakak maupun saudara dirumah. Sehingga membuat pendidik mengalami kesulitan serta hambatan dalam menilai kemampuan sosial emosional anak. Pendidik tidak dapat melihat secara langsung bagaimana anak berinteraksi, contoh Anak tidak malu saat bertemu dengan guru atau dapat berbaur dengan teman. Anak dapat bermain secara kooperatif atau bekerjasama dengan Pada masa pandemi ini anak masih mendengarkan guru saat menerangkan materi. Adapun upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan anak pembelajaran melalui permainan atau kegiatan yang dapat melatih sosial emosional anak (Susanto, 2. Upaya yang dilakukan yaitu memberikan suatu kegiatan, salah satunya dengan kegiatan Menganyam keterampilan tangan yang menyusupkan lungsi dan pakan. Lungsi merupakan bagian yang disusun membujur sedangkan pakan merupakan bagian yang disusun melintang. Ada beberapa bahan yang bisa untuk kegiatan menganyam yaitu rotan, daun pisang, kertas dan janur. Menganyam dengan menggunakan bahan kertas sangat cocok untuk diterapkan pada anak usia dini karena bahan mudah dicari, tidak berbahaya dan terdapat berbagai macam warna, kertas yang digunakan pun harus tebal supaya tidak mudah robek (Nasir, 2. Kegiatan menganyam adalah suatu kegiatan keterampilan yang bertujuan untuk menghasilkan aneka benda/ barang pakai dan benda seni yang dilakukan dengan cara saling menyusupkan atau menumpang tindihkan bagian-bagian anyaman secara bergantian hingga menyatu (Nasir, 2. Selain itu kegiatan mengayam dapat melatih ketekunan, kesabaran . , dan kecekatan anak sejalan dengan perkembangan rasa seninya. Menganyam untuk anak usia dini dilakukan tidak dengan teknik yang kompleks, masih dalam tahap teknik dasar dengan menganyam Bahan-bahan menganyam untuk anak usia dini tidak sama dengan bahan menganyam orang dewasa. Untuk anak usia dini bahan dipilih berdasarkan karakteristik tidak mudah robek, tidak berserat dan tidak tajam, maka dari bahan tersebut kebanyakan menggunakan kertas atau bahan lain yang tidak membahayakan anak. Penggunaan jenis kertas yang disarankan yaitu kertas buffalo, kertas origami atau kertas lain yang berwarna dan tebal (Sumanto dalam Ardina, 2. Lungsi dan pakan sebaiknya untuk ukuran anak usia dini tidak terlalu panjang dan tidak terlalu kecil, karena anak belum mampu memegang benda terlalu kecil. Untuk anak usia dini tidak dituntut harus mengikuti pola, anak mampu memasukkan 1 pakan saja merupakan kemampuan yang baik. Proses tersebut menuntuk kesabaran dan kemampuan Volume 5. Nomor 2. Desember 2021 Berdasarkan penelitian sebelumnya tentang kegiatan menganyam yang telah diteliti oleh Safrita, . dengan judul. AuPeningkatan Perkembangan Motorik Halus Pada Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Menganyam Pada Kelompok B TK Candra Puspita Kecandran SalatigaAy dapat disimpulkan bahwa kemampuan motorik halus anak berkembang baik, hal ini terlihat dari perolehan hasil pada Siklus I yaitu 68,56% BSH (Berkembang Sesuai Harapa. dan hasil pada Siklus II sebesar 88,25% dapat dikatakan berkembang sangat baik karena rata-rata hasil penilaian sudah mencapai kriteria keberhasilan. Dengan demikian terjadi peningkatan motorik halus melalui kegiatan menganyam pada anak yaitu sebesar 85%. Penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Hidayah, . dengan judul. AuPeningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menganyam Pada Anak Kelompok A2 di TK PKK 30 Mulyorini Surobayan Argomulyo Sedayu BantulAy. Hasil analisis data menunjukkan bahwa motorik halus anak mengalami perkembangan sangat baik dengan persentase Siklus I sebesar 25,92% dan meningkat pada Siklus II menjadi 88,875%. Dengan menganyam dapat meningkatkan motorik halus anak kelompok A2 di TK PKK 30 Mulyorini Surbayan Argomulyo Sedayu Bantul. Berdasarkan penelitian Hidayah . dan Safrita kemampuan motorik halus yaitu kemampuan anak untuk mempelajari ketepatan koordinasi dan mata. Selain itu anak juga mempelajari cara menggerakkan pergelangan tangan agar lentur. Seperti menggunting kertas dan menganyam dengan kertas. Dari pembahasan tersebut, terdapat hubungan dengan kemampuan sosial emosional, seperti anak menggunting kertas dan mengerjakan kegiatan menganyam dapat melatih kesabaran anak, bertanggung jawab untuk menyelesaikan kegiatan, anak dapat berinteraksi dengan guru, di sekolah saat mengerjakan kegiatan menganyam. Penelitian selanjutnya tentang sosial emosional yang telah diteliti oleh Istiqomah dkk, . AuPeningkatan Perkembangan Sosial Emosional Melalui Kegiatan Outbound pada Anak Kelompok B di TK Asy-Syafayh Jember Tahun Pelajaran 2015/ 2016Ay memberikan simpulan bahwa melalui kegiatan outbound . ermainan halang rintang, perkembangan sosial dan emosional anak kelompok B TK Asy-Syafa'ah Jember Tahun Pelajaran 2015/2016 mengalami peningkatan dengan kualifikasi sangat baik. Nilai rata-rata kelas pada pra siklus 51%. Siklus I 67% dan pada Siklus II meningkat menjadi 81%. Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut dapat diketahui bahwa, . kegiatan menganyam mampu meningkatkan kemampuan motorik halus, . kegiatan atau metode menyenangkan dapat meningkatkan kemampuan sosial emosional anak, . belum ada yang mengkaji kegiatan menganyam terhadap sosial emosional anak, sehingga penulis tertarik untuk mengkaji kemampuan sosial emosional anak Kelompok B1 melalui kegiatan menganyam di PAUD Aisyiyah Dalung. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tempat pelaksanaan penelitian ini di Kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung, desa Dalung. Kuta utara. Penelitian ini dilakukan sebanyak dua Siklus. Adapun alur penelitian dapat disajikan seperti Gambar 1. Gambar 1. PTK dengan 2 Siklus Sumber: Arikunto, 2015 Volume 5. Nomor 2. Desember 2021 Waktu dan tempat penelitian dilaksanakan pada semester II Tahun Pelajaran 2020/2021 di PAUD Aisyiyah Dalung. Kuta utara. Penentuan waktunya dilaksanakan pada bulan AprilAeMei 2021. Subjek penelitian ini adalah anak kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung. Jumlah peserta didik yakni 15 anak terdiri dari 10 anak perempuan dan 5 anak laki-laki. Objek penelitian ini yaitu kemampuan sosial emosional anak usia dini. Pengambilan data dilakukan melalui metode observasi dengan panduan rubrik penilaian untuk mengumpulkan data mengenai Data peningkatan kemampuan sosial emosional yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis statistik deskriptif yaitu menentukan angka rata-rata (Mea. , median (M. dan modus (M. kemudian dilanjutkan dengan gambar dalam bentuk grafik dan membandingkan pada tiap siklus. Selanjutnya menggunakan analisis deskriptif dengan menentukan tingkat kemampuan sosial emosional dengan cara membandingkan ratarata persentase ke dalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) Nasional. Tabel 1. Pedoman Konversi Penilaian Acuan Patokan (PAP) Nasional Persentase Penguasaan Kategori Ketuntasan Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Tuntas Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Sumber : Agung, 2014 HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap observasi awal dilakukan secara daring yang mengharuskan anak belajar dari Observasi awal peneliti hanya mengamati, terdapat siswa belum mampu mengekspresikan emosi diri saat kegiatan atau pembelajaran daring karena dalam masa pandemi Covid-19, dan masih ada anak yang menganggap karyanya lebih baik dari temannya, seperti tidak mampu memberi respon baik untuk karya teman. Berdasarkan hasil observasi awal yang diperoleh dapat diketahui bahwa proses pembelajaran secara keseluruhan sudah berjalan cukup baik. Namun, kemampuan sosial emosional anak. Data observasi awal dapat dilihat pada Tabel 2 Tabel 2. Data Hasil Observasi Awal Kemampuan Sosial Emosional Subjek Indikator i Jumlah Ratarata 1,25 1,75 1,25 2,25 1,50 1,75 1,25 1,75 1,50 1,50 1,75 1,75 2,00 1,75 2,50 Persentase Penguasaan 25,00 35,00 25,00 45,00 30,00 35,00 25,00 35,00 30,00 30,00 35,00 35,00 40,00 35,00 50,00 Kategori Ketuntasan Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Sangat Rendah Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Volume 5. Nomor 2. Desember 2021 Berdasarkan Tabel 2 diperoleh gambaran tentang kemampuan sosial emosional tergolong sangat rendah. Hal ini dapat ditunjukkan dari data hasil observasi awal yang diperoleh dari 15 anak sebagai berikut. Anak mendapat kategori sangat rendah 15 anak . %), sedangkan kategori rendah . %), kategori sedang . %), kategori tinggi . %) dan kategori sangat tinggi . %). Berdasarkan hasil tersebut dapat disusun tabel ketuntasan kemampuan sosial emosional anak seperti Tabel 3 berikut. Tabel 3. Data Hasil Ketuntasan Tahap Observasi Awal Kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung Kategori Jumlah Persentase Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Jumlah Kategori yang termasuk dalam kriteria tuntas belum ada . %), sedangkan yang termasuk kriteria belum tuntas adalah anak yang berada pada kategori sangat rendah dengan jumlah keseluruhan adalah 15 anak . %). Berdasarkan observasi awal menyatakan bahwa perlu dilakukan penanganan lebih lanjut yaitu Kriteria Jumlah Persentase Ketuntasan BelumTuntas Tuntas Jumlah dengan kegiatan menganyam dan hal ini bertujuan agar sosial emosional anak lebih Permasalahan ini dicoba untuk diatasi melalui Penelitian Tindakan Kelas pada Siklus I. berikut tabel 4 dapat diamati hasil dari Siklus I. Tabel 4. Data Hasil Siklus I Kemampuan Sosial Emosional Anak Kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung Subjek Hari keI i Jumlah Ratarata 12,00 13,33 10,33 13,67 10,33 11,67 10,00 13,67 11,33 9,67 13,33 10,67 10,67 13,33 16,00 Berdasarkan data pada tabel hasil Siklus I di atas, dapat diketahui bahwa kemampuan sosial emosional anak pada Kelompok B1 PAUD Persentase Penguasaan 60,00 66,67 51,67 68,33 51,67 58,33 50,00 68,33 56,67 48,33 66,67 53,33 53,33 66,67 80,00 Kategori Ketuntasan Rendah Sedang Sangat Rendah Sedang Sangat Rendah Rendah Sangat Rendah Sedang Rendah Sangat Rendah Sedang Sangat Rendah Sangat Rendah Sedang Sedang Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas Tuntas Tuntas Aisyiyah Dalung secara keseluruhan mengalami peningkatan dibandingkan pada tahap observasi Hal ini dapat ditunjukkan dari persentase Volume 5. Nomor 2. Desember 2021 penguasaan yang diperoleh dari 15 anak yaitu: anak mendapat kategori sangat rendah sebanyak 6 anak . %), kategori rendah sebanyak 3 anak . %), kategori sedang sebanyak 6 anak . %), sedangkan kategori tinggi . %) dan kategori sangat tinggi . %). Adapun tabel 5 mengenai ketuntasan kemampuan sosial emosional anak Siklus I sebagai berikut Tabel 5. Data Hasil Ketuntasan Siklus I Kemampuan Sosial Emosional Anak Kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung Kategori Jumlah Persentase Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Jumlah 40,00% 20,00% 40,00% Kategori yang termasuk dalam kriteria tuntas sebesar . %) sebanyak 6 anak, sedangkan termasuk dalam kriteria belum tuntas sebesar . %) sebanyak 9 anak. Pada Siklus I menunjukkan 6 anak . %) belum mencapai ketuntasan minimal 80% sehingga penelitian dilanjutkan ke Siklus II. Kriteria Jumlah Persentase BelumTuntas 60,00% Tuntas 40,00% Jumlah Selanjutnya hasil analisis statistik deskriptif diperoleh rata-rata persentase kemampuan sosial emosional anak kelompok B1 di PAUD Aisyiyah Dalung yakni Mean . Median . , dan Modus . sehingga dapat disajikan ke dalam grafik poligon seperti gambar 2 berikut. Persentase 29 Ae 32 33 Ae 36 37 Ae 40 41 Ae 44 45 Ae 48 Gambar 2. Penyebaran Distribusi Jumlah Skor Kemampuan Sosial Emosional pada Siklus I Kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung Gambar 2 terdapat Mean (M = 35. Median (Me = 34. < Modus (Mo = 36. Hal ini artinya Mean terletak di sebelah kiri kurva distribusi frekuensi, kemudian Median di tengah dan Modus di kanan. Kurva yang terbentuk tidak simetris dan miring ke sebelah kiri sehingga disebut juga kemiringan negatif. Kemiringan negatif menunjukkan bahwa sebagian besar jumlah skor kemampuan sosial emosional pada Siklus I Kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung berada pada bagian atas . umlah skor tingg. dari distribusi jumlah skor yang Siklus II Penelitian tindakan Siklus I ini dilanjutkan ke Siklus II karena kriteria keberhasilan belum mencapai kriteria minimal 80% dari jumlah peserta didik, oleh karena itu dilakukan tahap penelitian Siklus II agar bisa mencapai kriteria minimal yang telah ditentukan. Berikut Tabel 6 menunjukkan secara rinci nilai rata-rata kemampuan sosial emosional dengan kegiatan Volume 5. Nomor 2. Desember 2021 Tabel 6. Data Hasil Siklus II Kemampuan Sosial Emosional Anak Kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung Subjek Hari keII i Jumlah Ratarata 17,00 17,67 13,00 17,67 14,33 16,67 14,00 18,00 16,00 13,00 17,33 17,00 16,67 18,33 19,33 Berdasarkan Tabel 6 hasil Siklus II di atas, dapat diketahui bahwa kemampuan sosial emosional anak pada kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung mengalami peningkatan dibanding pada tahap observasi awal dan Siklus Hal ini ditunjukkan dari persentase penguasaan yang diperoleh dari 15 anak yaitu: tidak ada anak yang mendapat kategori sangat Persentase Penguasaan 85,00 88,33 65,00 88,33 71,67 83,33 70,00 90,00 80,00 65,00 86,67 85,00 83,33 91,67 96,67 Kategori Ketuntasan Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Sedang Tinggi Sedang Tinggi Sedang Rendah Tinggi Tinggi Tinggi Sangat Tinggi Sangat Tinggi Tuntas Tuntas Belum Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Belum Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas rendah . %), kategori rendah sebanyak 2 anak . ,33%), kategori sedang sebanyak 3 anak . %), kategori tinggi sebanyak 8 anak . ,34%), dan kategori sangat tinggi sebanyak 2 anak . ,33%). Adapun tabel 7 mengenai ketuntasan kemampuan sosial emosional anak Siklus II sebagai berikut. Tabel 7. Data Hasil Ketuntasan Siklus II Kemampuan Sosial Emosional Anak Kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung Kategori Jumlah Persentase Kriteria Jumlah Persentase Ketuntasan Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Belum Tuntas Tuntas Kategori yang termasuk dalam kriteria tuntas sebesar . ,67%) sebanyak 13 anak, sedangkan yang termasuk dalam kriteria belum tuntas sebesar . ,33%) sebanyak 2 anak. Pada Siklus II ini terjadi peningkatan sebesar . ,67%) telah mencapai ketuntasan minimal. Hasil analisis statistik deskriptif diperoleh ratarata persentase kemampuan sosial emosional anak kelompok B1 di PAUD Aisyiyah Dalung yakni Mean . Median . , dan Modus . sehingga dapat disajikan ke dalam grafik poligon seperti gambar 3 berikut. Volume 5. Nomor 2. Desember 2021 Persentase 39 Ae 42 43 Ae 46 47 Ae 50 51 Ae 54 55 Ae 58 Gambar 3. Penyebaran Distribusi Jumlah Skor Kemampuan Sosial Emosional pada Siklus II Kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung Gambar 3 terdapat Mean (M = 49. Median (Me = 50. < Modus (Mo = 52. Hal ini artinya Mean terletak di sebelah kiri kurva distribusi frekuensi, kemudian Median di tengah dan Modus di kanan. Kurva yang terbentuk tidak simetris dan miring ke sebelah kiri sehingga disebut juga kemiringan negatif. Kemiringan negatif menunjukkan bahwa sebagian besar jumlah skor kemampuan sosial emosional pada Siklus II Kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung berada pada bagian atas . umlah skor tingg. dari distribusi jumlah skor yang diperoleh. Hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas menunjukkan bahwa secara umum tingkat kemampuan sosial emosional anak di PAUD Aisyiyah Dalung pada Siklus I mencapai ketuntasan 40% jika dibandingkan dengan data pada tahap observasi awal yang kriteria ketuntasannya hanya 0%, maka dapat diduga meningkatkan kemampuan sosial emosional Namun persentase tersebut belum mencapai ketuntasan minimal yang telah penulis tetapkan sebesar 80% dari jumlah anak Pada Siklus I terdapat kendala yaitu anak kurang mandiri saat kegiatan berlangsung. Terlihat hampir seluruh anak masih membutuhkan bantuan orang tua dan terlihat beberapa anak masih kebingungan dikarenakan anak tidak memperhatikan video tutorial dari penulis dengan baik. Desmita . menyatakan mandiri merupakan kemampuan untuk mengendalikan dan mengatur pikiran, perasaan dan tindakan sendiri secara bebas serta berusaha untuk mengatasi perasaan malu atau Kemampuan sosial emosional anak pada Siklus I cukup rendah sehingga dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam mencapai indikator yang sudah ditentukan oleh Namun disisi lain penulis melihat peningkatan kemampuan sosial emosional anak saat kegiatan menganyam yang menggunakan platform zoom meeting ini di setiap harinya seperti, anak mulai menyesuaikan diri dengan model kegiatan menganyam yang belum pernah dilakukan sama sekali sebelumnya. Selain itu anak mulai berekspresi saat anak tidak mampu atau merasa kesulitan ketika mengerjakan Susanto menyatakan bahwa sosial emosional banyak pengaruhnya yaitu dalam keluarga, kematangan fisik dan psikis, status sosial ekonomi, pendidikan dan kapasitas mental, dimana keluarga merupakan lingkungan yang kondusif untuk anak bersosialisasi, bagaimana anak mengembangkan kepribadian, pergaulan dan berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan dalam keluarga. Lalu bagaimana anak mampu memberi dan menerima nasehat orang lain dan berpengaruh juga terhadap intelegensi anak seperti kemampuan belajar anak, cara memecahkan masalah dan berbahasa. Upaya yang dilakukan penulis untuk mengatasi kendala tersebut yaitu penulis menyediakan media pendukung agar lebih menarik perhatian dan semangat anak yaitu dengan beberapa macam ekspresi yang berupa stiker emoticon supaya memudahkan penulis untuk lebih mengetahui kemampuan sosial emosional anak saat mengerjakan kegiatan. Penulis juga berupaya memberikan dorongan mengembangkan kemandirian anak untuk mencoba hal baru, memberi pengakuan . seperti memberi semangat saat anak Volume 5. Nomor 2. Desember 2021 dapat mengerjakan kegiatan sendiri dan melakukan hal yang benar, memberi kritik yang membangun kepercayaan diri anak dan menghargai sekecil apapun usaha yang dilakukan oleh anak. Penelitian tindakan Siklus I ini dilanjutkan ke Siklus II karena kriteria keberhasilan belum mencapai kriteria minimal 80% dari jumlah peserta didik, oleh karena itu dilakukan tahap penelitian Siklus II agar bisa mencapai kriteria minimal yang telah ditentukan. Pada hasil penelitian Siklus II terlihat tingkat kemampuan sosial emosional anak di kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung telah mengalami peningkatan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kegiatan menganyam dapat meningkatkan kemampuan anak dalam sosial emosional. Pada Siklus II menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap kemampuan sosial emosional anak kelompok B1 PAUD Aisyiyah Dalung mencapai ketuntasan 86. 67% dibanding dengan observasi awal yang belum memenuhi kriteria ketuntasan 0% dan pada Siklus I yang hanya memenuhi kriteria ketuntasan 40%. Dari data yang diperoleh, dapat disimpulkan pada Siklus II kemampuan sosial emosional anak mengalami peningkatan mencapai nilai ketuntasan yang telah ditetapkan yaitu 86. yang mampu memenuhi kriteria tuntas, sedangkan 13. 33% . belum memenuhi kriteria tuntas yang telah ditetapkan. Berdasarkan paparan hasil Siklus II di atas menunjukkan bahwa hingga akhir Siklus II terjadi peningkatan nilai yang signifikan dengan kriteria ketuntasan mencapai 86. 67% dari jumlah anak didik yang telah mencapai kategori sedang, tinggi dan sangat tinggi. Christianti . menyatakan menganyam dapat melatih konsentrasi, kemampuan kognitif anak serta Namun menganyam terdapat nilai seni, seperti anak dapat menuangkan hasil karya anak pada anyaman itu sendiri dan menganyam dapat pula mengembangkan kemampuan sosial emosional anak (Fidiatmoko, 2. Hal ini telah tercapai dan terselesaikan pada akhir Siklus II dengan ketuntasan sesuai yang diharapkan. emosional anak ini meningkat pada Siklus I menjadi 40% dan meningkat kembali pada Siklus II menjadi 86,67%. Berdasarkan hasil menganyam dapat meningkatkan kemampuan sosial emosional pada anak usia dini kelompok B1 di PAUD Aisyiyah Dalung. DAFTAR RUJUKAN SIMPULAN Hasil observasi awal sebelum dilakukan tindakan menunjukkan anak belum memiliki ketuntasan kemampuan sosial emosional sebesar 0%. Persentase kemampuan sosial Soetjiningsih. Christiana Hari. Perkembangan Anak Sejak Pembuahan Sampai Dengan Kanak-Kanak Akhir. Jakarta: Prenada Media Group Ardina. Yatra Reski. Keterampilan Menganyam Pada Anak TK Kelompok B Gugus II Kecamatan Pengasih Kulon Progo Tahun Pelajaran 2016. Skripsi. Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Negeri Yogyakarta. Tersedia https://core. uk/download/pdf/78 Desmita. Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Fidiatmoko. Arif. Menganyam Rupa. Skripsi. Jurusan Seni Murni Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Tersedia http://digilib. id/id/eprint/1353 Kemendikbud. Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 84 Tahun 2014. Tentang Pendirian Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Kemendikbud. Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014. Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia DIni Kemendikbud. Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2014. Tentang Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini Nasir. Yopi. Gerbang Kreativitas Jagat Kerajinan Tangan. Jakarta: Bumi Aksara Volume 5. Nomor 2. Desember 2021 Susanto. Ahmad. Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kencana Prenada Media Group Susanto. Pendidikan Anak Usia Dini . onsep dan teor. Jakarta: Bumi Aksara Wiyani. Novan Ardy. Mengelola & Mengembangkan Kecerdasan Sosial & Emosi Anak Usia Dini. Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.