P a g e | 29 Jurnal Ilmiah Stikes YARSI Mataram (JISYM) Vol 10 No 2. Month Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 Website:http://Journal. LINGKUNGAN FISIK RUMAH PADA BALITA PENDERITA ISPA Haryani1. Zurriyatun Thoyibah2*. Zuhratul Hajri3. Sri Hardiani4 1,2,3STIKES YARSI Mataram. NTB. Indonesia 4STIKES Mataram. NTB. Indonesia *Corresponding author : oyiqyarsi@gmail. ABSTRACT Acute Respiratory Infection (ARI) is one of the health problems in develoving countries because of the high morbidity and mortality due to ARI in children under five. ARI is included in the top 10 disease category in NTB with the highest number of visits 174,213. There are 3 risk factors for ARI, namely enviromental factors, individual child factors dan behaviors factors. This study aims to describe the physical enviroment of the toddlerAos home with ARI. This research is a descriptive study with a cross-sesctional study design. The sample size is 20 mother who have toddler aged 0- 59 months who experience ARI. Collecting data using physical environtment obeservation sheet and signs of ARI symptoms. The results showed that almost all of the ventilation, house temperature and occupancy density did not meet health requerements, namely as many as 85%-95% of respondents. Most of the respondents house humidity did not meet the requerements as much as 75%, as much as 95% used traditional cooking fuels and most of the use of mosquito reppelent did not meet health requerements . %), and most of the respondent smoked indoors . %). It can be concluded that the behaviour and physical environment of the home of toddlers who suffer from ARI mostly does not meet the health requerements. Keyword: ARI, physical environment of the house ABSTRAK Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan di negara berkembang karena tingginya angka kesakitan dan kematian akibat ISPA pada balita. Penyakit ISPA masuk dalam kategori 10 penyakit terbanyak di NTB dengan jumlah kunjungan tertinggi yaitu 174. Terdapat 3 faktor resiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak dan faktor perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk Coresponding author: Zurriyatun Thoyibah email corresponding author: oyiqyarsi@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram. Vol 10 NO 2. Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 P a g e | 30 menggambarkan tentang lingkungan fisik rumah balita yang mengalami ISPA. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain crossectional study. Jumlah sampel 20 orang ibu yang mempunyai balita berusia 0-59 bulan yang mengalami ISPA. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi tentang lingkungan fisik dan tanda gejala ISPA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ventilasi, suhu rumah, dan kepadatan hunian hampir seluruhnya tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu sebanyak 85%-95% responden, kelembaban rumah responden sebagian besar tidak memenuhi syarat sebanyak 75%, sebanyak 95% responden menggunakan jenis bahan bakar memasak tradisional dan sebagian besar penggunaan obat anti nyamuk tidak memenuhi syarat . %), dan sebagian besar responden merokok di dalam rumah . %). Oleh karena itu, dapat disimpulkan perilaku dan lingkungan fisik rumah balita yang menderita ISPA sebagian besar tidak memenuhi syarat kesehatan. Kata kunci: ISPA, lingkungan fisik rumah PENDAHULUAN Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada di negara maju dan berkembang. Hal ini karena tingginya angka kesakitan dan kematian akibat ISPA pada balita. Menurut laporan WHO, angka kesakitan akibat infeksi saluran pernafasan akut mencapai 8,2% (Suryani et all, 2. Angka kematian bayi dan balita Indonesia adalah tertinggi di negara ASEAN. Penyebab angka kesakitan dan angka kematian anak terbanyak saat ini masih diakibatkan oleh pneumonia (ISPA) dan diare. Kematian akibat ISPA pada anak khususnya balita, terutama disebabkan oleh pneumonia. Negara indonesia, angka kejadian pneumonia pada balita sekitar 10-20% per tahun dan angka kematian pneumonia pada balita di Indonesia adalah 6 per 1000 balita. Ini berarti dari setiap 1000 balita, setiap tahun ada 6 orang diantaranya yang meninggal akibat pneumonia sebelum ulang tahunnya yang ke5. Jika dihitung, jumlah balita yang meninggal akibat pneumonia di Indonesia dapat 000 orang per tahun, 12. per bulan, 416 per hari, 17 orang perjam atau 1 orang balita tiap menit. Usia yang rawan adalah usia bayi . ibawah 1 tahu. , karena sekitar 60-80% kematian pneumonia terjadi pada bayi (Maryunani, 2. Lima Provinsi dengan ISPA tertinggi yaitu. Nusa Tenggara Timur (NTT) . ,7%). Papua . ,1%). Aceh . ,0%). Nusa Tenggara Barat (NTB) . ,3%), dan Jawa Timur . ,3%) (Kemenkes RI, 2. ISPA disebabkan oleh virus atau bakteri. Penyakit ini diawali dengan panas disertai dengan satu atau lebih gejala : tenggorokan sakit atau nyeritelan, pilek, batuk kering atau Secara umum terdapat 3 . faktor resiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak dan faktor perilaku (Maryunani, 2. Berdasarkan Profil Kesehatan NTB . pada tahun 2019 penyakit ISPA merupakan kasus nomor 1 . dalam kategori 10 penyakit terbanyak di NTB dengan jumlah kunjungan tertinggi yaitu 174. 213 kunjungan. Kondisi tersebut erat kaitannya dengan kesehatan lingkungan masyarakat. Kepadatan penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Ampenan, mempengaruhi tingkat prevalensi ISPA di setiap kelurahan, salah satunya di Kelurahan Ampenan. Lingkungan Karang Ujung. Semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk di suatu daerah, maka semakin tinggi pula prevalensi ISPA. Hal ini dikarenakan inhalasi yang terjadi akan semakin intens sehingga virus yang menyebar melalui udara akan Coresponding author: Zurriyatun Thoyibah email corresponding author: oyiqyarsi@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram. Vol 10 NO 2. Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 P a g e | 31 memudahkan menularkan kepada orang lain. Salah satu penyebab terjadinya ISPA adalah rendahnya kualitas udara baik di dalam maupun di luar rumah, baik secara biologis, fisik,maupun kimia. Berdasarkan hasil survey pendahuluan yang telah dilakukan, ibu yang menjadi responden mengaku bahwa anak mereka pernah menderita gejala seperti batuk, demam, pilek dan sakit tenggorokan, suaminya sering merokok di dalam rumah, mengaku masih menggunakan obat anti nyamuk bakar dan menggunakan bedak tabur pada bayinya. Berdasarkan hasil pengamatan banyak pemukiman- pemukiman warga yang rapat dan padat serta belum memenuhi kriteria rumah sehat seperti tidak memiliki ventilasi, memiliki ventilasi namun jendela tidak pernah dibuka, terjadinya kepadatan hunian dalam rumah sehingga menyebabkan inhalasi yang terjadi akan semakin intens dan virus yang menyebar melalui udara akan memudahkan menularkan kepada orang lain. HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi karekateristik disajikan dalam tabel 1 berikut. Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan Usia. Pendidikan dan Pekerjaan Karakteristik Usia (Tahu. Total Pendidikan SMP SMA Total Pekerjaan IRT Total METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian Lokasi penelitian ini di Wilayah Kerja Puskesmas Ampenan Kelurahan Ampenan Lingkungan Karang Ujung. Kota Mataram. pada bulan Januari 2020. Sampel penelitian berjumlah 20 orang ibu yang memiliki balita usia 0-59 bulan yang mengalami ISPA. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah lembar observasi lingkungan fisik rumah dan tanda gejala ISPA. Analisis data menggunakan analisis univariate yang menggambarkan distribusi frekuensi tiap variabel penelitian dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Adapun lingkungan fisik rumah terdiri dari ventilasi, suhu ruangan, kelembaban ruangan, jenis lantai, jenis dinding dan kepadatan hunian rumah dan perilku terdiri dari merokok dalam rumah, jenis bahan bakar memasak, penggunaan obat nyamuk. Frekuensi . (%) Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa sebagian besar responden berusia 2635 tahun sebanyak 14 orang . 0%), sebagian besar pendidikan responden yaitu SMP sebanyak 10 orang . 0%), dan keseluruhan responden sebanyak 20 orang . %) berstatus sebagai IRT (Ibu Rumah Tangg. Hasil analisis univariate terhadap lingkungan fisik rumah balita yang mengalami ISPA disajikan dalam tabel Tabel 2. Lingkungan fisik Rumah Responden Pada Balita Penderita ISPA Coresponding author: Zurriyatun Thoyibah email corresponding author: oyiqyarsi@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram. Vol 10 NO 2. Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 Variabel Ventilasi Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat Suhu Ruangan Frek. P a g e | 32 Variabel Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat Kelembaban rumah Memenuhi syarat . % 70%) Tidak Memenuhi syarat (<40% - >70%) Jenis Lantai Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat Jenis Dinding Memenuhi syarat Tidak memenuhi syarat Kepadatan Hunian Padat Tidak padat Frek. Dari tabel diatas diketahui bahwa pada lingkungan fisik rumah responden penderita ISPA sebagai berikut : ventilasi rumah memenuhi syarat yaitu sebanyak 19 responden . %). Suhu ruangan rumah memenuhi syarat yaitu sebanyak 17 responden . %), kelembaban rumah responden sebagian besar tidak memenuhi syarat sebanyak 15 . %), jenis lantai dan didnding rumah responden seluruhnya memenuhi syarat yaitu sebanyak 20 responden . %) dan kepadatan hunian responden hampir seluruhnya padat yaitu sebanyak 17 responden . %). Tabel 3. Perilaku Responden Pada Balita Penderita ISPA Variabel Merokok Dalam Rumah Tidak Jenis Bahan Bakar Tradisional Modern Obat Anti Nyamuk Memenuhi syarat Frekuensi Tidak memenuhi syarat Dari tabel di atas diketahui bahwa pada lingkungan fisik rumah responden penderita ISPA sebagai berikut : sebagian besar responden merokok di dalam rumah sebanyak 12 responden . %), hampir seluruh jenis bahan bakar memasak respoden tradisional yaitu sebanyak 19 responden . %). sebagian besar penggunaan obat anti nyamuk tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 14 responden . %). Berdasarkan Tabel 2 dan 3 dapat disimpulkan bahwa lingkungan fisik rumah dan perilaku responden pada balita yang menderita ISPA tidak memenuhi syarat Hal ini dapat dilihat pada diagram dibawah ini : Lingkungan Fisik Rumah Gambar 1. Persentase Rumah Responden yang Tidak dan Memenuhi Syarat Kesehatan Lingkungan Fisik Rumah penderita ISPA pada Balita Ventilasi Berdasarkan hasil penelitian, ventilasi rumah responden sebagian besar tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 19 responden . %). Hasil Observasi juga menunjukan bahwa responden memiliki ventilasi, namun jarang membuka ventilasi rumah. Ventilasi yang tidak baik akan menyebabkan kelembaban udara menyebabkan bakteri berkemang biak dengan baik. Hal ini menunjukan bahwa Coresponding author: Zurriyatun Thoyibah email corresponding author: oyiqyarsi@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram. Vol 10 NO 2. Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 P a g e | 33 responden dengan balita penderita ISPA memilki ventilasi rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Hasil penelitian Medhyna . , menunjukan bahwa ada hubungan signifikan antara ventilasi rumah dengan kejadian ISPA dimana nilai P = 0,04. Selain itu juga, faktor lain yang berkaitan dengan kejadian ISPA adalah kebiasaan penduduk membuka jendela pada pagi hari (Hutapea et all, 2. Suhu ruangan Berdasarkan hasil penelitian, suhu ruangan rumah responden pada balita penderita ISPA hampir seluruhnya tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 17 responden . %). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Supit et all . secara statistik terdapat hubungan antara suhu dengan kejadian penyakit ISPA pada balita dengan nilai p = 0. 000 dengan r = 0. Kelembaban udara ruangan Berdasarkan kelembaban udara ruangan rumah responden pada balita penderita ISPA sebagian besar tidak memenuhi syarat sebanyak 15 . %). pebelitian ini berbading lurus dengan penelitian yang dilakukan oleh Supit . dimana terbanyak berada di kategori 58-59% dengan jumlah balita yang mengalami ISPA dalam 3 bulan terakhir sebanyak 4 kali berjumlah 18 balita . ,6%). Namun berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Suryani et all . , hasil menunjukan bahwa persentase balita yang mengalami ISPA pada rumah . 5%) dibandingkan yang tidak memenuhi syarat . 3%). Jenis lantai Berdasarkan hasil penelitian, jenis lantai rumah responden pada balita penderita ISPA keseluruhannya memenuhi syarat yaitu 20 . %). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bee et all . menunjukkan bahwa responden yang memiliki lantai rumah yang memenuhi syarat sebanyak 53% diantaranya 45% mengalami ISPA dan 8 % tidak mengalami ISPA. Jenis meningkatakan kelemebaban ruangan sehingga udara diruangan naik akibat penguapan cairan dan menyebbakan bakteri dapat berkembang biak. Jenis dinding Berdasarkan hasil penelitian, jenis dinding rumah responden pada balita ISPA memenuhi syarat yaitu 20 . %). Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hutapea et all . menunjukan bahwa variabel dinding rumah diperoleh nilai p = 0,322, jika kemaknaan . <0,. maka dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara dinding rumah dengan kejadian ISPA. Kepadatan hunian Berdasarkan hasil penelitian, kepadatan hunian responden hampir seluruhnya padat yaitu sebanyak 17 responden . %). Penelitian ini sejalan dengan Astrid penelitiannya mengatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepadatan hunian dengan kejadian ISPA dengan nilai p = 0,011. Semakin padat/ banyak orang yang berkumpul atau bertempat tinggal didalam rumah maka resiko penularan penyakit akan lebih tinggi. Peneluran penyakit akan lebih mudah kepada kelompok rentan seperti balita. Perilaku Responden Pada Balita Penderita ISPA Perilaku merokok Berdasarkan hasil penelitian, sebgaian besar responden merokok didalam Coresponding author: Zurriyatun Thoyibah email corresponding author: oyiqyarsi@gmail. Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram. Vol 10 NO 2. Juli 2020 P-ISSN : 1978-8940 P a g e | 34 rumah sebanyak 12 responden . %). Hal ini sejalan dengan penelitian Suryani et all . yang menunjukan persentase balita yang mengalami ISPA lebih tinggi pada rumah yang anggota keluarganya merokok didalam rumah . 3%). Responden dengan kategori ada anggota keluarga yang merokok ada sebanyak 23 orang . ,9%) memiliki balita terkena ISPA. (Mariza dan Trisnawati, 2. Penelitian lain juga yang dilakukan oelh Milo et all . menunjukan adanya hubungan antara kebiasaan merokok di dalam rumah dengan kejadian ISPA pada anak dengan P-value : 0,002. Bahan bakar memasak. Berdasarkan hasil penelitian, hampir seluruh jenis bahan bakar memasak respoden tradisional yaitu sebanyak 19 responden . %). Penelitian Suryani et all . menunjukan persentase rumah yang menggunakan bahan bakar tradisional . 3%) mengalami ISPA lebih tinggi daripada rumah yang menggunakan bahan bakar modern . 8%). Secara umum partikel debu diameter 2,5 (PM2,. dan partikel debu diameter 2,5 (PM. timbul dari pengaruh udara luar . egiatan manusia akibat pembakaran dan aktifitas Sumber dari dalam rumah antara lain dapat berasal dari perilaku merokok, penggunaan energi masak dari bahan bakar biomasa, dan penggunaan obat nyamuk bakar. Penggunaan bahan bakar memasak seperti arang, kayu, minyak bumi, dan batu bara dapat pencemaran udara didalam rumah, yang dapat menjadikan meningkatkan risiko terjadinya ISPA. Dari kemungkinan dampak yang dihasilkan maka penggunaan minyak tanah dan kayu bakar dikategorikan tidak memenuhi syarat kesehatan (Kemenkes RI, 2. Penggunaan obat anti nyamuk Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar penggunaan obat anti nyamuk tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak . %). Menurut Kemenkes RI . asap yang dihasilkan dari pembakaran obat nyamuk dapat menyebabkan polusi udara yang berasal dari dalam rumah . Pencemaran udara tersebut dapat berupa partikel debu diameter 2,5 (PM2,. dan partikel debu diameter 10 (PM . yang dapat menimbulkan ISPA. Penggunaan obat nyamuk dengan cara dibakar atau dengan listrik akan mengurangi proporsi kandungan oksigen dalam ruangan karena racun dan asap yang dihasilkan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lingkungan fisik rumah dan perilaku responden pada balita penderita ISPA responden tidak Memenuhi syarat Beberapa lingkungkungan fisik rumah sudah memenuhi syarat kesehatan namun ISPA masih terjadi pada balita. Hal ini dikarenakan masih ada variabel lingkungan fisisk rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti ventilasi, suhu ruangan, kelembaban udara dan kepadatan hunian. Selaian itu juga perilaku responden yang masih menunjukan belum memenuhi syarat kesehatan seperti adanya responden yang merokok didalam rumah, memasak menggunakan bahan bakar tradisosnal dan menggunakan anti nyamuk yang dibakar. REFERENSI