iC43 Ar Ruh: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Volume 1 Nomor 1 Edisi Juni 2025 ISSN. E-ISSN. Tafsir Isyari dalam Tradisi Syadziliyah: Analisis Al-Faqdu dan Al-Wajd Abdhillah Shafrianto Sekolah Tinggi Agama Islam Raudhatul Ulum (STAIRU) Email: abdhillah@stit-ru. Abstract In everyday life, a person often faces situations of loss . l-Faqd. or profound experiences of certain memories . l-Waj. , both of which have a significant impact on their psychological Al-faqd can be felt when someone loses a job, a friend, or a family member. While alwajd is felt when someone remembers a beautiful past, such as memories with a deceased person or when feeling a deep loss from a relationship. In the tarekat, understanding the meaning of life requires interpretation. Sufis usually use isyari interpretation to reveal the inner dimensions of religious teachings, exploring hidden meanings through contemplation and spiritual experience. The method used is qualitative and is library research using a literature study approach and content analysis. The results obtained are from the perspective of Imam alSyadzili, two important concepts in the spiritual journey are al-faqd and al-wajd. Al-faqd describes the state of full awareness of spiritual poverty, namely the absolute dependence of a servant on Allah, which aims to foster tawakkal, sincerity, and humility. Meanwhile, al-wajd is spiritual ecstasy that arises from dhikr, mujahadah and muraqabah which produces deep happiness as well as extraordinary love and longing for Allah. Keywords: Tafsir Isyari. Syadiliyah, al-Faqdu, al-Wajd Abstrak Pada kehidupan sehari-hari, seseorang sering kali menghadapi situasi kehilangan . l-Faqd. atau pengalaman mendalam atas kenangan tertentu . l-Waj. , kedua hal tersebut memiliki dampak signifikan terhadap kondisi psikologisnya Al-faqd bisa dirasakan saat seseorang kehilangan pekerjaan, teman atau anggota keluarga. Sedangkan al-wajd dirasakan saat seseorang mengingat masa lalu yang indah, seperti kenangan saat bersama orang yang sudah meninggal atau saat merasa kehilangan yang mendalam dari sebuah hubungan. Dalam tarekat, memahami makna kehidupan memerlukan penafsiran. Kaum sufi biasanya menggunakan tafsir isyari untuk mengungkap dimensi batin ajaran agama, menggali makna tersembunyi melalui perenungan dan pengalaman spiritual. Metode yang digunakan adalah kualitatif dan bersifat bersifat library research dengan menggunakan pendekatan studi literatur dan analisis konten. Hasil yang didapatkan adalah dalam perspektif Imam al-Syadzili, dua konsep penting dalam perjalanan spiritual adalah al-faqd dan al-wajd. Al-faqd menggambarkan kondisi kesadaran penuh akan kefakiran ruhani, yaitu ketergantungan mutlak seorang hamba kepada Allah, yang bertujuan menumbuhkan tawakkal, keikhlasan, dan kerendahan hati. Sementara itu, al-wajd adalah ekstase spiritual yang muncul dari dzikir, mujahadah dan muraqabah yang menghasilkan kebahagiaan mendalam serta cinta dan kerinduan luar biasa kepada Allah. Kata Kunci: Tafsir Isyari. Syadiliyah, al-Faqdu, al-Wajd 44iC Abdhillah Shafrianto. Tafsir Isyari dalam Tradisi Syadziliyah: Analisis Al-Faqdu dan Al-Wajd Pendahuluan Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak terlepas dari hubungan emosional dengan orang lain dan pengalaman yang membentuk kehidupannya. Pengalaman hidup seseorang, baik yang menyenangkan maupun yang penuh tantangan, turut membentuk cara pandang, nilai dan sikapnya terhadap dunia. Interaksi dengan orang lain memberikan pelajaran penting, memperkaya wawasan dan membantu manusia memahami dirinya sendiri serta lingkungannya. Pada kehidupan sehari-hari, seseorang sering kali menghadapi situasi kehilangan . l-Faqd. atau pengalaman mendalam atas kenangan tertentu . l-Waj. , kedua hal tersebut memiliki dampak signifikan terhadap kondisi psikologisnya Al-faqd bisa dirasakan saat seseorang kehilangan pekerjaan, teman atau anggota keluarga. Sedangkan al-wajd dirasakan saat seseorang mengingat masa lalu yang indah, seperti kenangan saat bersama orang yang sudah meninggal atau saat merasa kehilangan yang mendalam dari sebuah hubungan. Kedua hal ini mempunyai dampak psikologis seperti : al-faqd dapat menyebabkan gangguan psikologis seperti stres, kecemasan, depresi dan rasa terisolasi yang menyebabkan sulit untuk melanjutkan kehidupan seperti biasa. Alwajd dapat menyebabkan individu merasa terpuruk secara emosional, oleh akibat kenangan yang mendalam dan sulit untuk diatasi. Dalam pandangan Islam kehilangan merupakan ujian yang diberikan Allah untuk menguji keimanan dan kesabaran seorang Kehilangan adalah bagian dari qada' dan qadar yang harus diterima dengan sabar dalam al-Qur'an. Allah berfirman: a a aOIA a AA aIIa eE a eI aO aE aOeEaIAa a aOE ac aI aA a AaOs aIIa eE eaOA s AA aO eE aOa aOIa eCA ca A aOa aa EA e AaOEaIa eEa aOIac aE eI aA Artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. " (QS. Al-Baqarah: . Jalan untuk mencapai ketenangan batin dalam situasi apapun terkadang sangat sulit dilakukan, oleh karena itu pemahaman spiritual sangat dibutuhkan oleh sebagian Adapun pemahaman spiritual terkadang harus ditempuh melalui perjalanan sufisme, karena pada dasarnya perjalanan sufisme melibatkan pencarian yang mendalam akan makna kehidupan, hubungan dengan Tuhan dan transformasi batin kearah yang lebih baik. Pada tradisi sufisme, terdapat banyak macam tarekat . alan atau alira. yang iC45 Ar Ruh: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Volume 1 Nomor 1 Edisi Juni 2025 ISSN. E-ISSN. berfungsi sebagai sistem atau pembinaan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Setiap tarekat memiliki metode, ajaran dan praktek yang khas, hal ini sering kali diwarikan oleh pendiri atau mursyid . uru spiritua. Adapun tarekat yang terkenal di dalam dunia Islam seperti . Qadiriyah. Naqsabandiyah. Syadziliyah. Tijaniyah. Khalwatiyah. Bektashiyah dan lain sebagainya. Di dalam tarekat, untuk memahami makna yang ada pada kehidupan maka diperlukan penafsiran. Adapun tafsir yang digunakan kaum sufisme biasanya bersifat Tafsir isyari, seringkali berguna untuk mengungkap dimensi batiniah dari ajaran agama, menggali makna-makna yang tersembunyi dengan melalui perenungan dan pengalaman spiritual . enghubungkan manusia dengan hakikat Ilahi, melampaui dimensi lahiriah menuju pemahaman yang esoteri. Jika dikaitkan dengan al-faq dan al-wajd, maka kedua hal tersebut berhubungan erat pada sufisme. Jika, al-faq dan alwajd tanpa pemahaman esoteris akan mengakibatkan dampak psikologis pada diri seseorang, lain halnya jika diungkapkan dengan tafsir yang bersifat isyari pada tarekat Syadziliyah mempunyai corak pada tarekatnya seperti . duniawi dan spiritual, pendekatan optimis terhadap kehidupan, penekanan pada dzikir hati yang sederhana dan mendalam, integrasi dengan syariat Islam, tidak berlebihan dalam ritual, serta pemikiran filosofis yang mendalam. Oleh karena hal-hal yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana tafsir isyari digunakan dalam tradisi Syadziliyah? Apa makna al-Faqdu dan al-Wajd dalam tafsir isyari Imam al-Syadzili? Kajian Pustaka (Maharani, 2. menyatakan bahwa tafsir isyari penuh dengan kontroversi, karena lebih mengedepankan intuisi dalam menjelaskan ayat-ayat al-QurAoan . yang kemungkinan sangat sulit untuk tidak terkontaminasi dengan hawa nafsu dan keliru. Lain hal dengan tafsir bil maAosur dan tafsir bil raAoyi yang kebenarannya relatif mudah untuk diukur dari segi penetapan kriteria kebenaran. Walaupun mengandalkan intuisi, tafsir isyari tetap harus memiliki rambu-rambu 46iC Abdhillah Shafrianto. Tafsir Isyari dalam Tradisi Syadziliyah: Analisis Al-Faqdu dan Al-Wajd penafsiran agar tidak menjadi tafsir isyari al-mardud, melainkan tafsir isyari almaqbul. (Wahid, 2. menyatakan bahwa tafsir isyari tidak dapat dianggap sebagai hasil rekayasa atau sekadar khayalan para sufi. Penafsiran yang dilakukan oleh kaum sufi ini sebenarnya memiliki landasan yang kuat, bentuk penafsiran semacam ini sesungguhnya sudah ada sejak awal Islam dan telah dilakukan oleh para sahabat. Tafsir isyari merupakan hasil dari pengalaman kasyaf seseorang yang sifatnya sangat eksklusif dan personal, di mana hanya dirinya dan Allah SWT yang mengetahui isi dari kasyaf tersebut. Namun, bentuk tafsir isyari sangat rentan terhadap penyalahgunaan dan penyimpangan, sehingga diperlukan persyaratan yang ketat. Menurut al-Ghazali, memahami makna ayat dan tafsirannya secara zahir adalah salah satu syarat utama yang harus dipenuhi. Sementara itu, al-Zahabi menambahkan syarat lain, seperti memperkuat penafsiran dengan bukti syarAoi serta memastikan bahwa tafsir tersebut tidak bertentangan dengan syariat dan logika. (Manna Khalil al-Qattan, 2. Tafsir isyari merupakan penyingkapan isyaratisyarat suci yang ada pada ungkapan-ungkapan al-QurAoan dan tercurah kedalam hati melalui limpahan ghaib. Tafsir Isyari dapat dipahami sebagai salah satu metode dalam penafsiran al-Qur'an yang berfokus pada makna simbolis, metaforis atau batin dari ayat-ayat al-Qur'an. Penafsiran dalam isyari tidak hanya berhenti pada pemahaman literal atau eksoteris . dari teks, tetapi mencari pesan-pesan tersirat yang sering kali bersifat spiritual, esoteris atau berkaitan dengan pengalaman batin seseorang, kemudian metode penafsiran yang bersifat isyari hanya dapat dipahami oleh orang-orang tertentu . yang telah melakukan tatihan spiritual. (Sholiha et al. , 2. Adapun kelebihan dan kekurangan tafsir yang bersifat isyari antara lain sebagai berikut : Pertama, pemberian makna cenderung memberikan pemahaman yang mendalam tentang pesan-pesan spiritual dan moral yang terkandung di dalam al-QurAoan, hal ini membantu umat Islam untuk mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang ajaran agama dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, tafsir bercorak isyari membantu individu dalam pengembangan spiritual dengan mendorong refleksi, intropeksi dan pertumbuhan spiritual. Ketiga, iC47 Ar Ruh: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Volume 1 Nomor 1 Edisi Juni 2025 ISSN. E-ISSN. penghormatan terhadap tradisi kegamaan dengan maksud membantu dan memelihara warisan keagamaan Islam . Keempat, cenderung menekankan kepada aspek moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Selain memiliki kelebihan, tafsir isyari memiliki kekurangan seperti : subjektifitas dan intepretasi yang berbeda pada penafsiran umumnya, kurangnya keseragaman dan bertentangan, memiliki potensi untuk disalahgunakan oleh tokoh-tokoh agama yang ingin memanipulasi teks kitab suci. Asy-Syadziliyah dinisbatkan kepada daerah yang Bernama Syadzilah . ebuah daerah di Afrik. Syeikh Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar asySyadzili merupakan ulama besar dan pendiri tarekat Syadziliyah. Tarekat asySyadzili mencakup al-jadzbu, mujahadah dan inayah. Konstruksi tarekat dibangun berdasarkan dua ilmu, yakni ilmu zahir dan ilmu batin. Tarekat ini juga menyesuaikan dengan tuntunan ilmu syariat dan ilmu hakikat dari berbagai sisi, kemudian tarekat ini mengambil arah kanan dari sakr dan arah kiri dari shawin. Tujuan tarekat Syadziliyah adalah membimbing kepada hakikat tauhid dan mujahadah, selanjutnya membimbing untuk menjauh dari kesedihan yang bisa menjerumuskan kepada ketergesah-gesahan dan prasangka buruk (Ali Rohmat, 2008 : 20-. Tarekat Syadziliyah memiliki tradisi yang menekankan zikir dan wirid harian seperti hizb al-bahr dan hizb an-nur, serta mengajarkan tawakkal dan zuhud dengan memahami dunia sebagai sarana, bukan tujuan. Pendekatan tarekat ini menyeimbangkan antara syariat dan hakikat, menjauhi asketisme berlebihan, serta mendorong kecintaan kepada Rasulullah (Yuslia Styawati, 2. Berdasarkan tulisan Ibnu Atha'illah as-Sakandari ajaran-ajaran Syekh Abu Hasan as-Syadzili diuraikan sebagai berikut : Tidak mendorong para muridnya untuk meninggalkan pekerjaan duniawi mereka. Sebaliknya, menjalani kehidupan sederhana dengan pakaian, makanan, dan kendaraan yang layak dapat menumbuhkan rasa syukur kepada Allah. Menekankan pentingnya tetap menjalankan syariat Islam dengan penuh Zuhud tidak berarti menjauhi kehidupan dunia, melainkan membersihkan hati dari ketergantungan pada selain Allah. 48iC Abdhillah Shafrianto. Tafsir Isyari dalam Tradisi Syadziliyah: Analisis Al-Faqdu dan Al-Wajd Tidak melarang para sufi untuk memiliki kekayaan, selama hati mereka tidak terikat pada harta yang dimiliki. Berusaha memberikan tanggapan terhadap tantangan yang mengancam umat, dengan menjembatani kehidupan spiritual bagi mereka yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi serta mendorong sufi yang cenderung pasif untuk lebih aktif. Tasawuf adalah upaya melatih jiwa sebagai bentuk ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan kehendak Allah. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah kualitatif . enelitian bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisi. dan bersifat bersifat library research, penelitian ini merupakan suatu riset yang menggunakan sumber perpustakaan untuk memperoleh data penelitian. Sedangkan untuk pendekatan, menggunakan pendekatan studi literatur dan analisis Dalam kerangka memperoleh data yang diperlukan dari sumber data, peneliti memakai tekhnik berupa : penelusuran literatur, menganalisis dan mengkaji dokumen, pencatatan data, kategorisasi dan sintesis data, serta melakukan analisis konten. Pembahasan Temuan Tafsir isyari dalam tradisi syadziliyah Pada abad ke-3 dan ke-4 Hijriah, tasawuf berkembang sebagai praktik individual yang berfokus pada kehidupan asketis, dengan tujuan meneladani perilaku dan kehidupan Rasulullah. Namun, mulai abad ke-5 dan ke-6 Hijriah, para tokoh sufi mulai mengorganisasi ajaran spiritual ini ke dalam sistem yang terstruktur, sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh para pengikutnya (Syakur, 2. Dalam tarekat syadziliyah, tafsir isyari memiliki peranan yang penting sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, melalui pemahaman yang mendalam dan transendental terhadap al-QurAoan. Adapun prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dari tafsir isyari dalam tarekat syadziliyah sebagai berikut : iC49 Ar Ruh: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Volume 1 Nomor 1 Edisi Juni 2025 ISSN. E-ISSN. Kesesuaian makna lahiriah . Tafsir isyari dalam Tarekat Syadziliah tetap tidak boleh bertentangan dengan makna zahir al-Qur'an. Makna batin harus melengkapi, bukan menggantikan, makna yang tertulis. Berbasis pengalaman ruhani, tafsir ini muncul dari hasil pengalaman spiritual murid-murid tarekat. Contohnya, tafsir terhadap ayat-ayat yang berbicara tentang perjalanan menuju Allah yang sering dikaitkan dengan tahapan-tahapan maqamat . tasiun spiritua. atau kondisi ahwal . eadaan ruhan. Konteks tasawuf dan pembersihan jiwa, tafsir isyari difokuskan pada pembersihan hati . azkiyatun naf. dan penguatan hubungan dengan Allah. Ayat-ayat tentang cahaya . , kegelapan . , atau jalan lurus . hiratal mustaqi. sering ditafsirkan sebagai simbol perjalanan batin seorang murid menuju Allah. Makna al-Faqdu dan al-Wajd dalam tafsir isyari Imam al-Syadzili Dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah, ada kondisi spiritual yang penting yakni al-faqd dan al-wajd. Imam Syadzili memandang al-faqd sebagai kondisi hati yang menyadari akan kelemahan dan ketidak berdayaan dihadapan Allah. Kefakiran bukanlah sekedar kemiskinan yang bersifat material, namun lebih condong kepada kefakiran secara spiritual . egala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Alla. Al-faqd pada pemahaman spiritual merupakan kesadaran mendalam akan kebutuhan mutlak seorang hamba kepada Tuhan. Pada kondisi ini, seorang salik . ejalan spiritua. menyerahkan segala kebutuhan dan urusannya hanya kepada Allah, tanpa bergantung kepada makhluk. Adapun tujuan al-faqd adalah membawa hamba kepada tawakkal, kerendahan hati dan keikhlasan mendalam, menjadikan seseorang tersebut bergantung kepada rahmat dan kasih sayang Allah. Ektase spiritual atau al-wajd dalam pandangan Imam as-Syadzili merupakan hasil zikir, mujahadah . paya kera. dan muraqabah . engawasan hati terhadap Alla. Imam as-Syadzili memaknai al-wajd sebagai rasa gembira yang mendalam dan tidak tergambarkan ketika seorang hamba mersa dekat dengan Allah, pada kondisi ini sering kali terlibatnya maAorifah . engetahuan langsun. tentang Allah yang dirasakan secara Al-wajd bisa menghasilkan kekuatan cinta yang luar biasa kepada Allah dan 50iC Abdhillah Shafrianto. Tafsir Isyari dalam Tradisi Syadziliyah: Analisis Al-Faqdu dan Al-Wajd menumbuhkan kerinduan yang mendalam untuk terus berada di dekat-Nya. Allah berfirman di dalam al-QurAoan : a A a acIa aE a aa eIa e a eI Iac a eOIa e a eO a eA e A aA e A aA AeI oa a acIa aOaEA U AcEEa Ia eAA a NA a AaE OaEaEA a A aOA a a AEa eO aN aI eEA a A acaaE aO e a aN Ea aN aI aEA a AEaO Eac aOeIa Ia eI Ca e aEI oa aacIa aO aaE a a aI eEIa aI aaEA aA a eII a a eIA e aAEa eOIa e A e AIac aO eA ea EaI a aOA a ACaa EaIa a oN aOA a AeAA a AA U aE aI a aI eE aNA a Aae Ia eEA n AyA aAEaO eECa eO aI eE EA aaOeIA a AaI eO EOIa Aa eIA a AA eIaA Artinya : "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala . ari kebajika. yang diusahakannya, dan ia mendapat siksa . ari kejahata. yang dikerjakannya. " (QS. al-Baqarah : . (Ali Rohmat, 2. Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili berkata : AuPahamilah bahwa kehilangan . l-faq. dan kebahagiaan . l-waj. adalah dua hal yang datang silih berganti seperti siang dan malam. Esensi dari permasalahan ini terdiri atas empat poin: : Pertama, jadilah seseorang yang senantiasa bersyukur atas nikmat Allah ketika menerimanya, dan tetap ikhlas menerima ketentuan Allah saat kehilangan nikmat Kedua, berusahalah untuk selalu berbuat baik ketika mendapatkan rezeki. Ketiga, jangan merasa sedih untuk bersyukur. jika kesedihan itu hadir, maka syukurmu pun turut merasakan kesedihan itu. Bersedihlah hanya terhadap amanah jika itu yang kau kehendaki. Keempat, arahkan perhatianmu sepenuhnya kepada Allah dalam segala cita-citaAy. Dengan demikian, perlunya sikap ikhlas, syukur dan fokus kepada Allah dalam menghadapi dinamika kehidupan, baik dalam kehilangan maupun kebahagiaan, karena semua yang dihadapi merupakan bagian perjalanan spiritual untuk menuju-nya. Kesimpulan Tafsir isyari memiliki peran penting dalam tradisi tasawuf, termasuk dalam Tarekat Syadziliyah, sebagai sarana memahami makna mendalam al-Qur'an untuk mendekatkan diri kepada Allah. Prinsip-prinsip utama tafsir ini adalah menjaga kesesuaian dengan makna lahiriah al-Qur'an, berbasis pengalaman ruhani, dan berfokus pada konteks tasawuf seperti pembersihan jiwa dan perjalanan spiritual menuju Allah. Dalam perspektif Imam al-Syadzili, dua konsep penting dalam perjalanan spiritual adalah al-faqd dan al-wajd. Al-faqd menggambarkan kondisi kesadaran penuh akan kefakiran ruhani, yaitu ketergantungan mutlak seorang hamba kepada Allah, yang iC51 Ar Ruh: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Volume 1 Nomor 1 Edisi Juni 2025 ISSN. E-ISSN. bertujuan menumbuhkan tawakkal, keikhlasan, dan kerendahan hati. Sementara itu, alwajd adalah ekstase spiritual yang muncul dari dzikir, mujahadah dan muraqabah yang menghasilkan kebahagiaan mendalam serta cinta dan kerinduan luar biasa kepada Allah. Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili menegaskan pentingnya sikap syukur, ikhlas dan perhatian penuh kepada Allah dalam setiap keadaan, baik ketika menerima nikmat maupun ketika menghadapi kehilangan. Dengan menjalani perjalanan ini, seorang hamba dapat mencapai kedekatan ruhani yang lebih mendalam dengan Allah. Daftar Pustaka