Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 1-11 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 EFEK NEFROPROTEKTOR EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza rox. TERHADAP KADAR KREATININ TIKUS (Rattus Norvegicu. YANG DIINDUKSI PARACETAMOL Jilan Fandini Putri1. Muflihah Rizkawati2* Fakultas Kedokteran. Universitas Islam Indonesia Departemen Farmakologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Islam Indonesia *Email: dr. rizkawati@uii. Artikel diterima: 08 Januari 2024. Disetujui: 26 Oktober 2024 DOI: https://doi. org/10. 36387/jiis. ABSTRAK Parasetamol merupakan obat yang umum dikonsumsi sebagai analgetik dan Penggunaan parasetamol dosis toksik dapat memberikan efek toksik terhadap organ seperti nekrosis tubulus ginjal. Kreatinin (C. merupakan salah satu fungsi biokimia yang sering digunakan untuk menilai fungsi ginjal. Di Indonesia, temulawak menjadi salah satu tanaman unggulan yang memiliki manfaat bagi kesehatan, salah satunya sebagai hepatoprotektor dan nefroprotektor karena mengandung kurkumin serta xanthorrhizol. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak temulawak terhadap kadar kreatinin Tikus Wistar yang diinduksi parasetamol. Metode yang dilakukan adalah eksperimental pre-post test control group design. Subjek penelitian dibagi menjadi lima kelompok yang terdiri dari 5 ekor tikus yaitu K1. ontrol negati. K2 . arasetamol dosis toksik 2 g/kgBB). P1. P2, dan P3 diberikan temulawak dosis bertingkat 800 mg/kgBB, 600 mg/kgBB, 3. 200 mg/kgBB serta parasetamol dosis toksik 2 g/kgBB pada tiga hari terakhir pemberian temulawak. Data kemudian dianalisis menggunakan Paired T Test yang dilanjutkan dengan uji one way ANOVA untuk melihat perbedaan antar Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara kadar kreatinin Tikus Wistar sebelum dan sesudah perlakuan dengan nilai p=0,029. Pemberian temulawak dosis bertingkat pada kelompok Tikus Wistar yang diinduksi parasetamol, menunjukkan adanya perbedaan signifikan dibandingkan kelompok kontrol, yaitu antara kelompok K2 dengan P1. osis 800mg/kgBB) dengan nilai p=0,031. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Temulawak dosis bertingkat dapat meminimalkan kerusakan pada ginjal Tikus Wistar akibat induksi parasetamol yang ditunjukkan melalui perbedaan kadar kreatinin pada kelompok perlakuan dosis 800mg/kgBB dibandingkan kelompok kontrol. Kata kunci: Nefroprotektor. Temulawak. Kreatinin. Parasetamol ABSTRACT Paracetamol is commonly used as an analgesic and antipyretic. The toxic doses of paracetamol-induced toxic effects such as renal tubular necrosis. Creatinine (C. is a biochemical function to assess kidney function. In Indonesia, ginger is one of the leading plants which has health benefits, as a hepatoprotector Jilan Fandini Putri, dkk | 1 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 1-11 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 and nephroprotector because it contains curcumin and xanthorrhizol. This research was conducted to determine the effect of ginger extract on the creatinine levels of Wistar rats induced by paracetamol. The method used an experimental pre-post-test control group design. The research subjects divided into five groups consisting of 5 rats. K1 . egative contro. K2 . aracetamol 2 g/kgBW). P1. P2, and P3 given curcuma 800 mg/kgBW, 1. 600 mg/kgBW, 3. 200 mg/kgBW and a toxic dose of paracetamol of 2 g/kgBW on the last three days. The data was analyzed with the Paired T-test followed by a one-way ANOVA test to see differences between The results showed a significant difference between the creatinine levels of Wistar rats before and after treatment . =0. Administration of graded doses of ginger to the Wistar Rat group which was induced by paracetamol, showed a significant difference compared to the control group, between groups K2 and P1 . ose 800 mg/kgBB) with a p-value=0. Based on the results, it can be concluded that graded doses of Temulawak can minimize damage to the kidneys of Wistar Rats due to paracetamol induction as shown by the difference in creatinine levels in the 800 mg/kgBB treatment group compared to the control group. Keywords: Nephroprotector. Temulawak. Creatinin. Paracetamol PENDAHULUAN Dosis Parasetamol merupakan obat glukuronidasi dan sulfasi, hal tersebut analgetik ringan sampai sedangkan menyebabkan jalur dependen P-450 antipiretik di beberapa wilayah seperti sebagai komponen metabolisme hepar Amerika Serikat. Eropa dan Indonesia (Oktaviana et al, 2017. Hidayar, 2020. sitokrom P450 akan mengkatalisis Samarawickrama Enzim oksidasi parasetamol menjadi N- Pemakaian asetil-p-benzokuinona imina (NAPQI) serta memproduksi stres oksidatif dan reactive oxygen species (ROS). Selain (Whalen et al, 2. Efek toksik fatal itu. NAPQI juga akan menurunkan penyimpanan glutation seluler (GSH) jangka panjang dengan dosis toksik . ,5-15. (Samarawickrama et al, 2. Jilan Fandini Putri, dkk | 2 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 1-11 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 kerusakan ginjal serta hati (Ansari et Komponen kimia yang terdapat al, 2020. Katzung et al, 2. pada temulawak memiliki beberapa Konsumsi parasetamol dosis toksik akan menyebabkan gagal ginjal akut karena nekrosis tubulus akut pada tubulus proksimal. Seseorang yang mengkonsumsi parasetamol memiliki (Syamsudin et al. Mukti et al, 2020. Rahmat et al, 2. Antioksidan penurunan fungsi ginjal dibandingkan berfungsi untuk menghambat radikal bebas berbahaya terhadap jaringan mengkonsumsi parasetamol (Park. Barnett et al, 2. Marker yang paling sering oksida, super oksida, radikal hidroksil digunakan untuk mengevaluasi fungsi ginjal adalah kreatinin (C. dan urea hidrogen peroksida dan peroksinitrit (Sledz Kreatinin dengan menghambat reaksi oksidasi. merupakan hasil akhir metabolisme Antioksidan juga dapat menurunkan kreatin yang dieksresi oleh ginjal, peroksidasi lemak yang berasal dari sehingga kreatinin darah akan berada pada rentang normal jika fungsi ginjal Sebaliknya, gangguan fungsi Temulawak memiliki efek dalam ginjal ditandai dengan peningkatan menurunkan peroksidase LDL . ow kreatinin akibat terganggunya proses density lipoprotei. manusia serta eksresi (Irawan, 2. adanya aktivitas antioksidan dapat Temulawak (Curcuma memberikan efek hepatoprotektor dan xanthoriza Roxb. ) adalah salah satu nefroprotektor pada tikus dengan dari sembilan tanaman unggulan di Indonesia menurut BPOM 2008 selain (Kustina et al, 2020. Rahmat et al, sambiloto, jambu biji, jati belanda. Yang et al, 2. Kurkumin mengkudu dan salam (Susilowati et al, yang poten sebagai antiinflamasi. Jilan Fandini Putri, dkk | 3 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 1-11 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Kandungan lainnya yang berperan hewan, tabung kosongan/kap evendorf . utup mera. , gelas beker, evaporator. Parasetamol Xanthorhizol melalui jalur NF-kB aquades, esktrak Temulawak dari dapat menekan IL 6. TNF alfa. Laboratorium FMIPA UII. siklooksigenasi 2 (COX . dan Kelompok Hewan Coba inducible nitrit oxide synthase . NOS) Tikus sehingga dapat menurunkan produksi Norvegicu. prostaglandin E2 (PGE. dan nitrit 200gram, umur 2-3 bulan, aktif oksida (NO) (Rahmat et al, 2. bergerak, bulu putih, dan mata jernih Berdasarkan Wistar (Rattus digunakan sebagai hewan uji. Tikus penelitian terdahulu, peneliti ingin Wistar dibagi menjadi 5 kelompok mengetahui apakah temulawak dapat yaitu kelompok K1 sebagai kontrol negatif hanya diberi aquades. K2 melalui pemeriksaan kadar kreatinin hanya diberikan parasetamol dosis 2 pada Tikus Wistar yang diinduksi g/kgBB. P1 ekstrak temulawak dosis Paracetamol. 800 mg/kgBB. P2 diberikan ekstrak temulawak dosis 1. 600 mg/kgBB, dan METODE PENELITIAN Penelitian P3 diberikan ekstrak temulawak dosis temulawak sesuai dosis dilakukan rancangan pre-post test control group selama 14 hari. Pada 3 hari terakhir Penelitian ini dilakukan di pemberian temulawak pada kelompok Laboratorium Farmasi. FMIPA UII P1. P2, dan P3 akan diberikan Farmakologi Parasetamol dosis toksik 2 g/kgBB. Fakultas Kedokteran UII pada bulan Sampel darah diambil sebelum dan Juli 2023. sesudah perlakuan melalui retroorbita Alat dan Bahan untuk di cek kreatininnya. Kandang mg/kgBB. Pemberian 40x30x20 . aksimal 5 hewa. , pipet hematokrit, sonde oral, timbangan Jilan Fandini Putri, dkk | 4 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 1-11 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menilai kadar kreatinin untuk melihat ada atau tidaknya penurunan fungsi ginjal yang diakibatkan oleh parasetamol dosis temulawak dalam melindungi fungsi ginjal terhadap efek toksik yang Berdasarkan pemeriksaan hematologi, didapatkan rata-rata kadar kreatinin sebelum dan sesudah perlakuan seperti pada tabel 1. Tabel 1. Rata-Rata Kadar Kreatinin Tikus Kelompok Unit mg/dL mg/dL mg/dL mg/dL mg/dL Gambar 1. Rata-rata nilai kreatinin sebelum dan sesudah perlakuan Kadar Kreatinin Sebelum Sesudah 0,32 A 0,03 0,35 A 0,04 0,37 A 0,04 0,43 A 0,01 0,32 A 0,04 0,33 A 0,06 0,39 A 0,05 0,39 A 0,03 0,37 A 0,03 0,37 A 0,05 Keterangan: K1 : kelompok kontrol sehat. K2 : kelompok diberikan parasetamol 2 g/kgBB pada 3 hari terakhir. P1 : kelompok perlakuan diberikan temulawak 800 mg/kgBB dan parasetamol 2 g/kgBB. P2 : kelompok perlakuan diberikan 600 mg/kgBB dan parasetamol 2 g/kgB. P3 : kelompok perlakuan diberikan 200 mg/kgBB dan parasetamol 2 g/kgBB Berdasarkan rata-rata kreatinin yang berbeda pada sebelum dan sesudah perlakuan pada masingmasing kelompok. Sesudah perlakuan, kelompok K2 yaitu kelompok yang diberikan parasetamol dosis toksik saja pada 3 hari terakhir perlakuan yaitu 0,43 mg/dL, sedangkan kadar kreatinin terendah adalah kelompok P1 yaitu kelompok yang diberikan temulawak dosis 800mg/kgBB dan parasetamol dosis toksik pada 3 hari terakhir perlakuan. Hasil anylisis paired T test menghasilkan nilai p=0,029 . <0,. yang menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara kadar kreatinin sebelum dan sesudah Kreatinin merupakan zat sisa yang tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh Jilan Fandini Putri, dkk | 5 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 1-11 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 dan akan dibuang melalui urin. toksik pada 3 hari terakhir tanpa Peningkatan kadar kreatinin dalam penurunan fungsi ginjal (Kashani et al. Pada prosesnya parasetamol dosis toksik akan menghasilkan zat Berdasarkan rata-rata kadar toksik dan reaktif yaitu NAPQI. kreatinin sesudah perlakuan, ekstrak NAPQI akan bereaksi dengan gugus temulawak terbukti dapat menjaga ditunjukkan dengan tidak adanya peningkatan kadar kreatinin pada mengakibatkan kematian sel (Park. Barnett et al, 2018. Rini et al, temulawak terlebih dahulu sebelum Tingginya kadar NAPQI akan diberikan parasetamol dibandingkan dengan kelompok yang diberikan membawanya ke ginjal, sehingga induksi dosis toksik parasetamol tanpa menghasilkan efek toksik berupa diberikan temulawak sebelumnya. Hal tersebut dapat berkaitan dengan peran (Ikawati, 2. kerusakan sel epitel tubulus proksimal Selanjutnya dilakukan uji one way ANOVA, dan diperoleh nilai p= 0,031 . <0,. yang menunjukkan Jika rata-rata DNA sebelum perlakuan, maka nilai K1. P1, kelompok sesudah perlakuan. Uji P2 dan P3 sesudah perlakuan tidak dilanjutkan dengan Post-Hoc Tukey menunjukkan peningkatan signifikan HSD untuk mengetahui perbedaan dan cenderung dalam kadar kreatinin bermakna antara kelompok perlakuan Hal tersebut berbeda dengan dan diperoleh data seperti pada tabel 2. kelompok K2 yang menunjukkan adanya peningkatan kadar kreatinin sesudah pemberian parasetamol dosis Jilan Fandini Putri, dkk | 6 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 1-11 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tabel 2. Hasil Perbandingan Kadar Kreatinin Antar Kelompok . ost-ho. Kelompok K1 Ae K2 K1 Ae P1 K1 Ae P2 K1 Ae P3 K2 Ae P1 K2 Ae P2 K2 Ae P3 P1 Ae P2 P1 Ae P3 P2 Ae P3 *Adanya . <0,. Nilai P 0,089 0,959 0,772 0,961 0,022* 0,643 0,238 0,401 0,649 0,977 dipengaruhi oleh kondisi lingkungan . H dan suh. , massa otot, dan stres fisik (Kashani et al, 2020. Dewi et al. Pada penelitian Sinoriya dan Singh histopatologi hati. SGOT dan. SGPT bertingkat yaitu 1,5 g/kgBB. g/kgBB. dan 3,5g/kgBB selama 3 hari Hasil uji anylisis One Way menunjukan kerusakan minimal pada ANOVA didapatkan nilai p=0,031 vena sentral dengan gangguan di . <0,. yang menunjukkan bahwa hepatosit yang sangat minim sehingga tidak terlihat secara signifikan. Hal ini Hal P-450 menghasilkan NAPQI dan tidak bisa terdetoksifikasi oleh GSH, penurunan kreatinin Tikus Wistar yang diinduksi GSH parasetamol Pemeriksaan lanjutan uji nekrosis hati dan keluarnya komponen post hoc Tukey didapatkan perbedaan hepatoseluler sehingga terbawa ke bermakna antara kelompok K2-P1 ginjal dan menyebabkan kerusakan dengan nilai p=0,022 . <0,. pada organ ginjal. Namun, karena pada penelitian sebelumnya hepar . ontrol sehat hanya diberi pakan mengalami kerusakan minimal maka . iinduksi terdapat kemungkinan ginjal juga parasetamol 2 g/kgBB) menunjukkan mengalami kerusakan minimal karena tidak adanya perbedaan signifikan GSH p=0,089 . >0,. , akan tetapi terlihat mengkompensasi (Canayakin et al, perbedaan dari rata-rata sebelum dan Sinoriya et al, 2. Hasil Selain Terdapat bermakna pada kelompok P1. P2 dan Jilan Fandini Putri, dkk | 7 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 1-11 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 P3 terhadap K1 sebagai kontrol negatif karena fungsi temulawak Perbedaan efektif sebagai nefroprotektor untuk ekstrak temulawak dengan dosis 800 rentang normal. Hal tersebut dapat mg/kgBB dapat memperbaiki fungsi terlihat dari rata-rata kadar kreatinin ginjal dan hasil ini sejalan dengan Klarissa dibandingkan nilai rata-rata kelompok (Klarissa. K2 setelah diinduksi parasetamol. Hal Berkurangnya tersebut sesuai dengan penelitian normalnya nilai kreatinin disebabkan mg/kgBB dan 1. 600 mg/kgBB dapat mengurangi kerusakan ginjal. Dosis menekan jalur NF-kB, produksi IL 6, 200 mg/kgBB juga menunjukkan TNF alfa, siklooksigenasi 2 (COX . rata-rata kadar kreatinin sebelum dan dan inducible nitrit oxide synthase . NOS) sehingga pemberian temulawak dapat produksi prostaglandin E2 (PGE. dan menjaga nilai kadar kreatinin stabil nitrit oksida (NO) menurun serta . idak Pemberian temulawak lebih dari 1000 mg/kgBB subkronik . harus digunakan radikal bebas berbahaya terhadap jaringan tubuh dengan menghambat, memperlambat dan mencegah reaksi . andungan oksidasi (Syamsudin et al, 2019. walaupun masih dalam Kustina et al, 2020. Rahmat et al. Yang et al, 2. parasetamol yang belum menunjukan Pemberian temulawak pada kelompok perlakuan P1. P2, dan P3 menyebabkan adanya perbedaan tidak signifikan antara P2 dan P3 terhadap kadar kreatinin yang tidak mengalami K2 (Maharani, 2. rata-rata Jilan Fandini Putri, dkk | 8 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Maret 2025, 1-11 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 K2. Hal nefroprotektor yang disebabkan oleh sebagai zat protektif ditemukan pada Terimakasih kepada Fakultas menimba ilmu, mengembangkan dan meningkatkan enzim antioksidan dan menurunkan inflamasi (Putri, 2013. Trujilo et al. KESIMPULAN Pemberian parasetamol dosis signifikan dan masih dalam rentang Aktivitas temulawak dosis meminimalkan kerusakan pada ginjal UII, melakukan penelitian. NRF2 . uclear factor erythoid-. Wistar UCAPAN TERIMA KASIH NF-kB dan meningkatkan translokasi Tikus kelompok kontrol. kelompok perlakuan dibandingkan Kedokteran kurkumin juga dapat menekan jalur 2g/kgBB dalam proses inflamasi. Sedangkan nefroprotektif dengan menekan jalur NF-kB kurkumin temulawak. Xanthorhizol DAFTAR PUSTAKA