Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 69-79 Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Available online http://journal. stt-abdiel. id/JA Menimbang Ulang Konsep Uis Pah sebagai Kearifan Lokal Menjaga Alam: Tinjauan Teologis-Sosiologis Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo1 & Arly Elizabeth Maria de Haan2 DOI: https://doi. org/10. 37368/ja. Program Magister Filsafat Universitas Gadjah Mada1. Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana Kupang2 taneorolin@gmail. Abstrak Atoni Meto atau Orang Timor memiliki pandangan khas tentang alam yang di dalamnya meliputi tanah, laut, air dan segala sumber daya yang ada. Alam dilihat sebagai Uis Pah atau Tuhan Bumi. Keyakinan ini berangkat dari pemahaman bahwa dari alam, manusia dapat hidup. Alam telah menyediakan banyak sumber daya untuk manusia kelola. Paham ini juga sebenarnya memberikan kontribusi terhadap upaya menjaga alam agar tidak tereksploitasi karena ulah manusia. Hanya saja, sikap dominan manusia terhadap alam kemudian melahirkan suatu paham bahwa alam itu hendaknya dikuasai manusia. Alam adalah ranah profan dan karena itu sentuhan manusia atas alam adalah sesuatu yang wajar. Tulisan ini dimaksudkan untuk kembali memperhatikan konsep Uis Pah yang berpihak pada alam, baik itu tanah, laut, air, dan sebagainya sebagai yang harus dijaga. Karena itu, dengan menggunakan pendekatan studi literatur, akan digarap berbagai ulasan terkait topik yang dibahas. Pada akhirnya, melalui eksplorasi pemahaman mengenai Uis Pah yang adalah kearifan lokal tetapi juga sistem keyakinan Atoni Meto diharapkan dapat memberi kontribusi untuk mengantisipasi kerusakan alam serta upaya berkelanjutan memelihara alam Nusa Tenggara Timur, khusus di wilayah Timor. Kata Kunci: ekologi. uis pah. Abstract The Atoni Meto, or Timorese, have a unique view of nature, encompassing land, sea, water, and all available Nature is viewed as Uis Pah, or God of the Earth. This belief stems from the understanding that humans can live from nature. Nature has provided numerous resources for them to manage. This understanding also contributes to efforts to protect nature from human exploitation. However, humanity's dominant attitude toward nature has given rise to the belief that it should be controlled by humans. Nature is a profane realm, and therefore, human contact with it is natural. This paper aims to revisit the concept of Uis Pah, which favors natureAiland, sea, water, and so onAias something that must be protected. Therefore, using a literature study approach, various reviews related to the topic will be conducted. Ultimately, through exploring the understanding of Uis Pah, which is both local wisdom and the Atoni Meto belief system, it is hoped that it can contribute to anticipating environmental damage and sustainable efforts to preserve the natural environment of East Nusa Tenggara, specifically in the Timor region. Keywords: ecology. uis pah. How to Cite: Taneo. Rolin Ferdilianto Sandelgus & Haan. Arly Elizabeth Maria de. AuMenimbang Ulang Konsep Uis Pah sebagai Kearifan Lokal Menjaga Alam: Tinjauan Teologis-Sosiologis. Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, no. : 69-79. ISSN 2685-1253 (Onlin. ISSN 2579-7565 (Prin. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 69-79 Pendahuluan Fransisco Jacob dalam tesis magisternya memberikan suatu penekanan penting bahwa hadirnya Kekristenan di Tanah Timor turut menyumbangkan kerusakan alam. Bagaimana dia sampai sampai pada kesimpulan ini? Ternyata, kesimpulannya diambil dengan suatu penegasan bahwa keyakinan masyarakat lokal tentang adanya penguasa bumi itu telah disangkal lewat masuknya Kekristenan. Ia menyebut penyangkalan ini dengan istilah Desakralisasi Alam. Wujud konkret dari Desakralisasi Alam itu ialah proses penginjilan yang dilakukan oleh misionaris cenderung bersifat eksploitasi ajaran yang berdampak pada eksploitasi Lingkungan atau alam tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang sakral, sebagaimana paham lokal masyarakat Meto. Di dunia ini berdiam Uis Pah atau Tuhan Bumi. Uis Pah sangat berperan aktif di dalam memberi kehidupan atas hidup manusia. telah menyediakan segala sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Sayang dan patut disesali bahwa paham ini mulai bergeser ketika doktrin Kekristenan diterima secara publik oleh masyarakat Dawan. Penghormatan terhadap alam yang di dalamnya terdiri atas air, tanah, pohon, gunung, dan semua isinya didegradasi. Perspektif yang ditawarkan oleh Jacob di atas sesungguhnya merupakan suatu bentuk sintesa atas paham sakral-profan yang Emile Durkheim gagas. Sakral itu berkaitan erat dengan sesuatu yang sifatnya suci, transenden dan karena itu harus dihargai atau Ia juga harus dipelihara. Sakral itu tidak boleh dinodai dan bersifat keramat. Sedangkan profan merupakan kebalikan dari yang suci atau sakral. Ia berkaitan berat dengan pekerjaan sehari-hari, yang sifatnya itu biasa saja dan yang umum. Agama hadir untuk kemudian membedakan secara jelas kedua paham ini. Agama perlu memilah mana yang sifatnya begitu mulia, suci, transenden dan patut dipuja dan mana yang sifatnya 3 Dengan asumsi ini maka apa yang telah disampai oleh Jacob di atas perihal penyangkalan pada Uis Pah adalah konstruksi agama yang termanifestasi lewat doktrin yang diyakini. Fransisco Jacob. AuGereja Protestan Dan Kemiskinan di Timor Barat: Studi Historis Mengenai Sejarah Gereja Protestan di Timor Barat . Dan Dampaknya Terhadap Kemiskinan di Timor Barat Pada Masa KiniAy (Tesis. STFT Jakarta, 2. , 158. Jacob. AuGereja Protestan Dan Kemiskinan di Timor Barat: Studi Historis Mengenai Sejarah Gereja Protestan di Timor Barat . Dan Dampaknya Terhadap Kemiskinan di Timor Barat Pada Masa Kini,Ay 159Ae60. Ahmad Z Mustofa. AuKonsep Kesakralan Masyarakat Emile Durkheim: Studi Kasus Suku Aborigin Di Australia,Ay Madani: Jurnal Politik Dan Sosial Kemasyarakatan 12, no. : 272Ae73. Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo & Arly Elizabeth Maria de Haan: Menimbang Ulang Konsep . Dengan memerhatikan ulasan beberapa argumentasi di atas maka tulisan ini dimaksudkan untuk mempertimbangkan kembali gagasan kepercayaan lokal terhadap konsep Uis Neno. Perlu ditegaskan juga bahwa gagasan ini bukan dalam maksud untuk menciptakan suatu gagasan tentang penyembahan pada alam tetapi lebih kepada bagaimana melihat dan merawat alam dengan kearifan atau keyakinan lokal masyarakat Dawan. Untuk bisa mempertemukan hal-hal ini maka Teologi Ekologi yang belakangan begitu menguat dan diserukan oleh gereja menjadi alternatif atau jalan tengah dalam mendialogkan hal-hal yang akan dibahas. Terkait rujukan Teologi Ekologi ini kami menggunakan pemahaman secara umum di mana kehadiran perspektif ini dimaksudkan untuk mendialogkan antara iman Kristen dan relasinya dengan alam, serta bagaimana iman Kristen memberi kontribusi bagi penyelesaian masalah krisis lingkungan. 4 Dengan demikian, jalan memelihara alam sebagai yang patut dilindungi menjadi suatu tanggungjawab bersama seluruh anak Timor. Metode yang dipakai dalam tulisan ini adalah studi pustaka. Secara garis besar, metode studi pustaka selalu mengedepankan aspek pengumpulan berbagai literatur yang terkait dengan topik kajian penulisan. 5 Literatur-literatur yang dijadikan rujukan pada umumnya menyesuaikan dengan topik kajian yakni mencari tahu makna Uis Pah dalam perspektif Atoni Meto, bagaimana implikasi perspektif ini dalam upaya menjaga alam. Penelusuran ini tidak cukup sampai disini saja. Kami juga akan mengomparasikan pandangan ini dari kacamata sosiologi dan teologis. Dari komparasi ini pada gilirannya diharapkan bisa mencapai tujuan dari kajian ini yakni sumbangan kearifan lokal masyarakat Meto di dalam menjaga alam. Pembahasan Konsep Uis Pah dalam Perspektif Atoni Meto Masyarakat Suku Timor sering menyebut identitas diri mereka dengan istilah Atoni Meto. Istilah ini diserap dari bahasa Dawan yang terdiri atas dua Suku kata yakni Atoni dan Meto. Atoni itu berarti orang atau suatu kumpulan masyarakat dan Meto berarti kering. Riska. AuEkoteologi Kristen: Teologi Penciptaan Dan Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan,Ay HUMANITIS: Jurnal Humaniora. Sosial Dan Bisnis 2, no. : 1067. Wahyudin Darmalaksana. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka Dan Studi Lapangan,Ay UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2020, 3. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 69-79 Dengan begitu, makna harfiah dari Atoni Meto yaitu masyarakat yang hidup di daerah yang kondisi tanahnya tandus atau kering. Sebagai masyarakat yang hidup di daerah yang kondisi tanahnya begitu tandus tidak serta-merta membawa mereka pada rasa pesimis di dalam memandang alam. Atoin Meto punya paham tersendiri atas alam dan paham tersebut justru memperteguh mereka di dalam melihat dan melestarikan alam sekitarnya. Alam bagi Atoni Meto dalam paham lokal diyakini sebagai Uis Pah. Uis Pah secara harfiah berarti Tuhan Bumi. Tuhan Bumi adalah manifestasi dari Uis Neno. Tuhan Langit yang ada di bumi. Uis Pah adalah penguasa atas bumi. Karena itu, baik air, tanah, pohonpohon, dan gunung juga adalah wilayah yang dikuasai oleh Uis Pah. 7 Pemahaman ini juga berimplikasi pada adanya legitimasi identitas dari suatu suku atau marga dalam masyarakat Dawan. Misalnya, ada penyebutan Oe Kanaf . erujuk pada sumber mata air yang diklaim sebagai milik suatu marga atau suk. dan Faut Kanaf . erujuk pada tanah, batu, gunung yang diklaim sebagai milik suatu suk. Karena Uis Pah menguasai air, tanah, pohon, gunung maka ada keyakinan bahwa Uis Pah itu hadir dan mendiami tempat atau unsur-unsur yang dikuasainya. Bahkan, dalam pemahaman masyarakat Boti, sebagai suku yang masih kental memelihara paham ini, kehadiran dari Uis Pah juga ada di pohon beringin. Pohon beringin itu kemudian dianggap sebagai yang sakral dan tidak boleh untuk ditebang. Ini menarik karena pada akhirnya, alam dan semua yang ada di dalamnya diperlakukan secara adil dan layaknya manusia. Perlakuan terhadap alam semacam ini memperlihatkan bahwa alam itu adalah person atau yang sama seperti manusia dan karena itu sikap mendominasi atas seluruh isi alam patut untuk dihindari. Uis Pah yang kemudian memberikan kepada manusia kemakmuran dan Selain fungsi ini. Uis Pah juga menjalankan tugas untuk mengontrol dan menjaga tatanan kehidupan yang ada di alam semesta. Lebih dari pada itu. Uis Pah diyakini sebagai yang merawat, melindungi dan membesarkan masyarakat di Timor. Terhadap pemahaman Atoin Meto yang memandang alam sebagai Uis Pah sebagaimana Fredi Suni. AuMengenal Istilah Dan Arti Atoin Meto,Ay diakses pada 3 Juli 2025, https://w. com/2022/12/mengenal-istilah-dan-arti-atoin-meto. html?m=1. Mikhael V Boy. AuHauteas Is The Living Tree of The Dawanese People,Ay Lumen Veritas: Jurnal Filsafat Dan Teologi 10, no. : 128, https://doi. org/doi: 10. 30822/lumenveritatis. Boy. AuHauteas Is The Living Tree of The Dawanese People,Ay 130. Erna Suminar. AuPersepsi Suku Boti Terhadap Lingkungan Hidup,Ay ENSAINS 1, no. : 92. Ayu V Somawati. AuUis Pah Dan Uis Neno Dalam Kepercayaan Suku Boti Di Timor Tengah Selatan. Nusa Tenggara Timur,Ay in Prosiding Seminar Nasional Jurusan Brahma Widya: Mistisisme Nusantara, (Singaraja: MPU Kantian Press, 2. , 129. Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo & Arly Elizabeth Maria de Haan: Menimbang Ulang Konsep . yang telah diuraikan di atas maka bisa kita katakan bahwa alam ternyata adalah sakral dan patut dijaga. Mengapa sampai demikian? Tentu anggapan ini mengandaikan bahwa alam adalah ibu yang memberi anak-anaknya makanan. Alam telah menyediakan berbagai sumber daya yang ada di dalamnya untuk dikelola secara arif oleh manusia. Manusia dan Alam: Transformasi Makna dalam Pemikiran Durkheim Emile Durkheim, seorang tokoh besar dalam sosiologi agama, telah memberikan kontribusi penting dalam memahami perubahan paradigma pandangan manusia terhadap alam dan ciptaan. Dalam karyanya yang terkenal, "The Elementary Forms of Religious Life" . Durkheim mengeksplorasi evolusi pandangan manusia terhadap kehidupan dan ciptaan dari perspektif sosiologis. Agama bagi Durkheim terbagi atas dua dimensi yaitu dimensi sakral dan profan. Dalam dimensi sakral, penekanan utama pada relasi manusia dan alam yang kuat dan AukudusAy. Pada mulanya, masyarakat tradisional cenderung memandang alam sebagai pemberi kehidupan. Pandangan ini tercermin dalam praktik dan ritual keagamaan yang terkait dengan ketergantungan manusia terhadap alam untuk kelangsungan hidupnya. Berbagai mitos dan ritual keagamaan menempatkan alam sebagai sumber kehidupan dan tercermin eratnya hubungan antara manusia dan alam. 12 Masyarakat agraris, sebagai contoh, seringkali memiliki keyakinan dan ritus yang terkait dengan siklus alam, seperti musim tanam dan panen. Namun, kemudian masyarakat berkembang menjadi masyarakat industrial dan modern, dan hal ini menyebabkan terjadi pergeseran paradigma yang signifikan. Pandangan manusia terhadap alam dan ciptaan telah berubah dari perspektif pemberi kehidupan ke perspektif yang lebih instrumental Dalam masyarakat modern, manusia tidak hanya mengandalkan alam untuk bertahan hidup, tetapi juga mulai mengendalikan dan memanfaatkannya secara lebih aktif. Disinilah nampak dimensi profan dari agama. Dalam konteks sosiologi agama, pergeseran ini juga tercermin dalam cara manusia mendekati keyakinan keagamaan. Durkheim memperhatikan bahwa masyarakat modern cenderung memandang keberagamaan dari perspektif fungsional. Agama tidak hanya George & Douglas J. Goodman Ritzar. Teori Sosiologi (Kreasi Warna, 1. , 37. Djuretna A. Imam Muhdi. Moral Dan Religi Menurut Emile Durkheim Dan Henri Bergson (Kanisius, 1. , 9. Nurul Khair. AuPengaruh Sikap Profan Terhadap Paradigma Masyarakat Beragama Perspektif Emile Durkheim,Ay Jurnal Sosiologi Agama Program Studi Sosiologi Agama. Fakultas Ushuluddin Dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta 14, no. : 205. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 69-79 dipahami sebagai sarana untuk memuja kekuatan alam atau entitas supranatural, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang mengatur dan memelihara kohesi sosial. Durkheim menekankan bahwa agama modern lebih terfokus pada kekuatan kolektif dan kesatuan sosial daripada pada hubungan langsung dengan alam. Keyakinan dan ritual dalam masyarakat modern lebih menekankan pada simbol-simbol yang merepresentasikan persatuan sosial dan identitas kolektif. 15 Dalam hal ini, manusia sebagai pemegang kendali mulai mengambil peran lebih aktif dalam membentuk dan mengendalikan lingkungan serta Pandangan ini dapat dilihat sebagai bagian dari proses sekularisasi, di mana nilainilai dan fungsi agama mulai terintegrasikan ke dalam berbagai aspek yang lain pada kehidupan sosial dan budaya. Dengan perubahan ini, manusia tidak lagi terbatas pada ketergantungan pada alam sebagai pemberi kehidupan, melainkan lebih terlibat dalam pembentukan dan pengendalian lingkungan serta ciptaan dengan menggunakan pengetahuan dan teknologi modern. Dengan demikian, dari perspektif sosiologi agama menurut Emile Durkheim, pergeseran paradigma ini mencerminkan transformasi dalam cara manusia memahami dan berinteraksi dengan alam, dari ketergantungan langsung menjadi kontrol dan manipulasi Paradigma baru ini menciptakan dinamika baru dalam struktur sosial dan keyakinan keagamaan, menciptakan tatanan yang lebih terintegrasi dengan perkembangan masyarakat Teologi Ekologi: Menggugat Dominasi Manusia atas Alam Frasa AuPenuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi, (Kejadian 1:. Ay telah membawa suatu paradigma bagi manusia di dalam memandang alam ciptaan Tuhan. Kata Autaklukkan, berkuasaAy yang ada dalam teks Kejadian 1:28 ini kerap diterapkan secara negatif terhadap alam. 16 Manusia cenderung bersikap otoriter atau menganggap diri lebih superior dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain. Sikap Prinsip antroposentris itu menganggap bahwa semua yang ada dalam semesta ini diciptakan Achmad Faesol. Diktat Sosiologi Agama (IAIN Jember, 2. , 14. Khair. AuPengaruh Sikap Profan Terhadap Paradigma Masyarakat Beragama Perspektif Emile Durkheim,Ay Sensius Karlau. AuPenciptaan Manusia Sebagai Representatif Allah Untuk Mewujudkan Mandat Budaya Berdasarkan Kejadian 1:26-28,Ay Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi 5, no. : 131. Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo & Arly Elizabeth Maria de Haan: Menimbang Ulang Konsep . khusus untuk manusia. Manusia juga punya hak penuh untuk mengelola semua yang ada. Kesannya, semua itu hanya diciptakan untuk kepentingan manusia semata. 17 Karena itu, jangan heran apabila manusia kemudian mengeksplorasi alam secara bebas guna mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Sikap tamak dan superioritas manusia macam ini jika dibiarkan berkelanjutan maka ia berpotensi merusak semua yang pada awalnya diciptakan Allah itu baik. Perlu ada upaya untuk meminimalisir dominasi manusia terhadap alam. Sebagai reaksi atas fenomena di atas maka teologi sebagai suatu cabang ilmu juga turut memberi kontribusi. Salah satunya ialah munculnya wacana Teologi Ekologi di dalam menyeimbangkan atau menetralisir dominasi paham antroposentris. Perkembangan Teologi Ekologi telah muncul sejak era tahun 1970-an. Cabang ilmu ini muncul karena adanya reaksi pihak Kristen terhadap berbagai anggapan yang memandang Kekristenan sebagai penyebab dibalik terjadinya krisis ekologi. Karena itu, hadirnya Teologi Ekologi hanya dengan maksud untuk kemudian menyanggah tuduhan yang ada dan kemudian turut melihat kontribusi dan kepentingan diri manusia yang begitu brutalnya mengeksploitasi alam guna mendapatkan apa yang diinginkan. Salah satunya upaya yang terlihat itu ialah konstruksi pemahaman tentang Autaklukanlah dan berkuasalahAy atas bumi. Dengan mengutip pandangan Pauline Viviano. Sensius Karlau menegaskan bahwa apa yang diperintahkan oleh Allah perihal Autaklukanlah dan berkuasalahAy itu bermakna positif oleh karena manusia sebagai yang menerima mandat itu diminta untuk melihat alam sesuai dengan apa yang menjadi maksud Allah. Hal ini penting sebab iman Kristen mengajarkan jikalau Allah yang menciptakan dan mengatur seluruh ciptaan-Nya dan karena itu ketika manusia ditempat ke dalam dunia dengan mandat Autaklukanlah dan berkuasalahAy itu semata-mata hanya untuk menggugah manusia agar dapat dengan arif dan bertanggungjawab mengelola alam ciptaan Tuhan. Dengan demikian, sikap dominasi manusia atas alam bisa diminimalisir Bahkan dalam taraf tertentu, alam dan segala yang ada di dalamnya harus bisa dilihat sebagai sesama oleh manusia. Paham ini tidak berlebihan sebab alam dalam perspektif lokal masyarakat Dawan dilihat sebagai yang memberi makanan dan Yusup. R Yuono. AuMelawan Etika Lingkungan Antroposentris Melalui Interpretasi Teologi Penciptaan Sebagai Landasan Bagi Pengelolaan-Pelestarian Lingkungan,Ay FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 2, no. : 191. Jan. S Aritonang (Penyuntin. Teologi-Teologi Kontemporer (BPK. Gunung Mulia, 2. , 202Ae3. Karlau. AuPenciptaan Manusia Sebagai Representatif Allah Untuk Mewujudkan Mandat Budaya Berdasarkan Kejadian 1:26-28,Ay 131Ae32. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 69-79 menjaga kestabilan hidup manusia. Itu menandakan bahwa ternyata sudah sejak lama masyarakat Dawan telah mampu hidup damai dengan alam. Uis Pah sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Timor Mencintai dan Merawat Alam Penggunaan istilah Uis Pah kadang secara negatif bisa dimaknai sebagai pemujaan pada alam. Tetapi, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menggugat makna ini, sebaliknya, secara positif kami akan memperlihatkan perspektif lain dalam memahami makna Uis Pah dan sumbangannya bagi masyarakat Timor untuk mencintai alam. Oleh karena itu. Uis Pah kami memberi makna sebagai kearifan lokal. Secara sederhana, kearifan lokal bisa dipahami sebagai suatu kesepakatan dan cara pandang masyarakat dalam wilayah tertentu akan suatu hal, yang pada gilirannya bisa menjadi instrumen atau nilai moral bagi masyarakat setempat. 20 Berangkat dari pengertian ini maka kemudian tidak berlebih jika kepercayaan Uis Pah masyarakat Timor kita terima sebagai kearifan lokal dalam menjaga hubungan baik manusia dan alam. Tesis ini juga sebenarnya sejalan dengan gagasan sakral Durkheim. Yang sakral itu harus dihargai. Masyarakat Timor memandang alam adalah ibu dan pemberi kehidupan. Karena itu, alam harus dirawat, sebab darinya kita bisa hidup melalui hulu-hasilnya. Dengan melihat alam sebagai sesuatu yang sakral, maka setidaknya itu juga turut membantu masyarakat Timor melestarikan alam, apabila kondisi alam Pulau Timor dikelilingi oleh kekeringan karena curah hujan yang rendah. Ini bukan hanya di wilayah Timor, tapi juga keseluruhan wilayah Nusa Tenggara Timur. Pada pihak yang lain juga, masyarakat sudah banyak menggunakan sampah plastik, dan itu juga memicu terjadinya krisis lingkungan. Maka dalam hemat kami, kearifan lokal ini juga bermakna mitos. Tetapi jangan memahami mitos sebagai cerita fiktif, melainkan jauh lebih dari itu, mitos memiliki peran sentral pembentuk identitas. Mengutip pandangan Wilkinson & Philip. Mia Angeline kemudian memaparkan 3 fungsi mitos. Pertama, sebagai jalan menuju kesucian hidup. Jellyan A Awang. AuDialog Kitab Keagamaan Terhadap Kearifan Lokal AoKepercayaan JingitiuAo Sebagai Upaya Memperbaiki Relasi Manusia Dan Alam,Ay Proskuneo Jurnal of Theology 1, no. : 2. Mustofa. AuKonsep Kesakralan Masyarakat Emile Durkheim: Studi Kasus Suku Aborigin Di Australia,Ay Ni Sarah Medo Ludji & Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo. AuGereja Masehi Injili Di Timordan Keberpihakan Pada Alam:Apresiasi Terhadap Liturgi Bulan Lingkungan Hidupdi Gereja Masehi Injili Di Timor,Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi,Pendidikan Agama Kristen Dan Musik Gereja 8, no. : 2. Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo & Arly Elizabeth Maria de Haan: Menimbang Ulang Konsep . Kedua, membantu masyarakat dalam sebuah wilayah mengelola tindakannya. Ketiga, sebagai upaya masyarakat suatu wilayah menjaga relasi dengan sesama, alam dan Tuhan. Dalam posisi ini maka kemudian tesis di atas makin memantapkan pemahaman Atoni Meto memandang alam sebagai bagian dari dirinya. Tradisi lama Atoni Meto memahami bahwa di alam, baik itu di tanah, pohon, bebatuan ada roh-roh yang tinggal Uis Pah bisa dimaknai sebagai ibu/dewi bumi. Konsep ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan makna ibu pertiwi, dimana tanah air Indonesia, rumah kita bersama, adalah tempat dimana kita dilahirkan, yang menjaga, membesarkan dan memberi kita kehidupan. Sebagai implikasinya, maka anakanak yang lahir di Pah Meto atau tanah Timor harus menjaga ibu yang telah memberinya Ini tidak berlebihan. Gereja juga kemudian bisa memanfaatkan ruang kearifan lokal ini untuk bisa menyerukan keberpihakan pada alam. Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) sebagai salah satu sinode yang melayani di wilayah Timor juga telah membangun teologi yang inklusif dalam hal mendialogkan iman dan budaya. GMIT melihat keduanya ini bisa saling mengisi sebagai instrumen kesaksian. 25 Kesaksian itu juga harus dihidupi melalui harmonisasi antara manusia dan alam. Ruang itu bisa dimanfaatkan melalui paham Uis Pah. Kesimpulan Uis Pah sesungguhnya adalah bentuk penghargaan yang tinggi da luhur dari masyarakat Timor terhadap alam semesta. Alam adalah ibu dan rumah besar bagi semua Alam juga adalah pemberi kehidupan bagi manusia. Jika alam rusak, maka manusia mengalami krisis pangan dan kehidupan. Pemaknaan ini adalah pemaknaan yang sungguh kontekstual pada alam ciptaan Tuhan. Atoni Meto akan dengan sadar mengakui bahwa alam adalah ibu kehidupan. Di taraf ini. Atoni Meto sebenarnya telah membangun gagasan atau pengetahuan lokal tentang bagaimana menjaga bumi atau tanah ia berpijak yang telah banyak berbuat baik baginya. Ini juga yang sesungguhnya harus diperhatikan oleh GMIT sebagai sinode yang melayani di daratan Timor untuk kemudian membuka diri berdialog dengan kebudayaan, sepanjang itu memberi suatu manfaat yang baik. Uis Pah bukan Mia Angeline. AuMitos Dan Budaya,Ay HUMANIORA 6, no. : 192. Lelboy Viktoria, dkk. AuFuah Pah: Communication Medium between the Dawan Community. Nature, and God,Ay Mysterium Fidei: Journal of Asian Empirical Theology 2, no. : 60. Arly Elizabeth Maria & Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo de Haan. AuSuanggi Dalam Perspektif Masyarakat Beragama Kristen Di Pulau Semau,Ay Danum Pambelum: Jurnal Teologi Dan Musik Gereja 5, 1 . : 89. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 69-79 bentuk puja berlebihan pada alam, tetapi bagian dari menghargai alam sebagai ibu pemberi kehidupan bagi masyarakat Timor. Pada akhirnya, kami menyadari bahwa tulisan ini hanya berfungsi sebagai pemantik diskusi berkelanjutan secara kontekstual akan pola relasi manusia dan alam. Kami membatasi tulisan ini dalam kerangka pemahaman sosologiteologis. Maka ke depan kami harapkan ada pembacaan secara baru dari pendekatan lain di dalam mengulas topik Uis Pah dan aktualisasi Atoni Meto menjaga alam. Kepustakaan Angeline. Mia. AuMitos Dan Budaya. Ay HUMANIORA 6, no. : 192. Aritonang (Penyuntin. Jan. Teologi-Teologi Kontemporer. BPK. Gunung Mulia, 2018. Awang. Jellyan A. AuDialog Kitab Keagamaan Terhadap Kearifan Lokal AoKepercayaan JingitiuAo Sebagai Upaya Memperbaiki Relasi Manusia Dan Alam. Ay Proskuneo Jurnal of Theology 1, no. : 2. Boy. Mikhael V. AuHauteas Is The Living Tree of The Dawanese People. Ay Lumen Veritas : Jurnal Filsafat Dan Teologi . https://doi. org/doi: 10. 30822/lumenveritatis. Darmalaksana. Wahyudin. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka Dan Studi Lapangan. Ay UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2020. Faesol. Achmad. Diktat Sosiologi Agama. IAIN Jember, 2020. Haan. Arly Elizabeth Maria & Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo de. AuSuanggi Dalam Perspektif Masyarakat Beragama Kristen Di Pulau Semau. Ay Danum Pambelum : Jurnal Teologi Dan Musik Gereja 5, no. : 89. Jacob. Fransisco. AuGereja Protestan Dan Kemiskinan di Timor Barat: Studi Historis Mengenai Sejarah Gereja Protestan di Timor Barat . Dan Dampaknya Terhadap Kemiskinan Di Timor Barat Pada Masa Kini. Ay Tesis. STFT Jakarta, 2020. Karlau. Sensius. AuPenciptaan Manusia Sebagai Representatif Allah Untuk Mewujudkan Mandat Budaya Berdasarkan Kejadian 1:26-28. Ay Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi 5, no. : 131. Khair. Nurul. AuPengaruh Sikap Profan Terhadap Paradigma Masyarakat Beragama Perspektif Emile Durkheim,. Ay Jurnal Sosiologi Agama Program Studi Sosiologi Agama. Fakultas Ushuluddin Dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta 14, no. : 205. Ludji. Ni Sarah Medo & Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo. AuGereja Masehi Injili Di Timordan Keberpihakan Pada Alam:Apresiasi Terhadap Liturgi Bulan Lingkungan Hidupdi Gereja Masehi Injili Di Timor. Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen Dan Musik Gereja 8, no. : 2. Muhdi. Djuretna A. Imam. Moral Dan Religi Menurut Emile Durkheim Dan Henri Bergson. Kanisius, 1994. Mustofa. Ahmad Z. AuKonsep Kesakralan Masyarakat Emile Durkheim: Studi Kasus Suku Aborigin di Australia. Ay Madani: Jurnal Politik Dan Sosial Kemasyarakatan 12, no. : 272Ae73. Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo & Arly Elizabeth Maria de Haan: Menimbang Ulang Konsep . Riska. AuEkoteologi Kristen: Teologi Penciptaan Dan Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan. Ay HUMANITIS: Jurnal Humaniora. Sosial Dan Bisnis 2, no. Ritzar. George & Douglas J. Goodman. Teori Sosiologi. Kreasi Warna, 1992. Somawati. Ayu V. AuUis Pah Dan Uis Neno Dalam Kepercayaan Suku Boti Di Timor Tengah Selatan. Nusa Tenggara Timur. Ay Prosiding Seminar Nasional Jurusan Brahma Widya: Mistisisme Nusantara, (Singaraj. : 129. Suminar. Erna. AuPersepsi Suku Boti Terhadap Lingkungan Hidup. Ay ENSAINS 1, no. : 92. Suni. Fredi. Mengenal Istilah Dan Arti Atoin Meto. July 3, 2025. https://w. com/2022/12/mengenal-istilah-dan-arti-atoin-meto. html?m=1. Viktoria, dkk. Lelboy. AuFuah Pah: Communication Medium between the Dawan Community. Nature, and God. Ay Mysterium Fidei: Journal of Asian Empirical Theology 2, no. : 60. Yuono. Yusup. AuMelawan Etika Lingkungan Antroposentris Melalui Interpretasi Teologi Penciptaan Sebagai Landasan Bagi Pengelolaan-Pelestarian Lingkungan. Ay FIDEI: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 2, no. : 191.