Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 ANALISIS KEBERLANJUTAN EKOWISATA LAHAN PASCA TAMBANG BUKIT KANDIS DI KABUPATEN BENGKULU TENGAH PROVINSI BENGKULU Yurike1*. Wiryono1. Aisah Lestari1 Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu. Bengkulu, 38371. Indonesia. E-Mail: yurike@unib. id (*Corresponding autho. Submit: 15-02-2024 Revisi: 26-08-2024 Diterima: 18-09-2024 ABSTRAK Analisis Keberlanjutan Ekowisata Lahan Pasca Tambang B ukit Kandis Di Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu. Lahan pasca tambang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata. Salah satunya ekowisata lahan pasca tambang Bukit Kandis. Wisata Bukit Kandis sempat menjadi primadona bagi wisatawan, namun saat ini kondisinya sudah tidak terawat lagi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis status indeks keberlanjutan ekowisata Bukit Kandis ditinjau dari sisi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan infrastruktur, kelembagaan dan kebijakan, serta menganalisis atribut-atribut sensitif apa saja yang mempengaruhi keberlanjutan ekowisata Bukit Kandis. Menggunakan pendekatan Multidimensional Scaling (MDS) dengan bantuan software Rap-Fish (The Rapid Appraisal for Fisherie. yang di modifikasi menjadi Rap-Tourism. Hasil penelitian menunjukkan secara umum status indeks keberlanjutan ekowisata Bukit Kandis diantaranya dimensi ekologi sebesar 66,54% . ukup berkelanjuta. , dimensi ekonomi sebesar 47,83% . urang berkelanjuta. , dimensi sosial budaya sebesar 56,99% . ukup berkelanjuta. , dimensi infrastuktur sebesar 52,68% . ukup berkelanjuta. , dimensi layanan ekowisata dengan nilai 48,13% . ategori kurang berkelanjuta. Atribut-atribut sensitif yang menjadi hambatan terhadap keberlanjutan ekowisata Bukit Kandis, diantaranya keanekaragaman landskap, rapatan tutupan, dana pengelolaan, kontribusi PA desa, kearifan lokal, pemberdayaan masyarakat, kejelasan kepemilikan, koordinasi antar lembaga, dan fasilitas persampahan. Hal-hal yang perlu menjadi perhatian adalah fasilitas umum yang rusak dan tidak berfungsi. Saat ini pengelolaan Bukit Kandis masih berada pada pemerintah daerah. Untuk itu pemerintah perlu memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan Bukit Kandis untuk mengelola kawasan tersebut agar lebih terawat dan dapat mengembangkan perekonomian masyarakat di sekitar kawasan. Kata kunci : Ekowisata. Keberlanjutan. Lahan pasca tambang. Multidimensi. ABSTRACT Ecotourism Sustainability Analysis of Post-Mining Kandis Hill Land in Central Bengkulu Regency. Bengkulu Province. Post-mining land has the potential to be developed into a tourist attraction. One of them is ecotourism on the Kandis Hill post-mining land. Kandis Hill tourism was once a favorite for tourists, but currently its condition is no longer maintained. The aim of this research is to analyze the status of the Kandis Hill ecotourism sustainability index in terms of ecology, economics, social, technology and infrastructure, institutions and policies, as well as analyzing what sensitive attributes influence the sustainability of Kandis Hill ecotourism. Using a Multidimensional Scaling (MDS) approach with the help of Rap-Fish (The Rapid Appraisal for Fisherie. software which was modified into Rap-Tourism. The research results show that in general the sustainability index status of Kandis Hill ecotourism includes the ecological dimension of 66. uite sustainabl. , the economic dimension of 47. 83% . ess sustainabl. , the socio-cultural dimension of 99% . uite sustainabl. , the infrastructure was 52. 68% . uite sustainabl. , the ecotourism service dimension was 48. 13% . ess sustainable categor. Sensitive attributes that are obstacles to the sustainability of Kandis Hill ecotourism include landscape diversity, dense cover, management funds, village PA contributions, local wisdom, community empowerment, clarity of ownership, coordination between This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Keberlanjutan Ekowisata A Yurike et al. institutions, and waste facilities. Things that need attention are public facilities that are damaged and not Currently, the management of Kandis Hill is still in the hands of the regional government. For this reason, the government needs to empower the community around the Kandis Hill area to manage the area so that it is better maintained and can develop the economy of the community around the area. Keywords : Ecotourism. Multidimensional. Post-mining land. Sustainability. PENDAHULUAN Lahan pasca tambang dan ekowisata memiliki hubungan yang kompleks dan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kondisi geologi dan lingkungan, potensi sumber daya alam dan budaya, dan kapasitas pengelolaan (Haridjaja et al. Dalam beberapa kasus, lahan pasca tambang dapat dikembangkan menjadi taman wisata atau tempat wisata alam dengan memanfaatkan potensi wisata dan sumber daya alam yang ada (Yuniarti. Namun, pengembangan ekowisata pada lahan pasca tambang juga memiliki beberapa hambatan dan tantangan, diantaranya masalah lingkungan, seperti menghilangkan keseimbangan ekosistem dan masalah sosial, seperti penolakan (Sudarti Hindiyati, 2. Oleh karena itu, penting untuk melakukan analisis menyeluruh dan ekowisata dilakukan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan, memperhatikan kepentingan masyarakat setempat dan lingkungan (Angela, 2. Dalam konsep pengembangan ekowisata pada lahan pasca tambang, penting untuk memastikan bahwa pengembangan ekowisata berorientasi pada pengembangan sumber daya alam Selain memperhatikan kepentingan lingkungan ekowisata dilakukan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Pada akhirnya, pengembangan ekowisata pada lahan pasca tambang dapat bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat setempat dan lingkungan, serta membantu memulihkan lahan tersebut dari kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas pertambangan. Pemanfaatan lahan pasca-tambang untuk tujuan ekowisata dapat berkontribusi pada pelestarian lingkungan, meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat, dan meningkatkan pengalaman pariwisata dan pendidikan (Chun & Lim, 2. Salah satu kawasan lahan bekas tambang yang dijadikan ekowisata alam adalah di Kawasan Bukit Kandis. Bukit Kandis terletak di Desa Durian Demang. Karang Tinggi. Kabupaten Bengkulu Tengah. Provinsi Bengkulu. Sebelumnya kawasan ini merupakan penambangan tanpa izin batu andesit oleh masyarakat. Aktivitas penambangan di Bukit Kandis ini dengan mengambil bebatuan alam dalam jumlah besar bahkan penggunaan dinamit secara sengaja untuk merusak alam dan kondisi perbukitan sehingga menjadi tandus dan panas mengakibatkan bukit tersebut menjadi tandus dan panas mengakibatkan bentuk bukit menjadi tidak utuh. Masyarakat yang mulai menyadari pentingnya konservasi dan menyerukan penutupan pertambangan dan restorasi pertambangan Bukit Kandis. Pada tahun 2018 atas kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pemerintah Provinsi Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Tengah melakukan transformasi Bukit Kandis yang rusak karena penambangan batu menjadi kawasan wisata alam yang mengangkat tema kawasan wisata alam minat khusus. Adapun kegiatannya meliputi olahraga panjat tebing, wisata fotografi, dan Potensi yang dimiliki kawasan ini adalah keindahan alam work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. perbukitan andesit serta keunikan keanekaragaman hayati tanaman durian dan asam kandis. Berkat keunggulan tersebut, pada tahun 2018 kawasan Bukit Kandis berhasil menduduki peringkat ke-3 dari sektor wisata olah raga dan petualangan Indonesia dalam ajang penghargaan yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata yaitu AuPariwisata Terpopuler Ae Anugerah Pesona Indonesia (API)Ay. Upaya restorasi kawasan utama Bukit Kandis menawarkan beberapa manfaat. Pertama, terdapat manfaat ekologis dari konversi kawasan penting menjadi kawasan yang lebih sejuk melalui restorasi lanskap. Kedua, keuntungan di sektor pariwisata. Hal ini perekonomian lokal. Namun saat ini kawasan Bukit Kandis sudah mulai sepi pengunjung di duga karena tidak ada lokasi foto yang terbaru dan perangkat pengunjung Bukit Kandis tersebut, ada beberapa pengunjung tetapi tidak sebanyak di tahun 2018-2019 pada saat baru dibentuk. Analisis ekowisata setelah penambangan batu harus mempertimbangkan aspek ekologi, sosial ekonomi, budaya, dan kelembagaan untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang (Harbottle et al. , 2008. Tom & Gurli, 2. Perlu dilakukan kajian dalam pengelolaan ekowisata Bukit Kandis di lihat dari berbagai sektor atau Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis keberlanjutan ekowisata lahan pasca tambang Bukit Kandis dilihat dari dimensi ekologi, ekonomi, sosial-budaya, hukumkelembagaan, dan infrastruktur-teknologi. METODA PENELITIAN Tempat dan Waktu ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Penelitian ini dilakukan di Kawasan ekowisata Bukit Kandis. Desa Durian Demang. Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu. Pada bulan Agustus-Oktober 2023. Metode Penelitian Penelitian pendekatan Multidimensional Scaling (MDS) dengan bantuan software Rap-Fish (The Rapid Appraisal For Fisherie. yang di modifikasi menjadi Rap-Tourism Responden diidentifikasi secara spesifik . urposive samplin. dan berjumlah 30 Pengumpulan data dilakukan melalui diskusi dan wawancara terhadap pakar . terkait yang dipilih, dan pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner 3 Analisis Data Analisis keberlanjutan ekowisata Bukit Kandis menerapkan teknik Multidimensional Scaling (MDS) dengan bantuan software Rap-Fish (The Rapid Appraisal For Fisherie. yang di modifikasi dalam Rap-Tourism (Fauzi. Analisis keberlanjutan ini, dinyatakan dalam indeks keberlanjutan. Tahapan kajian status keberlanjutan Menentukan atribut masingmasing dimensi. Atribut yang dipilih untuk setiap dimensi berasal dari hasil penelitian sebelumnya atau sumber lain. Selain itu, atribut ditentukan masukan dari diskusi dengan para ahli (Fauzi, 2. Memberikan penilaian atribut yang sudah disusun dalam skala ordinal . mulai dari angka 1 sampai dengan 5 dengan predikat buruk sampai dengan sangat baik. Menghitung keberlanjutan setiap rating atribut This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Keberlanjutan Ekowisata A Yurike et al. menggunakan skala multidimensi dengan menggunakan Rappflsh (Rapid Appraisal for Fisherie. yang dimodifikasi menjadi Rap- Tourism. Nilai skala indeks keberlanjutan serta kategori indeks (Tabel . Tabel 1. Kategori Indeks dan Status Keberlanjutan. Nilai Indeks Kategori 0,00 - 25,00 Buruk . idak berkelanjuta. 25,01 - 50,00 Kurang . urang berkelanjuta. 50,01 - 75,00 Cukup . ukup berkelanjuta. 75,01 - 100,00 Baik . angat berkelanjuta. Analisis Leverage dilakukan untuk mengetahui atribut apa saja yang sensitif dengan setiap dimensi keberlanjutan yang digunakan. Pengaruh setiap atribut dapat dilihat dalam bentuk perubahan root mean square (RMS). Semakin tinggi nilai RMS maka semakin sensitif atribut tersebut dalam (Kavanagh dan Pitcher, 2. Analisis Monte Carlo bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh gallat . dalam proses keberlanjutan (Fauzi, 2. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN Gambaran Umum Bukit Kandis Bukit Kandis berada di Desa Durian Demang. Kecamatan Karang Tinggi. Kabupaten Bengkulu Tengah. Provinsi Bengkulu. Jarak kawasan wisata Bukit Kandis dari pusat Kota Bengkulu kurang lebih 28 km dari dan 650meter dari persimpangan Jalan Desa Durian Demang. Nama Bukit Kandis diadopsi oleh masyarakat setempat karena perbukitan di sekitarnya dulunya dipenuhi pohon pohon asam kandis. Namun, karena maraknya eksploitasi tambang batu di kawasan tersebut, pohon asam kandis pun menjadi Bukit Kandis sebelumnya dikenal sebagai lokasi penambangan batu andesit Saat ini kawasan pertambangan tersebut telah menjelma menjadi destinasi Wisata Minat Khusus yang diangkat Wisata minat khusus pilihan masyarakat ini mempunyai ciri khas Sebagai bukit andesit. Bukit Kandis mempunyai pesona alam yang Berkat keindahannya. Bukit Kandis dinobatkan sebagai Objek Wisata Terpopuler Kementerian Pariwisata RI. Bukit Kandis mendapatkan peringkat 3 pada kategori AuWisata Olah Raga dan Petualangan IndonesiaAy pada acara penghargaan tahunan Anugerah Pesona Indonesia (API). Untuk mencapai puncak Bukit Kandis, wisatawan harus mendaki dengan medan cukup terjal. Namun begitu sampai di puncak bukit, pemandangan yang begitu indah akan membuat rasa lelah terobati. Status Indeks Keberlanjutan Ekowisata Bukit Kandis Analisis pengelolaan ekowisata di Bukit Kandis dilakukan menggunakan pendekatan work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Multi Dimensional Scaling (MDS) dengan rap-Tourism. Kerbelanjutan pengelolaan ekowisata Bukit Kandis dikaji melalui dimensi-dimensi yang telah ditetapkan, yaitu dimensi ekologi, sosial budaya, ekonomi, infrastruktur, serta hukum dan kelembagaan. Dimensi yang ditetapkan dibagi ke dalam atribut-atribut yang kemudian disesuaikan dengan kondisi riil di lapang dan diberikan skor pada masing-masing atribut. Indeks ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 keberlanjutan dengan rentang nilai 0% sampai 100%. Semakin besar nilai jawaban skor responden, maka semakin baik dampak berkelanjutan yang diberikan oleh atribut-atribut (Fauzi, 2. Ekologi Hukum dan Kelembagaan Ekonomi Infrastuktur Sosial dan Budaya Gambar 1. Diagram Layang Nilai Keberlanjutan Ekowisata Bukit Kandis. Tabel 1. Status Keberlanjutan Bukit Kandis. Dimensi Indeks Keberlanjutan Status Keberlanjutan Ekologi 66,54 Cukup Berkelanjutan Ekonomi 47,83 Kurang Berkelanjutan Sosial dan Budaya 56,99 Cukup Berkelanjutan Teknologi dan Infrastruktur 52,68 Cukup Berkelanjutan Hukum dan Kelembagaan 59,39 Cukup Berkelanjutan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Keberlanjutan Ekowisata A Yurike et al. Dimensi Ekologi Hasil analisis indeks keberlanjutan ekowisata Bukit Kandis dimensi ekologi sebesar 66,54% dengan kategori cukup Nilai indeks tersebut memiliki nilai paling tinggi. Hal ini membuktikan bahwa secara ekologi Bukit Kandis berkelanjutan dari aspek-aspek yang lain. Hasil hutan non kayu Bentang alam Rapatan tutupan Keanekaragaman landskap Intensitas longsor Keragaman fauna Gambar 2. Grafik Analisis Laverage Dimensi Ekologi. Terdapat tiga atribut yang sensitif terhadap keberlanjutan ekowisata, yaitu tutupan dan bentang alam. Keberlanjutan ekowisata sangat bergantung pada faktorfaktor ini. Daya tarik utama dari ekowitasa Bukit Kandis adalah pemandangan alamnya yang dinikmati dari puncak Bukit. Selain itu di atas Bukit Kandis ada danau yang menurut masyarakat tidak pernah kering walaupun di musim kemarau, seperti yang terlihat pada Gambar 3. Gambar 3. Wisata Bukit Kandis. Keanekaragaman merupakan salah satu aspek penting dalam mempertahankan daya tarik ekowisata (Kilmaskossu & Burwos, 2. Selain itu, lanskap, tutupan, dan bentang alam yang indah juga memainkan peran kunci memastikan keberlanjutan ekowisata (Asmin, 2. Oleh karena itu, pelestarian dan pengelolaan yang work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. bijaksana terhadap atribut-atribut ini sangat penting untuk memastikan keberlanjutan ekowisata. 4 Dimensi Ekonomi Dimensi ekonomi memiliki 6 atribut yang diperkirakan mempengaruhi tingkat keberlanjutan dimensi ekonomi dan nilai indeks keberlanjutannya sebesar 47,83% yang masuk dalam kategori Paket wisata Komoditas unggulan ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 kurang keberlanjutan. Pada dimensi ekonomi memiliki tiga atribut sensitif yaitu dana pengelolaan, kontribusi PA desa, peluang kerja. Atribut sensitif menunjukkan atribut tersebut memiliki potensi untuk dapat diintervensi sehingga dapat menambah nilai keberlanjutan ekowisata kedepannya (Hakim et al. Kontribusi PA desa Dana pengelolaan Peluang kerja Lama tinggal wisatawan Gambar 4. Grafik Analisis Laverage Dimensi Ekonomi. KLHK pada awalnya berencana akan menyerahkan aset objek wisata Bukit Kandis kepada Pemerintah Desa (Pemde. Durian Demang, karena objek Bukit Kandis sudah masuk dalam objek wisata Desa Wisata Durian Demang. Namun hingga saat ini belum ada serah terima resmi kepada Pemdes Durian Demang sehingga pihak desa tidak dapat mengelola atau mengembangkan objek wisata Padahal apabila dikelola dengan baik, maka objek wisata ini bisa menjadi kekuatan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADe. Peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADe. dapat pembangunan dan peningkatan pelayanan desa (Metalia et al. , 2. Selain itu, tentunya juga membuka kesempatan kerja bagi penduduk di sekitar kawasan Bukit Kandis, terutama bagi penduduk yang dulunya melakukan penambangan batu dapat dilibatkan dalam pengelolaan ekowisata Bukit Kandis. Peningkatkan penyerapan tenaga kerja di sektor wisata tentunya akan meningkatkan ekonomi local (Rojana et , 2. Dengan demikian, dimensi ekonomi dalam keberlanjutan ekowisata sangat penting untuk memastikan bahwa berdampak positif bagi lingkungan dan budaya tetapi juga bagi ekonomi masyarakat setempat. 5 Dimensi Sosial Budaya This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Keberlanjutan Ekowisata A Yurike et al. Salah satu faktor penting untuk ekowisata di Bukit Kandis adalah dimensi sosial budaya. Ekowisata yang berbasis masyarakat membutuhkan partisipasi aktif pengelolaan kegiatan ekowisata. Hal ini memastikan bahwa kegiatan ekowisata sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sosial-budaya setempat (Antoius, 2018. Penyuluhan kelestarian Putri et al. , 2. Dimensi sosial pada keberlanjutan ekowisata Bukit Kandis memiliki 6 atribut yang diperkirakan mempengaruhi tingkat keberlanjutan pada dimensi sosial budaya dengan nilai indeks keberlanjutannya sebesar 56,99% yang Sistem bagi hasil Pemberdayaan masyarakat Kearifan lokal Frekuensi pelatihan Potensi konflik Gambar 5. Grafik Analisis Laverage Dimensi Ekonomi. Terdapat tiga atribut yang sensitif terhadap keberlanjutan ekowisata yaitu kearifan lokal, pemberdayaan masyarakat dan frekuensi pelatihan. Kearifan lokal mencakup pelestarian budaya dan Memahami dan menghormati kearifan lokal adalah kunci untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Pengintegrasian kearifan lokal dalam pengelolaan dan promosi destinasi ekowisata dapat meningkatkan daya tarik dan autentisitas pengalaman bagi Putri et al. mengemukakan bahwa aspek sosial yang meliputi faktor warisan budaya, kearifan lokal, dan toleransi sosial-budaya menjadi faktor utama dalam mempertahankan sebuah praktik ekowisata. Hal ini memastikan bahwa kegiatan ekowisata tidak hanya berfokus pada keuntungan ekonomi tetapi juga pada pelestarian budaya dan Pemberdayaan melibatkan partisipasi dan manfaat Masyarakat setempat harus memiliki peran yang aktif dalam pengambilan keputusan terkait ekowisata untuk memastikan bahwa kegiatan wisata berdampak positif pada komunitas Partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan juga dapat meningkatkan konsensus, penerimaan, dan tanggung jawab, serta memperkuat (Teja. Pemberdayaan masyarakat membantu mengurangi kemungkinan eksploitasi work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. sumber daya alam dan meningkatkan kesadaran dalam menjaga lingkungan. Frekuensi pelatihan menjamin pemahaman dan penerapan praktik Atribut-atribut ini penting untuk memastikan bahwa ekowisata dapat berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan Mengadakan pelatihan secara teratur membantu memastikan bahwa pemahaman yang cukup tentang praktikpraktik memungkinkan mereka untuk terlibat lebih aktif dalam pengelolaan destinasi Pelatihan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian alam dan keberlanjutan dalam konteks ekowisata. Pengelolaan ekowisata oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDe. telah terbukti dapat meningkatkan pendapatan asli desa dan kemandirian masyarakat, sehingga mampu menggerakkan ekonomi perdesaan Leniwati & Aisah . Selain itu, analisis status keberlanjutan pemberdayaan masyarakat dan aktivitas pariwisata merupakan atribut yang sensitif dalam mendukung keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan di kawasan ekowisata (Reza et al. , 2. Oleh karena itu, keberhasilan pengelolaan ekowisata sangat bergantung pada upaya untuk mempertahankan kearifan lokal dan masyarakat setempat. Dimensi Infrastruktur Teknologi Dimensi infrastruktur memiliki 8 atribut yang diperkirakan mempengaruhi tingkat keberlanjutan pada dimensi infrastuktur dan teknologi dengan nilai indeks keberlanjutan sebesar 52,68% yang keberlanjutan tetapi masih sangat rentan bisa menjadi kurang berkelanjutan. Kondisi sinyal Papan penunjuk lokasi Fasilitas umum Penginapan Fasilitas persampahan Balai informasi Transportasi Akses jalan ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Gambar 6. Grafik Analisis Laverage Dimensi Infrastruktur Dan Teknologi. Analisis leverage menunjukkan bahwa fasilitas persampahan dinilai sebagai atribut yang sensitif. Hal ini karena tempat sampah yang ada sudah rusak sehingga kebanyakan pengunjung This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Keberlanjutan Ekowisata A Yurike et al. sembarangan di Bukit Kandis. Terlihat pada Gambar 6 beberapa keadaan infrastruktur di Bukit Kandis. Gambar 7. Keadaan Fasilitas Persampahan Di Bukit Kandis. Untuk fasilitas lainnya seperti balai informasi, toilet, ruang pertemuan sudah ada dibangun sejak tahun 2018. Namun, saat ini semua fasilitas tersebut sudah rusak parah tidak dapat digunakan lagi karena tidak dilakukannya perawatan. Hal ini terjadi karena status kawasan masih berada pada pemerintah daerah dan belum di serahkan kepada masyarakat desa sehingga masyarakat desa belum bisa untuk mengelolanya lebih lanjut. Jika di pungut biaya masuk untuk biaya perawatan dan kebersihan, masyarakat takut akan dilaporkan sebagai pungli. Oleh karena itu, fasilitas yang ada pada kawasan objek wisata Bukit Kandis tidak Menurut World Wildlife Fund, . penting menerapakan prinsip local ownership dalam ekowisata. Masyarakat setempat harus memiliki pengelolaan dan kepemilikan atas sarana dan prasarana ekowisata, termasuk kawasan ekowisata. Hal ini meningkatkan kesadaran dan lingkungan dan budaya mereka sendiri. Dimensi Hukum dan Kelembagaan Salah satu faktor penting untuk ekowisata di Bukit Kandis adalah dimensi sosial budaya. Dimensi sosial memiliki 8 atribut yang diperkirakan mempengaruhi tingkat keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan, dengan nilai indeks keberlanjutan sebesar 59,39% termasuk dalam kategori cukup berkelanjutan. work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Keterlibatan pemangku kepentingan ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Peraturan sanksi Koordinasi antar lembaga Kemitraan kolaborasi Dukungan pemerintah Kejelasan kepemilikan Lembaga pengelola Pedoman teknis Gambar 8. Grafik Analisis Laverage Dimensi Hukum Dan Kelembagaan. Atribut-atribut yang berpengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan terdiri dari keterlibatan pemangku kepentingan, peraturan dan sanksi, koordinasi antar lembaga, kemitraan kolaborasi, dukungan lembaga pengelola dan ketersediaan pedoman teknis. Adapun atribut yang sensitif adalah kejelasan kepemilikan, koordinasi antar lembaga dan lembaga Kepemilikan yang jelas ketidakpastian dan konflik terkait hak pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam. Jika masyarakat setempat keterlibatan dalam pengelolaan, hal ini dapat mendukung prinsip keberlanjutan dan memastikan kepentingan lokal Wisatawan juga harus sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan menghormati budaya daerah yang dikunjunginya (Mahdayani, 2. Keberlanjutan ekowisata sering kali memerlukan kerja sama lintas sektor dan lintas lembaga. Koordinasi yang efektif dapat membantu menghindari tumpang tindih dalam kebijakan, memaksimalkan pemanfaatan sumber daya, dan mencapai tujuan keberlanjutan dengan lebih efisien. Keberlanjutan ekowisata juga sangat tergantung pada kemampuan lembaga pengelolaan untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Lembaga ini harus memiliki kapasitas untuk memastikan bahwa kegiatan ekowisata sesuai dengan prinsip-prinsip keberlanjutan, melibatkan masyarakat setempat, dan memantau dampak lingkungan serta sosialnya. Dengan memahami, melindungi, dan mengelola dengan bijak atribut-atribut sensitif ini, destinasi ekowisata dapat menawarkan pengalaman yang menarik mempertahankan integritas lingkungan dan mendukung keberlanjutan jangka Upaya bersama dari pemerintah, masyarakat setempat, dan pihak swasta biasanya diperlukan untuk mencapai tujuan ini. KESIMPULAN Status ekowisata Bukit Kandis diantaranya dimensi ekologi sebesar 66,54% . ukup berkelanjuta. , dimensi ekonomi dengan nilai indeks sebesar 47,83% . urang berkelanjuta. , dimensi sosial budaya dengan nilai indeks sebesar 56,99% . ukup infrastuktur dan teknologi dengan nilai 52,68% . ukup berkelanjuta. , dimensi hukum dan kelembagaan dengan nilai indeks sebesar 59,39% . ukup berkelanjuta. Nilai-nilai This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Analisis Keberlanjutan Ekowisata A Yurike et al. ini masih sangat rentan bisa menjadi kurang berkelanjutan. Atribut-atribut sensitif yang menjadi ekowisata Bukit Kandis, diantaranya tutupan, dana pengelolaan, kontribusi PA desa, kearifan lokal, pemberdayaan koordinasi antar lembaga, fasilitas Hal-hal yang perlu menjadi perhatian adalah rusaknya fasilitas umum sehinga tidak bisa dimanfaatkan. Saat ini pengelolaan Bukit Kandis masih berada pada pemerintah daerah. Oleh karena itu, masyarakat di sekitar Bukit Kandis untuk mengelola kawasan tersebut sehingga dapat meningkatkan pemeliharaan Bukit Kandis perekonomian masyarakat di sekitar kawasan tersebut Antonius. Analisis keberlanjutan pengelolaan ekowisata ekosistem hutan rawa gambut pada kawasan taman wisata Alam Baning. PIPER, DOI: https://doi. org/10. 51826/piper. UCAPAN TERIMA KASIH Hakim. Ridwan. Asmara. Analisis status keberlanjutan ekowisata Boonpring di Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Jurnal Teknik Lingkungan dan Pengelolaan Limbah, 7. : 119. DOI: 10. 33021/jenv. Penulis mengucapkan terima kasih kepada LPPM Universitas Bengkulu dan Program Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam Universitas Bengkulu yang telah mendukung penelitian ini melalui Dana PNBP Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu kontrak nomor 3599/UN30. 11/HK/2023. DAFTAR PUSTAKA