HYMNOS Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon Volume 2 No. : 28-37 e-ISSN 3109-2586 DOI: https://doi. org/10. 64533/hymnos. Submitted, 28 Oktober 2025. Revised, 21 November 2025. Accepted, 11 Desember 2025. Published, 30 Desember 2025 DARI HAMBA MUSA MENJADI HAMBA TUHAN: KAJIAN TEOLOGIS NARATIF TRANSFORMASI IDENTITAS YOSUA Sindhunata Diobhema Mongkar1. Kezia Thesalonika Meilani Tawera2* Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta1,2 keziathesalonika31@gmail. Abstract: The shift in Joshua's title from mesharet Mosheh in Joshua 1:1 to ebed YHWH in Joshua 24:29 indicates a significant change in the meaning of Joshua's identity and leadership legitimacy. This shift is not merely terminological, but marks a transition of authority from human recognition to divine confirmation. This study aims to examine the theological meaning of this change of title in the context of Israel's leadership. The method used is qualitative through a literature study by examining relevant texts and academic literature. The results show that mesharet Mosheh describes the formation stage of Joshua's ministry under Moses, while ebed YHWH signifies the legitimacy given by God as a form of final confirmation. The conclusion of the study affirms that the change in title serves as a theological marker that reflects the process of authority formation in the book of Joshua. The implications of this study contribute to the development of the study of leadership theology and provide a conceptual contribution to the understanding of ecclesiastical leadership. Keywords: Joshua. Servant of Moses. Servant of God. Theology of Leadership. Abstrak: Pergeseran gelar Yosua dari mesharet Mosheh dalam Yosua 1:1 menjadi ebed YHWH dalam Yosua 24:29 menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam pemaknaan identitas dan legitimasi kepemimpinan Yosua. Pergeseran ini tidak bersifat terminologis semata, tetapi menandai transisi otoritas dari pengakuan manusiawi menuju pengukuhan ilahi. Penelitian ini bertujuan menelaah makna teologis dari perubahan gelar tersebut dalam kerangka kepemimpinan Israel. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui studi pustaka dengan menelaah teks dan literatur akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mesharet Mosheh menggambarkan tahap formasi pelayanan Yosua di bawah Musa, sedangkan ebed YHWH menandakan legitimasi yang diberikan oleh Allah sebagai bentuk pengesahan final. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa perubahan gelar tersebut berfungsi sebagai penanda teologis yang merefleksikan proses pembentukan otoritas dalam kitab Yosua. Implikasi penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan kajian teologi kepemimpinan dan memberikan kontribusi konseptual bagi pemahaman kepemimpinan gerejawi. Kata-kata kunci: Yosua. Hamba Musa. Hamba Tuhan. Teologi Kepemimpinan. Copyright A2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license. Pendahuluan Kitab Yosua menampilkan penyebutan mesharet Mosheh (Yos. dan ebed YHWH (Yos. sebagai struktur naratif yang mengarahkan pembacaan mengenai perkembangan identitas Yosua. Kaiser menunjukkan bahwa dinamika kepemimpinan Yosua tidak dapat dilepaskan dari proses formasi rohani yang dimulai sejak masa pendampingannya terhadap Musa,1 dan hal ini sejalan dengan analisis Hess yang melihat bahwa kitab Yosua menampilkan perkembangan peran pemimpin dalam bingkai teologis yang konsisten. 2 Dalam konteks yang lebih luas. Kaiser juga menekankan bahwa keseluruhan rencana Allah dalam Perjanjian Lama memosisikan kepemimpinan sebagai instrumen pemenuhan janji ilahi,3 sehingga perubahan gelar yang ditempatkan di awal dan akhir kitab dapat dipahami sebagai bagian dari konstruksi literer untuk menegaskan legitimasi teologis Yosua. Kajian-kajian mengenai sifat kepemimpinan Yosua telah menunjukkan beragam sudut pandang yang memperkaya pemahaman identitasnya. Agwae menekankan bahwa kesetiaan Yosua menjadi fondasi keteladanan kepemimpinannya,4 sementara Hutabarat menyoroti karakter dan kapasitas personalnya sebagai pemimpin yang efektif bagi umat. 5 Simanjuntak dan Butarbutar menambahkan bahwa keberanian dan ketaatan Yosua dalam Yosua 1:1-18 merupakan landasan teologis dari seluruh perannya dalam kitab ini. 6 Selain itu. Anderson memberikan konteks penting mengenai bagaimana nilai-nilai seperti belas kasih dan ketaatan dalam tradisi Israel memengaruhi pemahaman identitas pemimpin, 7 sehingga memperluas kerangka etis dalam membaca pembentukan identitas Yosua. Meskipun demikian, kajian-kajian ini belum membahas secara langsung bagaimana gelar digunakan sebagai perangkat naratif untuk membentuk identitas pemimpin. Perspektif mengenai suksesi Musa-Yosua juga memberikan kontribusi signifikan dalam memahami transformasi identitas tersebut. Craun menekankan bahwa suksesi dalam Perjanjian Lama tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga merupakan proses pembentukan karakter dan legitimasi spiritual,8 sedangkan Markes memandang model suksesi ini relevan bagi regenerasi kepemimpinan gerejawi masa kini. 9 Lee menafsirkan bahwa kepemimpinan Musa Walter C. Kaiser Jr. Joshua: A True Servant Leader (Biblical Character Studies Serie. (Messianic Jewish Publishers, 2. Richard S. Hess. Joshua: An Introduction And Commentary (Downers Grove. Illinois: Inter-Varsity Press. Walter C. Kaiser Jr. The Promise-Plan of God: A Biblical Theology of the Old and New Testaments (Grand Rapids. Michigan: Zondervan, 2. Genesis Othuke AGWAE. AuReward for Faithfulness in Christian Leadership: The Example of Joshua,Ay AICI Journal of Humanities and Social Science 3, no. : 62Ae70. Reymand M Hutabarat. AuCharacteristics Of Joshua As A Leader,Ay Jurnal Koinonia: Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia 8, no. : 19Ae24. Pahala Jannen Simanjuntak and Surya Letare Butarbutar. AuBe Strong and Very Courageous (Biblical Theology Review on Leadership in Joshua 1: 1-. ,Ay Studium Biblicum 1, no. Gary A. Anderson. Charity: The Place of the Poor in the Biblical Tradition (New Haven and London: Yale University Press, 2. Justin R Craun. AuSuccession Planning from Moses to Joshua,Ay in Biblical Succession Planning: Lessons from Scripture for Contemporary Organizational Leadership (Springer, 2. , 5Ae17. Karlitu Dias Markes. AuSuksesi Kepemimpinan Musa Kepada Yosua Sebagai Model Regenerasi Kepemimpinan Kristen Masa Kini,Ay BONAFIDE: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 2, no. : 214Ae36. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 sebagai hamba Tuhan menjadi pola teologis yang diteruskan kepada Yosua,10 sedangkan Krause menyoroti bahwa kitab Yosua menyusun narasi suksesi sebagai penegasan otoritas pascaMusa. 11 Kajian-kajian ini memperkuat konteks teologis dari transformasi identitas Yosua, meskipun belum menelaah fungsi gelar secara khusus sebagai perangkat naratif. Kajian tentang otoritas, identitas, dan perangkat literer dalam tradisi Israel memberikan landasan metodologis untuk penelitian ini. Routley menunjukkan bahwa aspek profetik kepemimpinan Yosua sering diabaikan,12 sementara Schmid menegaskan bahwa otoritas dalam Israel kuno dibentuk melalui dinamika tekstual yang kompleks. 13 Toczyski, melalui analisis literer terhadap kisah Rahab, memperlihatkan bagaimana kitab Yosua menggunakan konstruksi naratif untuk membentuk identitas tokoh-tokohnya,14 sedangkan Gulo dan Hura menekankan pentingnya integritas dalam memahami kepemimpinan Yosua sebagai representasi umat Tuhan. 15 Masing-masing studi ini mengungkapkan berbagai aspek identitas Yosua, tetapi belum memberikan analisis yang eksplisit mengenai peran gelar dalam pembentukan identitas Berdasarkan interaksi terhadap seluruh penelitian terdahulu, studi ini diarahkan untuk menelaah transformasi gelar Yosua sebagai sebuah perangkat naratif-teologis yang strategis. Dengan menganalisis posisi dan fungsi gelar dalam bingkai prolog-epilog kitab, penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana narasi Yosua membangun transisi identitas dari mesharet Mosheh, yang menegaskan peran pelayanan manusiawi, menuju ebed YHWH, yang mengekspresikan legitimasi ilahi. Penekanan pada dinamika gelar memungkinkan penelitian ini memberikan kontribusi bagi diskursus akademis mengenai konstruksi identitas kepemimpinan dalam teologi Perjanjian Lama. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur karena tujuan utamanya adalah memahami makna teologis yang terkandung dalam teks kitab Yosua, khususnya terkait perubahan gelar Yosua dari mesharet Mosheh menuju ebed YHWH. Pendekatan ini dipilih karena penelitian teologis berpusat pada interpretasi makna dan pemahaman mendalam terhadap fenomena yang diteliti, bukan pada analisis numerik. Sugiyono menegaskan bahwa penelitian kualitatif berorientasi pada penafsiran makna dan pemahaman Saya Lee. AuA Reconsideration on the Leadership of Moses as the Servant of the Lord,Ay Journal of HumanCentric Research and Social Sciences 1, no. : 27Ae32. Joachim J Krause. AuPost Mortem Mosi: Conceptualizing Leadership in the Book of Joshua,Ay Dalam Debating Authority: Concepts of Leadership in the Pentateuch and the Former Prophets. Peny. Katharina Pyschny and Sarah Schulz, 2018, 193Ae205. Jonathan J Routley. AuTHE PROPHET JOSHUA? THE NEGLECTED MINISTRY OF THE PROPHET OF THE CONQUEST. ,Ay Journal of the Evangelical Theological Society 65, no. Konrad Schmid. AuTextual Authority in Ancient Israel and Judah: Factors and Forces of Its Development,Ay T. Nicklas/J. Schryter (Hg. Authoritative Writings in Early Judaism and Early Christianity. Their Origin. Collection, and Meaning (WUNT . Tybingen, 2020, 5Ae21. Andrzej Toczyski. AuIdentity and Otherness in the Rahab Story. Analysis of the Rahab Speech (Josh 2: 9Ae . ,Ay The Biblical Annals 14, no. 71/4 . : 557Ae65. Yusak Kurniawan Gulo and Melianus Hura. AuIntegritas Kepemimpinan Yosua Dan Implikasinya Bagi Pemimpin Umat Tuhan Masa Kini,Ay Jurnal Teologi Injili 3, no. : 94Ae112. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 yang mendalam atas realitas yang sedang dikaji. 16 Pendekatan ini kemudian dipadukan dengan metode naratif-teologis karena kitab Yosua disusun dalam bentuk kisah historis yang memiliki struktur naratif yang kuat. Alter menjelaskan bahwa Alkitab merupakan Ayprosa naratif terbesar dalam sejarah,Ay sehingga analisis terhadap alur, tokoh, dan simbol merupakan sarana untuk memahami pesan teologisnya. 17 Pandangan ini diperkaya oleh Bar-Efrat yang menegaskan bahwa narasi Alkitab berfungsi untuk menyingkapkan relasi antara Allah dan manusia melalui tokohtokoh yang dihadirkan dalam cerita, sehingga narasi bukan sekadar medium estetis, melainkan sarana pewahyuan ilahi. 18 Oleh karena itu, metode naratif-teologis dipandang paling tepat untuk menelaah dinamika perubahan gelar Yosua sebagai bagian dari penyataan Allah dalam sejarah umat-Nya. Langkah-langkah penelitian disusun secara sistematis mengikuti prinsip kualitatif dan kerangka naratif-teologis. Pertama, pengumpulan data dilakukan dengan menelaah teks Alkitab, terutama Yosua 1:1 dan 24:29, serta literatur akademik yang relevan dengan kepemimpinan dan narasi Alkitab. Kedua, reduksi data dilakukan dengan memilih istilah kunci yang berhubungan langsung dengan fokus penelitian, yaitu mesharet Mosheh dan ebed YHWH, sambil menyisihkan data yang tidak mendukung analisis. Ketiga, analisis naratif-teologis dilakukan dengan mengkaji unsur struktural seperti alur, tokoh, dan dinamika cerita untuk menemukan makna teologis perubahan gelar Yosua, sebagaimana prinsip yang dijelaskan oleh Alter dan Bar-Efrat. 19 Keempat, sintesis teologis dilakukan dengan mengintegrasikan hasil analisis naratif ke dalam tema luas teologi kepemimpinan dalam kitab Yosua. Kelima, penarikan kesimpulan dilakukan dengan merumuskan pesan teologis mengenai identitas Yosua sebagai pemimpin yang diakui Allah. Melalui pendekatan ini, penelitian diharapkan menghasilkan pembacaan yang utuh, di mana analisis naratif dan teologis saling melengkapi untuk mengungkap kebenaran teologis yang dikomunikasikan teks. Temuan dan Pembahasan Yosua 1:1 Mesharet Mosheh: Identitas Awal Sebagai Pelayan Musa Kitab Yosua dimulai dengan penegasan identitas tokoh utama: AuSesudah Musa, hamba TUHAN, mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu. Ay Penyebutan Yosua sebagai mesharet Mosheh (A)A A A iA menandai statusnya sebagai pelayan setia, bukan pemimpin yang muncul tiba-tiba. Dalam struktur naratif, frasa ini berfungsi sebagai epilog kepemimpinan Musa sekaligus prolog perjalanan Yosua, yang menegaskan kesinambungan otoritas rohani di bawah bimbingan ilahi. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2. , 9. Robert Alter. The Art Of Biblical Narrative (New York: Basic Books, 1. , 12Ae13. Shimon Bar-Efrat. Narrative Art in the Bible (England: Sheffield Academic Press, 1. , 9Ae11. Alter. The Art Of Biblical Narrative, 12Ae13. Bar-Efrat. Narrative Art in the Bible, 9Ae11. David G Firth. AuDisorienting Readers in Joshua 1. 1Ae5. 12,Ay Journal for the Study of the Old Testament 41, 4 . : 413Ae30. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Kata mesharet berasal dari akar Ibrani Arat (A )A Amemiliki arti yaitu melayani atau menjalankan tugas keagamaan. 21 Di Dalam konteks Alkitab, kata ini menunjukkan sebuah partisipasi aktif dalam pelayanan rohani. 22 Maka dari itu istilah mesharet Mosheh menggambarkan proses pembentukan karakter dan spiritualitas melalui pengabdian, bukan hanya posisi administratif. 23 Penggambaran ini sejalan dengan narasi perjalanan rohani Yosua, yang melalui masa panjang menjadi pelayan Musa . esharet Moshe. , dibentuk untuk menjadi Aoebed YHWH . amba Tuha. setelah kematian Musa. 24 Pandangan ini diperkuat oleh penelitian terbaru yang menegaskan bahwa proses pembentukan kepemimpinan Yosua merupakan bagian dari perubahan identitas rohani bangsa Israel secara keseluruhan. 25 Penulis kitab secara langsung menonjolkan fase ini agar pembaca memahami bahwa kepemimpinan Yosua dibangun melalui pengalaman pengabdian di bawah otoritas Musa. Melihat dalam konteks historis, pada saat itu bangsa Israel sedang berada di masa transisi besar yaitu dari generasi yang ada padang gurun sampai pada generasi yang menaklukkan bangsa Kanaan. Narasi awal ini menempatkan sosok Yosua sebagai representasi generasi baru yang belajar dari iman dan kesalehan pendahulunya. Maka dari itu gelar mesharet Mosheh adalah bagian dari pembentukan karakter pemimpin yang tidak terpisahkan dari keadaan historis bangsa Israel. Dari sisi teologis sendiri gelar ini menampilkan sebuah prinsip bahwa pelayanan mendahului mandat. Dengan demikian, penyebutan ini menunjukkan bahwa otoritas rohani tidak diwariskan secara otomatis, melainkan harus melalui proses pembentukan yang disertai dengan ketaatan panjang di bawah bimbingan Allah sendiri. Melihat dari sudut pandang naratif, penyebutan gelar Yosua ini memiliki dua fungsi yaitu: pertama adalah untuk menanamkan kredibilitas terhadap tokoh Yosua yang mana ia terbukti setia mendampingi Musa sampai pada kematiannya. dan kedua adalah untuk menunjukan bahwa kepemimpinan yang sejati lahir dari kesetiaan dalam pelayanan. Firth menambahkan bahwa pembukaan kitab Yosua . :1-5:. sengaja dirancang untuk mengalhkan perhatian pembaca dari figur Musa kepada seorang pribadi baru yang memiliki ketundukan pada otoritas ilahi, bukan sekadar pada sosok manusia. 26 Maka dari itu penyebutan mesharet Mosheh bukan sekadar catatan biografis Yosua, melainkan sebuah pernyataan teologis sebagai awal proses pembentukan seorang pemimpin. Gelar awal yang didapatkkan Yosua ini ingin menunjukkan bahwa Allah membangun kepemimpinan rohani melalui pelayanan dan ketaatan yang menghadapi ujian dalam waktu. Hal ini dikarenakan menjadi pemimpin sejati dalam pandangan Francis Brown. Driver, and Charles A. Briggs. A Hebrew And English Lexicon Of The Old Testament: With An Appendix Containing The Biblical Aramaic - Based On The Lexicon Of William Gesenius (London: Oxford University Press, 1. , 1049. Ludwig Koehler and Walter Baumgartner. The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament (Leiden. The Netherlands: Koninklijke Brill, 2. Michael Udoekpo. AuServant Leadership and the Hebrew Concept of Ministry in the Old Testament,Ay Biblical Theology Bulletin 49, no. ): 44Ae54. Daniel G Oprean. AuJoshuaAos Journey of Discipleship,Ay Kairos: Evangelical Journal of Theology 17, no. : 179Ae88. Joshua Seth Houston. AuBecoming Israelite: Joshua 5: 2Ae9 as the Final Stage of Shedding Egyptian Mores,Ay Religions 15, no. : 935. Robin Baker. AuNarrative Disjunction. Artful Occlusion, and Cryptic Commentary in Joshua 1Ae12,Ay Religions 15, no. : 388. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Alkitab bukanlah hasil ambisi manusia, tetapi hasil dari kesetiaan yang didapatkan dari pengabdian yang tulus. Yosua 24:29 Ebed YHWH: Identitas Akhir Sebagai Hamba TUHAN Pada bagian epilog. Yosua disebut ebed YHWH (A)AcA e o iiAiA, di mana ini adalah gelar yang sama digunakan oleh Musa (Ul. Pemberian gelar ini memiliki bobot teologis yang mana ini adalah pengakuan ilahi atas kesetiaan dan ketaatan Yosua sepanjang hidupnya dalam melayani TUHAN. Bagian ini berfungsi sebagai puncak penutup yang makin menegaskan bahwa kehidupan yang dijalani oleh Yosua sudah memenuhi rencana Allah bagi umat Israel. Secara bahasa, kata ebed berarti Ayhamba,Ay tetapi jika dilihat dalam konteks teologi PL, istilah ini mengandung konotasi kovenantal. 27 Gelar Ebed YHWH bukan sekadar berarti pekerja Tuhan, tetapi orang yang benar-benar hidup dalam ketaatan penuh kepada kehendak-Nya. Maka dari itu perubahan dari abdi Musa menjadi hamba TUHAN merepresentasikan pergeseran otoritas: dari hubungan manusiawi menuju pengakuan langsung oleh Allah. Penulis kitab menggunakan perubahan gelar Yosua ini sebagai puncak teologis. Baker menunjukkan bahwa kitab Yosua disusun dengan pola Aydisjunction and occlusion,Ay yakni cara penyusunan yang membuat bagian akhir kitab menjadi interpretasi penting terhadap awal kitab. Dengan kata lain, keseluruhan narasi tentang Yosua ini diakhiri dengan sebuah pernyataan pengesahan ilahi atas seluruh proses yang dimulai dari pelayanannya di bawah Musa. Penyebutan ebed YHWH bukan sekadar penutup semata, melainkan deklarasi teologis yang menyatakan bahwa kepemimpinan Yosua kini diakui sepenuhnya oleh Allah. Pemberian gelar ini juga menunjukkan bahwa legitimasi rohani sejati datang dari kesetiaan terhadap kehendak Allah, bukan dari sekadar pewarisan jabatan saja. Perubahan besar ini menandai puncak spiritual dalam seluruh narasi Yosua. Penulis kitab juga secara jelas mengakhiri kisah Yosua ini bukan dengan kemenangan perang ataupun kesuksesan pribadinya selama menjadi pemimpin, melainkan dengan sebuah legitimasi spiritual. Pergeseran gelar dari mesharet ke ebed menegaskan bahwa kepemimpinan sejati diukur bukan oleh hasil kemenangan perang dan penaklukan, tetapi oleh kesetiaan dan juga ketaatan kepada Allah. Pergeseran ini juga sekaligus membentuk sisi teologis tentang kepemimpinan yang bersifat AytransendenAy yang mana pemimpin sejati adalah hamba Allah atau wakil-Nya di dunia, bukan penguasa mutlak atas umat karena pada dasarnya umat adalah milikNya. Dari sudut pandang naratif-teologis, perubahan gelar tersebut juga merupakan bagian dari rencana besar Allah dalam mempersiapkan pemimpin-pemimpin rohani berikutnya untuk selalu membawa umat-Nya kepada ketaatan yag penuh akan segala perintah-Nya. Sintesis: Dari Pelayanan Manusiawi Menuju Legitimasi Ilahi Ketika melihat prolog dan epilog kitab Yosua yaitu dalam Yosua 1 dan Yosua 24 secara bersamaan maka akan diperlihatkan sebuah narasi yang konsisten yaitu kitab ini dimulai dengan identitas pelayanan . esharet Moshe. dan diakhiri dengan identitas pengakuan ilahi . bed Toczyski. AuIdentity and Otherness in the Rahab Story. Analysis of the Rahab Speech (Josh 2: 9Ae. Ay Baker. AuNarrative Disjunction. Artful Occlusion, and Cryptic Commentary in Joshua 1Ae12. Ay HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 YHWH). Kedua identitas ini membentuk suatu progresi teologis yang menegaskan bahwa Allah sendiri yang mengangkat dan juga meneguhkan seorang pemimpin. Hal ini sejalan dengan penelitian Toczyski yang menunjukkan bahwa konstruksi identitas dalam kitab Yosua memiliki fungsi ideologis untuk menampilkan transformasi karakter dan iman umat. 29 Sementara itu. Jenei menemukan bahwa narasi kitab Yosua dan Hakim-Hakim memakai strategi inklusi untuk menunjukkan bagaimana Allah memasukkan orang lain ke dalam rencana-Nya, yang menandakan sifat kepemimpinan yang terbuka dan partisipatif. 30 Dengan demikian, transformasi Yosua dari mesharet menjadi ebed menggambarkan proses pembentukan pemimpin yang berpusat pada relasi, kesetiaan, dan ketaatan. Kepemimpinan dalam sudut pandang Alkitab bukanlah sekadar status, tetapi sebuah proses pembentukan rohani di mana Allah menjadi pusat Selain itu transformasi dari mesharet Mosheh menjadi ebed YHWH menunjukkan sebuah perjalanan teologis seorang pemimpin Israel dari manusiawi menuju ilahi. Melihat hal ini, kitab Yosua sendiri tidak hanya sekadar mencatat peristiwa sejarah penaklukan Kanaan oleh bangsa Israel, melainkan juga menunjukkan sebuah gambaran kepemimpinan yang berasal pada spiritualitas pelayanan yang sudah dikerjakan. Gambaran ini menegaskan suatu prinsip progresif dalam teologi kepemimpinan dalam PL di mana otoritas sejati bisa muncul dari ketaatan yang penuh pada Allah yang mana puncak dari pengakuan ilahi diberikan bukan karena pencapaian, melainkan kesetiaan tersebut. Melihat dari sudut pandang naratif, kitab Yosua sendiri membentuk struktur inclusio yang Hal ini diawali dengan pelayan manusia . esharet Moshe. dan diakhiri dengan hamba Allah . bed YHWH). Perubahan ini juga menggambarkan proses transformasi yang sejalan dengan perjalanan iman bangsa Israel itu sendiri, yang dipanggil dari ketergantungan kepada sosok Musa menjadi sebuah ketaatan langsung kepada Allah. Dengan begitu, narasi Yosua bukan hanya berbicara tentang seorang individu, tetapi juga sebuah refleksi teologis dari identitas umat pilihan Allah yang terus mengalami proses pembentukan melalui sosok pemimpin yang setia. Selain itu, secara teologis, perubahan gelar Yosua menegaskan sebuah pemahaman bahwa legitimasi kepemimpinan adalah tindakan yang berasal Allah sendiri, dan bukan sekadar hasil hasil pemilihan manusia. Hal yan harus dipahami adalah bahwa Allah berdaulat dalam memilih dan mengangkat siapa pun yang setia. Maka dari itu kisah tentang Yosua ini merepresentasikan sebuah gambaran ilah dari pengabdian manusiawi menuju pengakuan Hal ini juga sekaligus menjadi gambaran keteladanan yang umum bagi setiap pemimpin Kemudian kisa Yosua ini juga menunjukkan bahwa otoritas tertinggi bukanlah hasil pewarisan oleh manusia, melainkan berasal dari proses perjalanan hidup yang berkenan di hadapan Allah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perubahan gelar Yosua dari mesharet Mosheh . bdi Mus. menjadi ebed YHWH . amba TUHAN) mempunyai makna yang lebih dalam daripada sekadar perbedaan tulisan saja. Perubahan ini menggambarkan sebuah proses rohani Toczyski. AuIdentity and Otherness in the Rahab Story. Analysis of the Rahab Speech (Josh 2: 9Ae. Ay Pyter Jenei. AuStrategies of Stranger Inclusion in the Narrative Traditions of Joshua-Judges: The Cases of RahabAos Household, the Kenites and the Gibeonites,Ay Old Testament Essays 32, no. : 127Ae54. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 dalam perjalanan seorang pelayan Allah dari tahap pembentukan menuju pengakuan. Analisis terhadap struktur kitab, konteks historis, dan makna teologis menunjukkan beberapa temuan penting berikut. Pertama, secara naratif, penyebutan gelar pada awal dan akhir kitab menunjukkan adanya model cerita yang berpusat pada perubahan identitas. Bagian awal memperlhatkan Yosua sebagai pelayan yang selalu belajar dan menunjukkan kesetiaan di bawah bimbingan Musa, sedangkan pada bagian akhir menunjukkan Yosua sebagai pemimpin yang mendapatkan pengakuan oleh Allah. Ini menunjukkan adanya kesinambungan cerita yang menggambarkan perjalanan spiritual Yosua dari fase pembelajaran menuju fase Seluruh kisah Yosua ini membentuk suatu jembatan naratif yang menandai transformasi karakter dan otoritas. Kedua, secara teologis dinyatakan bahwa perubahan gelar Yosua menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan sejati hanya bersumber dari Allah. Gelar mesharet memperlihatkan adanya kesetiaan dalam pelayanan, sedangkan gelar ebed memperlihatkan adanya pengakuan Allah atas kesetiaan yang sudah diberikan oleh Yosua. Dengan begitu pergeseran gelar ini bukan sekadar transisi jabatan, melainkan sebuah pernyataan bahwa otoritas rohani hanya diberikan kepada mereka yang mendasari kepemimpinannya pada pengabdian dan ketaatan kepada kehendak Allah. Perubahan gelar Yosua ini menjadi tanda bahwa Allah sendiri yang mengakuinya sebagai pemimpin yang hidup di bawah perintah-Nya. Ketiga secara teologis-naratif, penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan gelar Yosua juga dapa digunakan sebagai cermin perjalanan iman bangsa Israel. Sama seperti Yosua yang berprogres dari pelayan manusia menuju hamba Allah, bangsa Israel juga dimaksudkan untuk berpindah dari ketergantungan kepada sosok pemimpin menuju ketundukan kepada Allah. Di sini perubahan gelar Yosua bukan hanya pernyataan yang bersifat pribadi, tetapi juga gambaran tentang pembentukan identitas umat Allah. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa perubahan gelar Yosua dari mesharet Mosheh . amba Mus. dalam Yosua 1:1 menjadi ebed YHWH . amba TUHAN) dalam Yosua 24:29 merupakan pernyataan teologis yang menandai pergeseran otoritas dari legitimasi manusiawi menuju legitimasi ilahi. Transformasi ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan Yosua dibentuk melalui proses pendampingan dan pelayanan, sehingga otoritasnya tidak muncul secara instan tetapi melalui formasi rohani yang teruji. Istilah mesharet menjelaskan posisi awal Yosua sebagai pelayan Musa, sedangkan ebed menunjukkan pengakuan teologis yang diberikan Allah sebagai legitimasi tertinggi. Penempatan kedua gelar pada awal dan akhir kitab menegaskan bahwa identitas kepemimpinan Yosua dibingkai secara sengaja untuk menunjukkan perkembangan otoritasnya di hadapan Allah, sekaligus meneguhkan kesetaraan statusnya dengan Musa dalam hal pengakuan ilahi. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dengan menunjukkan bahwa perubahan gelar Yosua bukan sekadar penanda biografis, melainkan perangkat teologis yang menafsirkan ulang identitas kepemimpinan Israel. Temuan ini menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan dalam kitab Yosua tidak diwariskan secara otomatis melalui suksesi struktural, tetapi melalui proses pelayanan, ketaatan, dan kesetiaan yang kemudian dikonfirmasi oleh Allah sendiri. Dengan demikian, penelitian ini memperluas pemahaman mengenai bagaimana teks Alkitab HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 memaknai kepemimpinan bukan sebagai fungsi administratif, tetapi sebagai identitas rohani yang dibentuk oleh keterlibatan Allah dalam sejarah umat-Nya. Daftar Pustaka