P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Peran keberadaan pondok pesantren terhadap peningkatan perekonomian masyarakat sekitarnya : . tudi kasus pondok pesantren Girikesum. Nabil Mubarok Effendi1. Muhammad Kholiq Maulana 2. Ratih Pratiwi3. Prodi Manajemen. Universitas Wahid Hasyim,Kota Semarang. E-mail: 1beating643@gmail. com , rara@unwahas. ABSTRAK Penelitian ini menyelidiki bagaimana Pesantren Girikesumo di Demak berkontribusi pada kondisi ekonomi masyarakat sekitarnya. Metode deskriptif kualitatif digunakan. Hasil menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya memberikan pendidikan agama, tetapi juga memainkan peran yang signifikan dalam meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar. Contohnya adalah unit usaha pesantren, seperti Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP), yang membuat air minum "Banyu Giri", dan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan ekonomi, baik di dalam maupun di luar Misalnya, tenaga pengajar, petugas keamanan, restoran, toko, layanan fotokopi, laundry, dan bisnis katering. Pesantren juga mendorong sirkulasi ekonomi lokal yang berkelanjutan dan menawarkan peluang kerja bagi penduduk lokal. Akibatnya. Pondok Pesantren Girikesumo memiliki potensi untuk membawa perubahan sosial dan ekonomi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Kata Kunci: Pesantren, ekonomi masyarakat, pemberdayaan ekonomi. BUMP, kesejahteraan ABSTRACT This study investigates how the Girikesumo Islamic boarding school in Demak contributes to the economic conditions of the surrounding community. A qualitative descriptive method was used. The results show that the pesantren not only provides religious education, but also plays a significant role in improving the economy of the surrounding community. Examples include pesantren business units, such as the Pesantren-Owned Enterprise (BUMP), which produces AuBanyu GiriAy drinking water, and community participation in various economic activities, both inside and outside the For example, teaching staff, security officers, restaurants, shops, photocopying services, laundries, and catering businesses. The pesantren also encourages sustainable local economic circulation and offers employment opportunities for local residents. As a result, the Girikesumo Islamic Boarding School has the potential to bring about social and economic change, which in turn can improve the welfare of the community. Keywords: Islamic boarding school, community economy, economic empowerment. BUMP. PENDAHULUAN Salah satu potensi penting yang dapat dikembangkan pesantren adalah aspek sosial-ekonomi. Keberadaan pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga dapat berperan sebagai motor penggerak ekonomi dengan membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Dhofier . alam Sulaiman, 2. mencatat adanya pergeseran paradigma dalam pesantren. Orientasi pesantren kini tidak terbatas pada mencetak kiai, ahli hadis, atau pengkaji kitab kuning, melainkan juga melahirkan sumber daya manusia yang memiliki wawasan luas, menguasai berbagai bidang ilmu, serta mampu mengintegrasikan pengetahuan agama dengan ilmu umum Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. yang relevan bagi kebutuhan sosial Sejalan dengan meluasnya fungsi pendidikan tersebut, penguatan aspek ekonomi menjadi tuntutan yang tidak dapat diabaikan. Ekonomi merupakan penopang utama yang menentukan keberlangsungan lembaga, baik dari segi kualitas pendidikan maupun eksistensi pesantren di ranah lain (Halim, 2. Dengan kata lain, keberhasilan pesantren untuk mengembangkan diri sangat bergantung pada dukungan ekonomi yang memadai. Meski demikian, banyak pesantren masih lebih menitikberatkan pada pembangunan ekonomi sepenuhnya dirasakan masyarakat sekitar. Padahal, pesantren memiliki potensi besar untuk memberdayakan lingkungan melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan unit usaha. Pesantren dapat membuka akses kerja bagi masyarakat baik di dalam maupun di luar lingkup pesantren, serta menginisiasi kegiatan ekonomi yang tidak hanya menopang kebutuhan internal . andang, pangan, dan materia. , tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas. Dengan demikian, pesantren berpeluang menjadi lembaga yang mandiri sekaligus pusat ekonomi masyarakat, baik bagi warga internal maupun eksternal (Masum, 2. Dari sini muncul pertanyaan akademik, sejauh mana pesantren dapat berperan dalam meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya melalui penyediaan lapangan kerja. Tidak semua pesantren menaruh perhatian pada aspek ekonomi, namun bagi pesantren yang unit-unit pemberdayaan masyarakat sangat terbuka lebar (Zohdi & Baidawi, 2. Hal inilah yang melatarbelakangi penelitian mengenai peran pesantren dalam pengembangan ekonomi lokal, dengan mengambil kasus di Kabupaten Demak. Dalam konteks inilah. Pondok pesantren Girikesumo menjadi salah satu contoh nyata ryang menarik untuk ditelaah. Syekh Muhammad Hadi yang mendirikan pondok pesantren kini telah berdiri lebih dari satu setengah abad. Kini pondok pesantren Girikesumo sudah memasuki generasi ke-4 yaitu di asuh oleh Kh Munif Zuhri. Pada tahun 1997 Kh Munif Zuhri mendirikan Yayasan yang Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 Bernama Kyai Ageng Giri. Keberadaan pesantren ini tidak hanya sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga memberikan perekonomian masyarakat sekitar. Dengan 000 santri dan Ponpes Girikesumo memiliki kegiatan pengajian rutinan yang bersifat umum yaitu pada malam senin, malam rabu, malam jumAoat dan malam sabtu yang Dimana jumlah pengunjung sekitar 300- 5. 000 orang. Dengan banyaknya santri, jamaAoah dan pengunjung tersebut menjadikan kesejahteraan Masyarakat pesantren ini mampu mendorong perekonomian lokal. Namun, kesejahteraan masyarakat di sekitar pesantren belum sepenuhnya merata akibat perbedaan kepemilikan sumber Beberapa warga hanya mampu membuka usaha sederhana dengan fasilitas terbatas,yaitu dengan mendirikan bangunan berupa bambu yang disusun menjadi bangunan untuk berwirausaha, sementara mereka yang memiliki modal lebih besar dapat membangun usaha permanen seperti ruko. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal masih perlu meningkatkan keterampilan dalam manajemen usaha. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran Pondok Pesantren Girikesumo dalam meningkatkan ekonomi di masyarakat sekitar. Kebaruan dari penelitian ini adalah fokus pada Pondok Pesantren Girikesumo sebagai contoh pesantren yang tidak hanya menjalankan pendidikan agama, tetapi juga berhasil mengembangkan ekonomi masyarakat sekitar. Hal ini penting karena sebagian besar penelitian sebelumnya hanya menekankan pada pendidikan dan dakwah pesantren, sedangkan kajian tentang peran pesantren sebagai penggerak ekonomi masyarakat masih sangat sedikit, baik di tingkat nasional maupun internasional (Latief, 2012. Feener, 2013. Zohdi & Baidawi, 2. LANDASAN TEORI 1 PONDOK PESANTREN Istilah pondok pesantren tersusun dari dua kata, yakni pondok dan pesantren. Kata pondok merujuk pada tempat tinggal sederhana atau rumah kecil yang biasanya bersifat sementara. Diduga istilah ini berasal dari bahasa Arab fundk, yang berarti P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. penginapan, tempat tidur, atau hotel Dalam tradisi pesantren, pondok berfungsi sebagai tempat bermukim santri, terutama mereka yang datang dari daerah jauh untuk menuntut ilmu agama. Sementara itu, kata pesantren berasal dari kata dasar santri yang diberi imbuhan pe- dan -an, sehingga bermakna Autempat para santri. Ay Beberapa pakar memiliki pandangan berbeda mengenai asal-usul kata santri. Menurut Zamakhsyari. Johns menilai istilah ini berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru AlQurAoan. Sedangkan C. Berg mengaitkannya dengan bahasa India shastri, yang berarti orang suci atau ahli kitab Hindu. Kata shastri sendiri diturunkan dari shastra, yang bermakna pengetahuan atau ajaran suci. Dengan pengertian tersebut, pesantren dapat dipahami sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional yang berperan dalam mengajarkan, memahami, mendalami, serta mengamalkan nilai-nilai Islam dengan menekankan pentingnya agama sebagai pedoman hidup sehari-hari (Pratiwi et al. Di dalamnya, para santri bukan hanya menerima ilmu keagamaan, tetapi juga dibentuk dalam aspek akhlak, sosial, dan spiritual melalui kehidupan bersama di Lebih jauh, pesantren berkembang dalam lingkungan masyarakat dengan sistem pendidikan berbasis asrama, di mana santri belajar sekaligus tinggal di bawah bimbingan seorang kiai. Kiai tidak hanya bertugas sebagai pendidik, tetapi juga pembimbing rohani yang memiliki pengaruh karismatik, sehingga menjadi figur sentral dalam dinamika kehidupan pesantren. Ciri khas pesantren terletak pada sifat kemandiriannya, baik dalam pola pengajaran maupun dalam pengelolaan kelembagaannya (Qomar, 2006. Ekonomi. Bisnis, & Hasyim, 2. 2 PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT Masyarakat sekelompok orang yang hidup bersama dan saling berinteraksi dalam suatu hubungan Mereka berbagi budaya, wilayah, serta memiliki adat istiadat, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang terjalin oleh rasa kebersamaan (Dewi et al. , 2. Dengan kata lain, masyarakat terbentuk bukan hanya karena kedekatan geografis, tetapi juga karena adanya sistem nilai dan norma yang mengikat mereka dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Dewi et al. , kondisi geografis Indonesia membentuk keragaman pola kehidupan masyarakat, yang secara umum dapat dibedakan menjadi empat tipe berikut: Masyarakat Pesisir (Panta. Masyarakat yang Kedekatan dengan laut membuat mereka memanfaatkan hasil laut sebagai sumber ekonomi utama. Selain itu, interaksi dengan pedagang antarwilayah menjadikan masyarakat pesisir lebih terbuka terhadap budaya luar. Masyarakat Pegunungan. Kehidupan masyarakat pegunungan ditandai dengan lingkungan yang asri dan sejuk. Mereka cenderung mempertahankan tradisi lama dan menjunjung tinggi nilai sosial, seperti gotong Mata pencaharian utama masyarakat di wilayah ini adalah berkebun dan sebagian bekerja sebagai pemandu wisata. Kearifan lokal menjadi salah satu ciri khas masyarakat Masyarakat Dataran Tinggi. Masyarakat di dataran tinggi umumnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan peternakan. Lahan yang subur mendukung kegiatan bercocok tanam, sementara beternak kambing, sapi, ayam, dan hewan ternak lainnya menjadi penopang tambahan perekonomian Masyarakat Dataran Rendah. Kehidupan masyarakat di dataran rendah cenderung lebih modern. Sebagian besar bekerja sebagai pedagang, karyawan, maupun pekerja kantoran. Aktivitas yang padat sering kali membuat interaksi sosial antarwarga menjadi terbatas. Namun, masyarakat dataran rendah dikenal memiliki pemikiran yang lebih kritis dan adaptif terhadap perubahan. 3 Peningkatan Ekonomi Masyarakat Upaya perekonomian rumah tangga pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kondisi finansial sehingga kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi. Perbaikan ekonomi menjadi aspek penting Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. karena berhubungan langsung dengan tingkat kesejahteraan masyarakat (Dewi et al. , 2. Secara bahasa, istilah perbaikan ekonomi terdiri dari dua kata, yaitu perbaikan dan ekonomi. Perbaikan dapat dipahami sebagai proses improvement atau usaha yang dilakukan untuk keterampilan agar menjadi lebih baik. Adapun istilah ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yakni oikos yang berarti rumah tangga, dan nomos yang berarti aturan atau pengelolaan. Dengan demikian, ekonomi pada hakikatnya mengacu pada cara mengatur atau mengelola kebutuhan rumah tangga agar dapat tercukupi. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa masyarakat berusaha memperbaiki peningkatan pendapatan sekaligus peningkatan kualitas hidup. Dalam enelitian ini, fokus masyarakat sekitar Pondok Pesantren Binaul Ummah. Bentuk upaya tersebut meliputi pemberdayaan masyarakat serta penguatan kemandirian internal, yang pada akhirnya diharapkan mampu mendorong kesejahteraan dalam berbagai aspek, baik bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, maupun lingkungan. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan metode kualitatif Menurut Sugiyono . , penelitian kualitatif berakar pada filsafat post-positivisme, khususnya fenomenologi, yang berfokus pada pemahaman makna suatu realitas sosial. Dalam pendekatan ini, peneliti berperan sebagai pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis secara mendalam untuk menghasilkan deskripsi yang bermakna. Tujuan dari metode deskriptif adalah menggambarkan fenomena secara rinci sehingga mampu memberikan pemahaman yang utuh mengenai objek Adapun penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Girikesumo. Desa Banyumeneng. Kecamatan Mranggen. Kabupaten Demak. Jawa Tengah, pada tahun Sumber data yang digunakan terbagi menjadi dua kategori, yakni data primer dan data Data primer diperoleh melalui Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 wawancara mendalam dengan informan terpilih serta hasil pengamatan langsung di lapangan. Pemilihan informan dilakukan berdasarkan kemampuan memberikan informasi, serta kesediaan untuk terlibat dalam penelitian. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari literatur, arsip, maupun hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik. Teknik pengumpulan data mencakup observasi dan Observasi dilakukan secara nonpartisipan, yakni dengan mengamati aktivitas di pondok pesantren tanpa turut serta dalam kegiatan tersebut. Sedangkan wawancara tatap muka digunakan untuk menggali informasi Pondok Pesantren Girikesumo dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Pondok Pesantren Girikesumo terletak di Desa Girikusumo Mranggen Demak. Pondok pesantren Girikesumo memiliki Yayasan yang Bernama Kyai Ageng Giri yang didirikan oleh Kh Munif Zuhri. Yayasana Kyai Ageng Giri Memiliki dua Lembaga Pendidikan yaitu Formal dan Non Formaal. Pendidikan yang formal yaitu . TK. SD. SMP. SMA dan SMK, dan yang Non Formal yaitu . SIS (Sekolah Islam Sala. Madin dan Tahfid. Pondok pesantren Girikesumo memiliki - 2000 santri dan memilki kegiatan pengajian rutinan setiap malam senin, malam rabu, malam jumAoat dan malam sabtu yang sifatnya umum. Dengan Girikesumo menjadikan agen perubahan bagi Masyarakat sekitar, yang dulunya masyarakat sekitar notabennya hanya sekedar petani dan pencari kayu bakar, kini Masyarakat sekitar ikut berkontribusi dengan adanya pondok pesantren, seperti Guru mengaji. Guru sekolah, keamanan, dan tukang masak yang sifatnya internal, sedangkan yang eksternal seperti. Toko klontong, toko alat tulis, warung makan, warung kopi, fotokopi, tukang cukur, laundry dan catering makanan 2 Peran Pesantren dalam Meningkatkan Perekonomian P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Masyarakat Peran Pondok Pesantren Girikesumo dalam tercemin dari kemampuannya menyerap tenaga kerja lokal. Pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga membuka lapangan kerja yang cukup luas bagi warga Berbagai unit kegiatan pondok memerlukan tenaga operasional, seperti guru, keamananAMGI . ngkatan muda girikesum. , tukang listrik, tukang bangunan, tukang masak, hingga pengelola unit usaha BUMP. Hal ini memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat desa yang sebelumnya terbatas lapangan Sebagaimana disampaikan oleh salah seorang informan. AuPondok ini ngasih banyak kesempatan kerja, ada yang jadi guru, ada yang ikut jaga pondok, bahkan ikut usaha BUMP juga, jadi warga sini bisa dapat tambahan AySelain melalui tenaga internal, peran pesantren juga tampak dalam memacu pertumbuhan usaha eksternal di sekitar pondok. Kebutuhan konsumsi harian santri yang cukup besar misalnya beras A175 kg per hari dan daging hingga 100 kg pada momen tertentu serta kehadiran jamaah dan pengunjung yang mencapai 300Ae5. 000 orang pada acara pengajian, mendorong masyarakat membuka usaha warung makan, toko sembako, jasa laundry, catering, pedagang kaki lima, tukang cukur, hingga tukang jahit. Perputaran ekonomi ini berlangsung secara terusmenerus sehingga meningkatkan pendapatan keluarga pelaku usaha mikro. Hal ini sejalan dengan pernyataan salah satu pedagang AuKalau ada acara pengajian, omset bisa naik dua kali lipat, alhamdulillah jadi bisa buat tambahan biaya sekolah anak. Ay Kehadiran pesantren juga berdampak pada aspek pemberdayaan sosialekonomi masyarakat. Melalui unit usaha BUMP, masyarakat dilibatkan dalam distribusi dan pemasaran produk pesantren, seperti air minum kemasan Banyu Giri. Keterlibatan ini bukan hanya memberikan penghasilan tambahan, tetapi juga memberikan pengalaman manajerial dan keterampilan usaha. Selain itu, pesantren menjalin kerja sama dengan puskesmas setempat dan menyediakan fasilitas ambulans untuk masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga turut serta DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. dalam meningkatkan kesejahteraan sosial dan kesehatan masyarakat sekitar. Selanjutnya, dampak yang cukup menonjol Sebelum berkembangnya pesantren, sebagian besar warga hanya bergantung pada sektor pertanian tradisional atau mencari hasil alam. Namun, kini masyarakat terdorong untuk menjadi wirausaha dengan memanfaatkan peluang dari kebutuhan santri dan jamaah. Beberapa warga mengakui bahwa keberadaan usaha kecil di sekitar pondok, seperti laundry dan warung, telah menjadi sumber penghidupan utama. Seorang pelaku usaha laundry mengatakan. AuLaundry ini ya hidupnya dari santri-santri pondok, kalau ndak ada pondok, mungkin usaha ini tidak Ay . Pernyataan ini menegaskan bahwa pondok pesantren berperan sebagai motor penggerak kemandirian ekonomi masyarakat. Dengan menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Girikesumo memiliki kontribusi besar dalam memberdayakan warga desa melalui pelibatan langsung dalam unit usaha dan fasilitas sosial, serta mendorong kemandirian ekonomi melalui lahirnya usaha-usaha mandiri. Peran ganda pesantren sebagai lembaga pendidikan dan penggerak ekonomi lokal menjadikannya agen perubahan yang mampu menghidupkan 3 Perputaran Ekonomi Lokal Pondok pesantren Girikesumo menjadikan agen perubahan pada masysrakat sekitar, seperti mencetak generasi penerus bangsa yang baik Seiring berkembangnya pondok pesantren Girikesumo yang semakin pesat sehingga menimbulkan santri, jamaAoah dan pengunjung yang meningkat, sehingga Masyarakat sekitar yang dulunya notabennya hanya sekedar petani dan pencari hasil alam, kini terbangun maindsetnya untuk ikut berkontribusi terhadap adanya pondok pesantren Girikesumo, warung/toko sekitar pondok, laundry dan lain sebagainyaAy. Kehadiran meningkatkan aktivitas ekonomi di sekitar. Pedagang makanan, warung kopi, penjual pakaian dan tukang cukur, hingga mendapatkan keuntungan dari keberadaan santri dan kegiatan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Perputaran uang terjadi secara terusmenerus perekonomian desa. 4 Peran Pesantren dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Jumlah santri, jamaAoah, dan pengunjung yang mencapai sekitar 2. 000 orang setiap hari, serta kegiatan pengajian yang dihadiri oleh 300 000 jamaAoah, telah menciptakan pasar baru bagi produk dan jasa lokal. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk membuka berbagai usaha seperti warung makan, toko kelontong, toko kitab, laundry, catering, serta layanan tukang cukur dan tukang jahit. Dengan adanya perputaran uang yang berlangsung secara berkelanjutan,pendapatan masyarakat perekonomian desa menjadi lebih dinamis dan 5 Peran Pesantren dalam Pemberdayakan Masyarakat Pesantren pada hakikatnya tidak hanya keagamaan, tetapi juga memiliki peran strategis dalam bidang sosial dan ekonomi. Keberadaan pesantren berkontribusi terhadap penguatan nilai-nilai keagamaan sekaligus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, baik melalui kegiatan sosial maupun aktivitas ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan lingkungan Melalui unit usaha milik pesantren (BUMP), seperti Banyu Giri, masyarakat terlibat dalam distribusi dan pemasaran produk. Selain itu, pesantren bekerja sama dengan pusat kesehatan masyarakat dan menyediakan fasilitas ambulans untuk memenuhi kebutuhan kesehatan warga. Di bidang pendidikan, implementasi pendidikan formal dan berbagai kegiatan non-formal berkontribusi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini menunjukkan kemampuan pesantren Islam dalam membangun kesadaran ekonomi, kesehatan, dan sosial secara komprehensif di 6 Peran Pesantren dalam Kemandirian Internal Masyarakat Sebelum adanya pondok pesantren, mayoritas masyarakat di sekitar hanya mengandalkan pertanian tradisional atau mencari hasil alam sebagai sumber penghidupan. Saat ini, mereka Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 terdorong untuk bertransformasi menjadi pelaku usaha dengan memanfaatkan peluang ekonomi yang muncul dari kebutuhan para santri dan jamaAoah. Banyak warga yang mulai membuka usaha mandiri, sementara para santri dan alumni juga aktif berperan dalam pengelolaan unit usaha pesantren. Situasi ini menciptakan sebuah ekosistem ekonomi baru yang lebih produktif, sehingga masyarakat tidak lagi hanya bergantung pada pekerjaan serabutan, melainkan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga. KESIMPULAN Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Pesantren Girikusumo memainkan peran yang signifikan dalam memberdayakan ekonomi masyarakat sekitar. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi melalui pengelolaan unit usaha, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan aktivitas ekonomi lokal. Keberadaan pesantren mendorong masyarakat untuk menjadi lebih mandiri, meningkatkan kualitas hidup, dan menciptakan kemandirian ekonomi yang Oleh karena itu, pesantren dapat dilihat sebagai lembaga pendidikan sekaligus pusat ekonomi masyarakat yang memiliki dampak positif yang luas. UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillah Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya, menyelesaikan artikel penelitian ini dengan Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabat beliau, yang syafaatnya sangat kita nantikan di hari akhir Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, dorongan, serta bantuan dalam proses penyusunan artikel ini, di antaranya: Bapak Prof. Dr. Ir. Helmy Purwanto. IPM, selaku Rektor Universitas Wahid Hasyim. Bapak Dr. Hasan. SE. Sc. , selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Wahid Hasyim Semarang. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Ibu Dr. Ratih Pratiwi. Pd. Si. MM. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta masukan Kedua orang tua penulis yang selalu memberikan doa, dukungan, dan semangat, baik secara moril maupun materil. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan dan rezeki yang berkah kepada beliau berdua. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa artikel ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi penyempurnaan karya di masa yang akan datang. Besar harapan penulis semoga artikel ini dapat memberikan manfaat, khususnya dalam bidang akademik, serta bagi masyarakat luas pada umumnya. DAFTAR PUSTAKA