Penguatan Identitas Nasional melalui Komunikasi Interkultural dan Pembelajaran BahasaA Penguatan Identitas Nasional melalui Komunikasi Interkultural dan Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Anak Migran di Sanggar Belajar Hulu Kelang Aminatuz Zuhriyah1*. Zamawi Chaniago2. Eli Purwati3. Krisna Megantari4. Naufal Ishartono5 1,3,4Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Indonesia 2Sanggar Bimbingan Hulu Kelang Selangor. Malaysia 5Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Indonesia Korespondensi Penulis Aminatuz Zuhriyah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Indonesia 228@gmail. doi: 10. 56972/jikm. Submit: 16 September 2025 | Revisi: 10 Oktober 2025 | Diterima: 24 Oktober 2025 Dipublikasikan: 28 Oktober 2025 | Periode Terbit: Oktober 2025 Abstrak Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat nasionalisme kultural dan kompetensi komunikasi interkultural anak-anak migran Indonesia di Sanggar Bimbingan Hulu Kelang (SBHK). Malaysia. Latar belakang kegiatan ini berangkat dari tantangan yang dihadapi anak-anak migran dalam mempertahankan identitas nasional akibat dominasi budaya negara tuan rumah dan keterbatasan akses terhadap pendidikan berbasis bahasa Indonesia. Program ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan anak, guru, serta orang tua, dan analisis dokumen pembelajaran untuk memahami efektivitas strategi komunikasi berbasis budaya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis budaya melalui cerita rakyat, lagu daerah, permainan tradisional, dan dialog budaya mampu meningkatkan kemampuan bahasa Indonesia anak-anak sekaligus memperkuat pemahaman mereka terhadap nilai-nilai Anak memperlihatkan perkembangan signifikan dalam penguasaan kosakata, kelancaran bertutur, kemampuan memahami bacaan, serta keberanian bercerita. Selain itu, guru berperan besar sebagai fasilitator komunikasi interkultural dan model sikap kebangsaan, sedangkan lingkungan SBHK dan kegiatan kebudayaan seperti peringatan Hari Kemerdekaan memberikan pengalaman nyata bagi anak untuk mengekspresikan identitas nasional. Secara keseluruhan, program ini berhasil menciptakan lingkungan belajar yang mendukung internalisasi nilai kebangsaan dan pengembangan kompetensi interkultural anak migran. Program ini menegaskan bahwa pendidikan nonformal berbasis budaya memiliki potensi kuat untuk memperkuat identitas nasional di tengah konteks multikultural. Vol . 121-136 e-ISSN 2828-6375 Penguatan Budaya Literasi melalui Kelas Membaca bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi Kata Kunci: komunikasi interkultural, nasionalisme kultural, pembelajaran berbasis budaya, penguatan karakter kebangsaan Pendahuluan Nasionalisme merupakan salah satu nilai fundamental yang perlu ditanamkan sejak dini, terutama bagi anak-anak yang hidup di tengah arus globalisasi dan mobilitas transnasional yang semakin Dalam konteks Malaysia, upaya penanaman nilai nasionalisme menjadi semakin penting bagi anak-anak migran Indonesia yang menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan identitas nasional mereka. Tantangan tersebut muncul akibat dominasi budaya negara tuan rumah, keterbatasan akses terhadap pendidikan formal berbahasa Indonesia, anak-anak mengekspresikan identitas budaya asal (Handayani et al. , 2. Kondisi ini kerap membuat anak-anak mengalami dilema identitas, yaitu ketika mereka harus lingkungan sekitar sekaligus menjaga keterikatan dengan tanah air. Oleh sebab itu, penguatan nilai nasionalisme tidak hanya menjadi kebutuhan edukatif, tetapi juga kebutuhan psikososial yang penting untuk membentuk rasa percaya diri dan identitas diri anak-anak migran Indonesia. Dalam konteks pengabdian kepada masyarakat ini, nasionalisme kultural dipahami sebagai rasa identitas dan keterikatan yang kuat terhadap budaya, bahasa, serta nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Nasionalisme kultural tidak e-ISSN 2828-6375 melulu berkaitan dengan aspek politik, tetapi terkait pada penghargaan terhadap warisan budaya, nilai-nilai luhur, serta simbol-simbol nasional yang berperan dalam konstruksi identitas individu. Program ini bertujuan untuk mengungkap dan menguatkan bagaimana strategi komunikasi interkultural yang berbasis pada pendekatan kultural dan linguistik seperti penggunaan cerita rakyat, lagu daerah, permainan tradisional, dan materi Indonesia meningkatkan rasa nasionalisme kultural pada anak-anak migran Indonesia berusia 8Ae12 tahun. Kegiatan ini dilaksanakan di Sanggar Bimbingan Hulu Kelang (SBHK), sebuah lembaga pendidikan non-formal yang memiliki kontribusi penting dalam memberikan akses pendidikan alternatif bagi anak-anak migran Indonesia di Malaysia. Selain itu, program ini juga mengidentifikasi beragam faktor yang belakang keluarga, interaksi anak dengan budaya lokal, lingkungan sosial, dan interkultural (Minsih et al. , 2. Sejumlah kajian sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Puanandini . alam FM. , & Rosnawati. , 2. dan Trisofirin dkk. , menunjukkan bahwa rendahnya rasa nasionalisme merupakan fenomena yang cukup umum Vol . 121-136 Penguatan Identitas Nasional melalui Komunikasi Interkultural dan Pembelajaran BahasaA terjadi pada komunitas migran Indonesia di Malaysia. Minimnya akses terhadap pendidikan yang berorientasi pada nilainilai kebangsaan menjadi salah satu penyebab utama rendahnya internalisasi identitas nasional pada kelompok anakanak migran (Rohman et al. , 2. Selain itu, anak-anak migran kerap kali tidak memungkinkan mereka mengenal dan merayakan budaya Indonesia secara rutin. Oleh karena itu, pengabdian ini dirancang nasionalisme melalui pendidikan nonformal yang adaptif dan berbasis budaya. Melalui program ini, diharapkan anakanak migran dapat memiliki ruang pembelajaran yang aman, inklusif, dan Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memahami sekaligus identitas nasional anak-anak migran di Secara berlandaskan dua konsep utama, yakni teori komunikasi interkultural dan teori pembelajaran sosial. Teori komunikasi interkultural, sebagaimana dijelaskan Cortazzi dalam Laopongharn et al. menekankan bahwa proses komunikasi sangat dipengaruhi oleh konteks budaya. Dalam konteks kegiatan bersama anakanak migran, teori ini membantu budaya, pengalaman migrasi, dan Vol . 121-136 kemampuan berbahasa mempengaruhi pemahaman mereka terhadap pesan yang disampaikan pendidik (Natalia et al. Pengabdian ini memanfaatkan teori tersebut untuk mengembangkan strategi komunikasi yang sensitif terhadap budaya, sehingga nilai-nilai kebangsaan dapat ditanamkan tanpa mengabaikan latar belakang sosial-budaya anak-anak. Teori pembelajaran sosial dari Bandura . juga menjadi pijakan penting dalam pelaksanaan program. Teori ini menekankan bahwa anak-anak belajar melalui observasi, imitasi, dan interaksi dengan lingkungan sosial Dalam kegiatan ini, pendidik, relawan, dan teman sebaya berperan sebagai model yang menunjukkan perilaku dan nilai-nilai kebangsaan. Melalui kombinasi kedua teori ini, program dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung internalisasi nilai nasionalisme secara alami dan bermakna. Pendekatan ini memadukan aspek komunikasi yang efektif dengan proses pembelajaran berbasis keteladanan, sehingga anak-anak dapat menghayati nilai kebangsaan secara lebih mendalam. Secara pengabdian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali pengalaman, persepsi, dan perubahan sikap anak-anak migran selama mengikuti program. Pendekatan ini dipilih karena mampu kompleks serta makna subjektif yang melekat pada pengalaman peserta. Sejalan dengan temuan Asiah . , pendekatan e-ISSN 2828-6375 Penguatan Budaya Literasi melalui Kelas Membaca bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi kualitatif sangat tepat digunakan untuk memahami fenomena pendidikan dalam sosial-budaya Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif selama kegiatan, wawancara mendalam dengan anak-anak, pendidik, dan orang tua, serta analisis dokumen pembelajaran. Analisis data dilakukan melalui teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola perubahan dan efektivitas strategi komunikasi interkultural yang diterapkan dalam pengabdian ini. Program ini dilaksanakan di Sanggar Bimbingan Hulu Kelang pada 2Ae25 Agustus Pemilihan didasarkan pada peran SBHK sebagai lembaga pendidikan non-formal yang pendidikan bagi anak-anak migran Indonesia di Malaysia. Pelaksanaan program pada bulan Agustus dipilih karena periode tersebut merupakan masa pembelajaran yang relatif stabil, sekaligus mendekati akhir semester sehingga mengamati capaian pembelajaran secara Seluruh kegiatan dilakukan dengan memerhatikan prinsip-prinsip etika, termasuk memperoleh izin dari pihak sanggar, persetujuan orang tua, dan menjaga kerahasiaan identitas seluruh Metode Pelaksanaan dengan tujuan menggali secara mendalam strategi komunikasi interkultural yang e-ISSN 2828-6375 diterapkan oleh Sanggar Bimbingan Hulu Kelang (SBHK) dalam menanamkan nilainilai kebangsaan kepada anak-anak Indonesia Malaysia. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai fenomena sosial internalisasi nilai nasionalisme dalam lingkungan multikultural yang dihadapi anak-anak migran (Asiah, 2. Melalui pendekatan ini, tim pengabdian dapat mengamati dinamika perilaku, interaksi, serta penerimaan anak terhadap berbagai materi yang berkaitan dengan budaya dan kebangsaan Indonesia secara lebih mendalam dan kontekstual. Lokasi dan Sasaran Kegiatan Kegiatan ini berfokus pada Sanggar Bimbingan Hulu Kelang (SBHK), sebuah lembaga pendidikan non-formal yang secara konsisten memberikan layanan belajar bagi anak-anak migran Indonesia di wilayah Hulu Kelang. Malaysia. Sasaran program ini adalah anak-anak migran Indonesia berusia 8Ae12 tahun yang telah mengikuti kegiatan pembelajaran di SBHK selama minimal enam bulan. Kriteria ini dipilih untuk memastikan bahwa peserta sudah cukup akrab dengan lingkungan sanggar, sehingga proses observasi dan pendalaman data dapat berjalan lebih optimal. Jumlah peserta yang terlibat dalam proses pendalaman informasi akan disesuaikan dengan prinsip kejenuhan data, yakni kegiatan penggalian informasi akan dilakukan Vol . 121-136 Penguatan Identitas Nasional melalui Komunikasi Interkultural dan Pembelajaran BahasaA hingga tidak ditemukan lagi tema atau informasi baru yang relevan. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data Lapangan Pelaksanaan menggunakan tiga teknik utama dalam pengumpulan data lapangan, yakni mendalam, dan analisis dokumen pelaksanaan pembelajaran. Observasi Partisipatif Observasi langsung dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas, kegiatan ekstrakurikuler, serta anak-anak lingkungan SBHK. Tim pengabdian terlibat secara aktif sebagai pengamat yang berinteraksi langsung dengan peserta, namun tetap menjaga objektivitas dalam mencatat berbagai dinamika yang Melalui observasi, diperoleh menyampaikan materi, pola komunikasi kebangsaan, serta bentuk partisipasi anak dalam setiap kegiatan yang dirancang. Wawancara Untuk memperoleh pemahaman yang lebih kaya dan beragam, dilakukan wawancara mendalam dengan beberapa kelompok partisipan yang dipilih secara Wawancara dilakukan terhadap: 10 anak peserta program yang dipilih berdasarkan perbedaan usia. Vol . 121-136 tingkat partisipasi, dan lama mengikuti kegiatan. 3 orang guru SBHK yang terlibat dalam proses pembelajaran seharihari. 3 orang tua peserta, dengan tujuan memperoleh perspektif keluarga kebangsaan anak. Wawancara menggunakan pedoman semi-terstruktur yang disusun berdasarkan kerangka teori komunikasi interkultural dan teori Pertanyaan wawancara difokuskan pada pengalaman peserta dalam menerima materi bahasa Indonesia, pemaknaan mereka terhadap nilai kebangsaan, interaksi mereka dengan budaya Indonesia di lingkungan SBHK, serta persepsi orang tua dan guru mengenai perubahan sikap anak. Analisis Dokumen Kegiatan Analisis terhadap seluruh dokumen pendukung pembelajaran, seperti: materi ajar . erita rakyat, lagu daerah, modul bahasa Indonesi. A dokumentasi kegiatan tematik. A laporan internal SBHK terkait perkembangan peserta didik. Analisis dokumen ini digunakan pembelajaran dengan tujuan penguatan nasionalisme, serta untuk memahami e-ISSN 2828-6375 Penguatan Budaya Literasi melalui Kelas Membaca bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi A struktur dan konten yang digunakan guru dalam menyampaikan nilai kebangsaan. Waktu dan Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Program dilaksanakan di SBHK mulai tanggal 2Ae25 Agustus 2024. Rentang waktu tersebut dipilih berdasarkan jadwal pembelajaran yang stabil serta ketersediaan pendidik dan peserta dalam mengikuti rangkaian Pelaksanaan kegiatan terbagi dalam beberapa tahapan sebagai berikut: Tahap Persiapan A koordinasi dengan pengelola SBHK. A penyusunan A penyusunan modul kegiatan penguatan nasionalisme berbasis Tahap Pelaksanaan Lapangan A observasi kegiatan kelas dan A pelaksanaan sesi wawancara mendalam dengan peserta, guru, dan orang tua. A pendampingan pembelajaran tematik berbasis budaya Indonesia. Tahap Analisis dan Refleksi A pengelompokan berdasarkan tema. A perefleksian bersama guru SBHK, e-ISSN 2828-6375 penyusunan rekomendasi untuk pembelajaran kebangsaan di SBHK. Hasil dan Pembahasan Untuk memahami efektivitas program penguatan nasionalisme kultural di Sanggar Bimbingan Hulu Kelang (SBHK), hasil kegiatan ini disajikan ke dalam tiga fokus utama. Pertama, bagaimana strategi komunikasi interkultural berbasis budaya digunakan sebagai pendekatan pembelajaran. Kedua, bagaimana perkembangan kemampuan berbahasa Indonesia serta internalisasi nilai kebangsaan pada anakanak migran. Ketiga, bagaimana peran guru, lingkungan SBHK, dan kegiatan kebudayaan berkontribusi terhadap pembentukan kompetensi interkultural dan Pada bagian berikut, akan dipaparkan secara rinci masing-masing fokus tersebut dimulai dari aspek penguatan komunikasi interkultural. Penguatan Kompetensi Komunikasi Interkultural Melalui Pembelajaran Berbasis Budaya Komunikasi merupakan fondasi penting dalam pembelajaran bahasa bagi anak-anak migran Indonesia di SBHK. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengembangkan kemampuan bahasa Indonesia, tetapi juga menghubungkan anak-anak dengan akar budaya mereka melalui pendekatan simbolik, linguistik, dan sosial yang mencerminkan identitas bangsa. Sejalan dengan Ekawati . , kompetensi Vol . 121-136 Penguatan Identitas Nasional melalui Komunikasi Interkultural dan Pembelajaran BahasaA interkultural mencakup pemahaman bahasa verbal, seperti struktur kalimat, kosakata, dan penggunaan bahasa sesuai serta aspek nonverbal seperti intonasi, ekspresi wajah, dan gestur yang biasa ditemukan dalam budaya Indonesia. Dalam konteks SBHK, strategi berbasis budaya menjadi sarana efektif untuk membangun kesadaran kebangsaan melalui bahasa. Anak-anak diperkenalkan pada berbagai elemen budaya yang relevan dan mudah dipahami, seperti cerita rakyat, lagu daerah, permainan tradisional, dan kegiatan seni. Materimateri ini bukan hanya alat bantu belajar, tetapi juga jembatan emosional yang menghubungkan anak dengan identitas Melalui paparan budaya yang konsisten, anak-anak belajar sesuai norma budaya Indonesia, serta memahami nilai-nilai sosial seperti gotong royong, hormat kepada orang tua, dan Implementasi Pembelajaran Berbasis Budaya di SBHK Untuk menggambarkan bagaimana strategi tersebut diterapkan, berikut disajikan ilustrasi tabel mengenai jenis kegiatan berbasis budaya yang digunakan selama program. Tabel 1. Bentuk Kegiatan Pembelajaran Berbasis Budaya di SBHK Bentuk Kegiatan Deskripsi Tujuan Interkultural Membaca & kembali cerita Menyanyikan lagu daerah & nasional Anak mendengarkan atau membaca cerita seperti Malin Kundang, lalu menceritakannya kembali Mengembangkan kemampuan bertutur, memahami nilai budaya, dan melatih ekspresi verbal Pengajar memperkenalkan lagu seperti Ampar-Ampar Pisang atau Tanah Airku Permainan Anak memainkan permainan seperti engklek atau tepuk tradisional Menanamkan nilai kebangsaan melalui bahasa musikal dan ekspresi emosional budaya Indonesia Melatih interaksi sosial, memahami aturan budaya, dan mengembangkan kemampuan komunikasi nonverbal Dialog budaya Anak berdiskusi tentang budaya Indonesia dan pengalaman mereka Tabel 1 memperlihatkan bahwa kegiatan pembelajaran di SBHK tidak hanya berorientasi pada aspek linguistik, tetapi juga mengintegrasikan nilai budaya sebagai sarana komunikasi interkultural. Misalnya, kegiatan menceritakan kembali Vol . 121-136 Melatih kemampuan berbicara, penerimaan perbedaan, dan adaptasi dalam percakapan cerita rakyat membantu anak mengembangkan keterampilan verbal, sekaligus memperkenalkan mereka pada simbol moral budaya Indonesia. Sementara itu, permainan tradisional dan dialog budaya mengaktifkan sisi nonverbal komunikasi, e-ISSN 2828-6375 Penguatan Budaya Literasi melalui Kelas Membaca bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi seperti kerjasama, sopan santun, dan intonasi dalam percakapan. Kombinasi kegiatan tersebut menciptakan lingkungan belajar yang komprehensif dan sesuai dengan konteks hidup anak-anak migran yang berada di tengah budaya dominan negara lain. Perkembangan Kemampuan Anak dalam Komunikasi Interkultural Selama kegiatan berlangsung, tim perkembangan anak dalam aspek-aspek komunikasi interkultural. Berikut adalah rangkuman perkembangan anak berdasarkan pengamatan selama program. Tabel 2. Perkembangan Kompetensi Komunikasi Interkultural Anak Aspek yang Kondisi Awal Kondisi Setelah Program Indikator Perubahan Diamati Penggunaan Banyak anak dominan Anak mulai percaya diri Frekuensi penggunaan bahasa Indonesia memakai bahasa memakai bahasa bahasa Indonesia Melayu Indonesia dalam aktivitas Kemampuan Cerita masih terputus- Anak mampu bercerita Kelancaran & ketepatan putus dan campur lancar dengan struktur ekspresi meningkat lebih runtut Respons terhadap Anak kurang Anak mampu menyebut Peningkatan pengetahuan materi budaya mengenal cerita rakyat judul cerita rakyat dan dan kedekatan emosional & lagu daerah menyanyikan lagu daerah Interaksi Anak canggung saat Anak berani berbicara. Peningkatan partisipasi bertanya, dan merespons dan adaptasi Tabel 2 menunjukkan adanya perkembangan jelas pada kemampuan interkultural anak-anak setelah mengikuti Misalnya, kemampuan bercerita yang awalnya terbatas kini menjadi lebih lancar dan terstruktur. Ini menunjukkan bahwa latihan berbasis budaya efektif Selain itu, meningkatnya respons positif anak terhadap materi budaya menandakan bahwa pendekatan ini membantu membangun ikatan emosional mereka dengan identitas nasional Indonesia. Interaksi antarbudaya juga menunjukkan perubahan signifikan: anak tidak lagi pasif, tetapi aktif dalam e-ISSN 2828-6375 berdiskusi dan mampu mengekspresikan Perubahan ini memperlihatkan interkultural yang efektif, relevan, dan sesuai dengan konteks penguatan nasionalisme kultural. Perkembangan Kemampuan Berbahasa Indonesia dan Internalisasi Nilai Kebangsaan pada Anak Migran Perkembangan berbahasa Indonesia pada anak-anak migran di SBHK merupakan salah satu indikator penting keberhasilan program penguatan nasionalisme kultural. Bahasa Vol . 121-136 Penguatan Identitas Nasional melalui Komunikasi Interkultural dan Pembelajaran BahasaA bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga medium utama untuk membangun identitas nasional, menghubungkan anak Sejalan dengan pandangan Bulan . bahwa bahasa Indonesia merupakan simbol identitas bangsa, kegiatan berbasis kebahasaan di SBHK meningkatkan rasa bangga anak terhadap Indonesia. Anak-anak migran Indonesia di Malaysia umumnya tumbuh dalam lingkungan dengan dominasi bahasa Melayu. Akibatnya, kompetensi bahasa Indonesia mereka tidak berkembang secara optimal, terutama dalam aspek kosakata, pemahaman bacaan, dan penyusunan kalimat. Hal ini terlihat dari observasi awal terhadap 47 anak, yang Aspek Bahasa Penguasaan Kemampuan Struktur kalimat Kemampuan menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka belum terbiasa memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam komunikasi sehari-hari. Selain itu, pemahaman budaya Indonesia pun terbatas karena minimnya paparan terhadap konteks budaya asal. Dengan demikian, program pembelajaran berbasis budaya Indonesia menjadi strategi yang relevan untuk mengatasi kesenjangan bahasa dan identitas tersebut. Perkembangan Kemampuan Bahasa Indonesia Anak Perkembangan kemampuan bahasa Indonesia anak-anak selama program terlihat melalui peningkatan kemampuan berbicara, membaca pemahaman, dan Untuk menggambarkan hal tersebut, berikut disajikan tabel terkait perkembangan kemampuan bahasa anak sebelum dan sesudah kegiatan. Tabel 3. Perkembangan Kemampuan Bahasa Indonesia Anak Kondisi Awal Kondisi Akhir Program Perubahan yang Teramati Terbatas, banyak Kosakata bertambah melalui Anak mulai memilih dipengaruhi bahasa cerita rakyat dan lagu daerah kosakata Indonesia Melayu secara tepat Kesulitan memahami Mampu memahami cerita Meningkatnya minat teks dan konteks sederhana dengan bantuan membaca dan diskusi Kalimat tidak runtut Kalimat lebih terstruktur dan Penurunan penggunaan dan bercampur sesuai kaidah bahasa campur kode Indonesia Banyak jeda, campur Lancar bercerita dan lebih Peningkatan bahasa, kurang kepercayaan diri dan percaya diri kelancaran bertutur Tabel 3 memperlihatkan adanya perkembangan signifikan pada kemampuan bahasa Indonesia anak-anak setelah Vol . 121-136 mengikuti program. Peningkatan paling terlihat pada aspek penguasaan kosakata, di mana anak-anak memperkaya kosakata e-ISSN 2828-6375 Penguatan Budaya Literasi melalui Kelas Membaca bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi melalui cerita rakyat, lagu daerah, dan aktivitas berbasis budaya. Selain itu, kemampuan membaca pemahaman juga mengalami perbaikan, meskipun masih memerlukan bimbingan intensif dari guru. Kemampuan menyusun struktur kalimat dan kemampuan bercerita menjadi indikator penting karena menunjukkan proses internalisasi bahasa yang lebih matang. Kemajuan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek linguistik, tetapi juga menunjukkan perubahan sikap mental anak terhadap bahasa Indonesia sebagai bagian dari identitas diri mereka. Internalisasi Nilai Kebangsaan Melalui Bahasa dan Budaya Bahasa Indonesia berperan besar dalam memperkuat rasa kebangsaan anak-anak migran. Ketika anak-anak mulai terbiasa membaca cerita rakyat, menyanyikan lagu daerah, dan berdiskusi tentang budaya Indonesia, mereka mulai menghayati nilai kebersamaan, persatuan, dan kepedulian sosial yang terkandung di Melalui proses ini, identitas nasional tidak hanya dipelajari melalui pengalaman langsung dan aktivitas yang Nilai-nilai kebangsaan tersebut muncul dalam perilaku sehari-hari, seperti saling membantu, menghormati guru, serta menunjukkan rasa bangga ketika menyebutkan asal daerah atau Indonesia. Hal dipengaruhi oleh teori pembelajaran sosial Bandura . , bahwa anak-anak meniru perilaku sosial melalui observasi. Ketika guru dan relawan memperlihatkan sikap positif terhadap budaya Indonesia, anakanak pun terdorong mengikuti sikap Untuk internalisasi nilai kebangsaan, berikut disajikan tabel perkembangan sikap dan perilaku anak. Tabel 4. Indikator Internalisasi Nilai Kebangsaan pada Anak Aspek Nilai Indikator Perilaku Kondisi Awal Kondisi Akhir Kebangsaan Program Rasa bangga Menyebutkan asal daerah. Rendah, banyak Anak menyebut cerita terhadap budaya mengenal budaya, yang tidak tahu rakyat, lagu daerah. Indonesia menunjukkan antusiasme budaya sendiri Sikap gotong royong Kerjasama dalam kelompok Kurang kompak Lebih kompak, saling & solidaritas saat tugas menyelesaikan tugas Partisipasi dalam Mengikuti lomba budaya. Partisipasi rendah Partisipasi tinggi, kegiatan bernuansa menyanyi lagu nasional bahkan tampil di KBRI Penggunaan bahasa Kepercayaan diri dalam Malu & banyak Percaya diri, lancar Indonesia sebagai campur bahasa berbicara bahasa Indonesia e-ISSN 2828-6375 Vol . 121-136 Penguatan Identitas Nasional melalui Komunikasi Interkultural dan Pembelajaran BahasaA Tabel 4 menunjukkan perubahan signifikan pada aspek sikap kebangsaan anak-anak. Sebelum program, anak cenderung pasif dan kurang mengenal budaya Indonesia. Namun setelah terlibat dalam berbagai kegiatan budaya, anak menunjukkan perubahan dalam rasa bangga, partisipasi, dan sikap sosial. Partisipasi aktif dalam kegiatan seperti menari AuWonderland IndonesiaAy, membaca puisi, atau mengikuti lomba tradisional membuktikan bahwa nilai kebangsaan dapat ditanamkan secara efektif melalui pengalaman langsung. Penggunaan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari juga meningkat, menandakan bahwa bahasa telah berfungsi sebagai identitas kebangsaan yang mereka terima dan banggakan. Peran Guru. Lingkungan SBHK, dan Kegiatan Kebudayaan dalam Menumbuhkan Nasionalisme Keberhasilan program penguatan Sanggar Bimbingan Hulu Kelang (SBHK) tidak pembelajaran atau partisipasi anak-anak saja, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh peran guru, lingkungan pembelajaran, serta berbagai kegiatan kebudayaan yang diselenggarakan secara konsisten. Dalam konteks anak-anak migran yang tinggal di negara dengan budaya dominan berbeda. SBHK alternatif yang menjaga kontinuitas paparan budaya Indonesia. Guru, sebagai fasilitator dan model utama, memainkan peran vital dalam menanamkan nilai-nilai Vol . 121-136 komunikasi interkultural. Sejalan dengan Tambunan . , karakter pendidik yang berwawasan budaya merupakan elemen penting untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna. Demikian pula Anwar . menegaskan bahwa pendidikan karakter yang kuat pada anak tidak terlepas dari sosok pendidik yang mampu memberi teladan positif. Selain kebudayaan seperti peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, lomba pantun, puisi, permainan tradisional, dan pertunjukan seni menjadi media efektif untuk membangkitkan rasa cinta tanah Di SBHK, kegiatan tahunan dan memperhatikan minat peserta didik agar mereka merasa terlibat secara emosional dan memiliki kebanggaan tersendiri ketika mempelajari budaya Indonesia. Peran Guru sebagai Penggerak Komunikasi Interkultural Guru di SBHK tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai role model dalam berbahasa, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kebangsaan Indonesia. Guru menunjukkan bagaimana menggunakan Indonesia memperlihatkan sikap positif terhadap budaya Indonesia, serta mendorong anakanak untuk bangga terhadap identitas nasional mereka. Guru juga menjadi memahami konteks budaya Indonesia e-ISSN 2828-6375 Penguatan Budaya Literasi melalui Kelas Membaca bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi melalui kegiatan yang menyenangkan dan dekat dengan kehidupan mereka. Untuk menggambarkan peran guru lebih jelas, berikut disajikan tabel penguatan nasionalisme anak. Tabel 5. Peran Guru dalam Penguatan Nasionalisme Kultural di SBHK Aspek Peran Guru Bentuk Implementasi Dampak pada Anak Model Berbahasa Menggunakan bahasa Indonesia Anak meniru penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam setiap Indonesia dalam aktivitas sehariinteraksi Penyampai Budaya Mengajarkan cerita rakyat, lagu Anak mengenal simbol budaya daerah, permainan tradisional dan nilai-nilai moral Motivator Memberikan pujian, penguatan Anak berani tampil bercerita dan positif, dan membangkitkan rasa berpartisipasi dalam kegiatan percaya diri Fasilitator Interaksi Menciptakan diskusi kelompok atau Anak belajar menghargai dialog budaya perbedaan dan berkomunikasi secara efektif Tabel 5 menunjukkan bahwa peran guru dalam program ini bersifat multifungsi. Anak-anak migran membutuhkan figur yang dapat mengarahkan mereka untuk memahami bahasa dan budaya Indonesia secara holistik, dan guru di SBHK memenuhi fungsi tersebut. Guru tidak hanya membantu pembelajaran kognitif, tetapi juga mengembangkan sikap positif dan rasa percaya diri anak. Ketika guru memberikan teladan dalam penggunaan bahasa Indonesia dan menunjukkan antusiasme terhadap budaya Indonesia, anak-anak terdorong meniru sikap tersebut. Hal ini sejalan dengan teori belajar sosial Bandura, bahwa anak belajar melalui pengamatan dan imitasi. Lingkungan SBHK dan Kegiatan Kebudayaan sebagai Penguat Identitas Nasional Lingkungan fisik dan sosial SBHK menciptakan atmosfer Indonesia yang e-ISSN 2828-6375 Dinding-dinding dihiasi poster pahlawan nasional, peta Indonesia, dan foto kegiatan budaya. Setiap minggu, anak-anak mengikuti kegiatan tematik bertema kebangsaan. Selain itu. SBHK secara rutin menyelenggarakan kegiatan besar yang melibatkan seluruh siswa, guru, dan orang tua, sehingga tercipta rasa kebersamaan dalam komunitas migran Indonesia. Puncak dari kegiatan budaya tersebut adalah perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Dalam perayaan itu, anak-anak permainan tradisional, parade pakaian adat, dan pertunjukan tarian Wonderland Indonesia di KBRI Kuala Lumpur. Partisipasi memberikan pengalaman nyata bagi anak-anak identitas nasional mereka dengan cara yang kreatif dan menyenangkan. Vol . 121-136 Penguatan Identitas Nasional melalui Komunikasi Interkultural dan Pembelajaran BahasaA Tabel 6. Kegiatan Kebudayaan SBHK dan Dampaknya terhadap Nasionalisme Anak Jenis Kegiatan Contoh Kegiatan Dampak pada Anak Seni dan Ekspresi Budaya Kegiatan Tradisional Literasi Budaya Kegiatan Patriotik Tari Wonderland Indonesia, lomba pantun, puisi Meningkatkan rasa bangga terhadap budaya Indonesia Permainan engklek, lomba bakiak, parade pakaian adat Membaca cerita rakyat, dialog Upacara dan lomba HUT RI Menguatkan kebersamaan dan gotong royong Tabel 6 memperlihatkan bahwa berbagai kegiatan kebudayaan di SBHK tidak hanya memperkaya pengetahuan budaya anak, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui pengalaman Kegiatan seni seperti menari atau membaca puisi menciptakan rasa bangga, sementara permainan tradisional dan kegiatan gotong royong memperkuat interaksi sosial dan solidaritas. Kegiatan patriotik seperti upacara HUT RI mengenai pentingnya kemerdekaan dan simbol negara. Partisipasi anak dalam kegiatankegiatan tersebut memperlihatkan bahwa identitas nasional tidak hanya dibentuk melalui pembelajaran formal, tetapi pengalaman sosial yang bermakna. Simpulan Program penguatan nasionalisme kultural melalui komunikasi interkultural Vol . 121-136 Memperluas pengetahuan tentang nilai-nilai luhur bangsa Menumbuhkan rasa cinta tanah air dan penghargaan terhadap simbol nasional di Sanggar Bimbingan Hulu Kelang (SBHK) Malaysia telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi anakanak migran Indonesia. Melalui rangkaian kegiatan berbasis budaya, bahasa, dan pembiasaan nilai kebangsaan, anak-anak menunjukkan perkembangan yang jelas dalam kemampuan berbahasa Indonesia, nasionalis yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Pertama, interkultural yang diterapkan melalui cerita rakyat, lagu daerah, permainan tradisional, dan dialog budaya terbukti efektif memperkaya kompetensi bahasa anak-anak. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan linguistik, tetapi juga membangun kedekatan emosional anak dengan identitas budaya Indonesia. Anak belajar memahami nilai sosial seperti e-ISSN 2828-6375 Penguatan Budaya Literasi melalui Kelas Membaca bagi Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi kebersamaan melalui pengalaman belajar yang menyenangkan dan relevan. Kedua, perkembangan kemampuan berbahasa Indonesia terlihat dalam bertutur, kemampuan memahami bacaan, serta keberanian bercerita. Perkembangan ini berjalan seiring dengan proses internalisasi nilai kebangsaan, di mana anak-anak mulai menunjukkan rasa bangga terhadap Indonesia, mengenal simbol budaya, serta aktif berpartisipasi dalam kegiatan bernuansa nasionalisme. Bahasa Indonesia telah berfungsi sebagai pengikat identitas, membantu anak-anak membentuk pemahaman diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia meskipun tinggal di negara lain. Ketiga, peran guru, lingkungan SBHK, dan kegiatan kebudayaan terbukti menjadi faktor pendukung utama dalam keberhasilan program. Guru bertindak sebagai model berbahasa, penyampai nilai budaya, dan motivator yang mendorong rasa percaya diri anak. Lingkungan SBHK yang sarat nuansa kebangsaan serta kegiatan seperti perayaan HUT RI, lomba seni budaya, dan penampilan di KBRI memberikan ruang ekspresi bagi anakanak untuk meneguhkan identitas nasional mereka. Melalui pengalaman langsung dalam berbagai kegiatan anak-anak kesempatan untuk mengasah kompetensi interkultural dan membangun rasa cinta tanah air secara natural. Secara pengabdian ini berhasil memenuhi tujuannya, yaitu menciptakan ruang e-ISSN 2828-6375 belajar yang menguatkan identitas interkultural, dan kemampuan berbahasa Indonesia bagi anak-anak migran. Temuan pendidikan nonformal berbasis budaya memiliki potensi besar untuk menjadi media efektif dalam menanamkan nilai Dengan pengembangan pendampingan intensif, dan keterlibatan aktif orang tua, pembentukan identitas nasional anak migran dapat terus diperkuat sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang bangga terhadap bahasa, budaya, dan bangsa Indonesia. Daftar Pustaka