EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (MUSA ACUMINATA BALBISIANA COLLA) TERHADAP DISKOLORASI GIGI (IN-VITRO) Ni Kadek Ari Astuti1. Sumantri 2. Luh Made Regita Ayu3 Departemen IBTKG. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar Departemen IBTKG. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar *Email Korespondensi: Luh Made Regita Ayu. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar. Bali. Email: regitayu24@gmail. Abstrak Pendahuluan: Dental bleaching merupakan pilihan perawatan sederhana pada diskolorasi gigi. Penggunaan bahan kimia sebagai perawatan bleaching memiliki efek samping sehingga diperlukan bahan alami yang aman untuk kesehatan gigi dan mulut, salah satunya ekstrak kulit pisang kepok (Musa acuminata balbisiana Coll. Penelitian ini dilakukan untuk menilai efektivitas ekstrak kulit pisang kepok 100% dan 50% sebagai bahan bleaching setelah diskolorasi kopi . n-vitr. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah pretest-posttest group design. Sampel berupa gigi insisivus permanen rahang bawah sejumlah 27 sampel dibagi menjadi tiga kelompok eksperimental yaitu kelompok yang direndam dalam ekstrak kulit pisang kepok 100%, 50%, dan saliva buatan. Pengukuran dilakukan secara objektif dengan Hasil: Seluruh sampel mengalami penurunan nilai dE*ab pada ketiga kelompok perlakuan setelah pengukuran dengan spektrofotometer. Hal ini berarti bahwa setiap kelompok mampu memutihkan warna gigi yang telah mengalami diskolorasi. Terdapat perbedaan yang bermakna dan tingkat efektivitas tertinggi dimiliki oleh ekstrak kulit pisang kepok 100%. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit pisang kepok 100% dan 50% efektif serta memiliki perbedaan efektivitas yang signifikan sebagai bahan bleaching. Kata kunci: Bahan dental bleaching, diskolorasi kopi arabika, ekstrak kulit pisang kepok. Musa acuminata balbisiana Colla. Abstract Introduction: Dental bleaching is a simple treatment option for teeth discoloration. The use of chemicals as a bleaching treatment has side effects, therefore natural ingredients are needed to be safe for dental and oral health,one of which is kepok banana peel (Musa acuminata balbisiana Coll. This study aims to determine the effectiveness of 100% and 50% of kepok banana peel extract as a bleaching agent after discoloration of coffee . n-vitr. Methods: The type of research used is the pretest-posttest group design. The samples formed in total of 27 mandibular permanent incisors were divided into three experimental groups, namely the group immersed with kepok banana peel extract of 100%, 50%, and artificial saliva. Measurements were carried out objectively with a spectrophotometer. Results: All samples experienced a decrease in dE*ab values in the three treatment groups after measurement with a spectrophotometer. This means that each group is able to whiten the color of teeth that have experienced discoloration. There is a significant difference and the highest level of effectiveness is possessed by 100% kepok banana peel Conclusion: Based on the study results, it can be concluded that 100% and 50% kepok banana peel extract are effective and had a significant difference in effectiveness as Keywords : Dental bleaching materials, discoloration arabica coffee, kepok banana peel extract. Musa acuminata balbisiana Colla. PENDAHULUAN (INTRODUCTION) Estetika pada wajah dapat menentukan persepsi pada diri seseorang dan mempengaruhi kualitas hidup. Permasalahan yang dapat ditemukan salah satunya adalah perubahan warna gigi. Warna gigi terutama pada gigi permanen ditentukan oleh dentin dan ketebalan enamel, pengendapan berbagai pigmen pada gigi dapat merubah warna 1 Perubahan warna pada gigi dapat disebut dengan diskolorasi. Diskolorasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti faktor sistemik dalam tubuh, penuaan, makanan, minuman, rokok, serta oral hygiene yang buruk. 2 Berbagai cara tersedia untuk mendapatkan warna gigi yang ideal, yaitu dengan dental bleaching, veneers dan crown. Dental bleaching merupakan tindakan untuk mencerahkan atau menghilangkan noda pada permukaan gigi dengan proses perbaikan secara kimiawi yang relatif sederhana, murah dan konservatif. 1 Penggunaan bahan kimia pemutih gigi memiliki efek samping antara lain gigi menjadi sensitif, iritasi pada gingiva, rongga mulut terasa perih dan reaksi alergi. 3 Untuk mengurangi efek samping yang merugikan tersebut, diperlukan bahan alami yang tidak menimbulkan efek-efek yang berbahaya untuk kesehatan gigi dan Penggunaan bahan alami seperti tumbuhan untuk meningkatkan kesehatan manusia telah ada selama berabad-abad bahkan sebelum ditemukan terapi modern. World Health Organization (WHO) telah melaporkan bahwa di negara-negara berkembang sebanyak 65-80% dari populasi bergantung pada terapi tradisional dan sebagian besar menggunakan tumbuhan . lant-base. 4 Adapun salah satu bahan alami yang saat ini dapat digunakan untuk memutihkan gigi yang telah berubah warna berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya yaitu buah pisang. Pisang (Musa paradisiac. adalah buah tropis yang melimpah di Indonesia dan sangat digemari karena cocok dengan iklim serta bisa dimakan langsung atau dibuat menjadi berbagai olahan. 5 Berdasarkan Badan Pusat Statistik pada tahun 2015 produksi buah pisang mencapai 7,29 juta ton kemudian diikuti oleh manga sebesar 2,2 juta ton. Kulit pisang mengandung komponen fitokimia yang terdiri dari alkaloid, flafonoit, fenol, tannin, dan saponin. 7 Saponin yang terkandung dalam kulit pisang merupakan senyawa bioaktif yang dapat mengikat kromogen dengan daya kerjanya yang dapat mengikat zat warna maka dapat digunakan untuk memutihkan gigi. Penelitian ini dilakukan untuk menilai efektivitas ekstrak kulit pisang kepok (Musa acuminata balbisiana Coll. 100% dan 50% sebagai bahan bleaching setelah diskolorasi kopi arabika . n-vitr. METODE (METHODS) Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris murni . rue experimental desig. dengan metode pretest-posttest group design. Penelitian ini menggunakan sampel 27 gigi insisivus rahang bawah permanen yang kemudian direndam dalam larutan kopi arabika sampai terjadi diskolorasi. Selanjutnya total sampel dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu kelompok yang direndam dengan ekstrak kulit pisang kepok 100%, 50%, dan saliva buatan . elompok perlakuan kontrol negati. Perubahan warna gigi yang terjadi sesudah dilakukan perendaman kemudian diukur secara objektif dengan bantuan alat Spectrophotometer merk Thermo Scientific. HASIL (RESULTS) Sampel sejumlah 27 dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan yaitu kelompok yang direndam dengan ekstrak kulit pisang kepok 100%, 50%, dan saliva buatan. Hasil selengkapnya disajikan pada tabel berikut: Tabel 1. Nilai dE*ab No. Sebelum Setelah Sebelum Setelah Sebelum Setelah 0,923 0,432 0,942 0,658 0,976 0,882 0,964 0,442 0,939 0,632 0,966 0,868 0,977 0,425 0,961 0,641 0,928 0,876 0,965 0,429 0,977 0,651 0,957 0,862 0,948 0,418 0,949 0,676 0,961 0,854 0,961 0,431 0,933 0,683 0,952 0,867 0,955 0,405 0,928 0,673 0,946 0,858 0,951 0,412 0,957 0,623 0,938 0,849 0,982 0,408 0,959 0,645 0,972 0,892 Keterangan: dE*ab : Nilai total intensitas warna gigi : Ekstrak kulit pisang kepok 100% : Ekstrak kulit pisang kepok 50% : Saliva buatan Tabel 1 menunjukkan bahwa 27 sampel mengalami penurunan nilai dE*ab pada ketiga kelompok perlakuan setelah pengukuran dengan spektrofotometer. Hal ini berarti bahwa setiap kelompok mampu memutihkan warna gigi yang telah mengalami Analisis Berpasangan Sebelum dan Setelah Perlakuan (Pretest-Posttes. Tabel 2. Hasil uji normalitas data Shapiro-Wilk Variabel Statistic Sig. Sebelum Setelah Sebelum Setelah Sebelum Setelah Tabel 2 menunjukkan hasil uji normalitas data bahwa seluruh variabel dalam pengujian pretest-posttest berdistribusi normal karena memiliki nilai signifikasi >0,05 sehingga uji parametrik Paired T-Test dapat dilakukan selanjutnya. Tabel 3. Hasil uji Paired T-Test Rata-rata Variabel Jumlah . inyatakan dalam p-value optical densit. Sebelum Setelah Sebelum Setelah Sebelum Setelah Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa perbedaan rata-rata . dari kedua kelompok data tersebut . ebelum dan setela. berbeda secara signifikan. Sehingga dapat ditentukan bahwa ketiga variabel tersebut memiliki kemampuan sebagai bahan bleaching. Analisis Setelah Perlakuan (Posttes. Tabel 4. Hasil uji homogenitas dengan uji Levene Sum of Squares Mean Sig. Square Between Groups Within Groups Total Berdasarkan Tabel 4 hasil homogenitas dengan Uji Levene yaitu nilai p = 0,192 yang menunjukkan bahwa data homogen dengan signifikasi >0,05 Tabel 5. Hasil uji Oneway Anova Levene Statistic Df1 Df2 Sig. Based on Mean Based on Median Hasil Based on Median Setelah and with adjusted df Perlakuan Based on trimmed Berdasarkan Tabel 5 hasil uji statistik parametrik dengan Oneway Anova menunjukkan signifikasi 0,000 (<0,. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara selisih nilai dE*ab pada masing-masing kelompok perlakuan. Selanjutnya diperlukan uji statistik parametrik dengan Post Hoc LSD yang disajikan dalam tabel berikut: Tabel 6. Hasil uji Post Hoc LSD (I) Perlakuan (J) Perlakuan Mean Difference (I-J) 95% Confidence Std. Error Interval Sig. Lower Upper Bound Bound 24671 -. 46071 -. 22960 -. *Perbedaan rata-rata signifikan pada tingkat 0,05. Berdasarkan Tabel 6 hasil uji Post Hoc LSD, signifikasi antara tiga kelompok sampel menunjukkan nilai 0,000 (<0,. PEMBAHASAN (DISCUSSIONS) Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan warna setelah perendaman pada tiga kelompok sampel. Nilai dE*ab yang semakin rendah menunjukan bahwa perubahan warna gigi semakin putih. 8 Uji normalitas Shapiro Wilk diperoleh bahwa seluruh variabel dalam pengujian pretest-posttest berdistribusi normal karena memiliki nilai signifikasi >0,05. Kemudian analisis data uji perbedaan Paired T-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada semua kelompok perlakuanyaitu 0,000 (<0,. Hal ini berarti ketiga variabel tersebut memiliki kemampuan sebagai bahan bleaching. Ekstrak kulit pisang kepok mengandung saponin di dalamnya. Faktor yang menyebabkan adanya saponin pada kulit pisang antara lain, jenis dan organ tumbuhan pisang, faktor lingkungan dan perlakuan pascapanen. 9 Kandungan saponin adalah senyawa bioaktif pada kulit pisang yang mengikat kromogen sehingga gigi berubah menjadi lebih putih. 10 Glukosida yang terdapat dalam saponin memiliki karakteristik foaming yaitu busa yang bertindak sebagai agen pembersih. 10 Saponin juga mengandung senyawa antioksidan. Cara kerja antioksidan yaitu melengkapi elektrolit yang kurang dari radikal bebas, setelah menerima elektron dari antioksidan, radikal bebas mengalami kestabilan sehingga mencerahkan warna gigi. Penelitian Nasution . menyatakan bahwa perendaman ekstrak kulit pisang raja 50% (Musa paradisiac. selama 1 jam, 2 jam, dan 3 jam terhadap perubahan warna gigi permanen manusia setelah diskolorasi kopi menunjukkan nilai perubahan warna dan kecerahan gigi menjadi lebih terang. Perendaman ekstrak kulit pisang raja 50% selama 3 jam menunjukkan nilai perubahan warna dan kecerahan yang paling tinggi dibandingkan dengan perendaman ekstrak kulit pisang raja 50% selama 1 jam dan 2 jam serta adanya perubahan kecerahan yang signifikan diantara ketiga kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama zat saponin terpapar pada permukaan email gigi, maka akan semakin lama pula kesempatan reaksi kimia dari saponin tersebut merubah warnanya. Dalam melakukan uji efek setelah perlakuan, terlebih dahulu dilihat dengan uji Levene yang menghasilkan kumpulan data homogen, hal ini berarti terdapat perbedaan yang bermakna antara selisih nilai dE*ab pada setiap kelompok perlakuan. Pada pengujian Oneway Anova diperoleh perbedaan yang bermakna antara selisih nilai dE*ab pada setiap kelompok perlakuan. Berdasarkan hasil analisis data mean difference pada uji Post Hoc LSD, ekstrak kulit pisang kepok 100% memiliki nilai yang paling rendah sehingga tingkat efektivitas ekstrak kulit pisang kepok 100% paling tinggi dibanding dengan ekstrak kulit pisang kepok 50% dan saliva buatan. Berdasarkan penelitian ini, diperoleh bahwa ekstrak kulit pisang kepok 100% dan 50% efektif sebagai bahan bleaching alami apabila diaplikasikan dengan konsentrasi, suhu, dan waktu perendaman yang tepat. Penggunaan ekstrak kulit pisang kepok memiliki banyak kelebihan dibandingkan pemutih gigi berbahan kimia, yaitu lebih aman, ekonomis, dan mudah didapat. Selain itu, ekstrak kulit pisang kepok 100% dan 50% memiliki perbedaan efektivitas yang signifikan sebagai bahan bleaching. SIMPULAN (CONCLUSION) Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit pisang kepok (Musa acuminata balbisiana Coll. 100% dan 50% efektif serta memiliki perbedaan efektivitas yang signifikan sebagai bahan bleaching. UCAPAN TERIMA KASIH (ACKNOWLEDGEMENTS) Ucapan terimakasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA (REFERENCES)