JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. AeP-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469. Hal 10-15 JURNAL FISIOTERAPI DAN ILMU KESEHATAN SISTHANA Halaman Jurnal: https://jurnal. id/index. php/JUFDIKES Halaman UTAMA: https://jurnal. HUBUNGAN PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN TRIAGE DI RUANG IGD RS DI KABUPATEN INDRAMAYU Wiwin Nur Aeni a. Bestina Nindy Virgianib. Vergian Josiasharry Bee c Program Studi Profesi Ners, wiwinnuraeni505@gmail. STIKes Indramayu b Program Studi Profesi Ners, ns. bestina08@gmail. STIKes Indramayu Program Sarjana Keperawatan, chrisyantoaja197@gmail. STIKes Indramayu ABSTRACT Emergency patients who come to the ER need to receive fast and appropriate treatment. Carrying out correct triage will help ensure success in patient care. Nurse knowledge is very important in dealing with emergency patients, because fast and accurate action depends on the knowledge possessed by health workers in the emergency room in carrying out triage actions. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and the implementation of triage in the emergency room of two hospitals in Indramayu Regency. This type of research was quantitative analytic with a cross sectional The population of this study were nurses in the emergency room of two hospitals in Indramayu Regency. The sampling technique used was total sampling with a sample size of 43 respondents. Data collection tools used questionnaires and observation sheets. Data were analyzed using the Pearson Chisquare test. The results showed that, as many as 21 . 8%) respondents had good knowledge, and as many as 33 . 7%) respondents carried out triage properly. The results of the analysis show that there is a relationship between knowledge and triage implementation (P-value = 0. 031 ( = 0. The conclusion of this study is that there is a relationship between knowledge and triage. Suggestions are addressed to the hospital to provide in-house training to nurses to increase knowledge about triage. Keywords: Knowladge. Nurse. Triage ABSTRAK Pasien kegawatdaruratan yang datang ke IGD perlu mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Pelaksanaan triage yang benar akan membantu untuk keberhasilan dalam pertolongan pasien. Pengetahuan perawat sangat penting dalam menangani pasien gawat darurat, karena dari tindakan yang cepat dan akurat tergantung dari ilmu yang dikuasai oleh petugas kesehatan di IGD dalam melaksanakan tindakan triage. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan pelaksanaan triage di ruang IGD RS yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah perawat IGD di 2 . Rumah sakit yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan besar sampel sebanyak 43 responden. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner dan lembar Data dianalisis menggunakan uji Pearson Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sebanyak 21 . ,8%) responden memiliki pengetahuan baik, dan sebanyak 33 . ,7%) responden melaksanakan triage dengan tepat. Hasil analisis menunjukan ada hubungan pengetahuan dengan pelaksanaan triage, (P-value =0,031 (=0,. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan pengetahuan dengan pelaksanaan triage. Saran ditujukan kepada pihak rumah sakit untuk memberikan in house training kepada perawat untuk meningkatkan pengetahuan mengenai triage. Kata Kunci: Pengetahuan, perawat, triage Received October 8, 2025. Revised December 18, 2025. Accepted January 5, 2026 JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. Ae P-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469, pp 10-15 PENDAHULUAN Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah salah satu unit pelayanan di rumah sakit yang menyediakan penanganan awal bagi yang menderita penyakit atau mengancam kelangsungan hidup, menstabilkan dan mengelola pasien yang membutuhkan tindakan segera untuk menyelamatkan nyawa dan kecacatan yang berlanjut . IGD memiliki angka kunjungan paling tinggi disetiap rumah sakit. pasien di instalasi gawat darurat (IGD) tiap tahunnya akan terus bertambah . Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat data kunjungan pasien ke IGD sebanyak 899 kasus dan data jumlah kunjungan di 2 . Instalasi Gawat Darurat RS yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu pada tahun . 913 pasien. Dari data tersebut angka kunjungan pasien ke IGD cukup tinggi yang menyebabkan perawat kewalahan dalam menangani pasien sehingga hal tersebut dapat menyebabkan kegagalan dalam menangani kegawatdaruratan. Kegagalan dalam menangani kegawatdaruratan umumnya karena kegagalan mengenal resiko khususnya dalam memutuskan pelaksanaan triage, sedangkan sisanya adalah keterlambatan rujukan, kurangnya sarana yang memadai maupun pengetahuan dan keterampilan tenaga medis, paramedis dalam mengenal keadaan resiko tinggi kegawatdaruratan maupun keadaan ekonomi . Triage adalah proses pertama kali yang dilakukan oleh perawat saat pasien datang ke ruang IGD. Triage sendiri merupakan cara menggolongkan pasien dengan cepat dan tepat, setelah digolongkan pasien akan diberi label berdasarkan warna dan prioritasnya. Pasien yang mengalami gawat darurat akan diberi label merah, pasien yang mengalami keadaan gawat dan tidak darurat akan diberi label kuning, pasien yang mengalami tidak gawat tidak darurat akan diberi label hijau, dan pasien yang mengalami death arrival akan diberi label hitam. Pelaksanaan triage yang kurang tepat dapat membahayakan pasien, tindakan pengobatan pada pasien di IGD berdasarkan urutan kedatangan tanpa penilaian sebelum menentukan tingkat kegawatan dari penyakitnya atau tanpa melakukan triage, dapat mengakibatkan tertundanya intervensi pada pasien yang mengalami keadaan kritis yang menyebabkan kematian. Di Indonesia belum memiliki standar nasional tentang sistem triage sehingga dalam pelaksanaan triage setiap rumah sakit berbeda-beda. Pelaksanaan triage di Indonesia dengan presentase 68% sampai 72% dari 1. 722 rumah sakit . Pengambilan keputusan klinis mengenai triase berdasarkan kategori prioritas pasien menentukan tata laksana asuhan keperawatan gawat darurat yang akan diterima oleh pasien. Peran triage membutuhkan keterampilan penilaian klinis yang sangat tinggi, dan dasar pengetahuan yang relevan untuk membedakan keluhan yang tidak mendesak dari kondisi yang mengancam jiwa di lingkungan pekerjaan sibuk dan membuat stres . Penurunan penilaian skala triase atau ketidaktepatan triase akan memperpanjang waktu penanganan yang seharusnya di terima oleh pasien sesuai dengan kondisi klinisnya dan kemudian akan beresiko menurunkan angka keselamatan pasien dan kualitas dari layanan kesehatan . Hasil penelitian Syah . diperoleh bahwa dari 22 responden sebagian besar responden yang berjumlah 14 orang . ,6%) tergolong memiliki pengetahuan kurang mengenai triage, 6 orang . ,3%) tergolong memiliki pengetahuan cukup mengenai triage, dan 2 orang . ,1%) tergolong memiliki pengetahuan baik mengenai triage. Studi pendahuluan telah dilakukan di 2 . tempat yakni di IGD RS di wilayah Kabupaten Indramayu. Studi pendahuluan dilakukan dengan metode observasi pelaksanaan triage dan wawancara terkait pengetahuan perawat yang terdiri dari pengertian, tujuan, dan prinsip triage dengan sampel sebanyak 5 perawat di masing-masing IGD RS yang berada di wilayah Kabupaten Indramayu sehingga jumlah sampel untuk studi pendahuluan sebanyak 10 Hasil wawancara terhadap 10 perawat IGD ditemukan bahwa 3 perawat tidak dapat menyebutkan prinsip triage. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuHubungan Pengetahuan Perawat dengan Pelaksanaan Triage di IGD RS di wilayah Kabupaten IndramayuAy. TINJAUAN PUSTAKA Triage berasal dari bahasa prancis yaitu AuTrierAy yang berarti memilah atau membagi dalam tiga kelompok (Departement of Emergency Medicine Singapore General Hospita. , 2. Triage juga dapat diartikan suatu tindakan pengelompokan pasien berdasarkan beratnya cidera yang dialami pasien yang diprioritaskan ada tidaknya gangguan pada airway (A), breathing (B), dan circulation (C) yang dipertimbangkan sarana, sumber daya manusia, dan probabilitas penderita. Tujuan utama triage yaitu untuk menghindari cedera yang dialami pasien saat melakukan proses Perawat yang bisa melakukan triage adalah perawat yang sudah bersertifikat pelatihan penanggulangan pasien gawat darurat (PPGD) dan Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS). Perawat yang melakukan triage harus sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadai . Pengetahuan adalah hasil dari informasi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan juga sangat diperlukan untuk membentuk sikap dan tindakan, walaupun tindakan tidak selalu didasari dengan pengetahuan. Pengetahuan juga dipengaruhi oleh faktor Pendidikan formal, pengetahuan juga sangat erat berhubungan dengan pendidikan yang tinggi bahwasannya semakin tinggi pendidikan maka semakin luas juga pengetahuan yang didapat . METODOLOGI PENELITIAN Penelitian yang akan dilakukan ini terdiri dari dua variabel yaitu pengetahuan sebagai variabel independen atau bebas, dan pelaksanaan triage sebagai variabel dependen atau terikat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan perawat dengan pelaksanaan triage di Ruang IGD RS di wilayah Kabupaten Indramayu. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat IGD di 2 . RS di wilayah Kabupaten Indramayu dengan jumlah total populasi sebanyak 43 perawat. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini menggunakan total sampling yaitu semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dalah lembar kuesioner dan lembar observasi. Lembar kuesioner digunakan untuk mengukur pengetahuan dan lembar observasi untuk mengukur pelaksanaan triage. Pada penelitian ini, analisa data dilakukan dengan menggunakan analisa univariat dan bivariate dengan menggunakan komputer. Analisis univariat pada penelitian ini adalah menganalisa gambaran karakteristik perawat dengan menggunakan lembar kuesioner dan lembar observasi. Lembar kuesioner terdiri atas pertanyaan-pertanyaan mengenai nama responden, kode angka responden, jenis kelamin, pendidikan terakhir, lama kerja, pelatihan, hasil skor jawaban. Lembar observasi terdiri dari nama responden, kode angka responden. Analisa bivariat menggunakan analisa dari hasil uji statistic uji chi square yang dapat digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Tabel Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin. Pendidikan Terakhir dan Pelatihan di Ruang IGD RS di wilayah Kabupaten Indramayu Karateristik Frekuensi Presentase (%) Jenis Kelamin Laki Ae Laki Perempuan Jumlah Pendidikan Terakhir Di NERS Jumlah Pelatihan Ada Pelatihan Tidak Ada Pelatihan Jumlah Berdasarkan dari tabel 4. 1 dapat diketahui jumlah responden terdapat 43 responden . %), diketahui sebanyak 23 responden . ,5%) berjenis kelamin perempuan, sebanyak 20 responden JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. Ae P-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469, pp 10-15 JURNAL JUFDIKES Vol 8 No. 1 (Januari 2. Ae P-ISSN: 2828-240X. E-ISSN: 2828-2469, pp 10-15 . ,5%) berjenis kelamin laki-laki, sebanyak 23 responden . ,5%) berpendidikan Di, 20 responden . ,5%) berpendidikan NERS, 43 responden . %) mengikuti pelatihan. 2 Gambaran pengetahuan perawat Pengetahuan Perawat Baik Cukup Kurang Jumlah Frekuensi (F) Presentase (%) Berdasarkan tabel 4. 2 diketahui sebanyak 21 . ,8%) responden memiliki pengetahuan baik. 3 Gambaran pelaksanaan triage Pelaksanaan Triage Tidak Tepat Tepat Jumlah Frekuensi (F) Presentase (%) Berdasarkan tabel 4. 3 menunjukan bahwa sebanyak 33 . ,7%) responden melaksanakan triage dengan tepat. 4 Hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan triage di ruang IGD RS di wilayah Kabupaten Indramayu Pelaksanaan Triage Pengetahuan Tidak Tepat Tepat P Value Baik Cukup 0,031 Kurang Jumlah Berdasarkan tabel 5. 5 dapat diketahui bahwa dari 21 responden yang memiliki pengetahuan baik, sebanyak 7 . ,0%) responden melaksanakan triage dengan tepat. Dari 20 responden yang memiliki pengetahuan cukup, diketahui sebanyak 16 . ,0%) responden melakukan triage dengan tepat. Dari 3 responden yang memiliki pengetahuan kurang, sebanyak 2 . ,0%) responden tidak melaksanakan triage tidak tepat. Hasil uji statistik didapatkan nilai P-value = 0,031 ( = 0,05 . 95% CI), sehingga dapat disimpulkan Ha diterima, artinya ada hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan triage di IGD RS di wilayah Kabupaten Indramayu. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian Nurbiantoro et al . menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan . antara pengetahuan dengan keterampilan perawat dalam pelaksanaan triase di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang, pada penelitian tersebut menjelaskan bahwa diperlukan perawat untuk menentukan prioritas penanganan dan pengambilan keputusan yang tepat untuk pasien, perawat harus mampu memprioritaskan perawatan atas dasar pengambilan keputusan klinis dimana pengetahuan penting bagi perawat dalam penilaian awal . Menurut Maaike AP Janssen et al . menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan triage antara lain faktor pengetahuan, faktor keterampilan perawat di IGD. Faktor beban kerja perawat, faktor lama bekerja, dan faktor pelatihan perawat tentang triase. Artinya pengetahuan berkontribusi dalam pelaksanaan triage . Berdasarkan hasil penelitian penelitian di IGD RS di wilayah Kabupaten Indramayu menunujukan 43 responden diperoleh hasil sebanyak 21 responden . memiliki tingkat pengetahuan baik, 20 responden . memiliki tingkat pengetahuan cukup, 2 responden . ,7%) memiliki tingkat pengetahuan kurang. Pengetahuan responden dominan baik dilihat dari aspek pemahaman reponden dalam hal mengidentifikasi tujuan triage. Responden memahami bagaimana mengidentifikasi kondisi pada pasien di IGD yang mengancam nyawa dan itu sesuai dari tujuan triage. Responden juga memahami tujuan dari triage itu adalah memprioritaskan pasien untuk menghindari kecacatan. Hasil ini menunjukan bahwa semakin baik tingkat pengetahuan maka akan semakin terampil dalam pelaksanaan triage di ruang IGD. Tingkat pengetahuan seseorang akan mempengaruhi keterampilan pada saat melakukan pertolongan khususnya triase . Berdasarkan hasil penelitian penelitian di IGD RS di wilayah Kabupaten Indramayu menunjukan hasil sebanyak 10 responden . %) tidak melaksanakan triage dengan tepat dan 33 responden . ,7%) melaksanakan triage dengan tepat. Dari 10 responden yang tidak melaksanakan triage dengan tepat sebanyak 6 responden tidak melaksanakan triage dengan benar pada tahapan inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, sedangkan 4 responden tidak melaksanakan triage dengan tepat pada tahapan penentuan warna kategori. Berdasarkan hasil observasi saat dilakukan penelitian, responden tidak melaksanakan triage dengan tepat dikarenakan responden tergesa-gesa memindahkan pasien ke ruang tindakan menyebabkan responden melewatkan pada tahapan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi tetapi benar dalam penetapan kode warna. Hal yang menyebabkan responden tergesa-gesa dalam pelaksanaan triage antara lain karena keluarga pasien tidak bersabar agar pasien cepat diberikan penanganan, padahal kondisi pasien tidak gawat darurat. Sehingga menyebabkan responden cenderung tidak melaksanakan triage dengan tepat. Faktor lain yang dapat mempengaruhi pelaksanaan triage yaitu faktor pelatihan. Berdasarkan hasil penelitian sebanyak 43 responden . %) telah mengikuti pelatihan kegawatdaruratan dimana salah satu materinya adalah membahas terkait dengan triage. Pelatihan sebagai metode yang terorganisir dimana pengetahuan tersebut dapat meningkatkan kemampuan afektif, motorik dan kognitif dengan Pelatihan yang diberikan kepada staf akan membawa pengaruh terhadap proses kognitif yang mendasari tindakan individu . KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan triage di ruang IGD RS di wilayah Kabupaten Indramayu didapatkan sebanyak 21 . ,8%) responden memiliki pengetahuan baik, sebanyak 33 . ,7%) responden melaksanakan triage dengan tepat. Dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan pelaksanaan triage di ruang IGD RS di wilayah Kabupaten Indramayu. Hasil ini diharapkan untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan pelaksanaan triage serta perlu dilakukan pengembangan professional melalui pendidikan berkelanjutan dan mengikuti pelatihan DAFTAR PUSTAKA