Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6 . , 2026 p-ISSN: 2774-6291 e-ISSN: 2774-6534 Available online at http://cerdika. id/index. php/cerdika/index Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves Ayudia Citra Khairani*. Gustri Kusuma Wardhani. Saskia Nassa Mokoginta Universitas YARSI. Indonesia Email: Citrakhairaniayudia@gmail. Abstrak GravesAo ophthalmopathy (GO) atau thyroid eye disease merupakan manifestasi autoimun ekstratiroid yang paling sering dijumpai pada penyakit Graves dan berdampak signifikan terhadap fungsi penglihatan serta kualitas hidup Penyakit ini ditandai dengan inflamasi progresif pada otot ekstraokular, jaringan lemak orbital, dan jaringan ikat, yang dapat menyebabkan proptosis, diplopia, hingga neuropati optik. Patogenesis GO melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik, imunologis, dan lingkungan, dengan antibodi terhadap reseptor thyroidstimulating hormone (TSHR-A. serta insulin-like growth factor-1 receptor (IGF-1R) sebagai pemicu utama. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis, penilaian fungsi tiroid, serta pencitraan seperti MRI atau CT-scan. Tatalaksana GO meliputi kontrol fungsi tiroid, pemberian glukokortikoid sistemik, terapi imunosupresif, radioterapi, serta pembedahan dekompresi orbital pada kasus berat. Prognosis sangat bervariasi tergantung pada deteksi dini, tingkat keparahan, dan respons terhadap terapi. Pencegahan dapat dilakukan melalui penghentian merokok, kontrol status tiroid, serta deteksi dini menggunakan biomarker inflamasi dan teknologi pencitraan Kata kunci: GravesAo ophthalmopathy. penyakit Graves. inflamasi orbital. Abstract GravesAo ophthalmopathy (GO), also known as thyroid eye disease, is the most common extrathyroidal autoimmune manifestation of GravesAo disease, significantly affecting visual function and patientsAo quality of life. It is characterized by progressive inflammation of the extraocular muscles, orbital fat, and connective tissue, leading to proptosis, diplopia, and optic neuropathy. The pathogenesis of GO involves complex interactions among genetic, immunologic, and environmental factors, with antibodies against the thyroid-stimulating hormone receptor (TSHR-A. and insulin-like growth factor-1 receptor (IGF-1R) as major triggers. Diagnosis is based on clinical evaluation, thyroid function testing, and imaging such as MRI or CT scans. Management includes thyroid function control, systemic glucocorticoids, immunosuppressive therapy, radiotherapy, and orbital decompression surgery in severe cases. The prognosis varies depending on early detection, disease severity, and treatment response. Preventive strategies include smoking cessation, maintaining euthyroid status, and early detection using inflammatory biomarkers and advanced imaging technologies. Keywords: GravesAo ophthalmopathy. GravesAo disease. orbital inflammation. PENDAHULUAN Grave's ophthalmopathy (GO) atau thyroid eye disease (TED) merupakan manifestasi ekstratiroidal yang paling sering dijumpai pada penyakit Grave yang mempengaruhi struktur orbital dan periorbital. Kondisi autoimun ini ditandai dengan inflamasi progresif yang melibatkan otot-otot ekstraokular, jaringan lemak orbital, dan jaringan ikat, sehingga menyebabkan berbagai manifestasi klinis mulai dari edema palpebra hingga neuropati optik yang mengancam penglihatan. Data epidemiologi menunjukkan bahwa GO terjadi pada sekitar 25-50% pasien dengan penyakit Grave, dengan tingkat keparahan yang bervariasi mulai dari ringan hingga berat yang dapat mengancam fungsi visual (Akkus et al. , 2. Fenomena kompleks ini tidak hanya mempengaruhi aspek fisiologis pasien, tetapi juga memberikan dampak psikososial yang signifikan, termasuk penurunan kualitas hidup, gangguan fungsi sosial, dan beban ekonomi yang substansial bagi sistem pelayanan kesehatan. Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves Meskipun sebagian besar kasus GO bersifat ringan dengan prognosis yang baik, sekitar 22% pasien mengalami derajat sedang hingga berat, dan 1% kasus dapat mengancam penglihatan, sehingga memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Kompleksitas patogenesis GO yang melibatkan interaksi antara faktor genetik, imunologis, dan lingkungan menimbulkan tantangan dalam diagnosis dan tatalaksana yang optimal (Li et al. , 2. Aspek farmakogenomik dalam respons terhadap terapi imunosupresif dan kortikosteroid juga belum terstandardisasi dengan baik. Penelitian terkini mengenai terapi biologis baru seperti inhibitor hyaluronidase dan agen anti-TNF- menunjukkan hasil yang menjanjikan, namun masih memerlukan validasi lebih lanjut dalam uji klinis berskala besar. Gap lainnya terletak pada pengembangan sistem scoring yang lebih sensitif dan spesifik untuk menilai aktivitas dan keparahan penyakit, serta optimalisasi timing intervensi bedah pada kasus yang memerlukan rehabilitasi orbital. Ketidakkonsistenan dalam protokol follow-up jangka panjang juga menjadi area yang perlu distandarisasi untuk memastikan outcome yang optimal bagi pasien (Wagner et al. , 2. Kemajuan dalam imaging technology, seperti high-resolution MRI dan optical coherence tomography, memungkinkan evaluasi yang lebih akurat terhadap perubahan struktural orbital dan monitoring respons terapi (Elia et al. , 2. Inovasi dalam teknik bedah orbital, termasuk penggunaan navigasi komputer dan material implant biokompatibel, telah meningkatkan hasil fungsional dan estetik secara signifikan (Taylor et al. , 2. Penelitian terkini juga mengeksplorasi peran selenium supplementation dan modifikasi gaya hidup dalam pencegahan progresivitas penyakit. Integration artificial intelligence dalam diagnostic imaging dan treatment planning juga mulai dikembangkan untuk meningkatkan akurasi diagnosis dan prediksi outcome terapi (Chin et al. , 2. Beberapa permasalahan krusial dalam pengelolaan GO yang memerlukan perhatian khusus meliputi: pertama, kesenjangan dalam pemahaman mekanisme molekuler yang mendasari aktivasi fibroblas orbital dan produksi glikosaminoglikan yang berlebihan. keterbatasan biomarker yang dapat memprediksi progresivitas penyakit secara akurat pada fase ketiga, variabilitas respons individual terhadap terapi imunosupresif konvensional yang belum dapat dijelaskan sepenuhnya. dan keempat, kurangnya protokol standar dalam menentukan timing optimal untuk intervensi bedah dekompresi orbital. Masalah-masalah ini berkontribusi terhadap outcome yang suboptimal pada sebagian pasien GO, terutama mereka yang datang dengan manifestasi berat atau mengalami progresivitas cepat meskipun telah mendapat terapi adekuat. Urgensi untuk memahami GO secara komprehensif semakin meningkat mengingat prevalensi penyakit Graves yang terus bertambah secara global, dengan insiden tahunan TED mencapai 20 per 100. 000 penduduk. Di Indonesia, data dari RSCM menunjukkan prevalensi GO sebesar 37,3% pada pasien Graves dengan mayoritas mengalami hipertiroidisme aktif, namun masih terdapat keterlambatan diagnosis yang signifikan akibat kurangnya kesadaran klinis terhadap manifestasi awal penyakit. Keterlambatan ini berakibat pada peningkatan risiko komplikasi ireversibel seperti neuropati optik distiroid yang dapat menyebabkan kebutaan Selain itu, beban psikososial yang ditimbulkan GO terhadap pasien, termasuk depresi, ansietas, dan isolasi sosial akibat perubahan penampilan wajah, memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan edukasi tenaga kesehatan dan peningkatan sistem rujukan yang efektif. Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves Penelitian oleh Taylor et al. mengidentifikasi peran kunci antibodi TSHR dan IGF-1R dalam patogenesis GO melalui aktivasi jalur PI3K/Akt dan MAPK/ERK, namun mekanisme downstream yang mengatur diferensiasi fibroblas menjadi adiposit pada kondisi inflamasi kronik masih memerlukan elucidasi lebih lanjut. Studi oleh Bartalena et al. menunjukkan bahwa merokok merupakan faktor risiko modifiable yang paling signifikan, namun mekanisme molekuler spesifik bagaimana paparan nikotin memicu respons autoimun di jaringan orbital belum sepenuhnya terungkap. Kulbay et al. dalam systematic review mereka menggarisbawahi keterbatasan modalitas pencitraan konvensional dalam mendeteksi perubahan struktural minimal pada fase early-active disease, sehingga menghambat inisiasi terapi dini yang dapat mencegah progresivitas. Sementara itu, penelitian Yu et al. mengenai terapi biologis seperti teprotumumab menunjukkan hasil yang menjanjikan dengan tingkat respons mencapai 77% dalam menurunkan proptosis, namun aksesibilitas dan costeffectiveness terapi ini di negara berkembang masih menjadi tantangan besar yang belum Gap penelitian yang teridentifikasi meliputi: . belum adanya consensus mengenai cutoff values biomarker inflamasi yang dapat digunakan sebagai prediktor aktivitas penyakit di populasi Asia, termasuk Indonesia. minimnya data farmakokinetik dan farmakogenomik glukokortikoid pada pasien GO yang dapat menjelaskan variabilitas respons terapi. ketiadaan scoring system yang tervalidasi untuk populasi lokal dalam menilai timing optimal intervensi bedah. terbatasnya penelitian longitudinal yang mengevaluasi outcome jangka panjang (>5 tahu. pasien GO pasca-terapi, termasuk tingkat rekurensi dan kualitas Referat ini memberikan kontribusi kebaruan melalui sintesis komprehensif literatur terkini . yang mengintegrasikan perkembangan terbaru dalam pemahaman patogenesis molekuler GO, khususnya peran kompleks TSHR-IGF-1R dalam aktivasi fibroblas Pembahasan mencakup update terbaru mengenai biomarker inflamasi seperti IL-6. TNF-, dan thyroid-stimulating immunoglobulin (TSI) sebagai prediktor aktivitas penyakit, yang belum banyak dibahas dalam literatur lokal. Selain itu, referat ini menyajikan analisis kritis terhadap modalitas terapi terkini termasuk teprotumumab, tocilizumab, dan rituximab berdasarkan evidence dari uji klinis fase i, serta membahas implikasinya terhadap praktik klinis di Indonesia dengan mempertimbangkan aspek aksesibilitas dan cost-effectiveness. Kebaruan lain terletak pada integrasi teknologi pencitraan advanced seperti OCT-angiography dan high-resolution MRI dalam algoritma diagnostik dan monitoring GO, yang dapat meningkatkan akurasi deteksi dini dan evaluasi respons terapi secara objektif. Referat ini bertujuan untuk memaparkan dan menjelaskan secara detail mengenai definisi Grave's ophthalmopathy sebagai manifestasi ekstratiroidal penyakit autoimun yang melibatkan struktur orbital dan periorbital. Pembahasan akan mencakup berbagai teori penyebab dan faktor risiko yang berkontribusi terhadap onset dan progresivitas penyakit, termasuk aspek genetik, imunologis, dan lingkungan. Aspek epidemiologi akan diuraikan secara komprehensif untuk memberikan gambaran mengenai distribusi, prevalensi, dan karakteristik demografi GO dalam Patofisiologi penyakit akan dijelaskan melalui alur perjalanan penyakit yang dimulai dari aktivasi sistem imun hingga terjadinya remodeling jaringan orbital yang patologis. Manifestasi gejala GO akan dipaparkan secara sistematis mulai dari tanda awal hingga komplikasi lanjut yang dapat terjadi. Cara diagnosis dan pemeriksaan akan dijelaskan secara Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves detail meliputi anamnesis yang tepat, pemeriksaan fisik yang sistematis, dan pemeriksaan penunjang yang relevan untuk menegakkan diagnosis. Diagnosis banding akan diuraikan untuk membantu clinician dalam membedakan GO dengan kondisi patologis orbital lainnya yang memiliki manifestasi serupa. Tatalaksana akan dijelaskan secara komprehensif mencakup pendekatan farmakologi dengan berbagai modalitas obat dan non-farmakologi termasuk intervensi bedah dan rehabilitasi. Komplikasi yang dapat terjadi akan dibahas beserta strategi pencegahan dan penanganannya, serta prognosis jangka pendek dan panjang pasien GO dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Penyusunan referat ini memberikan manfaat edukasi yang signifikan bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan pemahaman mendalam mengenai kompleksitas Grave's ophthalmopathy sebagai salah satu manifestasi ekstratiroidal yang paling menantang dalam praktik klinis. Bagi mahasiswa kedokteran dan residen, referat ini berfungsi sebagai sumber pembelajaran komprehensif yang mengintegrasikan pengetahuan dasar ilmu kedokteran dengan aplikasi klinis praktis dalam diagnosis dan tatalaksana GO. Manfaat praktis mencakup peningkatan kemampuan clinician dalam melakukan early detection dan appropriate referral, sehingga dapat mencegah komplikasi irreversible yang mengancam fungsi visual pasien. Referat ini juga berkontribusi dalam standardisasi pendekatan diagnostic dan therapeutic yang evidence-based, sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan outcome pasien secara keseluruhan. Dari perspektif kesehatan masyarakat, pemahaman yang lebih baik mengenai GO dapat membantu dalam pengembangan program screening dan pencegahan yang lebih efektif, terutama pada populasi berisiko tinggi. Manfaat penelitian mencakup identifikasi gap knowledge yang masih ada dan potensi area investigasi lebih lanjut yang dapat berkontribusi pada advancement of medical science dalam bidang endokrinologi dan oftalmologi. Bagi pasien dan keluarga, informasi yang komprehensif dan akurat mengenai GO dapat meningkatkan adherence terhadap terapi dan kualitas hidup melalui pemahaman yang lebih baik mengenai perjalanan penyakit dan ekspektasi treatment outcome. Aspek costeffectiveness juga menjadi manfaat penting, dimana diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat dapat mengurangi beban ekonomi jangka panjang yang ditimbulkan oleh komplikasi GO yang tidak tertangani dengan optimal. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan literature review yang dilakukan dengan menelaah artikel ilmiah yang relevan dengan topik Graves ophthalmopathy. Pencarian literatur dilakukan melalui database PubMed dan Google Scholar dengan kata kunci AuGraves ophthalmopathyAy. Authyroid eye diseaseAy. AupathophysiologyAy, dan AuTreatmentAy. Artikel yang disertakan adalah publikasi dalam bahasa Inggris atau Indonesia antara tahun 2009Ae2025, dengan jenis penelitian review atau penelitian asli pada manusia. Artikel yang tidak tersedia dalam bentuk full text atau tidak sesuai dengan topik dikecualikan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan disajikan secara naratif berdasarkan tema patogenesis, manifestasi klinis, dan terapi. Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves HASIL DAN PEMBAHASAN Anatomi Mata Orbita adalah rongga tulang berbentuk piramid dengan apeks di posterior dan basis di anterior, yang menampung bola mata serta struktur pendukungnya . tot, saraf, pembuluh darah, dan jaringan lema. (GrayAos Anatomy, 2. Gambar 1. Perlekatan otot dan saraf serta pembuluh darah yang memasuki orbita (Netter, 2. Dinding orbita terdiri dari empat sisi: atap . dibentuk oleh os frontal dan lesser wing sphenoid (Moore, 2. , lantai . dibentuk oleh maxilla, zygomatic, dan palatine (SnellAos, 2. , dinding medial dibentuk oleh ethmoid . amina papyrace. , lacrimal, maxilla, dan sphenoid, sedangkan dinding lateral dibentuk oleh zygomatic dan greater wing sphenoid (GrayAos Anatomy, 2. Gambar 2. Orbita (Sobotta. Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves Gambar 3. Orbita Potongan Horizontal (Netter, 2. Otot rektus medial dan lateral . rectus medialis dan m. rectus laterali. berfungsi menggerakkan bola mata ke arah medial dan lateral, masing-masing diselubungi oleh lapisan fasia yang berlanjut dengan vagina bulbi. Di posterior bola mata, tampak nervus optikus (II) yang menembus anulus tendineus communis (ZinnAos rin. dan dikelilingi oleh vagina nervi optici, menunjukkan hubungan dekat antara saraf optikus dengan sinus sphenoidalis di Struktur lain yang tampak termasuk tunica conjunctiva bulbi dan palpebrae, cornea, serta lens di anterior (Netter, 2. Gambar 4. Persarafan Otot Mata Ekstrinsik : Tampak Anterior (Netter, 2. Otot-otot ini berinsersi pada sklera anterior sesuai spiral of Tillaux, dengan jarak terdekat ke limbus pada rectus medialis (SnellAos Clinical Anatomy, 2. rectus superior: inervasi oleh nervus oculomotorius (CN . , fungsinya elevasi bola mata, dengan aksi tambahan adduksi dan intorsi rectus inferior: inervasi CN i, fungsinya depresi bola mata, dengan aksi tambahan adduksi dan ekstorsi rectus medialis: inervasi CN i, fungsinya adduksi rectus Lateralis: inervasi CN VI . , fungsinya abduksi obliquus superior berasal dari sphenoid dekat anulus Zinn, melewati trochlea . atrol fibro-kartilaginos. , lalu berinsersi pada sklera posterior-lateral (GrayAos Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves Anatomy, 2. Otot ini fungsinya untuk intorsi . , depresio saat adduksi . , serta abduksi . (Moore, 2. obliquus inferior berasal dari bagian anterior lantai orbita . , lalu menyilang ke posterior-lateral dan berinsersi pada sklera posterior-inferior (SnellAos, levator palpebrae superioris berasal dari lesser wing sphenoid di atas optic canal, berinsersi pada tarsal plate superior dan kulit kelopak atas (GrayAos Anatomy, 2. Graves Ophtalmopathy Definisi Oftalmopati Graves (OG) atau thyroid eye disease merupakan penyakit inflamasi pada jaringan orbita akibat kelainan autoimun tiroid dan menjadi manifestasi ekstratiroid tersering pada penyakit Graves (Sihombing, 2. Risiko OG meningkat pada pasien yang menjalani terapi radioiodin, terutama bila hipotiroidisme pascaterapi tidak ditangani dengan baik, serta pada perokok. Kondisi ini dapat muncul sebelum gejala hipertiroidisme terlihat. Selain pada Graves. OG juga dapat dijumpai pada tiroiditis Hashimoto, disfungsi tiroid akibat obat amiodaron, atau pada pasien dengan antibodi tiroid meskipun fungsi tiroidnya normal, bahkan tanpa adanya antibodi atau bukti laboratorium gangguan tiroid (Liu et al. , 2. Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit Graves terjadi akibat kegagalan toleransi imunologis yang memicu pembentukan antibodi terhadap reseptor TSH (TSHR) (Kasen et al. , 2. Faktor genetik, lingkungan, dan endogen turut memengaruhi perubahan reseptor TSH sehingga limfosit B menghasilkan antibodi TSHR-Ab (Subekti et al. , 2. Antibodi ini menstimulasi pelepasan hormon T3 dan T4 secara berlebihan serta berikatan dengan reseptor TSH pada adiposit dan fibroblas orbita, memicu sekresi sitokin proinflamasi dan glikosaminoglikan (GAG) yang menyebabkan fibrosis dan pembesaran jaringan orbital (Subekti et al. , 2. Peningkatan hormon tiroid tersebut akhirnya menimbulkan tirotoksikosis dan akumulasi limfosit autoreaktif di jaringan tiroid (Kasen et al. , 2. Oftalmopati Graves (GO) dipengaruhi oleh faktor risiko endogen seperti usia, jenis kelamin, dan genetik, serta faktor eksogen yang dapat dimodifikasi (Bartalena, 2. GO lebih berat pada pria dan cenderung muncul pada usia lebih tua, sementara kontrol terhadap faktor lingkungan terbukti berperan penting dalam menekan progresivitas penyakit. Epidemiologi Penyakit Thyroid Eye Disease (TED) memengaruhi sekitar 25Ae50% pasien Graves dengan insiden tahunan 20 per 100. 000 penduduk (Kulbay et al. , 2. Studi di Swedia melaporkan 21 kasus per 100. 000 populasi, dengan 20,1% di antaranya mengalami keterlibatan mata, sedangkan data EUGOGO menunjukkan prevalensi 90Ae155 per 100. 000 di Eropa (Sihombing, 2. Sebagian besar pasien . Ae90%) mengalami hipertiroidisme saat onset (Subekti et al. , 2. Di Indonesia, penelitian di RSCM menunjukkan prevalensi OG 37,3% dengan rasio perempuan:laki-laki 3:1, dan mayoritas pasien berstatus hipertiroid (Sihombing. Patofisiologi Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves GravesAo ophthalmopathy merupakan penyakit inflamasi autoimun yang menargetkan jaringan ikat otot ekstraokular, lemak intraorbital, dan kadang kelenjar lakrimal, akibat reaksi autoimun terhadap TSHR pada fibroblas orbita (Sihombing, 2. Disregulasi imun pada penyakit Graves memicu pembentukan autoantibodi terhadap TSHR dan IGF-1R, yang mengaktivasi jalur PI3K/Akt dan MAPK/ERK sehingga meningkatkan proliferasi fibroblas, sekresi hialuronan, dan pelepasan sitokin proinflamasi seperti IL-1. IL-6, dan TNF- (Kulbay et al. , 2. Aktivasi ini menyebabkan edema, peningkatan volume jaringan orbital, serta diferensiasi fibroblas menjadi adiposit dan miofibroblas yang memicu adipogenesis dan fibrosis (Kulbay et al. , 2. Perjalanan penyakit mengikuti RundleAos curve, dengan fase aktif inflamasi selama 6Ae24 bulan dan fase inaktif berupa fibrosis permanen, di mana terapi antiinflamasi paling efektif pada fase aktif (Subekti et al. , 2. Obat biologis seperti rituximab dan teprotumumab bekerja menargetkan jalur imun tersebut (Yu et al. , 2. Gambar 6. Patofisiologi Graves Oftalmopati (Yu, et al. Patofisiologi GravesAo ophthalmopathy melibatkan dua mekanisme utama, yaitu mekanisme imunologis dan mekanisme molekuler yang saling berkaitan dalam menimbulkan perubahan struktural pada jaringan orbital. Mekanisme imunologis dimulai ketika sistem imun menghasilkan autoantibodi terhadap thyroid-stimulating hormone receptor (TSHR) yang tidak hanya menargetkan kelenjar tiroid, tetapi juga fibroblas orbital yang mengekspresikan reseptor Infiltrasi limfosit T dan B ke dalam jaringan retroorbital memicu pelepasan berbagai sitokin proinflamasi seperti interleukin-1 (IL-. , tumor necrosis factor-alpha (TNF-), dan interferon-gamma (IFN-) yang memproduksi glycosaminoglycans (GAG), terutama hyaluronan, yang bersifat hidrofilik dan menarik air sehingga menimbulkan edema serta pembengkakan jaringan orbital. Akibatnya terjadi penebalan otot ekstraokular dan peningkatan volume jaringan lemak orbital yang memicu gejala khas berupa proptosis, diplopia, dan restriksi gerakan bola mata (Bahn, 2. Secara molekuler. GravesAo ophthalmopathy melibatkan aktivasi kompleks reseptor TSHRAeIGF-1R pada fibroblas orbital yang menstimulasi jalur PI3K/Akt. MAPK, dan NF-B. Aktivasi ini meningkatkan ekspresi gen HAS2 dan kolagen tipe IAei, sehingga mempercepat produksi GAG dan matriks ekstraseluler yang menyebabkan penebalan otot ekstraokular, fibrosis kronik, serta diferensiasi fibroblas menjadi adiposit dan miofibroblas (Smith, 2017. Bahn, 2. Manifestasi Klinis Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves GravesAo ophthalmopathy memengaruhi jaringan lemak orbital, otot ekstraokular, jaringan ikat, dan kelenjar lakrimal. Peradangan dan peningkatan glikosaminoglikan menyebabkan pembesaran otot ekstraokular yang dapat berkembang menjadi fibrosis dan gangguan gerak bola mata (Liu et al. , 2. Secara klinis, pasien biasanya mengeluhkan nyeri retroorbital, mata merah dan berair, diplopia, serta menunjukkan tanda khas seperti retraksi kelopak mata, proptosis, edema periorbital, dan penurunan visus akibat neuropati optik distiroid (Sihombing, 2. Gambar 7. Representasi skematis manifestasi klinis penyakit mata tiroid. Gejala klinis paling umum yang terkait dengan penyakit mata tiroid digambarkan dalam ilustrasi ini. (Kulbay et al. , 2. Manifestasi klinis berdasarkan derajat penyakitnya yaitu (Rashad, et al. Mild Disease Penyakit GO dapat muncul dengan temuan yang minimal sehingga mudah tidak dikenali atau salah didiagnosis. Pasien mungkin mengeluhkan sensasi seperti ada benda asing di mata, fotofobia . ilau terhadap cahay. , atau mata berair, yang merupakan tanda mata kering akibat keratopati akibat paparan. Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan pembengkakan ringan di sekitar mata . , proptosis kurang dari 3 mm di atas nilai normal berdasarkan ras dan jenis kelamin, retraksi kelopak mata kurang dari 2 mm, serta injeksi konjungtiva . emerahan pada mat. Gambar 8. Retraksi kelopak mata OD. Positif versus tanda Graefe (Wiersinga. Wilmar M et al. Moderate Disease Pada GO tingkat sedang, pasien menunjukkan tanda dan gejala yang lebih Peradangan dan kongesti pada orbita dapat menyebabkan edema periorbital yang Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves nyata, pembengkakan dan kemerahan konjungtiva, penyakit kornea, nyeri saat menggerakkan mata, diplopia . englihatan gand. , proptosis lebih dari 2 mm, serta keterbatasan pergerakan bola mata. Gambar 9. Proptosis OD 6 mm (Wiersinga. Wilmar M et al. Severe Disease Faktor risiko untuk GO berat meliputi usia lanjut, jenis kelamin laki-laki, dan kebiasaan Pasien yang datang dengan neuropati optik dan/atau kerusakan kornea memerlukan rujukan segera ke dokter mata, karena kondisi tersebut merupakan indikasi pasti untuk dekompresi bedah. Gejala peringatan . ed fla. termasuk penglihatan buram atau menurun yang menetap, skotoma . intik gelap pada penglihata. , dan penurunan persepsi warna. Pada pemeriksaan, dapat ditemukan lagophthalmos . etidakmampuan menutup mata sepenuhny. , tidak adanya fenomena Bell . erakan mata ke atas saat mencoba menutup mata yang berfungsi melindungi korne. , kekeruhan kornea, corneal breakdown, serta penurunan ketajaman penglihatan. Pasien dengan neuropati optik mungkin tidak selalu menunjukkan proptosis yang mencolok, karena pembesaran jaringan lunak orbita di ruang tertutup lebih mungkin menyebabkan kompresi saraf optik dibandingkan dengan kasus di mana bola mata terdorong ke depan, yang justru memberikan ruang tambahan di belakang bola mata . uang Gambar 10. Foto kanan menunjukan apical crowding dan foto kiri menunjukkan corneal breakdown (Wiersinga. Wilmar M et al. Diagnosis dan Diagnosis Banding Anamnesis Riwayat pasien, termasuk usia, jenis kelamin, etnis, penyakit penyerta, kondisi sistemik lain, kehamilan atau potensi untuk hamil, kebiasaan merokok, serta faktor lingkungan dan stres psikologis, serta kemungkinan kepatuhan terhadap terapi medis, harus digali pada setiap pasien baru dengan GO. Penting untuk memastikan tidak adanya tirotoksikosis yang nyata, karena kondisi ini dapat mengancam jiwa dengan komplikasi seperti iskemia, fibrilasi atrium, gagal Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves jantung kongestif, tromboemboli, stroke, psikosis, kelumpuhan, dan badai tiroid . hyroid stor. (Kulbay et al. , 2. Data menunjukkan bahwa sekitar 85% pasien GO mengalami onset gejala mata dalam kurun 18 bulan sebelum atau sesudah manifestasi penyakit tiroid (Loh & Kossler, 2. Pada tahap ini, dokter juga perlu mengeksplorasi gejala hipertiroidisme seperti penurunan berat badan, palpitasi, intoleransi panas, tremor, dan gangguan tidur sebagai indikasi status hipermetabolik yang mendasari (Sihombing & Tallo, 2. Selain itu, riwayat terapi radioiodin menjadi penting karena intervensi ini dapat memicu atau memperberat TED, terutama pada pasien dengan kadar antibodi reseptor TSH (TRA. yang tinggi (Kulbay et al. Riwayat gejala okular harus dieksplorasi dengan detail, termasuk sensasi tekanan di orbita, nyeri saat pergerakan bola mata, diplopia, pandangan kabur, fotofobia, dan perubahan bentuk mata. Gejala awal GO sering kali nonspesifik seperti rasa kering atau iritasi mata, sehingga sering disalahartikan sebagai sindrom mata kering (Kulbay et al. , 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dimulai dengan inspeksi visual untuk mendeteksi tanda khas GO. Proptosis merupakan tanda utama yang diukur dengan Hertel exophthalmometer. Nilai >20 mm atau asimetri >2 mm dianggap signifikan (Kulbay et al. , 2. Evaluasi motilitas bola mata membantu mengidentifikasi keterbatasan gerak akibat fibrosis atau pembesaran otot Otot inferior rectus paling sering terlibat, diikuti superior rectus dan medial rectus, yang memicu gangguan gerak vertikal atau horizontal serta diplopia (Kulbay et al. Pemeriksaan fungsi visual meliputi uji ketajaman penglihatan, persepsi warna menggunakan tes Ishihara atau HardyAeRandAeRittler . ebih sensitif untuk neuropati opti. , dan pemeriksaan lapang pandang. Penurunan ketajaman penglihatan atau gangguan persepsi warna dapat menunjukkan adanya dysthyroid optic neuropathy (DON), komplikasi yang membutuhkan intervensi segera (Loh & Kossler, 2. Pemeriksaan segmen anterior meliputi evaluasi konjungtiva untuk mendeteksi kemerahan atau edema . , penilaian terhadap superior limbic keratoconjunctivitis, dan inspeksi kornea untuk mengidentifikasi keratopati akibat paparan. Penilaian tear break-up time (TBUT) dan Schirmer test bermanfaat untuk menilai disfungsi kelenjar lakrimal yang sering terjadi akibat inflamasi kronis (Kulbay et al. Funduskopi dilakukan untuk memeriksa papil saraf optik, mendeteksi edema atau atrofi sekunder akibat kompresi di apeks orbita (Sihombing & Tallo, 2. Tanda Graves Oftalmopati (Liu, et al. Retraksi Kelopak Mata (Lid Retractio. Unilateral atau bilateral Mempengaruhi kelopak mata atas dan bawah, menyebabkan ekspresi mata melotot . taring expressio. Faktor penyebab meliputi: Peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik akibat hipertiroidisme Fibrosis pada otot penarik kelopak mata Pelebaran celah palpebra akibat eksoftalmus Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves Peningkatan aktivasi otot pengangkat kelopak mata atas (M. Levato. , ketika gerakan bola mata ke atas terbatas akiabt fibrosis M. Rectus inferior Keterlambatan Gerak Kelopak Mata (Lid La. Unilateral atau bilateral Hanya mempengaruhi kelopak mata atas Tanda von Graefe . ynamic lid la. : kelopak mata atas tetap terangkat ketika bola mata bergerak ke bawah Lid lag stasis . ang u. : kelopak mata atas tetap terangkat saat melihat ke bawah Kegagalan Kelopak Mata Menutup Sepenuhnya (Lagophtalmo. Penutupan mata tidak sempurna, disebabkan oleh disfungsi kelopak mata atas dan bawah serta adanya proptosis . ata menonjo. Proptosis Unilateral atau bilateral Tingkat keparahan bervariasi dari ringan (<24 m. hingga berat Selalu bersifat aksial Disebabkan oleh peningkatan volume otto ocular rdan lemak orbita Oftalmoplegia Keterbatasan gerakan ke atas dengan penurunan posisi bola mata akibat fibrosis pada Rectus inferior Sering ditemukan keterbatasan ringan pada pergerakan bola mata ke semua arah Perubahan pada Retina dan Saraf Optik Lipatan retina atau koroid akibat penekanan pada bola mata Neuropati optic kompresif, terutama disebabkan oleh pembesaran otot ekstraokular di puncak orbita Perubahan pada Kornea Keratokonjungtivitis limbik superior Paparan dan ulserasi kornea akibat lagophtalmos . enutupan mata tidak sempurn. Pemeriksaan Penunjang . Pemeriksaan Lab Pemeriksaan serologis harus menilai fungsi tiroid dan adanya autoimunitas tiroid. Pemeriksaan tiroid meliputi pengukuran thyroid-stimulating hormone (TSH) dan free T4. keduanya normal tetapi terdapat kecurigaan kuat terhadap GO, maka pemeriksaan free T3 dapat dipertimbangkan. Pemeriksaan antibodi harus mencakup antithyroid peroxidase (TPO), antithyroid-stimulating immunoglobulins (TSI). TSHR-stimulating antibodies (TSA. , dan thyroid-binding inhibitory immunoglobulins (TBII. Kadar TSI berkorelasi dengan tingkat peradangan pada GO dan dapat digunakan sebagai penanda aktivitas serta prognosis penyakit. Kadar free T3 dan TPO juga telah dikaitkan dengan adanya peradangan aktif. (Rashad, et al. Imaging Orbital Color Doppler Imaging Pemeriksaan dengan Doppler warna orbital (CDI) kini menjadi salah satu cara penting untuk melihat perubahan aliran darah di area mata pada penderita Thyroid Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves Eye Disease (TED). Pemeriksaan ini membantu dokter memantau aliran darah di sekitar mata untuk memperkirakan perkembangan penyakit dan menilai apakah pengobatan sudah berhasil. Dalam CDI, aliran darah diukur pada beberapa pembuluh utama, yaitu vena oftalmika superior (SOV), arteri oftalmika (OA), arteri retina sentral (CRA), dan arteri siliaris posterior (PCA) (Kulbay et al. , 2. Pada fase aktif GO, aliran darah di OA dan CRA biasanya meningkat terlihat dari naiknya kecepatan puncak sistolik dan diastolik akhir. Namun, pada SOV, aliran darah justru bisa menurun atau bahkan berbalik arah karena tekanan di dalam rongga mata meningkat akibat pembengkakan jaringan di belakang bola mata. Setelah dilakukan operasi dekompresi orbital . ntuk mengurangi tekana. , aliran darah di SOV dan nilai resistivitas CRA biasanya kembali membaik (Kulbay et al. , 2. CT-Scan Pemeriksaan ini mudah dilakukan, hasilnya cepat didapat, serta mampu menilai volume jaringan di rongga mata dengan akurat dan memperlihatkan bagian belakang rongga mata . serta sinus dengan jelas. Ciri khas hasil CT yang menunjukkan Thyroid Eye Disease (TED) antara lain (Rashad, et al. Pembesaran otot-otot mata, tetapi bagian ujung tendon tetap normal, . Sedikit menonjolnya dinding bagian dalam rongga mata (Coca-cola sig. Penekanan saraf optik akibat otot mata yang membesar, . Penonjolan jaringan lemak yang juga dapat menekan saraf optik, . Tidak ditemukan massa abnormal, pembesaran pembuluh darah, atau keterlibatan sinus. Otot yang paling sering terkena adalah otot rektus inferior, sedangkan pembesaran kelenjar lakrimal jarang terjadi. Pemeriksaan CT orbital juga diperlukan sebelum melakukan operasi dekompresi untuk menentukan area yang harus dibuka agar tekanan dalam rongga mata dapat dikurangi dengan aman (Rashad, et al. Gambar 11. hasil CT scan (Computed Tomograph. Hasil CT scan (Computed Tomograph. menunjukkan adanya pembesaran otot-otot ekstraokular pada penderita thyroid eye disease (TED). Pada citra CT dalam bidang aksial . , . dan bidang koronal . , tampak pembesaran otot rektus superior . itunjukkan dengan panah kunin. , rektus medial . anah mera. , dan rektus inferior . anah hija. , yang terlihat pada kedua mata secara simetris (Kulbay et al. , 2. MRI Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves MRI dengan kontras gadolinium dan teknik penekanan lemak merupakan pemeriksaan terbaik untuk mendeteksi dan memantau aktivitas penyakit TED. Pemeriksaan ini menghasilkan gambar beresolusi tinggi yang dapat membedakan jaringan lunak di sekitar mata serta mendeteksi adanya penumpukan cairan . dan pembesaran lemak di orbita tanpa menggunakan radiasi. MRI juga membantu menentukan apakah gangguan penglihatan disebabkan oleh tekanan pada saraf mata atau oleh penyebab lain, serta membedakan antara peradangan aktif dan jaringan parut . MRI dapat dilakukan secara berkala untuk menilai respon terhadap terapi. Namun, pemeriksaan ini memiliki kekurangan, yaitu biaya yang cukup mahal, waktu pemeriksaan yang lama, dan dapat menimbulkan rasa sesak pada sebagian pasien. Selain itu. MRI kurang efektif dibandingkan CT scan untuk menilai struktur tulang di sekitar mata (Rashad, et al. Gambar 12. Pemeriksaan MRI (A)Pemeriksaan MRI orbita dengan kontras gadolinium pada potongan sagital menunjukkan penebalan pada otot rektus medial di kedua mata. (B) Pada potongan koronal dari pasien yang sama terlihat penebalan pada semua otot rektus inferior, medial, dan superior di kedua sisi, serta pada otot levator palpebrae superioris dan otot oblik superior. (Rashad, et Octreoscan Octreoscan, juga dikenal sebagai somatostatin receptor scintigraphy, menggunakan oktreotid analog somatostatin berlabel radioaktif untuk mendeteksi peradangan melalui akumulasi pada limfosit, myoblas, fibroblas, sel endotel, atau kumpulan darah lokal akibat stasis vena yang disebabkan oleh peradangan. Pemeriksaan ini sangat sensitif untuk mendeteksi peradangan pada jaringan orbita dan dapat digunakan untuk memprediksi respons terhadap terapi imunosupresif serta memantau aktivitas penyakit pada GO. Namun, pemeriksaan ini memiliki beberapa kelemahan, seperti paparan radiasi ke seluruh tubuh, tidak memberikan gambaran morfologis yang detail, dan biayanya tinggi. Oleh karena itu. Octreoscan biasanya hanya digunakan jika aktivitas penyakit tidak dapat ditentukan melalui pemeriksaan klinis dan MRI tidak tersedia(Rashad, et al. Optical Coherence Tomography Optical Coherence Tomography (OCT) adalah teknik pencitraan non-invasif yang umum digunakan dalam bidang oftalmologi, terutama pada glaukoma dan gangguan neuro-oftalmik. Baru-baru ini, perubahan pada lapisan serabut saraf retina dan lapisan sel ganglion telah diteliti pada pasien GO. Ditemukan adanya penipisan subklinis yang dapat membantu dalam pemantauan dan penatalaksanaan penyakit. OCT angiografi (OCT-A) juga digunakan untuk menilai kepadatan pembuluh darah di sekitar saraf optik . dan area makula, yang Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves dapat memberikan informasi tambahan terkait progresivitas penyakit. Selain itu, ketebalan koroid subfoveal juga ditemukan berhubungan dengan aktivitas penyakit mata tiroid dan sedang diteliti lebih lanjut untuk potensi penggunaannya sebagai alat prediksi perjalanan Penting untuk dicatat bahwa perubahan OCT tersebut tidak spesifik hanya pada penyakit mata tiroid dan dapat dipengaruhi oleh penyakit mata lainnya (Rashad, et al. Biopsy Sebagian besar kasus GO pada pasien dengan disfungsi tiroid yang tidak diketahui dapat didiagnosis tanpa biopsi bedah. Namun, kecurigaan terhadap keganasan menjadi indikasi potensial untuk dilakukan biopsi otot ekstraokular atau jaringan lunak orbita. Ciri histologis utama GO meliputi serabut otot ekstraokular normal yang dipisahkan oleh ruang jaringan ikat yang sangat lebar dan bahan matriks ekstraseluler yang bersifat hidrofilik, serta adanya limfosit T dan makrofag. Mungkin juga terdapat akumulasi fokal dari limfosit B dan sel pembunuh alami . atural killer cell. Setelah terjadi kompresi kronis, serabut otot menunjukkan penampilan yang fibrotik dan atrofi (Rashad, et al. Tatalaksana Penatalaksanaan GravesAo Orbitopathy (GO) meliputi terapi non-farmakologis, farmakologis, pembedahan rehabilitatif, dan radioterapi, disesuaikan dengan tingkat aktivitas dan keparahan penyakit (Subekti et al. , 2. Pengendalian fungsi tiroid sangat penting karena baik hipertiroidisme maupun hipotiroidisme memperburuk GO. Pasien juga disarankan berhenti merokok dan mengontrol kadar kolesterol dengan statin untuk menekan efek proinflamasi yang memperberat penyakit (Sihombing, 2. Pilihan farmakoterapi pada GO tergantung dengan aktivitas fisik dan juga derajat penyakit (Subekti et al. , 2. Topical Eye Care Perawatan topikal pada mata bertujuan untuk mengatasi mata kering dengan penggunaan tetes mata buatan tanpa pengawet yang mengandung agen osmoprotektif dan analgesik kerja Jika diperlukan, tetes mata ini dapat digunakan beberapa kali sehari untuk melindungi permukaan dan epitel mata serta mengontrol gejala pada tahap awal penyakit. Pada tahap lanjut, dapat digunakan gel atau salep, terutama pada malam hari. Meninggikan posisi kepala dan menutup mata dengan plester . ye tap. saat tidur dapat membantu mencegah kekeringan kornea di malam hari. Glukokortikoid Glukokortikoid merupakan terapi pilihan pertama pada penanganan farmakologis untuk GravesAo Ophthalmopathy (GO) yang masih aktif secara klinis. Pemberiannya dapat dilakukan secara oral, intravena, atau lokal, namun pemberian lokal melalui suntikan subkonjungtiva atau retrobulbar tidak disarankan karena berisiko menimbulkan trauma dan efektivitasnya belum Pemberian glukokortikoid intravena terbukti memberikan respons dan perbaikan aktivitas penyakit yang lebih baik dibandingkan pemberian oral. Beberapa kontraindikasi penggunaan metilprednisolon dalam terapi GO antara lain: Riwayat atau bukti hepatitis virus aktif, . Gangguan fungsi hati berat, . Penyakit kardiovaskular berat, . Hipertensi yang tidak terkontrol. Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves . Gangguan psikiatri, dan . Diabetes yang tidak terkontrol. Untuk mencegah tukak lambung, dapat diberikan proton pump inhibitor (PPI) bersamaan dengan glukokortikoid, dan perlindungan tulang juga diperlukan terutama pada pasien berisiko tinggi mengalami osteoporosis. Efek samping glukokortikoid dosis tinggi meliputi katarak, tukak lambung, supresi fungsi adrenal jangka panjang, sindrom Cushing, hipertensi, diabetes, osteoporosis, reaktivasi penyakit kronis . eperti tuberkulosi. , infeksi, serta gangguan psikiatri. Jika pemberian glukokortikoid intravena tidak memungkinkan, prednison oral dapat diberikan selama 12 minggu dengan dosis awal 0,2 gram per hari, kemudian secara bertahap diturunkan hingga 0,01 gram per minggu . otal dosis kumulatif sekitar 4 gra. Beberapa alternatif terapi glukokortikoid yang telah banyak diteliti antara lain rituximab, tocilizumab . ntagonis reseptor IL-. , dan teprotumumab . ntibodi terhadap reseptor IGF-1R). Rituximab digunakan sebagai terapi lini kedua pada GO aktif derajat sedang hingga berat yang tidak memberikan respons terhadap terapi awal atau resisten terhadap glukokortikoid. Tocilizumab terbukti dapat memperbaiki fungsi penglihatan dan menurunkan tekanan Sedangkan teprotumumab merupakan agen imunosupresif baru yang efektif mengurangi proptosis dan meningkatkan aktivitas klinis GO. Mild GO Pada GravesAo Ophthalmopathy (GO) derajat ringan, penanganan difokuskan pada perlindungan mata secara topikal dan pengendalian faktor risiko. Jika dampak GO terhadap kualitas hidup pasien lebih besar dibandingkan risiko terapinya, maka glukokortikoid intravena dapat diberikan sebagai agen imunosupresif pada GO yang masih aktif, sedangkan operasi rehabilitatif dilakukan pada GO yang sudah tidak aktif. Terapi awal GO ringan biasanya dimulai dengan observasi, dan bila tersedia, dapat diberikan suplemen selenium 100 mg dua kali sehari selama 6 bulan. Pemberian selenium terbukti dapat memperbaiki gejala mata, meningkatkan kualitas hidup, serta mencegah progresivitas penyakit. Dalam uji klinis terkontrol, tidak ditemukan efek samping berarti dari penggunaan selenium pada pasien GO. Namun, efektivitas selenium menurun pada GO kronis yang sudah tidak aktif, sehingga jika diperlukan, tindakan operasi rehabilitatif lebih disarankan. Moderate to Severe Active GO Glukokortikoid sistemik dosis tinggi merupakan terapi lini pertama untuk GravesAo Orbitopathy (GO) aktif derajat sedang hingga berat. Pemberian glukokortikoid intravena menunjukkan efektivitas 70Ae80%, sedangkan pemberian oral hanya sekitar 50%. Selain itu, pemberian intravena lebih ditoleransi dengan baik dibanding oral. Metilprednisolon diberikan sebanyak 500 mg/hari selama 3 hari berturut-turut, diulang setiap minggu selama 4 minggu, sehingga total dosis kumulatif mencapai 6 gram. Terapi glukokortikoid sebagai lini pertama umumnya efektif untuk GO aktif derajat sedang hingga Jika terdapat respons parsial atau tidak adekuat terhadap glukokortikoid, beberapa pilihan terapi lanjutan dapat dipertimbangkan: Pemberian ulang glukokortikoid intravena . econd cours. Dapat dilakukan jika pasien menunjukkan toleransi baik terhadap terapi pertama, namun dosis kumulatif total tidak boleh melebihi 8 gram pada pemberian kedua. Kombinasi glukokortikoid oral dan radioterapi orbital Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves Radioterapi orbital memiliki efek sinergis bila diberikan bersama glukokortikoid oral. Dosis kumulatif: 20 Gy per mata, dibagi menjadi 10 dosis harian selama 2 minggu, atau 1 Gy per minggu selama 20 minggu, dengan efektivitas sama dan toleransi lebih baik. Efek samping ringan sementara berupa perburukan gejala mata dapat terjadi, tetapi bisa dikontrol dengan glukokortikoid oral dosis rendah. Kontraindikasi radioterapi: riwayat retinopati dan/atau diabetes yang tidak terkontrol. Radioterapi dapat dilakukan dengan teknik berbasis CT scan, seperti: 3D Conformal Radiotherapy . DCRT). Intensity Modulated Radiotherapy (IMRT), atau Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT). Kombinasi glukokortikoid oral dan siklosporin Prednison 100 mg/hari, diturunkan bertahap selama 3 bulan, dapat diberikan sendiri atau dikombinasikan dengan siklosporin dosis awal 5 mg/kgBB/hari selama 12 bulan. Kombinasi ini memberikan hasil mata yang lebih baik dan angka kekambuhan lebih Alternatif lain: Prednison dosis awal 60 mg/hari dengan/atau siklosporin 7,5 mg/kgBB/hari selama 12 minggu. Sebanyak 60% pasien yang tidak respons terhadap terapi tunggal menunjukkan perbaikan dengan terapi kombinasi. Rituksimab Dosis: atau 100 mg diikuti 500 mg dosis tunggal. Efek samping dapat dicegah dengan premedikasi antihistamin dan 100 mg Dapat terjadi edema periorbital dan inflamasi sebagai efek samping lokal. Terapi lain Injeksi triamcinolone periokular 20 mg/minggu selama 4 minggu berturut-turut menurunkan diplopia dan ukuran otot ekstraokular pada GO aktif baru, tanpa efek samping lokal maupun sistemik. Injeksi triamcinolone subkonjungtiva efektif untuk mengurangi pembengkakan dan retraksi kelopak mata ringan, walau dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraokular sementara. Bila gejala kambuh setelah penurunan dosis glukokortikoid atau tidak ada perbaikan klinis, dapat dipertimbangkan bromokriptin 1,25Ae7,5 mg/hari yang ditingkatkan bertahap selama 3Ae10 bulan, baik sebagai tunggal maupun kombinasi dengan Metotreksat menjadi alternatif bila ada efek samping glukokortikoid, diberikan 7,5Ae15 mg/minggu secara oral atau 20 mg subkutan. Moderate to Severe Inactive GO Pembedahan rehabilitatif direkomendasikan pada pasien dengan GravesAo Orbitopathy (GO) yang mengalami gangguan fungsi visual atau penurunan kualitas hidup yang signifikan setelah penyakit menjadi tidak aktif selama minimal 6 bulan. Jika diperlukan lebih dari satu jenis pembedahan rehabilitatif, maka urutan tindakan dilakukan sebagai berikut: Pembedahan dekompresi orbital. Pembedahan strabismus, kemudian Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves Pembedahan kosmetik periorbital dan kelopak mata, karena setiap prosedur sebelumnya dapat memengaruhi hasil dari prosedur selanjutnya. Pembedahan dekompresi orbital Tindakan ini diindikasikan pada kasus proptosis berat dan menetap, terutama bila tidak ada respons yang adekuat terhadap terapi glukokortikoid dan/atau radioterapi orbital, serta pada kasus dengan keratitis atau neuropati optik akibat penekanan saraf optikus. Tujuan pembedahan ini adalah untuk menurunkan tekanan intraokular, mengurangi eksophthalmus, retraksi kelopak mata, nyeri, serta memperbaiki penglihatan kabur akibat mikrovaskulopati orbital dan kompresi saraf optikus. Pembedahan strabismus Tindakan ini bertujuan untuk memperbaiki diplopia . englihatan gand. Pembedahan ini sering diperlukan karena keterlibatan otot ekstraokular biasanya tidak merespons terapi obat dan bahkan dapat memburuk setelah dilakukan pembedahan dekompresi orbital. Pembedahan kosmetik periorbital dan kelopak mata Pembedahan ini bertujuan untuk memperbaiki kelainan pada kelopak mata. Retraksi pada kelopak atas dan bawah merupakan hasil dari kombinasi proses inflamasi dan fibrosis, stimulasi adrenergik, serta restriksi otot rektus vertikal. Selain itu, eksophthalmus juga berkontribusi terhadap pelebaran celah palpebra . yelid Very Severe GO GO yang sangat berat akibat neuropati optik distiroid (DON) dan/atau paparan kornea serta kerusakan kornea merupakan keadaan darurat yang memerlukan penanganan segera. Subluksasi bola mata dapat terjadi akibat tarikan pada saraf optikus, dengan atau tanpa disertai kerusakan kornea. Terapi lini pertama pada DON adalah pemberian glukokortikoid intravena, misalnya metilprednisolon 500Ae1. 000 mg selama 3 hari berturut-turut atau dengan selang satu hari selama 1 minggu. Jika respons terapi tidak baik atau terjadi penurunan fungsi penglihatan, maka perlu dilakukan pembedahan dekompresi orbital. Komplikasi Komplikasi GravesAo ophthalmopathy (GO) muncul akibat inflamasi kronis, fibrosis, dan perubahan anatomi yang mengganggu fungsi visual, dengan tingkat keparahan dari ringan hingga mengancam penglihatan (Hodgson & Rajaii, 2. Komplikasi umum meliputi exposure keratopathy, diplopia akibat restrictive strabismus, neuropati optik, dan deformitas kelopak mata. Exposure keratopathy terjadi karena penutupan kelopak yang tidak sempurna akibat proptosis, dialami oleh 10,2% pasien dan dapat menyebabkan ulserasi hingga kebutaan jika tidak ditangani (Ibarra-Elizalde & Romero, 2. Diplopia ditemukan pada 44,9% pasien akibat fibrosis otot ekstraokular, mengganggu aktivitas visual dan sering memerlukan pembedahan korektif (Khazaei & Seethapathy, 2. Neuropati optik distiroid merupakan komplikasi paling berat yang memerlukan terapi glukokortikoid dosis tinggi atau dekompresi orbital segera (Subekti et al. , 2019. Pinhas et al. , 2. Tinjauan Pustaka: GravesAo Ophthalmopathy Sebagai Manifestasi Penyakit Graves Pencegahan Pencegahan GravesAo ophthalmopathy atau thyroid eye disease (TED) meliputi modifikasi gaya hidup, kontrol tiroid, dan pemantauan okular. Faktor risiko utama yang dapat dimodifikasi adalah merokok, yang memiliki hubungan linear dengan tingkat keparahan GO melalui peningkatan stres oksidatif, hipoksia jaringan, dan aktivasi mediator inflamasi (Nivean et al. , 2. Karena itu, penghentian merokok melalui konseling, terapi farmakologis, dan dukungan perilaku menjadi langkah preventif utama. Pengendalian status tiroid menuju kondisi eutiroid berperan penting sebagai pencegahan sekunder, sementara teknologi optical coherence tomography angiography (OCT-A) dapat mendeteksi penurunan perfusi dini untuk mencegah komplikasi lebih lanjut (Pinhas et al. , 2. Prognosis Prognosis thyroid eye disease (TED) bergantung pada faktor risiko, tingkat keparahan, dan respons terapi. Sebagian besar kasus ringan membaik spontan atau dengan terapi konservatif, namun 20Ae30% berkembang menjadi sedangAeberat dan 1Ae5% berisiko kehilangan penglihatan akibat neuropati optik atau keratitis berat (Nivean et al. , 2. Merokok, ketidakstabilan status tiroid, dan keterlambatan diagnosis memperburuk prognosis. Terapi biologis seperti teprotumumab yang menargetkan IGF-IR terbukti efektif, menurunkan proptosis Ou2 mm pada 77% pasien dan memperbaiki skor aktivitas klinis (Teo et al. , 2. KESIMPULAN GravesAo ophthalmopathy (GO) merupakan manifestasi ekstratiroid yang paling sering terjadi pada penyakit Graves, dengan dasar patogenesis berupa reaksi autoimun terhadap reseptor thyroid-stimulating hormone receptor (TSHR) yang diekspresikan tidak hanya pada kelenjar tiroid, tetapi juga pada fibroblas orbital. Penyakit ini ditandai oleh proses inflamasi kronik pada jaringan retroorbital yang menyebabkan pembengkakan otot ekstraokular, penumpukan glikosaminoglikan, peningkatan volume lemak orbital, dan fibrosis jaringan. Mekanisme tersebut menimbulkan gejala klinis berupa proptosis, retraksi palpebra, diplopia, serta pada kasus berat dapat terjadi neuropati optik kompresif. Patofisiologi GO melibatkan dua tahap utama, yaitu fase aktif . dan fase inaktif . Pada fase aktif, infiltrasi sel imun dan pelepasan sitokin seperti IL-1. TNF-, dan IFN- menstimulasi fibroblas orbital untuk menghasilkan glikosaminoglikan yang menarik air dan menyebabkan edema jaringan. Sedangkan pada fase inaktif, terjadi peningkatan deposisi kolagen dan matriks ekstraseluler yang mengakibatkan penebalan serta kekakuan otot Diagnosis ditegakkan melalui penilaian klinis, fungsi tiroid, dan pencitraan orbit, sedangkan penatalaksanaan mencakup pengendalian status tiroid, pemberian kortikosteroid sistemik, terapi imunosupresif, serta tindakan bedah dekompresi pada kasus berat (Sihombing. DAFTAR PUSTAKA