EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS LOA BAKUNG SAMARINDA Muhammad Ryan Ananda Putra1. Nurul Fatimah1, dan Rusdiati Helmidanora1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda Email : Putraryanputraryan@yahoo. ABSTRACT This study aims to find out the picture of drug use and find out the accuracy of the use of antihypertensive drugs in hypertensive patients at The Loa Bakung Samarinda Health Center. The type of research used is a descriptive non-experimental study of retrospective data sourced from prescribing data of patients diagnosed with hypertension. This study sample was a patient who had hypertension and used antihypertensive drugs. The data obtained was then compared to the JNC Vi reference standard. The results of the patient characteristic picture in this study were patient characteristics based on male sex as many as 91 patients . 33%) and female sex as many as 96 patients . 66%). Characteristics of patients based on ages 41 - 50 years as many as 20 patients . 69%), patients aged 51 - 60 as many as 61 patients . 62%), patients aged 61 - 70 as many as 80 patients . 78%), patients aged 71 - 80 as many as 25 patients . 36%), patients with > 80 years as many as 1 patient . 53%). Characteristics of patients based on the diagnosis of other diseases the most is diabetes mellitus as many as 45 cases . 8%). The results of the picture of monotherapy drug use in this study are amlodipine as many as 180 patients . %) and lisinopril use as much as 1 patient . 53%). The use of amlodipine and candesartan combination therapy as many as 5 patients . 67%), and the second combination therapy between captopril and lisinopril as many as 1 patient . 53%). Evaluation of the use of antihypertensive drugs based on the appropriate patient as many as 187 patients . %), appropriate indications as many as 187 patients . %), appropriate drugs as many as 186 patients . 46%), and the right dose as many as 187 patients . %). Keywords: evaluation, drugs, hypertension, puskesmas, loa bakung. PENDAHULUAN Saat merupakan masalah yang cukup penting dalam pelayanan kesehatan, hal ini dikarenakan angka prevalensi yang cukup Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal, jantung dan otak bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai. Berdasarkan dari data WHO (World Health Organizatio. tahun 2015, penyakit ini menyerang 22% penduduk dunia. Sedangkan di Asia Tenggara, angka kejadian hipertensi mencapai 36% . Tingginya prevalensi hipertensi berdasarkan cara pengukuran juga terjadi di hampir seluruh provinsi di Indonesia. Hasil data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa provinsi Kalimantan Selatan memiliki prevalensi tertinggi sebesar 44,13% diikuti oleh provinsi Jawa Barat sebesar 39,6%, dan provinsi Kalimantan Timur sebesar 39,3%. Provinsi Papua memiliki prevensi hipertensi terendah sebesar 22,2% diikuti oleh provinsi Maluku Utara sebesar 24,65% dan provinsi Sumatera Barat sebesar 25,16%. Penggunaan Obat yang Rasional adalah pasien menerima pengobatan sesuai kebutuhan klinis, dosis yang sesuai dengan kebutuhan serta biaya yang terjangkau untuk mencapai pengobatan yang efektif. Penggunaan suatu obat dikatakan tidak rasional jika dampak negatif yang diterima oleh pasien lebih besar daripada manfaatnya serta biaya yang tidak seimbang. Penggunaan obat yang rasional, mengisyaratkan bahwa pasien menerima obat sesuai dengan kebutuhan klinis, dalam dosis yang memenuhi kebutuhan individu masing-masing untuk periode waktu yang memadai, pada harga terendah untuk mereka dan masyarakat . Evaluasi merupakan suatu proses jaminan mutu yang terstruktur, dilaksanakan terusAemenerus dengan tujuan untuk memastikan bahwa obat-obatan digunakan dengan tepat, aman dan efektif. Evaluasi ini dilakukan dengan aspek-aspek penggunaan obat di lapangan kriteria-kriteria penggunaan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Hasil dari evaluasi ini selanjutnya dijadikan acuan untuk menjalankan perubahan dalam penggunaan obat rasionalitas penggunaan obat, yaitu pasien menerima obat sesuai dengan kebutuhan individu masing-masing untuk jangka waktu yang cukup dan pada biaya terendah bagi pasien. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian non eksperimental rancangan deskriptif dari data retrospektif periode Januari - Februari 2021 yang bersumber dari data resep pasien yang didiagnosis hipertensi di Puskesmas Loa Bakung Samarinda. Pencarian buku form pasien yang telah dicatat diformulir pengambilan data berupa nomor rekam medis, tanggal periksa, nama pasien, usia, jenis kelamin, tekanan darah, obat yang diberikan, frekuensi dosis yang diberikan, dan diagnosa pasien. Selanjutnya data yang telah dikumpulkan, data diolah dengan menggunakan software Microsoft Excel dan dianalisis secara deskriptif berdasarkan pedomanJNC Vi tahun 2014. Analisis secara deskriptif dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai variabel Puskesmas merupakan salah satu lini terdepan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia dan sudah seharusnya menerapkan penggunaan obat yang rasional sesuai standar yang ada. Ketidaktepatan penggunaan obat pada tingkat puskesmas dapat berakibat merugikan bagi kalangan luas masyarakat. Hal tersebut disebabkan banyak masyarakat kalangan menengah ke penduduk Indonesia memilih pelayanan kesehatan di puskesmas, sehingga perlu dilakukan evaluasi penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi . Menurut Penelitian yang dilakukan oleh Laura dkk . berdasarkan evaluasi Puskesmas Ikur Koto Kota Padang Periode 2018, karakteristik ketepatan indikasi, pengobatan sebanyak 26 orang atau66,7%. Jenis obat, didapatkan bahwa pasien yang menerima pengobatan dengan jenis obat tunggal sebanyak 39 orang atau 100%. Ketepatan dosis, didapatkan bahwa pasien yang menerima pengobatan antihipertensi yang sesuai dengan dosis pengobatan 66,7%. penelitian yang akan disajikan dalam bentuk tabel. Objek Penelitian Penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi yang meliputi ketepatan pasien, ketepatan obat, ketepatan indikasi dan ketepatan dosis pada pasien hipertensi di Puskesmas Loa Bakung Samarinda yang bersumber dari data resep Sampel dan Teknik Sampling Sampel penelitian ini adalah pasien yang memilik penyakit hipertensi di Puskesmas Loa Bakung Samarinda. Penelitian ini teknik sampling yang Purposive sampling berdasarkan kriteria Teknik Pengumpulan Data Pada pengumpulan dan pencatatan data pasien Hipertensi dari resep pasien lalu dipisahkan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang diperoleh dari resep pasien nama pasien, usia pasien, jenis kelamin pasien,obat yang diberikan dan frekuensi pemberian obat. Selanjutnya dilakukakan pencarian data pasien dibuku form pasien Puskesmas Loa Bakung Samarinda yang meliputi nomor rekam medis, pengukuran tekanan darah, dan dosis obat yang diberikan kepada pasien. Analisis Data Data yang telah dikumpulkan, diolah dengan menggunakan software Microsoft Excel. Data kemudian diolah berdasarkan urutan abjad nama pasien, lalu dikelompokkan sesuai kolom nomor rekam medis, tanggal periksa, nama pasien, usia, jenis kelamin, alamat, tekanan darah, obat yang diberikan, indikasi dan dosis. Selanjutnya, data dianalisis dengan menyesuaikan jenis obat yang tepat dan dosis obat yang tepat berdasarkan studi pustaka JNC Vi. Kemudian hasil analisis data ditampilkan dalam bentuk tabel. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Karakteristik Pasien Pengumpulan data karakteristik pasien ini bertujuan untuk mengetahuai identitas pasien serta untuk mengetahui profil pasien hipertensi di Puskemas Loa Bakung Samarinda periode januari februari 2021 secara umum. Pada penyakit hipertensi usia dan jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh. Jumlah pasien hipertensi lebih dominan berjenis kelamin perempuan, hal ini dikarenakan adanya hubungan faktor hormonal yang lebih besar dibandingkan dengan laki-laki. Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria lebih banyak menderita hipertensi dibandingkan dengan wanita, dengan rasio sekitar 2,29% untuk peningkatan tekanan darah sistolik. Laki - laki diduga memiliki gaya hidup yang cenderung meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan perempuan. Namun, menopause, maka prevalensi hipertensi pada perempuan mengalami peningkatan. Kejadian hipertensi pada perempuan menopause diakibatkan karena adanya Beberapa hormon pada masa pada masa menopause memiliki efek aditif pada peningkatan tekanan darah seperti adanya peningkatan relatif kadar androgen, penigkatan reistensi insulin. Hormon steroid pada wanita memiliki efek yang mengatur Sistem Renin Angiotensin dan mempengaruhi produksi angiotensinogen dan metabolism natrium. Penurunan kadar mengakibatkan penginkatan regulasi Sistem Renin Angiotensin dan peningkatan plasma renin activity. Adanya berbagai perubahan fisiologis tersebut, dapat menyebabkan terjadinya hipetensi pada wanita menopause . Karakteristik Pasien Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 1. Karakteristik Pasien berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Kasus Persentase (%) Perempuan 51,33 Laki-Laki 48,66 Total Karakteristik Pasien Berdasarkan Usia Usia pasien dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi 5 kelompok pengelompokan usia menurut WHO (World Health Organizatio. Berdasarkan hasil dari tabel 2 hal ini dapat dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah satunya diakibatkan oleh adanya pertambahan usia. Sejalan dengan bertambahnya usia, terjadi perubahan struktur pada pembuluh darah besar, sehingga lumen bisa menjadi sempit dan pembuluh darah menjadi lebih kaku, sebagai akibatnya terjadi peningkatan tekanan darah sistolik. Tabel 2. Karakteristik Pasien berdasarkan Usia Kategori Usia 41 Ae 50 tahun 51 Ae 60 tahun 61 - 70 tahun 71 Ae 80 tahun > 80 tahun TOTAL Karakteristik Pasien Berdasarkan Diagnosis Penyakit Lain. Karakteristik pasien berdasarkan diagnosis penyakit lain dapat dilihat pada tabel 3, pasien yang terdiagnosa tanpa penyakit lain berjumlah 51 pasien. Kasus Presentase (%) 10,69 32,62 42,78 13,36 0,53 atau sebesar 33,8 %. Creager dan Luscher, 2003 menyebutkan bahwa pada pasien diabetes melitus terjadi perubahan pengeluaran berlebihan asam lemak bebas dan resistensi insulin yang menyebabkan abnormalitas fungsi sel endotel yang terjadi karena penurunan aviabilitasNitric Oxide (NO). Nitric Oxide adalah suatu molekul kimia yang dapat memodulasi otot vaskular sehingga menyebabkan vasodilitasi. Diagnosis penyakit lain yang paling banyak dialami oleh pasien di Puskesmas Loa Bakung Samarinda pada periode januari Ae februari 2021 adalah diabetes melitus sebanyak 45 pasien Tabel 3. Diagnosis Penyakit Lain pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Loa Bakung Samarinda. Jenis Penyakit Diabetes Melitus Myalgia Dispesia/gangguan pencernaan ISPA Hiperlipidemia Katarak LSK Urtikaria . ulit melepu. Batuk Pilek Sifilis Jantung Iskemik Akut Mual muntah Gangguan Lambung Kasus Presentase (%) 17,64 13,23 7,35 3,67 2,94 2,20 1,47 1,47 1,47 1,47 1,47 1,47 0,73 0,73 Hiperplasia Hiperurisemia Penyakit Jantung Koroner Demam Observasi Chest Stroke Dermatitis Gangguan Lipoprotein Dermatofitosis Linu Pinggul Gout Vertigo Gangguan Jaringan Lunak TOTAL 0,73 0,73 0,73 0,73 0,73 0,73 0,73 0,73 0,73 0,73 0,73 0,73 0,73 Penggunaan Obat Hipertensi Penggunaan obat hipertensi adalah penggunaan obat berdasarkan kelas terapi, baik pemberian tunggal maupun kombinasi. Terapi farmakologis hipertensi diawali dengan pemakaian obat monoterapi karena monoterapi menurunkan tekanan darah sistolik sekitar 7-13 mmHg dan diastolik sekitar 4-8 mmHg. Jika target tekanan darah tidak tercapai dalam waktu satu bulan pengobatan, maka dapat dilakukan dengan peningkatan dosis obat awal atau penambahan golongan obat lain yang berasal dari terapi lini pertama dan kedua dengan meminimalkan efek samping interaksi obat . Berdasarkan tabel 4, monoterapi antihipertensi yang paling banyak diresepkan yaitu amlodipin sebesar 96,25%. Amlodipin termasuk golongan CCB dimana golongan ini merupakan hipertensi pada lansia . Hal ini terjadi karena pada lansia lebih sering terjadi hipertensi diastolik. Hipertensi sistolik ini lebih meningkatkan resiko kerusakan organ lainnya pada lansia dibandingkan hipertensi diastolik. Data menunjukkan bahwa golongan CCB amlodipin lebih dapat menurunkan hipertensi sistolik pada lansia sehingga dapat menurunkan resiko semakin parahnya kerusakan organ . Kombinasi antihipertensi yang Amlodipin golongan CCB dan candersartan termasuk golongan ARB. Kombinasi CCB dan ARB tepat karena keduanya bekerja dengan mekanisme yang berbeda untuk menurunkan tekanan Selain itu, kedua kelas antihipertensi tersebut merupakan first line terapi antihipertensi menurut JNC Vi, 2014. Kombinasi tersebut juga digunakan untuk mencegah terjadinya diabetes nefropati pada pasien diabetes mellitus dengan hipertensi . Kombinasi yang kedua yaitu antara captopril dan lisinopril yang keduanya dari golongan yang sama yaitu ACE-i, kombinasi obat antihipertensi sebaiknya dipilihkan dari golongan yang berbeda, dimulai dari dosis yang lebih rendah untuk meningkatkan dan mengurangi potensi terjadinya efek samping . Tabel 4. Jenis dan jumlah obat dari masing masing golongan obat hipertensi di Puskesmas Loa Bakung Samarinda. Variasi Golongan Jenis obat Kasus Persentase Obat (%) Monoterapi CCB Amlodipin 96,25 Kombinasi Kombinasi ACE-i Lisinopril 0,53 CCB ARB ACE-i Amlodipin Candersartan Captopril Lisinopril 2,67 0,53 TOTAL Evaluasi Penggunaan Obat Antihipertensi Evaluasi penggunaan obat antihipertensi yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif ditinjau dari hal antara lain tepat pasien, tepat indikasi, tepat menggunakan JNC Vi tahun 2014 Interpretasi hasil rasionalitas dalam penelitian adalah sebagai berikut: yang diberikan dengan kondisi pasien dimana dilihat dari penyakit komplikasi yang sedang diderita pasien pemberian yang diberikan kepada pasien sesuai dengan literatur yang dipakai yaitu JNC Vi, 2014. Berdasarkan tabel 5 diketahui antihipertensi untuk terapi hipertensi termasuk dalam kategori tepat pasien atau dapat disimpulkan sebagai 100% tepat pasien. Tepat Pasien Evaluasi ketepatan pasien pada membandingkan kontraindikasi obat Tabel 5. Tepat Pasien Hipertensi di Puskesmas Loa Bakung Samarinda. Tepat/Tidak Tepat Tepat Tidak Tepat TOTAL Tepat Indikasi Evaluasi ketepatan indikasi dilihat dari perlu tidaknya pasien diberi obat antihipertensi berdasarkan tekanan darah yang masuk rentang berdasarkan rentang JNC Vi 2014. Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa dari 187 data diperoleh hasil 100% tepat indikasi. Terdapat pasien yang memiliki tekanan darah normal dan pasien dengan tekanan darah rendah tetapi pasien Kasus Persentase (%) tersebut merupakan pasien rutin yang Pemberian obat antihipertensi kepada pasien tersebut bertujuanagar proses diinginkan, yaitu 120/80 mmHg sebagai pengukuran tekanan darah normal. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pengukuran tekanan darah dilakukan secara terus-menerus untuk melihat adanya tanda- tanda risiko penyakit kardiovaskuler dan mencapai target yang diinginkan . Tabel 6. Tepat Indikasi Pasien Hipertensi di Puskesmas Loa Bakung Samarinda. Tepat/Tidak Tepat Tepat Tidak Tepat TOTAL Kasus Persentase (%) Tepat Obat Evaluasi ketepatan obat dalam penelitian ini dinilai berdasarkan kesesuian pemilihan golongan terapi baik tunggal maupun kombinasi dengan diagnosis yang telah tertulis dalam resep pasien dan membandingkan dengan literatur yang digunakan yaitu JNC Vi. Melalui tabel 7 diketahuai bahwa dari 187 kasus atau resep pasien sebesar 0,53% dinilai tidak tepat obat dan 186 kasus lainnya sebesar 99,46% dinilai tepat obat. Adapun ketidaktepatan terjadi karena adanya kombinasi antara captopril dengan lisinopril dimana kedua obat ini merupakan satu golongan yaitu ACE-i. Kombinasi obat antihipertensi sebaiknya dipilihkan dari golongan yang berbeda, dimulai dari dosis yang lebih rendah untuk meningkatkan keefektifan dan mengurangi potensi terjadinya efek samping . Tabel 7. Tepat Obat Pasien Hipertensi di Puskesmas Loa Bakung Samarinda. Tepat/Tidak Tepat Tepat Tidak tepat TOTAL Tepat Dosis Dalam penelitian ini dinilai tepat dosis apabila dosis yang diberikan tidak kurang dan tidak lebih dari rentang yang ditentukan dalam literatur JNC Vi tahun 2014. Bila antihipertensi berada pada rentang dosis minimal dan dosis per hari Kasus Persentase (%) 99,46 0,53 yang dianjurkan maka peresepan dikatakan tepat dosis. Dikatakan dosis kurang atau dosis terlalu rendah adalah apabila dosis yang diterima pasien berada dibawah rentang dosis terapi yang seharusnya diterima pasien Tabel 8. Tepat Dosis Pasien Hipertensi di Puskesmas Loa Bakung Samarinda. Tepat/Tidak Tepat Tepat Tidak tepat TOTAL PENUTUP Kesimpulan Gambaran anithipertensi monoterapi pada pasien hipertensi di Puskesmas Loa Bakung Samarinda penggunaan terapi amlodipin sebanyak 180 pasien . ,25%) dan penggunaan monoterapi lisinopril sebanyak 1 pasien . ,53%). Penggunanaan obat antihipertensi terapi sebanyak 5 pasien . ,67%) dan Kasus Persentase penggunaan kombinasi captopril dan lisinopril sebanyak 1 pasien . ,53%). Penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Loa Bakung Samarinda Periode Januari - Februari tahun 2021 adalah sebagai berikut tepat pasien sebesar 100%, tepat indikasi sebesar 100%, tepat obat sebesar 99,46%, dan tepat dosis sebesar Saran Berdasarkan penelitian yang telah penelitian lanjutan mengenai evaluasi Hal ini bertujuan untuk pasien, sehingga dapat menurunkan resiko terjadinya hipertensi. Perlu dan pengoptimalan evaluasi dengan dokter, dan menggali informasi diberikan kepada pasien. DAFTAR PUSTAKA