Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Analisis Pengembangan Kurikulum CEFR Bahasa Arab di Eropa dan Internasional Analysis of CEFR Arabic Language Curriculum Development in Europe and Internationally Ahmad Fawzi Abdi Salam1. Muhammad Royan Firdaus2. Thariqatul Amaliah3. Muhammad Ulul Azmy4. Uswatun Hasanah5 1,2,3,4,5 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Jl. Laksda Adisucipto. Papringan. Caturtunggal. Kec. Depok. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55281. Indonesia e-mail: ahmadfawziabdisalam@gmail. ABSTRACT This study aims to analyze the development of Arabic language curricula based on the Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) in the European and international contexts using content analysis with a descriptive qualitative approach. Data were collected through a literature study of CEFR-based Arabic language curricula and related publications. The analysis included data reduction, categorization, and interpretation, with validity ensured through source triangulation and verification against official CEFR documents and related institutions. The CEFR has become a global standard in language learning, including Arabic, which is used to assess language competence objectively. This study examines policy documents, academic syllabi, and related publications to explore how CEFR principles are applied in Arabic language curricula in various countries. The results of the analysis show that the development of a CEFR-based Arabic language curriculum demonstrates progress in the standardization of Arabic language learning at the European and international levels. The CEFR provides a measurable leveling framework and encourages communicative and contextual learning. This curriculum emphasizes competence in the four language skills with descriptions of the abilities at each level. However, its implementation still faces obstacles such as limited materials, linguistic and cultural differences, and a lack of teacher Collaboration between institutions is needed for the effective and sustainable implementation of the CEFR. Keywords: CEFR. Arabic Language Curriculum. Global Implementation. Literature Review. Language Learning Standardization. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan kurikulum bahasa Arab berbasis Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) dalam konteks Eropa dan internasional dengan menggunakan metode analisis konten dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui studi literatur terhadap kurikulum bahasa Arab berbasis CEFR dan publikasi Analisis meliputi reduksi, kategorisasi, dan interpretasi data. Validitasi data menggunakan triangulasi sumber serta verifikasi dokumen resmi CEFR dan lembaga terkait. CEFR telah menjadi standar global dalam pembelajaran bahasa, termasuk bahasa Arab, yang digunakan untuk menilai kompetensi bahasa secara objektif. Studi ini mengkaji dokumen kebijakan, silabus akademik, serta publikasi terkait guna mengeksplorasi bagaimana prinsip CEFR diterapkan dalam kurikulum bahasa Arab di berbagai negara. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum bahasa Arab berbasis CEFR menunjukkan kemajuan dalam standarisasi pembelajaran bahasa Arab di tingkat Eropa dan internasional. CEFR memberikan kerangka levelisasi yang terukur serta mendorong pembelajaran yang komunikatif dan kontekstual. Kurikulum ini menekankan kompetensi dalam empat keterampilan berbahasa dengan deskripsi kemampuan tiap level. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala seperti keterbatasan materi, perbedaan linguistik dan budaya, serta kurangnya pelatihan guru. Diperlukan kolaborasi antar lembaga untuk penerapan CEFR yang efektif dan berkelanjutan. Kata Kunci: CEFR. Kurikulum Bahasa Arab. Implementasi Global. Kajian Literatur. Standarisasi Pembelajaran Bahasa. Ahmad Fawzi Abdi Salam. Muhammad Royan Firdaus. Thariqatul Amaliah3. Muhammad Ulul Azmy. Uswatun Hasanah: Analisis Pengembangan Kurikulum CEFR Bahasa Arab di Eropa dan Internasional E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 FIRST RECEIVED: 2025-06-16 REVISED: 2025-11-12 ACCEPTED: 2025-09-09 https://doi. org/10. 25299/ajaip. PUBLISHED: 2025-11-19 Corresponding Author: Ahmad Fawzi Abdi Salam AJAIP is licensed under Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International Published by UIR Press PENDAHULUAN Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) merupakan standar internasional yang diakui secara luas untuk menggambarkan tingkat kecakapan berbahasa asing. CEFR digunakan sebagai acuan dalam mengukur kemampuan berbahasa secara objektif dan konsisten, serta telah diterapkan secara luas di seluruh Eropa dan semakin banyak digunakan secara global. Kerangka ini tidak bergantung pada satu jenis tes bahasa tertentu, melainkan menyediakan deskripsi umum berupa can-do statements . ernyataan mampu melakuka. untuk setiap tingkat kemampuan, dari tingkat pemula hingga mahir (Mohamed, 2. Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) dari awal adalah sebagai kerangka pembelajaran Bahasa Inggris yang dipakai di Eropa. Kerangka ini berstandar international dipelopori oleh dewan Uni Eropa, disepakati dan diputuskan untuk menjadi rujukan bersama bagi universitas-universitas di Eropa dalam menerima mahasiswa asing bukan penutur bahasa Inggris. Standarisasi dalam pembelajaran bahasa Inggris kemudian diadopsi dan dikembangkan pada 40 bahasa dari berbagai macam negara, bahasa Arab adalah salah satunya (Nurdianto, 2. Dalam dimensi pembelajaran bahasa Arab, kompetensi merujuk pada kemampuan siswa dalam memahami, mengaplikasikan, dan menggunakan bahasa Arab secara tepat sesuai dengan konteks, tema, tempat, dan situasi yang dihadapi. Seseorang dapat dikatakan cakap berbahasa Arab apabila ia telah mencapai kualifikasi kompetensi tertentu yang sesuai dengan level kemampuannya. Dalam kerangka CEFR (Common European Framework of Reference for Language. , setiap level . eperti A1. A2. B1. B2. C1, dan C. memiliki standar kompetensi tersendiri yang harus dicapai. Setiap tingkatan memiliki batasan kemampuan yang berbeda dan bertingkat, baik dalam keterampilan mendengar, berbicara, membaca, maupun menulis. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran bahasa Arab berbasis CEFR dapat diukur melalui pencapaian kompetensi di setiap level secara bertahap dan terstandar (Nurdianto, 2. Saat ini. EF SET merupakan satu-satunya tes bahasa Inggris standar yang secara akurat mengukur seluruh rentang tingkat kecakapan sesuai dengan skala CEFR, mulai dari A1 hingga C2. Tes-tes bahasa lainnya umumnya hanya mencakup sebagian dari skala tersebut. Selain CEFR, terdapat pula kerangka lain yang memiliki tujuan serupa, seperti American Council on the Teaching of Foreign Languages (ACTFL) Proficiency Guidelines. Canadian Language Benchmarks (CLB), dan skala Interagency Language Roundtable (ILR). CEFR dikembangkan oleh Dewan Eropa pada tahun 1990 sebagai bagian dari upaya untuk mendorong kerja sama antarnegara Eropa dalam bidang pendidikan bahasa. Kerangka ini dirancang agar dapat digunakan secara lintas bahasa, termasuk bahasa Inggris. Jerman. Prancis, hingga bahasa-bahasa non-Eropa. Salah satu keunggulan CEFR adalah fleksibilitasnya dalam digunakan baik oleh institusi pendidikan, lembaga pelatihan bahasa. Ahmad Fawzi Abdi Salam. Muhammad Royan Firdaus. Thariqatul Amaliah3. Muhammad Ulul Azmy. Uswatun Hasanah: Analisis Pengembangan Kurikulum CEFR Bahasa Arab di Eropa dan Internasional Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 maupun sektor profesional, khususnya dalam konteks mobilitas akademik dan Dalam pembelajaran bahasa Arab bagi penutur non-Arab, penerapan kerangka CEFR mulai diadopsi oleh sejumlah institusi, di antaranya MaAohad TaAolim al-Lughah al-AoArabiyyah li Ghairi al-Nathiqina Biha Universitas Ummul Qura di Mekkah dan Universitas Elektronik Saudi Arabia (Arifin et al. , 2. Implementasi CEFR dalam kurikulum bahasa Arab memungkinkan adanya sistem levelisasi yang sistematis, dimulai dari level A1 dan A2 . B1 dan B2 . , hingga C1 dan C2 . Hal ini memberikan arah yang lebih jelas dalam proses pembelajaran dan penilaian kompetensi berbahasa Arab secara bertahap dan terukur. Lebih dari itu, penerapan CEFR dalam pembelajaran bahasa Arab juga menciptakan peluang untuk menyusun kurikulum yang lebih standar, transparan, dan dapat dibandingkan secara internasional. Di lingkungan akademik Eropa. CEFR telah menjadi rujukan utama dalam mendeskripsikan tingkat kemampuan bahasa asing siswa, termasuk sebagai informasi penting dalam dokumen akademik maupun CV. Namun demikian, di lingkungan profesional non-akademik, pemahaman terhadap CEFR masih belum merata. Oleh karena itu, ketika mencantumkan tingkat CEFR dalam konteks profesional, penting untuk disertai dengan keterangan tambahan seperti skor tes standar, pengalaman penggunaan bahasa di dunia nyata . isalnya studi atau bekerja di luar neger. , serta bukti kompetensi lainnya (Nurdianto & Ismail, 2. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa penerapan CEFR dalam pembelajaran bahasa Arab belum berjalan optimal, terutama di luar kawasan Eropa. banyak lembaga pendidikan, baik di Timur Tengah maupun Asia, termasuk Indonesia, masih terdapat keterbatasan dalam ketersediaan kurikulum, bahan ajar, dan instrumen evaluasi yang sesuai dengan standar CEFR. Selain itu, pelatihan guru bahasa Arab terkait penerapan CEFR masih minim, sehingga implementasinya belum merata. Beberapa penelitian terdahulu lebih banyak berfokus pada penerapan CEFR untuk bahasa Inggris, sedangkan kajian yang menelaah pengembangan kurikulum bahasa Arab berbasis CEFR masih terbatas dan bersifat konseptual. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara teori dan praktik dalam pembelajaran bahasa Arab berbasis standar internasional. Oleh karena itu, kajian terhadap pengembangan kurikulum bahasa Arab berbasis CEFR menjadi penting untuk meninjau bagaimana kerangka ini diadaptasi di berbagai konteks internasional, khususnya di negara-negara Eropa yang telah lebih dulu Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman konseptual dan arah pengembangan kurikulum bahasa Arab yang lebih adaptif, kontekstual, serta sejalan dengan standar kompetensi global. Dengan demikian, kajian terhadap penerapan CEFR dalam pengajaran bahasa Arab menjadi penting untuk melihat sejauh mana kerangka ini dapat menyesuaikan diri dengan karakteristik bahasa Arab dan kebutuhan pembelajar lintas budaya. Kajian ini juga dapat menjadi kontribusi dalam pengembangan kurikulum bahasa Arab yang lebih adaptif, kontekstual, dan berorientasi pada standar global. Ahmad Fawzi Abdi Salam. Muhammad Royan Firdaus. Thariqatul Amaliah3. Muhammad Ulul Azmy. Uswatun Hasanah: Analisis Pengembangan Kurikulum CEFR Bahasa Arab di Eropa dan Internasional Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian literatur . ibrary researc. (Zuchri Abdussamad, n. Metode ini dipilih karena sesuai untuk menelaah berbagai sumber tertulis yang telah ada mengenai pengembangan kurikulum bahasa Arab berbasis Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) di tingkat Eropa dan internasional. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas berbagai literatur ilmiah seperti artikel jurnal, laporan penelitian, buku, dokumen kebijakan pendidikan, serta publikasi resmi dari Council of Europe. ALTE (Association of Language Testers in Europ. , dan lembaga terkait lainnya yang membahas penerapan CEFR dalam pembelajaran bahasa Arab. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran dan telaah sistematis terhadap literatur yang relevan, meliputi kurikulum bahasa Arab berbasis CEFR, modul pembelajaran, deskripsi kompetensi berbahasa, dan laporan implementasi CEFR di lembaga pendidikan atau pusat bahasa. Teknik analisis data meliputi tiga tahap, yaitu: Reduksi data, menyeleksi dan menyoroti informasi penting yang relevan dengan fokus Kategorisasi, mengelompokkan data berdasarkan tema seperti struktur kurikulum, pendekatan pembelajaran, dan penerapan level CEFR. Interpretasi, menafsirkan hasil kajian dengan mengaitkannya pada konteks global penerapan CEFR serta implikasinya bagi pengembangan kurikulum bahasa Arab. Untuk menjamin keabsahan data, dilakukan triangulasi sumber dengan membandingkan hasil kajian dari berbagai penelitian dan publikasi otoritatif, serta memverifikasi kesesuaiannya dengan dokumen resmi CEFR. HASIL DAN PEMBAHASAN Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) merupakan sebuah kerangka standar internasional yang digunakan untuk menggambarkan dan mengukur tingkat kecakapan seseorang dalam berbahasa asing secara objektif dan terstruktur. CEFR memberikan deskripsi yang jelas dan rinci mengenai apa yang dapat dilakukan oleh seorang pembelajar bahasa pada setiap tingkatan, mulai dari tingkat pemula (A. hingga tingkat mahir atau cakap (C. (Kiai & Faqih, 2. Kerangka ini awalnya dikembangkan oleh Council of Europe dan telah menjadi acuan utama dalam pengajaran dan evaluasi bahasa di seluruh Eropa, bahkan semakin meluas penggunaannya secara global, termasuk di Asia dan Timur Tengah. Saat ini, banyak lembaga pengajaran bahasaAikhususnya bahasa Inggris. Arab. Prancis, dan JermanAimengadopsi CEFR sebagai dasar dalam merancang kurikulum, menyusun materi ajar, dan menyelenggarakan tes standar bahasa. Tes tersebut dirancang untuk mengukur kemampuan peserta dalam empat keterampilan utama: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, sesuai dengan level kompetensi yang telah ditetapkan CEFR (Dianto et al. , 2. Dengan adanya CEFR, pembelajaran dan pengujian bahasa menjadi lebih terarah, terukur, dan diakui secara internasional, sehingga memudahkan lembaga pendidikan, dunia Ahmad Fawzi Abdi Salam. Muhammad Royan Firdaus. Thariqatul Amaliah3. Muhammad Ulul Azmy. Uswatun Hasanah: Analisis Pengembangan Kurikulum CEFR Bahasa Arab di Eropa dan Internasional Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 kerja, maupun institusi pemerintah dalam menilai kemampuan bahasa seseorang secara adil dan konsisten. Pembelajaran bahasa Arab kini telah mengalami banyak perkembangan seiring dengan kemajuan zaman dan tuntutan masyarakat modern. Tidak hanya digunakan dalam konteks keagamaan, bahasa Arab juga menjadi keterampilan penting dalam bidang pendidikan, diplomasi, ekonomi, dan komunikasi global. Hal ini mendorong adanya penyesuaian dalam metode, media, serta kurikulum pembelajaran bahasa Arab agar lebih relevan, interaktif, dan aplikatif sesuai kebutuhan peserta didik di era digital (Shabur et al. , 2. Bahasa Arab saat ini tidak lagi dipandang semata-mata sebagai bahasa agama, melainkan telah berkembang menjadi bahasa komunikasi internasional yang digunakan di berbagai bidang. Selain menjadi bahasa utama dalam literatur keislaman, bahasa Arab juga digunakan dalam diplomasi, perdagangan, pendidikan internasional, dan media global. Peran strategis ini menjadikan bahasa Arab semakin penting untuk dikuasai oleh masyarakat global, termasuk di kalangan pelajar dan professional (Yahya et al. , 2. Penerapan CEFR dalam pengajaran bahasa Arab mencerminkan kebutuhan global untuk menghadirkan standar kompetensi yang terukur dan dapat disetarakan lintas bahasa. Meskipun CEFR bukan kerangka yang dikhususkan untuk bahasa Arab, fleksibilitasnya memungkinkan adaptasi terhadap karakteristik linguistik dan budaya Arab. Namun, adaptasi ini menuntut proses rekontekstualisasi agar tidak hanya meniru model Eropa, tetapi juga mengakomodasi nilai-nilai linguistik dan budaya Arab yang khas. Integrasi CEFR dalam Kurikulum Bahasa Arab di Eropa. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa negara Eropa telah mengadopsi CEFR dalam pengembangan kurikulum bahasa Arab, khususnya di lembaga pendidikan tinggi dan pusat bahasa. Kurikulum yang dikembangkan merujuk pada level kompetensi CEFR (A1Ae C. , di mana pembelajaran bahasa Arab difokuskan pada pencapaian kemampuan komunikatif secara bertahap (Alfarisi & Septiawati, 2. Sebagai contoh, lembaga-lembaga di Jerman dan Prancis telah menetapkan silabus bahasa Arab yang sesuai dengan deskripsi kompetensi CEFR, seperti kemampuan memahami teks pendek (A. , berdiskusi dalam tema umum (B. , dan menulis opini secara terstruktur (B. Hal ini menunjukkan bahwa standar CEFR mampu diadaptasi untuk pembelajaran bahasa Arab meskipun struktur bahasa Arab berbeda dari bahasa-bahasa Eropa (Rohman & Rosyadi, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan implementasi CEFR di Eropa tidak semata karena kerangka itu sendiri, tetapi karena adanya dukungan sistemik seperti ketersediaan sumber daya, pelatihan guru, serta budaya akademik yang menghargai asesmen berbasis kompetensi. Dengan kata lain. CEFR berfungsi efektif jika diintegrasikan dalam ekosistem pendidikan yang mendukung. Ini menjadi pembelajaran penting bagi negara-negara lain yang ingin mengadaptasi CEFR, termasuk Indonesia, agar tidak hanya meniru struktur level, tetapi juga membangun sistem pendukungnya. Struktur Level Kompetensi Bahasa Arab dalam Kerangka CEFR Untuk mengimplementasikan standar ini, diperlukan batasan pengukuran yang diakui secara internasional. Penilaian bahasa Arab yang disesuaikan dengan standar bahasa Inggris adalah sebagai berikut: Ahmad Fawzi Abdi Salam. Muhammad Royan Firdaus. Thariqatul Amaliah3. Muhammad Ulul Azmy. Uswatun Hasanah: Analisis Pengembangan Kurikulum CEFR Bahasa Arab di Eropa dan Internasional Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Level A1 bahasa Arab cukup untuk interaksi sederhana, seperti saat menjadi turis. Namun, belum memadai untuk keperluan akademik atau profesional. Menurut CEFR, pada level ini seseorang mampu: Level A1 dalam pembelajaran bahasa Arab mencerminkan kemampuan dasar untuk memahami dan menggunakan ungkapan sehari-hari serta frasa sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan konkret. Pada level ini, siswa mampu memperkenalkan diri dan orang lain, bertanya serta menjawab pertanyaan seputar informasi pribadi seperti tempat tinggal, keluarga, pekerjaan, makanan, dan cuaca. Mereka juga dapat melakukan interaksi sederhana dalam situasi umum, seperti berbelanja, memesan makanan, memberi arah jalan, hingga melakukan transaksi dasar di hotel. Meskipun kemampuan masih terbatas, siswa di level A1 diharapkan dapat menyampaikan gagasan dasar secara lisan dengan lawan bicara yang berbicara perlahan dan jelas. Umumnya, pencapaian level ini memerlukan waktu 60Ae80 jam pembelajaran (Hidayah et al. , 2. Level A2 bahasa Arab cukup untuk keperluan pariwisata dan interaksi sosial dasar dengan penutur asli, termasuk komunikasi ringan di tempat kerja. Namun, level ini belum memadai untuk menjalin hubungan mendalam, bekerja secara profesional, atau memahami konten akademik dan media berbahasa Arab secara luas. Level A2 dalam pembelajaran bahasa Arab menunjukkan kemampuan untuk memahami kalimat dan ungkapan umum yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, seperti informasi pribadi, pekerjaan, geografi lokal, dan aktivitas sosial. Pada level ini, siswa mampu melakukan komunikasi dalam situasi rutin, menyampaikan pengalaman masa lalu, mendiskusikan rencana, memberikan pendapat sederhana, serta berinteraksi dalam lingkungan sosial dan profesional dasar. Mereka juga dapat memahami dan membuat proposal bisnis sederhana, serta terlibat dalam percakapan ringan di tempat kerja atau kampus. Pencapaian level A2 ini umumnya membutuhkan sekitar 200 jam pembelajaran kumulatif, setelah menyelesaikan capaian kompetensi di level A1 (Ruliana Khasanah, 2. Level B1 dalam bahasa Arab menunjukkan kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dalam situasi sehari-hari dan profesional dasar. Siswa mampu memahami poin utama dari informasi yang jelas, menulis teks sederhana seperti email atau laporan, serta berbicara tentang pengalaman, impian, rencana, dan pendapat pribadi. Mereka dapat melakukan wawancara kerja, berdiskusi tentang gaya hidup, hiburan, pendidikan, hingga isu keselamatan Level ini juga memungkinkan keterlibatan dalam negosiasi ringan dengan bantuan. Pencapaian level B1 biasanya memerlukan sekitar 400 jam pembelajaran kumulatif setelah menyelesaikan level sebelumnya (Little, 2. Level B2 dalam bahasa Arab menunjukkan kemampuan yang cukup tinggi untuk berfungsi secara efektif di lingkungan kerja internasional. Siswa pada level ini mampu memahami teks kompleks, berdiskusi tentang topik abstrak maupun teknis, serta berinteraksi dengan penutur asli secara lancar dan spontan. Mereka dapat menulis dan menjelaskan sudut pandang dalam isu-isu aktual, serta mendiskusikan topik seperti karier, gaya hidup, keuangan, kepemimpinan, hingga isu sosial dan politik. Meskipun masih ada keterbatasan dalam memahami makna tersirat dan nuansa di luar bidang keahlian, siswa B2 sudah cukup mandiri dalam berbahasa Arab. Pencapaian level ini umumnya memerlukan sekitar 600 jam pembelajaran kumulatif (Maryo, 2. Ahmad Fawzi Abdi Salam. Muhammad Royan Firdaus. Thariqatul Amaliah3. Muhammad Ulul Azmy. Uswatun Hasanah: Analisis Pengembangan Kurikulum CEFR Bahasa Arab di Eropa dan Internasional Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Level C1 dalam bahasa Arab mencerminkan kemampuan berbahasa yang tinggi dan mandiri, memungkinkan seseorang untuk berfungsi secara efektif di lingkungan profesional maupun akademik di negara-negara berbahasa Arab. Pada level ini, siswa mampu memahami teks panjang dan kompleks, mengekspresikan gagasan secara fasih dan spontan, serta menggunakan bahasa dengan fleksibel dalam berbagai konteks. Mereka juga mampu menulis dan berbicara secara terstruktur dan mendalam mengenai topik-topik seperti seni, arsitektur, isu sosial, keberlanjutan, humor, etika, dan gaya komunikasi. Kecakapan ini mencakup kemampuan berpikir kritis, membandingkan, menganalisis, dan berpartisipasi dalam diskusi formal maupun informal. Untuk mencapai level C1, dibutuhkan sekitar 800 jam pembelajaran kumulatif (Muzammil, 2. Level C2 dalam bahasa Arab merupakan tingkat tertinggi yang setara dengan kemahiran penutur asli. Pada level ini, seseorang mampu memahami hampir semua teks dan percakapan dengan mudah, merangkum informasi dari berbagai sumber, serta mengekspresikan diri secara spontan, fasih, dan akurat, bahkan dalam situasi yang kompleks dan bernuansa. Siswa mampu membahas topik-topik ilmiah, teknologi, sosial, politik, pendidikan, serta menggunakan teknik kreatif dalam berbicara dan menulis. Mereka juga dapat berdiskusi tentang keuangan pribadi, stres, serta metodologi penelitian. Untuk mencapai level ini dibutuhkan sekitar 1000 jam pembelajaran kumulatif. Sayangnya, di Indonesia belum tersedia kurikulum bahasa Arab terintegrasi berbasis CEFR seperti halnya bahasa Inggris, sehingga diperlukan keterlibatan serius dari pemerintah, organisasi profesi, dan prodi Pendidikan Bahasa Arab untuk merumuskan kurikulum yang sesuai dengan standar internasional (Nurdianto, 2. Fokus pada Kompetensi Komunikatif dan Otentik Pendekatan CEFR menekankan kompetensi komunikasi otentik, bukan hanya penguasaan tata bahasa. Kurikulum bahasa Arab berbasis CEFR di Eropa mengarahkan pembelajaran pada keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis secara terpadu, dengan materi yang relevan secara budaya dan kontekstual (Europe, 2. Sebagai hasilnya, pembelajaran menjadi lebih praktis dan aplikatif, berbeda dengan pendekatan tradisional yang sering terfokus pada hafalan dan struktur semata. Ini juga memicu pengembangan materi ajar bahasa Arab yang lebih kreatif dan terstandar secara internasional (Konrad et al. , 2. Perubahan orientasi ini relevan dengan kebutuhan pembelajar bahasa Arab modern yang tidak hanya ingin membaca teks klasik, tetapi juga berkomunikasi secara efektif di lingkungan akademik, bisnis, dan diplomatik. Namun, di banyak lembaga Islam tradisional, pendekatan struktural masih dominan. Hal ini menimbulkan tantangan pedagogis: bagaimana mengintegrasikan CEFR tanpa menghilangkan karakteristik khas pembelajaran bahasa Arab Pendekatan CEFR dalam Pembelajaran Bahasa Arab Common European Framework of Reference (CEFR) memberikan kerangka standar internasional untuk pengajaran bahasa asing, termasuk bahasa Arab. Pendekatan ini mengatur pembelajaran dalam enam level (A1AeC. dan menekankan pada keseimbangan antara kompetensi kebahasaan dan kemampuan komunikasi. CEFR diterapkan secara luas, bahkan di Ahmad Fawzi Abdi Salam. Muhammad Royan Firdaus. Thariqatul Amaliah3. Muhammad Ulul Azmy. Uswatun Hasanah: Analisis Pengembangan Kurikulum CEFR Bahasa Arab di Eropa dan Internasional Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 lembaga pendidikan Timur Tengah, untuk memastikan pencapaian kompetensi yang sistematis dan terstruktur dalam pengajaran bahasa Arab (Nurul Khasanah, 2. Kompetensi Dasar yang Ditetapkan oleh CEFR Dalam CEFR, terdapat dua kategori utama kompetensi: kompetensi umum dan kompetensi bahasa komunikatif. Kompetensi umum mencakup pengetahuan deklaratif, keterampilan budaya, eksistensi individu, dan kemampuan belajar. Sementara itu, kompetensi bahasa komunikatif meliputi kompetensi linguistik . truktur bahas. , sosiolinguistik . enggunaan sesuai konteks sosia. , dan pragmatis . ujuan dan strategi komunikas. Keduanya bertujuan membentuk pelajar yang tidak hanya fasih tetapi juga memahami nilainilai dan konteks budaya (Pratama et al. , 2. Levelisasi dan Capaian Tiap Tingkatan CEFR CEFR membagi kemampuan berbahasa menjadi enam level, mulai dari A1 . hingga C2 . etara penutur asl. Setiap level memiliki capaian kompetensi yang berbeda, baik dalam keterampilan menyimak, berbicara, membaca, maupun menulis. Misalnya, pada level A1, siswa hanya mampu memperkenalkan diri dan menjelaskan hal-hal sederhana, sementara pada level C2, siswa mampu memahami dan menggunakan bahasa Arab dalam berbagai konteks akademik dan profesional yang kompleks (Rafinzar et al. , n. Tantangan Implementasi CEFR di Indonesia Meskipun CEFR menjadi kerangka acuan yang unggul, penerapannya di Indonesia masih menghadapi tantangan. Di antaranya adalah belum adanya kurikulum bahasa Arab yang terintegrasi dari awal hingga akhir seperti halnya bahasa Inggris, variasi standar antarlembaga, serta minimnya pelatihan guru yang memahami kerangka CEFR secara utuh. Selain itu, penggunaan dialek Aoamiyah dan perubahan cepat dalam komunikasi bahasa Arab juga menjadi tantangan dalam menyusun materi yang sesuai (Riyadi, 2. Pentingnya Integrasi CEFR dalam Kurikulum Nasional Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, penting dilakukan adopsi CEFR secara sistematis dalam kurikulum nasional. Hal ini meliputi penyusunan materi ajar, pelatihan guru, hingga evaluasi pembelajaran berbasis kompetensi CEFR. Dengan begitu, pembelajaran bahasa Arab akan menjadi lebih terarah, relevan dengan kebutuhan global, serta mampu menjembatani perbedaan standar antara institusi pendidikan di dalam dan luar negeri (Robbani et al. , 2. Tantangan dalam Implementasi Meskipun CEFR telah diakui secara internasional sebagai kerangka kerja yang efektif untuk mengukur kemampuan berbahasa, banyak pendidik mengkritisi sistem ini, khususnya terkait dengan luasan cakupan pada tiap tingkatannya. Setiap level dalam CEFR, mulai dari A1 hingga C2, mencakup beragam kecakapan dan kompleksitas kemampuan yang sangat luas (Safitri et al. , 2. Sebagai contoh, seorang siswa yang baru saja memenuhi kriteria minimum level B1 mungkin hanya memiliki kemampuan dasar dalam memahami dan menggunakan bahasa dalam konteks umum. Sementara itu, siswa lain yang hampir menguasai seluruh kompetensi level B2, tetapi belum sepenuhnya memenuhi syarat untuk naik ke level tersebut, tetap akan digolongkan pada level B1. Hal ini menciptakan celah kemampuan yang cukup besar antara dua siswa yang dikategorikan berada pada level yang sama (Safitri et al. , 2. Ahmad Fawzi Abdi Salam. Muhammad Royan Firdaus. Thariqatul Amaliah3. Muhammad Ulul Azmy. Uswatun Hasanah: Analisis Pengembangan Kurikulum CEFR Bahasa Arab di Eropa dan Internasional Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Dari sudut pandang praktis, hal ini menyulitkan guru dalam menyusun materi pembelajaran dan evaluasi yang tepat sasaran. Untuk mengatasi masalah tersebut, guru sering kali harus membagi lagi setiap level CEFR menjadi sub-level yang lebih rinci, seperti B1. dan B1. 2, guna menyesuaikan materi ajar dan penilaian dengan kemampuan aktual siswa (Yasin & Tarauni, 2. Namun, penambahan sub-level ini sering tidak dibakukan secara internasional, sehingga menimbulkan ketidakkonsistenan dalam penerapannya antar lembaga. Oleh karena itu, diperlukan panduan yang lebih jelas dan fleksibel dalam penerjemahan level CEFR ke dalam praktik pembelajaran di kelas, agar tujuan standarisasi tetap tercapai tanpa mengabaikan keragaman kemampuan individu siswa (Nurdianto, 2. Tantangan ini memperlihatkan adanya ketidakseimbangan antara idealitas CEFR dan realitas implementasi. Adaptasi CEFR menuntut reinterpretasi level kompetensi agar selaras dengan morfologi, sintaksis, dan pragmatik bahasa Arab. Selain itu, pelatihan guru menjadi faktor kunciAitanpa pemahaman mendalam tentang deskriptor CEFR, penerapan di kelas hanya bersifat administratif, bukan pedagogis. Di Indonesia, persoalan ini semakin kompleks karena belum adanya kurikulum nasional bahasa Arab yang terintegrasi dengan CEFR. Akibatnya, setiap lembaga mengembangkan modelnya sendiri, sehingga standar kompetensi antar lembaga tidak Meskipun CEFR telah diintegrasikan, masih terdapat beberapa tantangan dalam penerapannya terhadap bahasa Arab: Keterbatasan materi ajar bahasa Arab yang sesuai dengan CEFR, terutama untuk level tingkat lanjut. Perbedaan struktur linguistik dan budaya antara bahasa Arab dan bahasa Eropa yang memerlukan penyesuaian dalam deskripsi kompetensi. Kurangnya pelatihan guru bahasa Arab dalam memahami dan mengimplementasikan CEFR secara efektif. Beberapa institusi menyiasatinya dengan menyusun deskripsi kompetensi mandiri berdasarkan CEFR, namun disesuaikan dengan karakteristik bahasa Arab (Keilmuan et al. Dampak Internasional Secara internasional. CEFR menjadi acuan dalam sertifikasi kompetensi bahasa asing, termasuk bahasa Arab. Banyak lembaga seperti ALC (Arabic Language Cente. dan British Council mulai mengembangkan ujian bahasa Arab berdasarkan CEFR. Ini membuka peluang besar bagi pengembangan kurikulum bahasa Arab yang bersifat global dan dapat disetarakan dengan bahasa-bahasa lain (Dewi, 2. Fenomena ini menunjukkan bahwa CEFR bukan sekadar kerangka akademik, melainkan instrumen diplomasi bahasa. Standarisasi ini membuka peluang bagi bahasa Arab untuk diakui sejajar dengan bahasa global lain seperti Inggris. Prancis, dan Spanyol. Namun, di sisi lain, globalisasi CEFR juga berpotensi menggeser orientasi pembelajaran bahasa Arab dari nilai-nilai lokal ke arah pragmatisme global. Karena itu, penting bagi para pengembang kurikulum Arab untuk menyeimbangkan antara standar global dan karakteristik budayabahasa Arab itu sendiri. Ahmad Fawzi Abdi Salam. Muhammad Royan Firdaus. Thariqatul Amaliah3. Muhammad Ulul Azmy. Uswatun Hasanah: Analisis Pengembangan Kurikulum CEFR Bahasa Arab di Eropa dan Internasional Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. Oktober 2025 E-ISSN 2598-2168 P-ISSN 1412-5382 Secara keseluruhan, hasil kajian menunjukkan bahwa CEFR memberikan kontribusi signifikan terhadap standarisasi pembelajaran Bahasa Arab dan memudahkan pengukuran kompetensi lintas konteks. Namun, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada kesiapan sistem Pendidikan, kualitas sumber daya manusia, dan relevansi konteks budaya. Oleh karena itu, pengembangan kurikulum Bahasa Arab berbasis CEFR sebaiknya tidak bersifat adopsi penuh, melainkan adaptasi kontekstual yang mempertimbangkan nilai linguistic dan budaya Arab, serta kebutuhan pembelajar di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. SIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan kurikulum Bahasa Arab berbasis Common European Framework of Reference for Languages ( CEFR ) di Eropa dan scera internasional. Berdasarkan hasil kajian literatur, dapat disimpulkan bahwa pengembangan kurikulum berbasis CEFR menunjukkan arah yang progresif dalam Upaya standarisasi pembelajaran Bahasa Arab di Tingkat global. CEFR memberikan kerangka levelisasi yang jelas dan terukur serta mendorong pembelajaran yang lebih komunikatif, otentik, dan sesuai dengan kebutuhan abad ke 21. Pengembangan kurikulum bahasa Arab berbasis CEFR (Common European Framework of Reference for Language. di Eropa dan secara internasional menunjukkan arah yang progresif dalam usaha standarisasi pembelajaran bahasa Arab. CEFR tidak hanya memberikan kerangka levelisasi yang jelas dan terukur, tetapi juga mendorong pembelajaran yang lebih komunikatif, otentik, dan relevan dengan konteks global. Adaptasi CEFR memungkinkan pembelajaran bahasa Arab menjadi lebih sistematis dan dapat disetarakan dengan pengajaran bahasa asing lainnya. Kurikulum berbasis CEFR menekankan pada pencapaian kompetensi nyata dalam empat keterampilan berbahasa . enyimak, berbicara, membaca, dan menuli. , dengan deskripsi kemampuan pada setiap level yang memudahkan proses evaluasi dan perencanaan pengajaran. Namun, implementasi CEFR dalam bahasa Arab masih menghadapi tantangan, seperti keterbatasan materi ajar yang sesuai, perbedaan struktur bahasa dan budaya Arab dengan bahasa Eropa, serta kurangnya pelatihan guru dalam menerapkan CEFR secara efektif. Meskipun demikian. CEFR tetap menjadi acuan internasional yang penting dalam sertifikasi dan pengembangan kurikulum. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya kolaboratif antara lembaga pendidikan, pengembang kurikulum, dan pelatih guru untuk memastikan bahwa penerapan CEFR dalam pembelajaran bahasa Arab dapat dilakukan secara lebih inklusif, kontekstual, dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA