Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Gembira Karena Bebas Berteologi Kontekstual Orang Tionghoa Kristen di Indonesia dalam Memaknai Perayaan Imlek Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta rency91@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract The contextualization of theology is a crucial approach to presenting a relevant understanding of faith within specific social, cultural, and historical contexts. Contextual theology, as emphasized by Stephen B. Bevans, integrates tradition with present realities to produce dynamic and transformative faith reflections. In the Asian context, theology often responds to the realities of suffering, such as poverty and oppression. However, the author argues that faith reflection should not solely focus on suffering but must also create space for joy as an expression of gratitude for liberation. Employing an anthropological model, this paper explores how the Chinese Christian community in Indonesia interprets the celebration of Chinese New Year as a symbol of cultural liberation, reflecting the integration of Christian faith with local traditions. The paper also highlights the paradox where the freedom of faith is often constrained by doctrines that marginalize cultural identities. Drawing from personal experiences as a Chinese descendant living during the New Order and Reformasi eras, the author reflects on how joy and happiness can serve as significant theological responses to social and cultural challenges. This paper seeks to address questions regarding the interconnection between faith, culture, and joy in Christian life, particularly for the Chinese Christian community in Indonesia. Keywords: Chinese Christians, contextual theology, theology of joy. Chinese new year Gembira Karena Bebas: Berteologi Kontekstual Orang Tionghoa Kristen di Indonesia dalam Memaknai Perayaan Imlek Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Abstrak Kontekstualisasi teologi merupakan pendekatan yang penting untuk menghadirkan pemahaman iman yang relevan dalam konteks sosial, budaya, dan sejarah yang spesifik. Teologi kontekstual, sebagaimana ditekankan oleh Stephen B. Bevans, mengintegrasikan tradisi dengan realitas masa kini untuk menghasilkan refleksi iman yang dinamis dan transformatif. Dalam konteks Asia, teologi sering kali merespons realitas penderitaan seperti kemiskinan dan penindasan. Namun, penulis berargumen bahwa refleksi iman tidak hanya berpusat pada penderitaan, tetapi juga harus membuka ruang bagi sukacita sebagai bentuk syukur atas pembebasan. Dengan menggunakan model antropologis, paper ini mengeksplorasi bagaimana komunitas Tionghoa Kristen di Indonesia memaknai perayaan Imlek sebagai lambang pembebasan budaya yang mencerminkan integrasi iman Kristen dengan tradisi lokal. Paper ini juga menyoroti paradoks dimana kebebasan iman sering kali dibatasi oleh doktrin yang meminggirkan identitas budaya. Berdasarkan pengalaman pribadi sebagai keturunan Tionghoa yang hidup di era Orde Baru dan Reformasi, penulis merefleksikan bagaimana sukacita dan kebahagiaan dapat menjadi respons teologis yang signifikan dalam menghadapi tantangan sosial dan budaya. Paper ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan mengenai keterhubungan iman, budaya, dan sukacita dalam kehidupan Kristen, khususnya bagi komunitas Tionghoa Kristen di Indonesia. Kata-kata kunci: orang Kristen Tionghoa, teologi kontekstual, teologi sukacita, perayaan Imlek. Pendahuluan Kontekstualisasi teologi sangat penting karena memungkinkan pemahaman iman yang relevan dan bermakna dalam konteks budaya dan sosial yang spesifik. Menurut Bevans, identitas budaya, religiositas rakyat, dan perubahan sosial harus benar-benar diperhatikan dalam mengembangkan teologi yang kontekstual. 1 Teologi kontekstual adalah teologi yang secara serius memperhitungkan pengalaman manusia, lokasi sosial, budaya, serta dinamika perubahan budaya, dan menjaga keseimbangannya dengan merefleksikannya secara kritis. Kontekstualisasi ini penting karena Firman yang telah menjadi manusia, tinggal di tengahtengah kita, dan memberikan arti dalam realitas kontemporer kita. Dengan demikian, teologi kontekstual tidak hanya mengakui kehadiran Sang Firman dalam sejarah, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam konteks kehidupan yang kita jalani saat ini. Dalam berteologi kontekstual. Stephen B. Bevans menekankan pentingnya Stephen Bevans B. Model-Model Teologi Kontekstual, trans. Yosef Maria Florisan (Penerbit Ledalero, , 48. Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies memperhatikan dua hal utama, yaitu: pengalaman masa lampau dan pengalaman masa kini atau konteks. 2 Pengalaman masa lampau mencakup tradisi, sejarah, dan warisan iman yang telah membentuk identitas dan pemahaman teologis komunitas beriman. Tradisi ini menyediakan narasi, simbol, dan ajaran yang menjadi landasan bagi refleksi teologis. Di sisi lain, pengalaman masa kini . ersonal maupun komuna. atau konteks mencakup realitas hidup saat ini, termasuk kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang mempengaruhi kehidupan Bevans menekankan bahwa teologi harus berakar pada pengalaman konkret umat dalam konteks mereka saat ini agar tetap relevan dan bermakna. Dengan mengintegrasikan warisan tradisi dengan realitas masa kini, teologi kontekstual dapat menawarkan pemahaman iman yang dinamis dan transformatif, serta mampu menjawab tantangan dan kebutuhan zaman. Dalam pandangan Stephen B. Bevans, ada berbagai model kontekstualisasi teologi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan ini. Model Translasi berupaya menerjemahkan pesan Injil ke dalam konteks budaya tanpa mengubah esensinya, sementara Model Antropologis menekankan pentingnya menghargai dan mengintegrasikan kebijaksanaan serta praktik budaya Model Praksis menyoroti tindakan dan refleksi dalam perjuangan keadilan sosial, dan Model Sintesis menggabungkan elemen dari berbagai tradisi untuk membentuk pemahaman baru yang lebih holistik. Model Transendental berfokus pada pengalaman subjektif individu, sedangkan Model Budaya Tandingan mengakui ketegangan antara Injil dan budaya lokal. Dengan memanfaatkan berbagai model ini, teologi kontekstual dapat membantu umat Kristen memahami dan menghayati iman mereka secara lebih mendalam dan relevan dalam situasi kehidupan nyata mereka. Teologi Kristen dalam konteks Asia umumnya berfokus pada isu-isu seperti kemiskinan, penindasan, kesengsaraan, dan berbagai aspek penderitaan. Fokus ini tidak dapat dipungkiri mengingat banyak negara di Asia tergolong sebagai negara dunia ketiga, di mana kemiskinan dan penindasan sering terjadi. Kondisi ini terutama menonjol di negara-negara yang memiliki sejarah panjang penjajahan, yang meninggalkan dampak mendalam pada struktur sosial dan Oleh karena itu, teologi di Asia sering kali berusaha merespons realitas sosial ini, mengajak umat untuk merenungkan dan bertindak terhadap ketidakadilan yang masih banyak dialami oleh masyarakat di kawasan ini. Namun, menurut penulis, hidup tidak selalu berkisar pada penderitaan meskipun kita berada dalam situasi dan kondisi sosial yang penuh tantangan dan penderitaan. Hidup yang menderita pun sesekali dapat kita respons dengan sukacita. Apalagi ketika waktu penderitaan itu telah terlewati dan kini saatnya kita merayakan dengan sukacita dan kegembiraan. Merayakan Stephen Bevans B. , 9. Douglas J. Elwood, ed. Teologi kristen Asia: tema-tema yang tampil ke permukaan, trans. Abednego. Cetakan pertama (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1. , 82-83. Gembira Karena Bebas: Berteologi Kontekstual Orang Tionghoa Kristen di Indonesia dalam Memaknai Perayaan Imlek Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. momen-momen kebahagiaan adalah penting karena memberikan kita kekuatan dan harapan untuk menghadapi masa depan. Kebebasan yang telah kita capai seharusnya menjadi sumber kebahagiaan yang mengilhami kita untuk terus maju. Dengan demikian, meskipun kita tidak bisa menghindari realitas penderitaan yang sedang berlangsung, kita juga harus membuka ruang bagi sukacita sebagai bentuk syukur dan pengakuan atas pembebasan yang telah kita Model kontekstualisasi Teologi yang akan penulis gunakan adalah model Antropologi. Dalam model ini, penulis dapat mengeksplorasi bagaimana komunitas Tionghoa Kristen di Indonesia memaknai dan merayakan perayaan Imlek bukan hanya sebagai acara etnis belaka, tetapi juga sebagai lambang pembebasan budaya mereka yang terkait dengan sejarah pengakuan kembali keberadaan mereka oleh pemerintah. Perayaan Imlek kini tidak lagi perlu dilakukan secara terselubung atau dalam pertemuan tertutup, melainkan bisa dirayakan secara terbuka bersama seluruh masyarakat Indonesia. Selain itu, beberapa gereja yang berasal dari tradisi Tionghoa juga melaksanakan kebaktian Imlek sebagai ungkapan syukur atas tahun yang baru, menggambarkan integrasi iman Kristen dengan warisan budaya mereka secara harmonis dalam konteks lokal yang lebih luas. Memang benar bahwa kebebasan yang kita peroleh tidak berarti kita bebas tanpa Namun, melalui kebebasan tersebut, komunitas Tionghoa kini dapat hidup sebagai orang Indonesia tanpa perlu melepaskan atribut kebudayaan yang melekat baik secara jasmani maupun rohani. Demikian pula bagi orang Kristen Tionghoa, banyak dari mereka yang telah dimerdekakan dan dibebaskan oleh Kristus secara iman, dan negara secara etnis, namun ironisnya, kini terpenjara dalam doktrin-doktrin agama yang membuat mereka tidak lagi mengenal kebudayaan etnisnya sendiri. Kebudayaan mereka digantikan oleh kebudayaan yang mereka anggap benar, yaitu kebudayaan Alkitab yang ditafsirkan secara Barat. Jika Allah yang telah membebaskan kita adalah sumber sukacita yang sejati, mengapa kita tidak turut bersukacita di dalamNya setelah dibebaskan? Mengapa kita harus terus hidup dalam keprihatinan akan penderitaan penjara doktrin-doktrin agama yang kita tafsirkan sendiri? Apakah refleksi iman harus selalu memprihatinkan? Apakah orang Tionghoa tidak boleh bergembira, bersukacita, dan menjadi pengikut Kristus tanpa melepas etnisnya yang adalah orang Tionghoa? Pertanyaan-pertanyaan ini hendak penulis jawab dan refleksikan dalam paper ini, berdasarkan pengalaman pribadi penulis sebagai seorang keturunan Tionghoa yang lahir pada era Orde Baru dan beranjak dewasa pasca Reformasi. Selain itu juga, penulis dididik dalam pemahaman bahwa menjadi Kristen berarti meninggalkan kebudayaan Tionghoa. Di mana penulis juga dilarang menggunakan simbol-simbol hewan seperti Naga. Ular, yang dianggap sebagai lambang iblis. Dilarang melakukan ceng beng atau ziarah ke kubur, dan beberapa ritual leluhur lainnya, tetapi masih merayakan Imlek dengan cara kumpul Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies keluarga dan makan bersama serta membagikan angpao. Penulis akan menggali lebih dalam tentang bagaimana sukacita dan kebahagiaan dapat menjadi respons teologis dalam konteks kehidupan pribadi maupun komunal yang penuh tantangan di Indonesia. Orang Tionghoa di Indonesia Penggunaan kata AuTionghoaAy berasal dari dari kata AuZhonghuaAy . , yang berarti Bangsa Tengah atau Peradaban Tengah dalam bahasa Mandarin. Kata ini di Indonesia merupakan hasil dari evolusi sejarah yang panjang, mencerminkan perubahan sikap dan kebijakan terhadap komunitas etnis ini. Awalnya, istilah AuCinaAy digunakan oleh kolonial Belanda dengan konotasi Setelah kemerdekaan, upaya dekolonisasi mendorong penggunaan AuTionghoaAy sebagai bentuk penghormatan. Namun, pada era Orde Baru, istilah Cina kembali digunakan secara resmi, disertai diskriminasi terhadap etnis Tionghoa. Setelah Reformasi 1998, hak-hak budaya dan agama etnis Tionghoa dikembalikan, termasuk penggunaan istilah Tionghoa untuk menghormati identitas dan kontribusi mereka dalam masyarakat Indonesia. Berbicara mengenai identitas etnis Tionghoa tidaklah mudah, sebab kelompok ini tidaklah homogen. Ada beragam sebutan untuk orang Tionghoa di Indonesia sepeti misalnya Chinese. Cino. Cokin. Chindo. Namun secara konvensional, para ahli membagi etnis Tionghoa di Indonesia menjadi dua bagian, yaitu totok dan peranakan. 4 Totok adalah mereka yang keturunan Cina yang tidak campuran tetapi keluarganya telah berada di Indonesia selama dua atau tiga Sedangkan peranakan adalah mereka yang merupakan keturunan Cina campuran dengan penduduk lokal dan mempunyai orientasi kultural sesuai dengan tempat tinggalnya. Orang Tionghoa telah menetap di Nusantara jauh sebelum kedatangan Belanda dan bangsa Eropa lainnya. Menurut catatan Ma Huan, seorang penulis yang beberapa kali mengikuti ekspedisi Cheng Ho pada masa Dinasti Ming, sudah terdapat pemukiman orang Tionghoa di Jawa sejak awal abad ke-15. Kemungkinan besar, mereka adalah para pedagang yang menunggu musim yang tepat untuk kembali berlayar ke Tiongkok. 5 Akan tetapi, jumlah mereka yang datang sebelum Belanda tiba jumlahnya kecil. Sebab pada masa itu transportasi masih sulit dan peraturan-peraturan Kemaharajaan yang menetapkan hukuman berat bagi tiap orang Tionghoa yang meninggalkan Tiongkok. 6 Tidak diketahui kapan tepatnya orang Tionghoa pertama kali datang ke Indonesia, namun berdasarkan temuan benda-benda kuno seperti tembikar Tiongkok di Jawa Barat. Lampung, daerah Batanghari, dan Kalimantan Barat maupun yang disimpan di Asvi Warman Adam et al. Identitas Etnik Tionghoa (Jakarta: Kompas, 2. , 13. Asvi Warman Adam et al. , 90. Leo Suryadinata and Leo Suryadinata. Kebudayaan minoritas Tionghoa di Indonesia (Jakarta: Gramedia, , 1-2. Gembira Karena Bebas: Berteologi Kontekstual Orang Tionghoa Kristen di Indonesia dalam Memaknai Perayaan Imlek Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. berbagai kraton, menunjukkan bahwa kemungkinan besar sudah ada komunitas Tionghoa pada zaman purba. 7 Berdasarkan kronik dan cerita dalam Dinasti Han, pada masa pemerintahan Kaisar Wang Ming . -6 BCE) Tiongkok telah mengenal Indonesia yang disebut dengan Huangtse. 8 Menurut catatan yang ada, orang-orang Tionghoa mulai datang ke Indonesia pada abad ke 9, yaitu pada zaman Dinasti Tang untuk berdagang dan mencari kehidupan baru. Menurut penelitian G. Skinner. Kebanyakan orang Tionghoa yang datang ke Indonesia sebelum kedatangan Belanda adalah orang Hokkian yang tidak membawa istri dari Tiongkok dan menikah dengan perempuan pribumi yang disebut dengan peranakan. 10 Baru kemudian pada pertengahan abad 19, sebagian dari mereka datang sebagai suami istri. Tujuan utama mereka adalah mencari uang dengan rajin memasuki semua bidang perdagangan. Jika tidak ada orang Tionghoa, maka Pulau Jawa bukanlah wilayah yang menguntungkan, sebab semua industri, penyulingan alkohol dan pembuatan alat-alat rumah tangga, ada di tangan orang Tionghoa. Penggunaan budaya Tionghoa dalam gaya seni dekorasi Jawa dan Bali berpengaruh cukup besar. Patung-patung dari era Majapahit, relief batu di batu nisan Islam yang ada di pantai utara Jawa dan Madura dibuat oleh para tukang Tionghoa. Motif-motif batik, bahasa, beladiri atau silat, teknik-teknik pengobatan jamu, permainan kartu, penggunaan petasan, wayang Potehi yang mirip dengan wayang Cina, menjadi contoh meleburnya budaya Tionghoa dengan budaya Jawa. Menurut Setiono, jika kita pergi ke desa-desa di Jabodetabek seperti Mauk. Bojongnangka dan Dadap di Tangerang. Babelan di Bekasi atau Jonggol dan Cileungsi di Bogor, kita akan sukar membedakan mana penduduk asli dan mana yang keturunan Tionghoa. 12 Sebab secara fisik, dialek dan cara berpakaian sudah sama seperti penduduk asli. Yang membedakan menurut Setiono adalah warga keturunan Tionghoa ini masih menjaga dan memegang teguh tradisinya, misalnya merayakan Imlek. Ceng Beng, dan perayaan lainnya. Datangnya Belanda di Indonesia . membuat hubungan orang Tionghoa dengan penduduk lokal yang harmonis menjadi renggang dan kian rusak. Sebab Belanda menjalankan politik devide et impera yang ingin memecah belah dengan mengeluarkan berbagai aturan yang bertujuan memisahkan orang Tionghoa dengan penduduk setempat. Bagi mereka, keharmonisan orang Tionghoa dengan penduduk lokal adalah dianggap duri dan suatu ancaman jika mereka ingin menguasai Indonesia. Benny G. Setiono. Tionghoa Dalam Pusaran Politik (Jakarta: Elkasa, 2. , 15. Setiono. , 18. Setiono. , 19. William Skinner. AuGolongan Minoritas Tionghoa,Ay in Golongan Etnis Tionghoa Di Indonesia, ed. Mely G. Tan, vol. Cetakan kedua (Jakarta: Gramedia, 1. ,1. Setiono. Tionghoa Dalam Pusaran Politik. ,55. Setiono. , 65. Setiono. , 81. Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Sebelum kedatangan Belanda, orang Tionghoa yang tinggal di Indonesia tidak mengalami Mereka hidup layaknya orang biasa, sama seperti dengan penduduk lokal. Namun, propaganda Belanda sangat hebat, mereka berusaha memecah belah antara penduduk yang disebut asli dengan orang Tionghoa. Belanda sengaja membesar-besarkan perbedaan antara penduduk Indonesia dengan etnis Tionghoa untuk kepentingannya sendiri. 14 Banyak orang Tionghoa yang dijadikan bandar opium atau pemungut pajak yang menimbulkan citra negatif di kalangan penduduk lokal. 15 Selain itu juga. Belanda mengeksklusifkan orang tempat tinggal orang Tionghoa, mengizinkan mereka untuk membuka rumah judi yang merugikan penduduk setempat, dan menempatkan posisi orang TIonghoa sebagai warga vreemde-oosterlingen . imur asin. yang lebih tinggi dari warga golongan inlander atau pribumi. Meskipun mereka telah tinggal, menetap, dan berintegrasi dengan penduduk lokal jauh sebelum kedatangan Belanda, posisi masyarakat Tionghoa di Indonesia sangatlah Mereka seringkali diperlakukan tidak adil karena mereka memang tidak memiliki ambisi untuk berkuasa maupun menjajah. Sebagian besar dari mereka yang datang adalah pedagang, pandai besi, atau tukang kayu dan batu. Para pedagang ini umumnya berperan sebagai pedagang perantara atau eceran yang hidup hemat dan bekerja keras, mereka adalah orang biasa saja. 17 Oleh karena itu, stereotip bahwa semua orang Tionghoa kaya raya dan menguasai ekonomi Indonesia merupakan pandangan yang keliru. Pandangan ini memojokkan orang Tionghoa, sehingga mereka dapat dengan mudah dijarah karena dianggap telah merampas kekayaan Indonesia dari warga pribumi yang mana mereka itu adalah saudara setanah airnya sendiri. Oleh karena kedudukan orang Tionghoa yang tidak kuat, seringkali mereka dijadikan kambing hitam oleh orang Belanda ketika berada di situasi krisis. Pembantaian orang Tionghoa pada tahun 1740, dikenal sebagai Geger Pacinan, merupakan salah satu peristiwa paling tragis dalam sejarah kolonial di Hindia Belanda. Insiden ini terjadi di Batavia . ekarang Jakart. ketika pemerintah kolonial Belanda, di bawah kendali Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), melancarkan serangan brutal terhadap komunitas Tionghoa. Konflik bermula dari ketegangan ekonomi dan sosial yang dipicu oleh kebijakan diskriminatif VOC, termasuk pajak yang berat dan pembatasan perdagangan. Ketegangan meningkat ketika orang Tionghoa dituduh bersekongkol dengan pemberontak Jawa. Pada puncaknya, ribuan orang Tionghoa dibantai oleh pasukan VOC dan warga lokal dalam serangkaian serangan yang berlangsung selama beberapa hari. Banyak rumah dan properti milik orang Tionghoa Setiono. , 610. Asvi Warman Adam et al. Identitas Etnik Tionghoa. , 90. Setiono. Tionghoa Dalam Pusaran Politik. , 81. Setiono. , 587. Gembira Karena Bebas: Berteologi Kontekstual Orang Tionghoa Kristen di Indonesia dalam Memaknai Perayaan Imlek Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. dijarah dan dibakar. Peristiwa ini tidak hanya mengakibatkan hilangnya nyawa ribuan orang, tetapi juga menghancurkan hubungan antara komunitas Tionghoa dan penduduk lokal serta pemerintah kolonial untuk waktu yang lama. Berikut ini adalah kutipan laporan dari seorang penulis Belanda yang juga dikutip oleh Setiono, yang bernama W. von Hoevell dalam tulisannya yang berjudul Batavia in 1740: AuTiba-tiba tanpa diduga sebelumnya, terdengar jeritan ketakutan di seluruh kota dan terjadilah sebuah pemandangan yang sangat memilukan. Perampokan terhadap orang Tionghoa terjadi di seluruh pelosok kota. Semua orang Tionghoa tidak perduli, laki-laki, perempuan dan anak-anak habis dibantai. Bahkan perempuan yang sedang hamil dan menyusui anaknya juga tidak luput menjadi korban pembantaian yang tidak mengenal peri Ratusan tahanan yang diikat tangannya, disembelih seperti menyembelih Beberapa orang Tionghoa kaya, lari mencari perlindungan ke rumah orang-orang Belanda dan Eropa lain yang dikenalnya, namun tanpa mengenal belas kasihan dan tanpa menjunjung moral serta peri kemanusiaan, mereka menyerahkan orang-orang Tionghoa tersebut kepada para pemburunya yang haus darah. Barang-barang berharga yang dititipkan kepadanya langsung diambil menjadi miliknya sendiri. Pokoknya semua orang Tionghoa, baik yang bersalah maupun tidak harus dibasmi. Ay Serangkaian peristiwa adu domba yang dilakukan oleh Belanda membuat orang Tionghoa pada akhirnya mau tidak mau harus menjadi penjilat dan menjadi antek Belanda jika ingin hidup selamat, aman, dan sejahtera. Beberapa dari mereka akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Kristen untuk memperoleh kedudukan yang lebih istimewa. 18 Tak hanya itu, mereka juga memutuskan untuk mengganti namanya dengan nama-nama Belanda. Ketika Jepang masuk ke Indonesia . , orang-orang Tionghoa yang sudah kebelanda-belandaan seketika menyembunyikan identitas mereka dan kembali pada identitas Sebab pihak militer Jepang sangat tegas, orang-orang Belanda dan yang berkaitan dengan Belanda ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi di Cimahi. Setelah Indonesia merdeka, kehidupan orang Tionghoa tidaklah berangsur baik. Meskipun sebenarnya banyak tokoh-tokoh Tionghoa yang turut berjasa baik secara materi maupun moral untuk terus mengusahakan kemerdekaan Indonesia, seperti Liem Koen Hian. Djiauw Kie Siong yang rumahnya dipakai sebagai tempat Auperistiwa RengasdengklokAy. Yap Tjwan Bing. John Lie, dst. 20 Pada masa awal kemerdekaan, ada istilah Aujaman bersiapAy, jika mulai terdengar seruan. AuSiap! Siap!Ay maka penduduk Tionghoa akan gemetaran ketakutan, karena setelah seruan tersebut terjadilah perampokan, penjarahan, dan pembunuhan masal yang dilakukan oleh penduduk setempat yang diprovokasi oleh orang Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. Asvi Warman Adam et al. Identitas Etnik Tionghoa. , 91. Setiono. Tionghoa Dalam Pusaran Politik. , 522. Wang Xiang Jun. Orang-Orang China Yang Mempengaruhi Kemerdekaan Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Solomon, 2. Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Pada masa pemerintahan Soekarno, kedudukan orang Tionghoa di Indonesia mengalami dinamika yang kompleks dan sering kali penuh tantangan. Di satu sisi. Sukarno mengadvokasi nasionalisme Indonesia dan mendorong integrasi semua kelompok etnis ke dalam identitas nasional yang tunggal. Namun, disisi lain, kebijakan pemerintah dan sentimen nasionalis sering kali menciptakan ketidakpastian bagi orang Tionghoa. Isu kewarganegaraan menjadi salah satu masalah utama, dengan banyak orang Tionghoa diharuskan memilih antara kewarganegaraan Indonesia atau Tiongkok. Kebijakan ekonomi yang berfokus pada nasionalisasi aset-aset asing juga berdampak pada pengusaha Tionghoa, yang seringkali dipandang sebagai penguasa ekonomi oleh masyarakat pribumi. 21 Meskipun ada usaha dari beberapa tokoh Tionghoa untuk menyesuaikan diri dan berkontribusi pada pembangunan nasional, stereotip negatif dan diskriminasi tetap menjadi tantangan. Kondisi ini menciptakan ketidakstabilan dalam hubungan antara orang Tionghoa dengan negara serta masyarakat luas selama era Soekarno, sehingga masih ada saja peristiwa rasialis yang menyebabkan orang Tionghoa terbunuh konyol. Seiring dengan terjadinya G30S, kampanye Xenophobia anti-Tionghoa kembali digerakkan dengan dukungan dari kekuatan asing, terutama Inggris dan AS. 22 Kelompok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat mendukung penumpasan komunis, sementara negaranegara sosialis seperti Uni Soviet. Kuba, dan RRT memprotes tindakan Soeharto. Negara-negara kapitalis Barat secara aktif dan intensif menggunakan propaganda anti-Tionghoa di Indonesia untuk mengalihkan opini publik, mengarahkan kebencian terhadap Cina dari RRT. Mereka menyebarkan pandangan bahwa sumber komunisme adalah orang Tionghoa di Indonesia. Pada masa inilah terjadi lagi penjarahan, pembunuhan, dan perkosaan massal terhadap orang Tionghoa. Pemerintah juga menyetujui dan mendukung propaganda ini, serta melakukan kampanye anti-Tionghoa. Berdasarkan apa yang ditulis oleh Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik. Roland Challis, seorang petugas BBC mengatakan sebagai berikut:23 AuSalah satu sukses utama yang diinginkan pihak Barat, adalah mengatur agar para politisi non komunis Indonesia percaya bahwa sumber komunisme yang utama adalah minoritas Tionghoa di Indonesia. Ini dapat merubah situasi menjadi masalah etnis. Memang sangat mengerikan melakukan hal ini, yang saya maksud cara-cara menghasut orang-orang Indonesia untuk bangkit dan menganiaya orang-orang Tionghoa. yang dipaksa memasuki kerangka berpikir semacam itu. Orang-orang Indonesia harus diyakinkan bahwa orangorang Tionghoa yang jahat inilah yang sesungguhnya komunis. Saya sangat surprise, apabila hal ini bukan ulah IRD24, pasti seseorang di jajaran pemerintahan Inggris yang telah mengusulkan ide ini. Ay Setiono. Tionghoa Dalam Pusaran Politik. , 795. Setiono. , 951. Setiono. , 953-954. Indonesian Revolutionary Defense merupakan salah satu badan militer atau bagian dari angkatan bersenjata Indonesia, memiliki sejumlah tugas dan tanggung jawab utama yang berkaitan dengan penanganan situasi politik dan keamanan negara yang sangat kritis saat itu Gembira Karena Bebas: Berteologi Kontekstual Orang Tionghoa Kristen di Indonesia dalam Memaknai Perayaan Imlek Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Di mata sebagian besar pemimpin pribumi, orang Tionghoa di Indonesia dianggap memiliki kesetiaan kepada RRC daripada Indonesia. Sebab mereka membuat kelompokkelompok eksklusif yang tidak hanya menguasai perekonomian Indonesia tetapi juga mempunyai hubungan dengan China. 25 Tak hanya itu juga, sebagian besar juga berpikiran bahwa orang Tionghoa dulu sering melayani kepentingan penjajah, yaitu Belanda dan Jepang. Ini adalah stereotip yang salah. Memang benar ada orang Tionghoa yang melayani kepentingan penjajah, tapi seberapa banyak dibandingkan dengan yang tidak? Bukankah orang pribumi juga ada yang sibuk menjilat pantat penjajah? Zaman Orde Baru. Soeharto menuntut asimilasi total, tiga pilar masyarakat Tionghoa telah dihapus . rganisasi, pers, dan sekola. 26 Lalu menyusul dikeluarkannya Instruksi Presiden No. 14/1967 yang mana seluruh upacara agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa hanya boleh dirayakan di lingkungan keluarga dan dalam ruangan tertutup. Kemudian muncullah beberapa aturan lain yang merugikan orang Tionghoa, seperti dilarangnya ada tulisan yang memakai aksara China, adanya perbedaan nomor KTP bagi orang Tionghoa di Jakarta. Usaha-usaha percepatan asimilasi tampak dari orang Tionghoa yang diharuskan mengganti namanya menjadi nama Indonesia, seperti beberapa marga seperti Tan menjadi Tanuwijaya. Tanusaputera. Tanamal. Tanzil, dst. Liem menjadi Halim. Salim. Limanto, dst. Oei menjadi Wijaya. Wibowo, dst. dan masih banyak marga lain yang berubah karena diIndonesiakan. Di satu sisi. Soeharto memanfaatkan komunitas Tionghoa, terutama para pengusaha, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi negara. Banyak pengusaha Tionghoa diberi ruang untuk beroperasi dan berkembang dalam sektor ekonomi, dengan syarat mereka menunjukkan loyalitas kepada rezim dan berpartisipasi dalam praktik ekonomi yang menguntungkan pemerintah. Akibatnya, beberapa pengusaha Tionghoa menjadi sangat sukses dan memperoleh pengaruh ekonomi yang besar. Inilah yang membuat kesenjangan sosial di Indonesia makin nampak, dan bagi beberapa pribumi, semua orang Tionghoa dianggap kaya dan menguasai perekonomian di Indonesia, padahal kenyataannya tidak. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto . , istilah Cina mulai dipromosikan kembali secara resmi untuk menggantikan istilah Tionghoa. Menurut yang penulis tahu, penggunaan kata Cina itu sifatnya merendahkan, biasanya digunakan untuk memaki orang Tionghoa. AuDasar Cina!Ay. Beban sejarah yang terjadi sejak masa Kolonial dan kebijakan asimilasi Soeharto malah semakin melanggengkan stereotip negatif terhadap orang Tionghoa, yang memuncak pada peristiwa rasial yang lagi-lagi terjadi pada tahun 1998 yang juga telah meninggalkan trauma yang mendalam bagi kebanyakan orang Tionghoa pada saat ini. Leo Suryadinata. , 228. Leo Suryadinata. Pribumi. Minoritas Tionghoa. Dan China (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2. Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Pasca berakhirnya era Orde baru, telah banyak terbit berbagai kebijakan yang menandakan adanya pengakuan terhadap orang Tionghoa. Peristiwa kerusuhan 98 membuat banyak orang Tionghoa kabur ke luar negeri. Habibie mengajak mereka untuk pulang dan membangun kembali Indonesia dengan berjanji tidak akan membedakan golongan pribumi dan non pribumi. 27 Kemudian di era Gus Dur, yang sejak awal memang tertarik dengan kebudayaan dan kepercayaan Tionghoa, mencabut Inpres nomor 14 tentang Agama. Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina dengan Keppres nomor 6 Tahun 2000. Oleh karena Keppres tersebut, masyarakat Tionghoa akhirnya dapat merayakan Imlek dan hari raya lainnya secara terbuka. Selain itu. Gus Dur juga menginstruksikan untuk menghormati Hari Raya Imlek dengan libur fakultatif, yang kemudian disempurnakan oleh Megawati dengan libur nasional. 28 Oleh karena itu. Gus Dur dijuluki Bapak Tionghoa Indonesia. Konteks Orang Kristen Tionghoa di Indonesia Selama periode 1602-1945, khususnya di bawah pemerintahan Hindia Belanda, mayoritas orang Tionghoa, baik Totok maupun Peranakan, tetap mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Cina. Hal ini dipengaruhi oleh pemeliharaan tradisi religius dan sosial yang kuat, yang mengikat mereka pada identitas kebudayaan Cina. 29 Karena kuatnya identitas mereka akan pemeliharaan tradisi, inilah yang menjadi salah satu penghambat kebanyakan orang Tionghoa di Indonesia sulit untuk menerima ajaran Kristen. Mereka merasa, jika mereka menjadi Kristen maka mereka meninggalkan tradisi, meninggalkan identitas dan itu juga berarti meninggalkan nenek moyang mereka. Orang Tionghoa sangat menghormati leluhur mereka, sebagai seorang anak, mereka harus mengabdi penuh terhadap orang tuanya sebagai upaya kesempurnaan hidup yang diajarkan oleh Konfusius. Pada masa itu, bagi sebagian orang-orang Tionghoa, agama Kristen dianggap agama yang sulit dipahami karena sifatnya dogmatis. Menurut Hartono, hal ini dapat dipahami sebab mereka sudah terbiasa dengan ajaran Sam Kauw . erpaduan dari ajaran Konghucu, ajaran Tao, dan ajaran Budh. yang sifatnya praktis. 30 Begitu pula pada masa kini, beberapa orang terdekat penulis yang pada akhirnya memilih untuk menjadi Katolik karena dianggap lebih fleksibel terhadap agama dan kebudayaan orang Tionghoa, khususnya dalam konteks penghormatan kepada leluhur. Mereka diperbolehkan memegang hio untuk melakukan penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal dan mendoakannya, sedangkan di dalam Kristen hal Leo Suryadinata. , 267. Munawir Aziz. Bapak Tionghoa Nusantara (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2. , 200. Chris Hartono. Orang Tionghoa Dan Pekabaran Injil (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 1. Hal 51. Chris Hartono. Hal 53. Gembira Karena Bebas: Berteologi Kontekstual Orang Tionghoa Kristen di Indonesia dalam Memaknai Perayaan Imlek Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. tersebut sama sekali tidak diperbolehkan. Ini adalah persoalan pemahaman teologis, sebab di dalam Katolik orang yang sudah mati memang perlu didoakan supaya segera selamat dari api penyucian. Sedangkan di dalam agama Kristen Protestan, tidak ada konsep api penyucian sehingga tidak bisa mendoakan orang yang telah mati. Orang Tionghoa yang menjadi Kristen, mereka harus untuk meninggalkan identitas mereka. Maka tidak heran, jika simbol-simbol dalam tradisi Cina juga harus ikut ditolak ketika orang tersebut menjadi Kristen karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen. Bagi orang Tionghoa di Indonesia, persoalan agama bukanlah perkara yang sederhana dan begitu dilematis, khususnya bagi mereka yang lahir dan besar pada masa Orde Baru. Kebijakan negara pada masa itu melarang munculnya atribut identitas budaya Cina, yang juga berimbas pada larangan kepercayaan atau agama yang telah dianut oleh leluhur mereka, salah satunya adalah Konghucu. Supaya dapat bertahan di situasi seperti itu, pada akhirnya banyak dari mereka yang memilih agama lain yang diakui pada masa itu. Memang ada juga pergerakan Kekristenan yang justru muncul dari orang Tionghoa itu sendiri, seperti gerakan yang digagas oleh Ang Boen Swi dan Ang Dji Gwan,Yoe Ong Pauw dan Yoe Tjai Tjek. Gouw Kho dan Gouw Khiam Kiet serta Tjan Soen Kie dan Tjan Hong Jauw. Dalam perkembangannya, pemaknaan identitas ketionghoaan oleh orang Kristen Tionghoa dalam praktik tradisi dan budaya dipengaruhi oleh aturan dan ruang yang diberikan oleh gereja tempat mereka beribadah. 33 Tidak semua gereja Kristen memberikan ruang bagi orang Tionghoa untuk melaksanakan tradisi mereka, namun gereja-gereja yang telah menyediakan ruang tersebut cenderung bersikap selektif dalam penerapan tradisi. Tradisi yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dilarang untuk dilakukan. Perayaan Imlek di Indonesia Perayaan Imlek merupakan salah satu perayaan yang penting bagi orang Tionghoa di Indonesia. Memang agak aneh, sebab mulanya Tahun Baru Imlek dijadikan hari libur nasional karena dianggap hari raya agama yaitu Konghucu. Padahal sebenarnya Tahun Baru Imlek adalah perayaan etnis, bukan perayaan keagamaan. Tahun baru orang Cina memang memiliki perbedaan dengan tahun baru internasional pada umumnya. Kalender Cina, atau Kalender Lunar, berbeda dengan Kalender Internasional (Kalender Gregoria. dalam beberapa hal utama. Pertama. Kalender Cina menggunakan siklus bulan lunasi yang berlangsung sekitar 29,5 hari, yang berarti satu tahun Cina Asvi Warman Adam et al. Identitas Etnik Tionghoa. Hal 158. Yogi Fitra Firdaus. AuView of Lay Missionary Movement and the Establishment of the Peranakan Chinese Christian Community in West Java 1858-1889,Ay accessed June 19, 2024, https://doi. org/10. 36421/veritas. Asvi Warman Adam et al. Identitas Etnik Tionghoa. Hal 177. Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies terdiri dari sekitar 354 atau 355 hari. Ini membuat tahun Cina lebih pendek dibandingkan tahun Gregorian yang mengandalkan sistem matahari. Kedua, penentuan tahun baru dalam Kalender Cina berdasarkan fase bulan baru, sehingga Tahun Baru Imlek biasanya jatuh antara bulan Januari dan Februari dalam Kalender Gregorian. Ketiga. Kalender Cina tidak menggunakan sistem tahun kabisat seperti Kalender Gregorian, yang dirancang untuk menjaga kesesuaian dengan tahun matahari sebanyak 365 atau 366 hari per tahun. Tahun Baru Imlek atau Sincia juga disebut sebagai pesta Tahun Baru Musim Semi. Pada umumnya, perayaan Imlek ini dilaksanakan mulai dari tanggal 1 Cia-gwee dan berakhir pada 15 Cia-gwee yaitu hari raya Cap Go Meh dengan memakan Lontong Opor. Biasanya, sebelum hari Imlek itu tiba, orang Tionghoa membersihkan rumah dari kotoran dan debu untuk menyambut keberuntungan yang baru, memasang ornamen-ornamen Cina seperti lampion merah dan tulisan-tulisan mandarin. Pada malam sebelum Imlek, keluarga besar berkumpul untuk makan bersama. Di Indonesia, pada malam Tahun Baru Imlek, biasanya restoran full book karena telah dipesan orang Tionghoa untuk berkumpul makan bersama. Selain itu, mereka juga melakukan ritual penghormatan kepada leluhur dengan menyalakan hio dan mempersembahkan makanan sebagai tanda penghormatan dan rasa syukur. Tapi biasanya, orang Tionghoa Kristen melewatkan tradisi ini karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen. Perayaan Imlek biasanya diikuti dengan pertunjukan kembang api dan kegiatan yang meriah, menggunakan baju yang bagus dan baru, serta pertukaran angpao yang berisi uang sebagai simbol keberuntungan untuk anak-anak dan anggota keluarga muda. Selain itu, pada masa perayaan Imlek, di beberapa kota ada banyak sekali pasar malam dan pertunjukan. Mulai dari serangkaian pertunjukan seni khas orang Tionghoa, hingga makanan-makanan khas Tionghoa yang turut dijual. Menariknya, di kota Solo, justru yang bukan Tionghoa lah yang paling banyak hadir untuk turut memeriahkan perayaan Imlek. Pada saat orang Tionghoa meninggalkan tahun yang lama, mereka berharap kepada tahun yang baru dengan ucapan. AuMudah-mudahan nanti bisa dicapai kedamaian dan kebahagiaan bagi kita semua di seluruh dunia, yaitu dengan bergantinya tahun yang lalu atau yang lama dengan tahun yang baru. Ay34 Karena penulis beragama Kristen, doa dan harapan ini biasanya diucapkan keluarga penulis secara eksplisit di dalam doa bersama ketika hendak mengakhiri tahun dan mengawali tahun. Imlek yang dilaksanakan oleh keluarga penulis biasanya diawali dengan kasih dan ucapan syukur kepada Tuhan dan penghormatan kepada orang yang lebih tua dan yang masih hidup. Kemudian dilanjutkan dengan penukaran angpao dari yang sudah menikah kepada mereka yang belum menikah. Keluarga penulis tidak melakukan penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal karena dalam tradisi teologis Marcus A. Wahyu Wibisana, and Novi Susanti. Hari-hari raya Tionghoa. Cetakan Keempat (Jakarta: Suara Harapan Bangsa, 2. , 68. Gembira Karena Bebas: Berteologi Kontekstual Orang Tionghoa Kristen di Indonesia dalam Memaknai Perayaan Imlek Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Kekristenan tidak ada praktik doa kepada arwah seperti yang dilakukan dalam tradisi Katolik. Sebagai gantinya, fokus kami adalah pada doa kepada Tuhan dan pelayanan terhadap sesama. AuKalau kamu ingin menghormati leluhur, lakukanlah itu ketika mereka hidup, kalau sudah mati ya terlambat. Yang mati udah gak tahu kalau kamu menghormati dan menyukakan hatinya,Ay begitu ujar orang tua penulis. Hal ini mencerminkan keyakinan bahwa hubungan dengan Tuhan dan kehidupan rohani lebih didasarkan pada iman pribadi dan keselamatan oleh kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus, bukan melalui perantaraan arwah leluhur atau orang suci. Ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh orang Tionghoa ketika imlek, yaitu mereka dilarang menyapu ke arah luar rumah. Maka dari itu kegiatan sapu menyapu dilakukan sebelum Imlek dengan alasan jangan sampai ada berkat yang ikut terbuang ketika disapu keluar. Dilarang mengutuk hujan ketika turun di waktu Imlek, sebab itu menunjukkan bahwa tahun ini membawa berkat yang banyak sebanyak hujan yang turun. Ada juga pantangan membuka toko atau perusahaan sebelum lewat lima hari perayaan Imlek, sebab di hari kelima tersebut diyakini sebagai hari lahirnya Malaikat Harta atau Cai Sin. Teologi Kegembiraan Dalam Katekismus Westminster tertulis bahwa. AuManAos chief and highest end is to glorify God, and fully to enjoy Him forever. Ay Tujuan utama dan tertinggi manusia adalah untuk memuliakan Tuhan dan menikmati Dia sepenuhnya selamanya. Kalimat ini mengungkapkan keyakinan bahwa manusia diciptakan untuk memuji dan memuliakan Tuhan, dan untuk menemukan kebahagiaan sejati dalam hubungan dengan Dia. Menurut Charles Mathewes. Teologi sukacita adalah lensa konseptual untuk memahami perjuangan menjalani kehidupan Kristen. Perjuangan ini pada dasarnya, dan seharusnya, merupakan perjuangan bersama jemaat gereja, sebelum menjadi perjuangan individu. Artinya, teologi sukacita harus dipahami sebagai teologi gereja, karena alasan teologis, etis, dan 36 Gambaran ini dapat dipahami jika kita memahami kegembiraan yang dipahami oleh komunitas Kristen pada abad pertama dan kedua yang tampak dari tulisan-tulisan yang ada di Perjanjian Baru. Tema kegembiraan dalam Perjanjian Lama menonjol dengan konotasi spesifik. Wibisana, and Susanti. , 104. Miroslav Volf and Justin E. Crisp, eds. AuToward a Theology of Joy,Ay in Joy and Human Flourishing: Essays on Theology. Culture, and the Good Life, by Charles Mathewes . 7 Media, 2. , https://doi. org/10. 2307/j. https://doi. org/10. 2307/j. , 67. Miroslav Volf and Justin E. Crisp, eds. AuJoy: Some New Testament Perspectives and Questions,Ay in Joy and Human Flourishing: Essays on Theology. Culture, and the Good Life, by y. Wright . 7 Media, 2. , https:// org/10. 2307/j. , 41-58. Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Meskipun kata gembira atau sukacita tersebut kadang tidak disebutkan, kegembiraan sering hadir dalam konteks perayaan kemenangan Yahweh yang diberikan untuk bangsa Israel setelah mengalahkan musuhnya seperti nyanyian Miryam di Keluaran 15 dan tarian Daud di 2 Samuel Perayaan ini menunjukkan karakter fisik yang kuat dari kegembiraan, termasuk musik, tarian, dan pesta. Selain itu, kegembiraan juga terkait erat dengan janji pemulihan setelah pembuangan Babilonia, seperti yang digambarkan dalam Ezra 3 dan Nehemia 12. Kegembiraan ini mencerminkan kemenangan atas kejahatan dan pembebasan umat Tuhan, yang ditandai dengan perayaan besar dan harapan akan pemulihan masa depan. Di Perjanjian Baru, ada dua kelompok yang bersitegang, yaitu kelompok Yudaisme (Yahudi pasca pembuangan yang lalu membangun Bait Allah yang kedu. dengan kelompok Kekristenan. Dua puluh tahun lalu. Wright melakukan eksperimen pemikiran menggunakan model world view yang dikembangkannya untuk membandingkan tema-tema utama dalam Yudaisme dan kekristenan dua abad pertama. 38 Dalam studi ini. Wright menemukan bahwa meskipun ada kemiripan dalam akar monoteisme penciptaan dan kesetiaan ilahi. Yudaisme menekankan harapan sebagai tema dominan, sedangkan kekristenan awal menonjolkan sukacita, yang dipengaruhi oleh karya dan peristiwa-peristiwa seputar Yesus. Temuan ini mengungkapkan perbedaan esensial antara kedua pandangan dunia tersebut dalam konteks Perjanjian Baru, yang memberikan perspektif baru terhadap dinamika keagamaan pada masa itu, khususnya dalam hal harapan eskatologis akan pemulihan dan penghakiman Allah. Dalam kaitannya dengan Yudaisme, unsur eskatologis dalam sukacita yang disampaikan dalam Injil-injil, seperti yang terlihat dalam Lukas 15, memiliki akar dalam harapan-harapan eskatologis yang terdapat dalam tradisi Yudaisme kuno. Yudaisme sangat menekankan pengharapan akan kedatangan Mesias dan penggenapan janji-janji Allah terhadap umat-Nya, termasuk pemulihan universal dan penghakiman terakhir. Ketika Yesus mengajarkan tentang sukacita di surga atas pertobatan seorang berdosa, ini bukan hanya membangkitkan harapan baru dalam konteks eskatologis Kristen, tetapi juga menghubungkan kembali dengan harapan eskatologis yang ada dalam Yudaisme pada masa itu. Definisi sukacita dalam konteks ini bukan sekadar kegembiraan manusiawi biasa, tetapi ekspresi dari kegembiraan yang mendalam atas realisasi janji-janji ilahi, yang menjanjikan penyelamatan dan pemulihan yang diberikan Allah melalui Mesias. Kerajaan Allah yang telah hadir di bumi, yang menandakan persatuan antara realitas bumi dan surga, mengindikasikan bahwa apa yang dinantikan orang telah datang dengan kedatangan Yesus Kristus. Injil Yohanes memperluas pandangan ini, terutama dalam pidato perpisahan Yesus kepada para murid sebelum Ia mati (Yohanes 13-. yang berulang kali membicarakan tentang sukacita Yesus sendiri dan bagaimana murid-murid turut berbagi dalam sukacita Volf and Crisp. , 46. Gembira Karena Bebas: Berteologi Kontekstual Orang Tionghoa Kristen di Indonesia dalam Memaknai Perayaan Imlek Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. isalnya 14:28. 15:11. 16:20-24. Meskipun ada peringatan berulang tentang penderitaan yang akan datang, tentang perlawanan dan penganiayaan dari dunia, dunia akan bersukacita karena Yesus mati, tetapi hal ini akan segera menjadi kebalikannya setelah Yesus Konteks dalam Injil Yohanes menunjukkan bahwa ini bukan sekadar kegembiraan manusiawi biasa ketika hal-hal buruk terjadi berbalik menjadi hal yang baik. Wright mengatakan bahwa keseluruhan Injil Yohanes membicarakan tentang penciptaan baru yang terjadi melalui tabernacling presence of the Word of God . 39, dengan kata lain, adanya sebuah tempat ibadah baru, dari mana air hidup mengalir, seperti yang digambarkan dalam kitab Yehezkiel 47:1 (Yohanes 7:37-. Seperti halnya dalam Lukas, pembaca dimaksudkan untuk menangkap alasan teologis dari sukacita ini yaitu kehadiran dan aksi penyelamatan Allah Israel dan alasan eskatologisnya bahwa tempat kediaman Allah yang berarti juga Allah telah hadir di sini dan sekarang ini. Dengan demikian, keempat Injil memang benar berangkat dari tradisi Yudaisme tentang harapan akan masa depan. Namun, yang membuatnya berbeda dalam keempat Injil adalah bahwa harapan tersebut telah diwujudkan: Allah hadir. KerajaanNya telah tiba di dunia Musuh-musuh telah dikalahkan dan akan terus dikalahkan. Orang-orang berdosa telah dibebaskan dari maut, dengan Yesus Kristus sebagai penyelamatnya. Oleh karena itu, saat ini adalah waktu yang tepat untuk bersukacita, meskipun dalam kondisi penderitaan, karena Yesus hadir bersama kita dalam penderitaan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas Injil hidup dalam paradoks antara sudah dan belum: kerajaan Allah sudah datang dan akan datang lagi secara penuh dan lengkap di akhir zaman atau pada kedatangan kedua Kristus. Karena itu, kehidupan komunitas sangat penting, di mana orang-orang yang telah diselamatkan diundang untuk bersukacita bersama, merayakan kematian dan kebangkitan Yesus. Sukacita ini menjadi ekspresi iman Kristen karena mereka telah dibebaskan dari hukuman dosa, dan Kerajaan Allah sudah hadir dan mengalahkan maut. Dalam surat-surat Paulus, sukacita menduduki peran sentral yang kedua setelah kasih. Bagi Paulus, sukacita bukanlah reaksi spontan tetapi hasil dari pengaruh Roh Kudus yang harus diusahakan atau buah Roh (Galatia 5:. Hal ini ada kaitannya dengan kebangkitan Yesus dan kenaikanNya ke surga, yang memenuhi harapan Israel kuno mengenai mesias dengan cara yang tidak seperti orang Yahudi pikirkan. Contohnya, dalam Roma 8, meskipun istilah sukacita tidak digunakan, esensi sukacita hadir ketika Paulus membahas pembebasan dari dosa dan kematian, serta kemenangan ilahi yang dirayakan dalam kebangkitan Yesus. Surat Filipi terkenal karena menjadi pernyataan sukacita yang paling eksplisit dari Paulus. Meskipun berada dalam penjara. Paulus berulang kali menyinggung sukacita, mengekspresikan ikatan erat dengan jemaat Filipi Volf and Crisp. , 49. Volf and Crisp. ,49. Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies dan kebanggaan atas kemajuan iman mereka. Sukacita ini didasarkan pada keyakinan akan kepemimpinan yang berdaulat dari Yesus, yang tercermin dalam puisi sentral di Filipi 2:6-11 yang menggambarkan kepemimpinan Yesus dan kemenangan ilahi yang dinyatakan melalui kematian dan kebangkitanNya dengan mengosongkan diri, menjadi hamba, dan menjadi sama seperti manusia. Paulus juga mengaitkan sukacita ini dengan konteks sosial dan politik, mengingat jemaat di Filipi hidup di koloni Romawi dimana kekuasaan dan kepercayaan . ocal go. Roma sangat berpengaruh. Dia ingin mereka menyadari bahwa kekuasaan dan ketuhanan Allah Israel yang diungkapkan dalam Yesus adalah realitas yang lebih agung. Dalam hidupnya sendiri. Paulus mencontohkan bahwa sukacita tetap menjadi respons yang tepat meskipun menghadapi penderitaan dan ancaman kematian, karena keyakinannya pada kemenangan Yesus yang membawa penciptaan baru dan perspektif baru yang memampukan orang percaya untuk bersukacita di tengah penderitaan. Pandangan Kristen awal memiliki nada dominan sukacita, berbeda dengan harapan dalam Yudaisme yang berakar pada perjanjian keselamatan dari Mesias di bawah kekuasaan Romawi. Sukacita ini muncul dari keyakinan bahwa Yesus telah menciptakan persatuan baru antara surga dan bumi, yang tercermin dalam perayaan publik dan ekspresi sukacita karena Mesias telah hadir dan membebaskan manusia dari dosa. Tema sukacita ini menunjukkan kontinuitas dan diskontinuitas dengan tradisi Yudaisme, di mana perayaan dan ekspresi sukacita dalam pandangan Kristen adalah ekspresi iman yang hidup bersama Kristus. Sama seperti sakramen baptisan dan perjamuan kudus yang berakar pada keyakinan bahwa Yesus adalah perwujudan Tuhan Israel, komunitas Injil merayakan peristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus sebagai kewajiban iman. Kegembiraan sehari-hari diubah menjadi kegembiraan dalam persekutuan melalui kepercayaan kepada Yesus, memungkinkan gereja menantang dunia dengan berita tentang kerajaan Allah. Meskipun sulit dipertahankan, sukacita ini adalah anugerah dari Yesus yang tidak bisa dicabut, bahkan di tengah pengkhianatan dan penderitaan. Seorang teolog yang bernama Jurgen Moltmann, mengatakan bahwa Kekristenan merupakan sebuah kepercayaan yang unik. 41 Kekristenan fokus utama imannya adalah pada salib Kristus yang mana adalah di dalamnya ada penderitaan Allah. Menariknya. Kekristenan menghadirkan pengalaman iman terhadap kematian Kristus dalam konteks kebangkitanNya, serta pengalaman kehidupan ilahi yang kekal yang sudah mulai merangkul kehidupan manusiawi dan fana di dunia ini. Pendekatan ini tercermin dalam logika Auhow much moreAy yang dipopulerkan Paul Ricoeur, meskipun memiliki kekuatan, kasih karunia Allah memiliki kekuatan yang jauh lebih besar (Roma 5:. , karena Kristus memang telah mati, namun lebih Miroslav Volf and Justin E. Crisp, eds. AuChristianity: A Religion of Joy,Ay in Joy and Human Flourishing: Essays on Theology. Culture, and the Good Life, by Jyrgen Moltmann . 7 Media, 2. , https://doi. org/10. 2307/j. Gembira Karena Bebas: Berteologi Kontekstual Orang Tionghoa Kristen di Indonesia dalam Memaknai Perayaan Imlek Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. jauh lagi. Kristus bangkit dan mengatasi kematian (Roma 8:38-. ! Oleh karena itu, penderitaan manusia juga akan diangkat dan diselamatkan menjadi sukacita, keputusasaan akan berubah menjadi harapan, dan kematian sementara akan diubah menjadi kehidupan ilahi yang penuh Penderitaan adalah sesaat, sedangkan pujian kepada Allah adalah abadi. Kebaktian Imlek sebagai Upaya Kontekstualisasi Perayaan Imlek bagi Orang Kristen Tionghoa Beberapa gereja Kristen di Indonesia, terutama gereja yang berasal dari orang Tionghoa mulai melakukan kebaktian Imlek. Kebaktian Imlek ini cukup unik, sebab ornamen dan model musik yang digunakan merupakan kebudayaan Cina, bahasanya juga bilingual yaitu bahasa Indonesia dan Mandarin. Gereja memberikan makna baru pada unsur-unsur yang terdapat dalam perayaan Imlek agar tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran Kristen. 42 Seperti misalnya penggunaan warna merah, yang menurut legenda merupakan warna yang dapat mengusir nian atau monster yang muncul ketika perayaan Imlek. Bagi orang Tionghoa Kristen, kepercayaan ini disebut takhayul, sehingga harus ditinggalkan. Kebaktian Imlek ini biasanya diselenggarakan sebagai bentuk ucapan syukur akan datangnya tahun yang baru. Di mana kebaktian ini juga untuk memohonkan berkat dan mengingat kembali berkat serta penyertaan Tuhan yang sudah berlangsung selama setahun yang lalu, serta yang akan datang. Kesimpulan Kerusuhan rasial di Indonesia terhadap orang Tionghoa memang sudah berlalu, namun bukan berarti tidak mungkin terjadi lagi. Sebab tidak adanya penyelesaian yang jelas terhadap dosa-dosa masa lalu yang telah dilakukan oleh negara terhadap orang Tionghoa. Meskipun kebijakan negara terkait kedudukan orang Tionghoa berjalan menuju ke arah yang lebih baik, tapi ketegangan rasial masih terjadi di beberapa daerah, seperti halnya di kota Jogja, orang Tionghoa tidak dapat memiliki rumah dengan Status Hak Milik. Generasi yang lahir di antara Orde Baru dan pasca reformasi tampaknya kehilangan identitas budayanya. Hal ini dapat dipahami karena kebijakan Orde Baru memang berusaha membuat orang Tionghoa tidak lagi mengenal budayanya, begitu pula dengan penulis. Penulis seringkali bingung ketika ditanya soal identitas budaya, memang benar secara fisik terlihat seperti orang Tionghoa dengan mata sipit dan kulit kuning. Namun, apakah konsep berpikir penulis sama seperti budaya Tionghoa? Tentu saja tidak. Memang ada beberapa kepercayaan Tionghoa yang masih dianut oleh keluarga penulis, namun penulis rasa penulis lebih banyak Asvi Warman Adam et al. Identitas Etnik Tionghoa. , 188. Florencia Paramitha Hapsari Hendra Sutanto Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies mendapatkan kebudayaan Jawa yang mana menjadi tempat tinggal penulis. Penulis juga tidak memiliki nama Tionghoa, karena orang tua penulis mengganti nama mereka dengan nama Indonesia pada jaman Orde Baru, sebab mereka yang memiliki nama Tionghoa biasanya diangel-angel oleh pemerintah ketika mengurus surat-surat kependudukan. Ketika penulis masuk ke dalam keluarga ayah, yang merupakan Tionghoa Hakka, penulis merasa asing dan tidak mengenal kebudayaan serta bahasa yang mereka gunakan. Namun, anehnya, beberapa kali penulis dikatain oleh orang Jawa. AuDasar Cina!Ay. Trauma akibat peristiwa 98 sangat melekat di dalam benak penulis, di mana banyak orang di sekitar penulis yang rumah dan tokonya dijarah dan dibakar oleh massa. Meskipun penulis tidak menjadi korban, namun pada masa itu penulis tinggal dalam suasana ketakutan sehingga timbulah sebuah pergulatan batin penulis. AuKenapa aku harus tampak Cina?Ay Penulisan paper ini menimbulkan sebuah kesadaran bagi penulis bahwa pentingnya kita mengetahui sejarah yang sudah berlalu adalah supaya kejadian yang ada di masa lampau itu tidak lagi terjadi dan kita bisa mengupayakan pencegahan akan hal tersebut. Ketika kita melihat sejarah panjang perjuangan orang Tionghoa untuk mempertahankan hak-haknya sebagai warga negara, kita bisa melihat bahwa Perayaan Imlek di Indonesia juga merupakan titik tolak pembebasan bagi orang TIonghoa. Orang Tionghoa kembali disetarakan dan diakui keberadaannya sebagai salah satu etnis yang ikut menjadi bagian dari Indonesia sama seperti halnya orang Jawa, orang Batak, orang Maluku, dst. Orang Tionghoa tidak lagi dianggap sebagai sang liyan, tetapi Orang Tionghoa adalah orang Indonesia. Sama seperti Kristus yang telah membuat kita yang berdosa ini tidak lagi terasing dari Allah, tidak lagi menjadi sang liyang tetapi juga menjadi warga negara kerajaan Jika negara sudah membebaskan lagi orang Tionghoa untuk melakukan tradisinya, kenapa seringkali orang Tionghoa Kristen masih diperbudak dengan aturan-aturan dogmatis Alkitab yang sebenarnya dipengaruhi oleh penafsiran barat? Kegembiraan yang selayaknya dirasakan oleh orang Tionghoa di Indonesia bukanlah sukacita yang bersifatnya kepuasan pribadi, tetapi sukacita karena dapat bersatu bersama dengan keluarga, merayakan kebebasan identitas etnis Tionghoa dan merayakan kehidupan sebagai warga negara Indonesia. Ini perlu, supaya orang Tionghoa tidak terjatuh dalam euforia pesta pora dalam perayaan Imlek tanpa mengindahkan perjuangan para pendahulunya. Sebab ada pepatah Cina yang sangat bagus, yaitu ingatlah sumbernya . AyaAy, yan shua s yuy. Secara harfiah, pepatah ini berarti. Ketika minum air, pikirkan sumbernya. Pepatah ini mengajarkan untuk selalu mengingat asal-usul atau sumber kebaikan yang kita nikmati, menunjukkan pentingnya rasa syukur dan penghormatan terhadap mereka yang telah membantu atau mendukung kita. Jadi, marilah bergembira, bersukacita, sebab kita telah dibebaskan! Gong Xi Fa Cai. Xinnian Kuaile. Zhu wo men yi jing huo de ziyou! (AoBahagia dan kaya, selamat tahun baru, selamat kita telah bebas!A. Gembira Karena Bebas: Berteologi Kontekstual Orang Tionghoa Kristen di Indonesia dalam Memaknai Perayaan Imlek Volume 4 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Daftar Pustaka