Jurnal Teologi Pambelum Volume 5. Nomor 1 (Agustus 2. : 1-19 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: https://doi. org/10. 59002/jtp. Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital Ebenhaezer Yoshua Goni1. Henny W. B Sumakul2. Altje Lumi3 Fakultas Teologi. Universitas Kristen Indonesia Tomohon ebengoni4@gmail. Abstract This article analyzes the relevance of digital theology as an approach to offerings via the QRIS system for the congregation of GMIM Kuranga Talete Dua. Digital theology views technology not just as a tool, but as a new space that can be used to actualize faith participation in a contextual and contemporary way. In this context, the use of QRIS as a medium for offerings is seen as a form of faith actualization for the congregation in the ever-evolving digital world. Offering through QRIS is not only efficient but also reflects the church's openness to change and its efforts to reach the digital generation without being influenced by the negative impacts of technology. This analysis finds that the integration of theological understanding and the use of technology can strengthen the spirituality of the congregation while maintaining the sacred values of worship. Digital theology, therefore, serves as a relevant foundation for shaping an active and contributive lifestyle for the congregation amidst the digital reality. Keywords: Church. Digital. Offerings. QRIS. Theology. Abstrak Artikel ini menganalisis relevansi teologi digital sebagai pendekatan dalam pemberian persembahan melalui sistem QRIS di era digital bagi jemaat GMIM Kuranga Talete Dua. Teologi digital memandang teknologi bukan hanya sebagai alat bantu, melainkan sebagai ruang baru yang dapat digunakan untuk mewujudkan partisipasi iman secara kontekstual dan aktual. Dalam konteks ini, penggunaan QRIS sebagai media persembahan dipahami sebagai bentuk aktualisasi iman jemaat dalam dunia digital yang terus berkembang. Pemberian persembahan melalui QRIS bukan hanya efisien, tetapi juga mencerminkan keterbukaan gereja terhadap perubahan zaman dan upaya untuk menjangkau generasi digital tanpa terpengaruh dengan dampak negatif dari teknologi. Analisis ini menemukan bahwa integrasi antara pemahaman teologis dan pemanfaatan teknologi dapat memperkuat spiritualitas jemaat sekaligus menjaga nilai sakral dalam ibadah. Teologi digital, dengan demikian, menjadi landasan yang relevan untuk membentuk pola hidup jemaat yang aktif dan kontributif di tengah realitas digital. Kata kunci: Digital. Gereja. Persembahan. QRIS. Teologi. Diterima Redaksi: 16-05-2025 | Selesai Revisi: 20-08-2. Diterbitkan Online: 30-08-2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital Pendahuluan Memasuki era digital abad ke-21, perkembangan teknologi telah memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia, dengan segala kecanggihan teknologi sehingga memberikan banyak manfaat yang dapat membantu dan memudahkan segala kegiatan kehidupan sehari-hari baik dalam pekerjaan, belajar, berbelanja dan beribadah, termasuk di lingkungan gereja. Teknologi adalah hasil olah pikir manusia yang bertujuan mengembangkan cara atau sistem untuk menyelesaikan persoalan kehidupan (Maryono, 2008, hlm. Era digital yang penuh kemudahan membuat banyak aspek kehidupan menjadi lebih praktis. Namun, tak semua yang ditawarkan dunia digital sejalan dengan ajaran Kristus. Perlu lebih bijaksana dalam memilah mana yang membangun iman dan mana yang justru menjauhkan kita dari kebenaran (Sumarto, 2019, hlm. Menurut Stetzer, teknologi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari oleh gereja, melainkan justru peluang besar yang harus dipeluk dengan bijaksana. Ia melihat bahwa teknologi tidak hanya membawa tantangan, tetapi juga menawarkan jalan baru bagi jemaat dan para pelayan untuk menjangkau, melayani, dan memperkuat komunitas iman. Dalam bergereja, teknologi bisa menjadi jembatan kasih yang menghubungkan orang-orang yang berjauhan, menyampaikan kabar pengharapan secara cepat, dan membuka ruang-ruang baru untuk berbagi firman Tuhan. Teknologi bisa hadir dalam bentuk sederhana seperti persembahan digital yang memudahkan umat tetap setia memberi, meski tidak hadir secara fisik. Namun. Stetzer juga menyadarkan bahwa untuk memanfaatkan teknologi dengan baik, gereja perlu membuka diri. Gereja dan pelayannya diajak untuk belajar, bertumbuh, dan menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai komunitas iman. Teknologi hanyalah alat, yang penting adalah bagaimana alat itu digunakan dengan hati yang penuh kasih, bijak, dan terbuka pada kebutuhan umat masa kini (Stetzer, 2. Garner menyebutkan bahwa teologi digital harus terbuka terhadap perubahan budaya yang dibawa oleh teknologi, dan menilai secara kritis dampaknya terhadap etika dan identitas keagamaan. Ia menekankan bahwa ruang digital bukanlah dunia terpisah, tetapi kelanjutan dari pengalaman manusia yang utuh, termasuk pengalaman spiritual. Salah satu bentuk adaptasi yang kini muncul di banyak gereja di Indonesia adalah pemberian persembahan secara digital, dalam hal ini yaitu melalui media QRIS. (QR Code Indonesia Standar. atau biasa disebut dengan QRIS adalah standar QR Code pembayaran untuk sistem pembayaran Indonesia yang dikembangkan oleh Bank Indonesia dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Tujuan dari adanya QRIS yaitu untuk mendorong efisiensi dalam menyederhanakan transaksi pembayaran berbasis digital, untuk memperlancar sistem pembayaran sehingga memudahkan proses transaksi yang cepat dan Sistem ini menjadi salah satu upaya agar konsumen Indonesia mudah dalam bertransaksi secara digital, yang memungkinkan untuk membayar hanya dengan memindai kode QR menggunakan aplikasi pembayaran di ponsel. Apa yang dulunya mungkin terasa rumit dan terbatas pada penggunaan kartu atau uang tunai, kini bisa dilakukan dengan mudah melalui teknologi yang ada di tangan kita setiap saat (Supiandi, et al. , 2023, hlm. Kehadiran teknologi ini mencerminkan bahwa kepraktisan dan efisiensi menjadi nilai utama Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk dalam gereja. QRIS memfasilitasi pemberian non-tunai melalui pemindaian QR, sehingga memungkinkan partisipasi dari lokasi berbeda dan waktu fleksibel, implikasinya terhadap liturgi perlu dianalisis secara teologis dan pastoral. Ini tidak hanya menunjukkan kemajuan teknologi, tetapi juga menunjukkan bagaimana umat Kristen mengekspresikan wujud syukur kepada Tuhan di era Persembahan adalah bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan, yang bisa berupa materi atau tubuh sebagai persembahan yang sejati. Persembahan ini diberikan dengan hati yang ikhlas dan sukarela, tanpa mengharapkan balasan. Dalam Alkitab. Tuhan jelas memerintahkan umat-Nya untuk beribadah, dan salah satu cara umat melayani Tuhan adalah melalui persembahan (Bruggen, 2011, hlm. Dengan memberikan persembahan, kita mengakui bahwa segala yang kita miliki adalah berkat dari Tuhan, dan kita mengembalikan sebagian dari berkat-Nya sebagai tanda rasa syukur (Budiyanto, 2017, hlm. Penerapan QRIS sebagai media dalam pemberian persembahan, menunjukkan bahwa iman dan teknologi dapat berjalan bersama untuk mendukung hubungan manusia dengan Tuhan. QRIS memungkinkan lebih banyak orang untuk berpartisipasi dalam memberi persembahan karena banyak orang saat ini tidak membawa uang tunai tetapi hanya dalam dompet Menggunakan QRIS juga menunjukkan bahwa gereja tidak terpisah dari perkembangan dunia. Namun, gereja yang terus mengikuti perubahan budaya, harus sejalan dengan iman yang tanpa mengabaikan nilai-nilai spiritual. Sebagaimana Tuhan menganugerahkan akal budi dan kreativitas kepada manusia, teknologi seperti QRIS dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mempermudah pelayanan, termasuk dalam memberikan Pemanfaatan teknologi ini menjadi salah satu cara umat mengelola anugerah tersebut secara bijaksana. Gereja yang memanfaatkan QRIS menunjukkan tanggung jawab dalam mengelola sumber daya yang telah dipercayakan Tuhan. Dengan QRIS, memberi persembahan menjadi lebih reflektif, karena jemaat bisa memberi kapan saja dan di mana Dengan demikian, penggunaan QRIS dalam konteks ibadah dapat diperlakukan sebagai alat yang jika dibingkai teologis mendukung partisipasi dan pengelolaan sumber daya gereja tanpa mengurangi dimensi relasional ibadah. QRIS mempermudah umat memberikan persembahan secara efisien dan menyesuaikan cara pelayanan dengan perkembangan Penggunaan teknologi semacam ini merupakan langkah praktis dalam mengelola kegiatan pelayanan dan bukan sebagai pengganti aspek rohani pelayanan itu sendiri. Gereja tetap bertanggung jawab memastikan setiap media dan metode pelayanan digunakan secara bijaksana, berlandaskan prinsip-prinsip iman, sekaligus disertai pendampingan rohani agar perhatian jemaat tidak teralihkan dari nilai-nilai rohani di tengah kemudahan teknis. Pada akhirnya QRIS dipahami sebagai kemajuan metode pemberian persembahan, bukan sesuatu yang otomatis bermakna teologis (Stevany & Silalahi, 2024, hlm. Melalui media QRIS dalam hal pemberian persembahan, memberikan kemudahan bagi jemaat dalam pemberian persembahan serta dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, namun di balik manfaat tersebut, terdapat masalah yang penting seperti dapat menyebabkan dampak negatif dalam kehidupan jemaat, melemahkan nilai persekutuan, menumbuhkan individualisme, dan memudarkan makna dari pemberian sebagai bentuk Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital syukur dan penyembahan. Sebagai gereja yang adaptif di era digital harus mampu beradaptasi secara bijaksana tanpa kehilangan esensi dari ibadah dalam pemberian persembahan dan tidak berdampak dalam kehidupan sosial jemaat. Menurut Anderson, ini tentang bagaimana iman dan kehidupan rohani kita hadir dan bertumbuh di dunia yang serba digital ini. Internet bukan hanya sebagai alat komunikasi, tapi sebagai ruang hidup yang juga bisa dipenuhi dengan kasih, pengharapan, dan pelayanan. Memberi persembahan lewat aplikasi, itu semua bagian dari pengalaman iman yang nyata. Kehidupan digital, jika dijalani dengan bijak, bisa menjadi tempat kita menjalani iman kita secara otentik dan relevan di tengah dunia yang terus berubah. Teologi digital menurut Elizabeth Drescher Keith Anderson, dalam bukunya Click 2 Save: The Digital Ministry Bible menekankan bahwa pelayanan digital bukan hanya tentang penggunaan teknologi, tetapi bagaimana gereja dapat membangun kehadiran yang otentik, membina relasi, dan menghadirkan makna dalam ruang Mereka menyebut hal ini sebagai praktik seni pelayanan digital . alam bahasa inggris: practicing the arts of digital ministr. , yang mencakup kemampuan membaca konteks digital, memahami dinamika sosial media, dan membangun sense of presence yang artinya rasa kehadiran di ruang online sebagai bagian dari pelayanan rohani yang utuh (Drescher & Anderson, 2018, hlm. Pemberian persembahan via QRIS bukan sekedar sebuah transaksi biasa, tetapi tindakan dengan penghayatan emosional dan pemaknaan iman. Tanpa pemahaman dan pendampingan teologis yang tepat, penerapan QRIS justru bisa berkurangnya makna ibadah dalam memberi persembahan yang hanya terasa seperti transaksi biasa, ikatan sosial jemaat menjadi renggang dan kehadiran fisik dalam persekutuan dapat berkurang karena dapat dilakukan di mana saja, dan memudarkan makna dari pemberian sebagai bentuk syukur dan Memberi secara online memungkinkan jemaat berpartisipasi tanpa hadir fisik, namun jika praktik ini menggantikan pertemuan tatap muka, ada risiko berkurangnya interaksi sosial dan meningkatnya kecenderungan individualisme (Arivianto et al. , 2022, hlm. Persekutuan ibadah yang menjadi wadah untuk membangun hubungan sosial yang lebih erat, kini dapat terpecah. Jemaat tidak lagi saling menyapa, dan memperkuat ikatan mereka satu sama lain serta jemaat merasa hilangnya inti dari makna pemberian persembahan dan beribadah yang merupakan rasa wujud syukur kepada Tuhan, jika hanya dilakukan secara online akan pudar dan kehilangan sentuhan rohani dan emosional. Harus disadari bahwa ibadah dan persembahan bukan hanya tentang memberi secara materi, tapi juga tentang bagaimana kita terhubung dengan Tuhan dan sesama. Penelitian ini hadir untuk mengetahui bagaimana jemaat GMIM Kuranga Talete Dua memaknai kehadiran fenomena digital dalam kehidupan bergereja mereka? Dalam hal apa saja Teologi Digital memengaruhi relasi jemaat dengan Tuhan? Bagaimana Teologi Digital membentuk atau mengubah interaksi dan kebersamaan antar jemaat? Tantangan serta peluang apa yang dihadapi jemaat dalam mengintegrasikan aspek digital ke dalam praktik iman mereka? Sehingga gereja harus mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi digital secara teologis, selektif dan bijak, sehingga dapat mempergunakan dan memanfaatkan teknologi untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, menjadikan teknologi sebagai alat bantu bagi gereja dan jemaat, dan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital memberikan kenyamanan terhadap jemaat dalam persekutuan ibadah yang pastinya memerlukan arahan secara bijaksana kepada jemaat, tanpa memberikan dampak terhadap perkembangan iman dan kehidupan sosial jemaat yang dapat melemahkan kualitas Dunia digital sebenarnya bisa membawa dampak positif bagi kehidupan iman. Era digital dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan spiritual, membangun komunitas yang lebih terbuka dan inklusif, serta menjawab perubahan cara jemaat Kristen terhubung dan beribadah di ruang digital. Bukan hanya sesuatu yang harus diwaspadai, tetapi juga dapat menjadi alat yang sangat berguna jika digunakan dengan benar. Gereja dan umatnya didorong untuk tidak ketinggalan zaman, tetapi justru memakai teknologi untuk memperluas jangkauan misi, mempererat komunitas, dan menyampaikan Firman Tuhan dengan cara yang relevan di era digital ini (Afandi, 2018, hlm. Kontribusi penelitian ini adalah menggabungkan kajian teologi digital dengan analisis praktik pemberian persembahan melalui QRIS, khususnya dalam konteks liturgi dan persekutuan jemaat lokal. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang membahas mengenai AuPemanfaatan Media Digital dalam Pelayanan GerejawiAy. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada hal-hal yang perlu ditingkatkan dan dibenahi agar dapat mengoptimalkan pemanfaatan media digital untuk mendukung pelayanan gerejawi (Ondang & Kalangi, 2023, hlm. Berangkat dari penelitian terdahulu, tulisan ini berfokus antara teologi dan fenomena sosial serta pemaknaan iman dalam era digital di lingkup gereja, yaitu pemberian persembahan via QRIS. Artikel ini menggali bagaimana jemaat yang merasa kehilangan makna ibadah dan persembahan ketika memberi secara non-tunai, serta potensi terjadinya individualisme. Masalah utama yang hendak diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana pemahaman dan penerapan teologi digital dapat menolong gereja untuk tetap menjaga makna teologis persembahan, sekaligus memanfaatkan kemajuan teknologi seperti QRIS secara bijak. Meskipun dalam pembahasan terdahulu telah ditekankan aspek praktis dan pastoral dari pemanfaatan QRIS, perlu ditegaskan bahwa pemberian persembahan bukan sekedar tindakan ekonomi atau teknis, melainkan bagian integral dari tata liturgi gereja yang memuat makna teologis, simbolik, dan relasional. Dalam tradisi liturgis sebagaimana dikembangkan oleh Rachman dan Martasudjita, persembahan adalah momen anabatis-anabatis . erak dari manusia kepada Allah dan dari Allah kepada manusi. , sebuah tindakan bersama yang mengungkapkan syukur, pengakuan, dan persekutuan. Proses liturgis seperti berjalan ke meja persembahan, kontak sosial sesama jemaat, doa bersama ketika persembahan diangkat, serta nuansa emosional dan simbolik yang menyertai tindakan tersebut, semuanya memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman iman yang kolektif dan bermakna (Rachman, 2001, hlm. Kehadiran teknologi seperti QRIS menawarkan kemudahan teknis dan efisiensi administrasi, namun dari perspektif liturgi ia berpotensi mengubah atau bahkan mereduksi beberapa dimensi ritual tersebut: transformasi tindakan berbagi dari tindakan publik menjadi transaksi privat. hilangnya momentum bersama yang menguatkan ikatan komunitas. menggesernya unsur simbolik dan tubuhiah menjadi gestur digital yang kurang tampak. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital risiko tumbuhnya pola pemberian yang semakin individualistik. Dengan kata lain. QRIS bukan hanya mengganti mekanisme pemberian, tetapi juga menantang makna liturgis yang melekat pada tindakan persembahan. Berangkat dari hal di atas, gap penelitian yang hendak diisi oleh studi ini menjadi lebih spesifik: sejauh mana pemanfaatan QRIS mengubah atau mengancam unsur-unsur liturgis dalam tindakan persembahan . imbolik, kolektif, dan tubuhia. , dan bagaimana pemahaman teologi digital yang menekankan kehadiran, etika, dan praktik relasional di ruang digital dapat menawarkan kerangka teologis untuk menjaga atau merekonstruksi makna liturgis tersebut. Dengan demikian, masalah penelitian dirumuskan ulang sebagai berikut: Bagaimana pemahaman dan penerapan teologi digital dapat menolong gereja menjaga dan merevitalisasi makna liturgis persembahan termasuk dimensi simbolik, kolektif, dan persekutuan saat gereja mengintegrasikan kemudahan teknologi pembayaran seperti QRIS? Tujuan penelitian ini, dengan penajaman tersebut, bukan hanya menilai manfaat dan risiko administratif QRIS, tetapi juga mengkaji implikasi liturgisnya serta merumuskan rekomendasi teologis agar penggunaan QRIS tetap berakar pada praktik liturgi yang Dengan cara ini penelitian diharapkan mengisi kekosongan . antara studi teknologi pelayanan yang bersifat praktis dan kajian teologi liturgi yang selama ini kurang menyoroti dampak digitalisasi pada ritus-ritus gereja. Metode Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan menghasilkan data deskriptif yang mampu mengungkap secara komprehensif praktik pemberian persembahan digital melalui QRIS di Jemaat GMIM Kuranga Talete II serta menelaah makna teologisnya dalam kerangka teologi digital. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, kajian pustaka, dan dokumentasi. Selanjutnya, data yang terkumpul dianalisis secara sistematis melalui tahapan reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sampel dipilih secara purposive sebanyak 10 partisipan, terdiri dari 1 pelayan khusus, 1 pendeta, serta masing-masing perwakilan 3 PKB, 3 WKI, dan 2 pemuda. Validitas temuan ditingkatkan melalui triangulasi sumber. Secara keseluruhan, rancangan dan pelaksanaan prosedur penelitian disusun untuk menjamin keteraturan dan akuntabilitas Hasil dan Pembahasan Sejarah dan perkembangan QRIS Di tengah pesatnya perkembangan transaksi digital di Indonesia, terdapat sebuah terobosan lokal yang bernama QR Code Standar Indonesia atau QRIS (Quick Response Code Indonesian Standar. Inovasi ini secara signifikan mempermudah kehidupan masyarakat dan bahkan telah menggoyahkan dominasi dua pemain global di bidang pembayaran, yakni Visa dan Mastercard. Di era digital ini, kehadiran QRIS membuat proses pembayaran menjadi semakin praktis. Sebelum kemunculan QRIS sebagai solusi utama. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital sistem pembayaran digital di Indonesia penuh dengan fragmentasi. Setiap Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP) memiliki QR code masing-masing, yang menyebabkan ketidakefisienan baik bagi konsumen maupun pelaku usaha. Seorang pedagang harus menempelkan berbagai macam stiker QR dari beragam penyedia aplikasi, sementara pembeli pun harus memiliki banyak aplikasi agar bisa bertransaksi di berbagai tempat. Melihat kompleksitas tersebut. Bank Indonesia (BI) bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) mengambil langkah strategis untuk menyatukan berbagai format QR ke dalam satu standar nasional. Langkah strategis ini bertujuan membentuk ekosistem pembayaran digital yang lebih efisien, nyaman, dan bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia. Setelah melalui berbagai tahap uji coba yang ketat. QRIS secara resmi diluncurkan pada tanggal 17 Agustus 2019, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74. Tanggal ini menjadi tonggak penting dalam transformasi sistem pembayaran nasional. Meskipun QRIS merupakan buah kerja sama Bank Indonesia dan ASPI, tak dapat disangkal bahwa banyak pihak di balik kedua lembaga tersebut yang telah bekerja keras untuk mewujudkan standarisasi ini. Salah satu tokoh utama adalah Perry Warjiyo. Gubernur Bank Indonesia saat QRIS diluncurkan, yang memainkan peran vital dalam mengarahkan inovasi ini sebagai bagian dari modernisasi sistem pembayaran nasional. Namun jauh sebelumnya. Masahiro Hara, seorang insinyur dari Jepang yang bekerja di Denso Wave . nak perusahaan Toyot. , adalah penemu QR Code pada tahun 1994. Awalnya. QR Code digunakan untuk melacak suku cadang otomotif secara cepat dan presisi. Seiring berjalannya waktu, teknologi ini menemukan perannya di berbagai sektor, termasuk keuangan digital. Dalam pengembangan QRIS. Bank Indonesia dan ASPI mengacu pada standar global EMVCo (Europay. Mastercard, dan Vis. , yang menjamin keamanan serta interoperabilitas dalam bertransaksi. Sejak dirilis. QRIS terus mengalami kemajuan dan adaptasi. Bank Indonesia secara bertahap mewajibkan seluruh PJSP untuk mengadopsi QRIS, dengan batas akhir transisi pada 31 Desember 2019. Kebijakan ini sukses mengeliminasi keragaman QR code dan menghadirkan kemudahan bertransaksi di berbagai merchant cukup dengan satu QR code dan satu aplikasi pembayaran berbasis QRIS. Kini. QRIS bukan hanya digunakan untuk pembayaran di toko offline, tapi juga merambah ke transaksi online, donasi, hingga terintegrasi dengan berbagai layanan keuangan lainnya. Bank Indonesia bahkan sedang mengembangkan fitur pembayaran lintas negara . ross-border QRIS) guna mendukung kegiatan wisata serta transaksi UMKM di tingkat internasional. Kisah di balik QRIS adalah contoh nyata dari inovasi yang lahir karena kebutuhan mendesak akan efisiensi dan Dari kerja sama BI dan ASPI. QRIS menjadi solusi yang bukan hanya mempermudah transaksi, tapi juga fondasi dalam pembangunan ekonomi digital nasional. Teologi Digital Menurut Elizabeth Drescher dan Keith Anderson Menurut Drescher dan Anderson, pelayanan digital adalah bentuk baru dari pelayanan iman yang menjembatani kehidupan rohani ke dalam dunia tempat kita kini hidup Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital dunia yang tak lepas dari layar, koneksi internet, dan ruang-ruang virtual. Di tempat-tempat inilah, banyak orang kini berkumpul, tidak hanya untuk bersosialisasi, tetapi juga untuk menemukan makna, menguatkan diri, dan berbagi perjalanan iman mereka (Drescher & Anderson, 2018, hlm. Teologi digital yaitu tentang bagaimana iman Kristen dihidupi, dibagikan, dan dirayakan dalam ruang digital, sebuah ruang yang hari ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Artinya, pelayanan digital bukan hanya soal menyebarkan informasi, namun adalah perpanjangan tangan kasih Allah. Drescher bahwa pelayanan digital bukanlah kategori terpisah dari pelayanan tradisional, melainkan merupakan lanjutan dan perluasan dari praktik pelayanan yang dipengaruhi oleh budaya digital yang bersifat jaringan dan relasional. Mereka menyatakan bahwa pelayanan digital yang terintegrasi adalah "jaringan, relasional, dan secara mendalam bersifat inkarnasional". Di ruang digital ini, pemeliharaan rohani, penginjilan, dan pembinaan iman bisa tetap hidup dan menyentuh, meski tanpa tatap muka. Lebih dalam lagi, pelayanan digital juga mempengaruhi cara kita melayani di dunia nyata. Budaya digital yang bersifat terbuka, terhubung, dan cepat tanggap mendorong gereja dan pelayan-pelayan Tuhan untuk lebih inklusif, responsif, dan relasional, baik dalam dunia online maupun offline. Pelayanan tidak lagi terikat pada gedung gereja atau jam ibadah, tetapi bisa hadir kapan saja, di mana saja, selama hati kita tetap terhubung satu sama lain dalam kasih. Pelayanan digital adalah bentuk kasih yang menyeberangi batas ruang dan waktu, menyentuh kehidupan orang-orang di tempat mereka berada, termasuk di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang kini menjadi bagian dari keseharian kita. Drescher menekankan bahwa pelayanan digital bukan hanya tentang penggunaan teknologi, tetapi bagaimana gereja dapat membangun kehadiran yang otentik, membina relasi, dan menghadirkan makna dalam ruang digital. Mereka menyebut hal ini sebagai praktik seni pelayanan digital . racticing the arts of digital ministr. , yang mencakup kemampuan membaca konteks digital, memahami dinamika sosial media, dan membangun sense of presence dengan arti rasa kehadiran di ruang online sebagai bagian dari pelayanan rohani yang utuh ( Drescher & Anderson, 2018, hlm. Drescher juga menekankan pentingnya kesadaran etis dan relasional dalam pelayanan digital. Kehadiran gereja dalam dunia digital adalah wujud pemberdayaan jemaat agar tetap dapat beriman secara aktif dan partisipatif di zaman yang berubah. Namun, digitalisasi juga menghadirkan tantangan besar bagi gereja. Ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan: kecepatan era digital sering membuat kita kehilangan kesabaran. banyak pilihan yang tersedia membuat kita cenderung dangkal dalam menyikapi hidup. budaya individualisme yang tumbuh lewat teknologi membuat kita semakin terisolasi satu sama lain. Di tengah tantangan ini, gereja ditantang untuk tetap bertumbuh, berkembang, dan mampu menjangkau komunitas dengan cara yang relevan. Pertanyaannya adalah: bagaimana gereja bisa tetap menjadi pelopor di tengah perubahan zaman ini? (Kristianto, 2023, hlm. Gereja menjadi tempat yang membimbing umat agar tetap teguh memegang nilai-nilai Kristiani, sebagai pengajar dan pengarah, yang membantu jemaat memahami dan menjalani iman mereka dengan bijak di era teknologi ini (Dalensang & Molle, 2021, hlm. Mengelola gereja secara digital berarti memikirkan bagaimana teknologi dapat Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital digunakan untuk melayani jemaat dengan lebih baik membantu mereka bertumbuh, merasa terhubung, dan semakin mengenal kebenaran Injil (Gaspersz, 2023, hlm. Elizabeth Drescher dan Keith Anderson, mengatakan bahwa gereja harus Stewardship God Given Resources, artinya mengelola sumber daya yang diberikan Tuhan. Mereka menekankan bahwa pelayanan digital bukan sekedar penggunaan teknologi, tetapi merupakan perwujudan dari pengelolaan sumber daya yang bijaksana dan penuh kasih dalam dunia yang semakin terhubung secara digital. Menurut Drescher dan Anderson, pelayanan digital memberikan kesempatan bagi gereja untuk hadir di tengah kehidupan umat, tidak hanya pada hari Minggu, tetapi setiap saat melalui platform digital. Ini mencerminkan tanggung jawab gereja dalam mengelola sumber daya yang Tuhan berikan waktu, teknologi, dan relasi untuk membangun komunitas iman yang inklusif dan penuh kasih. Mereka juga menyoroti pentingnya kehadiran yang otentik dan relasional dalam ruang digital. Pelayanan digital bukan hanya tentang menyampaikan pesan, tetapi tentang membangun hubungan yang bermakna dan mendalam. Dalam hal ini, pengelolaan sumber daya mencakup penggunaan teknologi untuk memperkuat ikatan komunitas dan memperluas jangkauan pelayanan gereja. Dengan demikian, mengelola sumber daya yang diberikan oleh Tuhan pada era digital berarti memanfaatkan teknologi secara bijaksana untuk mempermudah proses pemberian persembahan. Tindakan spiritual yang dihadirkan dalam ruang digital, dilakukan dengan kesadaran, dan tetap mengakar pada relasi kasih antara manusia dan Allah. Gereja dipanggil bukan untuk melawan perubahan, melainkan menggali makna rohani di dalamnya (Drescher & Anderson, 2018, hlm. Teologi Digital Menurut Stephen Garner dan Heidi Campbell Garner melihat teologi digital bukan sekedar membahas teknologi, tetapi sebagai cara reflektif untuk memahami bagaimana iman Kristen berinteraksi, berubah, dan merespons budaya digital. Teknologi digital bukan hanya alat, tapi bagian dari konteks budaya yang membentuk cara kita hidup dan beriman. Dalam buku Networked Theology: Negotiating Faith in Digital Culture. Campbell dan Garner mengidentifikasi dua pendekatan terhadap hubungan antara agama dan teknologi: Teologi Teknologi: Menganalisis secara kritis bagaimana teknologi mencerminkan nilai, kuasa, dan asumsi budaya. Garner mendorong gereja untuk memahami bukan hanya apa teknologi itu, tetapi juga bagaimana ia membentuk masyarakat dan iman. Teologi yang diberdayakan oleh Teknologi. Bagaimana gereja dan komunitas iman menggunakan media digital untuk memperluas pelayanan, liturgi, pengajaran, dan hubungan sosial. Teologi digital menurut Stephen Garner adalah suatu pendekatan reflektif dan teologis terhadap realitas kehidupan beragama di era digital. Ia tidak sekedar melihat penggunaan teknologi oleh komunitas Kristen, tetapi mengajak untuk memahami bagaimana teknologi membentuk dan memengaruhi cara kita berpikir, beriman, berelasi, dan bertindak secara spiritual. Konsep "Networked Religion", istilah ini lebih banyak dipopulerkan oleh Heidi Campbell. Garner mengembangkannya lebih jauh sebagai sebuah kerangka teologi digital. Kekristenan tidak hidup dalam ruang tertutup, melainkan di tengah jaringan sosial digital. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital iman dijalani secara terhubung, melalui media sosial, komunitas online, dan media digital lainnya, ini menuntut bentuk teologi yang terbuka, reflektif, dan kontekstual terhadap perubahan budaya. Garner menekankan pentingnya membentuk etos Kristen di tengah dunia digital: Bagaimana menjadi tetangga digital yang baik? Apa artinya mencintai sesama dalam konteks algoritma, kehadiran online, dan komunitas virtual? Ia juga mengajak gereja untuk bersikap kritis namun tidak anti-teknologi, dengan membangun pemahaman yang inklusif dan kontekstual terhadap digitalisasi. Garner mendorong gereja untuk lebih dari sekedar "mengadopsi" teknologi. Ia menganjurkan adanya refleksi teologis yang aktif dan dialogis, yang mempertimbangkan bagaimana teknologi membentuk pola pikir, relasi, bahkan teologi itu sendiri. Dengan kesimpulan, bahwa teologi digital bagi Stephen Garner adalah suatu usaha untuk menjawab tantangan dan peluang dari dunia digital secara teologis, memahami bagaimana iman Kristen berkembang dalam konteks digital dan membentuk komunitas iman yang bertanggung jawab, sadar teknologi, dan tetap berakar pada nilai-nilai injili di era Teologi Digital yaitu sebuah pendekatan yang mengakar pada Relasi. Identitas, dan Komunitas. Bayangkan kamu sedang berada dalam ruang ibadah, tapi bukan di gereja fisik. Kamu menyimak khotbah lewat YouTube, merenungkan firman lewat aplikasi Alkitab, atau bahkan berdiskusi iman lewat grup WhatsApp. Dalam dunia seperti ini, iman dan kehidupan digital saling berjalin erat. Di sinilah teologi digital, menurut Heidi Campbell, menemukan Bagi Campbell, teologi digital adalah cara kita memahami dan menjalani iman di tengah dunia yang semakin terkoneksi oleh teknologi. Ini bukan hanya soal "apakah gereja boleh punya Instagram," tetapi lebih dalam: bagaimana teknologi mengubah cara kita mengenal Tuhan, membangun relasi dengan sesama, dan menjadi bagian dari komunitas Campbell tidak melihat teknologi sebagai "musuh" iman. Ia tidak mengajak kita menolak media sosial, atau kembali ke cara kuno. Sebaliknya, dia mengajak kita untuk mengenali nilai-nilai yang terkandung dalam teknologi digital, menyadari dampak emosional, spiritual, dan sosial dari hidup online, menghidupi iman dengan sadar dan kritis di tengah dunia digital (Campbell, 2012, hlm. Dalam buku Digital Religion dan Networked Theology. Campbell menyebut lima karakter agama digital yang sangat manusiawi: Komunitas (Communit. , meskipun online, orang tetap mencari kehangatan, dukungan, dan makna sama seperti di gereja fisik. Praktik Religius (Religious Practic. , ibadah, doa, bahkan puasa bisa dijalani lewat teknologi. Yang penting bukan tempatnya, tapi hati dan niat yang menyertainya. Otoritas (Authorit. , di dunia digital, siapa pun bisa berbicara tentang Tuhan. Ini menantang kita untuk bijak memilah mana yang benar, dan memperdalam pemahaman iman. Kebudayaan (Cultural Identit. , media digital menjadi tempat orang mengekspresikan iman sebagai bagian dari identitas pribadi dan sosial. Perpindahan Ruang Suci (Transcendence of Spac. , ruang ibadah tidak lagi dibatasi tembok gereja. Kehadiran Tuhan bisa dialami di mana saja, bahkan di layar ponselmu. Campbell mendorong kita untuk tidak menjadi korban pasif dari dunia digital, tapi juga tidak menolaknya mentah-mentah. Ia mengajak agar merenung, berdialog, dan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital membentuk makna iman di tengah dunia digital, dengan kesadaran, kebijaksanaan, dan kasih. Ia menekankan bahwa iman Kristen selalu hidup dalam konteks. Teologi digital adalah usaha untuk menjawab pertanyaan lama iman, tentang Tuhan, manusia, dan keselamatan, dalam tantangan zaman ini. Teologi digital yaitu sebuah cara hidup beriman secara sadar dalam dunia yang serba terhubung. Ia memandang teknologi bukan sebagai pengganti iman, tetapi sebagai ruang baru di mana iman bisa bertumbuh, diuji, dan dijalani (Campbell, 2012, hlm. Teologi Liturgi Menurut Rachman dan Martasudjita Dalam kehidupan orang Kristen, ibadah adalah sarana utama untuk menjalin hubungan dengan Tuhan, sedangkan liturgi berfungsi sebagai panduan yang mengatur jalannya ibadah tersebut. Ada tujuh bagian utama dalam sebuah liturgi, yaitu: doa pembukaan, pengakuan dosa, pengampunan dosa dan ajakan untuk menjalani hidup baru, pemberitaan firman Tuhan, tanggapan umat berupa pengakuan iman dan persembahan syukur, doa syafaat, serta pengutusan dan berkat penutup. Masing-masing bagian ini dikembangkan dalam tata ibadah di berbagai gereja Kristen, meskipun cara pelaksanaan dan pola penyajiannya dapat berbeda-beda. Liturgi lahir dari pemahaman teologis yang sekaligus bersifat teoritis dan praktis. Keduanya harus berjalan seiring, karena yang satu tidak bisa dipisahkan dari yang lain. Jika liturgi hanya berhenti pada tataran teori, ia akan menjadi sekedar dogma. Pada kenyataannya, liturgi adalah wujud nyata kehidupan gereja yang dijalani dan dihayati. Menurut Rachman, liturgi adalah wujud dari kegiatan beribadah. Ibadah yang dimaksud tidak terbatas pada upacara atau ritual semata, tetapi mencakup seluruh praktik hidup yang mencerminkan iman (Rachman, 2012, hlm. Liturgi menjadi sarana yang bisa mengembangkan iman jemaat serta membawa kasih Tuhan pada setiap jemaat dan memotivasi jemaat untuk beribadah. Melalui liturgi jemaat dapat menghayati ibadah melalui bentuk, suasana serta warna dalam tata ibadah. Ibadah, atau Abodah dalam bahasa Ibrani, secara harfiah berarti bakti, hormat, dan penghormatan sebuah sikap sekaligus tindakan yang mengakui serta memuliakan Allah. Tindakan ini mencakup perjumpaan dengan Allah dan respons jemaat terhadap kehadiranNya. Dari sudut pandang teologis, makna liturgi jauh lebih luas daripada ibadah. Ibadah cenderung bersifat satu arah, yakni ungkapan atau tindakan manusia kepada Allah sebagai bentuk syukur atas karya-Nya. Sementara itu, menurut Konsili Vatikan II, liturgi mencakup komunikasi dua arah yang saling terhubung: gerakan dari Allah kepada manusia . dan gerakan dari manusia kepada Allah . Seluruh proses ini terjadi melalui Yesus Kristus di dalam kuasa Roh Kudus (Martasudjita, 2011, hlm. Ibadah dan liturgi memiliki hubungan yang erat dan saling berkaitan. Ibadah adalah wujud ungkapan syukur atas kasih dan karya Allah yang tak terbatas bagi kehidupan manusia. Sementara itu, liturgi bukan hanya sarana bagi umat untuk menyatakan rasa terima kasih atas keselamatan dan perbuatan Allah, tetapi juga menjadi ruang untuk merayakan dan menghayati pengalaman pribadi akan karya-Nya. Martasudjita menjelaskan bahwa liturgi berarti AukerjaAy atau AupelayananAy yang dilakukan demi kepentingan bersama. Dalam konteks masyarakat Yunani Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital Kuno, istilah ini digunakan untuk menggambarkan kerja bakti atau pelayanan sukarela yang dilakukan tanpa menerima upah. Teologi liturgi adalah upaya merenungkan bagaimana Allah dan manusia saling berjumpa dan berkomunikasi. Perjumpaan ini terjadi melalui karya Kristus dan Roh Kudus. Karena itu, teologi liturgi tidak hanya membahas urutan atau tata cara ibadah semata, tetapi juga bagaimana makna perayaan liturgi itu dihidupi dan diwujudkan dalam seluruh aspek kehidupan jemaat dan gereja. Marthasudjita menjelaskan bahwa liturgi adalah perayaan atas karya penyelamatan Allah melalui Kristus. Perayaan ini dijalankan oleh Yesus Kristus sebagai Imam Agung, bersama gereja-Nya, dalam persekutuan yang dipersatukan oleh Roh Kudus. (Martasudjita, 2011, hlm. Memahami makna liturgi memerlukan refleksi dan pengalaman pribadi bersama Tuhan. Karena itu, kesadaran akan diri sendiri dan sikap batin yang selaras menjadi langkah awal yang penting dalam teologi liturgi. Pengalaman liturgi yang berawal dari pribadi, diperkuat oleh kebersamaan dalam komunitas, serta dihayati dalam kehadiran Tuhan secara seimbang, dapat menjadi dorongan yang mendalam. Teologi berperan untuk menolong dan memperkaya setiap hal yang dirayakan dalam liturgi, dengan tujuan membawa umat pada persekutuan yang erat dengan Tuhan, itulah arti dari teologi liturgi. Konsep Pemberian Persembahan Via QRIS dalam Era Digital di Jemaat GMIM Kuranga Talete Dua Penerapan penggunaan QRIS sebagai media tambahan pemberian persembahan, merupakan reaksi gereja terhadap kemajuan teknologi digital yang memberikan pengaruh terhadap kehidupan berjemaat, baik dari sisi positif maupun tantangan-tantangan yang Fenomena ini memperlihatkan bagaimana jemaat, mulai beradaptasi dengan arus perkembangan zaman yang semakin digital. Secara praktis, akses transaksi yang lebih mudah bisa berdampak pada peningkatan jumlah persembahan, namun tujuan utama bukan pada mementingkan jumlah persembahan atau untuk menaikkan hasil persembahan, tapi ada beberapa alasan lain yang lebih luas dari hasil wawancara mengenai munculnya QRIS dalam hal memberi persembahan, yaitu. banyak jemaat yang jarang membawa uang tunai bahkan lupa membawa uang tunai karena telah menggunakan dompet digital atau m-banking, mengurangi risiko kehilangan uang tunai, memudahkan pencatatan keuangan, membuat laporan gereja lebih transparan, jemaat yang sedang bepergian, tinggal di luar kota, atau mengikuti ibadah online tetap bisa berpartisipasi dalam memberi, dan keselarasan dengan perkembangan teknologi. QRIS dipandang sebagai alat yang mempermudah partisipasi jemaat dan mengelola persembahan secara lebih efektif dan aman. Penggunaan QRIS memudahkan proses pemberian persembahan karena tidak harus membawa uang tunai. Faktor perkembangan zaman saat ini, di mana orang-orang lebih banyak menggunakan transaksi digital sehingga membuat mereka jarang membawa uang Dengan hanya memindai kode QR melalui smartphone, jemaat dapat memberikan persembahan kapan saja dan di mana saja, apalagi bagi yang berhalangan hadir dengan faktor Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital sakit dan sedang bekerja di luar kota. Bagi generasi muda dan mereka yang terbiasa dengan penggunaan QRIS atau transaksi digital, hal ini tentu menjadi alternatif yang sangat relevan dan efisien dalam memberi persembahan di ibadah (Wawancara dengan EP,CW. BP. LS. Februari 2. Dari hasil penelitian terdapat beberapa faktor sehingga jemaat kurang tertarik dengan Seperti, kurangnya pemahaman tentang cara, manfaat, dan risiko terhadap penggunaan QRIS, masih terbiasa dengan metode konvensional dengan memberikan persembahan ke meja persembahan yang sudah melekat dari dulu, ketergantungan pada perangkat, akses m-banking, harus punya uang dalam m-banking, harus punya kuota internet dan internet harus stabil, yang belum tentu dimiliki semua jemaat. Namun demikian, penggunaan QRIS juga menimbulkan berbagai tanggapan dari Beberapa informan mengungkapkan bahwa meskipun penggunaan QRIS lebih praktis, mereka merasa proses memberi persembahan menjadi kurang bermakna secara Memberi persembahan merupakan wujud syukur kepada Tuhan yang dilakukan dengan sepenuh hati, dengan QRIS mereka merasa unsur emosional dan penghayatan bisa hilang, karena hanya sekilas seperti melakukan pembayaran biasa atau transaksi jual-beli. Terlebih bagi jemaat lanjut usia atau jemaat yang belum terbiasa dengan teknologi seperti QRIS, metode ini dirasa membingungkan (Wawancara dengan MA. FP. VT. MB. FB. Februari 2. Di sisi lain, dampak dari penggunaan QRIS juga menjadi masalah dalam hubungan sosial jemaat, jika tidak disampaikan secara jelas seperti tentang makna teologisnya dan bagaimana menjaga keseimbangan gereja dan teknologi, ada kekhawatiran jemaat dapat menyalah artikan penggunaan QRIS ini yang dapat menyebabkan jemaat hanya memberi persembahan melalui online saja tanpa pergi ke persekutuan ibadah dan interaksi jemaat akan berkurang. Persembahan yang dilakukan secara digital juga bisa mengurangi momenmomen, seperti berjalan ke meja persembahan bersama-sama dan momen saling menyapa ketika saat ibadah selesai (Wawancara dengan EIP. EP. Februari 2. Salah satu solusi yang diusulkan adalah edukasi dan sosialisasi yang lebih menyeluruh tentang penggunaan QRIS dan pendekatan secara teologis, terutama kepada jemaat yang kurang pemahaman. Gereja tidak hanya harus mengikuti perkembangan zaman, tapi juga memaknai dan membingkai teknologi dalam konteks iman Kristen. Bukan hanya mengajarkan cara memindai QR, tetapi juga menyampaikan nilai iman yang tetap dapat dibawa dalam memberi melalui media digital. Gereja memberi penjelasan teologis agar makna persembahan tidak hilang hanya karena medianya berubah. Penggunaan QRIS tidak menggantikan metode konvensional, melainkan menjadi pilihan tambahan yang menyesuaikan kebutuhan jemaat. Dan peran gereja dalam menjaga kualitas persekutuan merupakan unsur utama yang harus dijaga. Meskipun QRIS memberikan kemudahan dalam memberi persembahan, kehadiran fisik dalam ibadah tidak boleh diabaikan. Kehadiran di gereja bukan sekedar rutinitas, tetapi juga bagian dari membangun dan memelihara relasi jemaat dan dengan Tuhan. Oleh karena itu, gereja perlu menekankan bahwa memberi persembahan secara online bukan berarti boleh melewatkan ibadah secara fisik. Peneliti Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital menyimpulkan, bahwa teknologi seperti QRIS bisa menjadi alat bantu yang efektif dalam menunjang kehidupan rohani jemaat, jika digunakan dengan bijak dan proporsional. Pengaruh positifnya bisa dirasakan dalam bentuk kemudahan dan efisiensi, namun tetap perlu diimbangi dengan pemahaman yang benar agar makna ibadah dan hubungan sosial jemaat tidak hilang. Pengaruh negatif bukan berasal dari teknologi itu sendiri, tetapi dari bagaimana kita menggunakannya. Disiplin spiritual dan kesadaran rohani tetap menjadi kunci agar setiap kemajuan zaman dapat dimanfaatkan untuk kemuliaan Tuhan. Relasi Teologi Digital Menurut Elizabeth Drescher. Keith Anderson. Stephen Garner, dan Heidi Campbell Dalam Melihat Konsep Pemberian Persembahan Via QRIS Bagi Jemaat GMIM Kuranga Talete Dua Era digital bukan hanya tentang fenomena teknologi, tetapi juga sebuah tantangan spiritual yang nyata. Di tengah perubahan zaman yang ditandai dengan percepatan teknologi informasi, gereja tidak bisa tinggal diam atau bersikap pasif. Gereja dipanggil untuk hadir secara kontekstual dalam kehidupan jemaat yang kini tidak hanya berada di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital. Inilah yang menjadi dasar lahirnya teologi digital, sebuah pendekatan iman yang tidak hanya memahami realitas digital sebagai wadah baru, tetapi juga sebagai medan pelayanan dan ekspresi spiritual yang sah dan bermakna. Gereja sebagai lembaga keagamaan dituntut untuk tidak hanya mempertahankan nilai-nilai tradisional, tetapi juga mampu mengenal dan beradaptasi terhadap perkembangan zaman serta kecanggihan teknologi dengan bijak. Era digital telah mengubah pola hidup manusia secara mendasar, mulai dari bekerja, belanja, hingga beribadah. Dalam situasi seperti ini, menjadi gereja yang adaptif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Gereja mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai lembaga yang menghadirkan kasih, kebenaran, dan terang Kristus bagi dunia. Gereja yang adaptif adalah gereja yang mampu mengikuti atau menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan meresponsnya dengan bijak. Tidak takut terhadap teknologi, tetapi justru menggunakannya sebagai sarana untuk menyampaikan pesan Injil secara relevan dan menyentuh. Salah satu bentuk adaptasi gereja adalah penggunaan teknologi dalam memberi persembahan. QRIS menjadi simbol dari perkembangan cara jemaat memberi persembahan dan mendukung Gereja mampu menjadikan ini sebagai peluang untuk menjangkau jemaat yang terbiasa dengan sistem digital. Namun, bukan berarti menyerahkan semuanya pada teknologi. Gereja harus tetap kritis dan selektif. Penggunaan QRIS merupakan cerminan dari usaha gereja untuk menyesuaikan diri dengan budaya modern masyarakat saat ini, di mana transaksi non-tunai menjadi sesuatu yang lumrah dan bahkan lebih disukai. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan bahwa secara umum, jemaat menyambut baik kehadiran QRIS sebagai metode alternatif dalam memberi persembahan. Ini menunjukkan bahwa jemaat merasa terbantu dan dimudahkan dengan adanya teknologi (Wawancara dengan EP,CW,BP,LS. Februari 2. Gereja tidak menutup diri terhadap kemajuan zaman, dan justru berupaya menghadirkan pelayanan yang lebih relevan. QRIS memungkinkan proses pemberian persembahan dilakukan secara cepat dan praktis, hanya Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital dengan memindai kode melalui ponsel. Bagi generasi muda dan mereka yang terbiasa dengan teknologi digital, penggunaan QRIS sebagai sebuah kemudahan yang sangat relevan dengan gaya hidup modern, hal ini menjadi suatu solusi ideal. Namun. QRIS menjadi metode tambahan atau alternatif dalam memberi persembahan, bukan sebagai pengganti metode Dengan adanya QRIS ini, tentunya jemaat harus memiliki pengetahuan terhadap QRIS, baik secara teknis maupun pemahaman. Menyampaikan makna teologis persembahan dan teknologi melalui khotbah atau sosialisasi, menjadi langkah strategis yang bisa membantu jemaat menerima dan memaknai teknologi ini dengan lebih bijak. Dengan memanfaatkan dengan baik. QRIS juga bisa menjadi cara untuk meningkatkan transparansi, dan kenyamanan dalam pengelolaan persembahan gereja. Sehingga, keberhasilan penerapan QRIS dalam pemberian persembahan, bergantung pada bagaimana gereja menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai spiritual, artinya gereja dan jemaat harus mampu untuk menggunakan teknologi digital ini secara efektif dan bijak. Elizabeth Drescher, dalam bukunya Click 2 Save: The Digital Ministry Bible, bersama Keith Anderson, mengatakan pemikiran penting mengenai bagaimana gereja harus memahami dan mempraktikkan pelayanan di era digital. Bagi Drescher, pelayanan digital bukan sekedar AumengonlinekanAy aktivitas gereja, melainkan menata ulang kehadiran gereja dalam dunia yang telah mengalami remapping secara radikal. Dunia digital menjadi tempat baru di mana orang mencari makna, berkomunitas, dan membangun spiritualitas mereka. Oleh karena itu, pelayanan digital adalah juga tentang membangun kehadiran yang otentik dan rasa kehadiran yang nyata. (Elizabeth Drescher & Keith Anderson, 2018, 6-. Dalam hal ini, pemberian persembahan melalui QRIS oleh jemaat GMIM Kuranga Talete Dua dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika teologi digital tersebut. QRIS memungkinkan jemaat memberikan persembahan secara cepat, praktis, dan fleksibel. Ini menunjukkan bahwa teknologi telah membuka jalan baru bagi umat untuk tetap terlibat dalam ibadah khususnya dalam memberi persembahan. Namun. Drescher mengingatkan bahwa pelayanan digital harus tetap berakar pada nilai-nilai etis dan relasional. Teknologi hanyalah alat. bagaimana alat itu digunakan menentukan dampaknya. Dalam pemberian persembahan via QRIS, jemaat mungkin merasakan manfaat besar dalam hal efisiensi. Tetapi di sisi lain, sebagian jemaat mengaku kehilangan dimensi spiritual dari tindakan memberi yang biasanya melibatkan sentuhan emosional, kehadiran fisik, dan suasana liturgis yang menyentuh hati (Wawancara dengan MA. FP. VT. MB. FB. Februari 2. Hal ini menjadi refleksi penting dalam teologi digital, bagaimana memastikan bahwa kemudahan teknologi tidak menggantikan kedalaman Menurut Drescher, kehadiran digital gereja haruslah hadir dengan kesadaran penuh terhadap konteks dan kebutuhan umat. Gereja harus mampu membangun koneksi spiritual bahkan ketika jemaat memberi persembahan dari rumah, di sela aktivitas kerja, atau melalui layar ponsel. Artinya, perlu ada pendekatan pastoral yang menekankan bahwa tindakan memberi, meski digital, tetaplah merupakan bentuk penyembahan dan syukur kepada Allah bukan sekedar transaksi biasa. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital Lebih jauh. Drescher dan Anderson menekankan konsep stewardship of God given resources yang artinya mengelola karunia Tuhan, bahwa segala bentuk pelayanan digital adalah bagian dari pengelolaan anugerah Allah, termasuk teknologi. Gereja dipanggil untuk menggunakan teknologi bukan sekedar sebagai alat bantu, tetapi sebagai sarana membangun komunitas iman yang lebih inklusif, adaptif, dan partisipatif (Elizabeth Drescher & Keith Anderson, 2018, 6-. Di Jemaat GMIM Kuranga Talete Dua, ini berarti menyosialisasikan QRIS bukan hanya sebagai alat pembayaran, tetapi sebagai bagian dari spiritualitas ibadah. Gereja harus mendampingi jemaat, terutama yang kurang familiar dengan teknologi, agar mereka tidak hanya paham teknis penggunaan QRIS, tetapi juga mampu memaknai tindakan tersebut secara rohani. Masalah yang muncul juga menyentuh ranah sosial jemaat. QRIS memberi keleluasaan memberi dari mana saja, tapi juga menimbulkan kekhawatiran bahwa jemaat tidak lagi merasa perlu hadir secara fisik dalam ibadah. Hal ini bisa melemahkan relasi jemaat, mengurangi rasa kebersamaan dalam persekutuan, dan membentuk pola ibadah yang individualistik (Wawancara dengan EIP. EP. Februari 2. Drescher menyebut pentingnya seni dalam pelayanan digital . racticing the arts of digital ministr. , yaitu kemampuan gereja membangun kehadiran yang berarti, mengelola relasi dalam ruang digital, dan menghadirkan dimensi spiritual yang tetap hidup walau sarana berubah. Maka, relasi antara pemikiran teologi digital Elizabeth Drescher dan pemberian persembahan via QRIS sangat erat. Keduanya saling melengkapi. QRIS sebagai wujud adaptasi terhadap dunia modern, dan teologi digital sebagai dasar spiritual agar adaptasi tersebut tetap bermakna secara iman. Gereja tidak cukup hanya menerapkan teknologi, tetapi juga harus menuntunnya dengan kebijaksanaan rohani agar pelayanan digital tidak kehilangan esensinya sebagai penyambung kasih Allah. Teknologi yang merupakan buah dari daya cipta manusia, dan dengan demikian, dalam batas-batas tertentu, ia bisa dipahami sebagai bagian dari panggilan ilahi untuk "mengusahakan dan memelihara" bumi (Kejadian 2:. Teknologi yang merupakan hasil dari kerja manusia yang menggunakan akal budi anugerah dari Allah. Maka, ada sisi teologis yang mendalam dalam setiap kemajuan ilmiah, bahwa manusia dipanggil untuk terus menggali ciptaan, mengembangkan pengetahuan, dan menghadirkan kesejahteraan bersama. Teknologi dapat dilihat sebagai sarana partisipasi dalam karya penciptaan yang berkelanjutan. Namun, sebagaimana semua hal baik yang disalahgunakan dapat menjadi berhala, teknologi pun membawa godaan tersendiri. Teknologi yaitu bagian dari mandat budaya yang Allah percayakan. Seperti halnya Nuh yang membangun bahtera bukan berdasarkan ide pribadinya, melainkan sesuai petunjuk Allah (Kejadian 6:14-. , gereja pun perlu menggunakan teknologi dalam ketaatan, bukan atas dasar ambisi atau Bahtera Nuh adalah alat keselamatan, bukan panggung kemegahan. QRIS bisa menjadi alat kesaksian bahwa gereja mampu menjadi relevan tanpa kehilangan nilai-nilai Akan tetapi. Tetap dibutuhkan hikmat agar dalam modernitas, gereja tidak kehilangan Sebagaimana Roma 12:1 mengajak kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, teknologi seperti QRIS bisa menjadi bagian dari persembahan itu. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital bukan sekedar alat bayar, tapi wujud kasih, tanggung jawab, dan komitmen kita sebagai murid Kristus. Dengan demikian. QRIS bukan hanya sekedar teknologi finansial, melainkan sarana ibadah digital. Di tengah kehidupan gereja masa kini. QRIS bisa menjadi jembatan digital yang menghubungkan hati jemaat dengan pelayanan Tuhan. Ini merupakan cerminan dari bagaimana gereja menanggapi dunia digital sebagai ruang pelayanan yang sah. Melalui pendampingan yang bijaksana dan pendekatan teologis yang kuat, persembahan via QRIS bisa menjadi bentuk baru dari persekutuan yang kudus, hadir di mana saja, tetapi tetap terhubung dengan Allah dan sesama. Melalui teknologi ini, persembahan tidak lagi terbatas pada amplop atau uang tunai, tetapi bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tanpa kehilangan makna ibadahnya. Bagi jemaat yang beribadah secara daring. QRIS menjadi wujud nyata bahwa memberi persembahan tetap bisa menjadi bagian dari penyembahan, meski tidak hadir secara fisik di gedung gereja. Bukan hanya soal memindai kode, tetapi tentang menyampaikan syukur, kasih, dan komitmen kita kepada Allah melalui cara yang relevan di era digital. Dengan pemikiran Stephen Garner bahwa teologi digital sebagai refleksi atas bagaimana iman Kristen dijalani dan dimaknai dalam budaya digital. Ini bukan hanya soal memakai media sosial untuk penginjilan, tapi juga soal memahami bagaimana media digital mengubah cara kita memahami Allah, diri, dan komunitas. Ia mendorong umat Kristen untuk tidak menerima teknologi secara pasif, melainkan bertanya. Apakah teknologi ini mendukung nilai Kerajaan Allah? Apa dampaknya terhadap relasi, keadilan, dan martabat manusia? Bagaimana kita dapat menggunakan teknologi secara etis dan bermakna? Ini sejalan dengan apa yang disebutnya sebagai "Theology of Technology" yakni menilai dan menafsirkan teknologi dari perspektif iman. Sejalan dengan persembahan yang merupakan bagian dari liturgi yang memiliki makna teologis, dan penggunaan QRIS hanyalah pembaruan bentuk tanpa mengurangi kesakralannya, dengan pemikiran Rachman tentang liturgi sebagai ekspresi kehidupan gereja yang menyentuh seluruh bidang hidup dengan pemaknaan iman, persembahan yang merupakan bagian dari liturgi dan memanfaatkan teknologi pelayanan digital gereja dan hubungannya dengan pemikiran Drescher tentang pentingnya seni dalam pelayanan digital . racticing the arts of digital ministr. , yaitu kemampuan gereja membangun kehadiran yang berarti, mengelola relasi dalam ruang digital, dan menghadirkan dimensi spiritual yang tetap hidup walau sarana berubah. Seperti prinsip Alkitab tentang memberi . Korintus 9:7. Amsal 3:. , di mana sarana boleh berubah tetapi makna spiritualnya tetap sama sambil memanfaatkan kemudahan teknologi, dengan menekankan sikap hati dan motivasi, bukan pada bentuk atau cara teknisnya, sehingga dengan kemunculan persembahan dengan QRIS tidak menghikangkan makna dari ibadah dan liturgi. Rekomendasi untuk Penelitian Lanjutan Berdasarkan keterbatasan dalam penelitian ini, masih terdapat area yang belum dieksplorasi secara mendalam, seperti dampak teologi digital terhadap pembentukan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital identitas rohani jemaat dan efektivitas pelayanan daring jangka panjang. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mengkaji aspek-aspek tersebut secara lebih Kesimpulan Pemberian persembahan via QRIS di Jemaat GMIM Kuranga Talete Dua mencerminkan pergeseran spiritualitas umat dalam menghadapi dunia digital, namun juga menyisakan tantangan teologis yang perlu dijawab dengan bijak. Meskipun teknologi memberikan kemudahan dan membuka akses partisipasi yang lebih luas, gereja tetap harus memastikan bahwa metode ini tidak mengikis makna ibadah sebagai relasi yang utuh antara umat dan Allah, serta antar sesama. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang tidak hanya teknis, tetapi juga teologis dan relasional, agar digitalisasi pelayanan benar-benar menjadi sarana yang membangun iman dan kebersamaan, bukan malah menjadikannya dangkal dan individualistik. Daftar Rujukan Afandi. Gereja Dan Pengaruh Teknologi Informasi. Digital Ecclesiology. JURNAL FIDEI. Vol. No. : 270-283. , https://doi. org/10. 34081/fidei. Arivianto. David. Syahputra. , & Nur. Dampak Teknologi Pada Implikasi Sosial. Kultural. Dan Keagamaan Dalam Kehidupan Manusia Modern. Moderasi: Jurnal Kajian Islam Kontemporer https://journal. com/index. php/moderasi/article/view/497 Budiyanto. H . Berbagai Terang Kristus. Pustaka Ekklesia. Bruggen. Markus Injil Menurut Petrus. BPK Gunung Mulia. Campbell. Digital Religion: Understanding Religious Practice in Digital Media. Routledge, https://doi. org/10. 4324/9780203084861. Dalensang. R, & Molle. Peran Gereja Dalam Pengembangan Pendidikan Kristen Bagi Anak Muda Pada Era Teknologi Digital. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 5, no. https://journal. stt-abdiel. id/index. php/JA/article/view/189 Drescher. E, & Anderson. Click 2 Save: The Digital Ministry Bible. Church Publishing ISBN 9780898690316. Gaspersz. Kristus di Era Digital: Menjembatani Teologi dan Teknologi Dalam Masyarakat 5. Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Volume. Nomor. 2, https://jurnal. stak-kupang. id/index. php/voxveritatis/article/view/44 Kristianto. Gereja Analog: Mengapa Kita Membutuhkan Orang. Tempat, dan Sesuatu yang Nyata dalam Era Digital. Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Volume Nomor https://sttintheos. id/ejournal/index. php/dunamis/article/view/955/388 Martasudjita. Liturgi Pengantar Untuk Studi Dan Praksis Liturgi. Kanisius. Maryono. Teknologi Informasi dan Komunikasi 1. Yudhistira. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Teologi Digital sebagai Konsep dalam Pemberian Persembahan via QRIS Memasuki Era Digital Ondang. J,. & Kalangi S. Pemanfaatan Media Digital dalam Pelayanan Gerejawi,. Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Sekolah Tinggi Teologi Transformasi Indonesia. Volume. Nomor, 1. http://ejurnal. Rachman. Hari raya liturgi: Sejarah dan pesan pastoral gereja. BPK Gunung Mulia. Rachman. Pembimbing Ke Dalam Sejarah Liturgi. BPK Gunung Mulia. Stetzer. Ways Technology Enables the Mission of the Church [Christianity Toda. , https://static1. com/static/56dee43ee321400514f98522/ t/5762a6251b631ba7b6a66326/1466082855137/1 3 Ways Technology Enables t he Mission o. | The Exchange | A Blog by Ed Stetzer. Stevany. N, & Silalahi. Media Digital Sebagai Pendukung Pelayanan Misi Gereja. Jurnal Teologi Injili dan Pendidikan Agama. Vol. No. http://ejurnal. Supiandi. M, & Risky A. Pengantar Bisnis Digital. UMM Press. ISBN Sumarto. Tinjauan Teologis Tentang Ibadah Bagi Pelaksanaan Misi Allah Theological Review of Worship For the Impementation of GodAos Mision. Jaffay 17, https://ojs. id/JJV71/article/view/312 Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025