Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6. p-ISSN : 2655-657X http://jurnal. id/index. php/IJEC Pembiasaan Kegiatan TPQ Dalam Membentuk Kedisiplinan Anak Usia Dini: Studi Deskriptif Di TK Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang Syaha Putri Fidintia1,Yuli Kurniawati Sugiyo Pranoto2 Universitas Negeri Semarang. Indonesia Email Korespondensi : syahaputri@students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran pembiasaan kegiatan ekstrakulikuler TPQ terhadap pembentukan kedisiplinan pada anak usia dini di TK Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah Guru Taman Pendidikan Al-Quran, wali kelas, dan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan TPQ sehari-hari membentuk sikap disiplin anak baik dalam aspek personal maupun sosial, seperti ketepatan waktu, ketaatan pada aturan, mengantri, dan mengelola barang milik Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam menumbuhkan kebiasaan positif Pembiasaan terbukti menjadi strategi yang efektif dalam pendidikan kepribadian pada anak usia dini. Kata kunci: Anak Usia Dini. Disiplin. Pembiasaan. Pendidikan Karakter. TPQ Habituation of TPQ Activities in Forming Early Childhood Dicipline: A Descriptive Study at Hj. Isriati Baiturrahman 2 Kindergarten. Semarang ABSTRACT This study aims to clarify how habituation to TPQ extracurricular activities affects early childhood discipline formation in Hj. Isriati Baiturrahman 2 Kindergarten. Semarang. This study used a descriptive qualitative approach. Data collection was done using observation, interview, and recording methods. The study subjects included TPQ teachers, homeroom teachers, and parents. The results of the study showed that daily TPQ activities could develop childrenAos personal and social discipline, such as punctuality, obedience to rules, patience, and responbility for belongings. Teachers and parents play an important role in cultivating these positive habits. Habituation has been proven to be an effective strategy in personality development in early childhood. Keywords: Character Education. Discipline. Early Childhood. Habituation. TPQ Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. A Tahun Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini PENDAHULUAN Disiplin merupakan pondasi penting dalam pembentukan kepribadian anak sejak dini. Disiplin bukan hanya sekadar menaati peraturan, tetapi juga sangat berperan dalam pembentukan kepribadian, tanggung jawab, dan pengendalian diri dalam kehidupan seharihari. Anak usia dini yang terbiasa hidup disiplin akan memperoleh kemampuan untuk beradap Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X tasi dengan lingkungan sosial dan berperilaku tertib serta positif (Harjanty & Mujtahidin. Hal ini sesuai dengan pendapat (Zuliasanita et al. , 2. bahwa Pendidikan disiplin sejak dini membantu anak mengembangkan kebiasaan baik dan memperoleh keterampilan sosial yang sehat. Oleh karena itu, penting bagi Lembaga Pendidikan anak usia dini untuk menanamkan nilai disiplin melalui pendekatan yang tepat dan menyenangkan. Salah satu pendekatan yang terbukti efektif dalam membentuk disiplin adalah pembiasaan kegiatan keagamaan di sekolah, salah satunya adalah kegiatan ekstrakulikuler Taman Pendidikan Al-Quran (Maela et al. , 2. TPQ tidak hanya membekali anak dengan kemampuan membaca Al-Quran, tetapi juga menjadi wadah untuk mengembangkan kebiasaan baik melalui kegiatan yang berulang dan sistematis. Anak dilatih untuk datang tepat waktu, mengikuti jadwal kegiatan, duduk teratur, menunggu giliran, dan menyelesaikan tugas yang diberikan (Masnawati & Fitria, 2. Rutinitas tersebut secara tidak langsung akan membentuk kedisiplinan pribadi dan sosial anak. (Rianto, 2. juga menyatakan bahwa pembiasaan dengan kegiatan TPQ dapat menumbuhkan perilaku disiplin melalui keteladanan guru, penegakan aturan, dan pemberian tanggung jawab kepada anak sesuai dengan Guru memegang peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran TPQ. Guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga menjadi panutan bagi anak. Perilaku keteladanan, manajemen waktu, dan cara memberikan instruksi merupakan salah satu cara untuk membangun karakter yang kuat (Zahira et al. , 2. Guru yang konsisten dan komunikatif dapat membangun keintiman emosional yang positif dengan anak dan menyampaikan pesan moral secara efektif. Selain itu, kreativitas guru dalam memberikan materi dan mendampingi anak juga berperan penting dalam menanamkan kata-kata positif dan memberikan hukuman yang bersifat mendidik seperti mengulang hafalan, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang mudah dan menyenangkan bagi anak (Pratiwi et al. , 2. Perlu disadari bahwa proses Pendidikan karakter tidak terlepas dari peran keluarga, khususnya orang tua. Lingkungan rumah merupakan tempat pertama dan utama bagi anak untuk mempelajari nilai-nilai kehidupan. Bimbingan, keteladanan, dan konsistensi orang tua dalam pembiasaan dari sekolah ke rumah merupakan faktor yang sangat penting dalam keberhasilan pembentukan kedisiplinan pada anak (Mubiarto, n. Anak yang terbiasa bersikap disiplin di rumah, seperti menyelesaikan pekerjaan rumah tepat waktu, menjaga kebersihan, dan menaati peraturan keluarga, cenderung akan lebih mudah mempraktikkannya di sekolah (Fitriani & Hayati, 2. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara guru dan orang tua untuk menciptakan lingkungan belajar yang menumbuhkan kebiasaan disiplin secara TK Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang merupakan salah satu Lembaga Pendidikan anak usia dini yang menjadikan kegiatan TPQ sebagai program harian untuk membentuk pribadi Islami sejak dini. Kegiatan TPQ dilaksanakan secara sistematis dan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak di sekolah. Dengan pendekatan pembiasaan, kegiatan tersebut bertujuan untuk membekali anak dengan kemampuan agama sekaligus menanamkan nilai-nilai disiplin yang dapat diaplikasikan dalam keghidupan sehari-hari. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pembiasaan kegiatan TPQ dapat membentuk kedisiplinan anak usia dini di TK Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang proses pembiasaan kegiatan TPQ dalam pembentukan kedisiplinan anak usia dini. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengontekstualisasikan fenomena secara alami berdasarkan Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X pengalaman dan persepsi subjek penelitian. Desain deskriptif digunakan untuk menggambarkan secara sistematis dan komperehnsif bagaimana kebiasaan dalam kegiatan TPQ memengaruhi perilaku disiplin anak. Penelitian ini dilakukan di TK Hj. Isriati Baiturrahman 2 di Semarang. Sekolah ini dipilih karena secara konsisten memasukkan kegiatan TPQ ke dalam program harian anak sebagai bagian dari penguatan karakter Islami mereka. Sekolah tersebut memiliki lingkungan belajar yang mendukung dan pendidik yang kompeten. Penelitian semacam itu membantu menentukan apakah kebiasaan beragama efektif daam pembentukan karakter anak sejak usia dini (Jumiatin, 2. Subjek penelitian terdiri dari seorang guru TPQ, seorang guru kelas, dan orang tua siswa yang anaknya berpartisipasi aktif dalam kegiatan TPQ. Tiga metode utama digunakan untuk Teknik pengumpulan data yaitu observasi partisipasif, wawancara mendalam, dan Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung perilaku anak selama kegiatan TPQ dan untuk mengetahui keterlibatan dan reaksi anak terhadap rutinitas yang Wawancara dilakukan kepada guru dan orang tua untuk memperoleh pendapat mereka tentang perubahan perilaku disiplin anak dan praktik pembiasaan yang dilakukan di sekolah di rumah. Dokumentasi diperoleh dari catatan kegiatan harian, jadwal TPQ, dan laporan perkembangan anak. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi tiga tahap utama yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan (Firdaus et al. , 2. Untuk memastikan keabsahan data, peneliti melakukan triangulasi metode dan triangulasi sumber, yaitu membandingkan hasil observasi dengan wawancara dan dokumentasi untuk mencapai keabsahan data yang tinggi (Luthfiyani & Murhayati, 2. Penggunaan triangulasi dalam penelitian ini didasarkan pada prinsip bahwa validasi silang antara metode dan sumber data yang berbeda menghasilkan hasil yang lebih objektif dan anda (Nurfajriani vera, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pembiasaan kegiatan TPQ yang dilaksanakan setiap hari di TK Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang memberikan berkontribusi besar dalam membentuk kedisiplinan pada anak usia dini. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, anak menunjukkan perilaku disiplin, seperti datang tepat waktu, mengikuti tata tertib kegiatan, sabar menunggu giliran, dan mandiri dalam mengambil dan menyimpan bahan belajar. Hal ini menunjukkan bahwa anak mulai memahami tata tertib kegiatan TPQ dan secara tidak langsung melatih pengendalian diri dan rasa tanggung jawabnya. Pembiasaan ini justru membantu anak menginternalisasi nilai kedisiplinan melalui pengalaman langsung yang berulang-ulang. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan (Anggraeni et al. , 2. yang menyatakan bahwa pembiasaan merupakan proses Pendidikan yang berkesinambungan dan efektif untuk menanamkan perilaku positif sejak dini. Untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang persepsi pendidik dan orang tua mengenai pembiasaan TPQ, berikut adalah beberapa kutipan wawancara yang mencerminkan keterlibatan anak, pengaruh guru, dan keterlibatan orang tua dalam membentuk kedisiplinan anak. Interaksi Anak Selama Kegiatan TPQ Banyak guru menyatakan bahwa kedisiplinan anak meningkat dengan mengikuti Langkahlangkah kegiatan, menunggu giliran dengan sabar, dan menunjukkan konsistensi dalam kegiatan TPQ harian. Hal ini terbukti dari pernyataan wali kelas berikut: AuAnak-anak mengikuti Langkah-langkah kegiatan dengan tertib dari awal sampai akhir, sangat tenang saat belajar, dan tidak banyak mengganggu teman sebayanya. Mereka juga sabar menunggu giliran membaca, tetap fokus meskipun diganggu teman sebayanya, dan menerima komentar guru dengan baik. Ay Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Kegiatan TPQ yang terstruktur juga menumbuhkan rasa tanggung jawab pada anak untuk menyiapkan perlengkapannya secara mandiri. Seorang guru TPQ menyatakan: AuAnak-anak sudah menunjukkan kebiasaan disiplin yang baik saat mengikuti kegiatan. Mereka datang tepat waktu, berbaris dengan tertib, dan menyiapkan perlengkapan. Mereka juga belajar merapikan perlengkapan belajar dan meja setelah kegiatan selesai. Ay Kebiasaan Mendisiplinkan Anak di Lingkungan Rumah Kedisiplinan anak tidak hanya dipupuk di sekolah, tetapi juga diperkuat melalui praktik di Banyak orang tua yang melaporkan bahwa anak-anak mereka menjadi lebih disiplin dalam hal waktu, tanggung jawab, dan pengendalian diri. AuAnak saya mematuhi jadwal belajar yang ditetapkan dan mandiri dalam menyelesaikan tugas. Ia juga sabar menunggu giliran bermain dengan saudaranya dan suka menyelesaikan hafalannya sebelum bermain. Ay AuAnak saya gemar berdoa dan menghafal ayat-ayat pendek, dan berdoa menjadi kebiasaan sehari-hari. Ia menyelesaikan pekerjaan rumahnya sebelum bermain dan sangat toleran terhadap teguran. Ay Selain itu, disiplin sosial juga terlihat dalam praktik sehari-hari. Auia memiliki kebiasaan meminta izin sebelum keluar rumah, ia berdoa secara teratur, ia tidak mudah marah Ketika dimintai bantuan, dan ia menyelesaikan hafalannya sebelum bermain. Ay Kebiasaan Pengendalian Diri Anak Melalui rutinitas TPQ dan konsisten di rumah, anak-anak mulai mengembangkan pengendalian diri yang baik, seperti yang terlihat dalam beberapa kutipan. Seorang orang tua menyatakan: AuDia membereskan mainannya, membereskan barang-barangnya, tetapi dia belum terlalu Dia menyelesaikan pekerjaan rumahnya sebelum bermain. Ay Sementara itu, orang tua lainnya menyatakan: AuDia tidak mudah marah Ketika diminta membantu, dan dia suka menyelesaikan pekerjaan rumahnya sebelum bermain. Ketika guru memarahinya, dia menanggapi dengan tenang dan tidak membantah. Ay Perilaku anak selama kegiatan TPQ menunjukkan terbentuknya kedisiplinan pribadi, seperti tata tertib dalam mengikuti tata tertib, konsisten dalam menyelesaikan tugas, dan rasa tanggung jawab terhadap barang milik pribadi. Anak juga dibiasakan membaca doa, menghafal surat-surat pendek, serta menaati alat tulis dan perlengkapan lainnya secara tertib. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh (Fitri & Sugiyo Pranoto, 2. menunjukkan emosi yang sangat positif ketika melakukan ibadah keagamaan seperti salat dan membaca Al-Quran, terutama ketika mereka melakukannya Bersama teman-teman. Banyak anak yang merasa Ausangat senangAy karena dapat melaksanakan salat Bersama, yang menunjukkan bahwa kegiatan salat yang dilakukan dalam konteks sosial dapat menumbuhkan perasaan keagamaan yang menyenangkan sejak usia dini. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Maela et al. , 2. bahwa pembiasaan memegang peranan penting dalam menumbuhkkan pribadi diterapkan secara efektif pada anak usia dini. Bahkan, aspek-aspek seperti ketepatan waktu dan kepatuhan terhadap jadwal kegiatan yang terlihat dalam penerapan TPQ sejalan dengan hasil penelitian (Navayana. Arief, 2. yang menegaskan bahwa pembiasaan yang konsisten secara alami akan menumbuhkan sikap patuh dan bertanggung jawab. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X Gambar 1. Dokumentasi Pada Saat Anak Mengaji Hasil observasi dan wawancara di lapangan menunjukkan bahwa penerapan jadwal harian dalam TPQ . asuk, berdoa Bersama, menghafal, bermain, menutup, dan lain-lai. dapat meningkatkan keteraturan pada anak dan membantu mereka memahami urutan kegiatan yang harus dilakukan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian (Naimah et al. , 2. yang menunjukkan bahwa Aurutinitas yang konsisten, keteladanan guru, dan penguatan positif secara signifikan memperkuat kedisiplinanAy pada anak TK Islam di Makassar. Dalam membentuk kedisiplinan anak, guru TPQ dan wali kelas memegang peranan strategis sebagai fasilitator dan model perilaku. Dalam pelaksanaan kegiatan TPQ sehari-hari, kualitas guru memegang peranan penting dalam menentukan seberapa baik anak mampu menyerap nilai-nilai disiplin. Sebagaimana ditegaskan (Utami et al. , 2. perkembangan anak usia dini tidak akan optimal tanpa kehadiran guru yang berkualitas, sekalipun kurikulum dirancang dengan baik. Berdasarkan hasil wawancara, guru tidak hanya memberikan instruksi tetapi juga memberikan contoh kedisiplinan, seperti ketepatan waktu, arahan yang konsisten, dan memuji anak atas perilaku yang baik. Contoh ini menjadi contoh praktis bagi anak untuk memahami makna kedisiplinan. (Zahira et al. , 2. menyatakan bahwa peran guru sebagai panutan terbukti efektif dalam menumbuhkan perilaku disiplin pada anak. Lebih lanjut, (Pratiwi et al. , 2. menambahkan bahwa bimbingan guru melalui pendekatan emosional dan edukatif sangat membantu anak dalam menyerap nilai-nilai disiplin dengan cara yang menyenangkan dan tidak otoriter. Strategi TPQ menekankan refleksi dan rasa Syukur, bukan hukuman fisik. Model ini konsisten dengan penelitian (Shaharani & Februannisa, 2. yang menunjukkan bahwa disiplin positif membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, dan saling menghormati melalui penguatan dan aturan yang Beberapa TPQ juga menerapkan bentuk edkatif dari taAojil seperti peningkatan hafalan bila terkena pelanggaran, sebagai bentuk koreksi non kasar. (Irkhamuddin1. Nur Azizi2. Mahmudi3 et al. , 2. , yang menunjukkan bahwa taAojil mempengaruhi kedisiplinan siswa nilai R-squared 620, yaitu pengauh kuat 62% terhadap kedisiplinan. Dukungan orang tua juga memegang peranan penting dalam memperkuat kebiasaan yang dibudayakan di sekolah. Temuan (Formen et al. , 2. menyoroti bahwa orang tua memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian anak melalui empat pendekatan utama: pemodelan, pendampingan, pengorganisasian, dan pengajaran. Pendekatan ini menempatkan orang tua bukan sebagai rekan pasif, tetapi sebagai fasilitator aktif dalam membentuk kebiasaan anak di rumah. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kedisiplinan anak juga dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan di rumah, misalnya membuang sampah, berdoa sendiri, memakai sepatu sendiri, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan temuan (Monalisa et al. yang menemukan bahwa setelah belajar, anak-anak mengalami perkembangan kognitif, mental, sosial, dan emosional melalui penguatan nilai-nilai islam secara sistematis. Berdasarkan hasil wawancara dengan lima orang tua, ditemukan bahwa anak yang terbiasa dengan jadwal belajar, shalat harian, tanggung jawab terhadap mainan, dan komunikasi yang Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X baik di rumah cenderung memiliki perilaku disiplin yang konsisten di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa keharmonisan kebiasaan di rumah dan di sekolah sangatlah penting. (Mubiarto, n. ) menegaskan bahwa Pendidikan agama dan Pendidikan karakter yang dimulai di rumah akan lebih efektif apabila dilanjutkan dengan kebiasaan yang harmonis di sekolah. Sementara itu, (Fitriani & Hayati, 2. menambahkan bahwa keterlibatan aktif orang tua dalam kegiatan belajar anaknya memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan kepribadian anaknya, termasuk dalam hal kedisiplinan. Selain kedisiplinan pribadi, kegiatan TPQ juga memberikan dampak yang cukup besar terhadap perkembangan kedisiplinan sosial anak. Empati pada anak usia dini mencakup aspekaspek seperti kasih sayang, toleransi, dan rasa saling menghormati yang dikembangkan bersamaan dengan lingkungan sosial yang mendukung dan pemodelan perilaku yang positif (Aviani et al. , 2. Anak belajar untuk berbaris, menunggu giliran membaca, menerima teguran dengan tenang, dan tidak mengganggu teman-temannya saat beraktivitas. Hal ini memperkuat keterampilan sosial seperti empati, toleransi, dan kemampuan mengendalikan emosi dalam kelompok. (Abdul Aziz, 2. menyatakan bahwa kegiatan kelompok dalam TPQ menumbuhkan kemampuan anak untuk bersosialisasi secara sehat dan mengendalikan Proses pembiasaan ini juga membantu anak mengembangkan kemampuan beradaptasi dan menghargai orang lain yang merupakan unsur penting dalam kedisiplinan Secara keseluruhan, kegiatan TPQ merupakan salah satu sarana strategis Pendidikan karakter yang berbasis pada pembiasaan. Proses yang dilakukan setiap hari secara menyenangkan, tidak memaksa, dan konsisten ini memungkinkan anak untuk belajar tentang kedisiplinan tidak hanya melalui instruksi lisan tetapi juga melalui pengalaman hidup nyata. Strategi ini terbukti lebih efektif daripada pendekatan hukuman karena anak dapat memaknai kedisiplinan sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari. (Lailatul Ellyn, 2. menegaskan bahwa metode pembiasaan secara alami akan membentuk karakter disiplin anak yang bersifat jangka Panjang. Dalam konteks ini, lingkungan sekolah yang mendukung, guru teladan, dan sinergi dengan orang tua merupakan kombinasi yang sangat menentukan keberhasilan proses penanaman disiplin pada anak sejak dini. Dalam penerapan pembiasaan, sistem penghargaan dan efek edukatif juga dilibatkan. Misalnya, memberikan pujian kepada anak atas ketertiban atau mengulang hafalan sebagai refleksi atas pelanggaran aturan. Strategi ini sejalan dengan pandangan (Sa et al. , 2. bahwa penerapkan penghargaan dan hukuman yang proporsional dapat meningkatkan kedisiplinan siswa dalam TPQ. Dalam konteks pengembangan kepribadian, pendekatan ini juga dinilai lebih konstruktif karena lebih menekankan pada tanggung jawab dan refleksi daripada hukuman yang menakutkan. Hal ini juga ditegaskan dalam penelitian . habibah, binti roisatul, 2. yang menyimpulkan bahwa strategi pembiasaan berbasis sekolah yang menyenangkan jauh lebih efektif daripada hanya mengandalkan sistem hukuman atau instruksi langsung. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pembiasaan kegiatan TPQ yang dilaksanakan secara rutin, sistematis, dan menyenangkan di TK Hj. Isriati Baiturrahman 2 Semarang menunjukkan peran yang kuat dalam membentuk kedisiplinan baik dalam aspek personal maupun sosial anak usia dini. Anak menunjukkan kemampuan untuk hadir tepat waktu, mengikuti Langkah-langkah kegiatan, menunggu giliran, serta bertanggung jawab terhadap tugas dan perlengkapannya. Pembiasaan ini tidak hanya sebagai strategi penguatan karakter, tetapi juga sebagai pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan Keberhasilan pembentukan kedisiplinan ini bergantung pada peran aktif guru yang berperan sebagai role model, pendekatan pedagogi yang digunakan dalam pembelajaran, dan Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini Volume 7 Nomor 2 Juli 2025 e-ISSN: 2655-6561 | p-ISSN: 2655-657X dukungan orang tua yang konsisten di rumah. Proses pembiasaan yang dipadukan dengan role model dan lingkungan yang mendukung akan membentuk pengalaman yang bermakna bagi anak untuk secara alamiah menginternalisasi nilai kedisiplinan. Dengan demikian. TPQ dapat dimanfaatkan sebagai sarana Pendidikan karakter yang komperhensif dan berkelanjutan dalam pendidikan anak usia dini DAFTAR PUSTAKA