JSPM Clarissa Rizky & Nazaruddin. Persepsi Masyrakat Tentang Tolak Hujan Pada Acara Pernikahan Di Binjai. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM), 3. , 131-142. PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG TOLAK HUJAN PADA ACARA PERNIKAHAN DI BINJAI Clarissa Rizky. Nazaruddin. Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh Corresponding Author: clarissarizky3@gmail. ABSTRACT Binjai city is one of the municipalities within the province of North Sumatra. Binjai is located 22 km west of the capital of NorthSumatra Province. Medan. Once Binjai there was the capital of langkat district which has now changed to the city of Stabat. In Binjai City there are several sub-districts and one of them is West Binjai District. This study was conducted in West Binjai Subdistrict which analyzed the public's perception of rain rejection at weddings in Binjai City. This research is a social study that took place in the community of West Binjai Subdistrict. Refusing to rain is the thing that will be done by the people of West Binjai District if they hold a hajatan event such as a wedding, which is meant to refuse the rain is to move the rain so as not to fall in the place of the wedding party. Pawang rain is a person who has expertise in moving rain or holding rain so as not to fall which is trusted by the people of West Binjai District until now. The position of the rain handler in the community is very Public trust is supported by the role of rain handlers in social activities. The theory used in this study is the role theory of Horton and Hunt who say the role is behavior that has a status. Role theory gives two hopes and relates to getting rewarded. When the rain handler managed to perform his role in the community then there was a belief in the community of West Binjai Subdistrict to use the services of rain handlers when holding wedding ceremony to refuse rain. Keywords: Perception. Society. Rain Handler ABSTRAK Kota binjai merupakan salah satu kota madya dalam wilayah provinsi Sumatera Utara. Binjai terletak 22 km di sebelah barat Ibukota Provinsi Sumatera Utara. Medan. Dulunya Binjai ada lah Ibukota kabupaten langkat yang sekarang sudah berganti ke kota Stabat. Di Kota Binjai terdapat beberapa kecamatan dan salah satunya adalah Kecamatan Binjai Barat. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Binjai Barat yang menganalisis tentang persepsi masyarakat terhadap tolak hujan pada acara pernikahan di Kota Binjai. Penelitian ini merupakan suatu kajian sosial yang terjadi di masyarakat Kecamatan Binjai Barat. Menolak hujan merupakan hal yang akan dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Binjai Barat apabila mereka mengadakan acara hajatan seperti pernikahan, yang dimaksud menolak hujan adalah memindahkan hujan agar tidak turun di tempat berlangsungnya pesta pernikahan tersebut. Pawang hujan merupakan seeorang yang memiliki keahlian dalam memindahkan hujan atau menahan hujan agar tidak turun yang dipercaya oleh masyarakat Kecamatan Binjai Barat sampai sekarang ini. Kedudukan pawang hujan dalam masyarakat sangat penting. Kepercayaan masyarakat didukung oleh peranan pawang hujan didalam kegiatan sosial. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori peran dari Horton dan Hunt yang mengatakan peran adalah perilaku yang memiliki suatu status. Teori peran memberikan dua harapan dan saling berhubungan untuk mendapatkan imbalan. Ketika pawang hujan berhasil menjalankan perannya dimasyarakat maka timbullah kepercayaan di masyarakat Kecamatan Binjai Barat untuk menggunakan jasa pawang hujan pada saat mengadakan acara hajatan pernikahan untuk menolak hujan. Kata Kunci: Persepsi. Masyarakat. Pawang Hujan E-ISSN: 2747-1292 PENDAHULUAN Di zaman yang sudah modern ini masih banyak di temukan masyarakat Indonesia yang masih mempercayai adanya mitos-mitos. Mitos adalah sesuatu hal yang dipercayai oleh sebagian orang, menakut-nakuti. Semua mitos yang ada di dunia, merupakan mitos yang telah ada sejak zaman nenek moyang, dikarenakan cerita yang terus bergulir, atau bisa saja sesuatu mitos berubah dikarenakan zaman yang terus berkembang. Mitos-mitos itu dapat mirip satu sama lain, karena adanya yang disebut Carl Jung sebagai kesadaran bersama yang terpendam pada setiap umat manusia yang diwarisinya secara biologis (Rafiek, 2010:. Mitos juga dapat dikatakan sebagai cerita aneh bersifat khayalan. Salah satu mitos yang masih dipercayai masyarakat adalah tolak hujan pada acara Mitos tersebut bersal dari Etnis Jawa yang masih berkembang dikalangan Hujan merupakan Hujan adalah bentuk presipitasi yang merupakan proses pengembunan di atmosfer yang berbentuk cairan yang turun sampai ke bumi. Hujan terbentuk apabila titik-titik air yang terpisah dari awan jatuh ke bumi. Sebelum terjadinya hujan,pasti ada awan karena awan adalah penampung uap air dari permukaan bumi. Air yang ada di permukaan bumi baiklaut,sungai atau danau menguap karena panas dari sinar matahari. Uap air ini akan naik dan menjadi awan. Awan yang mengandung uap air ini akan terkumpul menjadi awan yang Pada suhu tertentu di atmosfer,uap air ini akan mengembun dan turun menjadi hujan. Hujan adalah kumpulan air yang berjatuhan dari langit yang akan membasahi bumi. Hujan akan sangat bermafaat bagi para petani karena merupakan sesuatu yang telah ditunggu-tunggu oleh para petani dalam membantu proses pertanian. Tetapi hujan juga berdampak tidak baik atau bisa dikatakan sebagai musibah bagi orang yang memiliki hajatan seperti perkawinan. Apabila hujan maka akan berpengaruh besar pada acara hajatan yang diadakan karena akan membuat acara tersebut tidak berjalan sesuai dengan keinginan dan harapan si pemilik hajatan karena tidak ada orang yang datang menghadiri acara hajatan tersebut. Hujan juga akan menghambat berlangsungnya acara karena tidak ada tamu yang datang dan orang yang melakukan hajatan juga akan merasa dirugikan. Maka dari itu muncullah pola pikir manusia untuk menolak hujan pada saat mengadakan hajatan ataupun pada saat mengadakan pesta pernikahan, sunatan, masuk rumah baru dan acara Ae acara lainnya. Keinginan orang yang sedng mengadakan hajatan atau pesta pernikahan untuk melakukan tolak hujan supaya tidak ada hambatan pada tamu undangan yang akan datang menghadiri acaranya. Selain itu hujan juga merupakan berkah bagi orang yang mempunyai 131 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2022 keahlian untuk memindahkan hujan atau mencegah hujan turun seperti pawang hujan karena jasa mereka akan digunakan oleh orang yang mepunyai acara hajatan agar hujan tidak turun pada saat mengadakan acara hajatan seperti pernikahan. Perspektif Teori Salah seorang guru besar antropologi Indonesia koenjtaraningrat berpendapat bahwa AukebudayaanAy berasal dari kata sansekerta buddhayah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal, sehingga menurutnya kebudayaan dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi dan akal, ada juga yang berpendapat sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi-daya yang artinya daya dari budi atau kekuatan dari akal. Masih menurut koenjtaraningrat berpendapat bahwa unsur kebudayaan mempunyai tiga wujud, yaitu pertamasebagai suatu ide, gaagsan, nilai-nilai norma-norma peraturan dan sebagainya, kedua sebagai suatu aktifitas kelakuan berpola dari manusia dalam sebuah komunitas masyarakat, ketiga benda-benda hasil karya manusia. Kebudayaan Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1990: . Salah satu unsur kebudayaan adalah sistem religi yang di dalamnya terkandung agama dan kepercayaan. Gagasan konseptual yang hidup dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang secara terusmenerus dalam kesadaran masyarakat yang dapat didekati dari nilai-nilai religious, nilai etis, estetis, intelektual atau bahkan nilai lain seperti ekonomi, teknologi dan lainnya disebut sebagai suatu kearifan lokal ( Munawar dan Said, 2. Kearifan lokal dapat diartikan sebagai kearifan dalam kebudayaan tradisional suku-suku bangsa. Kearifan lokal adalah kebernaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal memiliki kandungan nilai kehidupanyang tinggi dan layak terus digali, dikembangkan, serta dilestarikan sebagai antitesa atau perubahan sosial budaya dan modernisasi. Kearifan lokal produk budaya masa lalu yang runtut secara terusmenerus dijadikan pegangan hidup, meskipun bernilai lokal tapi nilai yang terkandung didalamnya dianggap sangat universal. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Kota Binjai pada Kecamatan Binjai Barat, peneliti tertarik meneliti di Kecamatan Binjai Barat karena pengalaman sehari-hari peneliti yang bertempat tinggal di daerah Selama peneliti tinggal di Kecamatan Binjai Barat, peneliti mengamati masyarakat setempat yang melakukan tolak hujan dengan menggunakan jasa pawang hujan untuk melakukan kegiatan tolak hujan tersebut ketika mereka melaksanakan atau mengadakan acara hajatan seperti pernikahan. Untuk itu peneliti ingin meneliti mengenai persepsi masyarakat 132 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2022 tentang tolak hujan pada acara pernikahan di Kota Binjai pada Kecamatan Binjai Barat yang berhubungan dengan tempat tinggal si peneliti. Dalam penelitian ini penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif dengan maksud untuk mendeskriptif suatu situasi atau objek yang bersifat factual dengan mengkaji permasalahan yang terjadi pada saat sekarang guna memperoleh gambaran menyeluruh tentang persepsi masyarakat tentang tolak hujan pada acara pernikahan di Kota Binjai pada Kecamatan Binjai Barat. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik penelitian lapangan, yaitu penelitian secara langsung ke lokasi dengan maksud untuk mendapatkan data dan fakta yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti. Adapun informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah masyarakat Kecamatan Binjai Barat di Kota Binjai. HASIL DAN PEMBAHASAN Asal Mulanya Mengenal Tolak Hujan Keberadaan pawang hujan di Nusantara merupakan fakta yang hingga kini sulit terelakkan. Kepercayaan kepada kemampuan semacam itu hampir ada di setiap daerah. Pertanyaan besarnya, sejak kapan pawang hujan mulai muncul dan dipercayai oleh masyarakat? tak ada jawaban pasti. Akan tetapi, eksistensi mereka bisa ditelusuri dari tradisi setiap daerah. Dalam cerita rakyat Betawi, eksistensi dari profesi unik yang ada dalam masyarakat Betawi, yakni pawang hujan. Adanya pawang hujan sudah muncul jauh-jauh hari sejak zaman hindu-budha, zaman sebelum islam, dan sampai di zaman seperti sekarang ini. Di masyarakat Betawi, pawang hujan dibutuhkan di berbagai macam acara, seperti resepsi pernikahan, sunatan, dan perayaan hari-hari besar Islam. Dalam praktiknya, pawang hujan tidak menolak ataupun menghentikan hujan. Mereka hanya bisa memindahkan awan mendung dari satu tempat ke tempat lainnya. (Kumparan New. Tolak hujan bermula dari masyarakat Suku Jawa yang artinya menangkal hujan atau memindahkan hujan ke tempat lain agar tidak turun di lokasi kita ketika sedang melangsungkan acara hajatan. Upacara ini dapat ditemui biasanya di lakukan pada saat acara pernikahan dan hajatan lainnya dengan harapan agar seluruh prosesi rangkaian acara dapat berjalan dengan Kegiatan menolak hujan ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki keahlian dalam menangkal hujan atau memindahkan hujan agar tidak turun dilokasi yang diinginkan yang biasa disebut dengan pawang hujan. Pawang hujan itu sendiri tentunya berasal dari Suku Jawa. Masyarakat pada kesatuan manusia tentunya memiliki ikatan-ikatan, seperti: adanya interaksi, adanya ikatan adat-istiadat yang berlangsung terus menerus, adanya rasa identitas diantara 133 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2022 warganya, adanya norma norma yang mengatur seluruh pola perilaku warganya. (Dalam Sosiologi Dan Antropologi, 1987:. Filosofi adalah studi mengenai kebijaksanaan, dasar - dasar pengetahuan, dan proses yang digunakan untuk mengembangkan dan merancang pandangan mengenai suatu kehidupan. Filosofi memberi pandangan dan menyatakan secara tidak langsung mengenai sistem kenyakinan dan kepercayaan. Filosofi masyarakat Jawa mengenai tolak hujan adalah merupakan suatu kebudayaan yang telah melekat dan dilakukan secara turun temurun. Karena kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh warga yang mendukung kebudayaan tersebut. Karena dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat, dan tradisi itu ialah sesuatu yang sulit berubah, karena sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat Persyaratan Ritual Memindahkan Hujan Masyarakat Kelurahan Sukaramai yang menggunakan jasa pawang hujan harus memenuhi beberapa persyaratan ritual. Disini peneliti mewawancarai dua orang pawang hujan dan berikut kutipan wawancara dengan kedua pawang hujan dalam penelitian AyUntuk melakukan ritual ini harus ada syarat-syarat yang biasa dilakukan untuk memindahkan hujan karena sudah menjadi suatu yang harus ada dari dulu. Apabila persyaratan tidak lengkap, ritual tidak dapat dilakukan. Ay (Wawancara dengan bapak Sudarsono pawang hujan pertama peneliti, 19 Agustus 2. Pentingnya persyaratan dalam ritual memindahkan hujan ini karena sudah ada sejak Berikut penjelasan pawang hujan Bapak Sudarsono tentang persyaratan ritual memindahkan hujan. Persyaratannya yaitu: Cabe merah dan bawang Cabe merah dan bawang digunakan dalam proses ritual pawang hujan yaitu cabe dan bawang ini keduanya memiliki sifat pedas dan panas, maka diharapkan hujan akan urung datang dan takut dengan hal tersebut. Sapu lidi Sapu lidi digunakan oleh sang pawang hujan dengan maksud dipercayai sebagai pembersih, maka diharapkan mendung yang ada di langit akan bersih dan awan kembali Garam Garam yang digunakan adalah garam kasar yang ditaburkan di sekeliling halaman. 134 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2022 Prosesi Ritual Tolak Hujan Cara pelaksanaan ritual tolak hujan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu bentuk penyampaian suatu niat dari masyarakat yang ingin memperlancarkan suatu acara agar tidak ada ada kendala saat acara berlangsung. Pawang hujan yang memimpin ritual ini memiliki kemampuan mengalihkan hujan yang sangat baik dimana pawang hujan memiliki prestasi ilmu kepawanganya tersendiri yang mungkin ilmu yang ia miliki belum tentu sama dengan pawang hujan lainnya. Pawang hujan memiliki tugas dan tanggung jawab penuh selama acara dan ritual Pawang hujan bertugas mengawasi segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksaanan dari ritual tolak hujan. Tolak hujan merupakan tata cara untuk menolak hujan atau memindahkan hujan yang dilakukan oleh seorang pawang hujan. Pawang hujan merupakan orang yang dipercaya memiliki keahlian untuk menangkal hujan. Pawang hujan akan melakukan ritual tolak hujan pada acara hajatan seperti, resepsi pernikahan, khitanan, masuk rumah baru dan lain sebagainya. Keahlian pawang hujan dalam menolak hujan didapat secara turun temurun dari leluhur mereka Cara pelaksanaan tolak hujan oleh pawang hujan merupakan suatu bentuk penyampaian niat dari masyarakat yang ingin memperlancar suatu acara agar tidak terkendala saat acara sedang Pawang hujan memiliki tugas dimana ia harus bertanggung jawab penuh dalam proses ritual berlangsung. Pawang hujan juga bertugas mengawasi segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan dari ritual memindahkan hujan. Didalam pelaksanaan pawang hujan ini, pawang hujan memerlukan peralatan atau media yang akan digunakan untuk melakukan ritual tolak hujan, seperti garam, cabai, bawang putih, bawang merah, dan lidi. Berdasarkan observasi dilapangan, bahwa ritual ini dilakukan pada pagi hari sampai keesokan harinya pada hari berlangsungnya acara dan acara selesai. Hal ini dilakukan sebelum hari acara berlangsung dikarenakan dimana pawang hujan akan mengeser awan yang tebal dan gelap ke daerah lain supaya keesokan harinya awan yang sudah diberi mantra atau doa sudah ringan dan tidak berkabut. Untuk melaksanakan ritual tidak ada waktu-waktu tertentu akan tetapi lebih baik dilaksanakan pada pagi hari supaya lebih mudah untuk mengeser awan tebal atau Tempat untuk melaksanakan yaitu dirumah orang yang meminta pawang hujan untuk melakukan ritual tolak hujan. Dimana sang pawang hujan bisa memantau kondisi di lapangan. Ritual yang dilakukan oleh pawang hujan dilakukan disekeliling acara atau kegiatan yang akan dilaksanakan dengan membacakan mantra. Berikut tata cara pelaksanaan ritual memindahkan hujan yang dilakukan oleh Bapak Sudarsono sebagai berikut: 135 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2022 Yang harus dipersiapkan oleh tuan rumah yang memiliki kegiatan sebelum acara berlangsung adalah menyediakan cabe merah, bawang, garam dan sapu lidi. Hal ini harus disiapkan oleh tuan rumah secara lengkap dan tidak boleh ada satupun yang kurang karena keberhasilan proses ritual tersebut tergantung kepada kelengkapan syarat-syarat yang diminta oleh pawang hujan. Pawang hujan menyediakan cabe merah, bawang, garam dan sapu lidi. Selanjutnya cabe merah dan bawang yang telah disiapkan ditusukkan di lidi-lidi yang ada pada sapu lidi. Dan jumlahnya bebas tidak ditetapkan. Setelah itu, sapu lidi diposisikan terbalik, yang mana lidi-lidinya menghadap keatas langit dan diletakkan di suatu halaman rumah atau di setiap penjuru rumah. Dan untuk garam, garam cukup ditaburkan disekeliling halaman tuan rumah. Waktu Pelaksanaan Ritual Berdasarkan hasil observasi dilapangan, bahan pelaksanaan ritual ini dilakukan sebelum acara Dan kalau ritual atau tata cara dari Bapak Sudarsono ini dilakukan sehari sebelum acara dilaksanakan. Dan biasanya dilakukan pada saat pagi hari. Kalau untuk waktu pelaksanaan ritual ini, tidak ada waktu yang tetap. Dan bisa dilakukan sebelum hari acara itu dilakukan. Begitu pula dengan penjelasan dari Bapak Sutrisno yang melakukan pelaks anaan ritual tolak hujan, tidak ada waktu yang tetap dan bisa dilakukan sebelum hari acara dilakukan. Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa pawang hujan yang melaksanakan ritual tidak menetapkan waktu yang khusus, hanya saja dilakukan sehari sebelum acara dilangsungkan. Amalan Ae amalan yang dilaksanakan akan turut menentukan keberhasilan pawang dalam melaksanakan ritualnya. Tempat Pelaksanaan Ritual Tempat untuk melaksanakan ritual yang dilakukan oleh Pak Sudarsono yaitu di rumah masyarakat yang menggunakan jasa pawang hujan untuk melaksanakan ritual. Ini bertujuan agar pawang lebih mudah untuk melaksanakan ritual. AySaya melakukan ritual tolak hujan tepatnya harus tetap datang kerumah orang yang meminta bantuan kepada saya untuk menolak hujan, saya tetap turun ke lokasi agar lebih memudahkan dalam prosesi ritualnya. Selain itu syarat-syarat dari pelaksanaan ritual terseut harus dipenuhi oleh tuan rumah yang melangsungkan acara, maka dari itu tempat untuk melakukan ritual tolak hujan harus dirumah yang sedang mengadakan acara Ay . awancara,19 Agustus 2. Dari kutipan wawancara dengan Pak Sudarsono tersebut, dapat dikatakan bahwa pawang hujan tetap harus turun ke lokasi untuk survei dan mempermudah pelaksanaan ritual. Begitu pula 136 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2022 untuk Bapak Sutrisno Tempat untuk melaksanakan ritual tolak hujan yaitu di rumah masyarakat yang menggunakan jasa pawang hujan untuk melaksanakan ritual tolak hujan. Ausaya akan melakukan ritual tolak hujan tentunya dirumah masyarakat yang menyewa jasa saya untuk melakukan ritual tersebut, karena akan memudahkan selama proses ritual sedang berlangung hingga dengan selesai. Selain itu saya juga akan melakukan ritual tolak hujan ini di ruangan yang bersih dan tenang yang ada di dalam rumah masyarakat yang menggunakan jasa saya tersebut. Ay . awancara,27 Agustus 2. Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa untuk melakukan ritual tolak hujan, pawang hujan akan langsung turun ke lokasi dimana si pawang hujan akan melakukan ritual yaitu dirumah masyarakat yang telah menyewa jasanya untuk menolak hujan. Selain itu tempat yang digunakan untuk melakukan ritual tolak hujan harus tempat yang bersih dan tenang. Pawang hujan harus turun langsung ke lokasi acara agar memudahkan selama prosesi pelaksanaan tolak hujan itu berlangsung. Bayaran Yang Diterima Oleh Pawang Hujan Dalam urusan bayaran kedua pawang yang peneliti wawancarai memiliki jawaban yang sama yaitu dengan menerima bayaran seiklas hati dan tanpa menetapkan tarif dalam sekali berhasil menahan hujan. Dengan beranggapan bahwa itu sebagai bagian dari rejeki dan dengan tujuan ingin membantu masyarakat yang membutuhkan kemampuannya dalam menolak hujan. Meski tidak mematok harga dan imbalan apapun tapi sering kali pawang hujan tersebut menerima bayaran sebagai bentuk ucapan terima kasih. Ausaya dalam melakukan ritual tolak hujan tidak menetapkan tarif, melainkan menerima bayaran seikhlas hati saja. Karena saya biasa menolong orang tidak pernah meminta bayaran, tapi kalau dikasih ya saya terima. Ay( wawancara dengan Bapak Sudarsono,19 Agustus 2. Auketika saya berhasil melakukan ritual tolak hujan pada suatu acara, saya tidak mematokkan harga. Saya akan menerima bayaran seikhlas hati yang akan diberikan oleh tuan rumah yang menyewa jasa saya untuk melakukan ritual tolak hujan. Karena saya hanya membantu sebisanya lewat amalan dan doa. Semua persyaratan juga sudah di tanggung dan dipenuhi oleh tuan rumah. Maka dari itu saya juga tidak mematokkan harga dan menerima bayaran seikhlas hati. Ay( wawancara dengan Bapak Sutrisno,27 Agustus Hasil observasi diatas dapat dipahami dan disimpulkan bahwa dalam menolak hujan tidak dapat dilakukan oleh sembarangan orang melainkan orang yang memilki keahlian khusus yang diperoleh secara turun temurun dari leluhurnya dahulu. Ritual tolak hujan juga memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh pawang hujan guna untuk keberhasilan dari menolak Pawang hujan juga memiliki tanggung jawab selam proses pelaksanaan ritual tolak hujan Dalam melakukan ritual tolak hujan, pawang hujan tidak menetapkan waktu melainkan 137 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2022 ritual akan dilakukan sehari sebelum acara hajatan dilangsungkan. Tempat yang digunakan dalam melakukan proses ritual tolak hujan adalah dirumah tuan rumah yang menyewa jasa pawng hujan untuk menolak hujan. Tempat tersebut harus tenang dan bersih guna mendukung keberhasilan pawang hujan dalam melakukan ritual tolak hujan tersebut. Ketika pawang hujan behasil menola hujan, mereka tidak menetapkan tarif dan tidak meminta bayaran. Karena pawang hujan menerima bayaran seikhlas hati dari tuan rumah yang menyewa jasa mereka. Peran Pawang Hujan Dalam Acara Pernikahan Nikah Pernikahan Pernikahan dianggap oleh sebagian orang sebagai suatu yang sakral, karena diharapkan hanya satu kali dalam seumur hidupnya. Seseorang diwajibkan menikah ketika sudah mampu dan siap untuk melakukan hal itu. Karena dengan pernikahan, selain akan menambah kebahagiaan bagi agama Islam itu adalah suatu untuk melengkapi iman seseorang. Menurut Thalib Pernikahan adalah suatu bentuk perjanjian suci yang sangat kuat dan kokoh untuk hidup bersama yang sah diantara laki-laki dan perempuan, sehingga bisa mengharapkan membentuk keluarga yang kekal, saling santun menyantuni, saling kasih mengkasihi, tentram dan juga (Thalib, 1. Pernikahan dalam masyarakat merupakan hal yang sangat sakral dan harus mengikuti tahapan budaya yang sangat ketat. Pernikahan bukan hanya bersatunya dua individu melainkan dua keluarga besar. Oleh karena itu pernikahan harus menjalankan beberapa proses dan syaratsyarat mulai dari memikirkan proses akan menikah, persiapannya, upacara pada hari perkawinan, hingga setelah upacara selesai digelar. Masyarakat Kelurahan Sukaramai yang mengadakan pesta pernikahan tentu saja meminta jasa pawang hujan dalam proses pernikahan yang akan Keberadaan orang-orang penting didalam pernikahan seperti orang tua dari kedua calon pengantin,serta keluarga besar dan tidak kalah pentingnya sosok pawang hujan. Masyarakat percaya bahwa pawang hujan mampu untuk melancarkan acara mereka nantinya dan tidak terkendala oleh apapun. Jasa pawang hujan sangat penting bagi masyarakat Kelurahan Sukaramai yang akan melangsungkan pernikahan. Persepsi Masyarakat Mengenai Tolak Hujan Menurut Robbins . menyatakan jika persepsi merupakan sebuah proses yang ditempuh masing-masing individu untuk mengorganisasikan serta menafsirkan kesan dari indera yang anda miliki agar memberikan makna kepada lingkungan sekitar. Banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sebuah persepsi, mulai dari pelaku persepsi, objek yang dipersepsikan serta situasi yang ada. Rata rata karakteristik pribadi yang ada dari pelaku persepsi kebanyakan merupakan 138 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2022 sikap, motif, minat, kepentingan, pengharapan, serta pengalaman dari masa lalu yang lebih relevan mempengaruhi sebuah persepsi. Objek tersebut dapat berupa benda, orang, ataupun Sedangkan sifat sebuah objek dapat berpengaruh pada persepsi dari orang yang Situasi adalah konteks dari objek yang mana meliputi hal-hal di lingkungan sekitar serta waktu. Persepsi masyarakat Kelurahan Sukaramai mengenai tolak hujan ini ada yang pro dan ada yang kontra. Meskipun mayoritas masyarakat Kelurahan Sukaramai percaya dan menggunakan tolak hujan ini, tetapi ada beberapa masyarakat lainnya yang tidak menggunakan tolak hujan Mayoritas masyarakat Kelurahan Sukaramai menggunakan tolak hujan ini untuk kepentingan mereka ketika melakukan acara hajatan dengan menggunakan jasa pawang hujan untuk menolak hujan agar acara yang mereka laksanakan berjalan dengan baik dan tidak turun hujan. Disamping itu ada juga masyarakat yang tidak menggunakan tolak hujan dan tetap melaksanakan acara Hasil wawancara dengan Ibu Juliana selaku masyarakat di Kelurahan Sukaramai menjelaskan bahwa: AuMenurut pendapat tolak hujan adalah cara untuk membuat hujan tidak turun di lokasi yang diinginkan. Meskipun begitu saya bukanlah orang yang percaya dengan hal-hal seperti itu, karena hujan adalah anugrah dari allah dan datangnya juga dari allah. Hujan turun disaat kita sedang melaksanakan acara hajatan juga merupakan kehendak allah dan sudah ditetapkan oleh allah, maka dari itu tidak boleh ditolak dengan cara tolak hujan ini walaupun akan merugikan kita karena semuanya telah ditentukan jalannya. Ay . awancara,21 September 2. Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa tidak semua masyarakat yang ada di Kelurahan Sukaramai menggunakan tolak hujan ini. Dikarenakan akan melanggar kehendak dari allah swt apabila melakukan tolak hujan tersebut. Dapat dikatakan sebagian masyarakat di Kelurahan Sukaramai tidak percaya dengan adanya tolak hujan ini. Sebagian masyarakat Kelurahan Sukaramai tidak percaya dengan adanya tolak hujan dikarenakan mustahil bagi mereka hujan yang datangnya dari allah dapat ditolak dan jika pun bisa ditolak tentu saja sudah pasti dengan cara yang aneh-aneh. Hasil wawancara dengan Ibu Nur Iriani selaku masyarakat di Kelurahan Sukaramai menjelaskan bahwa: AuMenurut saya, tolak hujan itu bisa dikatakan sebagai cara untuk menolak hujan yang biasanya digunakan oleh orang-orang yang mempunyai acara hajatan agar hujan tidak turun dilokasi acaranya. Tolak hujan juga sudah ada sejak lama , namun saya tidak termasuk orang yang menggunakan tolak hujan ini. Saya tidak menggunakan tolak hujan karena menurut saya tidak logis jika masih mempercayai hal-hal seperti ini di zaman yang sudah modern seperti sekarang ini. Selain itu tolak hujan ini tidak akan selamanya 139 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2022 berhasil dilakukan karena pasti ada gagalnya juga. Maka dari itu saya tidak menggunakan tolak hujan ini jika ingin mengadakan acara. Ay. awancara,21 Agustus 2. Dari pernyataan diatas dapat dipahami tidak semua masyarakat di Kelurahan Sukaramai menggunakan tolak hujan dan bergantung kepada tolak hujan ini ketika hendak melaksanakan acara hajatan seperti pernikahan. Walaupun mayoritas masyarakat di Kelurahan Sukaramai menggunakan tolak hujan, namun ada sebagian masyarakat yang tidak menggunakan tolak hujan dan memilih untuk menerima turunnya hujan ketika mereka sedang melaksanakan acara hajatan. Sebagian masyarakat di Kelurahan Sukaramai ini berpendapat bahwa hujan adalah rahmat dari allah yang tidak dapat di tolak datangnya. Dan mereka juga berpendapat jika tidak logis untuk percaya dengan tolak hujan di zaman yang sudah modern seperti sekarang ini. Kontruksi Sosial Tolak Hujan Kontruksi sosial dari praktek kebiasaan mengunakan tolak hujan untuk sebuah acara di Kelurahan Sukaramai dasarnya terbentuk dalam proses yang panjang dan berkesinambungan. Tolak hujan yang terjadi, mulanya memang dimulai dari masyarakat jaman dulu di Kelurahan Sukaramai. Menurut Berger, realitas sosial dalam kehidupan masyarakat pada dasarnya tidak dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran induvidu baik di dalam maupun di luar realitas tersebut. Realitas sosial dalam kehidupaan masyarakat pada dasarnya tidak dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran individu baik di dalam maupun di luar realitas tersebut. Realitas sosial memiliki makna ketika realitas sosial dikonstruksi dan dimaknakan secara subjektif oleh individu lain sehingga mamantapkan realitas tersebut secara objektif. Sehingga menurut Berger kenyataan sosial merupakan suatu konstruksi sosial buatan masyarakat dalam perjalanan sejarahnya dari masa silam, ke masa kini, dan menuju masa depan. Realitas sosial yang terdapat dalam kehidupan masyarakat dipandang memiliki kenyataan ganda, tidak hanya kenyataan tunggal. Hal ini karena induvidu pada dasarnya memiliki pengalaman dan pemahaman atas realitasnya masing-masing. Bagi Berger, masyarakat dilihat sebagai relaitas obyektif yang memiliki sifat memaksa kepada induvidu yang merupakan bagian fakta sosial merupakan pengalaman sebagai sebuah paksaan eksternal bukan karena dorongan internal. Dalam kehidupan, manusia terus menerus melakukan kegiatan timbal balik antara sesama manusia, prose ini akan berlangsung dalam dialektika eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Manusia akan berhadapan dengan realitas subyektif dan relaitas objektif. Ketika realitas objektif terus menerus terulang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, maka akan muncul subyektivitas yang kemudian dilihat dari sebgaian kenyataan subyektif. Manusia 140 | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Malikussaleh (JSPM) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2022 merupakan instruman dalam menciptakan realitas sosial yang objektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana ia mempengaruhi melalui proses internalisasi. Hasil observasi peneliti menemukan bahwa di Kelurahan Sukaramai masih banyak masyarakat yang menggunakan jasa pawang hujan untuk melakukan ritual menolak hujan. Disamping itu terdapat juga beberapa masyarakat yang tidak menggunakan tolak hujan tersebut. Masyarakat yang tidak menggunakan jasa pawang hujan untuk menolak hujan dikarenakan tidak percaya akan hal seperti itu di zaman yang sudah modern seperti sekarang ini dan mereka menganggap ritual tolak hujan tidak akan selamanya berhasil dilakukan. KESIMPULAN Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan di atas maka yang menjadi kesimpulan dalam penelitian ini adalah : Pada umumnya masyarakat Kelurahan Sukaramai masih kental mempercayai adanya tolak hujan dan masih menggunakan tolak hujan tersebut disetiap mereka akan mengadakan acara hajatan sampai sekarang ini. Masyarakat Kelurahan Sukaramai mempunyai pengharapan pada pawang hujan bahwasannya pawang hujan dapat mengendalikan cuaca dan dapat menjadi perantara kesuksesan acara dengan menolak hujan. Keberhasilan pawang hujan dalam menolak hujan menimbulkan kepercayaan pada masyarakat di Kelurahan Sukaramai sehingga menyebabkan masyarakat selalu menggunakan jasa pawang hujan untuk menolak Dalam hal menolak hujan juga harus melakukan ritual yang hanya bisa dilakukan oleh pawang hujan yang memiliki keahlian khusus yang diperoleh secara turun temurun. Sebagian masyarakat di Kelurahan Sukaramai tidak menggunakan tolak hujan karena menganggap hujan adalah rahmat yang tidak boleh ditolak dan sebagian masyarakat lainnya juga mengatakan bahwa tidak logis untuk percaya pada tolak hujan di zaman yang sudah modern seperti sekarang ini. Karena pada dasarnya tidak selamanya tolak hujan berhasil dilakukan dan akan mengalami kegagalan. Jika berhasil pasti dengan cara yang aneh. DAFTAR PUSTAKA