KONSEP MUSIBAH DALAM PANDANGAN ISLAM SEBUAH STUDI KEPUSTAKAAN TERHADAP AL-QURAoAN DAN HADIS Imam Bajuri. Alfiando Prima Putra . Universitas Muhammadiyah OKU Timur. Indonesia Universitas Muhammadiyah OKU Timur. Indonesia 1Email: imambajuri00@gmail. 2 Email: primaalfiando@gmail. Abstract This research is to examineThe concept of disaster from an Islamic perspective is an inevitable reality of life, encompassing various forms such as fear, hunger, and loss of property and life. Theologically, the Islamic view asserts that every disaster that occurs on earth or befalls humans was written in the Lauhul Mahfuz long before the creation of the universe. This research uses a literature study method through a systematic review of various relevant literature, including the Qur'an. Hadith, and other scientific works, to obtain a strong theoretical foundation regarding this issue. The results of the analysis show that the disaster has complex dimensions, namely asThe consequences of human sin and the consequences of human choices or internal mistakes. Furthermore, disasters serve as a means of testing the quality of one's faith and distinguishing between those who truly believe and those who are negligent. Furthermore, disasters serve as a warning and guidance so that humans realize their mistakes, abandon sin, and return to the right path according to Allah's guidance. For believers, responding to disaster withAn attitude of patience, gratitude and goodwill . towards Allah is the main key to achieving glory. Every suffering or sadness experienced is seen as an expiation of sins . and a way to obtain mercy and peace of By understanding the concept of disaster comprehensively, humans are expected to be able to face every dynamic of life with steadfast faith and continuous self-evaluation in accordance with the guidance of the Shari'a. Keywords:Calamity. Islam. Lauhul Mahfuz. Test. Patience. Abstrak Penelitian ini mengkaji konsep musibah dalam perspektif Islam sebagai realitas kehidupan yang tidak terelakkan, mencakup berbagai bentuk seperti ketakutan, kelaparan, serta kehilangan harta dan jiwa. Secara teologis, pandangan Islam menegaskan bahwa setiap bencana yang terjadi di bumi maupun yang menimpa diri manusia telah tertulis dalam Lauhulmahfuz jauh sebelum penciptaan alam semesta. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan melalui penelaahan sistematis terhadap berbagai literatur relevan, termasuk Al-Qur'an. Hadis, dan karya ilmiah lainnya, guna memperoleh landasan teoretis yang kuat mengenai permasalahan Hasil analisis menunjukkan bahwa musibah memiliki dimensi yang kompleks, yakni sebagai akibat dari perbuatan dosa manusia serta konsekuensi dari pilihan atau kesalahan internal manusia itu sendiri. Selain itu, musibah berfungsi sebagai sarana ujian untuk menguji kualitas keimanan seseorang dan membedakan antara orang yang benar-benar beriman dengan mereka yang lalai. Lebih jauh lagi, musibah berperan sebagai alat peringatan dan hidayah agar manusia menyadari kesalahannya, meninggalkan kemaksiatan, dan kembali ke jalan yang benar sesuai petunjuk Allah. Bagi orang mukmin, menyikapi musibah dengan sikap sabar, syukur, dan prasangka baik . kepada Allah adalah kunci utama untuk meraih kemuliaan. Setiap penderitaan atau kesedihan yang dialami dipandang sebagai penghapus dosa . dan jalan untuk mendapatkan rahmat serta ketenangan hati. Dengan memahami konsep musibah secara komprehensif, manusia diharapkan dapat menghadapi setiap dinamika kehidupan dengan keteguhan iman dan evaluasi diri yang berkelanjutan sesuai tuntunan syariat Kata Kunci: Musibah. Islam. Lauhulmahfuz. Ujian. Sabar. PENDAHULUAN Dalam kehidupan manusia, musibah merupakan realitas yang tidak dapat dihindari, mencakup berbagai bentuk seperti ketakutan, kelaparan, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Pandangan Islam menegaskan bahwa tidak ada satu pun bencana yang terjadi di bumi atau menimpa diri manusia melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhulmahfu. sebelum diwujudkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hal ini menunjukkan bahwa segala peristiwa berada dalam kendali dan izin Allah, di mana setiap ketetapan tersebut sangat mudah bagi-Nya untuk dilaksanakan. Secara prinsipil, musibah dalam Al-Qur'an dipahami melalui beberapa dimensi. Pertama, musibah sering kali merupakan akibat dari perbuatan tangan manusia itu sendiri. Fenomena kerusakan yang tampak di darat dan di laut secara eksplisit disebutkan sebagai dampak dari perilaku manusia, yang bertujuan agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan tersebut dan kembali ke jalan yang benar. Meskipun demikian. Allah tetap Maha Pemaaf atas banyak kesalahan yang dilakukan hamba-Nya. Kedua, musibah berfungsi sebagai sarana ujian untuk mengetahui kualitas keimanan seseorang. Melalui ujian tersebut. Allah membedakan antara orang-orang yang benar-benar beriman dengan mereka yang enggan berjuang atau bersifat Bagi orang-orang mukmin, musibah dihadapi dengan kesabaran dan pengakuan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah serta akan kembali kepada-Nya. Sebagai imbalannya, mereka yang bersabar akan memperoleh ampunan, rahmat, dan petunjuk dari Tuhannya. Selain sebagai ujian, musibah juga menjadi alat peringatan bagi manusia agar tidak terusmenerus dalam kelalaian. Tanpa adanya musibah atau azab sebagai konsekuensi perbuatan, manusia mungkin tidak akan menyadari pentingnya mengikuti petunjuk rasul dan ayat-ayat Allah. Oleh karena itu, bagi orang yang beriman, musibah tidak dipandang sebagai kehancuran semata, melainkan sebagai jalan untuk mendapatkan hidayah atau petunjuk bagi hatinya. TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 Memahami konsep musibah secara komprehensif sangat penting agar manusia dapat menyikapi setiap dinamika kehidupan dengan keteguhan iman dan sikap yang benar sesuai tuntunan AlQur'an. METODE PENELITIAN Studi kepustakaan merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan melalui penelaahan secara sistematis terhadap berbagai sumber pustaka yang relevan dengan fokus penelitian, seperti buku teks, jurnal ilmiah, artikel, laporan penelitian, dokumen resmi, serta karya ilmiah lainnya. Metode ini bertujuan untuk memperoleh landasan teoritis, konsep, dan temuan empiris dari penelitian terdahulu yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, sehingga dapat memperkuat kerangka berpikir dan analisis penelitian. Studi Kepustakaan (Library Researc. Studi kepustakaan merupakan suatu studi yang digunakan dalam mengeumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material yang ada di perpustakaan seperti dokumen, buku, majalah, kisah-kisah sejarah, dsb (Mardalis:1. Studi kepustakaan juga berfungsi sebagai sarana untuk mengidentifikasi kesenjangan penelitian . esearch ga. serta menghindari terjadinya duplikasi penelitian yang telah dilakukan Studi kepustakaan merupakan kegiatan penelaahan terhadap berbagai literatur yang berkaitan dengan masalah penelitian guna memperoleh data dan informasi yang bersifat teoritis (Nazir, 2. Menurut Sugiyono . , studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mempelajari buku-buku, jurnal ilmiah, dan dokumen lain yang relevan untuk memperkuat dasar teori dalam penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Musibah sudah tertulis didalam Lauhul Mahfuz AllahA Amenceritakan tentang takdir yang telah ditetapkan-Nya atas makhluk-Nya sebelum Dia menciptakan semuany Allah A Aberfirman AcEEa Oa aOeA s A aO aeE Aa eeO a eIAa a aE eI aeE Aa eO aE A AEaO NA a AA eOa s AaO ea eA a aA aI eI Ca e aE a eI I aeaNa aI EaEA a A Ia eI acIA a a a aI e A Tidak ada bencana . pa pu. yang menimpa di bumi dan tidak . uga yang menimp. dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauhulmahfu. sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah. Al-add . {|Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan . idak pul. pada dirimu sendiri. |} (AlHadid, . ) Maksudnya, di jagat raya ini dan juga pada diri kalian {A aI eI Ca e aE a eI I aeaNaA s A} aeE Aa eO aE A {. elainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfu. sebelum Kami menciptakannya. |} (AlHadid, . ) Yakni sebelum Kami ciptakan manusia dan makhluk lainnya. Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa damir yang terdapat pada lafaz NABRA-AHA merujuk kepada nufus . akni anfusiku. Menurut pendapat yang lain, kembali kepada musibah. Tetapi pendapat yang terbaik ialah yang mengatakan kembali kepada makhluk dan manusia, karena konteks pembicaraan berkaitan Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Jarir, telah menceritakan kepadaku Yaqub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, dari Mansur ibnu Abdur Rahman yang mengatakan. Ketika aku sedang duduk bersama Al-Hasan, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang menanyakan kepadanya tentang makna firman-Nya: {Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan . idak pul. pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfu. sebelum Kami menciptakannya. |} (Al-Hadid, . ) Maka kusampaikan kepadanya pertanyaan lelaki itu, lalu Al-Hasan menjawab. Subhanallah, siapakah yang meragukan hal ini semua musibah yang terjadi di antara langit dan bumi, maka telah berada di dalam kitab Allah (Lauh Mahfu. sebelum Dia menciptakan manusia. Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud dengan musibah di sini ialah musim paceklik atau kekeringan. {A{ } aO aeE aA eeO a eIAa a aE eIAdan . idak pul. pada dirimu sendiri. |} (Al-Hadid, . ) Yakni berupa rasa sakit dan penyakit. Qatad ah mengatakan bahwa telah diceritakan kepada kami bahwa Autiada seorang pun yang terkena luka karena batang dan tidak pula musibah yang menimpa telapak kaki . ertusuk dur. dan tidak pula terkilirnya urat, melainkan karena perbuatan dosa . ang bersangkuta. , dan apa yang dimaafkan oleh Allah darinya adalah lebih banyakAy. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Haiwah dan Ibnu Lahiah. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Hani Al-Khaulani, bahwa ia pernah mendengar Abu Abdur Rahman Al-Habli mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr ibnul As mengatakan bahwa ia pernah mendengar RasulullahA Abersabda: {AIa sA a AcEEa eE aICaO ae Ca e aE a eI Oa eEaCa EI OA A}Ca a NA a a a A aOeEa eA a A a a eI aOeIa a eEA {Allah telah menetapkan ukuran-ukuran . emua makhluk-Ny. sebelum menciptakan langit dan bumi dalam jarak lima puluh ribu tahun. }( Hr. Tirmidzin No 2. Kemudian Firman AllahAcEEa Oa aOe{ A AEaO NA a aA|{ } aI EaEASesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. |} (Al-Hadid, . ) Artinya, pengetahuan AllahA Amengenai segala sesuatu sebelum kejadiannya dan pencatatan semuanya itu oleh-Nya sesuai dengan kejadiannya di alam kenyataan adalah mudah sekali bagi Allah. Karena sesungguhnya Dia mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi serta apa yang tidak akan terjadi, dan bagaimana akibatnya bila hal itu terjadi. konsep takdir ilahi berdasarkan Surah Al-Hadid ayat 22, yang menegaskan bahwa setiap peristiwa di bumi maupun dalam diri manusia telah tercatat sebelum penciptaannya. Penjelasan tersebut menekankan bahwa segala bentuk musibah, mulai dari bencana alam hingga rasa sakit fisik, merupakan bagian dari ketetapanAllah A Adi Lauh Mahfuz. ukuran segala sesuatu yang TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 terjadi telah ditentukan oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Para ulama menafsirkan bahwa pencatatan ini mencerminkan kemahatahuan Allah terhadap segala hal yang sudah, sedang, maupun akan terjadi. ketetapan Allah adalah mutlak dan sangat mudah bagi-Nya untuk diwujudkan. Dengan demikian ini berfungsi sebagai pengingat akan kekuasaan Tuhan atas seluruh perjalanan hidup makhluk-Nya. Musibah adalah kehendak Allah Musibah merupakan kehendak dan izin dari Allah AA. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: A aEOeIA a AcEEa a aE aEA AcEEa Oa eN a Ca eEaN aO NA AcEEa aO aI eI Oace Ia e eI a NA AA eOa s aeE a ae aI NA a sA eOA a A Ia eI acIA a a a a AaI e A Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa . , kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. At-TagAbun . AllahA Amenceritakan kembali apa yang telah Dia ceritakan di dalam surat Al-Hadid, yaitu firman-Nya {AcEE aO aOeA s A aO aeE aA eeO a eIAa a aE eI aeE aA eO aE A a AA eO a s AaO eEa eA a AEaO NA a aA aI eI Ca e aE a eI I aeaNa aI EaEA a A Ia eI acIA a a a a A} aI e A {|Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan . idak pul. pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfu. sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. |} (Al-Hadid, . )7 Demikian pula hal yang sama disebutkan dalam surat ini melalui firman-Nya { AA eOa s aeEA a A Ia eI acIA a a a a AaI e A AcEEA a A|{ }a a aI NATidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. (At-Taghabun, . ) Ibnu Abbas Aumengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah dengan perintah Allah, yakni dengan kekuasaan dan kehendak-NyaAy. 6 {A aEOeIA a AcEEa a aE aEA AcEEa Oa eN a Ca eEaN aO NA A|{ } aO aI eI Oace Ia eI a NADan barang a sA eOA siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. |} (At-Taghabun, . ) { AcEEa aO eN a Ca eEaNA A|{ } aO aI eI Oace Ia eI a NADan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. (At-Taghabun, . ) Yakni mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah dan mengatakan { aA|{ }aI a NcEEa aOaI e aEa eO aN aa eOIASesungguhnya kami adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nyalah kami |} (Al-Baqarah, . ) Di dalam hadis yang telah disepakati disebutkan sebagai berikut: A aU aE a eI a eE aIe Ia aI A A aA a A aA a aeNA a aeNA a aA aOua eI AUaAE aa Aa aEIa aO Ue EaNA a a A ua eI AUAe aEaEa aE a a s uaeE E eaE aIe Ia aIA a AuI a eI aNa aEENa EaNa aOe aOEaOA a a a Aa aEIa aOeU EaNA AuSungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Ay (Hadits Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu Aoanh. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Yazid, dari Ali ibnu Rabbah. pernah mendengar Junadah ibnu Abu Umayyah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ubadah ibnus Samit mengatakan, sesungguhnya pernah ada seorang lelaki datang kepada RasulullahAAyA, lalu bertanya. Amal apakah yang paling utama? RasulullahA Amenjawab Iman kepada Allah, membenarkan-Nya dan berjihad di jalan-Nya. Lelaki itu bertanya lagi. Aku bermaksud hal yang lebih ringan daripada semuanya itu, wahai Rasulullah. RasulullahAA menjawab: Janganlah kamu berburuk prasangka kepada Allah terhadap sesuatu yang telah ditetapkan-Nya atas dirimu. setiap musibah dan peristiwa yang dialami manusia terjadi sepenuhnya atas izin, kehendak, serta ketetapan Allah yang telah tertulis. Bagi orang yang beriman, keyakinan ini membawa petunjuk dan ketenangan hati karena mereka menyadari bahwa segala sesuatu akan kembali kepada Sang Pencipta. pentingnya sikap sabar saat menghadapi kesulitan dan senantiasa bersyukur ketika menerima kebahagiaan sebagai tanda kemuliaan seorang mukmin. Selain itu, umat Islam diingatkan untuk selalu menjaga prasangka baik kepada Allah terhadap segala takdir yang telah digariskan-Nya. Melalui pemahaman ini, penderitaan tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai jalan untuk meraih kebaikan dan rida Ilahi. Musibah terjadi karna perbuatan Manusia Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: e A aA A eI aEaO seA a A a eO a eO aE eI aO aO eAa eOA a a aE eI aI eI acIA a AA eOa s a aI aEA a a AaO aI e A Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Alla. memaafkan banyak . Asy-SyrA . :30 e a Tafsir Ibn Kathir Firman AllahAA: {A a eO a eO aE eIA a a aE eI aI eI acIA a AA eOa s a aI aEA a aA{ } aO aI e ADan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. } (Asy-Syura, . Yakni betapapun kamu, hai manusia tertimpa musibah, sesungguhnya itu hanyalah karena ulah keburukan kalian sendiri yang terdahulu. {A eI aEaO seA a A}OOa eAa eOA a {|Dan Allah memaafkan sebagian besar . ari kesalahan-kesalahanm. } (Asy-Syura, . ) Maksudnya, keburukan-keburukanmu. Maka Dia tidak membalaskannya terhadap kalian, bahkan Dia memaafkannya. Sebagaimana a A EOA yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya: { A eN aNa Ia eIA AaOEa eO O a a NA a aA eaO aI aaEA a A a aI aEA a AcEEa EIA A|{ }a sADan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun. |} (Fathir, . )7 TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan seperti berikut: a A eINa a aN Ia eI aA AOaNa aNO E A A eO aE a Oaa aE aNA s a s a A aO aeE N saI aO aeE aa sI aeE aEA a NA a aAcEEA a AaO Ia eA a eO aOa naN aI OA a A aO aeE aOA a aOea eE aIe Ia Ia Ia eI IA e AaOEA {Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, tiada sesuatu pun yang menimpa seorang mukmin berupa kelelahan, kepayahan, kesusahan, dan tidak . kesedihan melainkan Allah menghapuskan darinya berkat musibahnya itu sebagian dari kesalahan-kesalahan . nya, sehingga yang berupa duri yang menusuk . Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami YaAqub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, telah menceritakan kepada kami Ayyub yang mengatakan bahwa ia membaca di dalam kitab Abu Qilabah yang menyebutkan bahwa ayat berikut, yaitu firman AllahAA: {|Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat . Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat . nya pula. |} (Az-Zalzalah, . ) Diturunkan saat Abu Bakar sedang makan, lalu ia menghentikan makannya dan bertanya. Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku selalu mengetahui apa yang aku kerjakan berupa kebaikan atau keburukan. RasulullahAA menjawab Tidakkah engkau melihat apa yang engkau lihat berupa perkara yang tidak kamu sukai . enimpa dirim. itu merupakan beban dari sezarrah keburukan, kemudian dimasukkan ke dalam timbangan kebaikan, hingga engkau mendapatkannya di hari kiamat nanti. Lalu disebutkan Abu Idris pernah mengatakan, bahwa ia melihat hal yang semakna yang menguatkannya di dalam Kitabullah, yaitu melalui firman-Nya: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar . ari kesalahan-kesalahanm. (Asy-Syura, . ) Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui jalur lain, dari Abu Qilabah, dari sahabat AnasA Ia mengatakan bahwa hadis yang pertama adalah yang paling sahih. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Isa ibnut TabbaA, telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu MuAawiyah Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Al-Azhar ibnu Rasyid Al-Kahili, dari Al-Khadir ibnul Qawwas Al-Bajali, dari Abu Sakhilah, dari AliA yang mengatakan. Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang suatu ayat dalam Kitabullah yang paling afdal yang telah diceritakan kepada kami oleh RasulullahAA, yaitu firman-Nya: {|Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar . ari kesalahan-kesalahanm. |} (Asy-Syura, . ) Lalu RasulullahAA bersabda. AHai Ali, aku akan menafsirkannya kepadamu: Apa saja yang menimpa kamu berupa sakit atau siksaan atau musibah di dunia, maka dikarenakan ulah tanganmu sendiri, dan AllahAA Maha Penyantun dari menduakalikan siksaan-Nya di akhirat nanti. Dan apa yang dimaafkan oleh Allah di dunia, maka AllahA AMahamulia dari mengulanginya sesudah memaafkannya. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Marwan ibnu MuAawiyah dan Abdah, dari Sakhilah yang menceritakan bahwa AliA pernah mengatakan, lalu disebutkan hal yang semisal secara marfuA. Kemudian Ibnu Abu Hatim meriwayatkan hal yang semisal dari jalur lain secara mauquf. Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Abu Muzahim, telah menceritakan kepada kami Abu SaAid ibnu Abul Waddah, dari Abul Hasan, dari Abu Juhaifah yang menceritakan bahwa ia masuk menemui sahabat Ali ibnu Abu TalibA, lalu AliA berkata. Maukah aku ketengahkan kepada kamu sekalian suatu hadis yang dianjurkan bagi orang mukmin untuk menghafalnya? Kemudian mereka memintanya untuk mengetengahkannya, maka Ali membaca firman AllahAA: {|Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar . ari kesalahan-kesalahanm. |} (Asy-Syura, . ) Lalu AliA berkata, bahwa apa saja yang telah dijatuhkan oleh Allah sebagai hukuman di dunia, maka Allah Maha Penyantun dari menduakalikan hukuman-Nya kelak di hari kiamat. Dan apa saja yang telah dimaafkan oleh Allah di dunia, maka Allah Mahamulia dari mengulangi pemaafan-Nya di hari kiamat nanti. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami YaAla ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Talhah . akni Ibnu Yahy. , dari Abu Burdah, dari MuAawiyah ibnu Abu SufyanA yang mengatakan bahwa aku pernah mendengar RasulullahA Abersabda: }A aO a naNA a A{ aI Ia eIA A naN Oae a eO aN aeE aEA a NA a aAcEEA a A eOs OA a A eINa a nN Ia eIA a aOea eE aIe Ia Ia Aa eO aA {Tiada sesuatu pun yang menimpa diri seorang mukmin pada jasadnya yang membuatnya kesakitan, melainkan Allah menghapuskan karenanya sebagian dari keburukan-keburukannya. Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Hasan, dari Zaidah, dari Laits, dari Mujahid, dari AisyahAu yang mengatakan bahwa RasulullahA Apernah bersabda: e A. a aE a aA }AcEEa E aa aI aEOaEaA aaNaA A aIa eOa eEa e a aOEa eI Oa aE eI aEN aI OaEaA aaNa e aENa NA {|AApabila dosa seorang hamba banyak, sedangkan dia tidak memiliki sesuatu sebagai penghapusnya . , maka Allah mengujinya dengan kesedihan untuk menghapuskan dosa-dosanya itu. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abdullah Al-Audi, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Ismail ibnu Muslim, dari Al-Hasan Al Basri yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: {|Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar . ari kesalahan-kesalahanm. |} (Asy-Syura, . ) Bahwa ketika ayat ini diturunkan. RasulullahA Abersabda: e A aI a I s aOa naN aI Ia eI a ae eaO s aO aeEA }A eINa a eEa aA s Ae aa Caa sI aeE aa eIA A aO aI Oa eAaO NA a aAcEEA a AC aO aeEA a AO Ia eAA e A{ aOE aA s A eaA a aEA TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 {Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggama. -Nya, tiada suatu lecet pun karena kayu dan tiada pula terkilirnya urat dan tiada pula tersandungnya telapak kaki melainkan karena perbuatan dosa, dan apa yang dimaafkan oleh Allah dari . nya adalah lebih banyak. Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Hasyim, dari mansur, dari AlHasan, dari Imran ibnu HusainA yang mengatakan bahwa salah seorang muridnya menemuinya, sedangkan Imran ibnu Husain saat itu sedang terkena cobaan penyakit pada tubuhnya. Lalu sebagian dari murid-muridnya mengatakan kepadanya. Sesungguhnya kami merasa sedih dengan apa yang kami lihat menimpa dirimu. Maka Imran ibnu Husain menjawab. Janganlah kamu bersedih hati melihat diriku seperti ini, karena sesungguhnya apa yang kamu lihat ini karena suatu dosa, sedangkan apa yang dimaafkan oleh Allah jauh lebih banyak . aripada dosa it. Kemudian Imran ibnu HusainA membaca firman-Nya: {|Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. } (Asy-Syura, . ) Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdul Hamid Al-Hamami, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Abul Bilad yang mengatakan bahwa ia pernah membacakan firman berikut kepada Al-Ala ibnu Badr, yaitu: {|Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. |} (Asy-Syura, . ) Dan ia mengatakan bahwa matanya telah buta sejak ia masih kanak-kanak. Maka Al-Ala ibnu Badr menjawab. Itu karena dosa-dosa kedua orang Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami WakiA, dari Abdul Aziz ibnu Abu Daud, dari Ad-Dahhak yang mengatakan bahwa tiadalah yang kami ketahui bila ada seseorang telah hafal Al-QurAan, kemudian ia lupa melainkan karena suatu dosa yang dilakukannya. Kemudian ia membaca firman AllahAA: {|Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar . ari kesalahanm. |} (Asy-Syura, . ) Kemudian Ad-Dahhak mengatakan bahwa maka adakah musibah yang lebih besar lagi daripada melupakan Al-QurAan? Musibah itu terjadi karna pilihan sendiri Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: A eOs Ca aOeA a A EO aE aEA AA e a eI aIeEa eO aN o Ca eE a eI aINO Na Ca eE N aaO Ia eI a eI a a eIAa a aE eI aI NA a aAcEEA a ae aE eI acIA a a AA eOa Cae A a a A a aOEa I e A Apakah ketika kamu ditimpa musibah . ekalahan pada Perang Uhu. , padahal kamu telah memperoleh . dua kali lipatnya . ada Perang Bada. , kamu berkata. AuDari mana datangnya . ini?Ay Katakanlah. AuItu dari . dirimu sendiri. Ay Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ali AoImrAn . :165 AA aI aI Ea O aN Ca E a I aI O aNa Ca E N aaO Ia I aI a aIAa a aE I ua I A AEa O aE aE aO CaaOA a aAcEEA a a aEI acIA a a AAOa Ca A a aA a aOEa I e A Dan mengapa kamu . ketika ditimpa musibah . ekalahan pada Perang Uhu. , padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat . epada musuh-musuhmu pada Perang Bada. Kamu berkata. AuDari mana datangnya . ini?Ay Katakanlah. AuItu dari . dirimu Ay Sungguh. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Indonesian - Tafsir Ibn Kathir Firman AllahAA: {AA eOaA a ae aE eI acIA a a A{ }a aOEa I e ADan mengapa ketika kalian ditimpa musibah. |} (Ali Imran, . ) Yakni apa yang menimpa sebagian dari kalangan mereka dalam peperangan Uhud, yakni tujuh puluh orang dari kalangan mereka gugur. { AA e a eIA a a ACae A A}IeEa eO aNA a {. adahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian. (Ali Imran, . ) Yaitu dalam Perang Badar, karena sesungguhnya pasukan kaum muslim sempat membunuh tujuh puluh orang dari kalangan musuh-musuh mereka dan menawan tujuh puluh orang dari kalangan musuh-musuh mereka. {A{ }Ca eE a eI aINO NaAkalian berkata. ADari mana datangnya . ini?} (Ali Imran, . ) Yakni mengapa hal ini dapat terjadi pada diri {A{ }Ca eE N aaO Ia eI a eI a a eIAa a aE eIAKatakanlah. AItu dari . kalian sendiri. } (Ali Imran, . ) Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Qurad ibnu Nuh, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Sammak Al-Hanafi Abu Zamil, telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas, telah menceritakan kepadaku Umar ibnul Khattab yang menceritakan bahwa ketika peperangan Uhud terjadi, yaitu setahun setelah Perang Badar, maka kaum muslim memperoleh hukuman disebabkan kesalahan mereka berani menerima tebusan dari tawanan Perang Badar kaum musyrik. Akhirnya dalam Perang Uhud, tujuh puluh orang dari pasukan kaum muslim gugur, dan sahabat-sahabat RasulullahA Alari meninggalkan beliau hingga gigi seri beliau rontok dan topi besi pelindung kepalanya pecah serta darah mengalir pada wajahnya karena terluka. Lalu AllahA Amenurunkan firman-Nya: {|Dan mengapa ketika kalian ditimpa musibah . ada peperangan Uhu. , padahal kalian telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuh kalian . ada peperangan Bada. kalian berkata. Dari manakah datangnya . ini? Katakanlah. Itu dari . diri kalian sendiri. } (Ali Imran, . ) Yakni karena kalian lebih suka menerima tebusan dari tawanan Perang Badar. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari ibnu Abdur Rahman ibnu Gazwan . aitu Qurad ibnu Nu. berikut sanadnya, tetapi lebih panjang daripada hadis di atas. Hal yang sama dikatakan pula oleh Al-Hasan Al-Basri. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ulayyah, dari Ibnu Aun. Sunaid . akni Husai. mengatakan, dan telah menceritakan kepadaku Hajjaj, dari Juraij, dari Muhammad, dari Ubaidah, dari AliA yang menceritakan bahwa TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 Malaikat Jibril datang kepada NabiAA, lalu berkata: Hai Muhammad, sesungguhnya Allah benarbenar tidak menyukai apa yang dilakukan oleh kaummu dalam mengambil . tawanantawanan Perang (Bada. , padahal Allah telah memerintahkan kepadamu agar memberitahukan kepada mereka untuk memilih salah satu di antara dua perkara. Yaitu adakalanya para tawanan itu dihukum mati dengan dipenggal lehernya. Dan pilihan lainnya ialah mereka . aum musli. boleh mengambil tebusan, tetapi kelak akan terbunuh dari kalangan mereka sejumlah orangorang musyrik . ang terbunuh dalam Perang Bada. AliA melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu RasulullahA Amemanggil orang-orang dan diceritakan kepada mereka hal tersebut. Mereka berkata. AWahai Rasulullah, mereka adalah keluarga dan teman-teman kita. Mengapa kita tidak ambil saja tebusan mereka, yang hasilnya nanti dijadikan sebagai biaya untuk memerangi musuh-musuh kita. Biarpun ada yang gugur dari kalangan kita sejumlah mereka, kami tidak akan menolak pilihan ini. AliA melanjutkan kisahnya, bahwa pada peperangan Uhud akhirnya terbunuh dari pasukan kaum muslim yang bilangannya sama saja dengan mereka . ihak musu. yang tertawan di dalam peperangan Badar. Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Nasai dan Imam Turmuzi melalui hadis Abu Daud Al-Hafri, dari Yahya ibnu Zakaria ibnu Abu Zaidah, dari Sufyan ibnu SaAid, dari Hisyam ibnu Hassan, dari Muhammad ibnu Sirin dengan lafaz yang sama. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa predikat hadis ini hasan garib, kami tidak mengenalnya kecuali melalui hadis ibnu Abu Zaidah. Abu Usamah meriwayatkan hal yang semisal dari Hisyam. Telah diriwayatkan dari Ibnu Sirin, dari Ubaidah, dari NabiA Ahadis ini secara mursal. Muhammad ibnu Ishaq. Ibnu Jarir. Ar-RabiA ibnu Anas, dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: {|Katakanlah. AItu dari . diri kalian sendiri. A|} (Ali Imran, . ) Yakni disebabkan durhaka kalian kepada RasulullahA Aketika beliau memerintahkan kepada kalian agar jangan meninggalkan posisi kalian itu, tetapi kalian mendurhakainya. Yang dimaksud ialah pasukan pemanah. Firman AllahAA: {A eOs Ca aOeA a A EO aE aEA A{ } aI NASesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. } (Ali a aAcEEA Imran, . ) Artinya. Dia berbuat apa yang dikehendaki-Nya dan memutuskan menurut apa yang disukai-Nya, tiada seorang pun yang mempertanyakan tentang keputusan-Nya. Makna teologis dan historis dari Surah Ali Imran ayat 165 membahas mengenai kekalahan kaum Muslim dalam Perang Uhud. Teks tersebut menegaskan bahwa kegagalan tersebut merupakan konsekuensi atas kesalahan internal mereka sendiri, meskipun sebelumnya mereka telah meraih kemenangan besar dalam Perang Badar. Penyebab utamanya dikaitkan dengan pilihan para sahabat untuk mengambil harta rampasan perang dan tawanan perang serta tindakan pasukan pemanah yang melanggar perintah Rasulullah demi harta rampasan. Melalui narasi ini. Allah menunjukkan bahwa musibah sering kali berakar dari pilihan manusia, sementara Dia tetap memiliki kekuasaan mutlak atas segala ketetapan. Penjelasan ini berfungsi sebagai peringatan spiritual agar umat selalu mengutamakan ketaatan dan evaluasi diri dalam menghadapi setiap kesulitan hidup. Perang Uhud. Dalam ayat tersebut menegaskan bahwa kegagalan tersebut merupakan konsekuensi atas kesalahan internal mereka sendiri, meskipun sebelumnya mereka telah meraih kemenangan besar dalam Perang Badar. Penyebab utamanya dikaitkan dengan pilihan para sahabat untuk mengambil tebusan tawanan perang serta tindakan pasukan pemanah yang melanggar perintah Rasulullah demi harta rampasan. Melalui narasi ini. Allah menunjukkan bahwa musibah sering kali berakar dari pilihan manusia, sementara Dia tetap memiliki kekuasaan mutlak atas segala ketetapan. Penjelasan ini berfungsi sebagai peringatan spiritual agar umat selalu mengutamakan ketaatan dan evaluasi diri dalam menghadapi setiap kesulitan hidup. Dampak langsung dari kemaksiatan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: e a aAIa Ea eO EaaE aN eI Oa e aa eOIA a A a eOaO EIA a AOA a Aa AaO eEa a aO eEa e a a aI aEA a aA aN a eEAA a A aEOa a eOCa aN eI a eA e A E aA Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal it. Allah membuat mereka merasakan sebagian dari . perbuatan mereka agar mereka kembali . e jalan yang bena. Ar-Rm . :41 Ibnu Abbas. Ikrimah. Ad-Dahhak. As-Saddi serta lain-lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah AL-BARR dalam ayat ini ialah padang sahara, dan yang dimaksud dengan istilah BAHR dalam ayat ini ialah kota-kota besar dan semua kota lainnya. Menurut riwayat lain dari Ibnu Abbas dan Ikrimah. AL-BAHR artinya negeri-negeri dan kota-kota yang terletak di pinggir sungai. Ulama lainnya mengatakan, yang dimaksud dengan AL-BARR ialah daratan seperti yang kita kenal ini, dan yang dimaksud dengan AL-BAHR ialah lautan. Zaid ibnu Rafi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: {Telah tampak kerusakan. } (Ar-Rum, . Yakni dengan terputusnya hujan yang tidak menyirami bumi, akhirnya timbullah paceklik. yang dimaksud dengan al-bahr ialah hewan-hewan bumi. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid ibnul Muqri, dari Sufyan, dari Hamid ibnu Qais Al-AAraj, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: {Telah tampak kerusakan di darat dan di laut. } (Ar-Rum, . ) Bahwa yang dimaksud dengan rusaknya daratan ialah terbunuhnya banyak manusia, dan yang dimaksud dengan rusaknya lautan ialah banyaknya perahu . apal lau. yang dirampok. Menurut Ata Al-Khurrasani, yang dimaksud dengan daratan ialah kota-kota dan kampungkampung yang ada padanya, dan yang dimaksud dengan lautan ialah pulau-pulaunya. Pendapat pertama merupakan pendapat yang lebih kuat dan didukung oleh kebanyakan ulama, serta diperkuat oleh apa yang dikatakan oleh Muhammad ibnu Ishaq di dalam kitab Sirah-nya yang TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 mengatakan bahwa RasulullahA Apernah mengadakan perjanjian perdamaian dengan Raja Ailah dan menetapkan jizyah atas bahr-nya, yakni negerinya. Firman AllahAA: { Aa AaO eE a a aO eE a e a a aIA a aA aN a eEAA e a AA a A a eOaO EIA a A{ } aEATelah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan } (Ar-Rum, 30:. Yaitu dengan berkurangnya hasil tanam-tanaman dan buah-buahan karena banyak perbuatan maksiat yang dikerjakan oleh para penghuninya. Abul Aliyah mengatakan bahwa barang siapa yang berbuat durhaka kepada Allah di bumi, berarti dia telah berbuat kerusakan di bumi, karena terpeliharanya kelestarian bumi dan langit adalah dengan ketaatan. Karena itu, disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud yang bunyinya: Sesungguhnya suatu hukuman had yang ditegakkan di bumi lebih disukai oleh para penghuninya daripada mereka mendapat hujan selama empat puluh hari. Dikatakan demikian karena bila hukuman-hukuman had ditegakkan, maka semua orang atau sebagian besar dari mereka atau banyak dari kalangan mereka yang menahan diri dari perbuatan maksiat dan perbuatan-perbuatan yang diharamkan. Apabila perbuatan-perbuatan maksiat ditinggalkan, maka hal itu menjadi penyebab turunnya berkah dari langit dan juga dari bumi. Oleh sebab itulah kelak di akhir zaman bila Isa putra Maryam diturunkan dari langit, ia langsung menerapkan hukum syariat yang suci ini . yariat Isla. , antara lain membunuh semua babi, semua salib ia pecahkan, dan jizyah . ia hapuskan. Maka tidak diterima lagi upeti, melainkan Islam atau perang. Dan bila di masanya Allah telah membinasakan Dajjal beserta para pengikutnya, juga YaAjuj dan MaAjuj telah dimusnahkan, maka dikatakan kepada bumi. Keluarkanlah semua berkah . mu! Sehingga sebuah delima dapat dimakan oleh sekelompok orang, dan kulitnya dapat mereka pakai untuk berteduh. Hasil perahan seekor sapi perah dapat mencukupi kebutuhan minum sejumlah orang. Hal itu tiada lain berkat dilaksanakannya syariat Nabi MuhammadAA Manakala keadilan ditegakkan, maka berkah dan kebaikan akan banyak di dapat. Karena itulah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui salah satu hadisnya yang mengatakan. AApabila seorang pendurhaka mati, maka merasa gembiralah semua hamba, negeri, pepohonan, dan hewan-hewan dengan kematiannya itu. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad dan Al-Husain. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Auf, dari Abu Mikhdam, bahwa pernah ada seorang lelaki di masa Ziad atau Ibnu Ziad menemukan sebuah kantung berisikan biji-bijian, yakni biji jewawut yang besarnya seperti biji buah kurma setiap bijinya, tertuliskan padanya kalimat berikut. Ini adalah hasil tanaman di suatu masa yang ditegakkan padanya prinsip Malik telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam, bahwa yang dimaksud dengan kerusakan dalam ayat ini ialah kemusyrikan, tetapi pendapat ini masih perlu diteliti lagi. Firman AllahAA: { AaEOa a eOCa aN eIA AIa Ea eOA a AaOA a A}a eA e A EA {. upaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari . perbuatan mereka. } (Ar-Rum, . ) Maksudnya, agar Allah menguji mereka dengan berkurangnya harta dan jiwa serta hasil buahbuahan, sebagai suatu kehendak dari Allah buat mereka dan sekaligus sebagai balasan bagi perbuatan mereka. { aA {}Ea aE aN eI Oa e aa eOIAagar mereka kembali . e jalan yang bena. } (Ar-Rum, . ) Yakni agar mereka tidak lagi mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya { aA aE aE aN eI aO e aa eOIA a A aOE aO A a A IA a A{ } aO aEa eO I aN eI a eE aADan Kami coba mereka dengan . yang baik-baik dan . yang buruk-buruk, agar mereka kembali . epada kebenara. } (Al-Araf, 7:. penjelasan mendalam mengenai surah Ar-Rum ayat 41 yang membahas tentang fenomena kerusakan di daratan dan lautan. Penulis memaparkan bahwa berbagai musibah lingkungan dan sosial terjadi sebagai akibat langsung dari kemaksiatan serta dosa manusia. Berbagai penafsiran ulama dihadirkan untuk mendefinisikan cakupan wilayah yang terdampak, mulai dari ekosistem alam hingga pusat perkotaan. Allah menurunkan bencana tersebut sebagai peringatan dan ujian agar umat manusia menyadari kesalahan mereka lalu bertobat. Melalui penegakan keadilan dan ketaatan hukum, keberkahan alam diyakini akan kembali melimpah bagi seluruh makhluk. Ringkasnya, teks ini menekankan hubungan erat antara perilaku moral manusia dengan stabilitas serta kemakmuran bumi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: e AA eOa ea aI Ca aIA aA eO UeE Aa aIa a OaEa aO aI aE eOIa Ia Ia eE aIe Ia aIOeIA a A eEa aEa eOIa aA a AA eOa aN eI acIA a a AaOEa eO ae a eI A a A a eO a eO aN eI AaOaCa eOEa eO a Ia Ea eO ae a eA Seandainya saja saat ditimpa azab karena apa yang mereka kerjakan mereka tidak berdalih dengan mengatakan. AuYa Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami agar kami mengikuti ayat-ayat-Mu dan termasuk orang-orang mukmin?Ay (Maka, tidak akan ada rasul yang diutus. ) Al-Qaa . e AA eOa a aI Ca aIA Tafsir Ibn Kathir Firman AllahAA: {A eO UeEA a A eEa aEa eOIa aA a AA eO a aN eI acIA a a A} aOEa eO ae a eI A a A a eO a eO aN eI AaOaCa eOEa eO a Ia Ea eO ae a eA {Dan agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan. Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami. } (AlQashash, . ) Yakni Kami utus kamu kepada mereka untuk menegakkan hujah terhadap mereka dan agar tiada alasan lagi bagi mereka manakala azab Allah datang menimpa mereka disebabkan kekafiran mereka, yang mana mereka pasti akan beralasan bahwa belum pernah datang kepada mereka seorang utusan dan pemberi peringatan. Sebagaimana yang disebutkan TAAoLIM: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Manajemen Pendidikan Islam Volume 6, . Februari, 2026 oleh AllahA Asesudah menyebutkan bahwa Dia telah menurunkan Kitab-Nya yang diberkati, yaitu Al-QurAan: a A EOA AEa eOIa eE aE a Ea aEIe a eN OA a Aa aN eI Ea aA aEOeIa y a eO aCa eOEa eO Ea eO a I e a eI a aEA a A aiO aO aeI Ia eI aC e aEIa aO eaI aEIA a aA{ a eI aCa eOEa eeO aI aI e a eI a aE eE aE A a A eI a }AIa eI aN eI AaCae a a aE eI aOaIa aI eI a aE eI aO aNUO O a e aIA (Kami turunkan Al-QurAan it. agar kamu . mengatakan bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. Atau agar kamu . Sesungguhnya jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka. Sesungguhnya telah datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat. } (Al-AnAoam, . ) Dan firman AllahA Alainnya yang mengatakan: {A aEA a AEA a A}A ca aAcEEa a a eA AEaO NA a A UaE acIa aaOeIa aO aI eI aaOeIa aE aaE aO aE eOIa EaEIA a AA {(Mereka Kami utu. selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. } (An-Nisa, . ) Dan firman AllahAA: {A aE a eI aCa eOEa eO aI a aIa Ia eI a aO se O aeE Ia aO se AaCae a a aE eI a aOe OIa aOeA a AEA a A Cae a a aE eI aA ca aA EO Aae as aIIA a A} Oe a eN aE eE aE A a A eOEaIa Oa a aOIa Ea aE eIA {|Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan . yariat Kam. kepadamu ketika terputus . rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan. Tidak datang kepada kami, baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi A Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi } (Al-Maidah, 5:. , hingga akhir ayat. SIMPULAN Hakikat dan Ketetapan Musibah. Musibah merupakan realitas kehidupan yang tidak terelakkan, mencakup berbagai bentuk seperti ketakutan, kelaparan, serta kehilangan harta dan jiwa. Secara teologis, setiap bencana yang terjadi di bumi maupun yang menimpa diri manusia telah tertulis dalam Lauhulmahfuz jauh sebelum penciptaan alam semesta, bahkan telah ditetapkan ukurannya lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Segala peristiwa tersebut berada sepenuhnya dalam kendali, izin, dan kehendak Allah SWT. Penyebab dan Dimensi Musibah Musibah memiliki dimensi yang kompleks dan tidak hanya dipandang sebagai kejadian alamiah semata. Akibat Perbuatan Manusia Banyak musibah terjadi sebagai dampak langsung dari dosa, kemaksiatan, dan kesalahan internal manusia itu sendir. Kerusakan di darat dan di laut secara eksplisit disebutkan sebagai akibat dari perilaku manusia. Dalam konteks historis seperti Perang Uhud, musibah berupa kekalahan merupakan konsekuensi dari pilihan atau kesalahan strategi dan ketidaktaatan terhadap perintah Rasul. Fungsi dan Hikmah Musibah Allah menurunkan musibah dengan berbagai tujuan mulia bagi hamba-Nya. Yaitu sebagai Ujian Keimanan Musibah berfungsi sebagai alat untuk menguji kualitas iman seseorang dan membedakan antara orang yang benar-benar beriman dengan mereka yang lalai atau munafik. Penghapus Dosa (Kafara. Bagi orang mukmin, setiap penderitaan, kesedihan, bahkan rasa sakit sekecil tertusuk duri, merupakan jalan untuk menghapuskan kesalahan dan dosa. mrupakan Peringatan dan Hidayah. Musibah berperan sebagai alat peringatan agar manusia menyadari kesalahannya, meninggalkan kemaksiatan, dan kembali ke jalan yang benar sesuai petunjuk Allah. Lalu bagaiman Sikap dalam Menghadapi Musibah Bagi seorang mukmin, kunci utama dalam menghadapi dinamika kehidupan adalah dengan sikap sabar, syukur, dan prasangka baik . kepada Allah. Menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya . akan mendatangkan ketenangan hati, rahmat, dan petunjuk Ilahi. Dengan pemahaman yang komprehensif, musibah tidak lagi dipandang sebagai kehancuran, melainkan sebagai sarana evaluasi diri dan jalan meraih kemuliaan DAFTAR PUSTAKA