EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational ANALISIS EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA PELAJARAN IPA SMP NEGERI 1 TUHEMBERUA Sepi Fita Sari Gea 1*. Toroziduhu Waruwu 2. Novelina Andriani Zega 3. Yaredi Waruwu 4 Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Nias. Sumatera Utara. Indonesia *Corresponding author : sepifitasarig@gmail. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh siswa yang kurang terlibat aktif dalam pembelajaran, guru yang masih menggunakan metode pembelajaran ceramah, dan kurangnya pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran. Jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif Lokasi penelitian yaitu di SMP Negeri 1 Tuhemberua. Populasi penelitian yaitu siswa kelas IX semester ganjil Tahun Pelajaran 2024/2025. Instrumen penelitian, yaitu: lembar observasi efektivitas model pembelajaran, lembar observasi pemahaman konsep, dan tes hasil belajar. Hasil penelitian: . Efektivitas model pembelajaran pada pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Tuhemberua diketahui pada Pertemuan 1 diperoleh persentasenya sebesar 66,91% dengan kriteria AucukupAy. Pertemuan 2 diperoleh persentasenya sebesar 78,41% dengan kriteria AubaikAy, dan Pertemuan 3 diperoleh persentasenya sebesar 84,09% dengan kriteria AubaikAy, sehingga rata-rata persentase efektivitas model pembelajaran pada pembelajaran IPA sebesar 76,14% dengan kriteria AubaikAy. Kemampuan pemahaman konsep siswa pada pembelajaran IPA diketahui pada Pertemuan 1 diperoleh rata-rata persentasenya sebesar 71,42% dengan kriteria AucukupAy. Pertemuan 2 diperoleh rata-rata persentasenya sebesar 75,62% dengan kriteria AubaikAy, dan Pertemuan 3 diperoleh rata-rata persentasenya sebesar 82,62% dengan kriteria AubaikAy, sehingga rata-rata persentase kemampuan pemahaman konsep siswa sebesar 76,55% dengan kriteria AubaikAy. Hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA diperoleh nilai rata-ratanya sebesar 80,15 dengan kriteria baik, dan pesersentase siswa yang tuntas belajar sebesar 81,48% sedangkan persentase yang tidak tuntas belajar sebesar 18,52%. Kata Kunci: Efektivitas Model Pembelajaran. Problem Based Learning. Pemahaman Konsep. Hasil Belajar. IPA ABSTRACT This research was motivated by students who were not actively involved in learning, teachers who still used lecture learning methods, and students' lack of understanding of concepts in The type of research used is a qualitative descriptive approach. The research location is at SMP Negeri 1 Tuhemberua. The research population is class IX students in the odd semester of the 2024/2025 academic year. Research instruments, namely: observation sheet on the effectiveness of the learning model, observation sheet on understanding concepts, and learning outcomes tests. Research results: . The effectiveness of the learning model in science learning at SMP Negeri 1 Tuhemberua was discovered that at Meeting 1 the percentage was 66. 91% with "sufficient" criteria, at Meeting 2 the percentage was 78. with "good" criteria, and at Meeting 3 the percentage was 84. 09% with "good" criteria, so the average percentage of effectiveness of learning models in science learning is 76. 14% with "good" criteria. The students' ability to understand concepts in science learning was found at Meeting 1, the average percentage was 71. 42% with the "sufficient" criteria. Meeting 2 obtained an average percentage of 75. 62% with the "good" criteria, and Meeting 3 the average Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational percentage was obtained. -The average percentage is 82. 62% with "good" criteria, so the average percentage of students' conceptual understanding ability is 76. 55% with "good" . Student learning outcomes in science learning obtained an average score of 80. with good criteria, and the percentage of students who completed their studies was 81. while the percentage who did not complete their studies was 18. Keywords: Effectiveness of Learning Models. Problem Based Learning. Understanding Concepts. Learning Outcomes. Science PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan setiap individu dan juga bagi kemajuan suatu bangsa. Dalam era yang terus berkembang ini, pendidikan menjadi kunci utama untuk mencapai kesuksesan dan mewujudkan masa depan yang cerah. Pendidikan adalah sesuatu yang tidak hanya dibutuhkan pada tingkat pribadi, tetapi juga pada tingkat global, karena itu adalah sesuatu yang menjaga dunia kita tetap aman dan menjadikannya tempat yang lebih damai. Pendidikan cenderung mengajari orang perbedaan antara benar dan salah, dan dapat membantu orang menghindari situasi beresiko. Setiap individu membutuhkan pendidikan untuk menjalani kehidupan secara maksimal dan untuk berinteraksi lebih baik dengan lingkungan dan memanfaatkan rentang hidup sebaikbaiknya. Pendidikan merupakan salah satu proses dalam kehidupan yang sangat penting untuk menciptakan sumber daya manusia yang handal dan profesional. Hal ini selaras dengan definisi pendidikan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan itu penting bagi seseorang karena dengan adanya pendidikan, maka seseorang dapat menjadi produktif. Melalui pendidikan generasi yang cerdas, mandiri dan kreatif dapat berkembang, serta terbentuknya watak dan peradaban bangsa yang bermartabat. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung-jawab bersama baik pemerintah, masyarakat, maupun sekolah dan guru. Menurut pendapat Manik, dkk . mengemukakan bahwa Aupendidikan adalah proses pembelajaran yang didapat oleh setiap manusia untuk dapat membuat manusia itu mengerti, paham, dan lebih dewasa serta mampu membuat manusia . lebih kritis dalam berpikirAy. Selanjutnya menurut Herman . mengemukakan bahwa Aupendidikan adalah suatu dari proses penyesuaian lebih tinggi bagi makhluk yang telah berkembang secara fisik dan mental yang bebas dan sadar kepada Tuhan seperti termanifestasikan dalam alam sekitar, intelektual, emosional, dan kemauan manusiaAy. Pentingnya pendidikan dalam kehidupan memang sangat besar karena memiliki pengaruh dalam mengubah kehidupan seseorang sepenuhnya. Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah salah satunya adalah penyempurnaan kurikulum dalam satuan pendidikan. Menurut pendapat Waseso . mengemukakan bahwa Aukurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berbasis kompetensi, didalamnya dirumuskan secara terpadu mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang harus dimiliki siswaAy. Dalam kurikulum 2013 terdapat beberapa mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa, salah satu diantaranya adalah mata pelajaran IPA. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan dalam penggunaannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam. Menurut pendapat Yani, dkk . mengemukakan AuIPA merupakan ilmu yang berkaitan Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational dengan fenomena alam yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari serta interaksi yang terjadi didalamnyaAy. Selanjutnya menurut Ali . mengemukakan AuIPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuanAy. Pembelajaran IPA memegang peranan penting dalam proses pendidikan dan perkembangan teknologi, mengingat IPA merupakan dasar bagi ilmu pengetahuan lainnya dan mempunyai. Menurut pendapat Siang, dkk . mengemukakan AuIlmu Pengetahuan Alam dalam kurikulum 2013 dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science. IPA sebagai pendidikan berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pengembangan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan alamAy. Dalam mewujudkan tujuan pembelajaran IPA disetiap sekolah, seharusnya guru IPA memahami hakikat sains, mampu menjadi fasilitator dalam pembelajaran dan mampu menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswanya. Sekolah sebagai tempat penyelenggara pendidikan, mempunyai peranan penting dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Penggunaan model pembelajaran sangat berpengaruh penting terhadap keberhasilan suatu kegiatan pembelajaran. Upaya dalam mencapai keberhasilan pembelajaran dibutuhkan salah satu peran aktif pendidik dalam Guru sebagai pelaku pembelajaran yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, harus kreatif merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswanya. Salah satu peran guru dalam kegiatan belajar mengajar adalah menciptakan sebuah kondisi pembelajaran yang aktif, efektif dan menarik melalui penggunaan model pembelajaran. Berdasarkan observasi yang dilaksanakan oleh peneliti di SMP Negeri 1 Tuhemberua pada waktu bulan November 2023 memperoleh beberapa informasi tentang pelaksanaan kegiatan pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Tuhemberua pada Tahun Pelajaran 2023/2024. Sesuai hasil wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran IPA di SMP Negeri 1 Tuhemberua mengatakan bahwa saat berlangsung kegiatan pembelajaran IPA di kelas masih terdapat siswa yang kurang terlibat aktif dalam pembelajaran. Kemudian penerapan model pembelajaran ceramah lebih sering digunakan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga siswa hanya mendengarkan penjelasan guru saat mengajar dan siswa menjadi kurang terlibat aktif dalam pembelajaran. Kemudian saat guru memberikan/mengajukan sebuah pertanyaan, sebagian siswa masih kurang mampu menjawab dan mengerjakan pertanyaan yang diberikan oleh guru. Hal tersebut disebabkan karena siswa masih kurang mampu memahami secara keseluruhan materi pelajaran IPA yang telah dipelajari. Sesuai hasil wawancara peneliti dengan salah satu siswa kelas Vi di SMP Negeri 1 Tuhemberua mengatakan bahwa saat berlangsung kegiatan pembelajaran IPA di kelas siswa kurang terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, siswa tidak pernah dilibatkan dalam kegiatan diskusi berkelompok, dan media pembelajaran kurang digunakan dalam kegiatan pembelajaran IPA. Sesuai dengan yang disampaikan oleh guru mata pelajaran IPA di SMP Negeri 1 Tuhemberua bahwa rata-rata hasil belajar siswa kelas Vi pada mata pelajaran IPA masih tergolong dalam kriteria cukup. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka solusi dalam mengatasi beberapa permasalahan tersebut yaitu guru perlu bertindak kreatif untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran mampu melibatkan siswa untuk terlibat aktif dalam belajar dan merupakan salah satu alternatif dalam mengatasi masalah yang telah diuraikan di atas. Menurut pendapat Indrawati dalam Tibahary dan Muliana . mengemukakan bahwa AuModel pembelajaran sebagai suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational pembelajaran tertentu, dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru dan siswa di dalam mewujudkan kondisi belajar yang menyebabkan terjadinya belajar pada siswaAy. Diantara beberapa model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran terdapat salah satu model pembelajaran yang berpusat kepada siswa yaitu model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Menurut pendapat Duch dalam Shoimin . mengemukakan AuProblem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) adalah model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para siswa belajar berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuanAy. Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar cara berpikir kritis dan keterampilan dalam memecahkan masalah. Menurut pendapat Mutiani dalam Rohmah dan Rahyu . mengemukakan bahwa AuProblem Based Learning (PBL) merupakan suatu model pembelajaran yang menantang siswa belajar melalui masalah yang dilakukan secara kooperatif dalam kelompok melibatkan siswa pada situasi nyata sehingga siswa terbentuk menjadi pembelajar mandiri dan handalAy. Dalam menggunakan model pembelajaran diperlukan efektivitas yang maksimal dalam penerapannya. Efektivitas ini sangat berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan suatu model pembelajaran yang digunakan. Menurut Mahmudi . bahwa Auefektivitas adalah sejauh mana unit yang dikeluarkan mampu mencapai tujuan yang ditetapkanAy. Menurut pendapat Sudjana dalam Imron dan Johanis . bahwa Auefektivitas dapat diartikan sebagai tindakan keberhasilan siswa untuk mencapai tujuan tertentu yang dapat membawa hasil belajar secara maksimalAy. Efektivitas merupakan suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target . uantias, kualitas dan wakt. yang telah tercapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu. Miarso . mengatakan bahwa Auefektivitas pembelajaran merupakan salah satu standart mutu pendidikan dan sering kali diukur dengan tercapainya tujuan, atau dapat juga diartikan sebagai ketepatan dalam mengelola suatu situasi . oing the right thing. Ay. Menurut Supardi . bahwa Aupembelajaran efektif adalah kombinasi yang tersusun meliputi manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur diarahkan untuk mengubah perilaku siswa ke arah yang lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkanAy. Apabila penggunaan model pembelajaran memiliki efektivitas dalam penerapannya, maka akan berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman belajar siswa. Menurut Anas . Aupemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingatAy. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan dan hafalan. Menurut Suharsimi . menyatakan bahwa Aupemahaman adalah bagaimana seseorang mempertahankan, membedakan, menduga, menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menulis kembali, dan memperkirakanAy. Kemudian pengertian konsep adalah abstraksiabstraksi yang berdasarkan pengalaman seseorang (Susilawati, 2. Konsep merupakan suatu kesatuan pengertian tentang suatu hal atau persoalan yang dirumuskan (Novanto, dkk. Pemahaman konsep salah satu dasar dari pemahaman teori-teori, sehingga untuk memahami teori, terlebih dahulu siswa harus memahami konsep-konsep yang menyusun teori tersebut (Diana, 2. Oleh karena itu, pemahaman konsep sangat penting ditanamkan pada siswa, karena dengan kemampuan memahami konsep menjadi landasan siswa untuk berpikir dan menyelesaikan masalah secara benar dan tepat. Apabila siswa memiliki pemahaman yang Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational baik, maka siswa yakin dalam memberikan jawaban yang pasti dan benar. Indikator kemampuan pemahaman konsep sesuai menurut Tendrita, dkk . yaitu: Au. menguraikan dengan kata-kata sendiri. memberikan contoh. menyimpulkanAy. Sesuai dengan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran yang efektif pasti akan memiliki pengaruh terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa untuk menyelesaikan sebuah masalah aktual yang sedang dibahas, sehingga mampu merangsang kemampuan berpikir siswa. Berdasarkan uraian di atas, peneliti berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul: AuAnalisis Efektivitas Model Pembelajaran Dalam Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Pada Pembelajaran IPA SMP Negeri 1 TuhemberuaAy. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Metode kuantitatif digunakan untuk mengumpulkan data berupa angka-angka yang dapat diukur secara objektif dengan teknik pengumpulan data menggunkan instrument penelitian tes belajar dan lembar observasi yang diberikan kepada siswa. Melalui penelitian kuantitatif dengan jenis deskriptif ini, penelitian ini akan memberikan gambaran yang jelas mengenai efektivitas model pembelajaran terhadap pemahaman konsep siswa pada pembelajaran IPA. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar observasi dan tes hasil belajar. Variabel dalam pelaksanaan penelitian terbagi menjadi 2 jenis yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas atau variabel independen (X) merupakan variabel yang mempengaruhi atau menyebabkan perubahan pada faktor yang diukur atau dipilih oleh seorang peneliti dalam mengetahui hubungan antara fenomena yang diamati. Variabel bebas pada penelitian ini adalah model pembelajaran. Variabel terikat atau variable dependen (Y) sangat bergantung pada variabel independen. Dalam pelaksanaan penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah pemahaman konsep siswa. Populasi penelitian adalah siswa kelas IX di SMP Negeri 1 Tuhemberua pada Tahun Pelajaran 2024/2025. Teknik pengambilan sampel pada penelitian menggunakan Simple Sampling yaitu sistem pengambilan sampel secara sederhana dengan menggunakan undian atau tabel angka. Lokasi pelaksanaan penelitian yaitu di SMP Negeri 1 Tuhemberua, yang beralamat di Jala Desa Silimabanua. Nomor 111. Desa Silima Banua. Kecamatan Tuhemberua. Kabupaten Nias Utara. Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini akan dilaksanakan di semester ganjil pada Tahun Pelajaran 2024/2025 dan disesuaikan dengan jadwal mata pelajaran IPA di SMP Negeri 1 Tuhemberua. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil Efektivitas Model Pembelajaran Efektivitas model pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan tingkat keberhasilan dari suatu proses pembelajaran. Sesuai pelaksanaan penelitian di kelas IX SMP Negeri 1 Tuhemberua diperoleh hasil efektivitas model pembelajaran sesuai pada tabel dibawah ini. Tabel 1. Hasil Observasi Efektivitas Model Pembelajaran Persentase Efektivitas Waktu Model Pembelajaran Pertemuan 1 65,91% Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Pertemuan 2 78,41% Pertemuan 3 84,09% Rata-Rata Persentase 76,14% (Bai. Sesuai hasil observasi di atas maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas model pembelajaran di kelas IX SMP Negeri 1 Tuhemberua memperoleh hasil yang baik, diketahui rata-rata persentase efektivitas model pembelajaran sebesar 76,14% dengan kriteria AubaikAy. Kemampuan Pemahaman Konsep Kemampuan pemahaman konsep sangat penting ditanamkan kepada siswa, karena dengan kemampuan memahami konsep menjadi landasan siswa untuk berpikir dan menyelesaikan masalah secara benar dan tepat. Apabila siswa memiliki pemahaman yang baik, maka siswa yakin dalam memberikan jawaban yang pasti dan benar. Sesuai pelaksanaan penelitian di kelas IX SMP Negeri 1 Tuhemberua diperoleh hasil observasi kemampuan pemahaman konsep sesuai pada tabel dibawah ini. Tabel 2. Hasil Observasi Kemampuan Pemahaman Konsep Persentase Kemampuan Waktu Pemahaman Konsep Pertemuan 1 71,42% Pertemuan 2 75,62% Pertemuan 3 82,62% Rata-Rata Persentase 76,55% (Bai. Sesuai hasil observasi di atas maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemahaman konsep siswa kelas IX di SMP Negeri 1 Tuhemberua memperoleh hasil yang baik, diketahui rata-rata persentase kemampuan pemahaman konsep sebesar 76,55% dengan kriteria AubaikAy. Hasil Belajar Hasil belajar merupakan suatu kompetensi atau kecakapan yang dicapai oleh siswa setelah melalui kegiatan pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru. Sesuai pelaksanaan penelitian di kelas IX SMP Negeri 1 Tuhemberua diperoleh hasil belajar siswa melalui pemberian tes hasil belajar nilai rata-ratanya sebesar 80,15 dengan kriteria AubaikAy. Adapun pesersentase siswa yang tuntas belajar sebesar 81,48% sedangkan persentase yang tidak tuntas belajar sebesar 18,52%. Berikut ini diagram persentase ketuntasan belajar siswa. 18,52% Tidak Tuntas Tuntas 81,48% Gambar 1. Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Pembahasan Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Tuhemberua dengan sampel penelitian yaitu siswa kelas IX. Namun sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas terlebih dahulu peneliti berkoordinasi dengan Bapak Meiman Elfis Gea. Pd. , sebagai guru mata pelajaran IPA SMP Negeri 1 Tuhemberua. Selanjutnya peneliti yang bertindak sebagai guru mempersiapkan seperti: perangkat pembelajaran, bahan ajar, menyiapkan lembar observasi efektivitas model pembelajaran, dan menyiapkan lembar observasi pemahaman konsep yang akan dinilai oleh guru pengamat. Alokasi waktu pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran ini yaitu 3 kali pertemuan. Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran menggunakan salah satu model pembelajaran yaitu model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sesuai dengan perangkat pembelajaran yang telah disusun. Saat pelaksanaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) diawali dengan Tahap 1 yaitu Aumengorentasikan siswa pada masalahAy yang terdiri dari penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian garis-garis besar materi pelajaran tentang Sistem Reproduksi pada Manusia, pemberian bahan ajar berupa Lembar Kerja Siswa (LKPD) dan mengorganisasi siswa untuk belajar dalam memahami masalah yang dibahas. Kemudian dilanjutkan dengan Tahap 2 yaitu Aumengorganisasi siswaAy yang terdiri dari membentuk siswa menjadi beberapa kelompok, mempersilahkan siswa berdiskusi bersama teman kelompoknya, dan mengarahkan siswa untuk mengidentifikasi masalah yang dibahas. Setelah tahap kedua terlaksana, maka dilanjutkan dengan Tahap 3 yaitu Aumembimbing penyelidikan individu maupun kelompokAy yang terdiri dari memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa saat berdiskusi dengan rekan kelomponya, dan memberikan petunjuk kepada siswa tentang cara mengerjakan soal atau pertanyaan yang terdapat dalam bahan ajar sampai siswa mampu memahaminya. Berikutnya dilanjutkan pada Tahap 4 yaitu Aumengembangkan dan menyajikan hasil diskusiAy yang terdiri dari membimbing siswa dalam menyimpulkan hasil diskusi, membimbing siswa jika mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, dan mempersilahkan setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas secara bergiliran. Kemudian pada Tahap 5 yaitu Aumenganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalahAy yang terdiri dari melakukan refleksi atau menganalisis dan mengevaluasi hasil jawaban kerja kelompok siswa, dan setelah itu guru bersama siswa membuat kesimpulan tentang materi pelajaran yang telah Melalui penerapan seluruh tahap-tahap model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam 3 kali pertemuan, maka sesuai hasil lembar observasi efektivitas model pembelajaran diketahui pada Pertemuan 1 efektivitas model pembelajaran diperoleh persentasenya sebesar 66,91% dengan kriteria AucukupAy. Kemudian pada Pertemuan 2 efektivitas model pembelajaran diperoleh persentasenya sebesar 78,41% dengan kriteria AubaikAy, dan terakhir pada Pertemuan 3 efektivitas model pembelajaran diperoleh persentasenya sebesar 84,09% dengan kriteria AubaikAy. Sehingga dari 3 kali pertemuan tersebut diperoleh rata-rata persentase efektivitas model pembelajaran sebesar 76,14% dengan kriteria AubaikAy. Peningkatan efektivitas penerapan model pembelajaran mampu berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa. Sesuai hasil penelitian diketahui bahwa pesersentase siswa yang tuntas belajar sebesar 81,48% sedangkan persentase yang tidak tuntas belajar sebesar 18,52%. Sesuai hasil penelitin yang dilakukan oleh Chan, dkk . menyimpulkan bahwa Aupenggunaan model pembelajaran mampu memberikan efektivitas yang baik terhadap Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational pelaksanaan kegiatan pembelajaran, yang mampu meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan peningkatan hasil belajar siswaAy. Efektivitas model pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan tingkat keberhasilan dari suatu proses pembelajaran sedangkan kemampuan pemahaman konsep merupakan tingkatan kemampuan yang mengharapkan seseorang siswa mampu memahami arti atau konsep suatu pelajaran setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Penelitian yang dilakukan oleh Tibahary dan Muliana . menyimpulkan bahwa Aumelalui penggunaan model pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran di kelas, mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, peningkatan pemahaman konsep siswa, dan peningkatan hasil belajarAy. Maka dari itu, peneliti menyimpulkan bahwa efektivitas penerapan sebuah model pembelajaran akan mampu berpengaruh terhadap kemampuan pemahaman konsep siswa dan berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, diharapkan bagi guru untuk mampu mengimplementasikan penggunaan model-model pembelajaran yang berpusat kepada siswa sebagai salah satu inovasi pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai sentral pendidikan demi meningkatkan hasil belajar siswa. Kemampuan Pemahaman Konsep Siswa Kemampuan pemahaman konsep merupakan tingkatan kemampuan yang mengharapkan seseorang siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya setelah mengikuti kegiatan proses pembelajaran. Kemampuan memahami konsep adalah kemampuan untuk menjelaskan informasi atau konsep dengan kosa kata sendiri dan mampu menginterpretasikan atau mengambil kesimpulan dari penjelasan tersebut, dapat berbentuk angka, huruf, simbol, bagan, gambar, dan lain-lain (Purwono, 2. Berdasarkan data hasil penelitian diketahui pada Pertemuan 1 kemampuan pemahaman konsep siswa diperoleh rata-rata persentasenya sebesar 71,42% dengan kriteria AucukupAy. Kemudian pada Pertemuan 2 kemampuan pemahaman konsep siswa diperoleh ratarata persentasenya sebesar 75,62% dengan kriteria AubaikAy, dan terakhir pada Pertemuan 3 kemampuan pemahaman konsep siswa diperoleh rata-rata persentasenya sebesar 82,62% dengan kriteria AubaikAy. Sehingga dari 3 kali pertemuan tersebut diperoleh rata-rata persentase kemampuan pemahaman konsep siswa sebesar 76,55% dengan kriteria AubaikAy. Peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa kelas IX SMP Negeri 1 Tuhemberua dapat dilihat dari setiap indikator kemampuan pemahaman konsep siswa seperti pada Indikator 1 tentang Aumenjelaskan kembaliAy menunjukan bahwa siswa telah mampu menjelaskan pokok materi Sistem Reproduksi pada Manusia yang telah dijelaskan oleh guru, siswa telah mampu mempresentasikan tugasnya di depan kelas, siswa telah mampu memberikan pemaparan kepada sesama temannya, dan siswa telah mampu menjelaskan intisari materi Sistem Reproduksi pada Manusia yang telah dibahas. Selanjutnya pada Indikator 2 tentang Aumenguraikan dengan kata-kata sendiriAy menunjukan bahwa siswa telah mampu menguraikan materi Sistem Reproduksi pada Manusia yang telah dibahas menggunakan kata-kata sendiri, dan siswa telah mampu menguraikan sebuah penjelasan tanpa melihat buku atau catatan. Kemudian pada Indikator 3 tentang AumerangkumAy menunjukan bahwa siswa telah mampu merangkum materi Sistem Reproduksi pada Manusia yang telah dibahas dan siswa telah mampu merangkum hasil diskusi bersama teman kelompoknya. Berikutnya pada Indikator 4 tentang Aumemberikan contohAy menunjukan bahwa siswa telah mampu memberikan contoh yang berkaitan dengan materi Sistem Reproduksi pada Manusia yang telah dibahas, siswa telah mampu memberikan contoh yang lebih nyata dalam kehidupan yang dialami, dan siswa telah mampu memberikan contoh yang bisa diterima oleh Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational guru dan teman kelomponya. Pada bagian terakhir yaitu Indikator 5 tentang AuMenyimpulkanAy menunjukan bahwa siswa telah mampu memberikan kesimpulan yang berkaitan dengan materi Sistem Reproduksi pada Manusia yang telah dibahas, siswa telah mampu memberikan kesimpulan dengan menggunakan ide sendiri, dan siswa telah mampu memberikan kesimpulan berdasarkan hasil diskusinya. Peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa mampu berdampak positif terhadap hasil belajar siswa. Sesuai hasil penelitian diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa sebesar 80,15 dengan kriteria AubaikAy. Hasil belajar tersebut menunjukan bahwa kemampuan pemahaman konsep siswa sangat baik. Kemampuan pemahaman konsep salah satu dasar dari pemahaman teori-teori, sehingga untuk memahami teori, terlebih dahulu siswa harus memahami konsep-konsep yang menyusun teori tersebut (Diana, 2. Menurut Anas . Aupemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingatAy. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan dan hafalan. Oleh karena itu, pemahaman konsep sangat penting ditanamkan pada siswa, karena dengan kemampuan memahami konsep menjadi landasan siswa untuk berpikir dan menyelesaikan masalah secara benar dan tepat. Apabila siswa memiliki pemahaman yang baik, maka siswa yakin dalam memberikan jawaban yang pasti dan benar. Hasil Belajar Siswa Penilaian hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam sebuah pelaksanaan proses Hasil belajar merupakan hasil penilaian pendidikan tentang kemajuan setelah melakukan aktivitas belajar atau merupakan akibat dari kegiatan belajar. Menurut pendapat Winkel dalam Nurrita . menyatakan bahwa Auhasil belajar merupakan suatu kemampuan internal yang telah menjadi milik pribadi seseorang dan kemungkinan orang itu melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinyaAy. Sesuai pelaksanaan penelitian di kelas IX SMP Negeri 1 Tuhemberua diperoleh hasil belajar siswa melalui pemberian tes hasil belajar nilai rata-ratanya sebesar 80,15 dengan kriteria AubaikAy. Kemudian pesersentase siswa yang tuntas belajar sebesar 81,48% sedangkan persentase yang tidak tuntas belajar sebesar 18,52%. Sesuai uraian hasil belajar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa melalui penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Tibahary dan Muliana . menyimpulkan bahwa. Aumelalui penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dalam kegiatan pembelajaran di kelas mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswaAy. Maka dari itu, diharapkan guru mengimplementasikan model-model pembelajaran berpusat pada siswa sebagai salah satu inovasi pembelajaran yang menjadikan siswa sebagai sentral pendidikan demi peningkatan hasil belajar siswa. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka peneliti menyimpulkannya sebagai berikut. Efektivitas model pembelajaran pada pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Tuhemberua diketahui pada Pertemuan 1 diperoleh persentasenya sebesar 66,91% dengan kriteria AucukupAy. Pertemuan 2 diperoleh persentasenya sebesar 78,41% dengan kriteria AubaikAy, dan Pertemuan 3 diperoleh persentasenya sebesar 84,09% dengan kriteria AubaikAy, sehingga rata-rata persentase efektivitas model pembelajaran pada pembelajaran IPA sebesar 76,14% dengan kriteria AubaikAy. Copyright . 2025 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. Februari 2025 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Online Journal System : https://jurnalp4i. com/index. php/educational Kemampuan pemahaman konsep siswa pada pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Tuhemberua diketahui pada Pertemuan 1 diperoleh rata-rata persentasenya sebesar 71,42% dengan kriteria AucukupAy. Pertemuan 2 diperoleh rata-rata persentasenya sebesar 75,62% dengan kriteria AubaikAy, dan Pertemuan 3 diperoleh rata-rata persentasenya sebesar 82,62% dengan kriteria AubaikAy, sehingga rata-rata persentase kemampuan pemahaman konsep siswa sebesar 76,55% dengan kriteria AubaikAy. Hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA di SMP Negeri 1 Tuhemberua diperoleh nilai rata-ratanya sebesar 80,15 dengan kriteria baik, dan pesersentase siswa yang tuntas belajar sebesar 81,48% sedangkan persentase yang tidak tuntas belajar sebesar 18,52%. DAFTAR PUSTAKA