Ismatul Izzah. Relevansi Sistem Full Day School dengan Pendidikan Karakter Anak . | 1 RELEVANSI SISTEM FULL DAY SCHOOL DENGAN PENDIDIKAN KARAKTER ANAK Ismatul Izzah* Abstract: The Full Day School system is one of the school programs where students study full day at school. Learning begins at 07. 00 pm until at 15. 00 pm. Education Minister of Education initiated Full Day SchoolAos learning system is aimed besides full learning in school also aims to get the students get character As the world grows, education now begins to improve the quality of studentsAo resources in various ways. It departs from the many AudemandsAy to become a rich man of science and balanced with skill that qualified. One of his strategies is full day school. The formation of character for every human being is a duty that must be done continuously, either through coaching, habituation, and things that can increase oneAos ahlak. School participation in the organization of the Full Day School System also determines the quality of educational outcomes for childrenAos character. So the relevance of these two components can be expressed if the goal of education is achieved as designed by the school, packed with precise and child friendly, facilities and infrastructure to support, qualified and prosperous educators. Keywords: Full day school. Character education. Pendahuluan Sistem Full Day School Muhadjir Effendy selaku Mendikbud baru menggagas sistem belajar full day school untuk tingkat SD dan SMP. Ide ini diterapkan dengan tujuan agar siswa mendapat pendidikan karakter dan pengetahuan umum di sekolah. Sesuai dengan pesan dari Presiden Jokowi bahwa kondisi ideal pendidikan di Indonesia adalah ketika dua aspek pendidikan bagi siswa terpenuhi. Untuk jenjang SD, 80 persen pendidikan karakter dan 20 persen untuk pengetahuan umum. Sedangkan SMP, bobot pendidikan karakter adalah 60 persen dan 40 persen untuk pengetahuan umum. Dosen Tetap Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan Probolinggo. 2 | At-TaAolim Volume i. Nomor II. Juni 2017 Konsep full day school berangkat dari sebuah kebutuhan masyarakat . atakanlaj masyarakat perkotaan yang mempunyai tingkat mobilitas tingg. Orang tua meninggalkan rumah untuk bekerja mulai pukul 06. 00 pagi sampai kembali ke rumah sore atau menjelang malam. Orang tua bekerja selama 5 hari perminggu dan mereka libur/week end selama 2 hari yaitu hari sabtu dan minggu. Sementara anak-anak berangkat sekolah pukul 06. 30 sampai 13. mereka sekolah selama 6 hari selama 1 minggu yaitu mulai hari seninsabtu atau sabtu sampai kamis bagi sekolah/madrasah yang liburnya hari jumAoat. Kondisi seperti ini membuat mereka . rang tua dan ana. memiliki waktu untuk bersama yang sedikit. Orang tua sedikit sekali waktunya untuk memperhatikan anak-anaknya di rumah, kasih saying dan perhatian orang tua untuk anak dirasa sangat kurang. Pada tahapan berikutnya, banyak sekolah-sekolah yang menawarkan program full day school. Dimana mereka menggabungkan waktu belajar anak dan waktu bermain anak di sekolah selama 5 hari per minggu. Semakin berkembangnya dunia pendidikan saat ini mulai beramai-ramai meningkatkan kualitas sumber daya siswa dengan berbagai cara. Hal ini berangkat dari banyaknya AutuntutanAy untuk menjadi manusia yang kaya ilmu serta diseimbangkan dengan skill yang mumpuni. Salah satu strateginya adalah full day school. 1 Dari gagasan di atas meka perlu ditelaah apakah benar ada hubungan antara penerapan Full Day School dengan pendidikan karakter. Dengan perkembangan zaman dan merujuk pada Sistem Pendidikan Nasional, maka banyak sekolah/madrasah yang ditutuntut untuk berinovasi dan meningkatkan prestasi. 2 Salah satu yang lagi ramai diperbincangkan adalah sistem pelaksanaan pembelajaran dengan sistem Full Day School. Republika. 11 Agustus 2016. Mendikbud: full day school untuk pendidikan karakter. Disampaikan kepada Wakil Presiden pada tanggal 8 Agustus 2016,tentang rencana penerpan FDS. Subandijah. Pengembangan \kurikulum dan Inovasi Kurikulum. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada, 1996. Ismatul Izzah. Relevansi Sistem Full Day School dengan Pendidikan Karakter Anak . | 3 Pembahasan Pengertian Sekolah Model Full Day School Sekolah model full day school adalah bentuk satuan pendidikan yang diselenggarakan berdasarkan kurikulum Kemendiknas dan diperkaya dengan kurikulum Kemenag. Model yang dikembangkan adalah pengintegrasian antara pendidikan agama dan umum, dengan memaksimalkan perkembangan aspek kognitif, afektif, psikomotorik. Sekolah model full day school juga bisa dikatakan dengan sekolah model terpadu. Karena program sekolah yang memadukan antara: Program pendidikan umum dan pendidikan agama. Pengembangan potensi intelektual, emosional dan fisik. Peran sekolah, orang tua dan masyarakat sebagai pihak yang memiliki tugas dan tanggung jawab terhadap dunia pendidikan. Menurut Yustanto . 4 : . , model sekolah full day school artinya sekolah yang menerapkan waktu belajar sejak pagi hingga sore hari. Berbasis pada kurikulum Departemen Pendidikan Nasional (Depdikna. dan Departemen Agama (Depa. dengan penambahan muatan local 3-4 jam lebih lama dari waktu sekolah menengan pertama biasa . agi-sor. Total jam belajar efektif kelas 1 atau kelas 7 sampai kelas 3 atau kelas 9 adalah 7 jam 30 menit dari pukul 07. 00 sampai hari belajar adalah selama 6 hari mulai hari senin hingga sabtu. Khusus hari sabtu digunakan untuk kegiatan extrakurikuler, yang berlangsung hingga pukul 10. hal ini dimaksudkan agar di akhir pecan, anak mempunyai waktu lebih lama dengan orang tuanya. Full Day School berasal dari bahasa Inggris yang artinya Full = Penuh. Day = Hari. School=Sekolah. Jadi sehari penuh berada di Menurut istilah adalah sebuah sekolah yang memberlakukan jam belajar sehari penuh antara jam 07. Full day school yang dimaksud adalah program sekolah di mana proses pembelajaran dilaksanakan sehari penuh di sekolah. Dengan kebijakan seperti ini maka waktu dan kesibukan anak-anak lebih banyak dihabiskan di sekolah daripada di rumah. 4 Full day school merupakan model sekolah umum yang memadukan dengan sistem Yustanto. Menggagas Pendidikan Islami Masa Depan. Jakarta:Balai Pustaka. Dr. Fahmi Alaydrroes. Psi,MM. pelaksanaan full day school di SD. http:// com/2010/tesis-pelaksanaan-full-day-school-di-SD. 4 | At-TaAolim Volume i. Nomor II. Juni 2017 pengajaran Islam yang intensif yaitu dengan memberi tambahan waktu khusus untuk pendalaman keagamaan siswa. Biasanya jam tambahan tersebut dialokasikan pada jam setelah sholat dhuhur sampai sholat ashar, sehingga praktis sekolah model ini masuk pukul 00 WIB pulang pada pukul 16. 00 WIB. Sedangkan pada sekolahsekolah umum, anak biasanya sekolah sampai pukul 13. 00 WIB. Sedangkan menurut Sukur Basuki adalah program sekolah yang sebagian waktunya digunakan untuk program-program pembelajaran yang suasana informal, tidak kaku, menyenangkan bagi siswa, dan membutuhkan kreatifitas dan inovasi dari guru. Dalam hal ini Sukur berpatokan pada penelitian yang menyatakan bahwa waktu efektif untuk belajar bagi anak adalah 3-4 jam sehari . alam suasana forma. , dan 7-8 jam sehari . alam suasana informa. Konsep Full Day School Gambaran mengenai program full day school adalah aspek: kelembagaan, kepemimpinan dan manajemen. Mengacu pada konsep yang dikembangkan sekolah full day school yang mengedepabkan kemuliaan ahlak dan prestasi akademik. Kepemimpinan sekolah dipacu dengan peningkatan kualitas kepribadian, peningkatan kemampuan manajerial dan pengetahuan konsep-konsep pendidikan kontemporer yang didukung dengan kegiatan short-course, orientasi program dan studi banding, dimana program-program ini dilaksanakan secara simultan dan kontinu. Menurut Fahmi Alaidroes format full day school meliputi beberapa aspek yaitu: Kurikulum, yaitu mengintegrasikan atau pemanduan program pendidikan umum dan agama. Dengan memadukan kurikulum umum dan agama dalam suatu jalinan kegiatan kegiatan belajar mengajar diharapkan peserta didik dapat memahami esensi ilmu dalam perspektif yang utuh. Kegiatan belajar mengajar yaitu dengan mengoptimalisasikan pendekatan berbasis active learning, siswa mesti dirangsang untuk aktif terlibat dalam setiap aktivitas. Sukur Basuki. Harus Proposional sesuai Jenis dan Jenjang Sekolah. ttp:// strkN1lmj. Dikses tanggal 13 Maret 2017. http://w. Jantera semesta: Full Day School: konsep dan Kurikulum Pembelajaran Ismatul Izzah. Relevansi Sistem Full Day School dengan Pendidikan Karakter Anak . | 5 Iklim sekolah, yaitu lingkungan pergaulan, tata hubungan, pola perilaku dan segenap peraturan yang diwujudkan dalam kerangka nilai-nilai Islam yang syarAoi melandasi segala aspek perilaku dan peraturan yang mencerminkan ahlakul karimah. Lama belajar: SD : 07. SMP : 07. SMA : 07. Kurikulum Depdiknas dan Kurikulum muatan lokal Full day school Integrated activity dan integrated curiculum Banyaknya aktivitas: Full aktif, karena aktivitas siswa siswi di sekolah tidak terbatas di kelas, tetapi juga aktivitas di lain di luar Contoh, sholat berjamaah, bermain, belajar kelompok dan lain-lain. Tujuan dan Target: Mengupayakan terpadunya ketrampilan dengan sikap yang baik dan Islami, sehingga terbentuk generasi berkarakter ahlakul karimah dan berprestasi akademis tinggi Manajemen Penyelenggaraan Sistem Full day School Dalam penyelenggaraan sistem full day school di sekolah agar efektif dan sesuai sasaran, maka juga harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: Program Pengajaran . Isi program pengajaran yang disesuaikan dengan tahap perkembangan usia siswa. Dr. Fahmi Alaydrroes. Psi,MM. pelaksanaan full day school di SD. http:// com/2010/tesis-pelaksanaan-full-day-school-di-SD. 6 | At-TaAolim Volume i. Nomor II. Juni 2017 . Susunan program pengajaran. Isi kurikulum disesuaikan, jika Depdikanas tersedia 42 jam pelajaran perminggu sedang Depag 36 jam pelajaran perminggu. Jenjang dan Jenis Pendidikan Pelaksanaan full day school juga harus memperhatikan juga jenjang dan jenis pendidikan. Selain kesiapan fasilitas, kesiapan seluruh komponen di sekolah, kesiapan program-program Kemudian jika dilihat dari pengelolaannya, maka ada sekolah yang dikelola oleh Depdikna, dan ada sekolah yang dikelola oleh Departemen Agama, yaitu Madrasah Ibtidaiyah. Tsnawiyah dan Aliyah. Sekolah/madrasah ini memiliki cirri khas yang berbeda dengan sekolah umum yang dikelola oleh Depdiknas. Antara lain pada prosentase muatan pendidikan agama dan budaya di sekolah. Selain itu jika dilihat dari jenis sekolah, maka ada sekolah umum dan sekolah kejuruan . , yang masing-masing juga memiliki cirri khas, misi, tuntutan dan iklim yang berbeda satu sama lain. Jika melihat pada tingkatan life skill maka pada setiap jenjang dan jenis sekolahnya, tentu berbeda orientasinya. Pada jenjang pendidikan anak usia dini sampai Taman Kanak-Kanak bertujuan membentuk pribadi anak untuk mengenal dirinya (Who Am I) yang selanjutnya disebut personal skill. Kemudian pada tingkatan sekolah dasar dan menengah pertama bertujuan untuk membentuk pribadi yang mampu mengenal potensi diri dan lingkungannya . ocial skil. Sedangkan pada tingkatan sekolah menengan umum (SMA/SMU) adalah membentu pribadi yang memiliki kecerdasan inteletual pengetahuan dan lain sebagainya . cademic skil. , serta untuk sekolah kejuruan (SMK) tuntutannya adalah pada ketrampilan kejuruan . ocational skil. Atas perbedaan jenjang dan jenis pendidikan di atas, maka sudah seharusnya pelaksanaan sistem full day school meperhatikan perbedaan-perbedaan tersebut. Anak-anak usia sekolah dasar adalah usia-usia di mana porsi bermain tentu lebih banyak daripada belajar, maka Aubermain dan BelajarAy akan cocok bagi mereka. Tujuan Full Day School Full day school mempunyai beberapa alasan untuk dipertimbangkan dari segi edukasi siswa. Banyak alasan tersebut Ismatul Izzah. Relevansi Sistem Full Day School dengan Pendidikan Karakter Anak . | 7 diantaranya banyak orang tua terlalu sibuk bekerja sehingga tidak bisa mengawasi pendidikan putra-putrinya dengan maksimal. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi begitu cepat, sehingga jika tidak Kita akan menjadi korbannya, terutama dari tekhnologi informasi dan komunikasi. Oleh karena itu, full day school menjadi salah satu alternative untuk mengatasi hal tersebut. Baik dalam hal prestasi maupun hal moral. Karena dalam full day school yang diutamakan adalah pembentukan karakter untuk menanamkan nilai-nilai positif. Tujuan full day school diformat untuk memberikan dasar yang kuat untuk mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan/intelegence quotient (IQ). Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) dengan berbagai inovasi yang efektif dan actual. Sedangkan kurikulum full day school didesain untuk menjangkau masing-masing bagian dari perkembangan ini yakni untuk mengembangkan kreatifitas yang mencakup integritas dan kondisi tiga ranah, yakni: kognitif, afektif dan psikomotorik. Kualifikasi Lulusan Yustanto . 4 : . menyatakan bahwa lulusan full day school diharapkan memiliki kualifikasi sebagai berikut: Kepribadian Islam. Kepribadian islam tersusun atas dua unsure . Pola pikir (Aqliya. Siswa diharapkan memiliki pemahaman Islam yang baik. Yang akan menuntunnya untuk senantiasa berpikir islami. Pola sikap (Nafsiya. Siswa diharapkan memiliki pola nafsiyah Islamiyah, yaitu bertingkah laku sesuai ajaran Islam yang merupakan perwujudan ketaatan terhadap ajaran Islam dalam aspek ibadah, makanan, minuman, ahlaq, serta aqidah. Memiliki kamampuan pendukung seperti bahasa Arab. Bahasa Inggris, hafal Al-qurAoan dan lain sebagainya. Ilmu Kehidupan. Siswa memiliki penguasaan ilmu kehidupan yang cukup sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Siswa memiliki kemampuan dasar manajemen dan 8 | At-TaAolim Volume i. Nomor II. Juni 2017 kepemimpinan yang aplikatif, yang akan mendorongnya untuk bersikap mandiri dalam penerapan prinsip perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengontrolan kegiatan. Siswa telah mengenal berbagai pengetahuan dasar tentang berbagai jenis kegiatan produktif yang dapat dikembangkan. Tinjauan Tentang Pendidikan Karakter Anak Pengertian Pendidikan Karakter Pada hakikatnya, pendidikan adalah suatu proses yang berlangsung secara kontinu dan kesinambungan. Islam mengajarkan bahwa pendidik pertama dan utama adalah orang tua sendiri yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak kandungnya . eserta didi. Firman Allah SWT (QS. AuHai orang-orang yang beriman, periharalah diri dan keluargamu dari api nerakaAy. Mengingat keterbatasan orang tua dalam memberikan pendidikan di rumah karena harus mencari nafkah untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, maka orang tua kemudian menyerahkan anaknya kepada pendidik di sekolah untuk mendidik. Para pendidik merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak. Sekolah mempunyai peranan penting dalam pembentukan baik kepribadian, sikap, karakter dan peningkatan prestasi akademik. Sekolah adalah tempat terjadinya proses belajar mengajar. Adanya interaksi antara pendidik dengan siswa. Dengan berlangsungnya proses yang kontinu dan berkesinambungan, secara tidak langsung karakter atau kepribadian anak terbentuk. Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah Aubawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watakAy. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatakAy. Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2. , karakter mengacu kepada serangkaian sikap . , perilaku . , motivasi . , dan keterampilan . Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti Auto markAy atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan Arifuddin Arif. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam. Kultura (GP Press Grou. Jakarta: 2008. Hlm. Ismatul Izzah. Relevansi Sistem Full Day School dengan Pendidikan Karakter Anak . | 9 atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilainilai tersebut. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai Authe deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character developmentAy. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen . emangku pendidika. harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu perilaku warga sekolah yang dalam menyelenggarakan pendidikan harus berkarakter. Menurut T. Ramli . , pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Peranan Sekolah dalam Pembentukan Karakter Anak Sekolah bertanggungjawab bukan hanya dalam mencetak siswa yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam jati diri, karakter dan kepribadian. Dan hal ini relevan dan kontekstual Kemendiknas. Pembinaan Pendidikan Karakter di sekolah Menegah Pertama. Jakarta: 2010. http://ahmadsudrajat. Ibid 10 | At-TaAolim Volume i. Nomor II. Juni 2017 bukan hanya di negara-negara yang tengah mengalami krisis watak seperti Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara maju sekalipun . Fraenkel 1977: Kirschenbaum & Simon 1. Sekolah, pada hakikatnya bukanlah sekedar tempat Autransfer of knowledgeAy belaka. Seperti dikemukakan Fraenkel . 7: 1-. , sekolah tidaklah semata-mata tempat di mana guru menyampaikan pengetahuan melalui berbagai mata pelajaran. Sekolah juga adalah lembaga yang mengusahakan usaha dan proses pembelajaran yang berorientasi pada nilai . alue-oriented enterpris. Lebih lanjut. Fraenkel mengutip John Childs yang menyatakan, bahwa organisasi sebuah sistem sekolah dalam dirinya sendiri merupakan sebuah usaha moral . oral enterpris. , karena ia merupakan usaha sengaja masyarakat manusia untuk mengontrol pola perkembangannya. Pembentukan watak dan pendidikan karakter melalui sekolah, tidak bisa dilakukan semata-mata melalui pembelajaran pengetahuan, tetapi adalah melalui penanaman atau pendidikan nilai-nilai. Secara umum, kajian-kajian tentang nilai biasanya mencakup dua bidang pokok, estetika, dan etika . tau akhlak, moral, budi pekert. Estetika mengacu kepada hal-hal tentang dan justifikasi terhadap apa yang dipandang manusia sebagai AukeindahanAy, yang mereka senangi. Sedangkan etika mengacu kepada hal-hal tentang justifikasi terhadap tingkah laku yang pantas berdasarkan standar-standar yang berlaku dalam masyarakat, baik yang bersumber dari agama, adat istiadat, konvensi, dan sebagainya. Dan standar-standar itu adalah nilai-nilai moral atau akhlak tentang tindakan mana yang baik dan mana yang Lingkungan masyarakat luas jelas memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai estetika dan etika untuk pembentukan karakter. Dari perspektif Islam, menurut Quraish Shihab . 6: . , situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada Aukini dan di siniAy, maka upaya dan ambisinya terbatas pada kini dan di sini pula. Dalam konteks itu, al-QurAoan dalam banyak ayatnya menekankan tentang kebersamaan anggota masyarakat menyangkut pengalaman sejarah yang sama, tujuan bersama, gerak langkah yang sama, solidaritas yang sama. Di sinilah, tulis Quraish Shihab, muncul gagasan Ismatul Izzah. Relevansi Sistem Full Day School dengan Pendidikan Karakter Anak . | 11 dan ajaran tentang amar ma`ruf dan nahy munkar. dan tentang fardhu kifayah, tanggung jawab bersama dalam menegakkan nilai-nilai yang baik dan mencegah nilai-nilai yang buruk. Usaha pembentukan watak di sekolah, melalui pendidikan karakter berbarengan dengan pendidikan nilai dengan langkahlangkah sebagai berikut: Menerapkan pendekatan AumodellingAy atau AuexemplaryAy atau Auuswah hasanahAy. Yakni mensosialisasikan dan membiasakan lingkungan sekolah untuk menghidupkan dan menegakkan nilainilai akhlak dan moral yang benar melalui model atau teladan. Setiap guru dan tenaga kependidikan lain di lingkungan sekolah hendaklah mampu menjadi Auuswah hasanahAy yang hidup . iving exemplar. bagi setiap siswa. Mereka juga harus terbuka dan siap untuk mendiskusikan dengan siswa tentang berbagai nilai-nilai yang baik tersebut. Menjelaskan atau mengklarifikasikan kepada siswa secara terus menerus tentang berbagai nilai yang baik dan yang buruk. Usaha ini bisa dibarengi pula dengan langkah-langkah. dan menumbuhsuburkan . nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah . berlakunya nilai-nilai yang buruk. nilai-nilai yang baik dan buruk secara terbuka dan kontinu. memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih berbagai alternatif sikap dan tindakan berdasarkan nilai. melakukan pilihan secara bebas setelah menimbang dalamdalam berbagai konsekuensi dari setiap pilihan dan tindakan. membiasakan bersikap dan bertindak atas niat dan prasangka baik . usn al-zha. dan tujuan-tujuan ideal. membiasakan bersikap dan bertindak dengan pola-pola yang baik yang diulangi secara terus menerus dan konsisten. Menerapkan pendidikan berdasarkan karakter . haracter-based Hal ini dilakukan dengan menerapkan character-based approach ke dalam setiap mata pelajaran nilai yang ada di samping mata pelajaran-mata pelajaran khusus untuk pendidikan karakter, seperti pelajaran agama, pendidikan kewarganegaraan (PK. , sejarah. Pancasila dan sebagainya. Memandang kritik terhadap mata pelajaran-mata pelajaran terakhir ini, perlu dilakukan reorientasi baik dari segi isi/muatan dan pendekatan, sehingga 12 | At-TaAolim Volume i. Nomor II. Juni 2017 mereka tidak hanya menjadi verbalisme dan sekedar hapalan, tetapi betul-betul berhasil membantu pembentukan kembali karakter dan jati diri bangsa. Kesiapan dan Keterlibatan Guru dan Tenaga Kependidikan dalam Pembiasaan Siswa Sebelum guru membentuk karakter siswanya, maka guru harus manjadikan dirinya sebagai orang yang berkarakter kuat terlebih dahulu, sebelum dia ahirnya melahirkan murid-murid yang berkarakter kuat melalui contoh dan keteladanan. (Hamka, 2012: . Keterlibatan pendidik dalam kegiatan pembiasaan siswa dapat memunculkan keteladanan tenaga pendidik. Tanpa adanya keterlibatan tenaga pendidik dalam kegiatan pembiasaan siswa, maka tidak ada nilai-nilai keteldanan yang bisa ambil oleh siswa dalam upaya pembentukan karakternya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam keterlibatan guru dalam pembentukan karakter antara lain: Guru berkualifikasi. Guru memiliki integrasi pendidikan karakter yang dilakukan dengan cara mengaitkan nilai-nilai karakter pada materi pembelajaran yang diampunya. Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter Pembentukan karakter merupakan bagian dari pendidikan nilai . alues educatio. melalui sekolah merupakan usaha mulia yang mendesak untuk dilakukan. Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu . Religius. Jujur. Toleransi. Disiplin. Kerja Keras. Kreatif. Mandiri. Demokratis. Rasa Ingin Tahu. Semangat Kebangsaan. Cinta tanah air. Menghargai prestasi. Bersahabat/komunikatif. Cinta Damai. Gemar membaca. Peduli lingkungan. Peduli sosial. Tanggung jawab. Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal Sutiyono. Pd. http://w. net/2013/07/peranan-sekolahdan-keluarga-dalam-membentuk-karakter-siswa. html#ixzz4ddHSsRT3. Diakses pada 8 April 2017. Ismatul Izzah. Relevansi Sistem Full Day School dengan Pendidikan Karakter Anak . | 13 character development . saha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal. Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan, metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman. Relevansi Full Day School Dengan Pendidikan Karakter Anak Full day school berasal dari Bahasa Inggris, yakni fullday artinya hari sibuk,13 sedangkan school artinya sekolah14 jadi full day school merupakan sekolah Aupendidikan sepanjang hariAy yang pembelajarannya tidak hanya di kelas, tetapi terintegrasi dengan program kurikulum dengan seluruh sisi-sisi kehidupan anak selama mereka di sekolah. 15 Karakter/kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari suatu sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas. Pembentukan karakter/kepribadian anak, pembentukan berarti proses, perbuatan, cara membentuk. Arti kata relevansi menurut kamus besar Bahasa Indonesia hubungan atau kaitan. Dengan diberlakukan FDS, secara otomatis kegiatan siswa banyak di sekolah. Keterkaitan FDS dan pembinaan karakter anak terjalin dengan adanya pembelajaran penuh di sekolah, pemantapan-pemantapan materi lebih banyak, penguatan-penguatan sikap kepribadian melalui berbagai macam kegiatan pembinaan ahlak bisa terwujud dengan baik. Oleh karena itu Penguatan Pendidikan Karakter dengan pemberlakuan FDS bagi peserta didik disekolah merupakan program Sutiyono. Pd. http://w. net/2013/07/peranan-sekolahdan-keluarga-dalam-membentuk-karakter-siswa. html#ixzz4ddHSsRT3. Diakses pada 8 April 2017. John M. Echols and Hassan shadily. Kamus Inggris-Indonesia. Cet. XXVI. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta, 1976. Hlm. Ibid, hlm 504. Zeni Zauhari Sani. Open House Salaman Al-farisi Full Day School. ttp:// sd-almuttaqin-tasikmalaya. id/index-file/page. Diakses tanggal 3 April 2017. Koswara. Teori-Teori Kepribadian. (Bandung: PT. eresco, 1. , hlm 11. Ummu Chulsum S. Pd dan Windi Novia. Pd, kamus besar Bahasa Indonesia, (Surabaya. 14 | At-TaAolim Volume i. Nomor II. Juni 2017 yang harus didukung oleh seluruh komponen masyarakat, dari kajian singkat ini maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : Untuk penguatan pendidikan karakter bagi peserta didik maka para pendidik (Gur. harus mampu memberikan pendidikan karakter melalui mata pelajaran dan program pendidikan di Peserta didik difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dan mengembangkan sikap melalui kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber . ilai yang ditanamkan : mandiri, berfikir logis, kreatif, kerjasam. Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain . ilai yang ditanamkan : kreatif, kerja kera. Peserta didik diberi peluang untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan serta sikap lebih lanjut melalui sumber-sumber dan kegiatan-kegiatan pembelajaran lainnya sehingga pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik lebih luas dan dala. Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna . ilai yang ditanamkan : cinta ilmu, kreatif, logi. Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis . ilai yang ditanamkan : kreatif, percaya diri, kritis, saling menghargai, santu. Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut . ilai yang ditanamkan : kreatif, percaya diri, kriti. 18 Penutup Sistem full day school dalam pembentukan karakter anak tidak akan bisa terwujud dengan baik jika setiap elemen pendidikan tidak saling mendukung. Baik pemerintah dan sekolah-sekolah dalam meningkatkan program-program pendidikan, fasilitas, sarana dan Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama, hal 37 s/d hal 41. Jakarta - Kemendiknas 2010. Ismatul Izzah. Relevansi Sistem Full Day School dengan Pendidikan Karakter Anak . | 15 prasarana yang memadai, orang tua siswa juga ikut mendukung diberlakukannya sistem ini. Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan melakukan langkah-langkah kebijakan yang mampu menterjemahkan visi Presiden Joko Widodo di bidang pendidikan seperti yang tercantum dalam Nawacita dengan arif dan bijaksana tanpa menimbulkan polemik dimasyarakat, namun yang terpenting adalah terjaminnya kualitas pendidikan putra-putri bangsa Indonesia melalui sistem pendidikan nasional guna meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Sesuai amanat UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional maka Sistem Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan. 16 | At-TaAolim Volume i. Nomor II. Juni 2017 DAFTAR PUSTAKA