Tantangan dan Strategi Pendidikan Agama Islam dalam Membangun Integritas Moral Pemuda Muslim di Era Globalisasi Yelly Anisa Institut Agama Islam Negeri Kerinci. Indonesia yellyanisa@gmail. Pristian Hadi Putra Institut Agama Islam Negeri Kerinci. Indonesia fristianhp87@gmail. Abstract In the era of globalization, the morality of Muslim youth is threatened by various negative influences such as social media, foreign cultures, and values that contradict Islamic teachings. Unfortunately. Islamic religious education, which should serve as a moral fortress, is facing various This research aims to identify the challenges and strategies of Islamic religious education in building the moral integrity of Muslim youth in the era of globalization. This research is a qualitative study using a literature review approach, with data collection techniques including documentation, where the researcher gathers data from various sources such as books, journals, and articles. The results of the study indicate that Islamic religious education faces several major challenges, including the influence of foreign cultures, the rapid development of technology and social media, and the identity crisis among Muslim youth. To address these challenges. Islamic religious education needs to take several steps, such as developing a curriculum that is relevant to the times while still adhering to Islamic values, improving the quality of religious teachers, and collaborating with parents and the community. If these strategies are effectively implemented, it is expected that Islamic religious education will produce Muslim youth with strong character who are able to face the challenges of the times. Muslim youth with good character will become future leaders who bring positive change to the Muslim community. Keywords: Challenges. Strategies. Moral Integrity. Globalization. Abstrak Di era globalisasi, moralitas pemuda muslim terancam oleh berbagai pengaruh buruk seperti media sosial, budaya asing, dan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam. Sayangnya, pendidikan agama Islam yang seharusnya menjadi benteng moral justru menghadapi berbagai Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dan strategi pendidikan agama Islam dalam membangun integritas moral pemuda muslim di era globalisasi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (Library Researc. Hasan Baharun. Imroatus Sholihah. Ombra A. Imam: Optimizing the Quality of Anti-Bullying Education Services in Islamic Boarding Schools teknik pengumpulan data yaitu dokumentasi dimana peneliti mengumpulkan data dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam menghadapi beberapa tantangan utama, yaitu pengaruh budaya asing, perkembangan teknologi dan media sosial yang sangat cepat, serta krisis identitas pada diri pemuda Muslim. Untuk mengatasi tantangan tersebut, pendidikan agama Islam perlu melakukan beberapa hal, seperti membuat kurikulum yang sesuai dengan zaman namun tetap berpegang pada nilainilai Islam, meningkatkan kualitas para guru agama, serta bekerja sama dengan orang tua dan masyarakat. Jika strategi-strategi tersebut diterapkan dengan baik, diharapkan pendidikan agama Islam dapat mencetak pemuda Muslim yang memiliki karakter kuat dan mampu menghadapi tantangan zaman. Pemuda Muslim yang berkarakter baik akan menjadi pemimpin masa depan yang membawa perubahan positif bagi umat Islam. Kata Kunci: Tantangan. Strategi. Integritas Moral. Globalisasi. Pendahuluan Di era globalisasi yang serba cepat ini, pendidikan Islam menghadapi tantangan Hal ini disebabkan oleh derasnya arus informasi yang tak terbendung, yang sulit disaring tanpa adanya pembatasan akses bagi generasi muda. Kemudahan teknologi masa kini membawa dampak negatif, yaitu penyebaran informasi yang tidak bermanfaat dan berpotensi merusak moral generasi muda, seperti pornografi, terorisme, dan anarkisme (Mardiah Astuti et al. , 2. Globalisasi bagaikan pisau bermata dua bagi dunia pendidikan. Di satu sisi, ia membuka gerbang pengetahuan global, namun di sisi lain, ia juga menghadirkan potensi bahaya, seperti paparan budaya sekuler dan nilai-nilai yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Pendidikan menjadi pondasi utama kemajuan bangsa, di mana ia memegang peran krusial dalam membentuk karakter dan spiritualitas individu. Era globalisasi, dengan segala kemajuan teknologinya dan dinamika sosial yang terus berkembang, menghadirkan berbagai tantangan signifikan bagi sistem pendidikan di Indonesia. Memahami tantangan-tantangan ini secara mendalam menjadi kunci untuk merumuskan solusi tepat guna dalam memadukan nilai-nilai Islam dengan kebutuhan zaman (Roni et al. , 2. Di era globalisasi ini, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat bagaikan badai yang tak terbendung, membawa transformasi besar pada tatanan sosial dan moral akibat arus globalisasi yang kian deras. Di pusaran arus globalisasi yang kian deras, generasi muda terjerumus dalam berbagai tindakan tak terpuji, seperti tawuran pelajar yang tak kunjung usai, pergaulan bebas di kalangan remaja, seks bebas yang mengkhawatirkan, penyalahgunaan narkoba bagaikan permen karet, penyimpangan seksual yang tak terbayangkan, dan rendahnya akhlak. Hilangnya kasih sayang orang tua memperparah krisis moral ini, dan jika dibiarkan, bangsa dan negara akan menanggung akibat fatal (Bayuseto et al. , 2. Menyikapi kemerosotan moral yang memprihatinkan, pendidikan islam hadir sebagai solusi fundamentel untuk membendung gelombang kemerosotan dan membanngun generasi berakhlak mulia. Pendidikan islam tidak hanya berfokus pada transfer ilmu agama saja tetapi pendidikan islam juga menekankan pada penanamanan POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 Yelly Anisa. Pristian Hadi Putra: Tantangan dan Strategi Pendidikan Agama Islam dalam Membangun Integritas Moral Pemuda Muslim di Era Globalisasi nilai-nilai moral dan pembentukan karakter mulia, sehingga melahirkan generasi yang tangguh dalam menghadapi tantangan moral di era globalisasi ini. Pendidikan Islam menitikberatkan pada pengembangan karakter dan akhlak mulia dalam diri individu, sesuai dengan tuntunan Islam. Baik fisik . maupun non-fisik . secara seimbang dan optimal. Pendidikan Islam memupuk hubungan baik antara individu dengan Allah SWT, sesama manusia, dan alam semesta. Pendidikan lebih difokuskan pada perbaikan sikap mental yang tercermin dalam tindakan, baik untuk kepentingan pribadi maupun orang lain. Pendidikan Islam adalah proses bimbingan dan pembinaan yang optimal, diberikan kepada seseorang melalui ajaran Islam, agar individu tersebut tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan yang diinginkan . emas masAoud ali. Masa era globalisasi, umat Islam di negara-negara berkembang dihadapkan pada transformasi budaya yang membawa dampak positif dan negatif. Salah satu dampak yang terlihat jelas adalah perubahan perilaku generasi muda muslim, terutama dalam hal gaya hidup. Pengaruh budaya barat seperti gaya pakaian hollywood, telah merasuki kalangan remaja dan mahasiswa muslim, bahkan memicu kecanduan yang berlebihan. Hal ini menyebabkan pudarnya nilai-nilai akhlakul karimah dan gaya hidup Islami yang seharusnya menjadi identitas mereka. Lebih memprihatinkan lagi, di beberapa sekolah, menjelang kelulusan, acara fashion show lebih diutamakan daripada kajian-kajian Islami. Fenomena ini menunjukkan pergeseran nilai dan kehilangan identitas Islam di kalangan generasi muda (Bayuseto et al. , 2. Pendidikan bagaikan fondasi kokoh dalam membangun bangsa yang unggul. Visi pendidikan yang lebih luas tidak hanya mencakup aspek akademik, tetapi juga nilai-nilai dan karakter. Generasi muda berintegritas tidak hanya mampu mencapai keberhasilan akademik, tetapi juga mampu mengambil keputusan yang tepat, berkontribusi pada kemajuan masyarakat, dan menjaga nilai moral yang kental. Kualitas pendidikan yang diberikan kepada generasi muda menjadi faktor penentu dalam mencapai visi kemajuan dan kesejahteraan bagi suatu bangsa dan negara. Pendidikan berkualitas tidak hanya mempengaruhi kemajuan akademik mereka, tetapi juga membentuk karakter, nilai-nilai moral, dan integritas yang akan mereka bawa ke dalam masyarakat saat mereka dewasa nanti (Ardiansyah & Iswahyudi, 2. Integritas bagaikan fondasi moral yang menuntun setiap individu dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Dikala dihadapkan pada tekanan eksternal yang dapat memengaruhi tindakan, individu berintegritas mampu bertahan dengan teguh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), integritas berarti mutu, sifat, dan keadaan yang menggambarkan kesatuan yang utuh, sehingga memiliki kejujuran dan prinsip moral yang kuat. Dengan kata lain, integritas menjadikan individu teguh pada pendiriannya dan bertindak berdasarkan nilai-nilai moral yang dipegang teguh, bahkan saat dihadapkan pada godaan atau tekanan (Ardiansyah & Iswahyudi, 2. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Era globalisasi membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk nilai dan moralitas pemuda. Di satu sisi, globalisasi membuka akses informasi dan teknologi. Namun, di sisi lain, globalisasi juga menyebarkan nilai-nilai budaya yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai Islam. Fenomena ini menghadirkan tantangan bagi pendidikan agama Islam dalam menjaga dan membangun integritas moral pemuda muslim. Pendidikan agama Islam harus mampu membekali generasi muda dengan pemahaman Islam yang kokoh dan kemampuan untuk membedakan nilai-nilai positif dari negatif di era globalisasi. POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 | 119 Hasan Baharun. Imroatus Sholihah. Ombra A. Imam: Optimizing the Quality of Anti-Bullying Education Services in Islamic Boarding Schools Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami bagaimana pendidikan islam membangun integritas pemuda muslim di era globalisasi. Artikel ini akan menjelaskan tentang tantangan pendidikan agama islam dalam membangun integritas moral pemuda muslim di era globalisasi serta bagaimana strategi yang dilakukan pendidikan agama islam dalam membangun integritas moral pemuda muslim di era globalisasi. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka . ibrary researc. , di mana peneliti mengumpulkan data dan informasi dari berbagai sumber pustaka. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ide dan gagasan baru, serta memperkaya pengetahuan yang telah ada. Dengan demikian, kerangka teori baru dapat dikembangkan untuk menyelesaikan masalah yang diteliti (Nasiri, 2. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dokumentasi, dimana peneliti menggunakan berbagai jenis dokumen seperti buku, jurnal, surat kabar, majalah, dan bahan-bahan lain yang relevan sebagai referensi. Dalam penelitian kualitatif, teknik ini menjadi alat utama untuk mengumpulkan data (Basri & Arifin, 2. Hasil Penelitian dan Pembahasan Di era globalisasi ini moral pemuda muslim kian merosat hal ini di sebabkan oleh berbagai acara di media sosial yang tidak berkualitas, seperti acara gosip dan media sensasional lainnya. Acara-acara ini memperbolehkan pergaulan bebas, mempromosikan alkohol dan narkoba sebagai hal yang menarik, serta menunjukkan perselingkuhan dan perzinahan yang merajalela, termasuk kekerasan dalam rumah Hal ini akan berdampak pada perilaku tidak baik pada generasi muda, seperti terlibat dalam tawuran, pemerkosaan, kehamilan di luar nikah, pembegalan, pencopetan di mana-mana, penodongan, pembunuhan sadis, malas belajar, tidak memiliki semangat, dan rendahnya moral. Krisis moral ini berkaitan dengan kepribadian seseorang yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan berbagai aplikasi canggih yang mempermudah akses ke berbagai hal. Melihat kemewahan yang menggoda jiwa anak muda sangat mempengaruhi moral mereka. Saat ini, sangat jarang ditemukan anak muda yang berbicara dengan sopan, berpakaian sederhana dan nyaman dilihat, serta peduli dengan lingkungan sosial. Oleh karena itu, diperlukan pembekalan dari berbagai sumber pengetahuan, termasuk pendidikan agama yang mutakhir dan mudah dimengerti, agar mereka menjauhi dari hal-hal negatif, memiliki jiwa penuh cinta dan semangat, membenci hal-hal yang jorok, dan menghindari perbuatan bodoh. Pendidikan agama islam memegang peran penting dalam membangun karakter dan moral generasi muda muslim. Akan tetapi, di era globalisasi pendidikan agama islam memiliki tantangan yang cukup komplek yang harus dihadapi. Adapun tantangan tersebut sbb: Pengaruh budaya asing Globalisasi membawa masuk berbagai budaya asing yang dapat mempengaruhi nilai-nilai dan perilaku pemuda Muslim. Nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam dapat merusak integritas moral pemuda (Roni et al. , 2. Perkembangan teknologi dan media sosial Informasi yang tidak terfilter dapat memberikan pengaruh negatif pada pembentukan moral pemuda dan Penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 Yelly Anisa. Pristian Hadi Putra: Tantangan dan Strategi Pendidikan Agama Islam dalam Membangun Integritas Moral Pemuda Muslim di Era Globalisasi memicu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam (Hernawati & Mulyani. Radikalisasi dan Ekstrimisme Radikalisasi dan ekstremisme berpotensi menjerumuskan generasi muda Muslim ke dalam ideologi yang sempit dan destruktif, mengancam stabilitas sosial. Pendidikan agama Islam yang komprehensif menjadi benteng pertahanan yang efektif melawan penyebaran paham-paham tersebut (Aziz, 2. Degradasi Moral Degradasi moral, yang ditandai dengan penurunan kualitas budi pekerti dan maraknya perilaku menyimpang seperti tawuran dan kriminalitas, menjadi masalah Untuk mengatasi hal ini, pendidikan agama Islam perlu lebih dioptimalkan dalam menanamkan nilai-nilai etika dan karakter yang baik, sehingga dapat membentuk generasi muda yang berakhlak mulia (Hidayat et al. , 2. Krisis indentitas Dalam masyarakat yang semakin multikultural, pemuda Muslim sering kali mengalami kebingungan identitas. Pendidikan agama harus membantu mereka memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Islam yang dapat membimbing mereka dalam berinteraksi dengan berbagai budaya tanpa kehilangan jati diri (Muliansyah. Untuk menghadapi tantangan globalisasi, pendidikan agama Islam perlu melakukan inovasi. Salah satunya adalah dengan melibatkan berbagai pihak dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, pendidikan agama dapat memberikan bekal yang komprehensif bagi generasi muda agar mampu menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Dalam buku pembelajaran pendidikan agama islam dalam konteks global tantangan pendidikan agama islam di era globalisasi sbb (Ningsih & Zalisman, 2. Nilai dan Modernitas Konflik antara ajaran Islam yang tradisional dan nilai-nilai modern yang sekuler menjadi tantangan utama dalam pendidikan agama Islam. Misalnya, konsep kebebasan individu yang seringkali dikaitkan dengan nilai-nilai modern bisa bertentangan dengan beberapa prinsip dalam Islam. Oleh karena itu, pendidikan agama Islam perlu menemukan keseimbangan yang tepat agar tetap relevan tanpa mengabaikan nilai-nilai Teknologi dan Media sosial Pendidikan agama Islam saat ini dihadapkan pada tantangan baru akibat pesatnya perkembangan teknologi informasi. Pendidik agama perlu menyadari bahwa media sosial dan internet memiliki pengaruh signifikan terhadap pola pikir pemuda muslim, terutama dalam hal pemahaman agama. Mereka harus mampu mengelola pengaruh tersebut agar tidak menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Diversifikasi Pendidikan Agama Islam Globalisasi membuat kita hidup bersama dengan orang-orang dari berbagai latar Hal ini membuat pemahaman tentang agama Islam menjadi lebih beragam. Pendidikan agama Islam harus bisa mengakomodasi keberagaman ini dengan cara yang Artinya, semua orang harus merasa diterima dan dihargai, terlepas dari latar belakang budaya mereka. Indentitas Keislaman Globalisasi menghadirkan tantangan bagi identitas keislaman generasi muda. Pendidikan agama Islam perlu memberikan landasan yang kokoh bagi generasi muda POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 | 121 Hasan Baharun. Imroatus Sholihah. Ombra A. Imam: Optimizing the Quality of Anti-Bullying Education Services in Islamic Boarding Schools agar mereka mampu mempertahankan keimanannya di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh budaya yang beragam. Kurikulum dan Metode Pengajaran Pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam di era globalisasi merupakan tantangan yang kompleks. Kurikulum harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai fundamental Islam dengan materi yang relevan dengan perkembangan zaman. Selain itu, metode pengajaran yang inovatif diperlukan untuk menarik minat generasi muda. Dalam jurnal Bakhri . , tantangan pendidikan islam di era globalisasi meliputi: . Ketidak jelasan tujuan dan arah pendidikan Islam yang ideal. Sistem pengelolaan yang belum optimal dalam menentukan kebijakan dan strategi pendidikan. Kurangnya kualitas lulusan yang mampu bersaing di dunia kerja. Dalam jurnal Suriana . , tantangan pendidikan agama islam di era globalisasi yaitu: . di era globalisasi ini individu yang taat beragama akan semakin sulit mempertahankan keimanannya di tengah arus pemikiran yang sekuler dan rasional. Nilai-nilai kebersamaan dan toleransi yang sudah tertanam dalam masyarakat akan terancam oleh munculnya pandangan hidup yang individualistis, sekuler, dan materialistis. Hal ini dapat menyebabkan hubungan antar individu, masyarakat, dan keluarga menjadi renggang. Seseorang yang memiliki perilaku yang baik akan dihadapkan pada situasi sosial yang semakin longgar dan tidak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Kondisi ini dapat mengancam kelestarian nilai-nilai luhur yang selama ini dipegang teguh. Era globalisasi yang ditandai dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi telah membentuk pola pikir manusia yang lebih rasional dan pragmatis. Konsekuensinya, aspek emosional manusia cenderung terpinggirkan dan nilai-nilai religius dianggap tidak relevan dengan tuntutan zaman modern. Keadaan ini membuat pendidikan agama Islam menghadapi tantangan besar. Bukan hanya sekolah agama, tapi semua orang harus ikut berperan agar umat Islam tetap bisa hidup sesuai dengan ajaran agama di era globalisasi ini. Sedangkan dalam jurnal Nasiri, . tantangan pendidikan islam di era globalisasi yaitu sebagai berikut: Krisis moral-akhlak Krisis moral yang dipicu oleh konten media yang tidak sehat merupakan salah satu tantangan utama yang dihadapi pendidikan agama Islam dalam era globalisasi. Paparan terus-menerus terhadap tayangan yang mempromosikan pergaulan bebas, kekerasan, dan perilaku menyimpang lainnya telah berdampak buruk pada moral generasi muda, yang tercermin dalam meningkatnya angka kejahatan di kalangan Fungsi keluarga Fungsi keluarga sebagai institusi sosial saat ini mengalami disfungsi yang serius. Meningkatnya angka perceraian, perselingkuhan, dan kasus kekerasan dalam rumah tangga, serta maraknya perilaku menyimpang di kalangan remaja, menunjukkan bahwa keluarga tidak lagi mampu menjalankan peran idealnya dalam mendidik anak. Akibatnya, banyak anak yang terjerumus dalam kehidupan yang destruktif dan jauh dari nilai-nilai keagamaan. Lemahnya learning society Peran masjid, musholla, dan sejenisnya sebagai pusat pembelajaran agama semakin terkikis oleh pengaruh budaya populer dan gaya hidup modern. Padahal, tempat-tempat ibadah ini memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan learning society dalam konteks pendidikan agama Islam. Meningkatnya nilai-niali sejuker dan liberal POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 Yelly Anisa. Pristian Hadi Putra: Tantangan dan Strategi Pendidikan Agama Islam dalam Membangun Integritas Moral Pemuda Muslim di Era Globalisasi Sekularisme dan liberalisme, dua ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar Islam, telah menjadi tantangan serius bagi pendidikan agama. Sekularisme yang menjauhkan agama dari kehidupan publik, dan liberalisme yang memberikan interpretasi subjektif terhadap teks agama, bertentangan dengan pandangan Islam yang mengintegrasikan agama dalam seluruh aspek kehidupan dan menekankan pada pemahaman teks agama yang mendalam dan komprehensif. Masih kuatnya managemen patriarki Keberadaan manajemen patriarki dalam pendidikan Islam menjadi tantangan Pandangan yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinasi ini dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan agama Islam. Pendidikan islam memiliki peran sentral dalam menyusun berbagai strategi untuk menghadapi tantangan globalisasi dan membentuk pemuda muslim yang berintegritas. Untuk membangun integritas moral pemuda muslim di era globalisasi, pendidikan agama islam perlu menyusun strategi yang komperansif. Adapun strategi pendidikan Islam dalam membangun integritas moral pemuda Muslim di era globalisasi, seperti yang dikemukakan oleh Romlah & Rusdi . , melibatkan berbagai pendekatan holistik yang mencakup aspek kurikulum, kualitas guru, penggunaan teknologi, peran orang tua dan masyarakat, adaptasi terhadap konteks sosial, serta pengamatan dan evaluasi terus-menerus. Pertama, membangun kurikulum yang relevan menjadi fondasi utama, di mana kurikulum Pendidikan Agama Islam harus responsif terhadap perkembangan zaman dan kebutuhan siswa. Kurikulum idealnya mengintegrasikan pemahaman mendalam tentang ajaran Islam, nilai-nilai luhur agama, serta isu-isu terkini yang relevan dengan dunia Implementasi metode pembelajaran yang interaktif, inovatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari sangat penting untuk meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar. Kedua, peningkatan kualitas guru dan tenaga pendidik juga merupakan elemen krusial. Guru pendidikan agama Islam tidak hanya harus memiliki pemahaman mendalam tentang ajaran Islam, tetapi juga kemampuan mengajar yang Dalam konteks ini, guru perlu terus belajar dan meningkatkan kompetensinya agar dapat menghadapi tantangan pendidikan di era globalisasi. Selain itu, mereka harus mampu menyampaikan materi secara menarik dan relevan bagi generasi muda. Ketiga, manfaatkan teknologi dan media sebagai alat pendukung pembelajaran. Teknologi seperti platform e-learning, media sosial, dan aplikasi mobile dapat digunakan untuk meningkatkan daya tarik pembelajaran agama. Melalui teknologi, ajaran Islam dapat diakses lebih luas dan dipahami dengan cara yang lebih dinamis dan interaktif, sehingga sesuai dengan gaya hidup generasi digital saat ini. Keempat, peran orang tua dan masyarakat sangat penting dalam membentuk integritas moral pemuda Muslim. Kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat adalah kunci sukses dalam pendidikan agama anak. Orang tua perlu aktif mendukung pendidikan agama di rumah, sementara masyarakat dapat memberikan dukungan melalui berbagai kegiatan keagamaan yang memperkuat pondasi nilai-nilai agama dalam kehidupan Kelima, menghadapi tantangan kontekstual dengan fleksibilitas menjadi salah satu prinsip penting. Pendidikan Agama Islam harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan sosial dan budaya yang dinamis. Kurikulum dan metode pengajaran perlu terus diperbarui agar tetap relevan dengan zaman, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dasar agama. Pendekatan yang relevan, integrasi isu-isu terkini dengan nilai-nilai agama, serta pemahaman mendalam tentang ajaran Islam dalam berbagai konteks sosial menjadi kunci keberhasilan dalam menghadapi tantangan ini. POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 | 123 Hasan Baharun. Imroatus Sholihah. Ombra A. Imam: Optimizing the Quality of Anti-Bullying Education Services in Islamic Boarding Schools Terakhir, pengamatan dan evaluasi secara terus-menerus sangat penting untuk memastikan efektivitas pendidikan agama. Proses dan hasil pendidikan agama harus terus dievaluasi untuk mengidentifikasi kekurangan dan kelebihan dalam pelaksanaan Keterlibatan peserta didik, orang tua, dan pihak terkait lainnya dalam proses evaluasi sangat penting untuk mendapatkan masukan yang menyeluruh dan memungkinkan perbaikan yang tepat waktu. Dengan pendekatan holistik ini, diharapkan integritas moral pemuda Muslim dapat terus ditingkatkan dalam era globalisasi yang Dalam jurnal Alfian & Ilma . , baharudin mengemukakan beberapa strategi dalam mengatasi tantangan pendidikan islam di era globalisasi antara lain sebagai berikut: . Di era globalisasi ini. Pendidikan agama seharusnya lebih fokus pada pembentukan karakter yang saleh dalam kehidupan sehari-hari daripada hanya pada pelaksanaan ritual keagamaan. Hal ini sejalan dengan tuntutan zaman modern yang menuntut tidak hanya iman, tetapi juga kemampuan bersaing. Pendidikan Islam berkewajiban menghasilkan generasi yang memiliki pandangan pluralistik, mampu berinteraksi secara harmonis dalam keberagaman internal maupun eksternal. Pengembangan nilai-nilai pluralisme merupakan komponen esensial dalam upaya mewujudkan masyarakat madani yang demokratis, inklusif, dan beradab. Keberagaman harus selalu dipandang sebagai anugerah yang memperkaya kehidupan bersama, bukan sebagai sumber konflik. Masyarakat madani yang ideal adalah masyarakat yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi, kemampuan untuk berpikir kritis, dan semangat untuk terus belajar dan berkembang. Proses pendidikan perlu diarahkan pada pembentukan generasi yang mampu berpartisipasi aktif dalam dinamika global. Oleh karena itu, kurikulum pendidikan harus relevan dengan tren dan tantangan global Menurut Abudin Nata dalam jurnal Primayanti, . ada beberapa strategi yang dapat dilakukan pendidikan agama islam untuk menghadapi tantangan globaliasi sebagai berikut: . kualitas pendidikan secara keseluruhan harus ditingkatkan. Ini meliputi peningkatan kualitas guru dan dosen, perbaikan metode pembelajaran, penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, dan penyediaan fasilitas yang memadai. pengelolaan pendidikan perlu dilakukan dengan lebih baik melalui penerapan konsep Manajemen Mutu Terpadu. sumber pendanaan pendidikan perlu diperluas agar tidak hanya bergantung pada pemerintah. Dalam konteks globalisasi yang kompleks, pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan besar untuk melakukan transformasi internal secara strategis (Pewangi, 2. Salah satu persoalan krusial yang perlu segera dibenahi adalah dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, yang telah lama mengakar dalam sistem pendidikan Islam. Pewangi . menyoroti bahwa dikotomi ini telah menciptakan dualisme dalam pendidikan, dimana ilmu agama dan ilmu umum dipandang sebagai dua entitas terpisah, tanpa integrasi yang menyeluruh. Ahmad Syafi'i Ma'arif berpendapat bahwa jika dikotomi ini dapat diatasi, maka akan terjadi perubahan fundamental dalam wajah pendidikan Islam. Integrasi pendidikan agama dan umum harus dilakukan tidak hanya pada tataran institusional, tetapi juga pada level filosofis dan epistemologis. Hal ini penting agar siswa mampu memahami kedua aspek tersebut secara holistik, sehingga mereka tidak lagi dipisahkan oleh batas-batas yang buatan, melainkan dilihat sebagai bagian dari kesatuan nilai-nilai Islam yang universal. Selain dikotomi, lembaga pendidikan Islam juga perlu merevisi tujuan dan fungsinya untuk menjawab kebutuhan masyarakat Muslim modern. Ada beberapa POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam. Vol. No. JanuariAeJuni 2025 Yelly Anisa. Pristian Hadi Putra: Tantangan dan Strategi Pendidikan Agama Islam dalam Membangun Integritas Moral Pemuda Muslim di Era Globalisasi model pendidikan Islam yang dapat menjadi acuan, seperti pendidikan yang sangat fokus pada agama untuk mencetak ahli agama, pendidikan yang menggabungkan ilmu agama dan umum untuk mencetak individu cerdas dan beragama, pendidikan yang meniru model modern dengan nilai-nilai Islam, serta pendidikan yang sepenuhnya mandiri sesuai dengan nilai-nilai Islam dan budaya Indonesia. Model-model ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam harus fleksibel dan relevan dengan konteks sosial, budaya, dan ekonomi saat ini. Tujuan utamanya adalah mencetak individu yang mampu berpikir kritis dan mendalam, tidak hanya pasif menerima informasi, tetapi juga aktif dalam mengolah, menyesuaikan, dan menciptakan hal-hal baru berdasarkan pemahaman Islam. Dengan demikian, pendidikan Islam tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang religius, tetapi juga kreatif dan produktif dalam menghadapi tantangan zaman modern. Untuk mencapai tujuan tersebut, reformasi kurikulum atau materi pendidikan Islam menjadi langkah strategis yang tidak boleh dilewatkan. Pendidikan Islam memiliki cakupan luas yang meliputi hubungan manusia dengan Tuhan . imensi iman dan ketaata. serta hubungan manusia dengan dunia . imensi alam, masyarakat, dan pengembangan dir. Untuk memenuhi dimensi kedua ini, pendidikan Islam harus mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan kehidupan manusia modern. Reformasi kurikulum harus mencakup integrasi nilai-nilai Islam dalam pembelajaran ilmu umum, sehingga siswa dapat memahami konsep-konsep dunia nyata dengan landasan keyakinan agama. Namun, implementasi efektif dari gagasan-gagasan ini memerlukan dukungan dari berbagai elemen, termasuk sumber daya manusia pendidik yang kompeten, alokasi anggaran yang memadai, serta lingkungan sosial yang kondusif. Melalui pendekatan ini, diharapkan pendidikan Islam dapat memberikan kontribusi signifikan dalam membangun integritas moral pemuda Muslim, sehingga mereka mampu menjadi agen perubahan positif dan berkontribusi aktif dalam memajukan peradaban Islam di tengah dinamika globalisasi. Kesimpulan Perkembangan zaman yang pesat telah membawa dampak signifikan terhadap moral dan nilai-nilai keagamaan pemuda Muslim. Paparan budaya asing, informasi yang menyesatkan di media sosial, dan paham radikalisme menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Pendidikan agama Islam memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan moral mereka. Untuk itu, diperlukan kurikulum yang relevan, guru yang berkualitas, pemanfaatan teknologi yang efektif, serta dukungan dari keluarga dan Pendidikan agama Islam juga harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan isu-isu kontemporer, sehingga dapat mencetak generasi muda yang berintegritas, berilmu, dan mampu bersaing di era global. Referensi