Journal of Holistic and Health Sciences (Jurnal Ilmu Holistik dan Kesehata. ISSN 2548-9070 (Prin. ISSN 2548-9089 (Onlin. DOI: 10. 51873/jhhs. Volume 8. Nomor 2 . Identifikasi Drug-Related Problems (DRP. pada Terapi Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan di Klinik Swasta Kabupaten Sumedang Cszahreyloren Vitamia *1. Adinda Yusnita 1 1 Program Studi Farmasi. Akademi Farmasi Bumi SIliwangi * Korespondensi: Jl. Rancabolang No. Margahayu Raya. Bandung Email: cszahreyloren@gmail. ABSTRAK Latar belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang merupakan satu dari banyak penyakit degeneratif yang paling umum menyebabkan kematian di Indonesia. Salah satu wujud usaha yang bisa dilakukan tenaga kesehatan untuk mengurangi persentase kejadiannya adalah dengan dilakukannya pengkajian resep yang berguna untuk menghindari terjadinya drug related problems yang berpotensi menyebabkan tidak tercapainya hasil terapi yang optimal. Tujuan penelitian: mengidentifikasi dan menentukan karakteristik potensi kejadian DRPs pada pasien dengan terapi diabetes melitus di salah satu klinik swasta di kabupaten Sumedang. Metode penelitian: penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode total sampling secara retrospektif pada 100 rekam medis pasien pada periode Mei sampai Juli Identifikasi DRPs menggunakan klasifikasi DRPs Cipolle/Morley/Strand Hasil: Diperoleh hasil pasien diabetes melitus terbanyak adalah wanita. %) dan profil usia penderita terbanyak ada pada rentang umur 45-59 tahun sebesar 52%. Obat antihiperglikemik yang diresepkan dengan prevalensi tertinggi kombinasi obat oral antidiabetes yaitu golongan biguanida dan sulfonilurea . etformin glimepirid. sebanyak 41,82%. Potensi kasus DRPs ditemukan di 28 rekam medis pasien rawat jalan dengan kategori DRPs tidak butuh obat . %), butuh obat . ,4%), dosis kurang . ,3%), terapi tidak efektif . ,7%), dan kategori DRPs dosis berlebih. ,6%). Simpulan: Potensi kejadian DRPs ditemukan pada 28 dari 100 rekam medis pasien yang digunakan sebagai data penelitian. DRPs kategori tidak butuh obat merupakan kasus dengan kategori potensi DRPs terbanyak dengan total sebanyak 14 kasus . %). Keyword: Diabetes melitus. Drug Related Problems, obat antidiabetes ABSTRACT Background: Currently one of the leading causes of death in Indonesia, diabetes mellitus is a noncommunicable disease. One way of effort that can be done by health workers to reduce the percentage of occurrence is by conducting a prescription review that is useful for avoiding drugrelated problems that have the potential to cause optimal therapy results not to be achieved. Research purposes: to determine and assess the prevalence of DRPs in patients receiving treatment for diabetes mellitus at a private clinic in the Sumedang district. Research methods: This study is a descriptive study using a retrospective total sampling method on 100 patient medical records in the period May to July 2024. Identification of DRPs using the Cipolle/Morley/Strand DRPs classification Results: The findings indicated that 83% of patients with diabetes mellitus were female and based on age profiling the most DM patient in range of 45Ae59year was at 52%. The most prescribe oral antidiabetic drugs was the combination of Biguanide and Sulphonylureas group which is Metformine Glimepiride . 82%). The potential for DRPs occurrence was found in 28 medical records of outpatients with the categories of DRPs: unnecessary drug therapy . %), need for additional drug therapy . 2%), insufficient dose(Dosage too lo. 3%), ineffective drug therapy . 7%), and excessive dose (Dosage too hig. 6%). Received: 19 Desember 2024 | Final Revised: 29 Desember 2024 | Accepted: 29 Desember 2024 Published: 2 Januari 2025 Identifikasi Drug-Related Problems (DRP. pada Terapi Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan di Klinik Swasta Kabupaten Sumedang DOI: 10. 51873/jhhs. Conclusion: Potential DRPs were found in 28% of medical record samples of outpatients with diabetes mellitus therapy. DRPs in the category of unnecessary drug therapy are cases with the largest potential DRPs category with a total of 14 cases . %). Keywords: Diabetes mellitus. Drug Related Problems, antidiabetic drugs PENDAHULUAN DRPs (Drug related problem. atau masalah terkait obat secara definisi merupakan suatu masalah terkait dengan penggunaan obat yang mungkin timbul dari suatu kondisi pada pemberian terapi pasien sehingga berpotensi menyebabkan tidak tercapainya hasil terapi optimal. DRPs penurunan kualitas hidup pasien, waktu rawat inap yang lebih lama, biaya perawatan yang lebih tinggi, dan bahkan peningkatan risiko morbiditas dan komplikasi terkait obat. Komponen berkontribusi terhadap DRP adalah masalah resep obat, meskipun kepatuhan pasien yang buruk terhadap pengobatan juga merupakan komponen penting . Adanya intervensi yang tepat di setiap tahap terapi dan kerja sama dengan profesional kesehatan lainnya, para farmasis dapat memainkan peran penting dalam mengurangi insiden DRP . Diabetes melitus adalah gangguan peningkatan kadar glukosa darah berkaitan dengan penurunan sekresi insulin dan atau disfungsi insulin. Pada pasien diabetes. Kondisi hiperglikemia kronis berhubungan dengan terjadinya kerusakan atau kegagalan berbagai organ tubuh, gangguan fungsi, terutama pada pembuluh darah dan jantung . , mata . , saraf . , dan ginjal . International Diabetes Federation (IDF) di tahun 2021 telah mendata sebanyak 537 juta orang dewasa . alam rentang umur 20--79 tahu. menderita DM. Hal ini bermakna bahwa di seluruh dunia: 1 dari 10 orang hidup sebagai penderita DM. 6,7 juta kematian diakibatkan oleh DM, setara dengan satu kematian setiap 5 detik. Tiongkok tercatat sebagai negara dengan penduduk dewasa menderita DM tertinggi di dunia, dengan jumlah 140,87 juta penduduk Tiongkok di tahun 2021. Peringkat ke-dua, yaitu negara India yang memiliki data sebanyak 74,19 juta warga sebagai pengidap DM. Pakistan dengan jumlah 32,96 juta pengidap DM. Amerika Serikat sebanyak 32,22 juta jiwa dan peringkat kelima adalah Indonesia dengan 19,47 juta jiwa hidup dengan DM. Perhitungan rasio dengan total jumlah penduduk yang ada di Indonesia, membuat prevalensi DM di negara ini menyentuh angka 10,6%. Data dari IDF menyatakan 4 dari 5 penderita DM. %) berasal dari negara dengan angka pendapatan rendah dan menengah. Hal ini juga yang membuat IDF memprediksi kemungkinan ada 44% usia dewasa yang sebenarnya memiliki gangguan DM namun belum didiagnosis. Pengobatan memerlukan jangka waktu yang lama dalam penanganannya. Diperlukan penggunaan obat secara benar agar memberikan efek yang optimal. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah melalui pharmaceutical care. Contoh dari praktek penerapan pharmaceutical care yaitu mengkaji masalah yang berkaitan dengan peresepan obat. Ini berguna untuk menghindari terjadinya drug related problems (DRP. pada setiap terapi yang diterima oleh pasien. Banyak klasifikasi DRP Cipolle/Morley/Strand. Sistem ini mengkategorikan DRP ke dalam tujuh kategori berdasarkan jenis perbedaan yang terjadi: terapi obat yang tidak perlu, terapi obat yang tidak efektif, kebutuhan terapi obat tambahan, dosis terlalu tinggi atau terlalu rendah, reaksi obat yang merugikan (ADR), dan ketidakpatuhan. Berdasarkan permasalahan diatas, maka akan dilakukan penelitian identifikasi drug related problems (DRP. pada pasien diabetes melitus di salah satu klinik swasta Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Identifikasi Drug-Related Problems (DRP. pada Terapi Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan di Klinik Swasta Kabupaten Sumedang DOI: 10. 51873/jhhs. di Kabupaten Sumedang, diharapkan setelah dilakukannya studi DRPs ini, data penelitian keberhasilan program penanganan masalah terkait obat (DRP. sekaligus menjadi sumber informasi yang mendukung tenaga kesehatan dalam memberikan perawatan dan pengobatan. yang aman dan tepat bagi pasien DM. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian merupakan jenis studi non eksperimental dengan metode pengambilan data total sampling secara retrospektif. Identifikasi DRPs menggunakan klasifikasi DRPs Cipolle/Morley/Strand. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai Desember 2024. Data yang digunakan merupakan data pasien dengan terapi diabetes melitus sebanyak 100 rekam medis yang meliputi initial identitas pasien, umur, dan gender. Data terapi . enis obat, dosis obat, rute pemberian obat serta diagnosi. , data pendukung yaitu data hasil pemeriksaan gula darah pasien. Semua data yang termasuk dalam penelitian telah masuk pada kriteria inklusi yaitu, data rekam medis pasien bulan MeiJuli 2024 yang lengkap di salah satu klinik swasta di kabupaten Sumedang. Dengan rekam medis yang berpotensi menimbulkan DRPs untuk kategori: indikasi belum diterapi . utuh oba. , terapi tanpa indikasi/ indikasi tidak sesuai . idak butuh oba. , terapi tidak efektif, dosis berlebih dan dosis kurang. DRPs mengacu pada kompatibilitas data dengan analisis pada pasien diabetes melitus. HASIL DAN PEMBAHASAN Didapat 100 rekam medis pasien yang memenuhi kriteria digunakan sebagai sampel untuk diidentifikasi DRPs dan data terapi serta data demografinya. Hasil karakteristik pasien dengan terapi diabetes melitus bedasarkan profil jenis kelamin, usia, dan prevalensi pengelompokan jenis terapi diabetes mellitus di salah satu klinik swasta di Kabupaten Sumedang. Tabel 1. Karakteristik pasien diabetes melitus di salah satu klinik swasta di kabupaten Sumedang Karakteristik Jumlah Persentase 60 atau lebih DM tipe 1 DM tipe 2 Obat oral antidiabetes (OAD) Injeksi insulin Terapi kombinasi (OAD dan Insuli. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Usia . Kategori diagnosa jenis DM Jenis terapi Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Identifikasi Drug-Related Problems (DRP. pada Terapi Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan di Klinik Swasta Kabupaten Sumedang DOI: 10. 51873/jhhs. Profil jenis kelamin Dari data yang diidentifikasi pada studi ini, diabetes melitus lebih banyak Perempuan dibandingkan dengan laki-laki yaitu 17%. Menurut beberapa penelitian mengenai DRP pada pasien diabetes melitus . disebutkan bahwa kejadian diabetes melitus dibandingkan dengan pria dikarenakan wanita umumnya mempunyai persentase lemak tubuh lebih tinggi daripada persentase lemak pada pria, sehingga wanita lebih mudah mengalami kenaikan berat badan yang berkaitan dengan angka obesitas dan penyakit diabetes. Sedangkan pada penelitian lain disebutkan penderita diabetes melitus lebih cenderung diidap oleh wanita daripada pria dikarenakan secara fisiologis wanita mempunyai peluang peningkatan body mass index yang lebih besar, wanita juga premenstrual syndrome dan pasca menopause. Beberapa masalah terkait regulasi hormonal pada wanita ini, membuat terakumulasi sehingga bila dibandingkan pada pria, resiko wanita menderita diabetes melitus menjadi lebih tinggi. Profil usia Berdasarkan American Diabetes Association (ADA) faktor terjadinya DM tipe II dapat meningkat seiring bertambahnya Terlihat dari hasil profil usia pada penelitian ini paling banyak ada . %) ada di rentang usia 45-59 tahun. Pengaruh usia ini disebabkan karea adanya peningkatan lemak pada perut dan menjadi salah satu faktor obesitas sentral. Situasi tersebut mengakibatkan timbulnya resistensi insulin dan merupakan awal terjadinya DM. Selain itu pasien lansia dapat mengalami penurunan kadar insulin dan sensitivitasnya sehingga menganggu kadar glukosa dalam Individu dengan umur >40 tahun memiliki faktor resiko fisiologis terhadap DM tipe II karena fungsi organ pankreas menurun yang diakibatkan beban glukosa meningkat akibat pola konsumsi harian tinggi karbohidrat dan asupan manis. Kebiasaan ini tentu akan berdampak dengan penurunan fungsi sel pankreas dalam menghasilkan insulin. Kategori diagnosa jenis DM Data yang di dapat dari penderita DM pada penelitian ini, hanya 1 dari 100 pasien klinik yang mengalami DM tipe 1 ada di rentang usia dewasa muda . -45 tahu. , sisanya adalah pasien dengan DM tipe 2 sebanyak 99 pasien. Hal ini seiring dengan artikel meta analisis sistematik review yang menyatakan bahwa penderita DM tipe 1 dunia hanya 15 kasus dari 100ribu orang penderita DM. Total kategori dengan diagnosa jenis DM tipe 1 ada di angka 9,5 % dan sisanya adalah penderita DM tipe 2 dan DM tipe lainnya. Profil penggunaan antidiabetes Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa pasien dengan terapi diabetes melitus di salah satu klinik swasta di Kabupaten Sumedang periode Mei-Juli 2024 lebih banyak menggunakan obat dengan antidiabetes tunggal. Data pasien yang menggunakan obat antidiabetes tunggal adalah pasien yang tidak mencapai target A1C selama 3 bulan sebelumnya, sehingga diberikan terapi kombinasi di bulan selanjutnya. Obat antidiabetes tunggal yang paling banyak digunakan adalah metformin sebanyak . ,55%) yang termasuk ke dalam golongan biguanida dan kategori peresepan obat antidiabetes kombinasi terbanyak yaitu metformin glimepirid yaitu sebanyak 23 pasien . ,82%). Kemampuan menjadi normal menjadi salah satu alasan metformin menjadi pilihan obat oral antidiabetes . rug of choice. antidiabetes oral awal yang diberikan pada terapi Mekanisme kerja metformin yaitu menekan glukoneogenesis . embentukan glukosa baru di hepa. , meningkatkan sensitivitas insulin sehingga memperbaiki pengangkutan glukosa di perifer dan juga dapat, mempengaruhi perbaikan toleransi Bioavabilitas metformin mencapai 59%-60%, secara farmakokinetik, absorbsi Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Identifikasi Drug-Related Problems (DRP. pada Terapi Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan di Klinik Swasta Kabupaten Sumedang DOI: 10. 51873/jhhs. metformin di usus mencapai kadar plasma puncak dalam 2 jam. Metformin merupakan obat antidiabetes oral yang bisa digunakan pada penderita gagal ginjal kronik stadium Pemberian antidiabetes oral pada penderita gagal ginjal harus menjadi sebuah Salah satu reaksi yang bisa terjadi adalah MALA (Metformin-associated lactic MALA dapat menyebabkan produksi laktat yang lebih tinggi namun juga eliminasi laktat yang lebih rendah. Meningkatnya kadar metformin dapat menyebabkan penurunan glukogenesis dan metabolisme laktat, yang mengakibatkan laktat terakumulasi. Sindrom MALA sifatnya akut dan derajat keparahan MALA tidak metformin dalam plasma darah, tetapi berhubungan dengan kasus dehidrasi berat, sepsis, dan penurunan fungsi hati yang merupakan faktor risiko asidosis laktat . Kombinasi metformin-glimepiride merupakan gabungan terapi yang paling sering diresepkan dalam tata laksana diabetes melitus. Menurut penelitian kedua obat menurunkan kadar HbA1c yang lebih besar 0,8%-1,5% digunakan terapi tunggal baik metformin atau glimepiride saja. Dual terapi ini memiliki interaksi obat tipe farmakodinamik dengan derajat Penggunaan kombinasi ini secara statistik mampu menurunkan glukosa darah puasa, glukosa 2 jam setelah makan . ost konsentrasi HbA1c dan kadar Hcy . namun ada potensi dapat meningkatkan resiko hipoglikemia sehingga perlu dilakukan pemantauan gula darah yang sering. Kejadian drug related problems (DRP. Potensi kasus DRPs pasien DM di salah satu klinik swasta di Kabupaten Sumedang periode Mei-Juni 2024 ditunjukan pada tabel 2. DRPs Obat dengan indikasi yang tidak sesuai . idak butuh oba. Kejadian DRPs dari obat dengan indikasi yang tidak sesuai . idak butuh oba. terjadi sebanyak 14 kasus . %) dari total 28 kasus DRPs. Permasalah yang ditemukan pada riset di lapangan yairu peresepan obat gastritis namun tanpa keluhan dari pasien. Namun demikian data menunjukkan penggunaan obat-obatan antitukak lambung . sangat sering ditemukan dalam peresepan pada pasien diabetes melitus. Permasalahan lainnya adalah adanya pemberian obat antihistamin tanpa adanya keluhan dari pasien. Kasus selanjutnya adalah adanya pemberian obat syaraf tanpa adanya keluhan dari pasien. Tabel 2. Potensi kejadian DRPs pasien diabetes melitus (N=. DRPs Tidak butuh obat Butuh obat Dosis kurang Terapi tidak efektif Dosis berlebih DRPs Indikasi yang tidak diterapi . utuh DRPs butuh obat . ,4%) atau terjadi pada 6 pasien. Kurangnya pemantauan pada keluhan pasien dipantau tidak cukup baik. Pasien tidak mendapatkan pengobatan untuk gejala yang dirasakan Jumlah kasus Persentase (%) atau pasien tidak mendapatkan terapi meskipun data lab menunjukkan perlunya terapi terhadap pasien. Pada kejadian DRPs ini terdapat pasien mendapatkan hasil hipergklikemik diatas normal namun tidak antihiperglikemik oral, dan ada pasien yang Copyright . The Authors This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Identifikasi Drug-Related Problems (DRP. pada Terapi Pasien Diabetes Melitus Rawat Jalan di Klinik Swasta Kabupaten Sumedang DOI: 10. 51873/jhhs. memiliki indikasi polineuropasti unspecified Polineuropati merupakan gejala umum yang ditemukan pada banyak penderita diabetes melitus. Salah satu masalah lainnya adalah pemberian insulin terus menerus pada pasien DM dengan hasil pemeriksaan glukosa darah dalam tiga bulan berturutturut tetap berada pada tingkat gula darah normal, yaitu 126 mg/dL, 102 mg/dL, dan 95 mg/dL. Pemberian insulin pada pasien dengan kadar glukosa darah yang sudah normal ini tidak memiliki indikasi medis yang sesuai. Apabila kadar gula darah pasien melebihi 300 mg/dL, terapi insulin bersama dengan obat antidiabetes oral harus dipertimbangkan. DRPs dosis kurang Pada penelitian ini didapatkan 4 kasus dosis kurang dari 28 kasus DRPs dari 100 rekam medis pasien diabetes melitus. Kasus yang terjadi adalah adanya pemberian obat dibawah dosis terapi yaitu pemberian metformin 1x1 pada pasien yang selama 3 bulan belum mampu mencapai target nilai HbA1c yang ditetapkan. Menurut perkeni dalam panduan tata laksana diabetes melitus tipe 2, dosis antidiabetes harus dievaluasi dan disesuaikan apabila pasien tidak mencapai target control glikemik termasuk nilai HbA1c dalam waktu 3 bulan. Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan dalam terapi pasien diabetes melitus ini dapat berupa penyesuaian dosis, mengganti jenis obat atau menambah kombinasi obat lain. DRPs terapi tidak efektif Ditemukan satu kasus DRPs terapi tidak efektif dari penelitian yang dilakukan pada identifikasi 28 kasus DRPs. Masalah ini terjadi akibat dari pemberian obat hiperglikemik tunggal yaitu gliclazide pada pasien diabetes melitus yang tidak mampu mencapai target HbA1C nya dalam 3 bulan. Berdasarkan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI). DM ditatalaksana dengan terapi farmakologi obat tunggal. Apabila target kadar HbA1C tidak terpenuhi dalam 3 bulan maka rekomendasi penggunaan kombinasi 2 jenis terapi obat. Setelah itu, jika target HbA1C dengan terapi kombinasi 2 jenis obat masih tidak tercapai, maka dilanjutkan dengan kombinasi 3 jenis obat oral Kombinasi gabungan injeksi insulin akan diberikan jika target HbA1C pasien masih tidak tercapai setelah antidiabetes. DRPs dosis berlebih Kejadian DRPs kasus dosis berlebih hanya terjadi pada 1 kasus dari total 28 jenis kasus DRPs yang sudah diidentifikasi. Hal ini diduga karena adanya dosis berlebih pada dosis pemeliharaan pasien diabetes melitus tipe satu yang dikategorikan pasien non obesitas . ndeks msa tubuh <. dengan data berat badan 65 kg namun diberikan dosis Insulin lispro 3 x 20 ui. Umumnya untuk pasien yang dikategorikan non obesitas memerlukan dosis insulin lispro sebanyak 0,4-0,6 unit/kg/hari, jadi untuk pasien ini hanya dibutuhkan 39,6 ui maksimal dalam satu hari atau dengan kata cara dosis sehari 3 x 13 UI . KESIMPULAN Kasus DRPs diidentifikasi pada 28 dari 100 rekam medis pasien DM yang digunakan sebagai data penelitian. DRPs kategori tidak butuh obat . nnecessary drug therap. merupakan kasus dengan kategori potensi DRPs terbanyak dengan total sebanyak 14 kasus . %). SARAN Dokumentasi, analisis dan evaluasi DRPs perlu dilakukan secara rutin pada setiap fasilitas kesehatan guna menjamin keamanan dan efektivitas terapi pada pasien. REFERENSI