Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Halaman jurnal di https://journal. id/skenoo Penyaliban Yesus dalam Perspektif Biblika dan Historiografi Non-Kristen: Sebuah Kajian Kritis Yakup Hariyantoa. Yunita Karolina Panjaitanb aSekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia Surabaya, bSekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Bali email: yakuph@sttia. id, carolinayunita6@gmail. INFO ARTIKEL Sejarah artikel: Dikirim 18 September 2025 Direvisi 14 Oktober 2025 Diterima 20 November 2025 Terbit 17 Desember 2025 Kata kunci: Penyaliban Biblika Historiografi Keywords: Crucifixion Bible Historiography ABSTRAK Penyaliban Yesus menjadi perdebatan teologis yang tidak kunjung selesai hingga saat ini. Para polemikus Islam menyanggah bahwa Yesus tidak mati disalib. Semua teks Alkitab dan naskah sejarah tentang penyaliban Yesus telah ditolak pihak Islam. Karya ilmiah ini bertujuan untuk memberikan penjelasan secara Biblika dan historika serta mengcounter isu sumbang tentang penyaliban Yesus dari agama lain. Metode yang digunakan ialah kualitatif yang berpusat pada kajian Sehingga, semua data dapat dilacak dan dilihat dari kepustakaan yang ada. Dari penelitian karya ilmiah ini ditemukan bahwa penyaliban Yesus dapat dilacak kebenarannya melalui Alkitab, data-data sejarah dan pembuktian medis. Kajian pada teks Alkitab tentang penyaliban Yesus merupakan salah satu bukti yang tidak dapat dibantah kebenarannya. Kajian teks Biblika, catatan para sejarawan dan bukti catatan medis terkait penyaliban Yesus ini, benar-benar telah menjadi sebuah kebenaran yang tidak dapat diragukan dan dibantah Sejarawan dan catatan medis telah merekam kebenaran tersebut berdasarkan kajian yang bersifat objektif, tanpa membawa sebuah keyakinan agama tertentu. ABSTRACT The crucifixion of Jesus has been a theological debate that remains unresolved to this day. Islamic polemicists deny that Jesus did not die on the cross. All biblical texts and historical manuscripts about Jesus' crucifixion have been rejected by Islam. This scholarly work aims to provide a biblical and historical explanation and counter the contradictory issues surrounding Jesus' crucifixion from other religions. The method used is qualitative, centered on literature review. Therefore, all data can be traced and examined within the existing literature. The research in this scholarly work found that the crucifixion of Jesus can be traced to the Bible, historical data, and medical A study of biblical texts about Jesus' crucifixion provides undeniable The study of biblical texts, historians' accounts, and medical records regarding Jesus' crucifixion have become a truth that cannot be doubted or Historians and medical records have recorded this truth based on objective research, without any particular religious beliefs. 204 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. PENDAHULUAN Dalam rumpun teologi, peristiwa penyaliban dan kematian Yesus ini masuk dalam studi Kristologi. Kristologi merupakan salah satu bagian dari Teologi Sistematika1 dan berfokus pada ajaran tentang diri dan karya Kristus. 2 Penyaliban dan kematian Yesus adalah peristiwa sejarah yang tidak dapat diabaikan. Sejarah penyaliban dan kematian Yesus telah menjadi bahan kajian di kanca akademisi lintas iman hingga sekarang. Para polemikus Islam berusaha memberikan argumentasi mereka terkait penolakan terhadap peristiwa penyaliban dan kematian Yesus. Dalam Jurnal Sastra tahun 2009 dijelaskan bahwa agama Islam menolak pemahaman tentang kematian Yesus. 3 Hasbullah mengambil kesimpulan tentang Yesus bahwa Yesus tidak mati disalib tetapi Yesus hanya mati suri atau pingsan,4 tetapi Armansyah menyatakan bahwa Yesus berhasil selamat dari upaya pembunuhan di atas kayu salib dengan upaya pertolongan paman ibunya, yaitu Yusuf dari Arimatea. 5 Kemudian Yesus pergi ke India dan kemudian Yesus wafat di Khasmir. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah menguraikan peristiwa penyaliban Yesus dari sudut pandang Alkitab dan data sejarah. Dalam hal ini penulis tidak sedang menyoroti perdebatan atau apologetika terkait peristiwa penyaliban dan kematian Yesus dalam teologi Kirsten dan Islam. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. , di mana penulis menggunakan data pustaka sebagai sumber 7 Analisis dilakukan melalui pendekatan historis-kritis terhadap teks-teks Alkitab, dan komparatif terhadap sumber non-biblika (Yosephus. Tacitus. Talmu. Validasi dilakukan dengan triangulasi literatur modern dan klasik. Dalam penelitian kualitatif ini, seorang penulis berposisi sebagai instrumen kunci dalam proses analisa data yang dilakukan secara Metode kualitatif studi kepustakaan yang peneliti gunakan ini benar-benar berbasis pada studi kepustakaan, di mana bagian dari proposal penelitian yang data-datanya dikumpulkan melalui sumber informasi berbentuk buku, artikel, jurnal, media online serta dokumen-dokumen lainnya. 1 Nico Syukur Dister. Teologi Sistematika 1 (Yogyakarta: Kanisius, 2. 2 Henk ten Napel. Kamus Teologi Inggris-Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. 3 Saut Situmorang. AuDjoernal Sastra Boemipoetra 3,Ay Djoernal Sastra Boemipoetra 3 3 . 4 Hasbullah Bakry. Sistematika Filsafat (Jakarta: Widjaja, 1. 5 Armansyah. Rekonstruksi Sejarah Isa Almasih (Jakarta: Restu Agung, 2. 6 Mohammad Zazuli, 60 Tokoh Dunia Sepanjang Masa (Yogyakarta: Narasi, 2. 7 Romelus Blegur. AuTanggung Jawab Sosial Misi Kristen: Sebuah Panggilan Bagi Gereja Untuk Berpartisipasi Dalam Misi Allah,Ay Skenoo (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. : 23. 8 Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R Dan D (Bandung: Alfabeta, 2. 9 Krido Siswanto. AuRespon Gereja Terhadap Penganiayaan Berdasarkan Matius 10:17-33,Ay Skenoo (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. : 13. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 205 HASIL DAN PEMBAHASAN Dasar Biblika Penyaliban-Kematian Yesus (Lukas 23:46 dan Matius 27:. Penulis akan mengurai beberapa ayat Alkitab mengenai kematian Yesus, yang mana diharapkan ayat ini bisa menjadi dasar pijakan mana kala iman Kristen sedang membahas mengenai kematian Yesus. Dalam bagian ini, penulis hanya menjelaskan ayat-ayat tersebut dalam bentuk semi eksegesa atau dalam bahasa penulis menggunakan istilah eksegesa kecil. Penulis menyebut ini sebagai semi eksegesa atau eksegesa kecil, sebab penulis tidak menggunakan metode atau prinsip dan langkah-langkah eksegesa secara menyeluruh. Sebelum Yesus masuk pada puncak penggenapan nubuatan, yaitu mati di kayu salib. Yesus mengucapkan ungkapan demikian: AuYa Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku. Ay Dapat dibaca pada Lukas 23:46. Bila melihat narasi teks ayat tersebut dalam bahasa Yunaninya, maka akan tertulis AEAA. AC NAnAC EI AAEA E AA I dengan transliterasi sebagai berikut: AoPater eis kheiras sou paratithemai to pneuma mouAo. Kata AEAA . diartikan dengan AoYa BapaAo. Kata ini merupakan sapaan yang khas yang diperuntukkan untuk menyapa Allah. Kemudian kata AC . merupakan kata depan yang diartikan Aoke dalamAo. Kata NAnAC . diartikan dengan AotanganAo. Untuk kata EI . merupakan kata ganti orang kedua dengan kasus genitif yang dapat diartikan dengan AomilikmuAo. Jika digabungkan dengan kata NAnAC . , maka NAnAC EI . heiras so. diartikan dengan Aotangan . muAo. Kemudian kata AAEA . adalah kata kerja dengan kala kini yang menunjukkan waktu sekarang atau sedang berlangsung terjadi. diartikan dengan Ao. menyerahkanAo. Tindakan AomenyerahkanAo dalam konteks ayat tersebut memiliki makna sebagai sebuah peristiwa atau kejadian yang dilakukan pada waktu sekarang. Sedangkan kata E AA . o pneum. adalah dua kata yang berbeda yakni kata E . yang merupakan kata sandang, sedangkan kata AA . yang berarti Aoroh atau jiwaAo adalah kata benda yang berposisi sebagai objek. Ini berarti bahwa yang diserahkan oleh AusayaAy adalah roh atau jiwa. Perkataan Yesus diakhiri dengan kata I . yang merupakan kata ganti orang pertama dengan kasus genitif yang berarti AomilikkuAo. Jadi, ungkapan AoPater eis kheiras sou paratithemai to pneuma mou,Ao memiliki arti AoYa Bapa. Aku . menyerahkan rohku ke dalam tangan-MuAo. Kematian Yesus dapat dipahami sebagai tindakan menyerahkan roh-Nya ke dalam tangan Allah. Dalam arti yang lain, kematian Yesus diartikan sebagai terpisahnya roh-Nya dengan tubuh jasmani-Nya. Ketika roh-Nya diserahkan kepada Allah dan Allah mengambil roh itu dari tubuh Yesus, maka tubuh tanpa roh itu disebut mati. Akan tetapi, ketika roh itu dikembalikan lagi oleh Allah ke dalam tubuh jasmani Yesus, maka tubuh itu akan hidup kembali. Mengapa Yesus menyerahkan roh-Nya kepada Allah? Penulis memahami bahwa Yesus berasal dari Allah, sehingga roh-Nya harus kembali kepada Allah. Ada nats lain yang bersinggungan dengan hal tersebut, yakni dalam 1 Korintus 5:5. Rasul Paulus menghimbau jemaat di Korintus agar Aomenyerahkan setiap jiwa yang berdosa tersebut kepada iblisAo, agar tubuh manusia tersebut binasa, namun rohnya selamat. Yang menarik adalah keberadaan roh 206 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. manusia itu menjadi sangat penting dibandingkan dengan tubuh manusia. Yesus dapat mengalami kematian karena menanggung pelanggaran dosa manusia. Yesus menyerahkan roh-Nya kepada Allah dengan tujuan agar roh itu dikembalikan Allah ke dalam tubuh jasmani Yesus pada saat kebangkitan-Nya. Pada Injil Lukas ini telah jelas dan benar adanya bahwa Yesus pernah mengalami kematian, dan kematian yang dimaksudkan dalam redaksi Alkitab adalah kematian melalui jalan penyaliban. Selain dari Injil Lukas yang telah dipaparkan penulis di atas, penulis akan menambahkan ayat lain, yaitu di dalam Matius 27:50. Diharapkan dengan adanya kedua ayat yang telah penulis suguhkan pada bagian ini, akan mejadi pijakan yang kuat dari sudut pandang teologi Kristen tentang kematian Yesus. Matius 27:50 (FAYH)10 AoKemudian sekali lagi Yesus berseru lalu melepaskan nyawa-Nya. Ao Dalam teks Yunani berbunyi: A EIC A AC IO A IA E AAI. Transliterasi: ho de iysous palin kraxas phyny megaly aphyken to pneuma. Dalam bagian ini penulis akan menganalisa beberapa kata, yaitu kata menyerahkan dan kata nyawa. Kata menyerahkan dalam teks Yunani menggunakan kata AIIA . , di mana kata AIIA berasal dari kata dasar AI . Kata AI memiliki arti to let go, to send 11 Kata AIIA . juga memiliki arti yang cukup luas dan berkembang, yaitu memerintahkan untuk meninggalkan, melepaskan, mengijinkan, meninggalkan, meniadakan, memberikan, dan memisahkan. Penulis melihat dan mengamati bentuk kalimat dari kata AIIA . dalam bahasa Yunani adalah dalam bentuk Aorist Indikatif Aktif (O3T). Aorist pada kasus ini sedang menjelaskan sebuah tindakan yang telah diperbuat sekali namun berdampak terus di masa yang akan datang. 13 Itu berarti bahwa roh yang ada pada Yesus telah dilepaskan sekali untuk Kemudian kata nyawa dalam Matius 27 tersebut dalam teks Yunani menggunakan kata AAI . yang berarti roh. Yang diserahkan Yesus saat kematian-Nya adalah roh-Nya. Menurut Rogers pada The New Linguistic and Exegetical Key to the Greek New Testament, arti dari roh di sini bermakna nafas kehidupan, bukan Roh Ilahi. 14 Seruan penyerahan Yesus saat di salib merupakan seruan yang mengandung banyak kemenangan. Kemenangan yang dimaksudkan adalah Yesus menang dalam menjalankan mandat Ilahi, yaitu mandat penyelamatan manusia berdosa telah selesai Ia lakukan. 10Pardomuan Marbun. AuMakna Kematian Yesus,Ay Https://w. Academia. Edu/25634884/Makna_Kematian_Yesus. 11 Cleon L. Rogers Jr. dan Cleon L Rogers i. The New Linguistic and Exegetical Key to the Greek New Testament (Grand Rapids. Michigan: Zondervan Publishing House, 1. 12 Hasan Susanto. Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia Dan Konkordansi Perjanjian Baru (PBIK). Jilid I Dan II (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia - LAI, 2. 13 William Barclay. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Yohanes Pasal 8-21, ed. Widyapranawa, 10th ed. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. 14 Cleon L. Rogers Jr. dan Cleon L Rogers i. The New Linguistic and Exegetical Key to the Greek New Testament. 15 Barclay. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Yohanes Pasal 8-21. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 207 Dengan demikian. Matius 27:50 sedang menjelaskan bahwa Yesus sendirilah tanpa paksaan menyerahkan nyawa-Nya kepada Sang Bapa. Bigman Sirait menjelaskan bahwa ketika Yesus mati disalib. Ia dengan kerelaan hati menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah. Menurut Yakob Tomatala dalam bukunya yang berjudul Yesus Kristus Juruselamat Dunia. Tomatala menjelaskan bahwa penebusan merupakan bentuk dari karya Kristus yang Ia lakukan dengan penuh kasih. 17 Penebusan dosa melalui kematian Yesus berlaku bagi siapapun yang mendapat anugerah kemurahan Tuhan. 18 Penebusan dari dosa dalam bentuk kematian Yesus merupakan wujud dari kasih Allah. Rasul Paulus memberi penegasian bahwa anugerah dari Allah hanya dapat diperoleh melalui jalur penebusan yang telah dikerjakan Kristus melalui kematian-Nya. Kematian Yesus menyatukan keterpisahan antara Allah dan Frasa AoJalan PendamaianAo dalam Roma 3:24-25 menggunakan kata hilasterion. Kata hilasterion secara tradisi diterjemahan Aohendak mendamaikanAo, namun oleh teologi modern diartikan dengan kata expiasi yang berarti AopenebusanAo. Bentuk Substantif kata ini ialah exhilaskomai yang dalam literatur Yunani artinya Aomenenangkan hati atau meredakan seseorang yang sedang dalam keadaan tersinggung atau marahAo. Kematian Kristus telah menenangkan atau meredakan murka Allah atas manusia berdosa. Torrey menambahkan bahwa kematian Yesus bukan hanya meredakan murka hukuman Allah, tetapi memadamkan murka Allah atas manusia berdosa. 21 Penebusan yang dikerjakan Yesus merupakan perwujudan dari anugerah Allah yang memberikan sukacita serta kelahiran baru dan hidup kekal. 22 Pengorbanan Yesus telah membuka pintu surga bagi mereka yang percaya dan menerima-Nya. Kematian Yesus disalib merupakan sebuah penebusan dosa manusia dan semua dosa manusia yang percaya dan menerima Yesus hilang lenyap dengan matinya Yesus di kayu Jadi, penebusan adalah karya Kristus di kayu salib yang dianugerahkan secara cumacuma kepada manusia berdosa. Bila manusia tidak mengalami penebusan dari Allah melalui kematian Yesus, maka hukuman dan murka Allah akan menimpa manusia itu untuk selama- 16 Bigman Sirait. AuJawaban Inspirasi Vol. 1,Ay n. 17 Yakob Tomatala. Yesus Kristus Juruselamat Dunia (Jakarta: YT. Leadership Foundation, 2. 18 Kasieli Zebua. AuKajian Kristologis Lukas Pasal 7: Dimensi Keilahian Kristus Dan Implikasinya Bagi Iman Kristen,Ay Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen . 19 John Owen. Christians Are Forever (Surabaya: Momentum, 2. 20 George Eldon Ladd. Teologi Perjanjian Baru Jilid 2 (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2. 21 R. Torrey. Kebenaran Yang Memerdekakan (Bandung: Kalam Hidup, 2. 22 Louis Berkhof. Teologi Sistematika 3 (Surabaya: Momentum, 2. 23 Franklin Graham. Billy Graham in Quotes (Yogyakarta: Kairos, 2. 24 M. Hashem. Misteri Darah Dan Penebusan Dosa. Di Mata Agama Purba. Yahudi. Kristen Dan Islam (Bandung: Mizan Media Utama, 2. 208 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. 25 Dengan mati-Nya di kayu salib, sesungguhnya Yesus telah membayar lunas seluruh harga tebusan bagi manusia berdosa dari kutuk dan hukuman murka Allah. Bukti-Bukti Sejarah Penyaliban - Kematian Yesus Bukti sejarah digunakan sebagai konfirmasi sekunder untuk penegasian dan pembuktian atas kematian Yesus. Sejarah pada umumnya tertulis secara rinci dan sistematis dalam menceritakan sebuah peristiwa, setidaknya tahun terjadinya peristiwa tercantum jelas dan ditulis oleh orang-orang sezaman atau tidak jauh dari peristiwa. Peristiwa penderitaan Kristus melalui proses penyaliban merupakan peristiwa paling penting dalam sejarah manusia, dan ini merupakan isu politik dan isu personal terbesar di sepanjang abad. 27 Kematian Yesus adalah doktrin Kristen yang paling mendasar, bahkan penyaliban merupakan sentral iman Kristen itu sendiri. Tanpa peristiwa penyaliban Kristus, maka iman Kristen akan kehilangan nilai yang sangat unik dan sangat berharga. Pada dasarnya, iman Kristen berdiri dan dibangun di atas sejarah. artinya bahwa orang percaya harus meyakini fakta dan bukti sejarah tentang kematian Yesus. 28 Kematian Yesus dalam menebus dosa manusia merupakan sejarah penebusan manusia yang pernah terjadi di Seluruh catatan sejarah abad pertama Masehi mencatat dan merekam peristiwa kematian Yesus di kayu salib. Hampir dapat dipastikan bahwa seluruh catatan sejarah yang berasal dari zaman yang sama mencatat peristiwa penyaliban Yesus. Hal ini dapat terlihat pada catatan-catatan sejarah yang bersumber dari sejarawan Yahudi. Roma, maupun Yunani, dan dari para sejarawan tersebut tidak ada yang membantah dan menyangkal peristiwa kematian Yesus di salib. Selanjutnya penulis akan memaparkan catatan dari beberapa tokoh yang menuliskan sejarah seputar kematian Yesus dalam peristiwa penyaliban yang sudah terjadi sekitar permulaan abad. Yosephus Seorang sejarawan Yahudi yang bernama Titus Flavius Yosephus, yang lahir pada tahun tahun 37 Masehi memberikan kutipan pada sebuah buku yang berjudul Antiquities 3 dalam buku tersebut membahas tentang kematian Kristus di kayu salib. Berikut merupakan isi kutipan buku tersebut: Yesus, seorang bijaksana AA Dia adalah Sang Kristus. Pilatus, ketika mendengar tuduhan-tuduhan dari orang-orang terpandang di antara kita, telah menjatukan hukuman penyaliban atas Dia, tetapi orang-orang yang mencintai-Nya tidaklah berhenti. Sebab pada hari ketiga Ia menampakkan diri kepada mereka dalam keadaan hidup. Soal ini sudah 25 Louis Berkhof. Teologi Sistematik: Doktrin Kristus (Surabaya: Reformed Injili Indonesia, 1. 26 Ichwei G. Indra. Allah-Manusia Sejati (Semarang: Pelayanan Mandiri Mikhael, 2. 27 John Piper. Lima Puluh Alasan Mengapa Dia Datang Untuk Mati: Penderitaan Yesus Kristus: The Passion of Jesus Christ (Surabaya: Momentum, 2. 28 Rasiah Sugirtharajah. Wajah Yesus Di Asia (Jakarta: Gunung Mulia, 2. 29 Jack Dean Kingsbury. Injil Matius Sebagai Cerita (Jakarta: Gunung Mulia, 2. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 209 dinubuatkan oleh nabi-nabi Allah dan para nabi tersebut juga menyatakan banyak hal lain tentang Dia. Sebagai seorang yang ahli di bidang sejarah. Yosephus, akan tetap jujur dan objektif terhadap seluruh validitas data sejarah yang ia temukan. Data yang dikemukakan oleh Yosephus di atas adalah data yang menyinggung kematian Yesus melalui jalan salib. Lebih lanjut. Yosephus juga mencatat bahwa peristiwa penyalibanYesus terjadi pada masa pemerintahan Pilatus. Seluruh data sejarah yang diredaksikan oleh Yosephus terkait kematian Yesus adalah data yang bersifat objektif dan benar adanya. Yosephus memiliki sebuah kesaksian mengenai kematian Yesus yang dikenal dengan istilah Testimonium Flavianum. Ini merupakan sumber sejarah Yahudi tertua yang tentunya tidak perlu diragukan keotentikannya. Di bawah ini penulis memaparkan tulisan Yosephus dalam bahasa Indonesia dan tulisan ini merupakan ungkapan dari isi hati Yosephus terkait kematian Yesus: AoPada masa itu tampillah Yesus, seorang manusia arif bijaksan, jika boleh disebut manusia. Dia melakukan perbuatanperbuatan ajaib dan menjadi guru bagi mereka yang gemar menjadi berbagai kebenaran. Dia mengumpulkan para pengikutnya dari kalangan Yahudi dan non Yahudi. Pilatus telah menjatuhkan hukuman mati di kayu salib kepadanya, yaitu Yesus. Sebab Dia bangkit dan hidup kembali tiga hari setelah kematian-Nya. Ao Untuk kalimat yang diberi tanda huruf miring yang terdapat pada kutipan teks di atas, kalimat tersebut dianggap sebagai kalimat yang berisi sebuah rekayasa dan manipulasi data yang telah dilakukan oleh bapa-bapa gereja. Hasyem telah mengutip sebuah pernyataan dari Paul Louis dalam bukunya yang berjudul Enigma of Jesus, di mana Paul Louis telah menuduh bahwa bapa-bapa gereja telah menyisipkan dan menambahkan tafsiran Kristen dalam karya yang telah dibuat oleh Yosephus. Dalam hal ini Louis tidak mempercayai sepenuh apa yang telah dicatat dan diungkapkan oleh Yosephus mengenai kematian Yesus. Bila penelitian mengenai pernyataan Yosephus ini merujuk pada keabsahan sejarah, maka akan ditemukan bahwa naskah asli dari catatan Yosephus bukanlah naskah yang berbahasa Yunani melainkan naskah yang berbahasa Aram. Dewasa ini telah banyak dilakukan penelitian mengenai teks asli ungkapan Yosephus terkait kematian Yesus, dan dalam penelitian tersebut telah ditemukannya naskah berbahasa Arab. Penemuan naskah tersebut kini telah dipublikasikan dalam sebuah buku dalam bahasa Arab yang berjudul Kitab al-AoUnwan yang ditulis oleh Anba Agabius. Di bawah ini merupakan sepenggal isi dari ungkapan Agabius terkait ungkapan Yosephus dalam Indonesia yang telah diterjemahkan dari bahasa Arab: AuA Mereka melaporkan bahwa Yesus telah menempatkan diri kepada mereka pada hari ketiga setelah penyalibannya dan ia hidup kembali. Dengan kenyataan tersebut, mungkin saja ia adalah Mesias (Arab: fa laAoalla huwa al-Masi. seperti yang dinubuatkan nabi-nabi dengan mukjizat. Ay31 30 Leonardo Winarto. Sejarah Penyaliban Kristus Dalam Islam Dan Kristen (Bondowoso: Memra Publishing, 2. 31 Bambang Noorsena. Answering The Misunderstanding Menjawab Kesalahpahaman Dalam Dialog Teologi Kristen-Islam. Jilid i, (Malang: ISCS Publishing House, 2. 210 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Walaupun Yosephus asli berkebangsaan Yahudi dan menganut kepercayaan agama Yahudi, namun ia tetap bersikap benar dan netral untuk melaporkan fakta sejarah apa yang telah pernah terjadi masa itu, terkait kematian dan penyaliban Yesus. Thalus Beliau adalah seorang sejarawan non-Yahudi. Dalam sebuah tulisan. Thalus mengangkat sebuah relasi antara Yunani dan Asia di masa silam dalam sebuah sejarah. 32 Buku yang ditulis Thalus sekitar tahun 52 Masehi tersebut membahas peristiwa yang terjadi pada saat Yesus disalib. Thalus berpendapat bahwa kegelapan yang terjadi saat Yesus disalib, merupakan kegelapan fenomena alam semata, yaitu karena terjadinya gerhana matahari. Namun seorang penulis sejarah yang beragama Kristen, yaitu Yulianus Africanus yang hidup di awal abad ke 3 Masehi tersebut menyangga dan menolak pendapat yang diutarakan oleh Thalus mengenai kegelapan tersebut. Merupakan hal yang mustahil dan tidak mungkin kegelapan tersebut disebabkan karena fenomena alam atau gerhana matahari. Alasan utama penolakan Africanus mengenai hal tersebut adalah gerhana matahari dan bulan purna tidak dapat terjadi secara serentak. Dalam catatan sejarah, kematian Yesus di salib terjadi pada bulan purnama, yaitu tepatnya pada bulan purnama Paskah. 33 Sekalipun Thallus adalah pribadi yang tidak beriman kepada Kristus, akan tetapi sebagai seorang sejarawan yang selalu berpijak pada data yang valid dan harus menyuguhkan sebuah kebenaran, maka ia harus tetap menulis fakta sejarah yang terjadi saat itu secara objektif. Sekalipun antara Thalus dan Yulianus tampaknya memiliki cara pandang yang berbeda terhadap peristiwa penyaliban Yesus, akan tetapi keduanya tetap mengakui bahwa Yesus pernah mati di kayu salib. Sebagai seorang sejarawan non-Kristen. Thalus sedang menyuguhkan data mengenai peristiwa yang sedang terajadi mana kala Yesus sedang disalibkan, yaitu kegelapan yang menguasai bumi saat itu merupakan fenomena alam belaka, yaitu gerhana matahari. Berbeda dengan Africanus, sebagai seorang sejarawan Kristen, beliau memandang dan mencermati peristiwa kegelapan yang terjadi pada saat penyaliban Yesus merupakan sebuah peristiwa yang supranatural. Cornelius Tacitus Sebagai seorang sejarawan dan senator Roma. Tacitus mencoba mengabadikan peristiwa sejarah terkait kematian Yesus melalui sebuah tulisan. Ronald Mellor dalam sebuah buku yang berjudul TacitusAo Annals menyinggung pernyataan Tacitus terkait penyaliban Yesus. Berikut pernyataan Mellor:AoVonis hukuman mati telah dijatukan atas Kristus dari procurator Pontius Pilatus. Ini terjadi di era Tiberius ketika ia menjadi seorang kaisar. 32 F. F Bruce. Dokumen-Dokumen Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. 33 Martin Wallraff . Julius Africanus Chronograhiae Ae the Extant Fragments (New York: Walter de Gruyter, 2. 34 Leonardo Winarto. Sejarah Penyaliban Kristus Dalam Islam Dan Kristen. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 211 Menurut Mellor. Annals dalam tulisan Tacitus memiliki sebuah arti. Annals berarti AoMahkota Prestasi TacitusAo, yaitu sebuah mahkota prestasi yang merepresentasikan puncak penulisan sejarah Roma. 35 Pakar sejarah melihat dan mengamati bahwa ada tiga hal besar yang terjadi di tahun 60 Masehi: Pertama, adanya sejumlah besar populasi orang Kristen yang hidup dan tinggal di Roma pada saat itu. Kedua, adanya peluang besar untuk mengidentifikasi perbedaan antara pengikut Kristus dan agama Yahudi yang tinggal di Roma. 36 Ketiga, adanya kemampuan orang-orang pagan mengenali populasi orang Kristen dan asal-usul mereka. Orang-orang pagan meyakini bahwa asal-usul orang Kristen di Roma pada saat itu berasal dari Yudea. Mara Ben Serapion Mara Ben Serapion atau yang sering dikenal dengan Mara Bar Sarapion yang hidup di tahun 170 Masehi adalah seorang filsuf Stoa di Romawi Suriah. Sejarah mencatat bahwa Mara Bar pernah mengirimkan sebuah surat kepada putranya yang bernama Serapion terkait kematian Yesus. Surat tersebut didokumentasikan dalam sebuah naskah sekitar tahun 600 Masehi dan sekarang masih terjaga dan tersimpan di British Library (Code BL 14. London. Sebelum disimpan di British Library, naskah tersebut pernah tersimpan di Mesir dan didapatkan oleh Hendry Tattam. Di bawah ini merupakan naskah surat Mara Bar yang dikirimkan untuk putranya dan di dalamnya terdapat kalimat terkait kematian Yesus sebagai Raja orang Yahudi: AoHal terbaik apa yang didapat penduduk Athena ketika melakukan pembunuhan terhadap Socrates? Mereka mendapat balasan setimpal, yaitu penyakit mematikan dan kelaparan. Hal terbaik apa yang didapat bangsa Yahudi karena mereka telah membunuh seorang bijaksana yang adalah raja mereka? Semua pembalasan ada di tangan Allah. Penduduk Athena kelaparan dan meninggal. Bangsa Yahudi mengalami kekalahan berperang dan mereka tersingkirkan dari negeri mereka dan diaspora ke penjuru Lucianus Samosata Lucianus merupakan orang Yunani yang dikenal cukup kejam dalam semua Hal yang sangat ia benci adalah mengenai kehidupan orang Kristen. Semua orang Kristen di zamannya telah dipandang rendah dan tidak diperhitungkan. Semua orang Kristen pada zaman itu mendapat julukan sebagai penjahat yang miskin. Kebencian Lucianus 35 Bambang Noorsena. Answering The Misunderstanding Menjawab Kesalahpahaman Dalam Dialog Teologi Kristen-Islam. Jilid i,. 36 James G. Dunn. Beginning from Jerusalem (Michigan: William B. Eerdmans Publishing, 37 Raymond Edward and John Maier Brown. Antioch and Rome: New Testament Cradle of Catholic Christianity (Michigan: : Pauliest Press, 1. 38 Bambang Noorsena. Answering The Misunderstanding Menjawab Kesalahpahaman Dalam Dialog Teologi Kristen-Islam. Jilid i,. 39 Ibid. 212 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. terhadap orang Kristen didasarkan pada pernyataan dari orang-orang Kristen pada zaman itu mengenai kepastian keselamatan hidup kekal mereka. Lucianus menilai bahwa orang-orang Kristen telah begitu yakin mereka kelak akan hidup kekal dan abadi. 40 Sekalipun Lucianus menaruh kebencian terhadap orang-orang Kristen namun naskah tulisannya secara tersurat menceritakan tentang kematian Yesus. Berikut merupakan ungkapan Lucianus terkait kematian:AoSekarang dia datang menemui para imam dan pengikut Kristus di Palestina dan menyambut kepercayaan mereka. Saya menceritakan ini kepadamu bahwa dia segera meyakinkan mereka tentang keunggulannya sebagai sang nabi dan seorang leader di bait Allah Yahudi. Mereka menyembahnya sebagai seorang dewa, dan menerima darinya suatu hukum dan mengangkatnya sebagai pemimpin mereka. Orang-orang Kristen itu, seperti yang kamu kenal, menyembah pria itu hingga sekarang, yaitu pribadi yang disegani yang membawa ritus baru dan yang telah mati disalib karena alasan itu. Ao41 Tulisan Talmud Yahudi Agama Yahudi memiliki satu Kitab yang menjadi sumber keyakinan iman mereka, dan Kitab tersebut disebut TaNakh, yaitu Torah. Neviim dan Ketubim. Selain Kitab Tanakh, agama Yahudi juga meyakini Kitab yang disebut dengan Talmud. Talmud adalah dokumen bangsa Yahudi yang berisi hukum lisan, uraian dan penafsiran para rabi Yahudi. 42 Talmud terbagi menjadi dua bagian utama, yaitu Talmud Mishnah dan Talmud Gemara. Mishnah berisi undang-undang yang dibuat oleh bangsa Yahudi dan dipergunakan untuk kepentingan bangsa Yahudi. Sedangkan Gemara terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu Gemara Jerusalem dan Gemara Babilonia. Masing-masing Gemara memiliki makna yang berbeda. Gemara Jerusalem lebih popular dikenal dengan sebutan Gemara Palestina berisi tentang catatan perdebatan atau diskusi para rabi Yahudi Palestina. Ini berisi catatan diskusi para cerdik pandai para rabi Yahudi. Sedangkan Gemara Babilonia berisi tentang catatan perdebatan tentang ajaran Mishnah yang ditulis oleh orang pandai yang tinggal di Babel. Di dalam Kitab Talmud yang diyakini agama Yahudi inilah diredaksikan catatan yang memberikan kesaksian tentang penyaliban Yesus. Di bawah ini akan penulis sertakan kutipan Talmud yang membahas tentang penyaliban Yesus: AoSebelum Paskah. Yesus telah mati disalib. Dia telah kami ingatkan selama empat puluh hari temtamg kematiannyaA. Ao Historisitas penyaliban Yesus diakui dengan sangat jelas dalam kitab Talmud. Sekalipun mayoritas orang Yahudi dalam hal ini adalah agama Yahudi, terutama para Rabbi Yahudi yang menolak kemesiasan Yesus dan dengan tegas menolak bahwa Yesus sebagai Sang Mesias, namun mereka tidak pernah mengabaikan fakta sejarah penyaliban Yesus. 40 Larry W. Hartodo. Jesus Christ: Devotion to Jesus in Earlist Christianity (Grand Rapids: Eermans, 41 Bambang Noorsena. Answering The Misunderstanding Menjawab Kesalahpahaman Dalam Dialog Teologi Kristen-Islam. Jilid i,. 42 Anggun Gunawan. Messianik Yahudi: Juruselamat Yahudi Dalam Telaah Psikoanalisa Erich Fromm (Yogyakarta: Gre Publishing, 2. 43 Zafarul Islamkhan. Talmud Kitab Rabi Yahudi Sejarah Dan Ajarannya (Jakarta: Mihzab, 2. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 213 Sekalipun agama Yahudi menolak kemesiasan Yesus, mereka tetap percaya terhadap peristiwa kematian Yesus, dan hal ini terbukti dengan adanya catatan mengenai kematian Yesus di dalam kitab Talmud Yahudi. Catatan pada kitab Talmud ini menjadi salah satu bukti historis di luar kitab Injil. Tulisan pada kitab Talmud mengenai kematian Yesus melalui jalan salib ini masih terpelihara dengan baik sampai hari ini. Bukti Medis Penyaliban - Kematian Yesus Pada bagian ini, penulis akan memaparkan hasil penyelidikan dari sisi medis terkait kematian Yesus di kayu salib. Penulis menganalisa dan mengambil sebagian dari informasi mengenai hal ini pada sebuah karya tulis yang berjudul Sejarah Penyaliban Kristus dalam Islam dan Kristen yang ditulis oleh Leonardo Winarto. Winarto menjelaskan bahwa seorang ahli medis telah menyelidiki kisah penyaliban Yesus, yaitu Mark A. Marinella, dalam sebuah buku yang berjudul Died He for Me. Dengan berlatar belakang sebagai seorang ahli medis. Marinella tidak hanya sekedar memiliki pengetahuan mengenai ilmu medis, akan tetapi beliau memiliki pengalaman langsung dalam menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan tubuh manusia. Di dalam Injil Lukas 22:44 dikatakan bahwa AoIa sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Ao Berdasarkan teks Lukas 22:44 tersebut, dokter Marinella menjelaskan apa yang dialami oleh Yesus dalam dunia medis dikenal dengan sebutan kondisi hematidrosis. Dalam pandangan Marinella, kemungkian besar pembulu kapiler pada tubuh Yesus tiba-tiba pecah dan terbuka sehingga mengalami kebocoran pada katub darah ke saluran bagian keringat. Dokter Marinella mengatakan bahwa keadaan tubuh Yesus dalam keadaan yang sangat lemah, ada kemungkinan pukulan yang Yesus terima menimbulkan trauma wajah yang sangat serius yang mengakibatkan mata, kepala, otak dan gigi mengalami luka dan masalah yang sangat serius. Dalam kebiasaan Romawi, sebelum mereka menjatuhi hukuman salib, mereka terlebih dahulu disiksa dan disesah terlebih dahulu. Yesus mengalami proses panjang ini, yaitu penyesahan yang sangat berat dan serius, sehingga Yesus harus kehilangan banyak darah, dan dokter Marinella mengatakan bahwa penyesahan yang dialami oleh Yesus ternyata dapat memungkinkan kerusakan serius pada bagian ginjal. Sementara alat cambuk yang diperuntukkan untuk mencambuk Yesus dikenal dengan sebutan flagrum, di mana cambuk tersebut dapat merusak, merobek otot secara langsung serta mampu menembus ginjal. Yesus tidak hanya disesah dan dicambuk, akan tetapi Yesus harus dimahkotai dengan mahkota duri. Mahkota yang dikenakan pada Yesus saat Ia disiksa adalah mahkota yang berasal dari tanaman paliurus acuelatus . anaman dur. yang ada di wilayah Palestina. Bagian duri yang sangat keras dan memiliki ukuran panjang dua cm sampai lima cm. 44 Leonardo Winarto. Sejarah Penyaliban Kristus Dalam Islam Dan Kristen. 45 Mark A Marinella. Yesus Yang Disalib Bagiku (Yogyakarta: ANDI, 2. 46 Ibid. 214 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Menurut dokter Marinella, merupakan hal yang sangat wajar jika Yesus harus mengalami kematian saat itu, sebab siksaan yang Ia alami adalah siksaan yang telah menimbulkan berbagai macam komplikasi yang menyebabkan kematian. Dokter Pierre Barbet, experts di bidang surgeon memberikan keterangan dan penjelasan mengenai fakta tentang kematian Yesus. Menurut pandangan dokter Pierre. Yesus saat di kayu salib sedang mengalami pendarahan yang sangat hebat, dan pendarahan yang dialami Yesus terletak pada bagian dada, dan dalam ilmu medis kejadian yang dialami Yesus ini disebut dengan istilah hydrohemonthorax. Pendarahan hebat ini diakibatkan karena siksaan yang sangat luar biasa yang diterima Yesus. Tombak yang telah menikam lambung Yesus ternyata telah merobek pleura . elaput penutup paru-par. , kemudian kantung sekitar jantung . Hal inilah yang menyebabkan kematian Yesus. Orasi Kematian Yesus dari Para Penentang Kekristenan Paul Fredriksen Ia adalah seorang cendekiawan yang acapkali menentang Kekristenan. Walaupun ia menentang Kekristenan, namun ia harus mengakui dengan jujur terkait kematian Yesus. Berikut merupakan pernyataan Fredriksen tentang kematian Yesus: AoSatu-satunya fakta paling kuat dari kehidupan Yesus adalah kematian-Nya. Dia duhukum mati oleh gubernur Romawi. Pilatus, pada hari atau menjelang perayaan Paskah, dengan cara yang diperuntukan bagi para pemberontak, yaitu disalibkan. Ao49 John Dominic Crossan Crossan adalah salah satu tokoh yang cukup gencar menyerang Kekristenan Walaupun ia tidak sepaham dengan Kekristenan, namun ia harus tetap jujur mengakui kematian Yesus. Berikut merupakan pernyataannya yang dituangkan pada beberapa karya tulisnya: AoTidak perlu sama sekali meragukan fakta penyaliban Yesus atas perintah Pontius Pilatus. Ao50 Pernyataan ini ia tuangkan pada karya tulisnya yang berjudul The Historical Jesus: The Life of Mediterranean Jewish Peasant. Pernyataannya yang lain tentang kematian Yesus pun dituangkan ulang oleh Crossan pada sebuah karya tulisnya yang berjudul Jesus: A Revolusionary Biography. Berikut merupakan pernyataan Crossan yang penulis maksudkan: AoPenyaliban-Nya (Yesu. itu jelas terjadi, sama pastinya seperti peristiwa sejarah lainnya. Ao51 Gred Ludemann Ludemann adalah seorang cendikiawan asal Jerman yang sangat meragukan kebenaran Alkitab, sampai-sampai Ludemann pernah berkata bahwa Pribadi Yesus tidaklah cukup untuk dijadikan landasan iman. Walaupun Ludemann meragukan Alkitab, namun ia 47 Leonardo Winarto. Sejarah Penyaliban Kristus Dalam Islam Dan Kristen. 48 Widyamartana. Sejenak Memandang Manusia Kain Kafan (Malang: Gandum Mas, 1. 49 Taufik Hidayat. Christian Muslim Dialogue (Bondowoso: Licensi, 2. 50 Ibid. 51 John Dominic Crossan. A Revolusionary Biography (San Fransisco: HarperCollins, 1. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 215 tetap percaya dan meyakini tentang kematian dan penyaliban Yesus. Gerd Ludemann memberikan pernyataannya terkait kematian Yesus: AoFakta kematian Yesus sebagai konsekwensi penyaliban tidak dapat dibantah. Terlepas dari adanya hipotesis tentang kematian yang tidak benarbenar terjadi atau tentang kemiripan wajah yang menipu para penjaga. Kita tidak perlu membahasnya jauh di sini. KESIMPULAN Kajian ini menegaskan bahwa penyaliban Yesus bukan hanya fakta iman, tetapi juga fakta historis yang diakui sumber non-Kristen. Fakta tersebut memperkuat fondasi Kristologi dan memperluas pemahaman tentang relasi antara iman dan sejarah. Penelitian lanjutan dapat diarahkan pada komparasi hermeneutik antara sumber Kristen dan Islam mengenai narasi Penyaliban Yesus bukan hanya sebagai keyakinan iman yang diyakini oleh umat Kristen semata, tetapi peristiwa penyaliban Yesus adalah salah satu bentuk fakta historis yang teruji keabsahannya. Artinya, walaupun para polemikus dari agama lain menolak penyaliban Yesus tersebut, bukan berarti fakta sejarah mengalami kegagalan dalam menguak sebuah Tidaklah mungkin pembuktian fakta sejarah dapat dipatahkan dengan argumentasi keyakinan sebuah agama semata. Kajian teks Biblika, catatan para sejarawan dan bukti catatan medis terkait penyaliban dan kematian Yesus ini, benar-benar telah menjadi sebuah kebenaran yang tidak dapat diragukan dan dibantah kebenarannya. Sejarawan dan catatan medis telah merekam kebenaran tersebut berdasarkan kajian yang bersifat objektif, tanpa membawa sebuah keyakinan agama tertentu. Daftar Pustaka