Strategi Pengembangan Desa Wisata Sukunan Berbasis Analisis PESTEL Sukunan Tourism Village Development Strategy Based on PESTEL Analysis Shela Julianti1*. Ardiyati2 12Program Studi Ilmu Pemerintahan. Universitas Amikom Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia Penulis Korespondensi : shelajulianti01@students. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor PESTEL yang dihadapi Desa Wisata Sukunan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali informasi mendalam tentang faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pengembangan Desa Wisata Sukunan melalui analisis PESTEL. Subjek penelitian mencakup pengelola desa wisata, tokoh masyarakat, dan pihak pemerintah daerah yang terlibat dalam pengelolaan atau pengembangan Desa Wisata Sukunan. Hasil penelitian menunjukan Desa Wisata Sukunan berhasil dikembangkan melalui peningkatan daya tarik, pemberdayaan masyarakat, kolaborasi, serta monitoring dan Analisis PESTEL pengembangan Desa Wisata Sukunan: . Politik. Secara politik. Desa Wisata Sukunan ditetapkan sebagai desa wisata melalui Peraturan Gubernur dan Surat Keputusan Bupati Sleman Nomor 56 /Kep. KDH /A / 2022 Tentang Desa Wisata Tahun 2022. Dari segi ekonomi. Desa Wisata Sukunan mengembangkan dan melakukan penjualan produk kerajinan daur ulang sampah, homestay, dan paket wisata edukasi pengolahan sampah. Sosial. Pengembangan desa melibatkan masyarakat secara sosial. Teknologi. Desa Wisata Sukunan memanfaatkan teknologi seperti biopori untuk pengelolaan sampah organik dan media sosial. Environmental. Secara lingkungan desa wisata Sukunan mengelola sampah menjadi biogas, menjual anorganik, dan mendaur ulang sampah menjadi kerajinan. Legal. Desa ini disahkan secara resmi oleh Bupati Sleman dan terverifikasi oleh Jadesta. Strategi Pengembangan Desa Wisata Sukunan disusun berdasarkan analisis PESTEL yaitu: Dimensi politik berfokus pada kerja sama pemerintah dan swasta serta optimalisasi kebijakan untuk mendukung operasional desa Dimensi ekonomi menekankan peningkatan infrastruktur homestay dan pemberdayaan UMKM lokal untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADe. Dimensi sosial mencakup partisipasi masyarakat, dan pelestarian budaya lokal. Teknologi digunakan untuk digitalisasi promosi, sedangkan dimensi lingkungan berfokus pada pengelolaan sampah dan inovasi energi Dimensi legal memastikan kepatuhan regulasi dan perlindungan hak kekayaan intelektual produk lokal. Strategi ini bertujuan menciptakan desa wisata yang berkelanjutan, memberdayakan masyarakat, menjaga lingkungan, dan melestarikan budaya. Kata kunci: Desa wisata. Analysis PESTEL (Politik. Ekonomi. Sosial. Teknologi. Lingkungan, dan Lega. pembangunan berkelanjutan. desa wisata Sukunan. Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 Abstract This research aims to analyze the PESTEL factors faced by Sukunan Tourism Village. The research method used a qualitative approach to explore in-depth information about external factors affecting the development of Sukunan Tourism Village through PESTEL analysis. The research subjects included tourism village managers, community leaders, and local government parties involved in the management or development of Sukunan Tourism Village. The results showed that Sukunan Tourism Village was successfully developed through attraction enhancement, community empowerment, collaboration, and monitoring and evaluation. PESTEL analysis of Sukunan Tourism Village development: . Politics. Politically. Sukunan Tourism Village is designated as a tourism village through the Governor's Regulation and Sleman Regent Decree Number 56 /Kep. KDH /A / 2022 concerning Tourism Villages in 2022. Economically. Sukunan Tourism Village develops and sells recycled waste handicraft products, homestays, and educational tour packages on waste . Socially, village development involves the community socially. Technology. Sukunan Tourism Village utilizes technology such as biopores for organic waste management and social media. Environmental. Sukunan Tourism Village manages waste into biogas, sells inorganic waste, and recycles waste into crafts. Legal. This village is officially authorized by the Regent of Sleman and verified by Jadesta. The Sukunan Tourism Village Development Strategy was prepared based on the PESTEL analysis, namely: The political dimension focuses on government and private cooperation and optimization of policies to support the operation of tourist villages. The economic dimension emphasizes improving homestay infrastructure and empowering local MSMEs to increase Village Original Income (PADe. The social dimension includes community participation, and preservation of local culture. Technology is used for promotional digitization, while the environmental dimension focuses on waste management and renewable energy innovation. The legal dimension ensures regulatory compliance and protection of intellectual property rights of local products. The strategy aims to create a sustainable tourism village, empowering the community, protecting the environment, and preserving culture. Keywords: Tourism village. PESTEL (Political. Economic. Social. Technological. Environmental and Lega. analysis of sustainable development. Sukunan tourist village. PENDAHULUAN Pengembangan pariwisata tidak hanya berfokus pada peningkatan daya tarik destinasi, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat lokal serta pelestarian alam dan budaya. Dalam konteks desa wisata, strategi pengembangan melibatkan pengelolaan sumber daya lokal berbasis komunitas, promosi yang efektif, dan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta (Sukmawati & Widyastuti, 2. Konsep desa wisata menawarkan pengalaman autentik kepada wisatawan sekaligus menciptakan dampak positif terhadap perekonomian dan pelestarian lingkungan di tingkat lokal (Naibaho. Nurcahyanto, & Marom, 2. Perkembangan desa wisata di Indonesia mendapat dorongan kuat dari program pemerintah yang mendorong pembangunan berbasis potensi lokal (Rahmawati et al. , 2. Dalam pengelolaannya, desa wisata membutuhkan strategi yang terstruktur untuk menjawab tantangan pengembangan destinasi Berbagai pendekatan strategis, seperti analisis SWOT, pemetaan pemangku kepentingan, hingga analisis PESTEL, kerap digunakan untuk merumuskan prioritas pengembangan. Di antara pendekatan tersebut, analisis Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 PESTEL dinilai efektif dalam mengidentifikasi berbagai faktor eksternal yang memengaruhi pengembangan desa wisata, khususnya dalam merespons dinamika sosial, ekonomi, dan kebijakan (Fasa. Berliandaldo, & Prasetio, 2. Desa Wisata Sukunan, yang berlokasi di Banyuraden. Gamping. Sleman, merupakan salah satu desa wisata yang menonjolkan inovasi pengelolaan lingkungan berbasis komunitas. Desa ini memanfaatkan potensi lokal melalui pengolahan sampah, produksi kerajinan berbahan daur ulang, dan program edukasi lingkungan sebagai daya tarik wisata. Namun, seiring pertumbuhan jumlah wisatawan. Desa Sukunan juga menghadapi tantangan, di antaranya peningkatan limbah domestik, perubahan tata guna lahan, dan keterbatasan dalam adopsi teknologi ramah lingkungan. Tantangan-tantangan tersebut tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan desa, tetapi juga berpotensi memengaruhi daya saing dan citra Desa Sukunan sebagai destinasi wisata berkelanjutan. Berbagai studi sebelumnya telah menyoroti pentingnya pengembangan desa wisata berbasis masyarakat, baik dalam konteks ekonomi, sosial, maupun Namun, kajian yang secara spesifik memanfaatkan kerangka analisis PESTEL untuk mengidentifikasi faktor eksternal yang memengaruhi pengembangan desa wisata khususnya di tingkat desa masih terbatas. Mayoritas penelitian lebih menekankan analisis internal melalui SWOT atau lebih terfokus pada evaluasi aspek tunggal, seperti partisipasi masyarakat atau keberlanjutan lingkungan (Herdiana, 2019. Syarifah & Rochani, 2. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut dengan menerapkan analisis PESTEL secara komprehensif untuk mengkaji strategi pengembangan Desa Wisata Sukunan, baik dari sisi kebijakan, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, maupun hukum. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai faktor-faktor eksternal yang berpengaruh, sekaligus merumuskan strategi adaptif untuk memperkuat daya saing dan keberlanjutan desa wisata. Analisis PESTEL mencakup enam dimensi utama: Political: kebijakan pemerintah dan regulasi yang mendukung pengembangan desa wisata, seperti program dana desa, pengembangan UMKM, dan insentif untuk destinasi berbasis lingkungan (Rahmat et al. Economic:kondisi ekonomi lokal, seperti tingkat pendapatan masyarakat, infrastruktur ekonomi, dan biaya pengelolaan destinasi. Di Desa Sukunan, pengembangan produk kerajinan daur ulang menjadi peluang ekonomi Socia: persepsi masyarakat terhadap wisatawan, partisipasi dalam pengelolaan, serta pelestarian budaya lokal. Sukunan dikenal dengan komitmen masyarakatnya dalam menjaga tradisi dan lingkungan. Technological:pemanfaatan teknologi digital untuk promosi dan Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 pengelolaan wisata, termasuk media sosial dan aplikasi pariwisata (Priyono. Environmental: aspek pelestarian alam, pengelolaan sampah, dan penerapan energi terbarukan yang menjadi keunggulan Sukunan sebagai desa wisata berbasis keberlanjutan. Legal: peraturan terkait zonasi wisata, perlindungan budaya, dan perizinan Melalui penerapan analisis PESTEL, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan Desa Wisata Sukunan yang adaptif terhadap dinamika eksternal dan mendukung keberlanjutan jangka panjang. Selain memperkaya literatur mengenai pengembangan desa wisata berbasis keberlanjutan, hasil penelitian ini diharapkan menjadi panduan praktis bagi pemerintah daerah dan masyarakat lokal dalam pengelolaan destinasi wisata yang berdaya saing. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali faktor eksternal yang mempengaruhi pengembangan Desa Wisata Sukunan melalui analisis PESTEL. Subjek penelitian meliputi pengelola desa wisata, tokoh masyarakat, wisatawan, dan pemerintah daerah yang terlibat dalam pengelolaan atau pengembangan desa wisata. Objek penelitian adalah strategi pengembangan desa wisata, dengan fokus pada dampak dimensi PESTEL terhadap keberlanjutan dan pengelolaan desa wisata. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama: wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan dengan pengelola desa, tokoh masyarakat, wisatawan, dan pemerintah daerah untuk menggali pandangan mereka tentang pengelolaan desa wisata dan dampak faktor Pengelola desa wisata diwawancarai mengenai kebijakan yang mendukung atau menghambat pengembangan, sementara wisatawan dimintai pendapat tentang fasilitas yang mereka nikmati. Observasi lapangan dilakukan dengan mencatat interaksi antara masyarakat dan wisatawan serta pengelolaan lingkungan, dengan fokus pada pengelolaan sampah, penggunaan energi terbarukan, dan pengaruh wisata terhadap budaya lokal. Selain itu, studi dokumentasi mencakup laporan pengelolaan desa, kebijakan pariwisata, dan data statistik terkait kunjungan wisatawan serta keberlanjutan lingkungan, yang memberikan konteks tambahan untuk validasi data yang diperoleh dari wawancara dan observasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan langkah-langkah kualitatif berikut: pertama, data direduksi dengan menyaring informasi berdasarkan relevansi terhadap kerangka PESTEL. Kedua, data yang relevan dikelompokkan dalam enam dimensi PESTEL: politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum. Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 Terakhir, hasil data yang telah dikelompokkan dianalisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang signifikan terhadap pengembangan Desa Wisata Sukunan, serta pengaruh eksternal yang mempengaruhi strategi pengelolaan desa wisata dan keberlanjutan pariwisata. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Gambaran umum Desa Wisata Sukunan Desa Wisata Sukunan merupakan salah satu desa wisata yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Kecamatan Banyuraden. Kabupaten Sleman. Desa ini memiliki suasana yang asri, tradisional, dan kental dengan kearifan lokal yang khas. Nama "Sukun" diambil dari pohon sukun yang banyak tumbuh di sekitar wilayah desa ini, melambangkan keteduhan dan Desa Sukunan terkenal sebagai pelopor desa wisata berbasis lingkungan dan edukasi. Warga desa mengelola lingkungan dengan konsep ramah lingkungan seperti pengolahan sampah berbasis 3R (Reduce. Reuse. Recycl. dan penggunaan energi terbarukan. Konsep ini menjadikan Desa Sukunan sebagai percontohan dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan di tingkat lokal dan Desa wisata sukunan memiliki Luas wilayah dusun Sukunan yaitu. Ha, terdiri dari lahan hunian 6,84 Ha, lahan pertanian atau sawah 5 Ha, lahan perkebunan 0,79 Ha, lahan hutan bambu 2 Ha, lahan makam 0,33 Ha, lahan kawasan bangunan embung 1 Ha, lahan kavling perumahan 0,24 Ha, dan luas Jalan lingkungan 1 Ha250 hektar dengan jumlah penduduk sekitar 300 KK dengan jumlah jiwa 900 orang. Kampung Sukunan menjadi AuKampung Wisata LingkunganAy pada 19 Januari 2009. Kampung Sukunan bertransformasi dari kondisi awal yang kurang terkelola menjadi destinasi wisata yang menarik dengan fokus pada pengelolaan lingkungan dan edukasi. Sebelum menjadi desa wisata. Sukunan dikenal sebagai daerah kumuh dengan praktik pembuangan sampah yang tidak teratur. Namun, sejak tahun 2003, masyarakat mulai mengembangkan kesadaran akan pentingnya kebersihan dan pengelolaan limbah. Proses ini berakhir pada tahun 2009 ketika Sukunan diresmikan sebagai kampung wisata lingkungan, menandai langkah signifikan dalam pengelolaan sampah dan keberlanjutan. Salah satu keunikan Desa Wisata Sukunan adalah sistem pengelolaan sampah mandiri yang diterapkan oleh Warga desa mengolah limbah rumah tangga menjadi berbagai produk bernilai, seperti kerajinan dari sampah plastik dan pupuk kompos dari sampah Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan kesadaran lingkungan tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat. Penduduk Desa Sukunan sebagian besar bekerja sebagai petani, pengrajin, dan pelaku usaha wisata, termasuk pengelola homestay dan pemandu Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 wisata. Selain keindahan alamnya. Desa Sukunan juga menawarkan berbagai aktivitas wisata berbasis budaya dan edukasi. Desa Wisata Sukunan tidak hanya menjadi destinasi wisata menarik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak desa lain dalam mengelola lingkungan secara kreatif dan berkelanjutan. Potensi Desa Wisata Sukunan Wisata Edukasi kerajinan tangan dari bahan daur ulang Dalam konteks pendidikan lingkungan, pembelajaran tentang daur ulang dan pemanfaatan bahan bekas menjadi semakin penting. Kegiatan belajar membuat kerajinan tangan dari bahan daur ulang tidak hanya berfungsi sebagai sarana kreatif, tetapi juga sebagai metode edukatif yang efektif untuk meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan generasi muda. desa wisata sukunan menyediakan pelatihan pembelajaran membuat kerajinan dari bahan daur ulang dalam hal ini pemanfaatan sampah. Adapun edukasi wisata yang ada di Desa Wisata Sukunan yaitu Edukasi pengelolaan Sampah,edukasi pelatihan kompos,edukasi pelatihan kerajinan sampah plastik,edukasi pelatihan kerajinan anyaman dari sampah plastic,edukasi pelatihan aneka kerajinan dari kain sisa dan perca,edukasi pelatihan pengolahan sampah Styrofoam,edukasi pelatihan briket bioarang berbahan sampah organic,edukasi pelatihan kerajinan cangkang telur,edukasi pelatihan daur ulang sampah kertas dan edukasi pelatihan pengolahan sampah kaca/beling/gelas menjadi batako. Gambar 1. Produk kerajinan dari bahan daur ulang plastik di Desa Sukunan Sumber: Dokumentasi Lapangan, 2024. Wisata Edukasi Pengolahan Biogas Desa wisata sukunan memiliki inovasi dalam bentuk teknologi pengelolaan limbah organik yang berpotensi besar untuk menghasilkan energi terbarukan. wisata sukunan memiliki teknologi yang Proses ini melibatkan konversi bahan organik, seperti kotoran ternak dan limbah pertanian, menjadi biogas melalui Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 fermentasi anaerobik. Biogas, yang terutama terdiri dari metana (CH. dan karbon dioksida (CO. , dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif yang ramah Selain itu, teknologi ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca dan pencemaran lingkungan. Homestay Desa Wisata Sukunan menyediakan akomodasi sederhana namun nyaman, dengan harga terjangkau mulai dari Rp50. 000 per orang per malam. Setiap homestay dikelola oleh warga lokal, memungkinkan tamu untuk merasakan langsung rutinitas sehari-hari masyarakat desa. Fasilitas yang tersedia mencakup: Kamar Bersih dan Nyaman: Tamu dapat memilih untuk menginap dalam kamar yang dapat menampung dua orang. Kamar Mandi Bersama: Fasilitas ini memudahkan tamu untuk berinteraksi dengan tamu lainnya. Ruang Bersantai: Area untuk bersantai dan menikmati suasana desa yang . Musholla: Tempat ibadah bagi tamu yang ingin melaksanakan sholat. Rumah ramah lingkungan yang hemat energi. Desa wisata sukunan memiliki konsep rumah ramah lingkungan yang hemat Rumah memaksimalkan pencahayaan alami dan ventilasi silang. Dengan memanfaatkan sinar matahari secara maksimal, penghuni dapat mengurangi penggunaan lampu dan pendingin udara. Kreativitas bangunan desa wisata Desa wisata sukunan memiliki keunikan dalam wisatanya, dimana terdapat hiasan yang terbuat dari sampah daur ulang misalnya kursi dari ban bekas, gapura dari tutup botol, dan kerajinan lainnya. Pembahasan Analsis PESTEL dalam Pengembangan Desa Wisata PESTEL Analysis adalah kerangka kerja untuk menganalisis faktor eksternal yang mempengaruhi keberhasilan suatu proyek atau organisasi. Penelitian terkait penggunaan PESTEL Analysis dalam pengembangan Pariwisata telah banyak dilakukan di berbagai negara. Salah satu manfaat penggunaan PESTEL Analysis yakni dalam memilih target pasar baru, dengan memeriksa indikator pada aktor politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum yang akan menjadi rencana awal ekspansi di bidang pariwisata terkait minat investasi. Selanjutnya, dalam pengembangan desa wisata berkelanjutan di Indonesia, penggunaan Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 analisis PESTEL dapat bermanfaat bagi penguatan sektor pariwisata di masingmasing daerah (Fasa. Berliandaldo, & Prasetio, 2. Berikut adalah enam dimensi dalam PESTEL Analysis: Political Kebijakan pemerintah dan regulasi yang mendukung pengembangan desa wisata, seperti dana desa, program pengembangan UMKM, dan insentif untuk destinasi berbasis lingkungan (Rahmat et al. , 2. Kebijakan merupakan elemen yang penting dalam pengembangan Desa Wisata berkelanjutan. Desa Wisata Sukunan mulai berdiri pada tahun 2008 dan disahkan oleh pemerintah pada tahun 2009 oleh pemerintah kalurahan Banyuraden. Kec. Gamping. Kab. Sleman. Prov Yogyakarta. Kebijakan tersebut didukung oleh Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 40 Tahun 2020 Tentang Kelompok Sadar Wisata Dan Desa/Kampung Wisata dan Surat Keputusan Bupati Sleman Nomor 56 /Kep. KDH /A / 2022 Tentang Desa Wisata Tahun 2022. Dalam aspek politik kolaborasi dengan stakeholder merupakan hal yang mempengaruhi dalam pengembangan desa Pengembangan Desa Wisata sukunan bekerjasama dengan pemerintah kalurahan Banyuraden. Dinas Pariwisata dan Dinas Lingkungan hidup dalam proses pengembangan Desa Wisata Sukunan. Elemen pemerintah tersebut berpengaruh signifikan dalam pemberian bantuan baik itu bantuan material maupun bantuan non material seperti sosialisasi pengelolaan desa wisata dan pelatihan pengelolaan sampah. Desa Wisata Sukunan juga memberikan Peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADe. melalui pajak wisatawan,tiket masuk,penjualan parkir dan barang lokal. Keberadaan Desa Wisata Sukunan juga telah mendorong tumbuhnya UKM di bidang kuliner yaitu prasmanan Sukunan yang menawarkan hidangan utama,cemilan,dan minuman segar. Selain itu,ada kerajinan tangan yang berbentuk souvenir yang menarik seperti tas laptop,tempat tisu,topi dan lain Economic Desa Wisata Sukunan terletak di dekat kawasan kota Yogyakarta dan dikenal sebagai komunitas dengan keragaman sosial dan ekonomi. Meskipun sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, struktur masyarakatnya yang heterogen mencakup individu dengan berbagai latar belakang pekerjaan. Interaksi antara masyarakat lokal dan wisatawan tidak hanya memperkuat dinamika ekonomi, tetapi juga mempengaruhi aspek budaya dan sosial, menciptakan nilai ruang yang mendukung keberlanjutan desa wisata tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan sebelum adanya Desa Wisata Sukunan kondisi perekonomian di lingkungan sukunan tidak berfokus dalam pemanfaatan sampah sehingga belum mengetahui pengelolaan sampah untuk menjadi penghasilan. Desa Wisata Sukunan memanfaatkan peluang ekonomi dengan penjualan sampah yang bisa Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 didaur ulang, selain itu, memanfaatkan kondisi perekonomian memasarkan produk kerajinan berbasis daur ulang. Adapun produk kerajinan daur ulang seperti tas, gantungan kunci, kursi, bantalan kursi dari plastik,dompet, tempat pensil, piring dan lain sebagainya. Produk kerajinan dari sampah tersebut merupakan produk kerajinan yang dibuat oleh Masyarakat Sukunan dan dijual kepada wisatawan, harga dari kerajinan tersebut berkisar Rp. 00- Rp. 00 yang Dimana besaran hasil dari penjualan tersebut 75% untuk Masyarakat, 25% untuk pembelian bahan dan 5% untuk kas Desa Wisata Sukunan. Selain dari penjualan produk kerajinan dari sampah desa wisata sukunan juga memiliki fasilitas homestay sehingga pengunjung dari luar kota tidak perlu khawatir tentang akomodasi saat berkunjung ke Desa Sukunan. Desa ini menawarkan beberapa rumah warga yang telah diubah menjadi homestay, yang merupakan salah satu fasilitas dari desa wisata sukunan. Dengan demikian, pengalaman berwisata di desa wisata sukunan akan menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Harga dari homestay tersebut berkisar Rp 50. 00- Rp75. 00 untuk 1 malam yang diKelola oleh Masyarakat sukunan. Gambar 2. Homestay warga di Desa Wisata Sukunan Sumber: Jadesta Kemenparekraf,2024 Pendapatan dari Desa Wisata Sukunan yang meningkatkan kondisi perekonomian lokal adalah dengan ketersedian paket wisata seperti paket wisata kerajinan daur ulang sampah,paket wisata Edukasi pengelolaan Sampah,paket edukasi pelatihan kompos,paket edukasi pelatihan kerajinan sampah plastik,paket edukasi pelatihan kerajinan anyaman dari sampah plastik,paket edukasi pelatihan aneka kerajinan dari kain sisa dan perca,paket edukasi pelatihan pengolahan sampah Styrofoam,paket edukasi pelatihan briket bioarang berbahan sampah organic,paket edukasi pelatihan kerajinan cangkang telur, paket edukasi pelatihan daur ulang sampah kertas dan paket edukasi pelatihan pengolahan sampah kaca/beling/gelas menjadi batako. Paket wisata tersebut mulai dari Rp. Ae Rp. Tingkat pendapatan masyarakat, infrastruktur ekonomi, dan Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 biaya pengelolaan destinasi wisata. Rata-rata pendapatan bulanan dari kunjungan wisata di Desa Wisata Sukunan mencapai Rp10-15 juta, yang menunjukkan kontribusi signifikan sektor pariwisata terhadap ekonomi lokal. Pembentukan Desa Wisata Sukunan telah menciptakan lapangan kerja baru di industri pariwisata dan industri pendukungnya. Masyarakat dapat meningkatkan pendapatan mereka dengan menjual produk lokal, menyediakan akomodasi, dan layanan pariwisata Peningkatan pendapatan ini berdampak positif pada tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup mereka. Keberadaan Desa Wisata Sukunan telah mendorong pertumbuhan ekonomi di sekitar desa. Usaha kecil dan menengah seperti warung, toko souvenir, dan industri kreatif bermunculan karena permintaan wisatawan. Efek berganda ini telah menghasilkan peningkatan pendapatan masyarakat secara keseluruhan dan pertumbuhan ekonomi desa. Social Persepsi masyarakat lokal terhadap wisatawan, keterlibatan komunitas dalam pengelolaan desa wisata, serta tradisi dan budaya setempat. Pembangunan pariwisata tidak hanya menekankan pada manfaat ekonomi, namun juga bertanggung jawab terhadap penggunaan sumber daya dan pemanfaatan lingkungan, serta merawat nilai-nilai budaya dan tradisi lokal (WTO, 2. Desa Sukunan dikenal karena komitmen masyarakat dalam pelestarian lingkungan melalui pengelolaan sampah, terdapat banyak keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah, masyarakat Sukunan pada hampir setiap rumah memiliki bank sampah yang digunakan untuk mengumpulkan sampah dan mengklasifikasi sampah, selain berkomitmen dalam pengumpulan sampah di desa wisata sukunan masyarakat dilibatkan dalam pengolahan sampah seperti pembuatan pupuk kompos, kerajinan dari sampah, biopori dan sumur resapan di setiap rumah, prosesproses pengolahan sampah tersebut dilakukan masing-masing oleh masyarakat Sukunan. Sehingga masyarakat sukunan terlibat aktif dalam pengembangan desa wisata sukunan. selain terlibat dalam urusan pengelolaan sampah masyarakat dilibatkan dalam kepengurusan desa wisata sukunan seperti terlibat dalam memberikan pelatihan kepada wisatawan tentang pengolahan sampah dan masyarakat terlibat dalam penyediaan homestay dan kios untuk Keberhasilan desa ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya dan kegiatan wisata. Modal sosial yang kuat, seperti gotong royong dan kepercayaan antarwarga, menjadi faktor penting dalam pengembangan desa wisata. Selain itu, edukasi tentang pengelolaan lingkungan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan, yang berdampak positif pada kualitas hidup mereka. Keterlibatan masyarakat di Sukunan mencerminkan tren menuju pariwisata berkelanjutan, di mana partisipasi lokal sangat penting untuk keberhasilan dan keaslian rencana Partisipasi aktif masyarakat dalam sistem pengelolaan sampah di Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 Sukunan menunjukkan manfaat keterlibatan masyarakat, yang menghasilkan penurunan tingkat sampah yang signifikan. Secara keseluruhan, masyarakat Sukunan secara aktif terlibat dalam pengelolaan pariwisata dan sampah, yang menunjukkan bahwa pendekatan berbasis masyarakat efektif dalam mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan meningkatkan kehidupan masyarakat setempat. Gambar 3. Partisipasi warga dalam pelatihan pengolahan sampah di Desa Sukunan Sumber: Jadesta Kemenparekraf,2024 Technological Pemanfaatan teknologi digital untuk promosi, reservasi, dan pengelolaan desa wisata, termasuk media sosial dan aplikasi pariwisata (Priyono, 2. Penggunaan platform digital dapat membantu Desa Sukunan meningkatkan visibilitas dan menarik wisatawan lebih luas. berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan desa wisata sukunan memanfaatkan teknologi dalam proses pengembangannya misalnya seperti penggunaan teknologi untuk mengelola sampah menggunakan teknologi lubang resapan biopori yang dimana lubang ini berfungsi untuk menyerap air dan berfungsi untuk membuat pupuk organik. Gambar 4. Pemanfaatan biopori sebagai sistem resapan air dan pengomposan di Desa Sukunan Sumber: Jadesta Kemenparekraf Selain menggunakan teknologi biopori dalam pengembangan desa wisata, pengembangan juga dilakukan dengan memanfaatkan teknologi promosi yang Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 dimana desa wisata sukunan memanfaatkan media sosial dalam mempromosikan desa wisata, yaitu instagram dan facebook @desawisatasukunan_ dan memiliki webiste resmi yaitu https://sites. com/view/desa-wisata-sukunan Environmental Aspek keberlanjutan lingkungan, meliputi pelestarian alam, pengelolaan sampah, dan penggunaan energi terbarukan dalam aktivitas wisata. Pelatihan untuk masyarakat lokal, terutama bagi pengelola destinasi, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pelestarian lingkungan. Keterlibatan masyarakat lokal dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat kearifan lokal dapat memberikan kontribusi positif terhadap aktivitas sehari-hari mereka. Desa Sukunan telah menjadi contoh desa yang sukses dalam menerapkan prinsip keberlanjutan tersebut diterapkan dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Desa Wisata Sukunan dalam proses pengelolaan sampah telah menyediakan bank sampah untuk mengklasifikasikan sampah berdasarkan jenis sampah, yaitu sampah organik, an organik, dan sampah daur ulang. organik akan diolah menjadi pupuk biogas, sampah anorganik akan dijual, kemudian sampah daur ulang akan dijadikan produk kerajinan yang memiliki nilai Gambar 5. Skema pengelolaan sampah di Desa Wisata Sukunan Sumber: Dokumentasi lapangan,2024 Selain pengelolaan sampah berdasarkan jenisnya desa wisata sukunan juga menerapkan inovasi yang ramah lingkungan seperti kulkas alami dari kendi yang digunakan untuk menyimpan sayuran yang bisa bertahan sampai 2-3 hari. Desa wisata Sukunan juga mengimplementasikan tungku berfungsi ganda, dimana tungku gas dimodifikasi menjadi alat pemanas air sistem panggang dan gerakan hemat energi mandi menggunakan shower sehingga menghemat air, hemat listrik,hemat air limbah dan pengurangan tempat perindukan nyamuk. Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 Gambar 6. Teknologi Tepat Guna (TTG) berbasis efisiensi energi di Sukunan Sumber: Hasil Dokumentasi Lapangan,2024 Legal Peraturan pemerintah terkait zonasi wisata, perlindungan budaya, dan lisensi usaha pariwisata. Kelegalan Desa Wisata Sukunan mulai berdiri pada tanggal 19 januari 2009 dan disahkan secara resmi oleh Bupati Sleman, dan sudah terverifikasi oleh Aplikasi Jejaring Desa Wisata (Jadest. Pada aplikasi Jadesta Desa Wisata Sukunan telah terklasifikasi menjadi Desa Wisata Maju pada tahun 2022 sehingga Desa Wisata Sukunan memiliki lisensi dan akreditasi sebagai desa wisata maju. Legalitas Desa Wisata Sukunan ditetapkan dalam peraturan Bupati Sleman Nomor 9 Tahun 2022 tentang Desa Wisata. Dalam peraturan tersebut juga menjelaskan tentang pentingnya pemberdayaan desa wisata didukung dengan peningkatan kualitas sumber daya desa melalui penetapan kebijakan, program, dan pendampingan oleh pemerintah daerah. Untuk implementasikan kebijakan tersebut Kalurahan Banyuraden,Pemerintah kabupaten Sleman. Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pariwisata Sleman. Pemerintah Desa Banyunraden menetapkan pengelolan Desa Wisata Sukunan dalam Surat Keputusan Bupati Sleman Nomor 56 /Kep. KDH /A / 2022 Tentang Desa Wisata Tahun 2022. Tabel 1. Struktur Pengelola Desa Wisata Sukunan Tahun 2022 Jabatan Nama Penasehat Pembina Ketua Dr. Iswanto Narto. BE. STP,. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman Suharno. Mujiono Subiyanto Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 No Jabatan Nama Sekertaris Bendahara Saptarini Muji Hartini Endah Suwarni Setyawati Sudarmi Sumber: Sekretariat Desa Wisata Sukunan Berikut adalah strategi pengembangan Desa Wisata Sukunan berdasarkan analisis PESTEL: Dimensi Politik . Meningkatkan kerja sama bukan hanya dengan pihak pemerintah tapi dengan pihak swasta untuk mendukung operasional Desa Wisata Sukunan. Optimalisasi Kebijakan Pendukung: Memanfaatkan kebijakan seperti Peraturan Gubernur DIY Nomor 40 Tahun 2020 dan Surat Keputusan Bupati Sleman Nomor 56/Kep. KDH/A/2022 untuk memperkuat regulasi dan insentif pengembangan wisata berbasis lingkungan. Kebijakan pendukung dapat dikeluarkan oleh pemerintah Kalurahan guna memastikan keterlibatan penuh masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata dan menjaga lingkungan. Peningkatan PADes: Mengembangkan sistem pengelolaan pajak wisata dan tiket masuk untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADe. Dimensi Ekonomi: Peningkatan Infrastruktur Ekonomi: Meningkatkan fasilitas homestay dengan standar yang lebih baik untuk menarik lebih banyak wisatawan. Pemberdayaan UMKM Lokal: Mendukung UKM di bidang kuliner dan kerajinan tangan dengan pelatihan manajemen bisnis dan pemasaran. Dimensi Sosial . Peningkatan Partisipasi Masyarakat: Membentuk kelompok kerja masyarakat untuk mengelola berbagai aspek desa wisata, seperti homestay, bank sampah, dan pelatihan wisata. Pelestarian Budaya Lokal: Mengintegrasikan tradisi lokal ke dalam aktivitas wisata untuk memperkuat identitas budaya desa. Dimensi Teknologi . Digitalisasi Promosi: Memanfaatkan media sosial (Instagram. Faceboo. dan website resmi untuk meningkatkan visibilitas Desa Sukunan secara global. Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 Dimensi Lingkungan . Penguatan Sistem Pengelolaan Sampah: Memperluas jaringan bank sampah di setiap rumah tangga dan meningkatkan kapasitas produksi kerajinan daur ulang. Inovasi Energi Terbarukan: Menerapkan teknologi hemat energi seperti shower hemat air dan tungku multifungsi di seluruh desa. Dimensi Legal . Kepatuhan Regulasi: Memastikan semua aktivitas wisata sesuai dengan Peraturan Bupati Sleman Nomor 9 Tahun 2022 tentang Desa Wisata. Peraturan ini mengatur aspek-aspek penting dalam pengelolaan desa wisata, termasuk pengembangan, pengelolaan, dan pemanfaatan sumber daya lokal untuk menarik wisatawan. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI): Mendaftarkan produk kerajinan khas Sukunan sebagai HKI untuk melindungi keaslian produk lokal. Dengan strategi ini. Desa Wisata Sukunan dapat memperkuat daya saingnya sebagai destinasi wisata berkelanjutan yang berbasis pada menjaga lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian budaya lokal. IV. KESIMPULAN Desa Wisata Sukunan telah berhasil mengimplementasikan strategi pengembangan yang komprehensif berdasarkan analisis PESTEL, yang mencakup dukungan politik melalui legitimasi formal dan kolaborasi multistakeholder, optimalisasi aspek ekonomi melalui diversifikasi sumber pendapatan seperti pengelolaan limbah daur ulang, homestay, dan produk kerajinan, serta pemberdayaan sosial dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam pelestarian budaya dan pengelolaan destinasi. Pemanfaatan teknologi diaplikasikan dalam pengelolaan limbah menggunakan metode biopori dan digitalisasi promosi untuk meningkatkan visibilitas, sementara aspek lingkungan dikelola melalui sistem pemilahan sampah yang mendukung prinsip keberlanjutan. Legalitas desa wisata yang terverifikasi secara resmi memberikan dasar hukum yang kuat dalam pengembangan dan perlindungan aset lokal. Rekomendasi strategis ke depan meliputi penguatan kemitraan politik untuk mendukung kebijakan dan insentif, peningkatan kapasitas UMKM melalui pelatihan dan pemasaran digital, pengembangan teknologi informasi untuk manajemen destinasi, serta penguatan sistem pengelolaan lingkungan dan perlindungan regulasi yang Pendekatan multidimensi ini diharapkan mampu mendorong keberlanjutan Desa Wisata Sukunan dalam aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan budaya secara sinergis. Provider Jurnal Ilmu pemerintahan Volume 04 Nomor 01 April 2025 Ae September 2025 DAFTAR PUSTAKA