Jurnal Cakrawarti. Vol. No. Agustus Ae Januari 2020 ISSN : 2620-5173 PEWARISAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL UNTUK MEMPROTEKSI MASYARAKAT BALI DARI DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI Dra Ni Luh Ketut Sukarniti. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mahendradatta - Denpasar Email : sukarnitiagung02@gmail. Abstrak. Pentingnya pewarisan nilai-nilai kearifan lokal bagi masyarakat Bali selain untuk menghadapi berbagai dampak negatif perubahan sosial yang diabaikan teknologi. Gejala yang dialami masyarakat Bali kini adalah perubahan sosial budaya yang sangat mendasar. Akselerasi informasi gelombang tekologi membawa perubahan cukup signifikan pada masyarakat Bali, baik pada tataran surface structure . ikap dan pola-pola prilak. dan deep structure . istem nilai, pandangan hidup, filsafat dan Perubahan terjadi karena kontak budaya antar yang dimaknai adanya dialektika nilai-nilai baru dengan nilai-nilai lama yang saling mendominasi, yang memungkinkan terjadinya homoginesis dan meoliberalisasi pada seluruh aspek kehidupan termasuk nilai-nilai budaya lokal yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Bali. Kondisi ini menimbulkan spit dan kegamangan nilai, karena masyarakat Bali lebih menggunakan nilai modern dengan memarginalkan nilai transcendetal. Akibatnya terjadi berbagai bentuk penyimpangan nilai moral yang tercemin dalam corak, gaya dan pola hidup masyarakat. Oleh karenanya penguatan dan pewarisan nilai-nilai kreatifan lokal Bali perlu dilakukan secara intensif pada generasi muda Bali. Kata Kunci : Bali. Teknologi Modern. Nilai-Nilai Kearifan Lokal. Perubahan Sosial Abstract. The importance of maintaining local wisdom for Balinese people in order to face various negative impacts of social changes brought about by . Technology The symptom, which is basically felt by the Balinese today, is the fundamental socio-cultural change. The acceleration of the information coming along with the wave of technology has been significantly experienced by the Balinese, both at the level of the Ausurface structureAy . he attitudes and the pattern of behavio. and at the level of the Audeep structureAy . he value system, the life view, the philosophy, and the belie. The change is due to the culture contacts between countries in which there are dialectic fight between the contemporary values and those of the traditional where one tries to take the domination of another. Here, the hegemony and the neoliberal views are possibly coming and breaking all the aspects of life, including the values of the local culture ever obeyed firmly by the Balinese society. This condition leads to a spit and uncertain values situation because the people give more attention and respect to the modern values and marginalize the transcendental values. This is resulting in various violations of the moral values reflected by the feature, the style, and the life pattern of the society to occur. Therefore, reinforcement and inheritance of Balineselocal wisdom have to be conducted intensively to the Balinese younger generation Keywords : Bali, circle of the modern technology, values of the local wisdom, social change Pendahuluan pada seluruh aspek kehidupan termasuk nilainilai budaya lokal yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Bali. Kondisi ini menimbulkan spit dan kegamangan nilai karena masyarakat Bali lebih mengagungkan nilai modern dengan memarginalkan Akibatnya terjadi berbagai bentuk penyimpangan nilai moral yang tercermin dalam corak, gaya dan pola hidup Oleh karenanya penguatan dan pewarisan nilai-nilai kearifan lokal Bali perlu dilakukan secara intensif pada generasi muda Bali. Gejala mendasar yang dirasakan oleh masyarakat Bali dewasa ini adalah perubahan Gejala yang dialami masyarakat Bali kini adalah perubahan sosial budaya yang sangat mendasar. Akselerasi informasi gelombang teknologi membawa perubahan cukup signifikan pada masyarakat Bali, baik pada tataran surface structure . ikap dan polapola perilak. dan deep structure . istem nilai, pandangan hidup, filsafat dan keyakina. Perubahan terjadi karena kontak budaya antar Negara yang dimaknai adanya dialektika nilai-nilai baru dengan nilai-nilai lama yang saling mendominasi, yang memungkinkan terjadinya homogenisasi dan neoliberalisasi Jurnal Cakrawarti. Vol. No. Agustus Ae Januari 2020 sosial budaya yang sangat cepat. Perubahan sosial budaya terjadi karena adanya kontak budaya antar Negara. Kontak budaya dapat dimaknai sebagai pertemuan antara nilai-nilai baru dengan nilai-nilai lama yang saling mendominasi dan sangat berpengaruh dalam tataran surface structure yakni pada sikap dan pola pola perilaku serta dalam tataran deep structure yaitu pada perubahan sistem nilai, pandangan hidup, filsafat dan keyakinan. Intinya, perubahan pada masyarakat Bali terjadi karena gelombang modernisasi dan teknologi yang telah memperkenalkan nilai baru dalam lingkungan tradisi Bali. Pesatnya kontak sosial budaya antar provinsi dan antar Negara terjadi karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), yang ditandai dengan kian mutakhirnya media Informasi dan Teknologi Komunikasi (Information and Communication Technolog. Akselerasi teknologi telah menyebabkan dunia seakanakan menyatu menjadi satu kampung global . lobal villag. dan tersatukannya budaya global yang berasas pada nilai-nilai liberalistikkapitalistik. Dalam keadaan seperti itu, tidak homogenisasi . enyeragaman buday. dan neoliberalisasi yang merasuk kedalam seluruh lini kehidupan termasuk dalam praktek Hal ini berarti bahwa perubahan pada tataran nilai pada masyarakat Bali tidak dapat terelakkan. Apadurai . alam Ritzer 2007:. menggambarkan, bahwa perubahan nilai terjadi karena pengaruh. perpindahan orang . media informasi . yang dibawa atau yang dapat dilihat . terjadinya aliran kepemilikan modal . ideologi-ideologi . baik yang dibawa, diinformasikan maupun yang dapat diadopsi. Kondisi ini membawa konsekuensi yang sangat mendasar bagi kehidupan dan upaya mempertahankan kemurnian adatistiadat dan nilai-nilai budaya lokal Bali. Dalam era teknologi yang terbuka ini, terpaan informasi sangat memungkinkan seseorang mengadopsi nilai-nilai, pengetahuan dan kebiasaan luar lingkungan sosialnya serta jauh dari jangkauannya secara fisik. Teknologi ini telah menimbulkan pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dan nilai-nilai budaya global ISSN : 2620-5173 yang semakin tinggi intensitasnya. Sementara dipahami bahwa nilai-nilai modern tidak selalu membawa kebaikan bagi pengembangan nilai-nilai budaya lokal. Croch . alam Nesta, 1. seorang pemerhati kebudayaan Bali dalam disertasinya memaparkan tentang konflik sosio-kultural yang terjadi di kalangan masyarakat khususnya masyarakat Bali Timur. Dikatakannya, bahwa secara empiris masyarakat Bali di bagian Timur mengalami degradasi nilai-nilai sosio-kultural yang disinyalir disebabkan oleh pengembangan industri pariwisata. Dalam industri pariwisata terjadi Augesekan budayaAy. Aupertukaran budayaAy atau Auadopsi budayaAy. Jika budaya yang diadopsi oleh masyarakat Bali tidak sesuai dengan budaya lokal Bali, maka akan terjadi persilangan budaya. Dalam kondisi semacam ini, bisa terjadi pertahanan nilai etika dan budaya lokal yang menjadi pegangan masyarakat Bali akan semakin tergoyahkan, nilai tradisi masyarakat Bali yang ramah, lembut dan santun bisa tergilas oleh nilai-nilai baru yang bersandar dan berlindung kepada kebebasan dengan mengatasnamakan hak asasi. Pertukaran informasi termasuk nilai antar Bangsa yang berlangsung dengan cepat dan penuh dinamika, mendorong terjadinya proses perpaduan nilai, kekaburan nilai, bahkan terkikisnya nilai-nilai asli yang sebelumnya sakral dan menjadi identitas suatu Bangsa (Fukuyam, 1. Ketika nilai-nilai teknologi diagung-agungkan oleh para pendukungnya, maka saat itu pula terjadi proses penggiringan nilai-nilai budaya tradisional masyarakat yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya split dan kegamangan nilai (Sauri, 2. Kegamangan nilai ini juga sangat dirasakan dan dialami sebagian besar masyarakat Bali. Kegamangan nilai yang dialami masyarakat dewasa ini terjadi karena sisi negatif modernisasi dengan lebih mengutamakan kemampuan akal, dengan memarginalkan peranan nilai-nilai transendental serta tunduk pada paham individualisme, materialisme,dan Akibatnya, terjadi berbagai bentuk penyimpangan nilai moral yang tercermin dalam corak, gaya dan pola hidup masyarakat. Fenomena menguatnya corak dan gaya hidup mengkhawatirkan bagi pelestarian nilai-nilai lokal dan memberikan dampak negatif terhadap jati diri orang Bali. Jurnal Cakrawarti. Vol. No. Agustus Ae Januari 2020 II. Pembahasan Keunikan Bali Bali memang menarik dan unik. Selain merupakan salah satu ikon kebanggaan Indonesia yang telah mendatangkan banyak wisatawan dan devisa bagi Indonesia karena lingkungan alam dan budayanya, menurut Triguna . 1:i. Bali juga sebagai lokus kehidupan yang unik memiliki banyak cerita yang dinamis sebagai pola kehidupan yang humanis-religius. Keunikan budaya Bali dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama Hindu. Masyarakat Bali mengakui adanya oposisi biner yang komplementer dalam konsep rwa-bhineda yang ditentukan oleh ruang . , waktu . , dan kondisi riil di lapangan . Konsep desa, kala, patra ini menyebabkan kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh budaya luar. Budaya Bali juga memiliki identitas yang jelas yaitu budaya ekspresif yang termanifestasi secara konfiguratif yang mencakup nilai-nilai dasar yang dominan seperti nilai religius, nilai estetika, nilai solidaritas, nilai harmonis,dan nilai keseimbangan (Geriya 2000:. yang tercermin dalam kearifan lokalnya. Kearifan lokal Bali bisa disimak dan dipelajari dari sejarah dan seni pertunjukan (Foto Darma Putr. Banyak tokoh dunia yang tertarik menyoroti, mengkaji tentang budaya dan kearifan lokal Bali, bahkan semuannya tersebut dituangkan dalam tulisannya. Clifford Geertz . misalnya, dalam bukunya Negara. The Theatre State in Nineteenth Century Bali membahas tentang subak secara mendalam dan sistematis, yang sampai pada kesimpulan bahwa di seluruh dunia tidak ada organisasi sosial pengairan yang seefektif subak. Dalam kaitannya dengan pembentukan karakter dilihat dari sisi fungsi nilai membentuk AuisiAy manusia. Geertz . alam Triguna, 2011:. juga pernah menulis tentang pola asuh orang Bali yang menurutnya model pola asuh orang tua telah membentuk karakter orang Bali secara Demikian juga dengan V. Korn . menuangkan kekagumannya tentang orang Bali dalam bukunya Het Adatrecht van Bali (Hukum Adat Bal. Dikatakan bahwa betapa orang Bali pawai dalam membuat saluran-saluran air di bawah tanah . ahasa Balinya : aunga. , bahkan Korn menyebut mereka sebagai para insinyur Bali. Tidak ketinggalan, dibidang pengobatan tradisional . sada-Bal. menjadi daya tarik ilmuan ISSN : 2620-5173 kedokteran berkebangsaan Jerman, seperti Wolfgang Weck. Rakyat di Bali disebutkan bahwa tata cara pengobatan tradisonal Bali memberi sumbangan yang penting bagi metode Gambaran di atas, menunjukkan bahwa ada landasan yang kuat dan segi-segi positip tentang kemampuan orang Bali dengan kebudayaannya yang masih bersifat tradisional. Akan tetapi, dengan banyaknya wisatawan dengan membawa kultur mereka masingmasing, mulai menggoyahkan fondasi yang dibangun sejak awal. Dapat dikatakan bahwa masyarakat Bali kini ada dalam pusaran ideologi modern akibat gelombang teknologi. Tidak semua nilai-nilai budaya tersebut dapat hidup dan berkembang dengan baik karena terdesak oleh kuatnya arus modernisasi dan teknologi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat Bali tentang hakekat dan pentingnya peranan budaya lokal Bali menyangkut adat, tradisi dan nilai-nilai agama Hindu yang menjiwainya. Akibatnya, banyak generasi muda Bali yang melupakan tradisi dan adat budaya Bali yang telah dibangun berabad-abad lamanya oleh nenek moyang orang Bali. Mengingat lingkungan yang terus berubah, yang mana perubahan itu tidak mungkin dapat terelakkan atau dihindari, maka tantangan utama yang dihadapi masyarakat Bali adalah meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan perubahan dan dinamika (Bennet 1976: . Upaya yang dapat dilakukan masyarakat Bali dalam penyesuaian dan adaptasi terhadap perubahan adalah melalui representasi organisasi sosial kemasyarakatan dengan terus mengikuti, mengamati dan menginterpretasi berbagai gejala dan perubahan yang terjadi di dalam Menurut Geertz . , lembaga tradisional seperti Desa Adat dengan awig-awignya dianggap sebagai benteng terakhir dari ketahanan budaya Bali. Jika masyarakat Bali menganggap cara penyesuaian yang dilakukan sebelumnya kurang cocok, misalnya sebagaimana yang telah diatur dalam awig-awig, maka cara itu harus disesuaikan dengan cara yang dianggap lebih cocok atau awig-awig yang dimiliki dapat mengakomodasi hal-hal baru dengan tetap berpegang pada nilainilai kearifan lokal. Dalam keadaan ini, pendidikan tentu memegang peranan penting dalam mentrasformasi nilai-nilai budaya kepada generasi muda Bali. Jurnal Cakrawarti. Vol. No. Agustus Ae Januari 2020 Bali dalam Pusaran Ideologi Modern ISSN : 2620-5173 perpindahan orang, pengaruh teknologi, media informasi, pengaruh ideologi dan sebagainya. Namun demikian, menurut Picard . , orang Bali telah memperlihatkan bakat istimewa dalam menyerap secara selektif pengaruh-pengaruh luar dengan hanya memilih unsur-unsur yang cocok dengan nilai yang ada pada mereka, yang selanjutnya dipadukan dengan selaras dalam sistem budaya mereka. Hasilnya bukan merupakan pelapisan strata budaya yang terpisah-pisah, melainkan suatu perpaduan yang orisinal dari benda-benda, citra dari praktek-praktek dan kepercayaan yang meskipun berbeda asalnya, namun lambat laun mengambil wujud menjadi sesuatu yang bersifat khas Bali. Oleh karena itu, setiap orang yang pengetahuannya telah tersentuh oleh nilai-nilai baru, akan mencoba memberi makna baru bagi tatanan yang ada sebelumnya, tidak terkecuali pada hal-hal yang bersifat normatif. Bagus . juga menegaskan, bahwa meskipun masyarakat Bali telah mengalami Aupergesekan budayaAy yang datang dari timur dan barat, sehingga menimbulkan adanya perubahanperubahan, namun pada hakekatnya perubahan yang ditimbulkan akibat pertemuan budaya tersebut belum begitu berarti, karena masyarakat Bali masih bercorak kolektif, komunal dan ritualistik. Namun demikian, seiring dengan makin kuatnya terpaan konsumerisme dan materialisme, kini perilaku orang Bali juga sudah menjadi semakin individualistis, asosial, bahkan menunjukkan sifat-sifat hedonis pada sebagian masyarakat. Menghadapi kondisi ini menjadi sebuah keniscayaan bagi para orang tua dan para pendidik formal lainnya mengangkat dan menggunakan nilai-nilai kearifan lokal Bali sebagai rujukan dalam pendidikan guna membentuk karakter manusia Bali. Diyakini, bahwa nilai termasuk nilai budaya merupakan sesuatu yang dianggap paling berharga dalam kehidupan masyarakat sebagai pedoman hidup yang memungkinkan setiap orang mencapai jagadhita (Triguna, 2. Nilai yang dianut tidak semata-mata sebagai pedoman hidup, tetapi juga membentuk karakter manusianya. Dalam fungsinya sebagai pedoman hidup, nilai menjadi batas-batas . terhadap nilai-nilai yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Nilai juga menjadi semacam referensi mengenai kebenaran, kepatutan dan kebaikan. Jadi nilai berfungsi sebagai panduan dalam membantu manusia Kenyataan bahwa orang Bali belakangan ini cenderung mengadopsi kebudayaan modern . ang mungkin dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya loka. , sementara di sisi lain, orang Bali berada pada persimpangan jalan, karena mereka sedang menggiatkan Desa Adat (Desa Pakrama. Dengan kata lain, orang Bali dihadapkan pada fenomena paradoks, yakni berdiri pada pijakan yang berbeda. Kaki kanan terikat pada kekuatan tradisi, sedangkan kaki kiri menganut sistem nilai dari luar . ilai-nilai moder. Sentuhan budaya luar ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan, sehingga masyarakat Bali kehilangan orientasi . dan dislokasi hampir pada setiap aspek kehidupan (Ardika, 2004a:. Kehidupan modern akibat teknologi telah menimbulkan pergulatan antara nilai-nilai budaya lokal dengan budaya global pada masyarakat Bali. Sistem budaya lokal dengan kearifan lokalnya yang selama ini digunakan sebagai acuan pembentukan karakter oleh masyarakat Bali tidak jarang mengalami perubahan karena pengaruh nilai-nilai budaya global terutama karena kemajuan teknologi informasi yang semakin mempercepat proses perubahan tersebut. Berkembang pesatnya kemajuan teknologi di satu sisi mempermudah bagi kehidupan masyarakat Bali, akan tetapi di sisi lain menjadi beban terutama karena adanya sejumlah nilai-nilai ikutan dari teknologi yang nilai-nilai sekular,pragmatis dan positivis. Nilai-nilai yang mapan selama ini telah mengalami perubahan yang pada gilirannya menimbulkan keresahan psikologis dan krisis identitas di banyak kalangan masyarakat Bali (Ardika, 2004b:. Intinya, melahirkan diferensiasi yang meluas, yang tampak dari proses pembentukan gaya hidup dan identitas masyarakat Bali (Wolf, 2007:. McKean . alam Geriya 2. , menggambarkan bahwa Bali sesungguhnya sudah sangat terkenal sebagai pulau yang sangat tradisional akan tetapi kenyataannya Bali juga menjadi pulau yang sangat modern jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya di Indonesia. Bali kini telah kena pengaruh Teknologi yang dicirikan dengan Jurnal Cakrawarti. Vol. No. Agustus Ae Januari 2020 menjadi lebih tertib dan berbudaya. Dalam konteks praktek pendidikan. Zuchdi . menyebutkan bahwa pendidikan bukan hanya sekedar menumbuhkan dan mengembangkan keseluruhan aspek kemanusiaan tanpa diikat oleh nilai, akan tetapi nilai itu merupakan pengikat dan pengaruh proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Agar standar nilai yang dipegang teguh selama ini oleh masyarakat Bali lambat laun tidak rapuh, maka rujukan etika yang dikembangkan dalam pendidikan tidak cukup hanya berdasarkan kepada nilai moral masyaraat Bali, akan tetapi harus berdasarkan nilai transendental yang bersumber dari agama, adat- istiadat dan tradisi nilai-nilai lokal. Pedoman nilai pada masyarakat Bali banyak terdapat pada kearifankearifan lokal yang dijiwai oleh agama Hindu. Tradisi budaya masyarakat Bali mempunyai banyak potensi kearifan lokal yang dapat digunakan oleh masyarakat Bali sebagai rambu-rambu atau pedoman dalam pendidikan dan dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena itu, menjadi tugas bersama terutama kalangan pendidik . ormal dan informa. mengangkat nilai-nilai lokal Bali yang ditanamkan pada generasi muda Bali dalam membentuk karakternya sebagai manusia sosial, religius, estetik, ekonomik dan adaptip terhadap lingkungan. ISSN : 2620-5173 dengan memiliki ketahanan budaya lokal yang Sedyawati . ketahanan budaya sebagai kemampuan sebuah kebudayaan untuk mempertahankan jati dirinya, tidak dengan menolak segala unsur asing dari luarnya, melainkan dengan menyaring, memilih dan memodifikasi unsur-unsur budaya luar sehingga tetap sesuai dengan karakter dan citra Bangsa. Dalam hal ini Catur Guru sangat berperan dalam menanamkan nilai tradisi atau nilainilai kearifan lokal yang dimulai dari lingkungan keluarga. Banyak nilai-nilai kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk membentengi masyarakat dari pengaruh Modernisasi teknologi sekaligus untuk membentuk karakter. Setiap wilayah tentu memiliki budayanya sendiri dengan berbagai kearifan di dalamnya. Bahkan sekolah atau lembaga pendidikan formal yang ada di wilayah tersebut menjadikan kearifan lokal wilayah tersebut sebagai rujukan untuk membentuk kultur sekolah, agar peserta didik tidak terasing dari budaya yang melingkupinya. Secara filosofis, nilai-nilai kehidupan yang dianut oleh masyarakat akan berpengaruh terhadap jalannya proses pendidikan. Contoh, dalam masyarakat Bali dasar keyakinannya adalah agama Hindu, yaitu Panca Sradha dan filsafat-filsafat kehidupan lainnya, seperti Tri Rna. Tri Guru. Tri Pramana,Tri Mandala. Catur Asrama. Catur Purusartha dan lain-lain yang akan dimanifestasikan dalam setiap langkah proses pendidikan, baik di sekolah, dalam keluarga maupun di masyarakat. samping nilai-nilai filosofis tersebut, tatanan praktek kehidupan sehari-hari seperti tat twam asi . aling asi. , gotong royong menyama braya akan memberikan inspirasi pada praktekpraktek pendidikan. Namun demikian, banyak nilai budaya dan orientasinya yang bisa menghambat dan bisa mendorong pendidikan. Bahkan, banyak nilai-nilai dimanfaatkan secara sadar dalam proses Sebagai bahan banding, di Jepang Aymoral Ninomiya KinjiroAy merupakan nilai budaya yang dimanfaatkan praktek pendidikan untuk mengembangkan etos kerja masyarakat Jepang, sehingga orangorang Jepang terkenal dengan keuletan dan budaya kerjanya yang tinggi (Zamroni, 2. Strategi Pewarisan Nilai Kearifan Lokal dalam Membentuk Karakter Penanganan dampak dominasi budaya global terhadap budaya lokal salah satunya dilakukan melalui pengembangan kualitas sumber daya manusia Bali (SDM Bal. , perluasan akses, dan relevansi pendidikan berbasis budaya dan kearifan lokal Bali. Upaya ini diharapkan dapat semakin mengenalkan dan meningkatkan kecintaan masyarakat Bali terhadap budaya Bali sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing masyarakat Bali. Kendati teknologi menciptakan banyak kesempatan untuk berbagi pengetahuan, teknologi, nilai-nilai sosial, dan norma perilaku yang mempromosikan perkembangan individu, organisasi dan masyarakat, nilai-nilai lokal tetap harus menjadi basis penyaring. Agar masyarakat Bali tetap mampu mempertahankan identitasnya tanpa harus terseret terlalu larut dalam arus teknologi, salah satunya adalah Jurnal Cakrawarti. Vol. No. Agustus Ae Januari 2020 Dari kedua contoh di atas, jelas tampak betapa pentingnya nilai-nilai budaya daerah . earifan-kearifan loka. untuk ditanamkan kepada peserta didik. Penemuan tentang nilainilai dan orientasi budaya daerah . yang memiliki nilai positif bagi praktek pendidikan, menjadi hal penting dalam upaya menangkal sisi negatif pengaruh global. Pendidikan di Indonesia harus berkaitan erat dengan falsafat dan budaya Bangsa. Surachmad Aybahwa kependidikan yang tidak lahir dan tidak tumbuh dari bumi yang diabdinya tidak akan pernah mampu melahirkan potensi untuk menangani masalah yang tumbuh di bumi iniAy. Kesesuaian antara tujuan lembaga dengan falsafah, moral serta etika yang dianut dalam masyarakat, merupakan satu bentuk pertanggung-jawaban sekolah kepada masyarakat (Joni, 2. Karena itu nilai-nilai budaya daerah (Bal. perlu lebih banyak digali dijadikan dasar pelaksanaan pendidikan, baik yang ada dalam susastra Hindu maupun tradisi yang hidup dan berkembang di masyarakat. Dengan demikian, masyarakat Bali akan AyterbentengiAy dari pengaruh negatif budaya Banyak kearifan lokal Bali dan ajaranajaran Hindu yang harus ditanamkan pada generasi muda Bali melalui pendidikan seperti Tri Hita Karana, ajaranTat Twam Asi. Tri Kaya Parisudha, sagilik paras-paros, merakpak danyuh, dalam arti adanya nilai toleransi dan memiliki rasa kebersamaan dan sebagainya, termasuk makna yang terdapat dalam kidung/pupuh. Salah satu pupuh ginada, yaitu AyPupuh Ede Ngaden Awak BisaAy, yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi lisan masyarakat Bali yang banyak mengandung masyarakat Hindu (Bal. Seseorang akan dikenal oleh orang lain karena Atas dasar ini orang akan memberi pengakuan terhadap prestasinya itu. Dalam zaman teknologi manusia dituntut untuk selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi. Oleh karena itu, manusia terus dituntut mengisi diri agar mampu bersaing dalam tataran global. Karena itu manusia diharapkan mampu mencari terobosan-terobosan baru . dalam memecahkan masalah Potensi merupakan potensi kearifan lokal yang perlu diteruskan kepada generasi muda Bali melalui ISSN : 2620-5173 pendidikan karakter, sehingga jati diri mereka sebagai orang Bali semakin kuat di tengah gempuran budaya global. Untuk mewariskan nilai-nilai lokal melalui pendidikan dalam konteks teknologi. Pengembangan budaya lokal dalam teknologi membutuhkan kerangka kerja lokal sebagai proteksi dan penyaring. Dampak yang diinginkan dari penerapan ini dalam pewarisan nilai-nilai budaya lokal atau kearifan lokal melalui pendidikan, adalah pribadi lokal dengan pandangan global yang dapat bertindak lokal dengan pengetahuan global yang terdeteksi. Ini berarti bahwa penanaman nilai-nilai lokal dalam situasi global memerlukan kerangka kerja lokal untuk menyaring pengaruh negatif teknologi. Jika kearifan-kearifan diwariskan melalui pendidikan berbasis kearifan lokal, maka orang Bali akan mampu pengaruh-pengaruh modernisasi akibat gelombang teknologi. Penutup Simpulan Tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat Bali belakangan ini adalah kemampuan dalam menjaga, melestarikan dan mewariskan kearifan-kearifan lokal. Pewarisan nilai kearifan lokal dimaksudkan agar generasi muda Bali dapat memproteksi diri dari pengaruh negatif modernisasi akibat teknologi. Teknologi yang dicirikan oleh perpindahan orang, pengaruh teknologi, pengaruh media informasi, aliran uang dari negara kaya ke negara miskin dan pengaruh ideologi, sangat dirasakan masyarakat Bali. Sentuhan budaya global menyebabkan terjadinya perubahan sosial-budaya dan tataran nilai pada masyarakat Bali. Modernisasi dan teknologi telah memperkenalkan nilai-nilai baru dalam lingkungan tradisi Bali. Sistem budaya lokal dengan kearifan lokalnya yang selama ini digunakan sebagai acuan pembentukan karakter oleh masyarakat Bali tidak jarang karena pengaruh budaya global, yang dapat menimbulkan keresahan psikologis dan krisis identitas pada sebagian masyarakat Bali. Kegamangan nilai juga dialami masyarakat Bali modern karena lebih mengutamakan kemampuan akal dibandingkan dengan nilai-nilai transendental Jurnal Cakrawarti. Vol. No. Agustus Ae Januari 2020 serta tunduk pada paham individualisme, materialisme dan kapitalisme yang berakibat terjadinya penyimpangan nilai moral yang tercermin dalam corak, gaya dan pola hidup Fenomena menguatnya corak dan gaya hidup hedonis cukup mengkhawatirkan bagi pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Oleh karena arus teknologi tidak dapat dihindari, maka dalam pewarisan nilai-nilai budaya Bali atau kearifan-kearifan lokal dengan serapan nilai global. Saran-saran Pada jaman globalisasi ini masyarakat Bali termasuk generasi muda Bali dapat menjaga diri dari pengaruh negatif maupun pengaruh positif akibat dampak kemajuan teknologi. Sehingga generasi muda Bali dapat menjaga , melestarikan dan mewariskan nilai-nilai kearifan lokal Bali. DAFTAR PUSTAKA