PENGGEMBALAAN SEBAGAI PRAKTIK EKARISTI: SUATU PENDEKATAN EKSEGETIS-KONSTRUKTIF TERHADAP YOHANES 21:15-19 Abstrak: Tulisan ini mengkaji konsep penggembalaan dan relasinya dengan Ekaristi dalam Yoh. 21:15-19. Lewat pendekatan eksegetis, penulis menyoroti kata demi kata, baik secara etimologis maupun kontekstual, serta melakukan survei Injil Yohanes secara komprehensif agar dapat melihat secara luas perikop Injil yang dirujuk, dan kemudian berfokus pada Yoh. 21 mengenai dialog antara Yesus dan Petrus, dengan menghubungkannya dengan konteks dekat, yaitu Yoh. 21:1-14 dan Yoh. 21:20-23, maupun konteks jauh, yaitu keseluruhan Injil Yohanes. Tulisan ini juga memuat kritik terhadap beberapa pandangan lama yang sudah tidak relevan dan mengganggu pemaknaan teks yang Penulis akhirnya mengonstruksi penggembalaan dengan Ekaristi sehingga dapat ditemukan sebuah pemahaman baru akan penggembalaan sebagai sebuah praktik dari Ekaristi, yakni penggembalaan bukan sekadar praktik gerejawi atau kepemimpinan semata, melainkan sebuah kerelaan memberikan seluruh aspek kehidupan, bahkan nyawa untuk kehidupan domba-dombanya, dengan berbasis pada kematian Kristus yang menghidupkan orang beriman, sebagaimana perintah Yesus pada Petrus dalam Yoh. 21:15-19. Kata-kata Kunci: penggembalaan. Ekaristi, perintah, memberi makan. Abstract: This article seeks to explore the concept of shepherding and its relation to the eucharist in the Gospel of John 21:15-19. Using an exegetical approach, the author tries to highlight word for word, both etymologically and contextually, and conducts a comprehensive survey of the Gospel of John, in order to see extensively about the verses under Finki Rianto Kantohe. Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta. Email: nky. kantohe@stftjakarta. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 discussion text. In the end, the author shall construct shepherding with the eucharist, so that a new understanding of shepherding could be found as a practice of the eucharist, namely shepherding is not just ecclesiastical practice or leadership, but rather willingness to offer all aspects of life, even shepherdAos own life for the lives of its sheep based on the sacri ce of Christ who revives believers, as Jesus commanded Peter in John 21: 15-19. Keywords: shepherding, eucharist, command, feeding, sheep PENDAHULUAN Yoh. 21:1-25, khususnya ayat 15-19, merupakan sebuah bagian Alkitab yang sudah umum dikenal sebagai suatu amanat penggembalaan yang diberikan oleh Yesus kepada Petrus. Berbagai konsep penggembalaan yang dijadikan dasar oleh komunitas-komunitas Kristen biasanya tidak lepas dari bagian Alkitab ini, sehingga jika dilihat sekilas, maka terlihat dari judul tulisan ini seakan penulis sedang mengusung suatu pokok permasalahan yang sudah lama atau usang. Akan tetapi, sering dibahas atau tidak, bagi penulis bukanlah sebuah patokan yang teramat kaku, seolah kita dapat melepaskan bagian Alkitab ini dari penafsiran baru atau pemahaman eksegesis yang terus berkembang. Bagi penulis, teks Yoh. 21:15-19 selalu terbuka bagi sebuah pemahaman eksegesis yang baru dan lebih berkembang. Sejauh pembacaan pribadi penulis, ada kecenderungan untuk mengabaikan narasi Yoh. 21:15-19 dari konteks terdekatnya, yakni Yoh. 21:1-14 dan 20-23. Inilah salah satu masalah yang umum dalam pembacaan Yoh. Padahal, narasi ini seharusnya dipotret sebagai sebuah kesatuan yang utuh, yang menghasilkan sebuah tafsiran yang konstruktif. Inilah yang hendak dilakukan dalam tulisan ini, yakni menafsirkan secara eksegetis-konstruktif Yoh. 21:15-19 dengan penekanan terhadap keseluruhan narasi Yoh. Menurut hemat penulis, dengan membaca dan menafsir secara keseluruhan Yoh. 21, potret penggembalaan dalam Yoh. 21:15-19 akan muncul sebagai sebuah perwujudan Ekaristi, yakni sebuah praktik meneladani Kristus yang memberikan hidup-Nya bagi domba-domba-Nya. Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. Secara tekstual terlihat sangat jelas bahwa Yoh. 21:15-19 berisikan percakapan antara Yesus. Simon Petrus, dan juga melibatkan salah satu tokoh yang diidenti kasi sebagai Aumurid yang dikasihiAy. Secara kontekstual percakapan juga melibatkan murid-murid lain, sebagaimana yang dicatat pada ayat-ayat sebelumnya. Oleh karena itu, melalui tulisan ini penulis mencoba melakukan eksegesis terhadap Yoh. 21:15-19, khususnya mengenai perintah Yesus. AuGembalakanlah domba-dombaKu. Ay Dalam pandangan penulis. AuGembalakanlah domba-dombaKuAy merupakan perintah Yesus yang mutlak dan kontinu kepada Simon Petrus untuk meneladani Kristus sebagai gembala yang baik yang memberi hidup-Nya kepada domba-domba-Nya, sebagaimana disimbolkan dalam praktik Ekaristi. METODE Tulisan ini merupakan sebuah kajian eksegetis yang menggunakan pendekatan sinkronik dan studi literatur sebagaimana umumnya dipraktikkan dalam suatu tulisan eksegesis. Tujuannya ialah menggali makna secara tekstual Yoh. 21:15-19 mengenai penggembalaan dan mengonstruksikannya dengan topik Ekaristi yang terkandung dalam Yoh. 21:114. Tulisan ini juga mengekspos, berdasarkan bahasa asli teks, kata-kata kunci seperti AusarapanAy. AumengasihiAy. AugembalakanlahAy. Auanak-anak dombaAy. Audomba-dombaAy, mengkaji sintaksisnya, serta melihat secara semantik penggunaan kata-kata tersebut dalam Injil Yohanes. Salah satu metode yang penting adalah penggunaan literatur-literatur yang juga membahas Injil Yohanes 21:15-19, bahkan Yoh. 1:1-14 atau pun literatur yang membahas topik yang mirip dengan tulisan ini, yang dinilai berelasi dengan fokus kajian tekstual yang dirujuk, lalu mengembangkannya, sehingga dapat dihasilkan suatu kajian eksegetis yang konstruktif, bertanggung jawab, dan mampu menawarkan perspektif yang Penulis akan memulai dengan meninjau Injil Yohanes, terutama bagian yang mengawali kisah percakapan Yesus dengan Simon Petrus. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 yaitu penampakan dan makan bersama yang dilakukan Yesus dengan para murid dalam Yoh. 21:1-14, agar menemukan sudut pandang yang tepat untuk melihat Injil Yohanes. Penulis melanjutkan dengan melakukan kajian tekstual Yoh. 21:15-19 lewat penelusuran eksegetis secara sinkronik mengenai relasi Petrus dengan Yesus, maupun penyangkalan Petrus terhadap Yesus, menyoroti kata-kata yang penulis anggap penting dalam teks dalam bahasa teks aslinya, terutama mengenai kata AuGembalakanlah domba-dombaKu. Ay Setelah itu, penulis akan mendalami Yoh. 21:15-19 dalam kaitannya dengan pernyataan Yesus tentang diri-Nya sebagai Gembala yang baik dalam Yoh. 10:1-21. Pada akhirnya penulis mengonstruksikan atau mendialogkan hasil dari eksegesis tersebut dengan konsep Ekaristi, sehingga menghasilkan suatu pandangan teologis yang baru, biblis dan konstruktif mengenai teks tersebut, yakni penggembalaan sebagai sebuah praktik Ekaristi. Dengan menunjukkan relasi penggembalaan dan Ekaristi, artikel ini hendak menawarkan suatu pemahaman baru bahwa penggembalaan bukan sekadar praktik organisasi gerejawi, melainkan sebuah praktik atau bahkan ekspresi Ekaristi, yakni sebuah tindakan dan panggilan meneladani Kristus yang memberikan tubuh, hidup-Nya, mati bagi domba-domba-Nya. Sebaliknya. Ekaristi pun tidak hanya dapat dihayati sebagai bagian penting dalam liturgi, tetapi juga dalam spiritualitas penggembalaan. Jadi, pertanyaan yang akan dijawab dalam tulisan ini adalah, bagaimana Yoh. 21:15-19 menggambarkan konsep penggembalaan dalam kaitannya dengan keseluruhan narasi Yoh. 21? Lalu apa hubungan antara penggembalaan dan Ekaristi yang terpotret Yoh. PERCAKAPAN YESUS DENGAN PETRUS (Yoh. 21:15-. DAN PENAMPAKAN YESUS DI DANAU TIBERIAS (Yoh. 21:1-. Frederick Dale Bruner membuat suatu garis besar Injil Yohanes yang menempatkan Yoh. 21:15-19 pada bagian penutup Yoh. 21:1-25 yang berisikan penyataan diri Yesus kepada murid-murid-Nya dan untuk misi kepada dunia. 1 Dengan demikian. Yoh. 21:15-19 merupakan penyataan Frederick Dale Bruner. The Gospel of John: A Commentary. HARDBOUND edition. Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. diri Yesus sekaligus misi yang diberikan kepada Yesus dan sudut pandang yang digunakan juga melihat ini sebagai misi kepada dunia yang adalah amanat Yesus. Bahasan mengenai 21:15-19 ini tidak dapat dipisahkan dari Yoh. 21:1-14. 20-25, sebab ini merupakan sebuah kesatuan yang sangat penting untuk tetap dilihat utuh. Yoh. 21:15 dimulai dengan sebuah latar waktu, yakni sesudah sarapan, sehingga menunjukan bahwa percapakan Yesus dengan Simon Petrus berada pada nuansa pagi hari. Dalam teks Yunani, ayat 15 dimulai dengan kata sEA dan n . ote dan ou. yang mana keduanya merupakan sebuah konjungsi (Danker 2009, 257 dan . yang juga menunjukan kronologi, 2 sehingga menghubungkan dengan erat antara Yoh. 21:15-21 ini dengan perikop sebelumnya, yakni 21:1-14. Maka sebelum masuk kepada Yoh. 21:15-19, sangat penting untuk meninjau apa yang ada dalam Yoh. 21:114. Sekalipun demikian, ini bukan berarti penulis akan meninjau secara mendalam 21:1-14, melainkan sebatas melihat inti yang ada pada bagian tersebut untuk dikonstruksikan dengan 21:15-19, demi mendapatkan suatu eksegesis yang komprehensif. Yoh. 21:1-14 merupakan peristiwa di mana Yesus menampakan diri kepada murid-murid-Nya yang saat itu terlihat kembali kepada profesi awal mereka sebelum akhirnya bertemu dengan Yesus yang bangkit. Beberapa Teolog mengatakan bahwa Yoh. 21:1-14 bernuansa dan berisikan catatan Ekaristi yang dilakukan Yesus dengan murid-muridnya. Menurut Keneer, misalnya, penggunaan kata AAEEAEEA . yang berasal dari kata EAEE menunjukan konsep yang serupa dengan AnA, hanya berbeda pada persoalan waktu, yang mana AnA merujuk kepada hari menjelang malam, sedangkan EAEE pagi menjelang siang. Menurut Keener, ayat 12-13 menyatakan persoalan Yesus memberi makan para murid, sehingga ini dapat dilihat sebagai sebuah perjamuan Yesus dengan murid-murid-Nya dan merupakan sebuah penggenapan atas Yoh. (Grand Rapids. Michigan: Eerdmans, 2. , p. Frederick William Danker. The Concise Greek-English Lexicon of the New Testament (Chicago: University of Chicago Press, 2. , pp. 257 dan 259. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 6:11. Selain Keener. Bruner juga memberikan gagasan dengan mengons3 truksikan perihal Ekaristi dalam Yoh. 21:1-14 ini dengan Luk. Menurutnya, perihal roti dan ikan merupakan sebuah penggambaran Ekaristi antara Yesus dengan para murid, dan Ekaristi selalu menghasilkan kesadaran akan identitas Yesus. Yoh. 21:1-14 merupakan catatan yang serupa dengan Luk. 24 mengenai Ekaristi, yang selalu berhubungan dengan pernyataan diri Yesus. Berdasarkan pandangan di atas, sangat jelas bahwa Yoh. 21:12-14 merupakan sebuah catatan mengenai Ekaristi. Pernyataan Yesus yang mengajak para murid sarapan, dalam 21:12, memperlihatkan sebuah pola yang serupa dengan Yoh. 6 dan Luk. Dalam kedua perikop terakhir ini, setelah terjadi perjamuan yang Yesus adakan dengan murid-Nya, para murid akhirnya memperoleh kesadaran dan dapat mengenali Yesus, padahal sebelumnya mereka tidak mengenali Yesus. Ekaristi adalah sebuah momen Yesus memberi makan murid-murid-Nya yang sekaligus juga menyatakan diri-Nya. Selain itu, menurut pandangan David Rensberger. Ekaristi juga merupakan perlawanan terhadap ketidakpercayaan dan pemisahan orang-orang percaya dari dunia, dan membawa orang-orang percaya ke dalam sebuah kesatuan dengan Kristus dan sesama orang-orang percaya. 5 Oleh karena itu. Ekaristi merupakan sebuah momen yang membangkitkan iman para murid yang ditandai dengan pengenalan mereka yang muncul terhadap Yesus dan menyatukan para murid dengan Kristus, serta satu dengan yang lainnya, sehingga 21:15-17 pun dapat dilihat dalam relasinya yang erat dan Ekaristis. KAJIAN TEKSTUAL YOHANES 21:15-17 Setelah bahasan singkat mengenai ayat sebelum Yoh. 21:15-17 ini, maka dapat disimpulkan bahwa teks yang langsung mendahuluinya, yakni Yoh. 21:1-14, berpuncak pada pembahasan mengenai Ekaristi. Oleh Craig S. Keener. The Gospel of John. Volume One & Volume Two. Reprint edition. (Grand Rapids. Michigan: Baker Academic, 2. , pp. 1230Ae1231. Bruner. The Gospel of John, p. David Rensberger. Johannine Faith and Liberating Community, 1st edition. (Philadelphia: Westminster John Knox Press, 1. , p. Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. karena itu, secara kontekstual Yoh. 21:15-17 ini juga akan memiliki kelekatan yang erat dengan Ekaristi. Yoh. 21:15 mencatat bahwa, setelah konjungsi sEA dan n terdapat kata Ae yang merupakan bentuk pasif dari kata dasar EAEE yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan Ausarapan. Ay Seperti telah dibahas di atas bahwa. EAEE . merupakan sebuah kata yang menunjukan konsep yang serupa dengan AnA. hanya berbeda pada persoalan waktu, yang mana AnA merujuk kepada hari menjelang malam, sedangkan EAEE pagi menjelang Kata EAEE ini pun muncul sebelumnya, yaitu saat Yesus memberi makan para murid dalam nuansa Ekaristi. Oleh karenanya, menjadi terang bahwa percakapan Yesus dengan Petrus berlangsung pada pagi hari dan dalam nuansa perjamuan Ekaristi. Selanjutnya, ayat 15 mencatat bagaimana Yesus memanggil Simon Petrus dengan melibatkan nama orangtua yang melekat dengannya. AuSimon anak Yohanes. Ay Hal ini juga menunjukan terjadinya pergeseran cerita yang disajikan Injil Yohanes, yakni yang awalnya merupakan percakapan antara Yesus dengan para murid lainnya bergeser menjadi lebih spesi k, yaitu antara Yesus dengan Simon Petrus, sekalipun pada saat itu sebetulnya juga terdapat tokoh lain yang berada di seputaran kedua tokoh utama ini. Kemudian, hal yang sangat penting untuk disoroti sebelum perintah Yesus. AuGembalakanlah domba-dombakuAy adalah, pertanyaan Yesus kepada Simon Petrus, yang bahkan pada perikop ini diulang sampai tiga kali, yaitu pertanyaan. AuApakah engkau mengasihi Aku?Ay AGAPe DAN FILIA Sebelum lebih jauh menyoroti perintah yang Yesus berikan dalam percakapan dengan Simon Petrus, penulis perlu membahas kata AukasihAy dalam pertanyaan Yesus. Berdasarkan bahasa asli teks ini, yakni dalam bahasa Yunani, pertanyaan pertama dan kedua Yesus menggunakan kata agapas, sedangkan jawaban Petrus selalu menggunakan les. Hanya pertanyaan ketiga Yesus yang menggunakan kata les, dan Petrus juga menjawab dengan menggunakan les. Sekilas, ini menunjukan adanya DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 sebuah disjungsi yang sangat signi kan dalam penggunaan kata AukasihAy tersebut, sehingga tidak heran jika orang terjebak ke dalam supremasi agape melampaui bentuk kasih manapun, termasuk les. Gagasan mengenai hirarki kasih ini merupakan sebuah gagasan yang dipopulerkan oleh Anders Nygren, yang mengatakan bahwa agape adalah satu-satunya cinta sejati bagi orang Kristen, sehingga lia menjadi lebih rendah dari pada agape. Jauh berbeda dengan Nygren, yaitu D. Carson, dalam bukunya Exegetical Fallacies. Menurut Carson, agapas maupun les bukanlah dua hal yang berbeda, melainkan dua kata yang sering digunakan secara bergantian dalam bahasa Yunani tanpa mengalami perubahan makna dan dalam konteks Yoh. 21:15-17 juga tidak terjadi perbedaan semantik, sehingga keduanya hanyalah kata yang digunakan secara bergantian. 7 Selain itu. Carson memperkuat gagasannya dengan meninjau secara konkordantif. Ia menemukan bahwa pemerkosaan inses Amnon terhadap saudari tirinya. Tamar, menggunakan kata agape. Demas meninggalkan Paulus dan memilih mencintai dunia yang jahat. di situ juga digunakan kata kerja agapas yang jelas merupakan akar dari kata benda agape . Tim. Sebaliknya. Yoh. 3:35 mencatat Bapa mengasihi Anak menggunakan kata kerja agapas. Yoh. 5:20 mengulangi ide tersebut, tetapi menggunakan kata kerja les tanpa pergeseran makna dan konteks. Dalam terang ini, maka penulis pun setuju dengan Carson, bahwa memang kedua kata ini tidak mengalami perbedaan yang signi kan sehingga tidak perlu berlama-lama dalam menyoroti perbedaan tersebut dalam penafsiran Yoh. 21:15-17 ini. Penulis juga melihat dalam teks Yunani, keterangan Auketiga kalinyaAy pada ayat 17 mengindikasikan bahwa pertanyaan Yesus merupakan pertanyaan yang sama dengan dua pertanyaan sebelumnya. Menurut penulis, pertanyaan Yesus menggunakan Joas Adiprasetya. AuPastor as Friend: Reinterpreting Christian Leadership,Ay Dialog 57, 1 (March 2. : 49. Carson. Exegetical Fallacies, trans. Lanna Wahyuni, 2nd ed. , (Surabaya: Penerbit Momentum, 2. , 28. Carson. Exegetical Fallacies, p. Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. les memiliki makna, nilai, dan bobot yang sama dengan pertanyaan sebelumnya pada ayat 15-16 yang menggunakan kata agapas, sebab jika terjadi perubahan secara esensial, maka penulis Injil ini seharusnya tidak menggunakan kata keterangan Auketiga kaliAy . o trito. Oleh karena itu, penulis mengabaikan perihal perbedaan kata AukasihAy yang digunakan, karena tidak memiliki makna yang substansial, dan kata AukasihAy di sini akan dipandang lebih dalam kaitannya dengan jawaban Petrus dan perintah Yesus. RESTORASI DAN RECALLING SIMON PETRUS Pertanyaan Yesus kepada Petrus di ayat 15 sangat menarik, karena terdapat perbedaan yang layak untuk dikaji. Alkitab terjemahan Baru bahasa Indonesia mencatat. Auapakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?Ay Penulis melihat bahwa, penerjemah tidak sekedar menerjemahkan teks, tetapi juga terlihat jelas melakukan penafsiran. Terjemahan LAI secara eksplisit menyebut "mereka ini" dan memaknainya sebagai "para murid lain yang bersama Petrus". Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah EEO . yang merupakan sebuah kata penunjuk . emonstrative pronou. , yaitu sebuah pronoun yang menunjukkan sesuatu yang spesi k. Kata EEO di sini tercatat dalam bentuk genetif jamak, di mana dalam bentuk tersebut, tidak terdapat perbedaan pada gender masculine, femine dan neuter, melainkan semuanya dicatat dengan formulasi yang sama dalam kasus genetif jamak. Karena ditulis dalam bentuk genetif jamak, maka kata tersebut dapat diterjemahkan sebagai Aumereka . aki-lak. ini, bisa juga mereka . ini atau hal-hal Ay9 Dengan demikian. EEO memberikan kasus yang terbuka untuk ditafsirkan, dengan konsekuensi masing-masing. Tampaknya jika ditafsir sebagai Aumereka . iniAy sangat tidak dapat diandalkan, karena secara konteks, tidak ada muatan tentang perempuan pada ayat ini, sebelum dan sesudahnya. Kemungkinan yang ada ialah EEO sebagai maskulin yang berarti Aumereka . aki-lak. iniAy, yakni para murid-murid William D. Mounce. Basics of Biblical Greek Grammar, 3rd ed. (Grand Rapids: Zondervan, 2. , pp. 95Ae96. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 lain yang ada bersama Petrus atau neuter yang berarti Auhal-hal iniAy, yakni peralatan menangkap ikan atau pekerjaan Petrus sebagai nelayan. Penulis memilih menafsirkan kata EEO ini dalam bentuk neuter, yakni melihat EEO yang dimaksud bukan sebagai murid-murid lain, melainkan sebagai peralatan manangkap ikan. Dalam gagasan ini, penulis melihat peralatan penangkap ikan ini sebagai representasi pekerjaan Petrus sebagai nelayan. John Aston, dengan mengutip Haenchen, mengatakan bahwa Yoh. 21:1-14 ini berada pada sebuah konteks yang terkait dengan pemanggilan para murid dari pekerjaan lama mereka, di mana Yesus memanggil mereka untuk mengikuti-Nya dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Yoh. 21 adalah sebuah pengutusan para murid untuk melanjutkan panggilan mereka sebagai penjala manusia dari pekerjaan mereka yang lama sebagai penjala sebagai ikan. 10 Selain itu, jika dibandingkan dengan Yoh. 13:34 yang menyatakan perintah mengasihi Yesus sama dengan mengasihi sesama murid dalam konteks itu, maka menjadi kontras jika kali ini Yesus membandingkan mengasihi-Nya dengan mengasihi para murid lain, yang sebelumnya justru disetarakan oleh Yesus. Berdasarkan gagasan-gagasan tersebut, maka bagi penulis menjadi konstruktif jika EEO ditafsir sebagai profesi Petrus, dan bukan murid-murid lain yang berada bersama Petrus saat itu. Pertanyaan Yesus kepada Petrus yang pertama berisikan sebuah pembandingan, apakah Petrus lebih mengasihi Yesus atau profesinya. Sebagaimana dinyatakan oleh Keener, bahwa dalam Yoh. 21:15-17. Petrus diberikan tiga kali kesempatan untuk mengakui kasih-Nya kepada Yesus, sesuai dengan penyangkalan Petrus sebelumnya yang juga dilakukan tiga kali,11 maka sangat bisa dilihat bahwa. Yoh. 21:15-17 merupakan pemulihan . terhadap Petrus. Dalam terang ini, maka pertanyaan Yesus kepada Petrus adalah sebuah pertanyaan yang juga menanyakan kembali komitmen Petrus, yang mana jauh sebelumnya. Yesus telah memanggil Petrus menjadi Penjala Manusia dan bukan lagi Penjala IkanAiseperti di10 John Ashton. Understanding the Fourth Gospel, 2nd ed. (New York: Oxford University Press, 2. , p. 11 Craig S. Keener. The Gospel of John. Volume One & Volume Two, p. Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. catat dalam Injil Matius 4:19 dan Markus 1:17. Petrus dalam konteks Yoh. 21:1-14 telah kembali kepada profesi lama, sebelum Yesus memanggilnya. Hal itu ditandai dengan latar tempat peristiwa yang terjadi di danau Tiberias, yang merupakan sebutan untuk danau Galilea, sehingga terlihat bahwa penulis Injil Yohanes sedang memotret sebuah peristiwa yang serupa namun dalam konteks waktu yang berbeda. Tampaknya penulis Injil Yohanes sedang menggambarkan sebuah peristiwa restorasi, atau yang disebut oleh Johanes Beutler. Jesus Recalls Peter, yang menunjukkan kembalinya Petrus pada panggilan awali, setelah penyangkalannya dan palingannya kepada profesi lama, agar Petrus kembali mengasihi Yesus dan melakukan perintah-Nya. Pertanyaan Yesus yang pertama kepada Petrus adalah sebuah pertanyaan yang menanyakan dengan serius, apakah Petrus benar-benar mengasihi Yesus lebih dari profesinya dan tidak akan kembali kepada profesi lamanya. Dengan kata lain. Yesus meminta Petrus untuk memberikan keseluruhan hidupnya dengan suatu komitmen utuh, tanpa ada lagi niat untuk kembali kepada profesi lamanya, atau bahkan meninggalkan Yesus, sebagaimana yang pernah dilakukannya lewat penyangkalan dan juga kembali kepada profesi lamanya sebelum bertemu dengan Yesus untuk pertama kali. KOMITMEN PETRUS: EGOSENTRIS MENJADI KRISTOSENTRIS Sekarang, penulis hendak lebih dalam menyoroti jawaban Petrus terhadap pertanyaan Yesus dan perbedaan yang terdapat dalam perintah Yesus kepada Petrus kendati diterjemahkan sama dalam terjemahan LAI. AuGembalakanlah domba-domba-Ku. Ay Jawaban Petrus yang pertama dan kedua, yakni ayat 15 dan 16, merupakan dua jawaban yang sama persis, yaitu Au AA. E C IE I EAAy . ai kurie, su oidas hoti ls s. Jawaban Petrus yang merupakan respon terhadap pertanyaan Yesus tersebut dimulai dengan sebuah partikel , 12 Johannes Beutler. A Commentary on the Gospel of John, trans. Michael Tait, p. 2017, 536. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 yang berarti sebuah penerimaan, bahkan sebuah penegasan yang ketat. Partikel tersebut mengindikasikan jawaban Petrus merupakan sebuah penegasan bahwa Petrus bersungguh-sungguh dan yakin dengan jawabannya. Pernyataan yang Petrus berikan ini berlanjut serupa pada ayat ke 16, sehingga ketegasan Petrus sangat terlihat. Ayat 15 dan 16 mencatat bagaimana Petrus menyatakan bahwa Yesus mengetahui betapa ia mengasihi-Nya. Menurut Bultmann, pernyataan Petrus ini memperlihatkan bahwa, dalam perspektif Petrus. Yesus adalah seorang yang Mahatahu. Dengan demikian. Petrus telah melihat Yesus bukan sekedar guru, tetapi juga Allah, sebab sosok Omniscient adalah identitas yang Ilahi. Penulis juga melihat sebuah perbedaan yang signi kan antara pernyataan Petrus dalam Yoh. 21:15-17 dan Yoh. 13:37-38. Yoh. 13:37-38 memperlihatkan pernyataan Petrus yang sangat egosentris dan penuh percaya diri, sedangkan pada Yoh. 21:15-17 jawaban Petrus bukan lagi tentang dirinya, melainkan tentang Yesus, sebagai pribadi yang Mahatahu. Inilah yang memperlihatkan komitmen Petrus terbangun. Dari pribadi yang egosentris menjadi seorang Petrus yang Kristosentris. Ayat Pertanyaan Yesus Jawaban Petrus Perintah Yesus AAC A A EEO AA. E C IE I EA EA E AA AAC A AA. E C IE I EA AA E AAE I IAnC A aIAA A EAC IE a aE E EAEA IAnC A AA. AE E C. EAC IE I EA EA E AAE I Setelah mendengar jawaban Petrus. Yesus memberikan sebuah pesan atau perintah yang sangat penting, yakni. Augembalakanlah domba13 Danker. The Concise Greek-English Lexicon of the New Testament, p. 14 Rudolf Bultmann. The Gospel of John: A Commentary (Philadelphia: Westminster Press, 1. , p. Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. domba-Ku. Ay Menariknya, perintah Yesus kepada Petrus diperlihatkan dengan sangat berbeda. Ayat 15 tercatat dalam teks asli bahasa Yunaninya, adalah AuEA E AA IAy yang berarti, "beri makanlah anakanak domba-Ku. " Kata kerja yang digunakan ialah AuEAAy yang berasal dari kata AuEOAy yang berarti Auberi makanAy. Kata ini digunakan dalam akti tas penggembalaan, sebagaimana seorang gembala memberi makan hewan-hewan yang digembalakannya, yang biasanya merujuk kepada domba . awanan domb. 15 Karena ditulis dalam verba imperatif, maka penulis menerjemahkan dengan Auberi makanlahAy, sehingga kalimat Yesus ini menjadi amat penting karena memuat perintah. Lalu yang juga penting adalah objek dari perintah Yesus tersebut, yaitu E AA I . a arnia mo. yang berasal dari kata AA, yang berarti lambs. Berbeda dengan sheep, menurut kamus bahasa Inggris, lamb artinya adalah domba muda, atau anak domba, sedangkan sheep merujuk kepada domba yang sudah tidak lagi muda, atau domba yang sudah mandiri. AA juga merujuk kepada orang yang membutuhkan perawatan dan bantuan, dan juga merujuk kepada Kristus sebagai domba yang disembelih. DOMBA-DOMBA YESUS Sebelum penulis membahas mengenai makna AuEAAy dalam perintah Yesus yang pertama ini, pertanyaan yang perlu dijawab sebelumnya adalah, siapakah anak-anak domba yang dimaksud oleh Yesus sebagai domba milik-Nya? Penulis Injil Yohanes memberikan sebuah de nite article di depan kata arnia, bahkan semua objek dari perintah Yesus kepada Petrus yang diterjemahkan oleh LAI sebagai domba. De nite article dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Aukata tunjuk. Ay Dalam penggunaannya, de nite article berfungsi untuk menunjukkan objek rujukan yang spesi k. 17 Oleh karena itu, anak domba ataupun domba yang dimaksudkan oleh Yesus 15 F. Danker. Bauer, and W. Arndt. A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, 3rd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2. , p. 16 Johannes P. Louw, ed. Greek-English Lexicon of the New Testament: Based on Semantic Domains, 2nd ed. (New York: Fortress Press, 1. , p. 17 J. Lyle Story and Cullen I. Story. Greek to Me (Fairfax. VA: Xulon Press, 2. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 tentulah merujuk kepada identitas yang tidak umum, melainkan sangat partikular, dan Petrus mengerti siapa atau apa yang dimaksud oleh Yesus. Menurut Johannes Beutler. Yoh. 21:15-17 dan Mat. 16:17-18, merupakan sebuah amanat yang sama kepada Simon Petrus untuk melayani komunitas iman yang percaya kepada Kristus. 18 Menurut penulis, kedua teks ini sangat masuk akal merujuk objek yang sama dalam terminologi yang berbeda dan mungkin saja dengan spesi kasi yang berbeda. Dalam Injil Yohanes, pembahasan mengenai relasi gembala dan domba, selain dalam Yoh. 21, hanya dapat ditemukan dalam Yoh. 10:1-21. Pada perikop ini. Yesus mengatakan adanya domba-domba milik-Nya. Dalam konteks Yoh. 10:1-21, tampaknya domba yang dimaksud Yesus cukup jelas, yakni seorang yang buta sejak lahir, yang telah disembuhkan Yesus dan telah menjadi percaya pada ayat 9. Menurut Bruner, domba yang dimaksud adalah orang buta, karena ia melihat bahwa Yesus juga sedang menentang orang-orang Farisi pada ayat 10, yang bermula dari persoalan ayat 9, di mana mereka membuat suatu diskriminasi terhadap orang buta yang telah menjadi percaya. 19 Guilermo Cook juga mengungkapkan hal yang serupa, bahwa Yoh. 10 adalah komentar terhadap Yoh. 920 sehingga sosok domba dalam Yoh. 10 pertama-tama merujuk kepada orang buta sejak lahir dalam narasi Yoh. Sangat masuk akal melihat identitas yang mendasar bagi domba kepunyaan Yesus adalah orang buta yang sejak lahir yang Pasalnya. Yoh. 10 memang merupakan sebuah pernyataan Yesus dan kecamannya terhadap para pemuka agama Yahudi, yang dikatakan oleh Yesus sebagai pencuri ataupun orang upahan. Kecaman tersebut juga merupakan pembelaan Yesus terhadap orang buta yang disembuhkan, yang digambarkan sebagai domba yang ditinggalkan bahkan dimarjinalisasi, serta membutuhkan gembala yang sesungguhnya, dan Yesuslah sang gembala tersebut. Sebagaimana yang dinyatakan oleh 18 Beutler. A Commentary on the Gospel of John, p. 19 Bruner. The Gospel of John, p. 20 Guillermo Cook. AuSeeing. Judging and Acting: Evangelism in JesusAo Way,Ay International Review of Mission 87, no. : 389Ae396. Lihat juga Finki Rianto Kantohe. AuOrang-Orang Farisi Dan Narsisisme Beragama: Tinjauan Mengenai Potret OrangOrang Farisi Dalam Yohanes 9,Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 4, no. 2 (October 27, 2. : 188. Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. Herman Ridderbos. Yoh. 10 merupakan pernyataan Yesus yang merujuk kepada nubuat yang telah dicacat Yehezkiel 34, di mana Allah dipandang sebagai Gembala yang baik dan kontras dengan gembala-gembala Israel, dan Yesuslah Gembala yang baik tersebut. Dialah sang Mesias. 21 Maka yang dimaksud dengan kawanan domba Kristus jelas sekali adalah sekelompok umat yang telah memandang Yesus sebagai Mesias. Identitas domba yang dimaksud pada perikop ini memang cukup Akan tetapi, secara tekstual, yang dimaksud Yesus sebagai dombaNya tidak hanya orang buta yang telah disembuhkan semata. Orang buta tersebut merupakan representasi dari komunitas iman, yang ada dalam sebuah hubungan yang intim dengan Kristus, di mana dalam hubungan tersebut, terjadi saling mengenal antara komunitas iman dengan Yesus sebagai gembala yang baik. 22 David Rensberger memberikan gagasan mengenai orang buta yang disembuhkan. Menurutnya, orang buta tersebut mewakili komunitas iman yang hidup dalam sebuah diskriminasi dan persekusi dari kelompok Yahudi maupun pemerintahan Romawi, namun mereka adalah orang-orang yang sampai kepada pengenalan dan mengakui Yesus sebagai Allah. 23 Dalam terang ini, nampak semakin jelas identitas domba-domba Yesus yang diwakili oleh orang buta. Yoh. 10:1618 mencatat pernyataan Yesus mengenai domba-domba lain yang juga dalam persekutuan bersama domba Yesus dan menjadi milik Kristus. Penyatuan tersebut, sebagaimana juga dikatakan oleh Keener, hanya dapat terjadi melalui pengorbanan Kristus, dan domba-domba tersebut adalah orang-orang non-Yahudi, namun menjadi percaya kepada Kristus. Penulis tidak akan memisahkan antara arnia dan probata, melainkan melihat kedua kata ini sebagai sinonim dan tidak menunjukkan objek kajian yang berbeda, kecuali perihal progres dalam percakapan Yesus dengan Petrus. Dengan demikian, bahasan singkat mengenai Yoh. 10 ini juga me21 Herman N. Ridderbos. INJIL YOHANES: Suatu Tafsiran Theologis, trans. Lanna Wahyuni, 1st ed. (Surabaya: Momentum, 2. , p. 22 Keener. The Gospel of John. Volume One & Volume Two, p. 23 Rensberger. Johannine Faith and Liberating Community, p. 24 Craig S. Keener. The Gospel of John. Volume One & Volume Two, p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 rupakan bahasan yang sekaligus menjawab identitas domba-domba yang dimaksud pada ayat-ayat setelahnya. Pada intinya. Petrus mendapatkan sebuah tugas untuk melayani komunitas iman yang merupakan Yahudi Kristen ataupun non Yahudi Kristen yang berada di bawah tekanan yang sama, baik dari kelompok Yahudi, maupun pemerintahan Roma yang sangat diktator saat itu, dan merekalah penerima Injil Yohanes ini. AuGEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBAKU!Ay Sebagaimana yang sempat penulis nyatakan sebelumnya, memang terjadi perbedaan kata perintah yang diberikan oleh Yesus dalam Yoh. 21:15-17. Maka, pada bagian ini penulis akan melakukan kajian terkait. AuGembalakanlah domba-dombaku. Ay Kata EA dalam perintah Yesus kepada Petrus dalam ayat 15 berasal dari kata EO, yang berarti Aumemberi makanAy dan digunakan dalam aktivitas penggembalaan, seperti saat seorang gembala memberi makan hewan-hewan gembalaan, yang biasanya merujuk kepada domba . awanan domb. 25 Berbeda dengan ayat 15, ayat 16 menampilkan perbedaan dalam perintah Yesus. Pada ayat 16, perintah Yesus kepada Petrus menggunakan kata Auay yang berasal dari kata AO yang tidak hanya berarti menggembalakan, tetapi juga melayani dengan kasih sayang, memedulikan, menggiring, merawat, mengawasi, menjaga, dan memimpin. 26 Sedangkan perintah Yesus pada ayat 17 kembali menggunakan kata EO. Menurut Beutler. EO . ataupun AO . merupakan dua kata yang tidak memiliki perbedaan signi kan. 27 Sejalan dengan pendapat Beutler, penulis pun melihat perbedaan EO dan AO bukanlah perbedaan yang sangat jauh berbeda. Tampaknya perbedaan tersebut akan bergantung kepada keseluruhan kata dalam tinjauan yang luas, dengan mengaitkan pertanyaan Yesus dan jawaban Petrus sebelumnya. 25 F. Danker. Bauer, and W. Arndt. A Greek-English Lexicon, p. 26 F. Danker. Bauer, and W. Arndt. A Greek-English Lexicon, 842. Danker. The Concise Greek-English Lexicon of the New Testament, p. 27 Beutler. A Commentary on the Gospel of John, p. Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. Perintah Yesus pertama dalam ayat 15 ini muncul setelah didahului oleh pertanyaan Yesus dan jawaban Petrus. Sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya, tidak ada masalah sama sekali dengan perbedaan penggunaan kata kasih . gapas dan le. dalam pertanyaan Yesus maupun jawaban Petrus. Oleh karena itu, perintah Yesus pun harus dilihat dalam kaitannya yang utuh, baik konteks ayat maupun konteks kalimat. Pertanyaan Yesus yang pertama, seperti yang telah dibahas di atas, merupakan sebuah pertanyaan yang bukan sekedar menanyakan apakah Petrus mengasihi Yesus, tetapi pertanyaan mengenai komitmen Petrus, apakah Ia mengasihi Yesus lebih daripada profesinya, apakah Petrus tidak akan pernah lari dari panggilan Yesus dan kembali kepada profesi lamanya dan apakah Petrus akan memprioritaskan Yesus lebih dari apa pun? Ketika Petrus mampu mengasihi Yesus lebih dari pada profesinya yang lama, maka hal itu sama dengan Petrus mampu mempertanggungjawabkan komitmennya untuk tidak lagi meninggalkan Kristus seperti yang pernah dilakukannya saat menyangkal Yesus tiga kali. Setelah Petrus menjawab dengan yakin dan juga dengan sebuah jawaban yang menunjukan perbedaan yang signi kan dari pada jawabannya sebelum peristiwa penyangkalannya terhadap Yesus, maka ayat 15-17 menunjukan jawaban Petrus yang menurut penulis sangat Kristosentris. Hal itu dibuktikan dengan jawaban Petrus yang menitikberatkan kemahatahuan Yesus ( AA. E C IE I EA) dibandingkan kepercayaan dirinya yang berlebihan. Perintah Yesus untuk menggembalakan muncul setelah jawaban Petrus akan pertanyaan yang diberikan oleh Yesus. Menurut Keener, perintah Yesus kepada Petrus merupakan sebuah panggilan dan perintah untuk menjadikan Petrus sebagai seorang gembala yang merepresentasikan Kristus, yang peduli kepada domba-domba sekalipun harus mengorbankan diri untuk domba-domba tersebut. 28 Dalam terang ini, sangat konstruktif jika Yoh. 21 dibandingkan dengan Yoh. Hal tersebut dikarenakan penggambaran Yesus sebagai gembala dalam Injil Yohanes ditunjukan secara eksplisit dalam Yoh. 10:1-21. Yesus adalah seorang 28 Craig S. Keener. The Gospel of John. Volume One & Volume Two, p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 Gembala yang mengenal domba-domba-Nya dan dikenal oleh dombadomba-Nya (Yoh. Kata AumengenalAy yang digunakan di sini berasal dari kata EO . yang berarti mengenal atau memiliki pengetahuan bahkan memahami secara menyeluruh. 29 Ginosks ini hanya akan terjadi, jikalau adanya hubungan personal yang erat antar kedua pihak atau pribadi yang ada. 30 Oleh karena itu, ketika Petrus dipanggil dan diperintahkan oleh Yesus untuk menggembalakan domba-Nya serta menjadi representasi-Nya, maka Petrus pun harus terlibat dalam sebuah relasi atau persekutuan yang erat dengan domba-domba Kristus, yaitu komunitas iman, baik Yahudi maupun non-Yahudi dalam Injil Yohanes, yang diwakili oleh seorang buta yang disembuhkan oleh Yesus agar ia dapat mengenal dan dikenal oleh domba-domba milik Kristus, sebagaimana Kristus menyatukan diri-Nya dengan domba-domba-Nya dalam sebuah persekutuan dengan diri-Nya dan Bapa melalui pengorbanan Kristus. Yoh. 10:11-12 mencatat tentang pengorbanan Yesus. Pada bagian Akitab ini, dengan jelas Yesus menyatakan diri-Nya sebagai seorang Gembala yang baik, yang memberikan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya. Pengorbanan Kristus menunjukan kasih-Nya kepada domba-domba-Nya dan membedakan diri-Nya sebagai Gembala dengan orang-orang upahan. Sebagaimana dikatakan Keener, pengorbanan dan kematian Kristus adalah sebuah langkah membawa domba-domba-Nya bahkan non-Yahudi untuk memiliki kehidupan di dalam persekutuan dengan Kristus dan Bapa. 31 Maka sebagai representasi Kristus. Petrus pun harus mengorbankan hidup-Nya untuk menggembalakan domba-domba Kristus. Bosks dan poimains, arnia dan probata memuat gagasan yang menunjukkan suatu progresivitas dan kontinuitas penggembalaan. Sebelumnya penulis sudah menyatakan bahwa bosks maupun poimains, yaitu Auberi makanAy dan AugembalakanAy tidak memiliki perbedaan signi kan, tetapi jika dikonstruksikan dengan objek masing-masing, arnia dan probata da29 D F. Danker. Bauer, and W. Arndt. A Greek-English Lexicon, p. 30 Danker. The Concise Greek-English Lexicon of the New Testament, p. 31 Craig S. Keener. The Gospel of John. Volume One & Volume Two, p. Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. lam Yoh. 21:15-17 ini, maka terlihat suatu progresi tas dan kontinuitas. 15 EA E AA I | 16 AA E AAE I | 17 EA E AAE I Ayat 15 adalah perintah Yesus untuk memberi makan anak-anak domba-Nya, kemudian perintah tersebut berkembang pada ayat 16, yang mana perintah tersebut menjadi AugembalakanlahAy dan objek tersebut pun berubah, dari Auanak-anak dombaAy . menjadi Audomba-dombaAy . Pada ayat 17, secara mengejutkan perintah yang pertama kembali diucapkan oleh Yesus, yaitu Auberi makanlahAy, dan objek untuk diberi makan tersebut adalah domba-domba . domba dewas. dan bukan anak domba lagi. Ketiga peirntah ini lahir dari tanya jawab Yesus dengan Petrus. Tanya jawab mengenai komitmen Petrus untuk tetap mengikuti Yesus. Komitmen tersebut lahir dari kasihnya kepada Kristus. Pertanyaan Yesus yang tiga kali yang disusul dengan perintah-Nya tiga kali pula dengan perubahan-perubahan verba imperatif yang digunakan beserta objeknya, menunjukan sebuah kerinduan Yesus untuk mempercayakan domba-domba-Nya, yaitu komunitas iman milik-Nya kepada Petrus secara terus menerus, dari domba kecil sampai besar tanpa ada waktu untuk berhenti sampai kesudahan hidup Petrus. Gagasan yang serupa dinyatakan oleh Ridderbos, bahwa Yesus memiliki kerinduan mendalam untuk mempercayakan gereja-Nya untuk dipelihara oleh Petrus, sebagaimana yang dicatat dalam Injil Sinoptik, yakni dalam Mat. 16:18 mengenai Petrus. Ayat 18-19 tampaknya tidak dapat ditinggalkan begitu saja, karena memuat sebuah pesan profetik mengenai apa yang akan terjadi kepada Petrus dalam menjalani panggilannya sebagai gembala yang merepresentasikan Kristus. Pernyataan Yesus kepada Petrus pada bagian ini diawali dengan pernyataan Yesus, yaitu AuA A O EAy (Amen amen legs Kalimat ini mirip dengan kalimat AuA O cnAy (Amen legs humin. Mat. yang merupakan sebuah penegasan akan kebenaran oleh Yesus tentang apa yang Ia katakan. Dalam Perjanjian baru, kalimat ini diguna32 Herman N. Ridderbos. INJIL YOHANES: Suatu Tafsiran Theologis, p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 kan sangat khusus hanya oleh Yesus yang mencerminkan kesadaran-diri ilahi-Nya. 33 Jika amen lego humin merupakan sebuah kalimat yang sangat eksklusif, maka amen amen lego soi akan lebih otoritatif, karena dua kali mengulang kata amen, sehingga terlihat sebagai sebuah penegasan yang sangat teramat tegas akan kebenaran mengenai yang Yesus katakan. Jika amen legs humin memiliki objek plural, maka amen amen legs soi memiliki objek tunggal . sehingga perkataan Yesus pada ayat 18-19 sangat khusus ditujukan kepada Petrus. Yoh. 21:18-19 ini dilihat oleh Ridderbos sebagai suatu penguatan terhadap Petrus tentang apa yang akan terjadi di masa depan, dan merupakan sebuah gambaran akan kematian Petrus sebagai seorang martir. Ayat 19 ditutup dengan perintah yang diberikan Yesus kepada Petrus. AuIkutlah AkuAy. AuIkutlah AkuAy dalam bahasa Yunani dinyatakan dengan AuAA Ay . kolouthei mo. yang berakar dari kata AIO yang dapat berarti bergerak di belakang seseorang ke arah yang sama. Selain itu, kata ini juga berarti Aumeneladani. Ay35 Kata serupa diulangi dengan lebih jelas pada ayat yang 22. Ayat 21-22 berisikan pertanyaan Petrus kepada Yesus yang dijawab oleh Yesus agar Petrus mengikuti-Nya, yakni menjadi martir bagi Kristus, sedangkan Aumurid yang dikasihiAy tidak akan menjadi martir. 36 Pada bagian ini terlihat adanya kontras secara tidak langsung antara Petrus dan murid yang dikasihi. Petrus melihat dan mempertanyakan kepada Yesus mengenai apa yang akan terjadi pada murid yang dikasihi tersebut . Sesuatu yang mengganjal muncul dari jawaban Yesus yang agak retoris: AuJikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku. Ay . Yesus menyatakan sebuah kebebasan-Nya jika ingin membiarkan Yohanes untuk tetap hidup. Keanehan yang muncul adalah. Autetapi engkau: ikutlah AkuAy. Kata AutetapiAy merupakan sebuah 33 Everett Falconer Harrison. BakerAos Dictionary of Theology (Grand Rapids: Baker, 1. , 34 Herman N. Ridderbos. INJIL YOHANES: Suatu Tafsiran Theologis, p. 35 Danker. The Concise Greek-English Lexicon of the New Testament, p. 36 D. Moody Smith. John. Abingdon New Testament commentaries (Nashville: Abingdon Press, 1. , p. Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. konjungsi yang bersifat mempertentangkan dua hal, yaitu kalimat atau kata sebelum dan sesudah Autetapi. Ay Dalam bingkai ini. Yesus mempertentangkan antara AuTetap hidupAy bagi Yohanes dengan AuIkutlah AkuAy untuk Petrus. AuHidupAy dan AuIkutlah AkuAy menjadi kontras. Namun, dilihat dari kesetaraan kata, maka tampaknya dua kata ini tidak setara, kecuali jika AuIkutlah AkuAy ditafsirkan sebagai ajakan untuk mati, sehingga sangat masuk akal jika hidup dipertentangkan dengan kematian. Dengan begitu, teladan yang harus diikuti oleh Petrus dari apa yang Yesus lakukan di sini adalah teladan untuk mau mati sebagaimana Yesus telah mati bagi domba-domba-Nya. AuGembalakanlah domba-domba-Ku!Ay ini bukan sebuah seruan pelayanan biasa, tapi sebuah pelayanan yang mengimitasi Yesus, yang mati memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi domba-domba-Nya. Demikianlah, perintah Yesus kepada Petrus untuk memberikan hidupnya, untuk memelihara domba-domba yang telah Yesus berikan baginya. Penggembalaan adalah sebuah kepemimpinan yang memiliki konsep unik, yaitu berkorban. Di dalam penggembalaan, kepemimpinan adalah sebuah tindakan merelakan hidup dan nyawa untuk melayani Kristus lewat pelayanan kepada domba-domba-Nya. Sebagaimana Gembala merepresentasikan Kristus, demikian juga melayani domba adalah representasi melayani Kristus. Demikianlah Injil Yohanes diakhiri dengan sebuah penutup yang berisikan sebuah amanat untuk menggembalakan domba-domba Yesus, dan memelihara mereka dalam persekutuan dengan Kristus dan Bapa dengan sebuah kerelaan mengorbankan segala sesuatu bagi domba-domba-Nya. Hal tersebut menjadi semakin relevan jika ditinjau juga berdasarkan konteks zaman saat itu, di mana komunitas iman mengalami berbagai polemik. Terkait hal ini. Andreas Kostenberger mencatat bahwa pengakuan Tomas yang menyatakan AuTuanku dan AllahkuAy merupakan sebuah pengakuan yang saat itu biasa dilakukan orang kepada Kaisar Romawi. khususnya karena setelah penghancuran Bait Allah sekitar tahun 70M, terjadi persekusi yang luar biasa terhadap komunitas iman secara terus menerus selama beberapa tahun. Dalam teks Injil Yohanes sangat terlihat bahwa komunitas iman yang jadi pem- DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 bacanya merupakan mereka yang hidup dalam polemik yang cenderung menekan mereka di bawah otoritas Kaisar. 37 Dengan demikian, menjadi sangat masuk akal, jika penggembalaan bukanlah tugas yang mudah, melainkan tugas yang berbahaya dan menuntut kerelaan bagi seorang gembala untuk berkorban bagi domba-dombanya yang berada dalam persekusi tersebut. PENGGEMBALAAN DAN EKARISTI Kajian tekstual di atas telah dimulai dengan menyoroti sekilas Yoh. 21:1-14, yang penulis lihat bernuansa Ekaristis. Sebelum perintah penggembalaan yang juga terkait dengan AumakanAy. Yesus telah terlebih dahulu melakukan sebuah perjamuan, dengan menjamu para murid di tepi danau Tiberias. Konsep mengajak atau memberi makan juga terdapat pada penggembalaan yang menggunakan kata kerja bosks yang terdapat dalam ayat 15, sehingga usaha mengonstruksikan antara penggembalaan dan Ekaristi bukanlah hal yang mustahil dalam Injil Yohanes. Keener pun menyatakan bahwa Yoh. 21:12-13 merupakan suatu penetapan mengenai Ekaristi berdasarkan Yoh. 6:11. 38 Ekaristi di sini bukanlah sebuah sistem atau ritual ibadah seperti dalam kebaktian umat Kristen saat ini, tetapi sebuah sakramen yang dengan sengaja dihadirkan dalam Injil Yohanes yang merujuk kepada pemaknaan Kristus dan pengorbanan-Nya. Beasley Murray dalam bukunya. Gospel of Life: Theology in the Fourth Gospel menyatakan bahwa Ekaristi merupakan sebuah persekutuan . Yesus dengan komunitas iman, di mana setiap pribadi dipersatukan dalam kehidupan bersama Kristus dan Bapa. 39 Secara esensial. Ekaristi terjadi melalui pengorbanan Kristus yang secara simbolik diperingati dalam persekutuan berupa makan bersama antara Kristus dengan para murid (= komunitas ima. David Rensberger memberikan gagasan yang tampaknya lebih komprehensif dengan menyatakan bahwa perihal 37 Andreas J. Kostenberger. John (USA: Baker Academic . ], 2. , p. 38 Craig S. Keener. The Gospel of John. Volume One & Volume Two, p. 39 George Raymond Beasley-Murray. Gospel of Life: Theology in the Fourth Gospel. The 1990 Payton lectures (Peabody. Mass: Hendrickson Publishers, 1. , pp. 97Ae99. Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. Ekaristi dalam Yoh. 6 merupakan sebuah perlawanan bukan hanya terhadap doketisme, tetapi juga terhadap orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepada Kristus. Menurut Rensberger. Ekaristi merupakan sebuah simbol penyatuan orang-orang percaya dengan Kristus dan dengan sesama orang-orang yang percaya. Rensberger melanjutkan pembahasannya dengan menyatakan bahwa Ekaristi dalam Yoh. 6:51-58 merupakan sebuah konsep Kristologi yang melihat Ekaristi merupakan sesuatu yang memisahkan komunitas Kristen Injil Yohanes dari dunia, dan menyatukan setiap anggota satu dengan yang lainnya. 40 Udo Schnelle dalam buku Antidocetic Christology in the Gospel of John juga menyerukan bahwa sakramen Ekaristi adalah persekutuan dengan Kristus sebagai roti kehidupan. Di dalam Kristus, komunitas iman dipelihara dan diberi makan bukan dengan roti semata, tetapi dengan tubuh Kristus sendiri, sehingga Ekaristi merupakan sebuah sakramen berbasis pada kematian Kristus yang menghidupkan orang percaya. Jadi AuGembalakanlah domba-domba-KuAy merupakan sebuah perintah yang mengandung makna Ekaristis. Ekaristi adalah sebuah persekutuan . berupa makan bersama Kristus dengan para murid dan membedakan murid-murid dengan orang asing yang bukan kawanan Penggembalaan dalam metafora pemeliharaan dan makan merupakan suatu ajakan persekutuan di dalam Kristus dan Bapa yang diperoleh melalui kematian Yesus Kristus yang menghidupkan orang beriman. Menurut Rensberger. Ekaristi juga merupakan sebuah pembatas yang memisahkan komunitas iman dari dunia yang dimaknai sebagai oposisi Allah dan umat Kristen Injil Yohanes, serta menyatukan komunitas iman dengan Allah dalam Kristus, dan dengan satu sama lainnya. Penggembalaan pun memiliki nilai Ekaristis yang harus senantiasa dihidupi, bahkan sekalipun harus mengorbankan nyawa untuk memelihara kehidupan komunitas iman yang hidup di bawah tekanan dan persekusi oleh pemerin40 David Rensberger. Johannine Faith and Liberating Community, (Philadelphia: Westminster John Knox Press, 1. , p. 41 Udo Schnelle. Antidocetic Christology in the Gospel of John: A Provocative Appraisal of the Fourth Gospel in the Johannine School, trans. Linda M. Maloney (Minneapolis: Fortress Press, 1. , p. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 tah Romawi. Justru dalam kondisi seperti ini tetap harus ada persekutuan dengan Kristus dan Bapa, sebagaimana perintah Yesus kepada Petrus untuk mengikuti teladan-Nya yang bahkan mati menebus dosa manusia, sehingga manusia yang telah hancur karena dosa dapat dipersatukan kembali dalam relasi yang intim dengan Yesus dan Bapa, dan dengan komunitas iman yang ada. Demikianlah seorang gembala membawa kematian Kristus yang menghidupkan orang percaya, sehingga penggembalaan bukanlah sekedar memelihara kawanan domba, namun kerelaan diri untuk hancur dan mati bagi kehidupan kawanan domba tersebut. KESIMPULAN Injil Yohanes ditulis pada masa yang penuh persekusi oleh pemerintahan Romawi, maupun Yahudi, sehingga komunitas di dalam Injil tersebut membutuhkan harapan untuk tetap berdiri dalam kesatuan dengan Kristus dan Bapa. Yoh. 21 tidak dapat dipisahkan dan harus dilihat sebagai suatu kesatuan. Dalam perspektif ini. Ekaristi dan penggembalaan berjalan bersama. Perintah Yesus kepada Petrus. AuGembalakanlah domba-domba-KuAy, merupakan sebuah perintah yang dapat dilakukan jikalau kasih dan komitmen dapat dengan sungguh dipegang oleh Petrus. Jawaban Petrus menunjukkan kasihnya dan komitmennya kepada Yesus. Hal ini merupakan sebuah potret Petrus yang telah berubah. Tidak lagi menjadi Petrus yang menyangkal Yesus, namun kali ini. Yesus memberikannya perintah untuk menggembalakan komunitas iman yang adalah domba-domba Yesus. Penggembalaan yang dimaksud adalah kesediaan Petrus untuk memberikan seluruh hidupnya, bahkan jika perlu mati untuk memelihara domba-domba Yesus, sebagaimana Yesus pun telah mati untuk domba-domba-Nya. Penggembalaan dalam konteks ini bukanlah sebuah konsep yang berdiri sendiri, melainkan sebuah praktik Ekaristis. Ekaristi bukan sekedar sebuah bentuk ibadah Kristen, namun merupakan sakramen yang mengandung makna yang mendalam, yakni pengorbanan Kristus, di mana melalui kematian-Nya, sebagai Gembala Ia memberikan hidup bagi domba-domba-Nya, yaitu komunitas iman yang percaya ke- Penggembalaan sebagai Praktik Ekaristi (Finki Rianto Kantoh. pada-Nya. Meneladani Kristus, berdasarkan catatan sejarah. Petrus pun mati bahkan mati disalibkan, dan itu terjadi dalam kapasitas Petrus sebagai gembala komunitas iman. Dengan demikian, penggembalaan yang dilakukan Petrus pun menjadi representasi Ekaristi yang Yesus lakukan bagi domba-domba-Nya. Oleh karena itu, kematian dalam penggembalaan adalah sebuah kematian yang terhormat, karena itu adalah kematian yang menghidupkan kawanan domba yang digembalakan. Tulisan ini menawarkan perspektif Ekaristi dalam penggembalaan, sehingga sebuah penggembalaan tidak lagi dapat dianggap rendah dan mudah, melainkan sebuah tindakan meneladani Kristus dan kesediaan untuk memberikan seluruh hidup, baik raga maupun nyawa bagi domba-domba yang DAFTAR RUJUKAN Adiprasetya. Joas. AuPastor as Friend: Reinterpreting Christian Leadership. Ay Dialog 57, no. 1 (March 2. : 47Ae52. Andreas J. Kostenberger. John. USA: Baker Academic . ], 2004. Ashton. John. Understanding the Fourth Gospel. 2nd ed. Oxford . New York: Oxford University Press, 2007. Beasley-Murray. George Raymond. Gospel of Life: Theology in the Fourth Gospel. The 1990 Payton lectures. Peabody. Mass: Hendrickson Publishers, 1991. Beutler. Johannes. A Commentary on the Gospel of John. Translated by Michael Tait, 2017. Bruner. Frederick Dale. The Gospel of John: A Commentary. HARDBOUND Grand Rapids. Michigan: Eerdmans, 2012. Bultmann. Rudolf. The Gospel of John: A Commentary. Philadelphia: Westminster Press, 1971. Carson. Exegetical Fallacies. Translated by Lanna Wahyuni. 2nd ed. Surabaya: Penerbit Momentum, 2012. Cook. Guillermo. AuSeeing. Judging and Acting: Evangelism in JesusAo Way. Ay International Review of Mission 87, no. : 388Ae396. Danker. Frederick W. Walter Bauer, and William Arndt. A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature. Chicago: University of Chicago Press, 2000. DISKURSUS. Volume 18. Nomor 1. April 2022: 94-119 Danker. Frederick William. The Concise Greek-English Lexicon of the New Testament. Chicago: University of Chicago Press, 2009. Harrison. Everett Falconer. BakerAos Dictionary of Theology. Grand Rapids: Baker, 1991. Herman N. Ridderbos. INJIL YOHANES: Suatu Tafsiran Theologis. Translated by Lanna Wahyuni. 1st ed. Surabaya: Momentum, 2012. Accessed November 1, 2018. http://w. id/index. php/mod_detil/10300008/id/. Kantohe. Finki Rianto. AuOrang-Orang Farisi Dan Narsisisme Beragama: Tinjauan Mengenai Potret Orang-Orang Farisi Dalam Yohanes 9. Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 4, no. 2 (October 27, 2. : 180Ae198. Keener. Craig S. The Gospel of John. Volume One & Volume Two. Reprint Grand Rapids. Michigan: Baker Academic, 2010. Louw. Johannes P. , ed. Greek-English Lexicon of the New Testament: Based on Semantic Domains. 2nd ed. New York: Fortress Press, 1988. Mounce. William D. Basics of Biblical Greek Grammar. 3rd ed. Grand Rapids: Zondervan, 2009. Rensberger. David. Johannine Faith and Liberating Community. 1st ed. Philadelphia: Westminster John Knox Press, 1996. Smith. Moody. John. Abingdon New Testament commentaries. Nashville: Abingdon Press, 1999. Story. Lyle, and Cullen I. Story. Greek to Me. Fairfax. VA: Xulon Press. Udo Schnelle. Antidocetic Christology in the Gospel of John: A Provocative Appraisal of the Fourth Gospel in the Johannine School. Translated by Linda M. Maloney. Minneapolis: Fortress Press, 1992.