Jumlatuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab https://ejournal. id/index. php/jumlatuna/index Volume . Nomor . e-ISSN x-x p-ISSN x-x Analisis Hubungan Ilmu AswAt dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Lina Marlina1. Tb Muhammad Zuhal Wardhana2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Indonesia1,2 linamarlina@uinsgd. id1 , zuhalonline10@gmail. ABSTRACT The Science of AswAt (Phonetic. as a branch of phonetics in Arabic linguistics plays a crucial role in the development of Arabic speaking skills. This study aims to explain the relationship between the mastery of the science of AswAt and the improvement of Arabic speaking ability. Using a qualitative approach through literature review, this article examines the contribution of the theories of makhArij al-uurf . oints of articulatio. and ifAt al-uurf . haracteristics of sound. to the production of correct and fluent speech. The results of the study indicate that a good understanding of the science of AswAt has a direct impact on articulatory proficiency, phoneme clarity, and oral fluency in Arabic communication. Therefore, integrating the science of AswAt into the teaching of speaking skills is essential to achieve fluency that aligns with the phonetic rules of the Arabic language. Keywords: science of AswAt, speaking skills, relationship. ABSTRAK Ilmu AswAt sebagai cabang fonetik dalam linguistik Arab memiliki peran krusial dalam pembentukan keterampilan berbicara bahasa Arab. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara penguasaan ilmu AswAt dan peningkatan kemampuan berbicara bahasa Arab. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka, artikel ini menelaah kontribusi teori makhArij al-uurf dan ifAt al-uurf terhadap produksi ujaran yang fasih dan benar. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemahaman yang baik terhadap ilmu AswAt berdampak langsung terhadap kecakapan artikulasi, kejelasan fonem, dan kelancaran komunikasi lisan dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, integrasi ilmu AswAt dalam pengajaran keterampilan berbicara sangatlah penting untuk mencapai kefasihan yang sesuai kaidah fonetik bahasa Arab. Kata kunci: ilmu AswAt, keterampilan berbicara, hubungan. PENDAHULUAN Keterampilan berbicara merupakan salah satu dari empat komponen utama dalam penguasaan bahasa Arab yang perlu diperhatikan lebih, terutama bagi penutur non-Arab yang mempelajari bahasa ini sebagai bahasa kedua atau asing. Dalam proses pembelajaran bahasa Arab, aspek berbicara . l-kalA. sering kali menjadi tantangan tersendiri karena Analisis Hubungan Ilmu AswAt dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Jumlatuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab https://ejournal. id/index. php/jumlatuna/index Volume . Nomor . e-ISSN x-x p-ISSN x-x melibatkan kemampuan menyusun kalimat secara spontan sekaligus menghasilkan bunyibunyi bahasa secara tepat. Salah satu unsur penting dalam keterampilan berbicara adalah aspek fonetik, yang dalam konteks linguistik Arab dikenal dengan istilah ilmu AswAt, sebab mayoritas arab sebelumnya tidak mengenal ilmu Aswat dengan sebutan Fonologi(Hasan 2. Namun dalam penulisan ini, kami akan tetap menggunakan istilah ilmu AswAt, karena perspektif yang diambil berkaitan dengan keterampilan berbahasa Arab dan kajian kebahasaan Arab yang memang memiliki istilah tersendiri, yaitu ilmu AswAt. Ilmu ini membahas cara produksi bunyi bahasa, yaitu tempat keluarnya huruf . akhAri. , serta sifat-sifat bunyi . fAt al-uur. dari alat ucap manusia yang mempengaruhi kualitas pelafalan. Oleh karena itu, ilmu aswat dapat dipahami sebagai ilmu cabang dari ilmu-ilmu kebahasaan yang berfokus pada bunyi-bunyi suatu bahasa dan pengucapannya (Rosyidi 2. Sayangnya, pembelajaran bahasa Arab di berbagai lembaga pendidikan sering kali mengesampingkan pengajaran fonetik secara sistematis, sehingga banyak pelajar mengalami kesulitan dalam berbicara dengan pelafalan yang benar. Banyak dari berbagai Lembaga lebih memfokuskan pada kajian nahwu dan sharf dalam pembelajaran Bahasa Arab. Ada pun sisi fonetik yang merupakan bagian dari bahasa, hanya dibahas dalam kajian Ilmu Tajwid yang difungsikan untuk membaca al-QurAoan. Oleh karena itu, penguasaan fonetik dalam keterampilan berbicara terbilang minim untuk dikuasai. Sebagian besar kajian yang membahas keterkaitan antara ilmu aswAt dan keterampilan berbahasa cenderung berfokus pada aspek tuturan serta penerapannya dalam pembelajaran bahasa Arab. Sebagai contoh adalah penelitian yang dituliskan oleh Amriani. Penelitian yang dibuatnya lebih memfokuskan pada pengaruh ilmu Aswat dalam pembelajaran bahasa Arab di kalangan mahasiswa. (Amariani 2. Tulisan ini berupaya menghadirkan perspektif yang komprehensif dengan menelaah keterkaitan antara ilmu awAt dan keterampilan berbicara bahasa Arab dalam ruang lingkup yang lebih luas. Berdasarkan kajian tersebut, muncul pertanyaan utama yang layak dikaji lebih lanjut, yaitu: AuApa yang dapat diperoleh dari hubungan antara ilmu awAt dengan keterampilan berbicara dalam bahasa Arab?Ay Berdasarkan kenyataan tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penguasaan ilmu aswAt dengan keterampilan berbicara bahasa Arab. Dengan pendekatan teoretis berbasis studi pustaka, artikel ini mencoba menegaskan pentingnya integrasi ilmu aswAt dalam pengajaran kemampuan berbicara. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka . ibrary Sumber data meliputi literatur klasik seperti al-KitAb karya Sibawaih, al-Khaoi karya Ibn Jinni, serta karya-karya kontemporer tentang fonetik Arab dan pengajaran Data dianalisis dengan teknik analisis isi . ontent analysi. untuk mengungkap Analisis Hubungan Ilmu AswAt dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Jumlatuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab https://ejournal. id/index. php/jumlatuna/index Volume . Nomor . e-ISSN x-x p-ISSN x-x kontribusi ilmu aswAt dalam proses produksi ujaran bahasa Arab. Penelitian ini tidak melibatkan observasi lapangan atau wawancara, melainkan fokus pada telaah konsep dan teori yang relevan. PEMBAHASAN Makhraj dan Produksi Bunyi No Makhraj Huruf Rongga Dalam A( AAli. , (Al-Jau. A( OAWa. A( OAY. Tenggorokan (Al-Hal. -Pangkal A( AHamza. ANA (H. -Tengah A( AHaA. AAo( AAi. -Ujung A( AKh. A( AGhai. Lidah (Al Lisa. -Pangkal lidah A( CAQa. A( EAKa. - Tengah lidah A( AJi. A( ASyi. A( OAY. -Ujung lidah A( AT. A( ADa. A( ATh. -Ujung lidah A( AR. - Sisi lidah A( ADha. Bibir (AsyA( AB. Syafatai. A( IAMi. AOA (Wa. Rongga A( IANu. Hidung (AlA( IAMi. Ae Khaisyu. Ghunnah Cara Produksi Suara Udara mengalir bebas di rongga mulut tanpa hambatan. Suara dihasilkan di pangkal tenggorokan dengan hentian udara. Suara dihasilkan dengan gesekan udara di tengah tenggorokan. Suara dihasilkan dengan getaran di ujung Pangkal lidah menekan langit-langit Tengah lidah menyentuh langit-langit Ujung lidah menempel pada gusi atas. Ujung lidah bergetar saat mengucapkan. Sisi lidah menekan gigi geraham atas. Bibir atas dan bawah bertemu atau hampir Udara keluar melalui hidung . Ilmu aswAt menjelaskan bahwa setiap huruf Arab memiliki tempat keluarnya bunyi . yang spesifik, seperti huruf A( CAqA. yang berasal dari bagian terdalam lidah, berbeda dengan A( EAkA. yang lebih ke tengah. Kesalahan dalam pengucapan makhraj akan Analisis Hubungan Ilmu AswAt dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Jumlatuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab https://ejournal. id/index. php/jumlatuna/index Volume . Nomor . e-ISSN x-x p-ISSN x-x berdampak langsung pada pemahaman lawan bicara, dan bahkan dapat mengubah makna Amrullah dalam artikelnya banyak menganalisis kesalahan siswa dalam pengucapan huruf-huruf bahasa Arab. seperti halnya huruf A( Asyi. , yang diucapkan dengan huruf AA . A( AsA. diucapkan dengan huruf A( Ada. A( a. diucapkan dengan huruf A( Asi. dan masih banyak huruf-huruf lain yang masih banyak tertukar dalam pengucapannya. (Amrulloh 2. Analisis yang dilakukan oleh Amrullah menunjukkan dengan jelas peranan ilmu AswAt dalam mengidentifikasi dan mengategorikan kesalahan pelafalan huruf-huruf Arab. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa beberapa huruf Arab memiliki makhraj yang tidak ditemukan dalam sistem fonologi bahasa Indonesia. Perbedaan ini sering kali menjadi sumber utama kekeliruan dalam pelafalan, terutama bagi penutur asli bahasa Indonesia yang belum terbiasa membedakan karakteristik bunyi-bunyi khas dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, pemahaman terhadap ilmu aswAt menjadi sangat penting dalam pembelajaran bahasa Arab, khususnya dalam aspek pelafalan . ashuu al-laf. yang benar dan sesuai dengan kaidah fonologi bahasa Arab. Sementara itu. Nurkholis pun dalam artikelnya lebih mengutip sebab dari kekeliruan berbahasa secara umum, baik fonetik, semantik, morfologi mau pun sintaksis. Ia menyebutkan bahwa kekeliruan berbahasa umumnya terjadi karena tiga hal. Yaitu: pengaruh bahasa yang telah dikuasainya, kekurangpahaman pemakaian bahasa terhadap bahasa yang dipakainya, dan pengajaran bahasa yang kurang tepat dan kurang (Nurkholis, n. Hal-hal demikian merupakan aspek krusial yang perlu diperhatikan dan dilatihkan secara serius guna meningkatkan akurasi dan keindahan berbahasa Arab. Sebab, ketika suatu huruf diucapkan tidak sesuai dengan makhrajnya, akan terjadi distorsi makna yang menyebabkan lawan bicara kesulitan memahami bahkan salah menafsirkan ucapan kita. Penguasaan makhraj huruf dalam bahasa Arab merupakan fondasi utama yang harus dikuasai secara serius oleh setiap pembelajar. Ketepatan pengucapan setiap huruf sesuai tempat keluarnya . bukan hanya persoalan teknikal semata, melainkan menyangkut keutuhan makna dan keindahan berbahasa. Dalam praktik komunikasi sehari-hari, kesalahan sekecil apa pun dalam melafalkan huruf dapat menimbulkan ambiguitas makna yang signifikan. Sebagai contoh, ketidakmampuan membedakan pengucapan huruf 'qaf' (A )CAdan 'kaf' (A )EAdapat mengubah makna 'qalbun' . menjadi 'kalbun' . , sebuah kesalahan yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman besar. Persoalan ini semakin krusial ketika kita memasuki ranah keagamaan, di mana bacaan Al-Qur'an mensyaratkan ketepatan makhraj sebagai bagian dari kesahihan ibadah. Ditambah dalam ruang lingkup fiqih seperti dalam shalat, rukun-rukun yang berupa rukun qauli . ukun ucapa. mesti dibaca tepat dari segi makhrajnya. Kesalahan dalam makhraj huruf-huruf tertentu seperti 'dhad' (A )Aatau 'tha' (A )Atidak hanya mempengaruhi Analisis Hubungan Ilmu AswAt dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Jumlatuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab https://ejournal. id/index. php/jumlatuna/index Volume . Nomor . e-ISSN x-x p-ISSN x-x pemahaman makna, tetapi juga menyentuh aspek hukum dalam ilmu tajwid. Dalam konteks akademik, penguasaan makhraj yang baik menjadi indikator kompetensi berbahasa yang sering kali menjadi penilaian utama dalam ujian-ujian resmi bahasa Arab. Sifat Huruf dan Kejelasan Artikulasi Setiap huruf Arab juga memiliki sifat seperti syiddah, rikhwah, jahr, hams, dll. Sifatsifat ini berpengaruh pada durasi dan tekanan saat pengucapan. Pemahaman sifat huruf memungkinkan pelajar menghasilkan bunyi yang lebih jelas dan alami, mendekati pelafalan penutur asli. Sifat huruf adalah karakteristik suara yang melekat pada setiap huruf hijaiyah setelah diketahui makhraj-nya . empat keluarnya huru. Sifat-sifat ini berperan penting dalam membedakan huruf-huruf yang memiliki makhraj yang berdekatan, mau pun hurufhuruf yang memiliki keselarasan bunyi . ulaiman menyebutnya dengan al-InsijAm alShautiy. 2 A ))EOIIAsehingga pengucapannya menjadi lebih jelas, tepat, dan fasih. Disamping itu, jika sifat huruf dilafalkan dengan benar, maka artikulasi dalam bahasa Arab akan sesuai dan akurat. Memperhatikan artikulasi dalam bertutur kata sangat dianjurkan guna terhindarnya pembicara dari kekeliruan makna. Fitrianah menyebutkan bahwa artikulasi dalam bahasa Arab adalah makhraj. Sebab ia menuturkan bahwa yang dimaksud dengan artikulasi adalah pengucapan lambang bunyi bahasa sesuai dengan standar bahasa itu sendiri. (Fitrianah, n. Berikut merupakan karakter dan sifat-sifat huruf dalam bahasa Arab(Marlina 2. No Sifat Penjelasan Huruf-huruf Jahr dan Jahr: kuatnya tekanan pada makhraj. Jahr: UA AUA AUA AUA AUA AUA AUAA UA EAUA EAUA AUA CAUA AUA AUA AUAA Hams Hams: tidak kuatnya tekanan huruf A OAUA OAUA NAAUA IAUAIA pada makhraj sehingga Hams: UA AUA NAAUA AUA AUa memungkinkan keluarnya huruf UA EAUA AUA AAUAA sembari bernafas. Shiddah. Syiddah: terkurungnya huruf dengan Syiddah: AAUAAUAAUAAUAAUAEAUACA Rakhawah kuat, ketika dimatikan. Rakhawah: selain dari dan tawassuth Rakhawah: ketika sesuatu huruf dimatikan, masih bisa berjalan dengan huruf-huruf syiddah dan rakhawah bebas, jadi tidak terkurung. Tawassuth: Tawassuth: pertengahan antara AAUAIAUAOAUAAUAAUAAUAEA syiddah dan rakhawah. IstiAolaAo dan IstiAola: ketika pelafalan lidah naik ke IstiAolaAo: UA AUA AUA AUA AAUAA A AUACA Inkhifadl langit-langit mulut. Istifal: selain hurufInkhifadl: kebalikan dari istiAola yaitu huruf istiAola pelafalan huruf dengan lidah tidak Analisis Hubungan Ilmu AswAt dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Jumlatuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab https://ejournal. id/index. php/jumlatuna/index Volume . Nomor . Ithbaq dan Infitah Dzalaqah dan Ishmat Ithbaq: terkurungnya suara huruf antara lidah dan langit- langit mulut yang tepat di atasnya sebagai akibat menempelnya lidah di atas langit langit tersebut. Infitah: kebalikan dari Ithbaq. Yaitu sifat huruf yang tidak melekat rapat ke langit-langit mulut ketika diucapkan. Dzalaqah: Sifat huruf yang mudah dan cepat diucapkan karena keluar dari ujung lidah atau bibir. Ishmat: Sifat huruf yang berat atau sulit diucapkan, sehingga tidak mudah meluncur dari lidah. e-ISSN x-x p-ISSN x-x ( UA AUA AUA AUA AUA AUA AUA AUAA UA EAUA EAUA AAUA AUA AUA AUA AUAA A NAUA OAUA OAUA NAAUA IAUA)IA Itbaq: aUAAUAAUAA Infitah: selain hurufhuruf ithbaq ( UA AUA AUA AUA AUA AUA AUA AUAA UA AAUA AUA AUA AUA AUA AUA AUAA A OAUA OAUA NAAUA IAUA IAUA EAUA EAUA)CA Dzalaqah: UA EAUA IAUA IAUA AUa Ishmat: UA AUA AUA AUA AUA AUA AUA AUA AUAA UA AUA AUA AUA AUA AAUA AUAA A OAUA OAUA NAAUA EAUA CAUAA Sifat-sifat huruf tersebut mesti diperhatikan dalam pengucapan bahasa Arab. Tanpa memperhatikan sifat huruf, pemaknaan dalam bahasa Arab sering kali keliru. Kegagalan dalam pembelajaran bahasa Arab, khususnya kemahiran berbicara, banyak disebabkan oleh kurangnya perhatian guru mengenai Ilmu Aswat dalam pembelajarannya. Sehingga siswa-siswi tidak terbiasa dalam melafalkan huruf dengan benar. Terlebih di Indonesia yang mayoritas penduduknya pemeluk agama Islam. Ilmu Aswat perlu lebih diperhatikan guna memperbaiki pelafalan bacaan dalam beribadah agar tidak keliru secara makna. Banyak kata dalam bahasa Arab yang apabila tidak diucapkan dengan benar dapat mengalami pergeseran makna yang signifikan. Hal ini sering terjadi, terutama pada penutur non-Arab. Misalnya di Indonesia, huruf A( Asy. kerap diucapkan seperti huruf A( As. karena pelafalan A Aterasa lebih berat di lidah sebagian orang. Sebagai contoh, kata AOAyang berarti AusesuatuAy, jika salah diucapkan menjadi AOA, maka maknanya berubah menjadi AuburukAy. Kesalahan ini tentu sangat memengaruhi pemahaman dan makna dalam komunikasi berbahasa Arab. Ilmu AswAt dan Kelancaran Berbicara Penguasaan ilmu aswAt mendukung otomatisasi artikulasi dan membentuk kepekaan fonologis terhadap kesalahan pelafalan. Hal ini berdampak positif pada kelancaran berbicara, karena pelajar tidak hanya tahu apa yang akan dikatakan, tetapi juga bagaimana cara mengucapkannya secara benar dan cepat. Ilmu awAt tidak hanya berperan dalam memastikan ketepatan artikulasi huruf secara individual, tetapi juga mencakup aspek suprasegmental seperti intonasi, tekanan Analisis Hubungan Ilmu AswAt dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Jumlatuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab https://ejournal. id/index. php/jumlatuna/index Volume . Nomor . e-ISSN x-x p-ISSN x-x kata, dan irama bicara. Aspek-aspek ini sangat penting dalam mendekatkan kualitas ujaran penutur non-natif dengan penutur asli. Melalui pemahaman dan penerapan ilmu awAt secara tepat, pembelajar bahasa dapat mengurangi pengaruh bahasa ibu dalam pelafalan dan meningkatkan kefasihan serta kealamian dalam berbicara. Meski demikian, kemampuan untuk menyamai penutur asli tidak semata-mata bergantung pada penguasaan teori fonetik, melainkan juga pada intensitas latihan, usia pemerolehan bahasa, serta lingkungan berbahasa. Dengan demikian, ilmu awAt berperan signifikan dalam membentuk kompetensi fonologis penutur non-natif, meskipun efektivitasnya sangat ditentukan oleh pendekatan pembelajaran yang digunakan secara menyeluruh. Mengenai pelafalan atau pengucapan bahasa Arab. Aziz Syafarudin Syafrawi dan Hasan Saefulloh menuturkan bahwa pembelajaran ilmu awAt memiliki tiga tujuan utama. Pertama, tujuan perspektif, yaitu membantu siswa meningkatkan pelafalan mereka dari bahasa ibu ke bahasa Arab sebagai bahasa baru yang sedang dipelajari. Kedua, tujuan produktif, yakni melatih peserta didik agar mampu mengucapkan bunyi-bunyi atau hurufhuruf dalam bahasa Arab yang tidak terdapat dalam bahasa ibu mereka, sehingga mereka terbiasa dan fasih mengucapkannya. Ketiga, tujuan deskriptif, yaitu memperkenalkan siswa pada kaidah-kaidah yang membentuk sistem pelafalan dalam bahasa Arab secara ilmiah dan sistematis. (Musthofa et al. Hasil kajian menunjukkan bahwa ilmu aswAt memiliki hubungan erat dengan keterampilan berbicara bahasa Arab. Dari sisi teoretis, ilmu ini memberikan fondasi ilmiah dalam memahami cara kerja alat ucap serta sistem bunyi bahasa Arab. Dalam konteks pembelajaran, pemahaman ilmu aswAt membantu mengurangi kesalahan fonetik, memperbaiki pelafalan, dan meningkatkan kejelasan komunikasi lisan. Di samping itu, pembelajaran berbicara yang terintegrasi dengan ilmu aswAt juga dapat membentuk kepercayaan diri siswa dalam berbicara, karena mereka merasa lebih mantap dengan pelafalan yang tepat. Oleh karena itu, perlu adanya penyusunan kurikulum pengajaran berbicara yang memasukkan unsur pelatihan fonetik secara eksplisit. Ilmu Aswat dapat Mempengaruhi Kepercayaan Diri dalam Berbicara Orang yang telah menguasai ilmu Aswat cenderung lebih peka terhadap kekeliruan tutur kata bahasa Arab. sebab perbedaan ucapan dapat mengubah makna suatu kata. Lebih dari itu, bahasa Arab memiliki pengucapan yang harus dibaca panjang, dalam istilah bahasa Arab dikenal dengan sebutan AumadAy. Secara otomatis, orang yang memahami ilmu Aswat dapat menilai kemampuan bahasa Arab seseorang walau hanya melalui pengucapan mad Salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan dalam keterampilan berbicara bahasa Arab adalah tingkat kepercayaan diri (A )EC EIAApenutur. Kepercayaan Analisis Hubungan Ilmu AswAt dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Jumlatuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab https://ejournal. id/index. php/jumlatuna/index Volume . Nomor . e-ISSN x-x p-ISSN x-x diri sangat dipengaruhi oleh kemampuan seseorang dalam mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Di sinilah ilmu AwAt memainkan peran yang signifikan. Ketika pelajar bahasa Arab memiliki kontrol yang baik atas aspek fonetik dan fonologis, mereka akan merasa lebih yakin saat berbicara, tidak takut melakukan kesalahan pelafalan dan mampu berbicara di depan umum atau dengan penutur asli tanpa cemas. Oleh karena itu tidak heran ketika Amriani menyebutkan bahwa pembelajaran ilmu Aswat mestinya didahulukan dalam pembelajaran bahasa Arab secara umum. (Amariani Sebaliknya, kurangnya penguasaan terhadap aspek bunyi dapat menimbulkan rasa malu, ragu-ragu, atau bahkan keengganan untuk berbicara. Hal ini terutama dialami oleh pembelajar non-natif yang merasa bahwa pengucapan mereka terasa berbeda atau salah. Selain itu, latihan-latihan fonetik yang berbasis ilmu AwAt . eperti latihan pengucapan konsonan khas Arab: A AUA AUA CAUA )Atidak hanya melatih otot-otot artikulatorik, tetapi juga secara bertahap membangun keberanian dan kebiasaan berbicara. Dengan meningkatnya kemahiran dalam artikulasi, pelajar juga mengalami peningkatan fluency . , yang semakin memperkuat rasa percaya diri mereka. Dari pemaparan tersebut dapat diambil kesimpulannya bahwa Ilmu AwAt tidak hanya berfungsi sebagai alat teknis linguistik, tetapi juga menjadi instrumen psikologis yang mendukung kepercayaan diri pelajar dalam berbicara bahasa Arab secara efektif dan Ilmu Aswat dapat Mempengaruhi Intonasi dan Irama Berbicara Bahasa Arab Intonasi dan ritme sering diistilahkan dengan sebutan prosodi. Dalam pembelajaran bahasa Arab, intonasi dan ritme perlu diperhatikan lebih dalam sebab berbagai intonasi memiliki perspektif makna yang berbeda. Tentunya kalimat tanya, berita dan kabar memiliki intonasi yang berbeda. Dalam tutur bahasa Arab, hal-hal tersebut mesti diucapkan dengan intonasi yang tepat. Sebagai contoh kata AuA AyI COOAdan AuA AyI COOAmemiliki makna yang berbeda. Jika intonasi tidak digunakan dengan tepat, pendengar akan merasa kebingungan mengenai maknanya. Lebih dari itu, jika intonasi tidak diperhatikan, maka kedua kalimat tersebut tidak memiliki perbedaan. Vikri Aditya dkk. dalam penelitiannya menitik beratkan perhatian akan pentingnya intonasi dan ritme . Tuturnya, aspek intonasi dan ritme dalam pembelajaran bahasa Arab masih minim diperhatikan dalam pembelajaran bahasa Arab di sekolahsekolah yang berada di Indonesia. Lebih dari itu mereka menuturkan bahwa sebenarnya mahasiswa pendidikan bahasa Arab banyak yang bisa berbahasa Arab. Akan tetapi, kurang dari segi intonasinya. Dalam kata lain, banyak mahasiswa yang berbahasa Arab tetapi berintonasi bahasa ibu. (Aditya et al. Dalam hal ini ilmu Aswat menyajikan pembelajaran bunyi-bunyi bahasa termasuk Maka dari itu, jika seseorang telah menguasai ilmu Aswat, maka ia pun akan Analisis Hubungan Ilmu AswAt dengan Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Jumlatuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab https://ejournal. id/index. php/jumlatuna/index Volume . Nomor . e-ISSN x-x p-ISSN x-x peka terhadap intonasi dalam berbahasa Arab. seperti halnya ujaran kebahagiaan, amarah, kesedihan dan lain sebagainya memiliki intonasi yang berbeda. KESIMPULAN Ilmu aswAt memainkan peran vital dalam pengembangan keterampilan berbicara bahasa Arab. Dengan memahami makhraj dan sifat huruf secara teoritis dan praktis, pelajar dapat meningkatkan kualitas artikulasi dan kelancaran berbicara mereka. Untuk itu, pengintegrasian ilmu aswAt dalam pengajaran bahasa Arab, khususnya pada aspek berbicara, menjadi suatu kebutuhan yang mendesak agar kemampuan komunikatif siswa lebih optimal dan sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang benar. Oleh karena itu, kurikulum pembelajaran bahasa Arab perlu secara eksplisit memasukkan komponen ilmu awAt sebagai bagian integral dari pelatihan keterampilan Implikasi dari penguasaan ilmu awAt dalam pembelajaran bahasa Arab antara lain adalah meningkatnya kemampuan pelajar dalam membedakan bunyi-bunyi yang mirip . eperti antara Ad dan sn, atau antara dhAl dan zA. , memperbaiki kesalahan pelafalan yang umum terjadi, serta mendekatkan pengucapan pelajar non-penutur asli kepada standar pengucapan penutur asli. Selain itu, pemahaman ilmu awAt juga membantu guru dalam menganalisis kesalahan fonetik siswa dan memberikan koreksi yang lebih tepat sasaran. Hal ini tidak hanya berdampak pada peningkatan aspek fonologis dalam komunikasi lisan, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri siswa saat berbicara dalam bahasa Arab. Dengan demikian, ilmu awAt bukan sekadar teori linguistik, melainkan alat pedagogis yang strategis dalam mencapai tujuan pembelajaran bahasa Arab yang komunikatif, fasih, dan sesuai kaidah. DAFTAR PUSTAKA