JOURNAL OF ECONOMICS AND REGIONAL SCIENCE Vol. 4 No. 2 Edisi September 2024 P-ISSN: 2776-2939 E-ISSN: 2776-3196 Eksplorasi Jejak Tingkat Pengangguran Terbuka. Jumlah Penduduk Miskin. Dan Upah Minimum Regional Terhadap Produk Domestik Regional Bruto Di Provinsi Sumatera Utara 2002-2022 Frandika Situmorang1. Joko Suharianto2 1,2Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Medan. Jalan Willem Iskandar Ps. Kabupaten Deli Serdang, 20221. Indonesia Histori Artikel: Pengajuan: 29 April 2024 Revisi: 24 September 2024 Diterima: 25 September 2024 Keywords: Gross Regional Domestic Product. Open Unemployment Rate. Povety Levels. Regional Minimum Wage. Abstract This study aims to investigate the influence of Open Unemployment Rate (OUR). Poverty Levels (PL), and Regional Minimum Wage (RMW) on Gross Regional Domestic Product (GRDP) in North Sumatra Province from 2002 to 2022. North Sumatra Province, with 15,115,206 inhabitants in 2022, is one of the provinces that plays a vital role in Indonesia's economic progress. This research method is quantitative, namely multiple linear regression analysis on the Eviews application of secondary data obtained from BPS North Sumatra Province. The data analysis results indicate that TPT has a negative influence with a coefficient value of 0. 017130 and a probability value of 0. 3003, implying a negative and insignificant effect of TPT. JPM has a negative and significant influence with a coefficient value of -0. and a probability value of 0. UMR, on the other hand, exhibits a positive and significant impact on GRDP in North Sumatra Province, with a coefficient value of 1. 021982 and a probability value of 0. This research is expected to be a reference for the government in taking a policy related to economic problems. Citations: Situmorang. , & Suharianto. Eksplorasi Jejak Tingkat Pengangguran Terbuka. Jumlah Penduduk Miskin dan Upah Minimum Regional Terhadap Produk Domestik Regional Bruto di Provinsi Sumatera Utara 2002 - 2022. Journal Of Economics and Regional Science, 4. , 98-114. Kata Kunci: Produk Domestik Regional Bruto. Tingkat Pengangguran Terbuka. Jumlah Penduduk Miskin. Upah Minimum Regional. Abstraksi Penelitian ini diadakan guna mengeksplorasi jejak Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Jumlah Penduduk Miskin (JPM), dan Upah Minimum Regional (UMR) terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Sumatera Utara tahun 2002-2022. Provinsi Sumatera Utara, 206 jiwa penduduk di tahun 2022 adalah salah satu provinsi yang memainkan peran penting dalam kemajuan ekonomi Indonesia. Metode penelitian yang diterapkan yakni kuantitatif dengan analisis regresi linier berganda dan melibatkan aplikasi Eviews dan data sekunder Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 perolehan dari BPS Provinsi Sumatera Utara. Dengan hasil olah data yakni TPT berpengaruh negatif dengan nilai koefisien sebesar -0. 017130 dan nilai probabilitas sebesar 3003 yang berarti TPT berpengaruh negatif dan tidak signifikan, kemudian JPM dengan nilai koefisien sebesar 0. 00059 dan nilai probabilitas sebesar 0. 0397 yang berarti JPM berpengaruh negatif dan signifikan, kemudian UMR dengan nilai koefisien 1. 021982 dan nilai probabilitas sebesar 0. yang berarti UMR berpengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini kemudian diharapkan dapat menjadi acuan pemerintah dalam mengambil sebuah kebijakan terkait Pertumbuhan Ekonomi. JEL Classification: E01. J31. J64 Penulis Korespondesi: Nama Penulis : Frandika Situmorang Telpon/HP : 085261215558 Email : frandikasitumorang258@gmail. PENDAHULUAN Setiap negara melakukan pembangunan untuk dapat mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. Untuk menuju hasil pembangunan ekonomi yang tepat, sebuah negara akan menggunakan berbagai pendekatan, baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Ketahui keberhasilan pembangunan adalah penting bagi suatu negara yang sedang dalam pembangunan ekonomi. Salah satu cara untuk mengetahui apakah suatu negara mencapai keberhasilan dalam hal pertumbuhan ekonominya adalah dengan melihat tingkat pertumbuhan ekonominya, salah satu ukuran perekonomian yang tentunya sangat vital adalah pertumbuhan ekonomi yang dapat dinilai dari PDB (Sukirno, 2. Kemudian PDRB dalam buku yang ditulis oleh (Mankiw, 2. adalah nilai total dari semua lingkup barang dan jasa akhir yang dibuat di suatu tempat dalam esrimasi jangka waktu tertentu, pada umumnya satu tahun. PDRB adalah ukuran aktivitas ekonomi suatu wilayah. Ini dapat digunakan untuk melacak kinerja ekonomi suatu wilayah dari estimasi waktu ke waktu atau untuk membandingkan kinerja ekonomi antar wilayah. Menurut pandangan klasik. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dijabarkan sebagai ukuran output atau nilai tambah yang dihasilkan oleh semua sektor ekonomi pada suatu estimasi di wilayah dalam jangka waktu tertentu. Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 menurut perspektif klasik. Menurut perspektif ini, peran pasar bebas dan laissez-faire dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sangat ditekankan. Menurut (Cahyani & Priyono, 2. Jumlah penduduk Indonesia terus mengalami meningkat setiap tahunnya karena ketidakseimbangan antara angka kelahiran dan kematian. Angka dari kelahiran yang relatif lebih tinggi daripada angka kematian, yang menjadi masalah utama bagi pemerintah. Provinsi Sumatera Utara, 206 jiwa penduduk pada tahun 2022, (BPS Sumut, 2. adalah salah satu provinsi yang memainkan peran penting dalam kemajuan ekonomi Indonesia. Provinsi dengan ibu kotanya sebagai kota dalam kedudukan terbesar dan ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya, tentunya menjadi salah satu penyumbang PDRB terbesar bagi pemasukan negara. (Sari M. Silaban et al. , 2. Tabel 1. Data PDRB. TPT. JPM, dan UMR Provinsi Sumatera Utara 2002-2022 Tahun PDRBHB (M) TPT (%) JPM (Jiw. 6,74 7,71 13,75 10,98 11,51 10,10 9,10 8,45 7,43 6,37 6,20 6,53 6,23 6,71 5,84 5,60 5,56 5,41 6,91 6,33 6,16 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara UMR (R. Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 Grafik PDRB. TPT. JPM, dan UMR PDRBHB (M) JPM (Jiw. UMR (R. TPT (%) Grafik 1. PDRB. TPT. JPM, dan UMR Provinsi Sumatera Utara 2002-2022 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara Dalam penelusuran oleh (Aprilya & Juliprijanto, 2. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) yakni persentase kuantitas orang yang dalam kondisi tidak bekerja dibandingkan dengan jumlah orang yang bekerja. Tingkat Pengganguran Terbuka (TPT) kemudian berdampak pada kenaikan angka pertumbuhan ekonomi akibat tingginya kuantitas angkatan kerja yang dalam kondisinya menjadi pengangguran. Angkatan kerja adalah individu pada usia yang lewat dari usia 15 tahun dalam kegiatan bekerja, memiliki profesi tetapi beberapa waktu tidak melakukannya, dan juga menganggur. Dalam defenisi lain oleh (Boediono, 2. Tingkat Pengangguran Terbuka adalah individu yang senantiasa terbuka akan pekerjaan secara aktif dan tidak bekerja sama sekali. Kemudian jika digali lagi dalam buku tulisan (Todaro. , 2. defenisi dari Tingkat Pengangguran Terbuka adalah individu yang dalam kondisi tidak dalam status bekerja tetapi senantiasa terbuka mencari pekerjaan dan siap bekerja dengan upah yang sesuai. Berdasarkan grafik 1. tersebut, dapat menunjukkan fluktuasi bahwasannya Provinsi Sumatera Utara dalam 21 tahun belakangan yang terhitung dari tahun 2022 hingga mundur ke tahun 2002 terlihat peningkatan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang disertai dengan penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Sumatera Utara (BPS Sumut, 2. dan salah satu lonjakan pada tahun 2020 akibat dari faktor dan keadaan situasional pada saat itu yakni Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia terutama di Provinsi Sumatera Utara dengan penerapan Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 PSBB dan maraknya PHK tenaga kerja menyebabkan banyaknya pekerja yang harus dirumahkan (Fahri et al. , 2. Fenomena tersebut sejalan dengan Teori Hukum Okun atau disebut OkunAos Law, 1962 bahwa ada korelasi kuat antara pengangguran dan Gross National Product Rill. Menurut hukum, tingginya persentase laju pertumbuhan bisa menyebabkan pertumbuhan bisa menyebabkan peningkatan tingkat pengangguran (Padang & Murtala, 2. Teori Hukum OkunAos Law sejalan dengan salah satu penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Abdullah & Hasbiullah, 2. pada penelitiannya yang berstudi kasus di Indonesia. Angakatan kerja baru dengan kuantitas yang terus mengalami peningkatan jika disandingkan dengan jumlah lapangan pekerjaan yang terbuka di pasar kerja senantiasa terus mempresentasikan ga yang kian melebar. Gap ini senantiasa marak dalam setelah keadaan pada krisis ekonomi, karena tidak hanya ada peningkatan angkatan kerja baru dibandingkan dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia, tetapi juga banyak PHK. Hal ini memicu angka pengangguran di negara Indonesian menunjukkan tren yang meningkat (Imanto et al. , 2. Data Jumlah Penduduk Miskin pasti akan dipengaruhi oleh tingginya tingkat pengangguran terbuka. Jumlah penduduk miskin didefinisikan sebagai jumlah orang yang pengeluaran dasar perkapita bulanannya di bawah kategori Garis Kemiskinan (GK) nasional (Badan Pusat Statistik, 2. Garis kemiskinan (GK) nasional adalah batas minimum pengeluaran yang seharusnya dikeluarkan untuk konsumsi makanan dan non-makanan. Studi yang dilakukan oleh (Darsana. , & AA Gede, 2. menemukan bahwa kemiskinan, yang ditunjukkan oleh populasi masyarakat miskin yang besar, adalah permasalahan inti yang dihadapi oleh negara yang sedang berkembang, dalam hal ini termasuk Indonesia. Beberapa penyebab kemiskinan di Indonesia termasuk kondisi investasi, tingkat pengangguran, dan perlambatan Memperkuat pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat merupakan salah satu cara yang efektif untuk menanggulangi Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 Jeffrey Sachs berpendapat bahwa pengentasan kemiskinan merupakan syarat utama untuk pertumbuhan ekonomi yang senantiasa dalam keadaan berkelanjutan. Teori ini menunjukkan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi akan menekan dan memberantas kemiskinan. Penelitian oleh (Suryadarma. , & Arifin, 2. setuju dengan pendapat ini. Meskipun jurnal tersebut tidak mengutip teori Sachs secara langsung, penelitian ini menekankan betapa pentingnya memecahkan jebakan Menurut Adam Smith (Darsana, 2. , di sisi lain, sebuah masyarakat tidak dapat bahagia dan mengalami perkembangan apabila mayoritas masyarakatnya hidup dalam kemiskinan dan kesesangsaraan. Di Indonesia sendiri, upah minimal regional (UMR) dirancang untuk meningkatkan standar hidup tenaga kerja dan melindungi pekerja dengan upah Peraturan Mentri Tenaga Kerja menjelaskan semua peraturan regional tentang upah minimal (Aprilya & Juliprijanto, 2. Upah minimum sangat penting bagi kaum muda yang ingin bekerja. Karena kurangnya keahlian dan pengalaman, keseimbangan upah minimum untuk generasi muda cenderung kurang memadai secara proporsional. Upah minimum memengaruhi tingkat keahlian dan pengalaman pekerja, namun tidak berdampak pada jumlah tenaga kerja yang tersedia karena upah yang seimbang di atas upah minimum (Mankiw, 2. Menurut Teori Solow Model (Robert Sollo. menyatakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang bergantung pada peningkatan akumulasi modal dan pertumbuhan jumlah pekerja. UMR yang tinggi dapat meningkatkan daya beli pekerja dan mendorong konsumsi, hal ini kemudian dapat berkontribusi pada keadaan peningkatan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Namun, angka UMR yang relatif tinggi kemudian dapat mengundang inflasi dan pengurangan investasi, yang pada gilirannya menghambat pertumbuhan akan ekonomi. Salah satu penelitian yang selaras dan sebelumnya diteliti oleh (Luthfi. , & Erla. S 2. menunjukkan bahwa upah minimum memiliki peran yang positif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Upah minimum regional yang memadai membantu memastikan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasar dan hidup Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 dengan kualitas yang baik. Pertumbuhan ekonomi yang stabil dapat meningkatkan jumlah pekerja dengan tingkat pendidikan tinggi. Provinsi Sumatera Utara dengan beragam permasalahannya dibidang ekonomi, menjadi topik penelitian yang menarik untuk dikaji lebih dalam, mengingat Produk Domestik Regional Bruto yang ada di provinsi tersebut cukup terbilang besar. Dari kajian latar belakang yang telah diuraikan, maka tujuan penulisan dari jurnal ini variabel-variabel Tingkat Pengangguran Terbuka. Jumlah Penduduk Miskin, dan Upah Minimum Regional dapat mempengaruhi Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sumatera Utara dengan hipotesis yang diduga TPT berpengaruh negatif terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara, kemudian diduga JPM berpengaruh negatif terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara, serta diduga UMR memiliki pengaruh yang signifikan terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara. METODE Penelitian ini mengadopsi metode penelitian yakni kuantitatif, melalui sajian data sekunder yang merupakan perolehan dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang secara resmi dipublikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Regional Provinsi Sumatera Utara. Teknik analisis yang diadopsi dalam kajian penelusuran ini adalah teknik Analisis Regresi Linier Berganda yang melibatkan fungsi dari alat olah data Eviews dan kemudian dilakukan regresi. Data dalam penelitian terkait berupa data time series yang mengacu pada waktu pengamatannya secara berurutan selama rentang 21 tahun berurutan yakni dari awal di tahun 2002 sampai akhir di tahun 2022 yakni data (Produk Domestik Regional Brtuto atas Harga Berlaku (PDRBHB). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Jumlah Penduduk Miskin (JPM), dan Upah Minimum Regional (UMR) yang ada di Provinsi Sumatera Utara. Metode Analisis Data Penelitian ini terkandung atas lebih dari satu untuk variabel bebas dan satu untuk variabel terikat, sehingga menggunakan teknik analisis regresi linear berganda yang difungsikan untuk mengidentifikasi dan korelasi antara variabel-variabel independen (X) dan variabel dependen (Y) (Alama dan Bakar, 2. Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 LN PDRB t = o 1 LN TPT t LN 2 JPM t 3 UMR t e t Keterangan: PDRB = Produk Domestik Regional Bruto TPT = Tingkat Pengangguran Terbuka JPM = Jumlah Penduduk Miskin UMR = Upah Minimum Regional = Log natural o = Nilai konstanta ,2,. = Koefisien regresi berganda = Time series . = Error term Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Pengujian ini dilakukan untuk mengevaluasi bagaimana dan apakah variabel dalam pengamatan terkait telah mengikuti dan sejalan dengan distribusi normal dalam pengolahan model regresi. Keberadaan akan distribusi normal ini tentunya akan dapat menghasilkan sebuah estimasi yang tentunya tidak bias, yakni dengan cara penggunan pengujian pada Jarque-Bera (J-B) pada tingkat signifikansi yaitu berkisar di angka 10% (Aprilya & Juliprijanto, 2. Uji Autokerelasi Pengujian Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui dan menggali apakah pada dasarnya terdapat sebuah hubungan linear antara setiap variabel independen. Jika ternyata terdapat hubungan maka hal itu dapat disebut sebagai Autokorelasi. Untuk mengamati dan menentukan adanya Autokorelasi atau tidak, dapat dilakukan pengujian Langrange Multiplier, untuk nantinya dapat menetapkan ketetapan dan dilihat pada seberapa besar nilai dari Probability Chi-square (Aprilya & Juliprijanto. Uji Multikolinearitas Multikolinearitas menunjukkan bahwa ada atau tidaknya hubungan linier yang baik antara satu atau lebih elemen dalam sebuah gambaran regresi. Pengujian ini bertujuan dan dimaksudkan untuk menentukan apakah konsep regresi sejatinya Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 terbentuk dengan adanya hubungan tinggi untuk setiap variabel. Kemungkinan adanya ditemukan multikolinearitas dalam penelitian tersebut jika memang ada korelasi yang terlihat tinggi (Aprilya & Juliprijanto, 2. Dalam defenisi lain, pengujian multikolinieritas adalah kondisidimana adanya korelasi, atau hubungan, antara variabel independen yang kemudian dapat diukur melalui seberapa besar nilai Multikolinearitas terbebas jika nilai korelasi di bawah 0,80 (Padang & Murtala, 2. Uji Heteroskedastisitas Heteroskadastisitas diuji dengan memperhatikan serta mengukur nilai probabilitas Obs*R-Squared. (Widarjono, 2. Tidak ada Heteroskedastisitas dapat diindikasikan dengan kriteria apabila menempati dan berada pada posisi angka senilai 0,05 pada probabilitas Obs*R-Squared. Dalam arti lain, pengujian heteroskedastisitas adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui seebnarnya apakah model regresi memiliki kesamaan varians . atau beragam . Dalam kasus dimana metode grafik digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya heteroskedastisitas, plot observasi yang berada di antara angka 0 menunjukkan sebenarnya bahwa mereka tidak terpengaruh oleh pengujian heteroskedastisitas (Alama dan Bakar, 2. HASIL Uji Normalitas Series: Residuals Sample 2002 2022 Observations 21 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability Grafik 2. Uji Normalitas Data Sumber : Data Olahan 2024 Prob Jarque-Bera 1. Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 Prob Jarque-Bera > 0. 05 maka tidak terjadi pelanggaran normalitas data. Uji Autokoreasi Tabel 2. Uji Autokolerasi Data Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 553854 Prob. 444145 Prob. Chi-Square. Sumber : Data Olahan 2024 Prob 0. Prob Chi-Square > 0. 05 maka tidak terjadi pelanggaran Autokorelasi. Uji Multikolinearitas Tabel 3. Uji Multikolinearitas Data Variance Inflation Factors Date: 04/25/24 Time: 23:27 Sample: 2002 2022 Included observations: 21 Variable Coefficient Variance Uncentered VIF Centered VIF TPT JPM LOG(UMR) 23E-08 Sumber : Data Olahan 2024 Nilai VIF < 10, maka tidak terjadi pelanggaran multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas Tabel 4. Uji Heteroskedastisitas Data Heteroskedasticity Test: Glejser F-statistic Obs*R-squared Scaled explained SS 253815 Prob. 900285 Prob. Chi-Square. 504939 Prob. Chi-Square. Sumber : Data Olahan 2024 Prob > 0. 05, maka tidak terjadi pelanggaran Heteroskedastisitas. Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 Uji Regresi Tabel 5. Uji Regresi Dependent Variable: LOG(PDRBHB) Method: Least Squares Date: 04/25/24 Time: 23:25 Sample: 2002 2022 Included observations: 21 Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. TPT JPM LOG(UMR) R-squared Adjusted R-squared of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statisti. Mean dependent var dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat Sumber : Data Olahan 2024 PEMBAHASAN Pengaruh TPT Terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara Berdasarkan pengolahan data yang telah direalisasikan maka dapat menjawab hipotesis bahwa variabel Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Sumatera Utara memiliki dampak yang negatif terhadap Produk Domestik Regionl Bruto di Provinsi Sumatera Utara yaitu dengam nilai koefisien sebesar -0,017130, hasil ini membuktikan bahwa Hukum Okun (OkunAos La. terbukti benar. Hasil pengolahan data juga memperlihatkan besaran angka probabilitas sebesar 0,3003 yang berarti Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Sumatera Utara mempunyai pengaruh tidak signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto. Hasil ini selaras dengan hasil penelitian terdahulu yakni oleh (Purwanti & Rahmawati, 2. menyatakan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tidak memiliki dampak yang begitu signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Indonesia. Namun, pengeluaran pemerintah pada aspek Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 pendidikan dan kesehatan, yang merupakan faktor pendorong, dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi inklusif. Meskipun demikian, pengeluaran pemerintah pada aspek pendidikan belum mencapai tingkat optimal untuk memperoleh hasil yang Dalam hal ini Provinsi Sumatera Utara memiliki pengaruh yang tidak signifikan karena adanya beberapa faktor, seperti tingginya pekerja informal, rendahnya produktivitas tenaga kerja, struktur ekonomi yang didominasi sektor padat karya, dan faktor lain seperti migrsi, urbanisasi, serta kondisi makroekonomi. Pengaruh JPM Terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara Berangkat dari cacahan data analisis yang telah direalisasikan, hipotesis yang asal mulanya dari Jumlah Penduduk Miskin (JPM) terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Sumatera Utara dapat disimpulkan adalah benar Jumlah Penduduk Miskin (JPM) memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan jika disandingkan dengan pertumbuhan ekonomi. Artinya, jika JPM di Provinsi Sumatera Utara meningkat, maka akan berdampak pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Sumatera Utara, berarti bahwa tingkat kemiskinan yang diukur dari JPM yang tinggi mampu menghambat keberhasilan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara. Dapat disimpulkan bahwa teori dari Sahcs terkait pengentasan kemiskinan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang Hasil ini penelitian selaras dengan hasil penelitian sebelumnya oleh (Parmadi, & Selamet, 2. dalam (Padang & Murtala, 2. Jika ditelaah dari uraian bagian Pulau Sumatera Utara, hasil penelitian tersebut selaras dengan penelitian ini, pengaruh Jumlah Penduduk Miskin memiliki pengaruh yang arahnya Negatif dan Signifikan dengan koefisien sebesar -0,000599 dengan Probabilitas 0,0000, artinya jika jumlah penduduk yang terjerat kemiskinan meningkat maka dampaknya akan berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara. Pengaruh UMR Terhadap PDRB Provinsi Sumatera Utara Hasil uji regresi yang disajikan pada Tabel. 5 maka dapat dilihat bahwasannya nilai koefisien yang diperoleh sebesar 1. 021982 dan nilai probabilitas senilai 0. yang artinya Upah Minimum Regional (UMR) memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang mengindikasikan Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 bahwasannya jika Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) meningkat kemudian memicu peningkatan pada Upah Minimum Regional (UMR) yang ada di Provinsi Sumatera Utara dan sebaliknya. Menurut teori Solow Model (Robert Sollo. Upah Minimum Regional (UMR) yang tinggi dapat meningkatkan daya beli pekerja dan memacu konsumsi, yang kemudian dapat memicu pertumbuhan ekonomi. Namun. Upah Minimum Regional (UMR) yang terlalu tinggi juga berpotensi menyebabkan inflasi dan mengurangi tingkat investasi, sehingga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Yang menekankan bahwasannya Upah Minimum Regional (UMR) tidak senantiasa berorientasi positif, ada kalanya Upah Minimum Regional (UMR) memiliki orientasi negatif terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Berbanding terbalik dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Najiya, 2. dan berstudi kasus di Provinsi Nusa Tenggara Barat, mendapati mendapati pengamatan yang mengindikasikan bahwa Upah Minimum Regional (UMR) memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap bagaimana ekonomi yang bertumbuh di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Nilai koefisien menunjukkan kondisi dan dampak yang negatif antara Upah Minimum Regional (UMR) terhadap proses pertumbuhan Singkatnya, jika UMR tinggi maka proses pertumbuhan dalam ekonomi akan senantiasa mengalami penurunan, dan sebaliknya jika Upah Minimum Regional (UMR) mengalami penurunan yang kemudian akan merangsang pada pertumbuhan Dalam keseluruhan penelitian ini, ditemukan bahwa upah menghasilkan dampak positif dan signifikan, hasil ini konsisten dan menunjukkan keselarasan dengan penelitian yang diteliti sebelumnya yang dilakukan oleh (Abdullah & Hasbiullah, 2. Analisis regresi menunjukkan bahwa Upah Minimum Regional (UMR) dengan jelas mampu memengaruhi secara positif dan signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Indonesia dari tahun awal di 2019 hingga tahun akhir di 2021. Temuan ini tentu juga menjelaskan bahwa jika semakin melonjak angka Upah Minimum Regional (UMR), maka akan semakin melonjak juga angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan sebaliknya. Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 SIMPULAN Ketiga variabel. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Jumlah Penduduk Miskin (JPM), dan Upah Minimum Regional (UMR), memiliki hubungan yang kompleks dan saling terkait dengan Produk Domestik Regional (PDRB) di Provinsi Sumatera Utara, dapat dibuktikan dengan hasil pada tabel 5. Uji Regresi. Kebijakan yang efektif untuk memicu laju pertumbuhan ekonomi dan memangkas angka kemiskinan di Sumatera Utara harus mempertimbangkan ketiga variabel tersebut secara komprehensif, diperlukan penelitian yang terus berlanjut untuk menganalisis apa saja faktor-faktor lain yang dapat secara signifikan mempengaruhi Produk Domestik Regional (PDRB). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Jumlah Penduduk Miskin (JPM), dan Upah Minimum Regional (UMR) di Sumatera Utara. Jika ditarik kesimpulan terkait variabel-variabel yang mempengaruhi PDRB di Provinsi Sumatera Utara sebagai berikut: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Memiliki korelasi yang negatif namun tidak signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Sumatera Utara. Hal ini membuktikan bahwa peningkatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tidak selalu berakibat pada penurunan PDRB, dan sebaliknya. Jumlah Penduduk Miskin (JPM) Memiliki hubungan yang negatif dan terbilang signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Sumatera Utara. Artinya, semakin tinggi PDRB, semakin rendah Jumlah Penduduk Miskin (JPM). Hal ini membuktikan bahwa semakin laju pertumbuhan ekonomi maka dapat membantu mengurangi angka kemiskinan. Upah Minimum Regional (UMR) Memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Sumatera Utara. Kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, namun perlu dipertimbangkan dengan cermat agar tidak membebani sektor usaha karena tingginya UMR dapat menimbulkan masalah baru pada PDRB. SARAN Meningkatkan Kualitas Pendidikan dan Pelatihan yakni Pemerintah perlu dilakukan evaluasi atas kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi untuk membekali tenaga kerja atas kebolehan yang dibutuhkan oleh industri. Saran ini diharapkan dapat membantu Journal of Economics and Regional Science Vol 4. No 2 Edisi September 2024 memangkas pengangguran serta memperbesar daya saing dari tenaga kerja, kemudian Mengembangkan Infrastruktur yakni pembangunan infrastruktur yang memadai, seperti jalan, jembatan, dan pelabuhan, dapat membantu meningkatkan konektivitas dan membuka peluang ekonomi baru. Saran ini diharapkan merangsang kebaharuan lapangan Meningkatkan Investasi yakni Pemerintah perlu menarik investasi sektor swasta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Saran ini dapat direalisasikan dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi investor. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti dengan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Sumatera Utara dengan menyandingkan variabel-variabel lain dan tentunya dengan data yang terbaru dan teknik olah data yang lain agar terlihat perkembangan dari faktor apa saja yang secara umum mempengaruhi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Sumatera Utara. DAFTAR PUSTAKA