Analysis Of Basic Materials Sector Financial Performance During And After The Covid-19 Pandemic In Readiness For ESG Adoption Analisis Kinerja Keuangan Sektor Basic Materials Pada Saat Dan Setelah Pandemi Covid-19 Dalam Kesiapan Adopsi ESG Cornelia Lisia Gunawan . Jakaria . Clarisya Ristaviasha . Hellen Fang Fang . Katherine Junitha . Theola Darius Wiguno . Tracy Rachel Maringka . Varlonia Neyrine . 1,2,3,4,5,6,7,. Universitas Tarumanagara Email: jakaria. fe@trisakti. ARTICLE HISTORY Received . April 2. Revised . May 2. Accepted . May 2. KEYWORDS ESG. Basic Materials. Financial Ratios. Sustainability. PostPandemic. This is an open access article under the CCAeBY-SA ABSTRAK Penelitian ini mengkaji serta menganalisis kesiapan perusahaan sektor basic materials dalam mengimplementasikan prinsip Environmental. Social, and Governance (ESG) dengan menganalisis fluktuasi rasio-rasio keuangan sebelum dan sesudah pandemi COVID-19. Dengan pendekatan kuantitatif menggunakan uji normalitas. Wilcoxon Signed Rank Test, dan PairedSamples T-Test, serta didukung analisis kualitatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar rasio likuiditas dan solvabilitas mengalami perbaikan, sementara profitabilitas cenderung stagnan dan aktivitas menurun signifikan. Hasil ini mengindikasikan bahwa kondisi keuangan perusahaan dapat menjadi indikator awal kesiapan ESG. Oleh karena itu, perusahaan dengan stabilitas finansial yang baik memiliki peluang lebih besar dalam mendanai dan menerapkan inisiatif keberlanjutan secara konsisten. Penelitian ini juga merekomendasikan integrasi analisis keuangan dengan data non-keuangan untuk memberikan pandangan yang lebih menyeluruh terhadap kinerja keberlanjutan perusahaan. ABSTRACT This research examines and analyzes the readiness of companies in the basic materials sector to implement Environmental. Social, and Governance (ESG) principles by analyzing fluctuations in financial ratios before and after the COVID-19 pandemic. Using a quantitative approach through normality testing, the Wilcoxon Signed Rank Test, and Paired-Samples T-Test, supported by qualitative analysis, the results show that most liquidity and solvency ratios improved, while profitability remained stagnant and activity ratios declined significantly. These findings indicate that a companyAos financial condition can serve as an early indicator of ESG readiness. Firms with strong financial stability are more likely to consistently fund and implement sustainability initiatives. The study also recommends integrating financial analysis with non-financial data to provide a more comprehensive view of a companyAos sustainability performance. PENDAHULUAN Dalam era globalisasi dan perkembangan industri yang pesat, sektor basic materials atau bahan mentah memiliki peran yang sangat fundamental sebagai komponen utama dalam berbagai proses Basic Materials merupakan bahan mentah yang digunakan dalam berbagai industri untuk diproses setengah jadi atau produk akhir yang siap untuk digunakan (Nuskhotun, 2. Sektor basic materials mencakup perusahaan yang bergerak dalam ekstraksi, pengolahan, dan distribusi bahan mentah yang kemudian digunakan dalam berbagai sektor seperti manufaktur dan konstruksi. Perusahaan dalam sektor basic materials berfungsi sebagai pemasok utama bagi industri lain dengan menyediakan produk dan jasa yang digunakan sebagai bahan baku dalam proses produksi. Hal ini menjadikan sektor ini sebagai salah satu pilar utama dalam rantai pasok global dikarenakan keberadaan sektor ini menjadi tulang punggung bagi berbagai industri lainnya, seperti manufaktur, konstruksi, dan energi. Tanpa adanya sektor basic materials, maka keberlanjutan industri lain akan mengalami kendala dalam memperoleh bahan baku yang dibutuhkan, yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Namun, dibalik kontribusi ekonominya yang besar, sektor ini juga menghadapi tantangan serius terkait dampak lingkungan yang tinggi. Operasional yang berskala besar dan padat sumber daya menyebabkan timbulnya berbagai masalah yang sering dikaitkan dengan dampak lingkungan yang signifikan, seperti timbulnya emisi karbon, limbah industri, serta penggunaan energi yang tinggi. (Hanifah, 2. Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya keberlanjutan dalam dunia bisnis, perusahaan-perusahaan di seluruh dunia semakin dituntut untuk memperhatikan lebih dalam mengenai keberlanjutan dan tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat. Maka, munculnya konsep Environmental. Social, and Governance (ESG) untuk menjadi salah satu respons terhadap Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 5 No. 2 ,May 2025 page: 305 - 316 | 305 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 tantangan tersebut. ESG merupakan seperangkat kriteria yang digunakan untuk menilai sejauh mana perusahaan mengelola dampaknya terhadap lingkungan, berkontribusi pada masyarakat, serta menerapkan tata kelola yang baik. Aspek Environmental mencakup bagaimana perusahaan mengelola dampak lingkungannya, termasuk emisi karbon, limbah, dan penggunaan energi terbarukan. Aspek Social menilai hubungan perusahaan dengan karyawan, masyarakat lokal, serta isu-isu seperti hak asasi manusia dan keragaman. Sedangkan untuk aspek Governance mencakup struktur dan etika tata kelola perusahaan, transparansi, serta integritas manajemen (Teknik Sipil, 2. Konsep ESG ini menjadi panduan bagi perusahaan yang ingin menjalankan investasi berkelanjutan, dengan mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola ke dalam operasional bisnis dan pengambilan keputusan. (Whelan et al. , 2. Dalam beberapa tahun terakhir, implementasi konsep ESG dalam strategi bisnis ini semakin menjadi keharusan, bukan sekedar pilihan. Hal ini terlihat dari perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, termasuk perusahaan yang bergerak di sektor basic materials, kini semakin memperhatikan konsep Environmental. Social. Governance (ESG). Perubahan ini didorong oleh beberapa tren global, seperti meningkatnya tekanan untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam strategi bisnis. Tekanan tersebut tidak hanya berasal dari regulasi pemerintah, tetapi juga dari beberapa pemangku kepentingan, termasuk para investor, konsumen, dan lembaga non-pemerintah yang semakin peduli terhadap dampak sosial aktivitas bisnis. Akibatnya perusahaan dituntut untuk lebih adaptif dan menunjukkan tanggung jawab sosial yang lebih besar. Khususnya sektor basic materials, perusahaan tidak lagi cukup berfokus pada kinerja finansial tetapi juga harus memberikan kontribusi nyata dalam menerapkan prinsip-prinsip ESG agar tetap relevan dan dapat mempertahankan daya saingnya. (DetikFinance, 2. Namun, penerapan prinsip-prinsip ESG bukanlah hal yang mudah, terutama dalam sektor basic materials yang memiliki tantangan operasional dan struktural tersendiri. Implementasi ESG membutuhkan investasi yang tidak sedikit, baik dalam bentuk teknologi ramah lingkungan, pelatihan sumber daya manusia, maupun reformasi tata kelola. Maka, kondisi internal perusahaan menjadi faktor penting dalam menentukan kesiapan dan keberhasilan penerapan ESG. Salah satu aspek penting dalam menentukan keberhasilan menjalankan ESG adalah kestabilan keuangan perusahaan. Tanpa kondisi finansial yang stabil perusahaan akan kesulitan dalam melakukan transformasi bisnis yang dibutuhkan untuk mendukung inisiatif keberlanjutan. Sebaliknya, perusahaan dengan keuangan yang sehat memiliki ruang yang lebih besar dan berinovasi dan menjalankan inisiatif ESG secara konsisten. Oleh karena itu, analisis terhadap rasio keuangan seperti likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan aktivitas menjadi penting untuk mengevaluasi kesiapan perusahaan dalam mengimplementasikan ESG. (Zhou et al. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesiapan perusahaan-perusahaan di sektor basic materials dalam mengadopsi prinsip-prinsip ESG dengan mengkaji kinerja keuangan perusahaan saat dan sesudah pandemi COVID-19. Fokus penelitian ini terletak pada hubungan antara stabilitas keuangan dan kemampuan perusahaan untuk berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan. Tujuan ini didorong oleh pemikiran bahwa perusahaan dengan kondisi keuangan yang stabil akan lebih mampu mengalokasikan sumber daya untuk kegiatan yang mendukung pembangunan berkelanjutan (Ilmu Keuangan, 2. Hal ini sejalan dengan temuan (Sari & Hardiyanti, 2. , yang menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 memiliki dampak yang bervariasi terhadap indikator keuangan perusahaan. Meskipun rasio likuiditas (Current Rati. dan profitabilitas (Return on Asset. mengalami tekanan, rasio solvabilitas (Debt to Equity Rati. dan pasar (Price to Earnings Rati. justru cenderung meningkat (Sari & Hardiyanti, 2. Ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan kondisi keuangan yang stabil lebih mampu bertahan dan bahkan meningkatkan nilai pasar meski dalam kondisi ekonomi yang menantang. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mampu memenuhi kepatuhan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah jangka panjang melalui inovasi dan efisiensi proses. Beberapa studi sebelumnya telah menyoroti pentingnya integrasi aspek keuangan dan keberlanjutan dalam sektor ini. Misalnya studi oleh (Choi et al. , 2. yang menunjukkan bahwa perusahaan dengan kinerja keuangan yang stabil cenderung lebih mampu menerapkan praktik keberlanjutan seperti pengurangan emisi karbon dan efisiensi energi. Sementara itu, penelitian yang dilakukan di Korea oleh Science Direct . menyimpulkan bahwa terdapat keterlibatan aktif perusahaan dalam kegiatan ESG berkorelasi positif dengan stabilitas finansial. Penelitian terdahulu yang penulis lakukan juga menyoroti pentingnya digitalisasi dalam mendukung keberlanjutan di sektor basi Teknologi seperti Artificial Intelligence (AI). Internet of Things (IoT), otomatisasi dan big data analytics terbukti dapat membantu perusahaan menurunkan limbah, mengoptimalkan proses produksi, dan menghemat biaya sumber daya (Harian Pijar, 2. Lebih jauh lagi, digitalisasi tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga membuka peluang besar bagi sektor ini untuk mendukung implementasi ESG di Indonesia. Melalui penerapan teknologi, perusahaan dapat meningkatkan transparansi rantai pasok, memonitor jejak karbon, memperkuat akuntabilitas sosial, dan berinovasi 306 | Cornelia Lisia Gunawan. Jakaria. Clarisya Ristaviasha. Hellen Fang Fang. Katherine Junitha. Theola Darius Wiguno. Tracy Rachel Maringka. Varlonia Neyrine . Analysis Of Basic Materials Sector Financial Performance During . dalam menciptakan produk yang berkelanjutan. Berbagai studi mendukung ini, seperti yang ditunjukan oleh (Zhou et al. , 2. bahwa penerapan sistem digital terintegrasi dalam manufaktur global meningkatkan efisiensi produksi dan keberlanjutan bisnis. Ketidakstabilan finansial dapat menjadi penghambat serius dalam proses transisi menuju bisnis keberlanjutan, terutama karena investasi dalam teknologi ramah lingkungan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sayangnya, hingga kini masih sedikit penelitian yang secara spesifik mengkaji hubungan antara stabilitas keuangan dan kesiapan perusahaan sektor basic materials dalam mengadopsi ESG. Sebagian besar studi sebelumnya lebih banyak berfokus pada sektor teknologi atau jasa, yang memiliki tantangan keberlanjutan yang relatif ringan dibandingkan dengan sektor basic materials yang sangat bergantung pada alam. Penelitian ini menawarkan kontribusi baru dan bersifat inovatif dengan menyoroti bagaimana stabilitas keuangan perusahaan dalam sektor basic materials dapat mempengaruhi kemampuan serta kapasitas mereka untuk mengimplementasikan prinsip-prinsip Environmental. Social, and Governance (ESG) secara nyata. Penelitian ini secara khusus penting dalam konteks pasca pandemi COVID-19, ketika banyak perusahaan menghadapi tekanan besar untuk menyeimbangkan antara pemulihan ekonomi dan tuntunan keberlanjutan. Stabilitas keuangan menjadi faktor penentu dalam keputusan strategis perusahaan. Tanpa struktur keuangan yang sehat dan berkelanjutan, perusahaan akan menghadapi keterbatasan dalam mengimplementasikan konsep ESG secara menyeluruh. Hal ini mencakup kesulitan dalam melakukan investasi jangka panjang yang diperlukan untuk mendukung adopsi teknologi ramah lingkungan, peningkatan efisiensi energi, dan pengelolaan limbah yang lebih baik termasuk dalam pengembangan dan produksi material yang dapat didaur ulang. Penelitian ini tidak hanya mengisi kekosongan dalam literatur yang ada, tetapi juga memberikan wawasan strategis bagi perusahaan dan pemangku kepentingan mengenai pentingnya stabilitas keuangan dalam mendukung keberlanjutan jangka panjang. Dengan menganalisis rasio keuangan perusahaan saat dan sesudah pandemi COVID19, penelitian ini akan menilai kesiapan sektor basic materials dalam menerapkan kebijakan ESG secara nyata dan berkelanjutan. LANDASAN TEORI Teori Signaling Bagi investor, asimetri informasi mengenai prospek perusahaan dapat mempengaruhi persepsi terhadap kinerja keuangan perusahaan. Menurut (Spence, 1. Signaling Theory menyatakan bahwa manajemen perusahaan akan memberikan sinyal kepada pasar melalui laporan keuangan dan indikator keuangan seperti rasio likuiditas dan struktur modal. Sinyal ini digunakan untuk mengurangi asimetri informasi antara manajemen dan investor, serta menunjukkan stabilitas dan prospek jangka panjang perusahaan, khususnya dalam masa ketidakpastian seperti pandemi. Kinerja Keuangan Menurut (Hery, 2. menyatakan bahwa kinerja keuangan merupakan gambaran hasil pencapaian keuangan perusahaan dalam periode tertentu yang mencerminkan kondisi kesehatan Salah satu metode pengukuran yang paling umum digunakan adalah melalui analisis rasio Analisis ini memungkinkan pihak internal dan eksternal menilai efisiensi, likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas perusahaan. Return on Assets (ROA) Return on Assets (ROA) adalah rasio keuangan yang mengukur seberapa efektif suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimilikinya. ROA menunjukkan efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan asetnya untuk menghasilkan keuntungan. Semakin tinggi nilai ROA, semakin baik kinerja perusahaan dalam menghasilkan profit dari asetnya. ROA termasuk dalam kategori rasio profitabilitas karena mengukur tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam hubungannya dengan aset yang digunakan. Return on Equity (ROE) Return on Equity (ROE) adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari modal sendiri yang dimiliki oleh pemegang saham. ROE menggambarkan tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan dibandingkan dengan ekuitasnya. ROE termasuk dalam rasio profitabilitas karena mengukur efisiensi perusahaan dalam mengelola modalnya untuk menghasilkan laba bagi pemegang saham. Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 5 No. 2 ,May 2025 page: 305 - 316 | 307 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 Current Ratio (CR) Current Ratio (CR) adalah rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aset lancarnya. Current Ratio (CR) mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendek dengan aset lancarnya. Rasio ini diperoleh dari perbandingan aset lancar terhadap liabilitas lancar. Nilai CR yang tinggi mencerminkan kondisi keuangan yang lebih stabil, sedangkan nilai rendah dapat mengindikasikan risiko likuiditas. Quick Ratio (QR) Quick Ratio (QR) merupakan rasio likuiditas yang lebih ketat daripada CR, hanya mempertimbangkan aset likuid tanpa memperhitungkan persediaan. Quick Ratio (QR) adalah rasio likuiditas yang mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek tanpa mengandalkan penjualan persediaan. Rasio ini dihitung dengan membagi aset likuid . as, piutang, dan investasi jangka pende. dengan liabilitas lancar. Debt to Asset Ratio (DAR) Debt to Asset Ratio (DAR) mengukur seberapa besar aset perusahaan yang didanai oleh utang. Debt to Asset Ratio (DAR) adalah rasio solvabilitas yang mengukur proporsi total aset perusahaan yang dibiayai oleh utang. Rasio ini dihitung dengan membagi total utang terhadap total aset. Nilai DAR yang tinggi menunjukkan ketergantungan besar terhadap utang, sementara nilai yang lebih rendah menandakan perusahaan lebih banyak didanai oleh ekuitas. Debt to Equity Ratio (DER) Debt to Equity Ratio (DER) membandingkan jumlah utang perusahaan dengan ekuitas pemegang saham untuk melihat struktur pendanaan perusahaan. Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio solvabilitas yang menunjukkan perbandingan antara total utang dan ekuitas perusahaan. Rasio ini dihitung dengan membagi total utang dengan total ekuitas. Nilai DER yang tinggi mencerminkan ketergantungan besar terhadap utang, sedangkan nilai rendah menunjukkan struktur pendanaan yang lebih stabil dengan dominasi ekuitas. Asset Turnover Ratio (ATR) Asset Turnover Ratio adalah rasio keuangan dalam kategori rasio aktivitas yang mengukur efisiensi perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan pendapatan. Rasio ini dihitung dengan membagi total pendapatan dengan rata-rata total aset. Nilai yang tinggi menunjukkan efektivitas dalam pemanfaatan aset, sedangkan nilai rendah dapat mengindikasikan aset yang kurang produktif. Environmental. Social, and Governance (ESG) Environmental. Social, and Governance (ESG) merupakan kerangka penilaian terhadap kinerja non-keuangan perusahaan yang mencerminkan tanggung jawab terhadap lingkungan, sosial, dan tata Dalam konteks bisnis modern, penerapan prinsip ESG menjadi indikator penting dalam menarik minat investor dan menjaga keberlangsungan perusahaan. Perusahaan yang menerapkan ESG secara konsisten dianggap memiliki tata kelola yang baik, transparansi tinggi, serta komitmen terhadap pengelolaan risiko secara berkelanjutan. Menurut Rahmawati & Hidayat . , perusahaan dengan inisiatif ESG cenderung menunjukkan struktur keuangan yang lebih stabil dan ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan eksternal seperti pandemi COVID-19. METODE PENELITIAN Metode pendekatan yang ditekankan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dan ditunjang oleh pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif merupakan metode penelitian yang didasarkan pada paradigma positivistik, dengan tujuan mengembangkan ilmu pengetahuan melalui pengumpulan dan analisis data numerik. Tujuan utamanya adalah menguji hipotesis dan memperoleh hasil yang dapat Metode pendekatan kualitatif berfokus pada pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial atau perilaku manusia melalui eksplorasi terhadap makna yang diberikan individu terhadap suatu kejadian atau konteks tertentu. Penelitian ini bersifat deskriptif dan menggali realitas subjektif dan konteks sosial yang membentuk pemahaman individu (Creswell, 2. Dalam praktiknya, pendekatan narasi kualitatif digunakan untuk membandingkan dan menyatakan tingkat fluktuasi dan dampak yang diterima perusahaan secara langsung maupun secara tidak langsung. Diketahui juga dalam pendekatan 308 | Cornelia Lisia Gunawan. Jakaria. Clarisya Ristaviasha. Hellen Fang Fang. Katherine Junitha. Theola Darius Wiguno. Tracy Rachel Maringka. Varlonia Neyrine . Analysis Of Basic Materials Sector Financial Performance During . kuantitatif memberikan landasan yang kuat bagi peneliti untuk menguji hubungan antar variabel secara objektif melalui teknik analisis statistik seperti t-paired test, regresi, korelasi, atau analisis varian. Dalam konteks keberlanjutan sektor basic materials, pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengukur dampak kebijakan, tingkat efisiensi energi, atau hubungan antara digitalisasi dan pengurangan emisi Tabel 1. Operasional Variabel Operasional Variabel Variabel Indikator Skala Rasio Rasio DAR Rasio DER Rasio ROA Rasio ROE Rasio ATR Rasio Sumber Data Sekunder Data sekunder adalah data penelitian yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara, yaitu data yang dikumpulkan oleh pihak lain sebelumnya, seperti dokumen, literatur, jurnal, laporan keuangan, dan data sensus pemerintah (Alir, 2. Sumber data sekunder bisa berupa publikasi resmi, media online, hingga situs web perusahaan. Untuk bahan observasi penelitian ini, kelompok kami menggunakan sumber data sekunder yang berdasarkan dari laporan keuangan perusahaan. (Sulung & Muspawi, 2. Teknik Analisis Data Uji normalitas adalah metode statistik yang digunakan untuk menentukan apakah suatu kumpulan data mengikuti distribusi normal. Distribusi normal sering menjadi asumsi dasar dalam berbagai analisis statistik parametrik, seperti uji-t dan analisis regresi, karena memungkinkan interpretasi yang lebih akurat terhadap hasil penelitian. Salah satu metode yang umum digunakan untuk uji normalitas adalah Kolmogorov-Smirnov, yang membandingkan distribusi kumulatif empiris dari data dengan distribusi normal teoritis. Berikut adalah decision rule yang digunakan untuk uji normalitas Kolmogorov-Smirnov: A H0: P value . ) > 0,05, maka H0 gagal ditolak (Data terdistribusi secara norma. A H1: P value . ) O 0,05, maka H0 ditolak (Data tidak terdistribusi secara norma. Lalu teknik analisis data berikutnya yang digunakan untuk menguji perbedaan data menggunakan. T-paired test dan Wilcoxon Signed Rank Test. T-paired test digunakan ketika data berdistribusi normal, berikut adalah decision rule yang digunakan: A H0: P value . ) > 0,05, maka H0 gagal ditolak (Data tidak ada perbedaan signifika. A H1: P value . ) O 0,05, maka H0 ditolak (Data terdapat perbedaan signifika. Wilcoxon Signed Rank Test digunakan ketika data berdistribusi tidak normal. Berikut adalah decision rule yang digunakan: A H0: P value . ) > 0,05, maka H0 gagal ditolak (Data tidak ada perbedaan signifika. A H1: P value . ) O 0,05, maka H0 ditolak (Data terdapat perbedaan signifika. Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 5 No. 2 ,May 2025 page: 305 - 316 | 309 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 Kerangka Berpikir Gambar 1. Kerangka Berpikir HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif Tabel 3. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Rasio Keuangan Minimum Maksimum Rasio Likuiditas CR Saat 0,70 CR Sesudah 0,11 13,61 QR Saat 0,23 5,92 QR Sesudah 11,34 Rasio Solvabilitas DAR Saat 0,13 DAR Sesudah 0,05 1,18 DER Saat 0,15 10,78 DER Sesudah -2,87 5,54 Rasio Profitabilitas ROA Saat -0,17 ROA Sesudah -0,23 0,12 ROE Saat -1,26 0,21 ROE Sesudah -0,47 0,57 Rasio Aktivitas ATR Saat 0,33 3,54 ATR Sesudah 0,01 3,86 Sumber data: olahan dari SPSS 2025 Mean Standar Deviasi 2,37 2,69 1,94 2,55 3,19 1,74 2,58 0,54 0,50 1,81 1,22 0,241 0,277 2,39 1,71 0,01 -0,01 -0,02 0,02 0,69 0,0834 0,30 0,19 1,09 0,92 0,75 0,812 Rasio Likuiditas Current Ratio (CR) menunjukkan tingkat likuiditas perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka Saat Pendemi COVID-19 memiliki mean 2,37 dan standar deviasi 2,55. Setelah pandemi nilai mean meningkat menjadi 2,69 dan standar deviasi 3,19. Peningkatan mean ini menunjukkan bahwa secara umum perusahaan memiliki kemampuan likuiditas yang lebih baik setelah pandemi. Namun, data yang ini bersifat heterogen karena standar deviasi yang tinggi. Quick ratio juga mengalami kondisi yang serupa dimana mean saat pandemi 1,60 dan standar deviasi 1,74. Setelah pandemi nilai mean 1,94 dan standar deviasi 2,58. Kenaikan mean ini menunjukkan peningkatan kemampuan perusahaan dalam 310 | Cornelia Lisia Gunawan. Jakaria. Clarisya Ristaviasha. Hellen Fang Fang. Katherine Junitha. Theola Darius Wiguno. Tracy Rachel Maringka. Varlonia Neyrine . Analysis Of Basic Materials Sector Financial Performance During . melunasi kewajiban jangka pendek tanpa mengandalkan persediaan. Namun, data ini juga bersifat Rasio Solvabilitas Debt to Asset Ratio (DAR) menggambarkan proporsi aset yang dibiayai oleh utang. Pada saat pandemi, nilai mean pada 0,54 dan standar deviasi 0,241. Sesudah pandemi, nilai mean 0,50 dan standar deviasi 0,277. Penurunan nilai mean ini mengindikasikan bahwa setelah pandemi, perusahaan memiliki upaya untuk memperbaiki struktur permodalan. Data ini bersifat homogen atau distribusi cukup Debt to Equity Ratio (DER) mengalami fluktuasi yang signifikan. Pada saat pandemi, nilai mean 1,81 dan standar deviasi 2,39. Setelah pandemi nilai mean 1,22 dan standar deviasi 1,71. Penurunan mean ini menunjukkan bahwa perusahaan mengurangi proporsi utang terhadap ekuitas setelah pandemi. Rasio Profitabilitas Return on Asset (ROA) menunjukkan efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba dari total Pada saat pandemi, nilai mean 0,01 dan standar deviasi 0,69. Setelah pandemi, nilai mean -0,01 dan standar deviasi 0,0834. Penurunan mean ini menandakan bahwa efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan aset menurun setelah pandemi. Data ini bersifat heterogen karena standar deviasi yang Return on Equity (ROE) juga menunjukkan distribusi data yang tidak merata. Pada pandemi, nilai mean -0,02 dan standar deviasi 0,30. Setelah pandemi, nilai mean adalah 0,02 dengan standar deviasi 0,19. Kenaikan mean ini menandakan adanya perbaikan dalam profitabilitas. Data ini bersifat homogen karena standar deviasi yang rendah. Rasio Aktivitas Asset Turnover Ratio (ATR) mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan aset untuk menghasilkan penjualan. Pada saat pandemi nilai mean 1. 09 dan standar deviasi 0,75. Setelah pandemi, nilai mean 0,92 dan standar deviasi 0,812. Penurunan nilai mean ini menunjukkan bahwa setelah pandemi,efektivitas perusahaan dalam mengelola aset untuk menghasilkan penjualan cenderung Data ini bersifat heterogen, karena standar deviasi yang tinggi. Uji Normalitas Dalam penelitian ini, dilakukan pengujian normalitas data untuk menentukan apakah data yang digunakan terdistribusi secara normal atau tidak secara statistika. Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Kolmogorov-Smirnov Test (Nasrum, 2. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Rasio Likuiditas Keterangan Kolmogorov-Smirnov Significance Level CR saat Pandemi COVID-19 0,32 0,05 CR Sesudah Pandemi COVID-19 0,46 0,05 Keputusan Data Tidak Normal Data Tidak Normal QR saat Pandemi COVID-19 0,111 0,05 Data Normal QR Sesudah Pandemi COVID-19 Sumber data: olahan dari SPSS 2025 0,74 0,05 Data Normal Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Rasio Solvabilitas Kolmogorov-Smirnov Significance Level Keterangan DAR saat Pandemi COVID-19 0,05 DAR Sesudah Pandemi COVID-19 DER saat Pandemi COVID-19 DER Sesudah Pandemi COVID-19 Sumber data: olahan dari SPSS 2025 0,981 0,06 0,33 0,05 0,05 0,05 Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Rasio Profitabilitas Keterangan Kolmogorov-Smirnov Significance Level ROA saat Pandemi COVID-19 0,041 0,05 ROA Sesudah Pandemi COVID-19 0,335 0,05 ROE saat Pandemi COVID-19 0,006 0,05 ROE Sesudah Pandemi COVID-19 0,17 0,05 Keputusan Data Normal Data Normal Data Normal Data Normal Keputusan Data Tidak Normal Data Tidak Normal Data Tidak Normal Data Tidak Normal Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 5 No. 2 ,May 2025 page: 305 - 316 | 311 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 Sumber data: olahan dari SPSS 2025 Tabel 7. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Rasio Aktivitas Keterangan Kolmogorov-Smirnov Significance Level Keputusan ATR saat Pandemi COVID-19 0,177 0,05 Data Normal ATR Sesudah Pandemi COVID- 19 0,201 0,05 Data Normal Sumber data: olahan dari SPSS 2025 Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa nilai signifikan dari pengujian Kolmogorov-Smirnov test (Asymp Sig. 2-taile. menunjukan distribusi yang tidak normal pada variabel CR. ROA, dan ROE. Sedangkan variabel yang berdistribusi normal ada pada variabel QR. DAR. DER, dan ATR. Maka pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan Uji T-Paired Test pada variabel distribusi normal dan Uji Kolmogorov-Smirnov test pada variabel distribusi tidak normal. Uji Wilcoxon Signed Rank Test Wilcoxon Signed Rank Test digunakan untuk mengetahui perbedaan nilai antara beberapa rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini saat dan sesudah pandemi COVID-19. Tabel 8. Hasil Uji Wilcoxon Signed Rank Test Hipotesis Variabel Asymp. Sig. Keterangan ROA Saat ROA Sesudah -0,665 0,506 Tidak ada perbedaan ROE Saat ROE Sesudah -0,443 0,658 Tidak ada perbedaan CR Saat CR Sesudah -0,859 0,39 Tidak ada perbedaan Sumber data: olahan dari SPSS 2025 Perbedaan ROA Saat Pandemi COVID-19 dan ROA Sesudah COVID-19 Berdasarkan tabel 5 di atas, pada variabel return on asset (ROA), diperoleh nilai Asymp. Sig . sebesar 0,506. Karena nilai tersebut lebih besar dari 0,05, dapat disimpulkan bahwa AuH_0 gagal ditolakAy, artinya tidak terdapat perbedaan signifikan dalam kinerja keuangan antara nilai return on asset (ROA) pada saat dan sesudah pandemi COVID-19. Hal ini dapat diartikan bahwa nilai return on asset (ROA) pada saat dan sesudah pandemi COVID19 tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandemi COVID19 tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap return on asset (ROA) perusahaan. Return on asset (ROA) saat pandemi COVID-19 memiliki nilai rata-rata . Sedangkan, sesudah pandemi COVID-19 nilai rata-rata . Hal ini menunjukkan adanya penurunan efisiensi atau profitabilitas. Namun, ini juga bisa diakibatkan oleh investasi besar dalam program ESG jangka panjang yang belum menghasilkan laba langsung. Perbedaan ROE Saat Pandemi COVID-19 dan ROE Sesudah COVID-19 Pada variabel return on equity (ROE), diperoleh nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,658. Karena nilai tersebut lebih besar dari 0,05, dapat disimpulkan bahwa AuH_0 gagal ditolakAy, artinya tidak terdapat perbedaan signifikan dalam kinerja keuangan antara nilai return on equity (ROE) saat dan sesudah pandemi COVID-19. Hal ini dapat diartikan bahwa nilai return on equity (ROE) pada saat dan sesudah pandemi COVID19 tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandemi COVID19 tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap return on equity (ROE) perusahaan. Return on equity (ROE) saat pandemi COVID-19 memiliki nilai rata-rata . sebesar -0,02. Sedangkan, sesudah pandemi COVID-19 nilai rata-rata . sebesar 0,02. Hal ini mencerminkan 312 | Cornelia Lisia Gunawan. Jakaria. Clarisya Ristaviasha. Hellen Fang Fang. Katherine Junitha. Theola Darius Wiguno. Tracy Rachel Maringka. Varlonia Neyrine . Analysis Of Basic Materials Sector Financial Performance During . efisiensi dan kinerja keuangan yang baik. Dalam konteks ESG, peningkatan ini dapat mengindikasikan efisiensi energi dan penggunaan sumber daya (Environmenta. , kemampuan perusahaan dalam mendistribusikan manfaat kepada para pemangku kepentingan seperti karyawan dan komunitas (Socia. , serta pengelolaan perusahaan yang efektif dan akuntabel (Governanc. Perbedaan CR Saat Pandemi Covid-19 dan CR Sesudah Covid 19 Selanjutnya, pada variabel current ratio (CR), diperoleh nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,39. Karena nilai tersebut lebih besar dari 0,05 dapat disimpulkan bahwa AuH_0 gagal ditolakAy, artinya tidak terdapat perbedaan signifikan dalam kinerja keuangan antara nilai current ratio (CR) saat dan sesudah pandemi COVID-19. Hal ini dapat diartikan bahwa nilai current ratio (CR) pada saat dan sesudah pandemi COVID-19 tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap Current Ratio (CR) perusahaan. Current ratio (CR) saat pandemi COVID-19 memiliki nilai rata-rata . sebesar 2,37. Sedangkan, sesudah pandemi Covid-19 nilai rata-rata . sebesar 2,70. Hal ini menunjukkan indikasi positif bahwa perusahaan berada dalam kondisi keuangan yang sehat dan memiliki cadangan kas yang Dalam kerangka ESG, kondisi ini memungkinkan perusahaan untuk lebih mudah mengalokasikan dana ke proyek lingkungan seperti efisiensi energi atau pengolahan limbah (Environmenta. , memberikan kompensasi dan fasilitas kerja yang layak kepada karyawan (Socia. , serta merespons krisis atau kondisi darurat secara transparan dan bertanggung jawab (Governanc. Uji T-Paired Test Uji T (Parsia. menguji pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap terikat secara individu Tabel 9. Hasil Uji Wilcoxon Signed Rank Test Hipotesis Variabel Sig. QR Saat QR Sesudah DAR Saat DAR Sesudah DER Saat DER Sesudah ATR Saat ATR Sesudah Sumber data: olahan dari SPSS 2025 Keterangan Tidak ada perbedaan Tidak ada perbedaan Tidak ada perbedaan Ada perbedaan Perbedaan QR Saat Pandemi COVID-19 dan QR Sesudah COVID-19 Berdasarkan tabel 5 di atas, pada variabel quick ratio (QR), diperoleh nilai Asymp. Sig . -taile. sebesar 0,485. Karena nilai tersebut lebih besar dari 0,05, dapat disimpulkan bahwa AuH_0 gagal ditolakAy, artinya tidak terdapat perbedaan signifikan dalam kinerja keuangan antara nilai quick ratio (QR) saat dan sesudah pandemi COVID-19 (Sihotang, 2. Hal ini dapat diartikan bahwa nilai quick ratio (QR) pada saat dan sesudah pandemi COVID-19 tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap quick ratio (QR) perusahaan. Quick ratio (QR) saat pandemi COVID-19 memiliki nilai rata-rata . sebesar 1,60. Sedangkan, sesudah pandemi COVID-19 nilai rata-rata ( mea. sebesar 1,94. Hal ini menunjukkan indikasi positif bahwa perusahaan berada dalam kondisi keuangan yang sehat dan memiliki cadangan kas yang Dalam konteks ESG, kondisi ini mencerminkan kemampuan perusahaan untuk secara lebih leluasa mengalokasikan dana ke berbagai proyek lingkungan seperti efisiensi energi dan pengolahan limbah (Environmenta. , memberikan kompensasi serta fasilitas kerja yang layak bagi karyawan (Socia. , dan menunjukkan kapasitas dalam merespons krisis atau keadaan darurat dengan cara yang transparan dan bertanggung jawab (Governanc. Perbedaan DAR Saat Pandemi COVID-19 dan DAR Sesudah COVID-19 Pada variabel debt to asset ratio (DAR), diperoleh nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,562. Karena nilai tersebut lebih besar dari 0,05, dapat disimpulkan bahwa AuH_0 gagal ditolakAy, artinya tidak terdapat perbedaan signifikan dalam kinerja keuangan antara nilai debt to asset ratio (DAR) saat dan sesudah pandemi COVID-19. Jurnal Fokus Manajemen. Vol. 5 No. 2 ,May 2025 page: 305 - 316 | 313 p-ISSN 2809-9931 e-ISSN 2809-9141 Hal ini dapat diartikan bahwa nilai debt to asset ratio (DAR) pada saat dan sesudah pandemi COVID-19 tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap debt to asset ratio (DAR) perusahaan. Debt to asset ratio (DAR) saat pandemi COVID-19 memiliki nilai rata-rata . sebesar 0,54. Sedangkan, sesudah pandemi COVID-19 nilai rata-rata . sebesar 0,51. Hal ini mengindikasikan struktur keuangan yang sehat dan risiko yang lebih rendah. Ini positif bagi ESG karena perusahaan memiliki lebih banyak ruang untuk mendanai inisiatif keberlanjutan dan menunjukkan governance yang Perbedaan DER Saat Pandemi COVID-19 dan DER Sesudah COVID-19 Pada variabel debt to equity ratio (DER), diperoleh nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,154. Karena nilai tersebut lebih besar dari 0,05, dapat disimpulkan bahwa AuH_0 gagal ditolakAy, artinya tidak terdapat perbedaan signifikan dalam kinerja keuangan antara nilai debt to equity ratio (DER) saat dan sesudah pandemi COVID-19. Hal ini dapat diartikan bahwa nilai debt to equity ratio (DER) pada saat dan sesudah pandemi COVID-19 tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap debt to equity ratio (DER) perusahaan. Rasio debt to equity ratio (DER) saat pandemi COVID-19 memiliki nilai rata-rata . sebesar 1,82. Sedangkan, sesudah pandemi COVID-19 nilai rata-rata ( mea. sebesar 1,22. Hal ini mengindikasikan struktur keuangan yang sehat dan risiko yang lebih rendah. Ini positif bagi ESG karena perusahaan memiliki kemandirian keuangan yang lebih kuat serta kapasitas yang lebih besar dalam mendanai prinsip ESG tanpa ketergantungan tinggi pada utang. Perbedaan ATR Saat Pandemi COVID-19 dan ATR Sesudah COVID-19 Selanjutnya, pada variabel asset turnover ratio (ATR), diperoleh nilai Asymp. Sig. -taile. sebesar 0,005. Karena nilai tersebut lebih kecil dari 0,05, dapat disimpulkan bahwa AuH_0 ditolakAy, artinya terdapat perbedaan signifikan dalam kinerja keuangan antara nilai asset turnover ratio (ATR) saat dan sesudah pandemi COVID-19. Hal ini dapat diartikan bahwa nilai asset turnover ratio (ATR) pada saat dan sesudah pandemi COVID-19 mengalami perubahan yang signifikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap asset turnover ratio (ATR) perusahaan. Rasio asset turnover ratio (ATR) saat pandemi Covid-19 memiliki nilai rata-rata . sebesar 1,09. Sedangkan, sesudah pandemi COVID-19 nilai rata-rata . sebesar 0,92. Hal ini menunjukkan pemborosan aset atau stagnasi penjualan, yang berpotensi bertentangan dengan prinsip keberlanjutan, terutama dalam hal efisiensi operasional dan tanggung jawab penggunaan sumber daya. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada rasio likuiditas yang diukur melalui Current Ratio (CR) dan Quick Ratio (QR) antara periode saat dan setelah pandemi COVID-19. Meskipun terdapat peningkatan nilai rata-rata pada kedua rasio tersebut, perubahan tersebut tidak cukup signifikan untuk menunjukkan perbedaan kondisi likuiditas yang mencolok, sehingga perusahaan dinilai tetap mampu menjaga kestabilan kas dan aset lancar. Untuk rasio profitabilitas, yang diukur melalui Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE), hasil analisis menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan antara saat dan setelah pandemi COVID-19. ROA mengalami perubahan dari 0. 01 menjadi -0. 01, yang mencerminkan penurunan efisiensi dalam pemanfaatan aset untuk menghasilkan laba. Sementara itu. ROE meningkat 02 menjadi 0. 02, yang dapat diinterpretasikan sebagai sinyal membaiknya kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari ekuitas pemegang saham. Meskipun arah perubahannya berbeda, secara keseluruhan tidak ditemukan bukti statistik yang menunjukkan perbedaan signifikan pada rasio profitabilitas. Pada rasio solvabilitas, yang diukur dengan Debt to Asset Ratio (DAR) dan Debt to Equity Ratio (DER), juga tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara saat dan setelah pandemi. Nilai DAR menurun dari 0. 54 menjadi 0. 51, sedangkan DER menurun dari 1. 82 menjadi 1. Penurunan kedua rasio ini mengindikasikan perbaikan struktur permodalan perusahaan, di mana proporsi utang terhadap aset maupun ekuitas menjadi lebih rendah. Hal ini mencerminkan kondisi keuangan yang lebih sehat dan risiko keuangan yang lebih terkendali, meskipun perubahan tersebut tidak cukup besar untuk dianggap signifikan secara statistik. 314 | Cornelia Lisia Gunawan. Jakaria. Clarisya Ristaviasha. Hellen Fang Fang. Katherine Junitha. Theola Darius Wiguno. Tracy Rachel Maringka. Varlonia Neyrine . Analysis Of Basic Materials Sector Financial Performance During . Berbeda dengan ketiga kelompok rasio sebelumnya, rasio aktivitas yang diukur menggunakan Asset Turnover Ratio (ATR) menunjukkan perbedaan yang signifikan antara saat dan setelah pandemi. Penurunan ATR dari 1. 09 menjadi 0. 92 mengindikasikan penurunan efisiensi dalam pemanfaatan aset untuk menghasilkan penjualan, yang bisa disebabkan oleh stagnasi penjualan atau kurang optimalnya penggunaan aset pascapandemi. Berdasarkan pendekatan narasi kualitatif, rasio-rasio keuangan seperti CR. QR. DAR. DER. ROA. ROE, dan ATR dapat memberikan gambaran awal mengenai kesiapan dan potensi perusahaan dalam menjalankan prinsip ESG. Rasio likuiditas yang tinggi menunjukkan kestabilan operasional dan kemampuan pendanaan terhadap program keberlanjutan, sementara rasio leverage yang tinggi perlu dicermati lebih lanjut apakah mencerminkan tekanan keuangan atau pembiayaan proyek ESG. Rasio profitabilitas seperti ROA dan ROE dapat menjadi sinyal efisiensi dan potensi perusahaan dalam menyeimbangkan profit dengan keberlanjutan, sementara ATR menggambarkan optimalisasi sumber daya dan praktik operasional yang sesuai dengan nilai lingkungan. Secara umum, interpretasi terhadap rasio-rasio ini tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus dibarengi dengan data kualitatif seperti laporan keberlanjutan, strategi bisnis, dan kebijakan tata kelola. Dengan pendekatan ini, analisis keuangan tidak hanya menggambarkan performa ekonomi, tetapi juga bisa menjadi cerminan dari arah dan komitmen keberlanjutan perusahaan. Saran Adapun sejumlah rekomendasi disampaikan guna mendukung perbaikan dan pengembangan ke Perusahaan di sektor basic materials disarankan untuk meningkatkan efisiensi operasional, khususnya dalam pemanfaatan aset dan menjaga likuiditas dan solvabilitas tetap stabil, guna mengatasi penurunan rasio aktivitas (ATR) dan mendukung penerapan prinsip ESG secara menyeluruh tanpa membebani struktur keuangan. Penting bagi pemegang saham dan investor untuk memperhatikan rasio-rasio keuangan sebagai indikasi awal keberlanjutan jangka panjang dan mendukung perusahaan yang menunjukkan tren keuangan positif serta komitmen ESG yang terukur Bagi regulator dan pembuat kebijakan dapat mempertimbangkan penyusunan pedoman atau insentif berbasis kinerja keuangan dan ESG bagi sektor basic materials, guna mendorong integrasi aspek keberlanjutan ke dalam pengambilan keputusan bisnis. Untuk peneliti selanjutnya disarankan menggabungkan analisis keuangan dengan data nonkeuangan seperti skor ESG dan laporan keberlanjutan agar hasil penelitian lebih komprehensif dan DAFTAR PUSTAKA