JVK JURNAL VOKASI KESEHATAN http://ejournal. poltekkes-pontianak. id/index. php/JVK HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PENDIDIKAN PERAWAT DENGAN KEPATUHAN PERAWAT DI UNIT RAWAT INAP RSUD BLAMBANGAN Ica Imelida. Guntur A. Gama Muhammad. Diansanto Prayoga . Public Health Undergraduate Study Program. School of Health and Life Sciences. Universitas Airlangga. Banyuwangi. Indonesia School of health and life sciences. Universitas Airlangga. Indonesia Center of Excellence for Patient Safety and Qyality. Universitas Airlangga. Indonesia Doctoral Student of the Public Health Doctoral Study Progran. Faculty of Public Health. Universitas Airlangga. Indonesia Info Artikel Abstrak Sejarah Artikel: Diterima date Disetujui dste Di Publikasi date Rumah Sakit diupayakan memberi pelayanan kesehatan yang dijamin keamanannya, bermutu, tidak ada diskriminatif, dan efektif mengutamakan keselamatan pasien yang sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit. Salah satu kesalahan yang sering terjadi di rumah sakit adalah permasalahan patient safety, dimana permasalahan tersebut juga menjadi permasalahan yang terjadi di RSUD Blambangan yaitu pasien resiko jatuh. Faktor Predisposisi (Predisposin. yang mempengaruhi kepatuhan perawat dalam pencegahan pasien resiko jatuh adalah pendidikan dan pengetahuan perawat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi hubungan antara faktor Predisposisi (Predisposin. yaitu pendidikan dan pengetahuan dengan kepatuhan perawat dalam pencegahan pasien risiko jatuh. di RSUD Blambangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan pendekatan crosectional. Penelitian dilakukan pada rang rawat inap RSUD Blambanagan dengan sempel sebanyak 103 perawat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahawa hasil uji chi-square untuk variabel pendidikan didapatkan hasil P-value sebesar 0,768 dan variabel pengetahuan didapatkan hasil P-value sebesar 0,214. Maka dapat di simpulkan bahwa Tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dan pengetahuan perawat dengan kepatuhan perawat dalam pencegahan pasien risiko jatuh. Keywords: Fall Risk. Education And Knowledge. Nurse Compliance, patient safety CORRELATION BETWEEN NURSE KNOWLEDGE AND EDUCATION WITH NURSE COMPLIANCE IN THE INPATIENT UNIT OF BLAMBANGAN HOSPITAL Abstract Hospitals strive to provide health services that are guaranteed to be safe, of high quality, non-discriminatory and effective in prioritizing patient safety in accordance with hospital service standards. One of the mistakes that often occurs in hospitals is patient safety problems, where this problem is also a problem that occurs at Blambangan Regional Hospital, namely patients are at risk of falling. Predisposing factors that influence nurses' compliance in preventing patients at risk of falling are nurses' education and knowledge. The aim of this research is to identify the relationship between predisposing factors, namely education and knowledge, and nurse compliance in preventing patients at risk of falling at the Blambangan Regional Hospital. The method used in this research is quantitative using a cross-sectional approach. The research was conducted in the inpatient ward of Blambanagan District Hospital with a sample of 103 nurses. The results of this research show that the results of the chi-square test for the education variable obtained a P-value of 0. 768 and for the knowledge variable the P-value obtained a P-value of 0. So it can be concluded that there is no significant relationship between nurse education and knowledge and nurse compliance in preventing patients at risk of falling. A 2017 Poltekkes Kemenkes Pontianak nC Alamat korespondensi: Poltekkes Kemenkes Pontianak. Pontianak - West Kalimantan. Indonesia Email: arypwt@yahoo. Pendahuluan Rumah Sakit adalah sebuah institusi yang memberikan pelayanan kesehatan dan menyediakan layanan perawatan kesehatan perorangan komperhensif termasuk layanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Seiring bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, hal tersebut menjadi perhatian dalam perkembangan berbagai jenis rumah sakit yang berlomba-lomba memberikan standar pelayanan kesehatan yang Dari jenis pelayanannya, rumah sakit dibedakan menjadi dua jenis, yaitu rumah sakit umum dan rumah sakit khusus, di mana rumah sakit khusus merupakan fasilitas kesehatan yang memberikan layanan kesehatan utama pada suatu bidang atau jenis penyakit, yang meliputi Rumah sakit ibu dan anak (Oktavia. N, et al, 2. Pelayanan kesehatan paripurna meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatife (UndangUndang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, 2. Setiap harinya rumah sakit beroperasi selama 24 jam, rumah sakit memiliki banyak departemen terpisah tergantung pada perawatan pasien yang membutuhkan perawatan darurat, nondarurat, dan rawat inap. Mayoritas layanan kesehatan yang ada di rumah sakit diberikan oleh staf medis rumah sakit yaitu perawat, dimana jumlah perawat kurang lebih 60% dari tenaga medis yang ada di rumah sakit. Perawat rumah sakit bekerja di bagian rawat jalan, rumah sakit atau klinik umum, dan bagian gawat Rumah sakit melakukan batasan pelayanan yang diberikan ke pasien, khususnya pelayanan gawat darurat, non-darurat, dan rawat inap (Ananta. Pelayanan keperawatan adalah bagian yang selalu melekat dari pelayanan yang ada di rumah sakit, sehingga kualitas pelayanan keperawatan akan berpengaruh langsung dalam pelayanan di rumah sakit. Jika mutu pelayanan yang diberikan ISSN 2442-5478 kepada klien di bawah standar, maka akan berpengaruh terhadap citra rumah sakit. Perawat mempunyai pengaruh yang besar terhadap kejadian yang menimpa pasien. Karena perawat merupakan tenaga medis yang langsung berinteraksi dengan pasien dalam memberikan pelayanan selama 24/7, maka perawat rumah sakit harus menunjukkan profesionalisme, kesetaraan, dan kemitraan dengan profesi lain (Murtaqib, 2. Terdapat permasalahan di rumah sakit yang berhubungan dengan keselamatan pasien. Pasien resiko jatuh merupakan salah satu permasalahan yang kemungkinan besar terjadi. Indonesia, tercatat besarnya kejadian pasien jatuh merupakan permasalah tiga besar kejadian medis di rumah sakit setelah medicine error berdasarkan laporan PERSI ke-12 tahun 2012. Dari laporan tersebut menunjukkan terdapat 34 kasus atau 14% dari jumlah pasien jatung di rumah sakit seluruh Indonesia (PERSI, 2. Menyadari banyaknya pasien jatuh serta dampak yang ditimbulkannya. Joint Commission International (JCI) dan Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) telah menjadikan pencegahan risiko pasien jatuh sebagai tujuan dalam keselamatan pasien dan menjadi syarat dalam penilaian akreditasi (Nur, 2. Kompetensi merupakan kompetensi inti dalam kontinum melindungi pasien dari risiko dan bahaya yang tidak perlu (Huh A, 2. Kompetensi tingkat tinggi mendorong pencapaian dan kepatuhan terhadap tujuan keselamatan pasien. Beberapa penelitian menemukan bahwa budaya keselamatan pasien dan Kompetensi keselamatan perawat dipengaruhi oleh banyak faktor. Misalnya peraturan dan iklim tempat kerja, keperawatan kelelahan, kepuasan, stres, demografi, jenis kesehatan jenis institusi, kerja tim dan kesempatan belajar, spesialisasi, tingkat keterlibatan di samping tempat tidur, dan deskripsi pekerjaan adalah semua faktor yang mempengaruhi budaya keselamatan (Zaitoun. R, 2. Perawat yang kompeten merupakan kontributor utama dalam mempertahankan layanan kesehatan yang aman dan efektif melalui integrasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan mereka beradaptasi terhadap lingkungan kesehatan yang dinamis. Kepatuhan diartikan sebagai kesediaan seseorang untuk mengakomodasi tuntutan orang yang sah figur otoritas bahkan sampai bertentangan dengan nilai dan norma mereka sendiri. Jadi, kepatuhan adalah kasus khusus yang pada gilirannya mencakup semua jenis respons positif terhadap respons individu lain permintaan. Oleh karena itu, unsur psikologis khas dari kepatuhan adalah . figur otoritas yang sah, . tuntutan yang dianggap tidak bermoral, . pengalaman konflik dalam menanggapi tuntutan tersebut, dan . hal tersebut resolusi konflik tersebut sesuai dengan otoritas (Gotz. J, 2. Kepatuhan adalah pemahaman dan fungsi total faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi, dan lain-lain, yang berfungsi memproses rangsangan dari luar. Kepatuhan perawat merupakan kepatuhan perawat terhadap suatu tingkah laku, prosedur, atau peraturan yang harus dipatuhi dan terapkan (Komala, 2. Pendidikan dan pengetahuan merupakan faktor Predisposisi (Predisposin. pencegahan pasien risiko jatuh. Pendidikan adalah suatu proses formal pembentukan dan pengembangan intelektual seseorang, meliputi aktivitas intelektual, spiritual, moral, kreatif, emosional, dan fisik. Dalam hal ini tingkat pendidikan akan menjadi faktor yang mempengaruhi perubahan tingkah laku seseorang karena hal ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi individu tersebut (Restu. Pada dasarnya pendidikan keperawatan merupakan landasan yang memegang peranan penting dalam pengembangan dan pembentukan Pendidikan keperawatan dapat memberikan bentuk dan gaya tenaga yang berkualitas serta dapat memfasilitasi terbentuknya komunitas keperawatan yang mempunyai suara dan berkontribusi terhadap profesi dan masyarakat (Gede Juanamasta, 2. Perawat harus memilih teknik pendidikan kesehatan yang sesuai dan tepat untuk pasien atau keluarga agar memperoleh informasi yang akurat. Namun dalam pekerjaan keperawatan, perawat tidak hanya mendapat pendidikan secara formal, tetapi juga harus dilatih dan dimotivasi agar dapat bertindak lebih baik. Perawat profesional yang bertanggung jawab dalam pemberian pelayanan medis tidak terlepas dari pengetahuan. Pengetahuan (Knowledg. adalah hasil pengetahuan manusia. Pengetahuan hanya mamapu menjawab pertanyaan tentang apa itu sesuatu. Sedangkan ilmu . dapat menjelaskan mengapa serta bagaimana sesuatu terjadi (Admin, 2. Perawat yang kompeten mempertahankan layanan kesehatan yang aman dan efektif melalui integrasi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan mereka beradaptasi terhadap lingkungan kesehatan yang dinamis. Pengetahuan perawat merupakan pemahamannya dalam mencegah pasien berisiko terjatuh di ruang rawat inap RSUD Blambangan berdasarkan SPO yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk Predisposisi (Predisposin. yaitu pendidikan dan pengetahuan dengan kepatuhan perawat dalam pencegahan pasien resiko jatuh. di RSUD Blambangan. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan pendidikan perawat dengan kepatuhan perawat. Tempat penelitian di RSUD Blambangan yang beralamat di Jalan Letkol Istiqlah No. Singonegaran. Kecamatan Banyuwangi. Kabupaten Banyuwangi. Jawa Timur 68415 pada bagian ruang rawat inap. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2022-April 2023. Penelitian ini sudah mendapatkan 161/HRECC. FODM/II/2023. Berdasarkan teknik pengambilan data, didapatkan sampel sebanyak 103 perawat dari 116 perawat menggunakan rumus Lemeshow. Kriteria inklusi: responden merupakan perawat yang bekerja di bagian rawat inap dengan jenjang pendidikan dari diploma hingga profesi. Kriteria eksklusi: responden tidak bersedia mengikuti Pengumpulan data menggunakan metode kuesioner untuk pengambilan data dan pengumpulan data sekunder berupa laporan triwulan keselamatan pasien milik rumah sakit dari tahun 2020 hingga 2022. Kuesioner meliputi karakteristik responden dan kepatuhan perawat dalam penerapan pencegahan pasien risiko jatuh di rawat inap RSUD Blambangan. Uji validitas dilakukan dengan menyebar kuesioner uji coba kepada 30 responden. Hasil uji validitas sebanyak 16 item pernyataan pengetahuan mengenai faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam penerapan pencegahan pasien risiko jatuh dirawat inap RSUD Blambangan diperoleh nilai r > 0,361, sehingga 16 item pernyataan tersebut dinyatakan valid. Pendahuluan Tabel 1. Distribusi Kepatuhan Perawat Di Rawat Inap RSUD Blambangan Tahun 2023 Kepatuhan Perawat Patuh Tidak Patuh Total Sumber: Data Primer Distribusi 89,3% 10,7% Hasil penelitian menunjukkan distribusi kepatuhan perawat yang patuh pada SPO pasien resiko jatuh sebesar 89,3% atau lebih dari setengah dari jumlah keseluruhan responden. Sedangkan perawat yang tidak patuh pada SPO pasien resiko jatuh sebesar 10,7%. Tabel 2. Distribusi Dan Persentase Pendidikan Perawat Di Rawat Inap RSUD Blambangan Tahun Faktor Kelompok Distribusi Predisposisi Diploma i Diploma IV Sarjana (S. Pendidikan Ners (S1 Profes. Total Sumber: Data Primer Hasil penelitian menunjukkan distribusi perawat dengan pendidikan diploma i (D. sebanyak 46,6% responden, perawat dengan pendidikan Diploma IV (D. sebanyak 1% responden, perawat dengan pendidikan Sarjana (S. sebanyak 12,6%, dan perawat dengan pendidikan Ners (S1 Profes. sebanyak 39,8%. Tabel 3. Distribusi Dan Persentase Pengetahuan Perawat Di Rawat Inap RSUD Blambangan Tahun Faktor Predisposisi Pengetahuan Perawat Kelompok Baik Cukup Total Distribusi Sumber: Data Primer Hasil penelitian menunjukkan distribusi pengetahuan perawat yang memiliki pengetahuan baik terkait SPO pasien risiko jatuh sebanyak 50,5% dan perawat yang memiliki pengetahuan cukup terkait SPO pasien risiko jatuh sebanyak 49,5%. Tabel 4. Distribusi Hubungan Antara Pendidikan Perawat Dengan Kepatuhan Perawat Di Rawat Inap RSUD Blambangan Tahun 2023 Kepatuhan Perawat Total Faktor Patuh Tidak Predisposisi Value Patuh n % n % n % D3 44 92 4 8 48 100 D4 1 100 0 0 1 100 Pendidi S1 11 85 2 5 13 100 0,768 Ners 36 88 5 12 41 100 Total 92 89,5 11 10,5 103 100 Sumber: Data Primer Hasil bahwasanya perawat di unit rawat inap RSUD Blambangan dengan pendidikan D3 cenderung Sedangkan perawat dengan pendidikan Ners cenderung tidak patuh. Hasil uji hubungan menggunakan uji chi-square diperoleh bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan kepatuhan perawat dalam penerapan pencegahan pasien resiko jatuh rawat inap RSUD Blambangan meskipun tidak signifikan Tabel 5. Distribusi Hubungan Antara Pendidikan Perawat Dengan Kepatuhan Perawat Di Rawat Inap RSUD Blambangan Tahun 2023 Kepatuhan Perawat Total Faktor Tidak Predisposisi Patuh Value Patuh n % n % n % 48 94 3 6 51 100 Pengeta Baik huan Cukup 44 85 8 15 52 100 0,214 Perawat Total 92 89,5 11 10,5 103 100 Sumber: Data Primer Hasil bahwasanya di rawat inap RSUD Blambangan, perawat dengan pengetahuan yang baik cenderung Sedangkan perawat yang berpengetahuan cukup cenderung tidak patuh. Hasil uji hubungan menggunakan uji chi-square didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan perawat dengan kepatuhan perawat dalam implementasi pencegahan pasien resiko jatuh rawat inap RSUD Blambangan meskipun tidak signifika Hasil dan Pembahasan Faktor Predisposisi (Pendidika. Kepatuhan Perawat Dalam Penerapan Pencegahan Pasien Resiko Jatuh Di Rawat Inap RSUD Blambangan Mayoritas perawat yang bertugas di rawat inap RSUD Blambangan memiliki tingkat pendidikan D3. Hal tersebut dikarenakan RSUD Blambangan bekerja sama dengan beberapa instansi yang menaungi pendidikan perawat sebagai tempat magang atau masa pendidikan di rumah sakit, jadi RSUD Blambanagn dapat mengetahui kinerja lulusan perawat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kumaladewi, kerjasama dengan instansi terkait perekrutan perawat cukup efektif pada kinerja perawat (Kumaladewi, 2. Selain itu, banyak perawat yang meniti karir untuk menjadi profesi, namun mereka memilih untuk mendapatkan pengalaman kerja terlebih dahulu (Profil RSUD Blambangan, 2. Minimal pendidikan yang diterima sebagai syarat pendidikan masih bisa dimanfaatkan sehingga lulusan D3 keperawatan di RSUD Blambangan masih banyak (Permenkes No 40 Tahun 2. Dalam penelitian yang dilakukan Wiji Lestari . menjelaskan bahwa pendidikan dibutuhkan untuk memperoleh informasi, misalnya mengenai masalah kesehatan, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Pendidikan dapat mempengaruhi perilaku, gaya hidup dan sikap seseorang. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin mudah masyarakat dalam menyerap informasi. Maka perawat yang berpendidikan S1 memiliki waktu tempuh dalam memperoleh pembelajaran dengan konsep teori serta praktik lebih mendalam mengenai asuhan keperawatan dan memahami pentingnya pendokumentasian. sedangkan perawat dengan pendidikan D3 memiliki waktu perkuliahan dan praktik yang relative lebih singkat. Karena pendidikan D3 dipersiapkan untuk praktik kerja di Faktor Predisposisi (Predisposin. Kepatuhan Perawat Dalam Penerapan Pencegahan Pasien Resiko Jatuh Di Rawat Inap RSUD Blambangan Pada variabel pengetahuan diketahui bahwa sebagian besar perawat residen RSUD Blambangan mempunyai pengetahuan yang baik. Menurut penelitian yang dilakukan Suryani, perawat dengan pengetahuan yang baik berdampak pada kualitas keselamatan pasien (Suryani, 2. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki perawat tentang keselamatan pasien, semakin baik mereka memahami praktik keselamatan pasien (Damayanti, 2. Hal ini disebabkan oleh keseimbangan pemahaman teori dan praktik berbasis keterampilan. Selama masa pelatihan, perawat memperoleh 40% materi teori dan 60% penerapan materi dalam bentuk praktik (Pedoman Kurikulum Di Keperawatan STIKES Kusuma Husada, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti et al . menggambarkan bahwa tingkat pengetahuan perawat tentang risiko jatuh hampir Meskipun kurangnya pemahaman perawat tentang risiko jatuh dapat mempengaruhi perilaku mereka saat menerapkan intervensi. Perawat dengan pengetahuan rendah tidak percaya bahwa diperlukan lebih banyak informasi untuk memperhitungkan risiko jatuh. Hal ini dikarenakan perawat hanya menilai risiko jatuh pasien berdasarkan usia, keterbatasan mobilitas, dan penempatan cairan/IV atau kateter (Wijayanti, et al. Dalam penelitian yang dilakukan Youlanda sari . Pengetahuan perawat di RSU Setia Budi dalam melaksanakan standar operasional prosedur pencegahan jatuh kurang baik yaitu sebesar 59,9%. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan yang cenderung masih banyak yang berpendidikan vokasi. Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Sri Gunarni . menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan yang dimiliki perawat dengan pelaksanaan prosedur medik pasien jatuh di RSUD Dusila Jawa Barat . ,237 > 0,. Menurut teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo . , aspek pengetahuan sangat penting dalam membentuk perilaku, sikap berpikir dan mempengaruhi hal-hal dalam perubahan. Jadi, mempunyai pengetahuan yang cukup akan menimbulkan perilaku yang sesuai dengan standar operasional prosedur. Hubungan Faktor Predisposisi (Predisposin. Kepatuhan Perawat Dalam Penerapan Pencegahan Pasien Resiko Jatuh Di Rawat Inap RSUD Blambangan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pendidikan perawat dengan kepatuhan perawat di ruang rawat inap RSUD Blambangan, tidak menunjukka hubungan yang signifikan dalam penerapan pencegahan pasien resiko jatuh. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Restu yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan perawat (Restu, 2. Berdasarkan hasil penelitian, tingkat pendidikan perawat tidak berpengaruh terhadap kepatuhan perawat dalam memberikan pelayanan sesui SOP pada pasien risiko jatuh di rumah sakit. Hal ini dapat dibuktikan oleh pagala yang mengatakan bahwasanya tingkat pendidikan yang tinggi tidak memberikan pelayanan sesuai SOP keselamatan pasien (Pagala, 2. Selanjutnya, berdasarkan hasil uji hubungan pengetahuan perawat dengan kepatuhan perawat diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara pengetahuan perawat dan kepatuhan perawat dalam penerapan pencegahan pasien risiko di rawat inap RSUD Blambangan. Hal ini sesuai hasil penelitian yang dilakukan oleh Haerianti . yang menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan perawat dengan kepatuhan perawat (Haerianti. Pengetahuan perawat terhadap SOP pasien resiko jatuh dalam kategori cukup baik. Hal ini sama dengan penelitian Azizah yang menunjukkan bahwa perawat telah mempunyai pengetahuan yang cukup tinggi mengenai tujuan patient safety (Azizah, 2. Perawat dengan pengetahuan yang kurang cenderung untuk tidak patuh meskipun hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan perawat dan kepatuhan. Penutup Berdasarkan hasil uji hubungan pendidikan dan pengetahuan dengan kepatuhan perawat dalam pencegahan pasien resiko jatuh, diperoleh bahwa variabel pendidikan dengan kepatuhan perawat dalam penerapan pencegahan pasien resiko jatuh yaitu . -value = 0,. dan pada variablel pengetahuan dengan kepatuhan perawat dalam penerapan pencegahan pasien resiko jatuh yaitu . value = 0,. Didapatkan bahwasanya tidak ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dan pengetahuan perawat dengan kepatuhan perawat dalam pencegahan pasien risiko jatuh. Ucapan Terima Kaih Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Guntur A. Gama Muhammad. Diansanto Prayoga Jessika Pramudya Wardani. Lina Setiawati dan responden penelitian yang telah mendukung dan mensupport penelitian ini. Daftar Pustaka