Jurnal Sangkala Vol . No . untag-banyuwangi. id/index. php/jurnalsangkala/ e-ISSN : 3032-7741 MENGUATKAN NILAI-NILAI PANCASILA PADA GENERASI MUDA SEBAGAI UPAYA UNTUK MENANGKAL RADIKALISME DAN DEPANCASILAISASI I Wayan Pardi Universitas Pendidikan Ganesha Email : wayan. pardi@undiksha. ABSTRAK Tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisis urgensi penguatan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda sebagai upaya untuk menangkal radikalisasi ideologi dan depancasilaisasi di Indonesia. Fenomena ini menjadi semakin relevan dengan meningkatnya simpati terhadap ideologi radikal di kalangan pelajar dan mahasiswa, serta munculnya gejala depancasilaisasi yang berpotensi melemahkan eksistensi Pancasila sebagai dasar negara. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggali solusi praktis yang dapat diterapkan dalam memperkuat ideologi Pancasila di kalangan generasi muda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif, yang mengacu pada data-data empiris dari berbagai sumber jurnal dan buku akademik yang relevan. Penelitian ini juga menggunakan studi kasus untuk menggambarkan dampak radikalisasi dan depancasilaisasi, serta langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengatasi masalah ini melalui pendidikan, media sosial, dan penguatan nilai Pancasila dalam kehidupan sosial Data yang diperoleh dianalisis untuk memberikan gambaran mengenai kondisi ideologis generasi muda serta upaya yang dapat dilakukan untuk membalikkan tren negatif Hasil dan pembahasan penelitian menunjukkan bahwa penguatan nilai-nilai Pancasila sangat penting untuk mencegah penyebaran ideologi radikal di kalangan generasi Radikalisasi dan depancasilaisasi dapat dicegah melalui pendekatan pendidikan yang lebih kontekstual dan humanis, serta melalui peran aktif media sosial dalam mengedukasi masyarakat tentang nilai-nilai kebangsaan. Selain itu, penting untuk melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga dan komunitas digital, dalam memperkuat Pancasila sebagai living ideologi yang relevan dengan tantangan zaman. Melalui upaya ini. Pancasila dapat menjadi fondasi moral yang menyatukan keragaman Indonesia dan menjaga keutuhan Kata Kunci: Pancasila, radikalisasi, depancasilaisasi, generasi muda, pendidikan, media sosial. PENDAHULUAN Dalam era globalisasi dan arus informasi yang begitu cepat saat ini, tantangan ideologis yang dihadapi bangsa Indonesia semakin kompleks. Salah satu tantangan paling serius adalah menguatnya gerakan radikalisme yang merongrong eksistensi Pancasila sebagai dasar negara. Radikalisme kerap menyasar generasi muda sebagai target utama penyebaran ideologinya karena kelompok usia ini tengah berada dalam fase pencarian jati diri dan sangat rentan terhadap pengaruh luar. Seperti dijelaskan oleh Alvara Research Center . , sekitar 23,4% mahasiswa dan 17,8% pelajar SMA di Indonesia menyatakan bersimpati terhadap ideologi radikal yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Fenomena ini menjadi indikasi serius adanya krisis pemahaman terhadap Pancasila di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, upaya penguatan nilai-nilai JURNAL SANGKALA Ae PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 BANYUWANGI Jurnal Sangkala Vol . No . untag-banyuwangi. id/index. php/jurnalsangkala/ e-ISSN : 3032-7741 Pancasila di kalangan generasi muda sangat mendesak, guna menjaga kesatuan dan kedamaian bangsa di tengah ancaman radikalisasi ideologi yang berkembang pesat. Kondisi ini diperburuk oleh gejala depancasilaisasi, yaitu upaya sistematis untuk mengganti ideologi Pancasila dengan paham-paham transnasional yang tidak sejalan dengan semangat kebangsaan. Azyumardi Azra . menyatakan bahwa depancasilaisasi terjadi karena melemahnya pendidikan ideologi kebangsaan dan dominasi wacana agama yang tidak kontekstual dalam kehidupan bernegara. Dalam hal ini, sekolah dan institusi pendidikan belum sepenuhnya mampu menjadi benteng ideologis, karena lemahnya internalisasi nilai Pancasila dalam kurikulum dan praktik Sebagaimana diungkap oleh Muttaqin . , ruang bagi penetrasi paham radikal semakin terbuka ketika nilai Pancasila tidak dijelaskan secara relevan dan Hal ini menyebabkan identitas kebangsaan generasi muda semakin terdistorsi oleh narasi intoleransi yang dibungkus atas nama moralitas atau kesalehan, serta memperburuk ancaman terhadap keutuhan negara. Untuk mengatasi krisis ideologis ini, penguatan nilai-nilai Pancasila harus dilakukan melalui pendekatan yang kontekstual dan humanis, agar relevan dengan kehidupan sehari-hari generasi muda. Kaelan . menggarisbawahi pentingnya revitalisasi Pancasila melalui pengajaran yang tidak dogmatis, melainkan lebih menekankan pada keterlibatan aktif siswa dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut. Proses ini juga harus melibatkan peran serta media sosial sebagai saluran utama penyebaran ideologi di kalangan remaja (BNPT, 2. Penguatan nilai Pancasila harus dilakukan secara partisipatif dan dialogis agar meresap dalam pikiran dan perilaku anak muda, serta menanamkan rasa tanggung jawab sosial terhadap keberagaman bangsa. Dalam konteks ini. Pancasila dapat menjadi penuntun moral dalam masyarakat multikultural dan kosmopolitan yang terus berkembang, sebagaimana dijelaskan oleh Magnis-Suseno . , yang menekankan pentingnya menjadikan Pancasila sebagai etika bersama yang dapat menjembatani perbedaan tanpa meniadakan keberagaman. METODE Dalam penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis deskriptif, yang bertujuan untuk memahami fenomena ideologis di kalangan generasi muda terkait dengan radikalisasi dan depancasilaisasi. Pendekatan ini berfokus pada pemahaman mendalam mengenai kondisi sosial dan budaya yang memengaruhi pandangan ideologis individu atau kelompok, dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi dari berbagai sumber yang relevan. Creswell . mengungkapkan bahwa pendekatan kualitatif bertujuan untuk memahami "individu atau kelompok melalui wawancara mendalam dan analisis teks, guna mendapatkan gambaran holistik dari fenomena yang sedang diteliti" (Creswell, 2018, p. Penelitian ini mengacu pada metode tersebut untuk menggali lebih dalam tentang pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai Pancasila dan dampak radikalisasi ideologi yang terjadi di Indonesia. Penelitian ini juga melibatkan analisis berbagai sumber data sekunder seperti buku, artikel jurnal, laporan lembaga terkait, dan publikasi lainnya yang mendalami isu-isu radikalisasi dan penguatan ideologi Pancasila. Moleong . menjelaskan bahwa "penelitian kualitatif bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang fenomena sosial, dengan menekankan pada analisis kontekstual dan perspektif individu" (Moleong, 2017, p. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk melihat pola-pola yang ada dalam sikap generasi muda terhadap Pancasila, serta untuk mengeksplorasi JURNAL SANGKALA Ae PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 BANYUWANGI Jurnal Sangkala Vol . No . untag-banyuwangi. id/index. php/jurnalsangkala/ e-ISSN : 3032-7741 faktor-faktor yang memengaruhi kecenderungan mereka terhadap ideologi radikal. Denzin dan Lincoln . menambahkan bahwa "penelitian kualitatif mengedepankan pemahaman yang mendalam dan holistik dari fenomena sosial, dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk memberi gambaran yang lebih kompleks" (Denzin & Lincoln, 2011, p. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap dimensi dari masalah yang diteliti dapat dipahami secara menyeluruh. HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Penyebab Melemahnya Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila Di Kalangan Generasi Muda Indonesia Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi digital, generasi muda Indonesia menghadapi tantangan serius dalam memahami dan menginternalisasi nilainilai Pancasila. Banyak dari mereka lebih terhubung dengan narasi global yang bersifat liberal atau bahkan ekstrem, sementara narasi kebangsaan terasa usang dan tidak Setiawan dan Ridwan . mencatat bahwa kurang dari 30% mahasiswa mampu menjelaskan hubungan antara sila Pancasila dengan praktik kehidupan seharihari, yang menunjukkan adanya jurang pemahaman antara teori dan praktik. Kaelan . juga mengkritisi metode pengajaran yang terlalu normatif dan tidak membumi, sehingga siswa tidak merasa memiliki keterlibatan emosional terhadap nilai-nilai Sementara itu. Azra . menunjukkan bahwa pengaruh ideologi transnasional, terutama melalui pemahaman agama yang tekstual dan eksklusif, memperlemah posisi Pancasila dalam kesadaran generasi muda. Minimnya internalisasi nilai Pancasila juga berakar dari ketidakhadiran tokoh panutan yang merepresentasikan nilai-nilai tersebut secara konkret di ruang publik. Ketika figur publik lebih banyak menampilkan sikap intoleran, hedonis, atau eksklusif, maka sulit bagi generasi muda untuk melihat contoh nyata dari penerapan Pancasila. Pendidikan formal tidak cukup untuk melawan arus besar ini tanpa dukungan dari keluarga, media, dan masyarakat luas. Hilmy . mengingatkan bahwa radikalisme tumbuh bukan hanya karena doktrin, tetapi karena ketiadaan narasi alternatif yang kuat dan inspiratif. Dalam konteks ini. Pancasila gagal bersaing sebagai narasi besar yang membentuk identitas sosial anak muda. Lebih lanjut, kondisi ini diperparah oleh perubahan cara belajar dan menyerap Generasi muda kini lebih banyak mengakses informasi melalui media sosial ketimbang ruang kelas. Namun, menurut Wahid . , konten kebangsaan yang beredar di media sosial cenderung membosankan dan tidak sesuai dengan gaya komunikasi anak Akibatnya. Pancasila menjadi asing dan terkesan sebagai doktrin masa lalu. Dibutuhkan strategi penyampaian yang lebih kreatif dan partisipatif untuk menghadirkan nilai-nilai Pancasila ke dalam ruang diskusi anak muda, baik melalui pendidikan formal maupun konten digital berbasis komunitas. Ketika Pancasila tidak lagi dipahami dan diinternalisasi, kekosongan identitas ideologis pun muncul dan menjadi lahan subur bagi masuknya paham radikal. Generasi muda yang kehilangan rujukan nilai akan cenderung mencari makna baru yang ditawarkan secara instan oleh ideologi yang bersifat simplistik dan eksklusif. Muttaqin . menunjukkan bahwa narasi radikal berhasil menembus ruang pendidikan karena mampu menawarkan rasa memiliki, kejelasan identitas, dan komunitas yang solid. Berbeda dengan Pancasila yang disampaikan secara normatif, ideologi radikal justru hadir dengan pendekatan emosional dan retorika keadilan sosial. JURNAL SANGKALA Ae PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 BANYUWANGI Jurnal Sangkala Vol . No . untag-banyuwangi. id/index. php/jurnalsangkala/ e-ISSN : 3032-7741 Fenomena ini mengindikasikan bahwa proses ideologisasi di kalangan anak muda tidak bisa mengandalkan pendekatan formalistik semata. Wahid . menekankan pentingnya menghadirkan Pancasila sebagai nilai yang hidup dan berdialog dengan persoalan aktual yang dihadapi anak muda, seperti ketimpangan sosial, korupsi, atau Ketika Pancasila gagal menjawab persoalan tersebut secara relevan, maka muncul keraguan terhadap efektivitasnya sebagai ideologi negara. Anshori . bahkan menyebut bahwa sebagian kelompok muda menganggap Pancasila hanya jargon politik, bukan nilai hidup yang membumi dalam keseharian mereka. Dalam konteks ini, penting untuk mengubah pendekatan ideologisasi menjadi lebih dialogis dan partisipatif. Anak muda perlu diajak berdiskusi secara kritis tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat menjadi landasan dalam mengatasi berbagai tantangan sosial yang mereka hadapi sehari-hari. Pendekatan ideologisasi merujuk pada strategi atau metode yang digunakan untuk menanamkan nilai-nilai ideologi dalam kesadaran individu maupun kolektif masyarakat. Dalam konteks Pancasila, pendekatan ini tidak cukup hanya bersifat normatif dan formalistikAimisalnya lewat hafalan sila-sila atau upacara seremonial melainkan harus bersifat kontekstual, partisipatif, dan transformatif. Artinya, ideologi Pancasila harus dihadirkan dalam diskusi tentang persoalan nyata yang dihadapi generasi muda, serta melalui pengalaman langsung di ruang-ruang sosial mereka. Ada beberapa bentuk pendekatan ideologisasi yang relevan saat ini: A Pendekatan dialogis: Mengajak generasi muda berdiskusi kritis tentang nilai Pancasila dalam konteks isu kontemporer. A Pendekatan kultural: Menggunakan media seni, budaya, dan tradisi lokal sebagai sarana penanaman nilai. A Pendekatan komunitas: Membentuk forum atau komunitas berbasis nilai Pancasila untuk membangun solidaritas lintas identitas. A Pendekatan keteladanan: Mendorong para pemimpin dan tokoh masyarakat untuk menjadi role model dalam mengamalkan nilai Pancasila. Tidak lagi cukup pendidikan pancasila hanya berupa transfer pengetahuan, melainkan harus menjadi ruang untuk membangun kesadaran, refleksi, dan aksi nyata. Dengan begitu. Pancasila tidak hanya dihafalkan, tetapi dihidupi dan diperjuangkan dalam praktik sosial yang nyata. Radikalisme tidak hanya menyasar wilayah pemikiran, tetapi juga membentuk pola sosial baru yang membedakan antara "kami" dan "mereka". Ini bertentangan langsung dengan nilai dasar Pancasila yang menekankan persatuan dalam keberagaman. Penelitian oleh Zarkasyi . menunjukkan bahwa kelompok radikal memanfaatkan simbol agama untuk menciptakan eksklusivitas dan polarisasi. Di sinilah peran negara dan masyarakat sipil menjadi penting untuk menyuarakan kembali Pancasila secara dialogis dan inklusif, agar tidak sekadar menjadi instrumen hukum, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan identitas kolektif bangsa. Strategi untuk menguatkan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda secara efektif dan berkelanjutan Penguatan nilai Pancasila membutuhkan pendekatan yang kontekstual dan partisipatif, bukan sekadar sosialisasi normatif. BNPT . menegaskan bahwa keberhasilan deradikalisasi lebih efektif jika dilakukan melalui pendekatan budaya, seni, dan keterlibatan komunitas. Hal ini menunjukkan pentingnya menggunakan strategi yang membumi dan relevan dengan kehidupan sehari-hari anak muda. Pendidikan Pancasila JURNAL SANGKALA Ae PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 BANYUWANGI Jurnal Sangkala Vol . No . untag-banyuwangi. id/index. php/jurnalsangkala/ e-ISSN : 3032-7741 harus mengaitkan nilai-nilai ideologi dengan peristiwa kontemporer yang dekat dengan pengalaman peserta didik. Kaelan . menyarankan agar pengajaran Pancasila dilakukan melalui dialog interaktif dan studi kasus yang memungkinkan siswa merefleksikan nilai tersebut secara Proyek-proyek sosial berbasis sekolah seperti pengabdian masyarakat, lomba video kebangsaan, dan diskusi lintas iman dapat menjadi sarana nyata penguatan nilai Menurut Prasetyo & Fahmi . , pelibatan siswa dalam proyek digital kreatif yang menyuarakan toleransi dan keadilan sosial juga terbukti meningkatkan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai Pancasila. Selain itu, pendekatan kebudayaan juga berperan penting dalam membumikan nilai Pancasila. Seperti dikemukakan oleh Magnis-Suseno . , budaya populer seperti film, musik, dan teater merupakan medium yang efektif untuk menyampaikan pesan ideologis secara halus namun berdampak kuat. Gerakan pemuda yang mengusung nilai gotong royong, toleransi, dan keadilan sosial melalui platform digital mampu menciptakan narasi tandingan terhadap ideologi radikal. Maka dari itu, strategi penguatan Pancasila harus menyentuh ranah afektif, simbolik, dan praksis kehidupan generasi muda. Pendidikan Pancasila yang efektif harus diarahkan pada pembentukan kesadaran kemanusiaan dan tanggung jawab sosial. Tidak cukup jika hanya menekankan hafalan atau pengetahuan kognitif, tetapi harus membentuk rasa empati, keadilan, dan tanggung Freire . mengajarkan bahwa pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang memungkinkan peserta didik mengartikulasikan dunia secara kritis dan penuh kesadaran. Oleh karena itu, pendekatan pedagogi kritis harus digunakan dalam pembelajaran Pancasila. Widodo . menekankan pentingnya metode pembelajaran berbasis proyek dan partisipasi aktif siswa, di mana mereka terlibat dalam pemecahan masalah sosial yang relevan dengan nilai-nilai Pancasila. Metode seperti ini memungkinkan siswa mengalami langsung proses sosial dan memahami pentingnya nilai gotong royong, keadilan, dan solidaritas dalam kehidupan berbangsa. Suparlan . juga menekankan bahwa pendidikan ideologi yang efektif adalah yang mampu menanamkan nilai sosial melalui pengalaman nyata, bukan sekadar retorika. Pendidikan ideologi merupakan elemen penting dalam pembentukan karakter dan identitas kebangsaan. Secara akademis, pendidikan ideologi dapat dipahami sebagai suatu proses sistematis yang bertujuan menanamkan, menginternalisasi, dan merefleksikan nilai-nilai dasar, pandangan hidup, serta cita-cita kolektif yang menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui pendekatan ini, individu tidak hanya dibekali pemahaman kognitif tentang prinsip-prinsip ideologi negara, tetapi juga diarahkan untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks Indonesia, pendidikan ideologi berperan strategis dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan sebagai pedoman dalam membangun masyarakat yang adil, bersatu, dan beradab. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan yang menekankan pengalaman nyata, seperti kegiatan sosial yang melibatkan gotong royong dan solidaritas, menjadi sangat relevan untuk memperkuat internalisasi nilai ideologis di kalangan generasi muda. JURNAL SANGKALA Ae PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 BANYUWANGI Jurnal Sangkala Vol . No . untag-banyuwangi. id/index. php/jurnalsangkala/ e-ISSN : 3032-7741 Gambar 1. Ilustrasi Penanaman Nilai Pancasila pada Tigkatan Sekolah Dasar . umber : https://ditpsd. Reorientasi ini juga membutuhkan keterlibatan guru sebagai fasilitator nilai, bukan sekadar penyampai materi. Guru harus mampu menjadi teladan dalam bertindak dan bersikap, serta menciptakan ruang dialog yang demokratis di kelas. Menurut Wahid . , guru yang memiliki integritas dan kepekaan sosial tinggi cenderung lebih berhasil menanamkan nilai kebangsaan di hati siswa. Maka dari itu, pelatihan guru dan pengembangan kurikulum Pancasila yang humanistik menjadi hal yang sangat mendesak untuk menjawab tantangan ideologis di masa kini. Untuk menjadikan Pancasila sebagai jalan hidup . ay of lif. , maka nilai-nilainya harus diinternalisasikan secara organik dalam kehidupan sehari-hari generasi muda. Ini menuntut transformasi dari pendekatan struktural menuju pendekatan kultural yang lebih adaptif dan reflektif. Subekti . menjelaskan bahwa keberhasilan internalisasi nilai Pancasila terletak pada sejauh mana nilai tersebut mampu merespon kebutuhan dan keresahan eksistensial anak muda. Oleh karena itu, penting untuk mengaitkan Pancasila dengan isu-isu aktual seperti perubahan iklim, keadilan gender, dan inklusi sosial. Keterlibatan generasi muda dalam komunitas berbasis nilai Pancasila juga perlu Kaelan . menyarankan pembentukan forum-forum kebangsaan berbasis pelajar dan mahasiswa yang mampu menjadi ruang diskusi dan kolaborasi lintas Forum semacam ini akan memperkuat solidaritas kebangsaan sekaligus membentuk jejaring sosial yang inklusif. Gerakan ini harus difasilitasi oleh negara dan masyarakat melalui pendanaan, pendampingan, dan pengakuan terhadap peran strategis pemuda sebagai agen ideologis. JURNAL SANGKALA Ae PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 BANYUWANGI Jurnal Sangkala Vol . No . untag-banyuwangi. id/index. php/jurnalsangkala/ e-ISSN : 3032-7741 Gambar 2. Generasi muda mengikuti Indonesia Youth Sustainability Forum 2024 (Sumber :https://kemenpora. id/detail/5368/) Indonesia Youth Sustainability Forum adalah sebuah forum yang bertujuan untuk menghadirkan platform bagi generasi muda untuk berdiskusi, berbagi ide, dan berkolaborasi terkait isu-isu keberlanjutan. Forum ini juga berupaya untuk mengembangkan keterampilan dan bakat anak muda dalam bidang keberlanjutan, serta mempersiapkan mereka untuk menjadi agen perubahan di masa depan. Dengan memberikan ruang yang memadai bagi keterlibatan generasi muda dalam forum-forum kebangsaan, negara sebenarnya sedang berinvestasi pada keberlanjutan ideologi Pancasila dalam bentuk yang lebih organik dan kontekstual. Ketika anak muda diberi kepercayaan, sumber daya, dan ruang untuk berekspresi dalam semangat Pancasila, maka nilai-nilai tersebut tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti dinamika zaman. Inilah bentuk aktualisasi ideologi yang hidupAitidak sekadar diwariskan, tetapi juga dimaknai ulang dan diperjuangkan oleh generasi penerus bangsa. Akhirnya. Pancasila tidak akan pernah hidup jika tidak dirasakan sebagai milik bersama yang mampu menjawab kebutuhan zaman. Magnis-Suseno . menegaskan bahwa ideologi hanya akan bertahan jika ia mampu hidup dalam tindakan dan kesadaran kolektif masyarakat. Maka, penguatan nilai-nilai Pancasila pada generasi muda bukan hanya upaya deradikalisasi, tetapi bagian dari pembangunan karakter bangsa yang Ini adalah proyek jangka panjang yang memerlukan keseriusan, inovasi, dan sinergi seluruh elemen bangsa. KESIMPULAN Penguatan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda merupakan langkah strategis yang sangat penting dalam menghadapi tantangan ideologis di era globalisasi. Radikalisasi yang kian meluas, dengan sasaran utama adalah generasi muda, menunjukkan adanya krisis pemahaman terhadap Pancasila sebagai dasar negara. Penurunan pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan ini, diperburuk dengan gejala JURNAL SANGKALA Ae PENDIDIKAN SEJARAH UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 BANYUWANGI Jurnal Sangkala Vol . No . untag-banyuwangi. id/index. php/jurnalsangkala/ e-ISSN : 3032-7741 depancasilaisasi yang menggiring generasi muda untuk lebih mudah terpapar pahampaham radikal dan intoleran. Oleh karena itu, upaya menguatkan pemahaman dan pengamalan Pancasila harus dilakukan secara menyeluruh melalui pendidikan yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari, serta pendekatan yang humanis dan partisipatif. Selain itu, dalam menghadapi tantangan globalisasi dan pesatnya arus informasi, media sosial memainkan peran penting dalam penyebaran ideologi radikal. Dengan demikian, penguatan nilai Pancasila tidak hanya menjadi tanggung jawab negara dan lembaga pendidikan, tetapi juga masyarakat luas, terutama keluarga dan komunitas digital, untuk menciptakan ekosistem kebangsaan yang inklusif dan mendalam. Pancasila harus dihidupkan dalam perilaku sosial dan budaya populer, agar relevan dan dekat dengan realitas anak muda. Melalui upaya tersebut. Pancasila dapat kembali menjadi fondasi moral dan sosial yang menyatukan keragaman bangsa dan menghalau ancaman radikalisasi ideologi. Sebagai ideologi negara. Pancasila memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan zaman, jika diterapkan dengan cara yang adaptif dan sesuai dengan dinamika Maka dari itu, penguatan nilai-nilai Pancasila adalah langkah preventif yang tidak hanya merespons ancaman radikalisasi dan depancasilaisasi, tetapi juga sebagai investasi ideologis yang menjamin keberlanjutan kesatuan bangsa Indonesia. Dengan demikian, penting untuk mengedepankan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam pendidikan, media, maupun dalam interaksi sosial di masyarakat. DAFTAR PUSTAKA