Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Volume 10. Oktober 2022, hlm. P-ISSN: 2338-2783 | E-ISSN: 2549-3876 DOI: https://doi. org/10. 35836/jakis. KOMPETENSI TAKMIR DALAM MENJAGA KUALITAS LAPORAN KEUANGAN MASJID: TELAAH LITERATUR Fuad Najmudin dan Ai Nur Bayinah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI Jalan Raya Bojongsari No. Depok. Jawa Barat. Indonesia Email: fuadnajmudin31@gmail. com dan ainur. bayinah@sebi. ABSTRACT This study aims to describe takmir's competence in maintaining the quality of financial reports. This study uses secondary data in the form of documents of research results from other parties in the form of published journal articles as well as academic papers published from academic seminars or conferences. Studying the literature by analyzing the competence of mosque takmirs in maintaining the quality of mosque financial reports. The results showed the importance of the role of mosque takmir in maintaining the quality of mosque financial reports. By presenting financial reports as a form of transparency and accountability from takmir of the mosque to stakeholders. Increasing the competence of human resources, implementing financial management, internal control, carrying out fundraising activities and utilizing technology are the optimization of mosque takmirs to maintain the quality of mosque financial reports. Keywords: Takmir Competence. Mosque Financial Reporting. Quality of Financial Statements. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi takmir dalam menjaga kualitas laporan keuangan. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa dokumen hasil penelitian dari pihak lain berupa artikel jurnal yang telah diterbitkan maupun makalah akademik yang diterbitkan dari seminar atau konferensi akademik. Studi literatur dengan menganalisis kompetensi takmir masjid dalam menjaga kualitas laporan keuangan masjid. Hasil penelitian menunjukkan pentingnya peran takmir masjid dalam menjaga kualitas laporan keuangan masjid. Dengan menyajikan laporan keuangan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas dari takmir masjid kepada pemangku kepentingan. Peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penerapan pengelolaan keuangan, pengendalian intern, pelaksanaan kegiatan penggalangan dana dan pemanfaatan teknologi merupakan optimalisasi takmir masjid untuk menjaga kualitas laporan keuangan masjid. Kata kunci: Kompetensi Takmir. Pelaporan Keuangan Masjid. Kualitas Laporan Keuangan Diterima: 26/10/2022 Direvisi: 01/11/2022 Disetujui: 01/11/2022 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. PENDAHULUAN Organisasi masjid merupakan organisasi sektor publik atau organisasi nirlaba, dimana mayoritas masjid didirikan oleh swadaya masyarakat. Ada yang berawal dari tanah wakaf pribadi, ada juga yang didirikan oleh sekelompok masyarakat tertentu. Pengelolaan dan sumber daya diperoleh secara sukarela, tidak ada paksaan untuk menjadi pengelola masjid (Ismatullah & Kartini, 2. Masjid merupakan organisasi nirlaba dimana pengurus masjid berfungsi sebagai agent yang berkewajiban mengelola dan melaporkan penggunaan dana yang diberikan oleh masyarakat dan donatur (Siskawati et al. , 2. Banyak ketidaksukaan masyarakat terhadap pengelolaan keuangan masjid, dikarenakan pengurus masjid dalam memberikan laporan keuangan tidak transparan dan hanya mencatat sebatas penerimaan dan pengeluaran saja tanpa merinci pemasukan kas masjid dan pengeluaran kas masjid untuk apa saja sehingga menimbulkan kecurigaan masyarakat terhadap takmir masjid (Andarsari, 2. Informasi yang terdapat dalam laporan keuangan masjid dapat dikatakan berkualitas apabila informasi akuntansi tersebut memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan. Adapun karakteristik kualitatif laporan keuangan yang tercantum dalam Standar Akuntansi Keuangan Syariah per 1 Januari 2017 adalah dapat dipahami, relevan, andal dan dapat dibandingkan (Puriyanti & Mukhibad, 2. Hasil penelitian Syaifuddin . mengungkapkan bahwa praktik manajemen, sistem pengendalian internal dan aktivitas penggalangan dana berpengaruh signifikan terhadap kualitas pelaporan keuangan. Sedangkan hasil penelitian Isviandari et. mengungkapkan bahwa yang mempengaruhi kualitas laporan keuangan masjid di kota Batu adalah pengendalian internal dan kompetensi sumber daya manusia. Hal yang sama dilakukan oleh Puriyanti & Mukhibad, . mengungkapkan Bahwa kompetensi SDM dan sistem pengendalian internal berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas laporan keuangan masjid. Berbicara tentang Kompetensi SDM, masih rendahnya kompetensi takmir terhadap pemahaman akuntansi dan praktik akuntansi, ini menjadi salah satu kelemahan masjid untuk menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas (Puriyanti & Mukhibad, 2. Seperti penelitian Sari et. menemukan bahwa praktik akuntansi yang belum maksimal dan tidak sesuai dengan standar pencatatan dan pelaporan itu adalah organisasi nirlaba, seperti organisasi keagamaan. Ini terjadi karena pengurus diberi tanggung jawab yang tidak sesuai dengan profesi yang dijalani sehingga pemahaman pengurus mengenai akuntansi masih kurang. Penelitian Bahrudin et. mengungkapkan laporan keuangan masjid yang dibuat masih manual dan Sederhana belum cukup dikatakan Penerapan transparansi pembangunan masjid itu keputusannya disampaikan secara musyawarah dan pelaporan hanya sebatas lisan Itu kurang transparansinya. Hal yang sama juga di sampaikan di penelitian Dewi al . bahwa organisasi nirlaba masjid al-Muttaqin telah berusaha Najmudin dan Bayinah: Kompetensi Takmir Dalam Menjaga Kualitas. untuk membuat pertanggungjawaban keuangannya dengan membuat rekap kas masuk dan kas keluar untuk para donatur, namun pertanggungjawaban keuangannya belum sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku untuk organisasi nirlaba, yaitu PSAK 45, di mana masjid al Muttaqin belum membuat laporan keuangan yang diatur oleh PSAK 45. Berdasarkan penelitian terdahulu mengenai kompetensi takmir terhadap akuntansi masjid, dapat disimpulkan bahwa penyajian laporan keuangan masjid masih tergolong rendah. Ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya laporan keuangan dan masih terbatasnya takmir masjid menguasai ilmu akuntansi organisasi nirlaba (Widyanti & Rahmayanti, 2. Selain pemahaman akuntansi masjid, takmir masjid dapat memahami ilmu manajemen keuangan masjid. Karena ada fenomena terkait pengelolaan keuangan masjid dalam bentuk dana hibah di Luwun Raya Makasar, yayasan masjid agung palapa dalam pengelolaan dana hibah tidak wajar dan transparan sehingga banyak masyarakat bahkan mahasiswa mencurigakan manajemen dana hibah tersebut oleh pihak masjid. Dalam berita (Merdeka. com, 2. dilansir bahwasanya adanya kasus korupsi dana hibah yang dilakukan oleh ketua yayasan masjid agung palopo sehingga langsung dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapa. kelas I. Penelitian dalam bidang manajemen masjid sudah banyak dilakukan. Penelitian Sanusi et. mengungkapkan untuk memastikan praktik manajemen keuangan yang efisien dan tepat, untuk memastikan operasi berjalan dengan lancar sesuai dengan peraturan dan ketentuan, menentukan kemampuan manajemen masjid dalam mengukur dan mengelola kegiatan secara efektif dan menyajikan informasi dalam membuat keputusan yang lebih dapat diterapkan sistem pengendalian internal di organisasi masjid. Penelitian Mannuhung & Tenrigau, . mengungkapkan bahwa manajemen pengelolaan masjid sangat terkait dengan upaya memperbaiki manajemen kepengurusan, manajemen kesekretariatan, manajemen keuangan, manajemen dana dan usaha, manajemen pembinaan jamaah, manajemen pendidikan dan pelatihan takmir masjid. Pramesvari . melakukan penelitian dengan menganalisis pertanggungjawaban pengelolaan Masjid Jogokariyan dari aspek mental, fisik dan spiritual. Berdasarkan hasil penelitian, pertanggungjawaban pengelolaan masjid Jogokariyan pada aspek mental telah terpenuhi dengan tercapainya program sesuai aturan yang ada. Akan tetapi, pertanggungjawaban pengelolaan masjid pada aspek fisik belum sepenuhnya terpenuhi. Dibalik itu, program-program masjid juga didukung dengan tercapainya pertanggungjawaban pengelolaan masjid pada aspek spiritual. Ketiga aspek sangatlah penting, kinerja mental dapat tercapai ketika adanya keseimbangan antara kinerja fisik dan kinerja spiritual. Namun memiliki kompetensi akuntansi masjid dan manajemen masjid saja belum cukup. Penelitian Fachruddin et. mengungkapkan bahwa pengelolaan keuangan secara manual merupakan salah satu penyebab hilangnya data dan file laporan. Takmir masjid harus mampu memanfaatkan teknologi agar data keuangan masjid lebih tertata, diarsipkan dengan rapi dan Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. Sistem pengelolaan atau akuntansi keuangan digital memungkinkan adanya fleksibilitas dalam mengakses laporan keuangan Oleh karena itu dibuatnya sistem manajemen keuangan masjid berbasis platform android. LANDASAN TEORI 1 AKUNTANSI KEUANGAN MASJID Akuntansi masjid adalah pengelolaan transaksi yang terjadi dalam kegiatan operasional masjid. Rangkaian pengelolaan transaksi yang dilakukan secara sistematis dalam bidang keuangan, berdasarkan prinsip, standarisasi dan prosedur tertentu untuk menghasilkan informasi aktual di bidang keuangan. Mengenalkan akuntansi pada organisasi masjid berarti lebih berorientasi untuk menumbuhkan kesadaran kepada pengelola masjid tentang pentingnya praktik akuntansi dalam organisasi masjid (Halim & Kusufi, 2. Ketentuan perundangan yang berlaku, seluruh organisasi sosial baik yang berbentuk yayasan maupun berbentuk organisasi masyarakat wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangannya sesuai dengan standar yang berlaku. Dua pedoman yang diberikan IAI mengenai pelaporan keuangan organisasi nirlaba adalah PSAK 45 dan PSAK 109. Kedua standar ini dapat saling melengkapi. PSAK 45 mengatur mengenai pelaporan dana sebuah yayasan atau organisasi lainnya yang berbentuk yayasan. Di lain pihak. PSAK 109 merupakan standar bagi amil dalam pengelolaan dana zakat yang dititipkan kepada lembaga amil (Andriani et al. , 2. Hasil penelitian Yanuar & Hanifah . menyatakan bahwa PSAK 45 jauh lebih menyeluruh karena pelaporannya mencerminkan yang terjadi di lapangan karena masjid tidak hanya mengelola dana zakat tetapi juga mengelola dana bantuan dari masyarakat seperti dana infaq, sedekah ataupun sumbangan lainnya. Masjid juga bisa menggunakan PSAK 109 dalam melaporkan penggunaan dana zakat sebagai bagian terpisah dari pelaporan dan diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangannya. 1 PSAK 45 Akuntans Nirlaba dan ISAK 35 Penyajian Laporan Keuangan Entitas Berorientasi Nonlaba Pada tahun 2011 PSAK 45 disahkan oleh IAI untuk organisasi yang tidak berorientasi pada laba sebagai acuan dalam penyusunan pelaporan keuangan untuk memudahkan pengungkapan keuangan yang diterbitkan organisasi mudah dimengerti oleh pengguna laporan keuangan. IAI . menyatakan tujuan PSAK 45 sebagai Standar akuntansi keuangan mengatur dan memberikan tujuan pelaporan keuangan organisasi nirlaba untuk menyediakan informasi yang relevan kepada pihak yang berkepentingan terutama donatur, anggota organisasi dan pihak lain yang memberikan kontribusi kepada organisasi nirlaba. Namun IAI merevisi PSAK 45 menjadi ISAK 35 pada tanggal 19 april 2019 dan mulai efektif digunakan pada 1 Najmudin dan Bayinah: Kompetensi Takmir Dalam Menjaga Kualitas. 2 PSAK 109 Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah mengeluarkan PSAK 109 untuk akuntansi zakat, infak/sedekah. PSAK 109 efektif berlaku sejak tanggal 1 Januari 2012, diterbitkan untuk menjadi pedoman bagi organisasi yang khusus mengelola zakat dan wajib diterapkan oleh amil yang mendapatkan izin dari regulator. Laporan keuangan amil menurut PSAK 109 adalah laporan posisi keuangan . , laporan perubahan dana, laporan perubahan aset kelolaan, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan. Neraca dan laporan penerimaan, pengeluaran dan perubahan dana untuk organisasi zakat, infak/sedekah ini merupakan gabungan dari dua dana tersebut, yaitu dana zakat dan dana sedekah, sedangkan laporan perubahan posisi keuangan dan catatan atas laporan keuangan perlu ditambahkan sehingga menjadi laporan keuangan yang menyeluruh yang menggambarkan kondisi keuangan organisasi pengelola zakat. Dalam catatan ini menjelaskan mengenai kebijakan-kebijakan akuntansi dan prosedur yang diterapkan oleh organisasi yang bersangkutan sehingga diperoleh angka-angka dalam laporan keuangan 2 KARAKTERISTIK LAPORAN KEUANGAN KUALITATIF Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi, sehingga dapat memenuhi tujuannya atau menghasilkan informasi yang berkualitas. Suatu informasi akuntansi dapat dikatakan berkualitas jika para pengguna laporan keuangan berdasarkan pemahaman dan pengetahuan mereka masing-masing dapat mengerti dan menggunakan informasi akuntansi yang disajikan tersebut sebagai dasar pengambilan keputusan (Rahma, 2. Ikatan Akuntansi Indonesia . menyebutkan karakteristik kualitatif laporan keuangan yang tercantum dalam Standar Akuntansi Keuangan Syariah per 1 Januari 2017 adalah dapat dipahami, relevan, andal, dan dapat dibandingkan. 3 KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA Hutapea & Thoha . mengungkapkan bahwa ada tiga komponen utama pembentukan kompetensi yaitu pengetahuan yang dimiliki seseorang, keterampilan dan perilaku individu. Satu. Pengetahuan . adalah informasi yang dimiliki seseorang untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan bidang yang digelutinya . Pengetahuan takmir turut menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya, takmir yang mempunyai pengetahuan yang cukup akan meningkatkan efisiensi organisasi. Namun bagi takmir masjid yang belum mempunyai pengetahuan yang cukup, maka akan bekerja tersendatsendat. Kedua. Keterampilan . merupakan suatu upaya untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan kepada seorang takmir dengan baik dan maksimal. Ketiga. Sikap . merupakan pola tingkah laku seorang didalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sesuai dengan peraturan organisasi. Apabila takmir Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. mempunyai sifat yang mendukung pencapaian tujuan organisasi, maka secara otomatis segala tugas yang dibebankan kepadanya akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kompetensi erat kaitannya dengan kinerja, baik kinerja individu maupun kinerja organisasi . (Ardiana et al. , 2. Kompetensi sebagai kemampuan seseorang dalam menghasilkan sesuatu pada tingkat yang memuaskan di organisasi, termasuk diantaranya kemampuan seseorang untuk mentransfer dan mengaplikasikan keterampilan dan pengetahuan tersebut dalam situasi yang baru dan meningkatkan manfaat yang disepakati (Wijayanti, 2. 1 Takmir Masjid/Pengurus Masjid Takmir masjid adalah organisasi yang mengurus seluruh kegiatan yang ada kaitannya dengan masjid, baik dalam membangun, merawat maupun memakmurkannya, termasuk usaha-usaha pembinaan remaja muslim di sekitar masjid (Muthalib et al. , 2. Pada prinsipnya tugas memakmurkan masjid adalah tugas dan tanggung jawab setiap muslim yang beriman. Memakmurkan masjid berarti membangun, memperbaiki, mendiami, menetap, mengisi, menghidupkan, mengabdi, menghormati dan memelihara masjid itu sendiri (Mannuhung & Tenrigau, 2. Istilah tersebut digunakan oleh Allah dalam firman-Nya yang juga menunjukkan keutamaan pemakmur masjid. Allah berfirman: a eAA EOa OaO EIEOa OaaE aaOA a a e AEE aN OEeO OaIA a a aA IeE EENA a ea e a a AIacIa Oa eI aI a EEN aI eI aI aI A a AeE a aOaCa aI E IA AE a eI OIE eOI eO aI aI EeI eNa aOe aIA a a a O OE aiOA Artinya: Au Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orangorang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut . epada siapapu. selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjukAy (QS. At-Taubah ayat . Mengelola masjid pada zaman sekarang ini memerlukan ilmu dan ketrampilan manajemen. Pengurus masjid harus mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Metode/pendekatan, perencanaan, strategi, dan model evaluasi yang dipergunakan dalam manajemen modern merupakan alat bantu yang juga diperlukan dalam manajemen masjid modern. Sebab bukan saatnya lagi pengurus mengandalkan sistem pengelolaan tradisional yang tanpa perencanaan, tanpa pembagian tugas, tanpa laporan pertanggung jawaban keuangan, dan sebagainya (Mannuhung & Tenrigau, 2. 2 Kompetensi Takmir Masjid Penelitian Puriyanti & Mukhibad . mengungkapkan tingkat pendidikan menjadi indikator dominan kompetensi SDM takmir masjid dalam laporan Semakin tinggi tingkat pendidikannya semakin tinggi juga Najmudin dan Bayinah: Kompetensi Takmir Dalam Menjaga Kualitas. pengetahuan takmir sehingga dapat menghasilkan laporan keuangan yang Rata-rata tingkat pendidikan penyusun laporan keuangan masjid berada pada tingkat SMA. Dan dilihat dari sisi usia mereka berada di atas 45 Tingkat pendidikan ini sangat mempengaruhi pengetahuan dan pemahaman akuntansi. Sehingga takmir masjid yang bertanggung jawab dalam kepengurusan bendahara masjid minimal takmir memiliki tingkat pendidikan SMK Akuntansi atau S1 akuntansi agar dapat memberikan laporan keuangan yang berkualitas (Muslim & Sufina, 2. Takmir masjid harus meningkat skill dalam pengelolaan keuangan masjid seperti mempelajari manajemen keuangan, membuat laporan keuangan masjid dan mengikuti pelatihan dan seminar mengenai akuntansi Penelitian Maskuro . mengadakan pelatihan dan bimbingan untuk para takmir masjid dan hasilnya membuka wawasan para pengurus masjid akan pentingnya transparansi dan akuntabilitas, terutama transparansi dan akuntabilitas keuangan dalam perspektif Islam. Sama halnya dengan penelitian Rakhmawati et . mereka mendampingi dan memberikan pelatihan takmir masjid dan hasilnya takmir masjid mampu membuat laporan posisi keuangan masjid yang menggambarkan keadaan aset yang dimiliki oleh masjid dan telah mampu menghasilkan sistem pencatatan double entry yang lebih jelas dalam memberikan gambaran perjalanan kas sehingga dapat menjadi pendoman perencanaan masa yang akan datang. Di jaman era 4. 0 ini takmir masjid harus mampu memanfaatkan teknologi sebaik mungkin. Penelitian Wardana & Aribowo . membuat aplikasi sistem informasi administrasi Masjid Jogokariyan, untuk mendukung kinerja sekretaris dan bendahara dalam proses pengelolaan pendataan jamaah, donatur, arsip dan data keuangan, juga dapat menghemat waktu yang dibutuhkan dari mulai memasukan data sampai berupa laporan yang diinginkan dan dapat digunakan untuk kepentingan masjid maupun lembaga lain, juga mengurangi resiko kesalahan dalam pembuatan laporan. METODE RISET Untuk mendukung analisis atas kompetensi takmir dalam menjaga kualitas laporan keuangan Masjid, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode telaah literatur. Dengan menggunakan data sekunder berupa artikel jurnal pada penelitian terdahulu yang relevan dalam 10 . tahun terakhir sejak 2012-2022, didapatkan 30 artikel yang terkait. Adapun rinciannya sebagai berikut: 10 artikel membahas tentang peran takmir masjid dalam membuat laporan keuangan, sebanyak 9 artikel membahas tentang peran laporan keuangan sebagai sarana mewujudkan transparansi dan akuntabilitas masjid, serta 11 artikel yang mengungkapkan strategi optimalisasi peran takmir dalam menjaga kualitas laporan keuangan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. Bagan 1. Alur Penelitian A Data sekunder berupa artikel jurnal 10 tahun terakhir . A Didapatkan 30 artikel yang relevan dari penelitian Pengumpulan Data Pengelompokan Data A Artikel dikelompokkan berdasarkan pembahasan isu yang serupa dan relevan. A Dibagi menjadi 3 kelompok: sebanyak 10 artikel, . sebanyak 9 artikel, . sebanyak 11 artikel. A Interpretasi Data dibagi menjadi 3 kelompok isu besar. A Yakni . peran laporan takmir, . peran laporan keuangan masjid, dan . optimalisasi peran takmir dalam menjaga kualitas laporan keuangan. Analisis Data Berdasarkan data yang terkumpul berupa artikel tersebut, tahun 2020 merupakan tahun dengan jumlah artikel terbanyak yang membahas tentang takmir dan pengelolaan masjid, yakni ada 9 artikel. Disusul tahun 2018 sebanyak 7 artikel. Kemudian tahun 2019 sebanyak 5 artikel. Di tahun lainnya bervariasi tidak lebih dari 3 artikel. PEMBAHASAN Pada tahun 2021 masjid seluruh Indonesia yang terdaftar di kementerian agama berjumlah 272. 448 masjid. Jawa Barat menjadi provinsi terbanyak terdapat jumlah masjidnya berjumlah 54. Dengan adanya banyak masjid yang terdata di Kementerian Agama diharapkan dapat menjadi pusat semua kegiatan masyarakat, baik kegiatan formal maupun informal. Masjid dapat dijadikan sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat atau umat dalam mencapai tujuan pembangunan Indonesia, yaitu masyarakat adil, makmur, dan sejahtera lahir batin (Pellu, 2. Hasil penelitian Abdzar . mengungkapkan bahwa sudah seharusnya masjid sudah difungsikan pada suatu upaya pemberdayaan umat yang mengarah kepada pembangunan life skill dan militansi da'i-da'iyahnya, di samping pemberdayaan yang mengarah kepada penguatan bangunan tauhid umat. Untuk menuju kesana, banyak hal yang harus dibenahi agar eksistensi dan keberlangsungan fungsi ideal masjid dapat terus ditingkatkan, dan agar dapat dicapai pula keseimbangan peran masjid, baik sebagai tempat ibadah vertikal maupun untuk menyelenggarakan ibadah muamalah. Badan hukum organisasi yang selama ini digunakan masjid di Indonesia adalah yayasan. Sebagai sebuah yayasan, masjid bergerak dalam sektor nirlaba yang umumnya dikelola oleh takmir masjid dengan pendanaan dari swadaya masyarakat (Andriani et al. , 2. Kamaluddin . menyebutkan beberapa fungsi Masjid. Pertama, fungsi masjid sebagai ibadah Najmudin dan Bayinah: Kompetensi Takmir Dalam Menjaga Kualitas. fungsi ibadah seperti shalat, membaca quran dan kegiatan ibadah lainnya. Kedua, fungsi masjid sebagai tempat berdakwah dan pendidikan. Ketiga, fungsi masjid sebagai tempat aktivitas sosial yaitu kegiatan yang sifatnya memberikan bantuan kepada masyarakat. Keempat masjid sebagai tempat pemberdayaan masyarakat. Masjid merupakan salah satu organisasi nirlaba dalam bidang keagamaan, sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 45 tahun 2011 tentang organisasi nirlaba, bahwa organisasi nirlaba berhak untuk untuk membuat laporan keuangan dan melaporkan kepada para pengguna laporan keuangan. Laporan keuangan adalah suatu produk yang dihasilkan oleh bidang akuntansi, oleh karenanya untuk menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas dibutuhkan SDM yang memahami dan berkompeten dalam bidangnya. Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. Informasi juga harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pengguna dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini, atau masa depan, menegaskan, atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Informasi harus andal . Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur . aithul representatio. dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dihadapkan dapat disajikan (Puriyanti & Mukhibad, 2. 1 PERAN TAKMIR MASJID DALAM MEMBUAT LAPORAN KEUANGAN Penelitian Abdzar . mengungkapkan problem-problem yang terjadi pada masjid-masjid umumnya itu ada beberapa faktor: pertama, rendahnya kapabilitas sumber daya manusia pengelola masjid. Kedua, lemahnya manajemen masjid. Ketiga, kurangnya pemahaman dari umat Islam tentang multifungsi masjid. Keempat, belum adanya upaya pembinaan jamaah inti masjid secara profesional. Tentu faktor diatas menggambarkan pengelolaan masjid pada umumnya memprihatinkan. Banyak takmir masjid yang tidak mampu mengoptimalkan peran dan fungsi masjid karena keterbatasan SDM untuk memakmurkan masjid. Dari tahun ke tahun, jumlah masjid kian bertambah. Tetapi harus diakui, fungsinya belum maksimal dan optimal. Padahal masjid mempunyai peran strategis dalam membangun kesejahteraan umat. Masjid selama ini hanya berperan sebatas tempat ibadah shalat ritual semata. Padahal jika masjid itu berdaya, maka masyarakatnya pun akan sejahtera (Taufiq & Purnomo, 2. Dalam pengelolaan masjid perlunya membuat laporan keuangan yang akurat untuk memberikan informasi kepada stakeholder. Untuk dapat membuat laporan keuangan masjid dibutuhkannya penerapan akuntansi dan peran akuntansi ini agar memperlancar manajemen keuangan dalam fungsinya sebagai alat perencanaan, pengawasan dan pengambilan keputusan (Andarsari, 2. Akan tetapi hasil penelitian Muslim & Sufina . Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. mengungkapkan bahwa rata-rata tingkat pendidikan penyusun laporan keuangan pada entitas masjid berada pada level SMA dan rata-rata usia diatas 45 tahunan. Tingkat pendidikan ini sangat mempengaruhi pemahaman Karena tingkat SMA hanya dasar yang dipelajari, terkait organisasi nirlaba disampaikan pada level perkuliahan. Dari segi dalam manajemen perlunya takmir masjid yang memiliki kompetensi, tanggung jawab dan integritas. Meningkatkan peran takmir masjid menjadi penting untuk pengelolaan keuangan, setidaknya Dewan Kemakmuran Masjid memberikan kursus kepada bendahara masjid dengan mengundang tenaga pendidik/ahli yang berkompeten untuk memberikan ilmunya kepada para takmir terkait pengelolaan keuangan masjid. Ada tiga manfaat peran takmir dalam. membuat laporan keuangan masjid. Pertama, mendapatkan informasi dari penyajian laporan keuangan yang akurat dan Kedua, mendorong akuntabilitas secara umum. Dan yang ketiga, memberikan kontrol kepada pengurus masjid (Nurlaila et al. Penelitian Maryati et. menyebutkan beberapa penyebab faktor tidak adanya pencatatan dan laporan keuangan masjid : Kurangnya kesadaran pengurus terhadap pentingnya pencatatan dan penyusunan laporan keuangan terhadap akuntabilitas dan transparansi pengelolaan masjid. Minimnya pemahaman pengurus masjid dalam hal pencatatan dan penyusunan laporan keuangan masjid. Tidak adanya alat bantu/aplikasi sederhana yang memadai dalam pencatatan dan penyusunan laporan keuangan masjid. Tentu ini menjadi pentingnya peran dan fungsi masjid bagi kesejahteraan umat membutuhkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan. Hal ini disebabkan karena masjid merupakan entitas akuntansi yang semua aktivitasnya harus dipertanggungjawabkan kepada publik (Maryati et. Masjid yang menggunakan dana dari masyarakat sebagai sumber keuangannya baik dalam bentuk infak, sedekah, sumbangan, zakat atau bentuk sosial lainnya, di mana semua aktivitas tersebut harus dipertanggungjawabkan baik secara vertikal maupun secara horizontal (Gunadi et. 2 LAPORAN KEUANGAN SEBAGAI TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS MASJID Masjid sebagai entitas nirlaba perlu menampilkan laporan keuangan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas dari takmir masjid kepada jamaah atau Untuk itu masjid membutuhkan proses akuntansi yang menghasilkan penyusunan laporan keuangan yang berkualitas sehingga dapat memberikan semua bentuk kebutuhan pengetahuan untuk mendukung aktivitas keagamaan dan sarana prasarana serta pemeliharaan dan perawatan masjid (Walandouw & Mangkona, 2. Dalam meningkatkan akuntanbilitas laporan keuangan masjid di Indonesia perlu menghadirkan nuansa akuntanbel dan transparan dalam Najmudin dan Bayinah: Kompetensi Takmir Dalam Menjaga Kualitas. pengelolaan keuangan. Perlunya pola pembukuan yang benar dalam penyusunan dan pelaporan menggunakan software yang sama berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku (Nurlaila et al. , 2. Rini . melakukan penelitian di sejumlah masjid di Jabodetabek. Peneliti menemukan bahwa takmir masjid di Jabodetabek masih rendah pengetahuan mengenai laporan keuangan masjid. Hanya sebagian kecil masjid yang mempunyai laporan keuangan sesuai PSAK. Sebagian besar masjid hanya membuat laporan pemasukan dan pengeluaran saja. Penelitian yang sama dilakukan oleh Badu & Hambali . ia mengungkapkan bahwa masjid di Kabupaten Gorontalo dalam menyusun laporan keuangannya masih rendah. Banyak takmir masjid yang belum sadar akan pentingnya laporan keuangan. Permasalahan lain ketika takmir masjid dalam pencatatan keuangannya hanya mencakup penerimaan dan pengeluaran kas masjid saja tanpa memperlihatkan jumlah aset yang dimiliki oleh masjid dan berapa nilainya, sehingga banyak kasus hilangnya aset masjid karena kelemahan sistem pencatatan laporan keuangan masjid (Andarsari, 2. Tentu ketika takmir masjid sadar akan pentingnya membuat laporan keuangan yang berkualitas maka dampaknya sangat besar terhadap organisasi Penelitian Maryati et. menyatakan bahwa dengan adanya sistem informasi akuntansi dan pembukuan serta laporan keuangan masjid akan memudahkan dalam pengambilan keputusan tentang pembangunan dan pemberdayaan masjid. Sama halnya dengan penelitian Siregar . dengan takmir masjid mampu membuat laporan keuangan berkualitas dapat menginformasikan kesinambungan hidup organisasi. Tentu dengan dibuatnya laporan keuangan masjid diharapkan memberikan informasi berkelanjutan yang berguna sehingga memberikan gambaran apakah tujuan itu dapat dicapai atau sudah terealisasi. Hal ini mencermin kan adanya transparansi dalam pengelolaan keuangan masjid. Dengan rincian penerimaan dari donatur dan pengeluaran terlihat jelas di laporan keuangan sehingga mengedepankan transparansi sebagai bentuk tanggung jawab takmir masjid dalam mengelola dana yang diamanahkan oleh jamaah dan menjaga kepercayaan internal pengurus (Pramesvari, 2. Dengan mempertanggungjawaban yang seadil-adilnya terhadap amanah merupakan wujud penghambaan diri kepada Allah SWT (Sari et al. , 2. Bentuk akuntabilitas di masjid dapat dilakukan dengan pelaporan tentang segala aktivitas masjid, salah satunya dengan praktik akuntansi dalam pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang dibuat takmir dilakukan untuk menjawab kecurigaan dan kekhawatiran berbagai pihak mengenai pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh takmir masjid dan dilakukan secara konsisten. Laporan keuangan yang dibuat meliputi aset, kewajiban/Hutang, ekuitas, modal , pendapatan dan arus kas. Dari hasil laporan keuangan yang telah dibuat oleh takmir harus dipublikasikan untuk menepis kecurigaan yang selama ini dirasakan jamaah (Kismawadi et al. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. Siregar . mengungkapkan laporan keuangan masjid yang dibuat dapat digunakan untuk: Pengurus masjid memutuskan untuk membuat program baru atau menggeser program yang kurang efektif. Pembuatan anggaran periode selanjutnya oleh takmir masjid. Penanggung jawab organisasi memutuskan apakah merekomendasikan penggantian pengurus atau tidak. Bagi stakeholder mengetahui apakah kinerja organisasi memadai atau tidak memadai 3 OPTIMALISASI PERAN TAKMIR MASJID DALAM MENJAGA KUALITAS LAPORAN KEUANGAN MASJID Dalam memakmurkan fungsi dan peranan masjid sudah seharusnya diimbangi dengan kesadaran para takmir masjid dan ditunjang dengan potensi takmir dalam mengelola masjid (Hidayat & Rifqi, 2. Dalam AlQurAoan surat Ash-Shaff ayat 4: a Aua II EEIN aaO ac IA aa AOAA U aUc aEaIIN eI eI Oa UI aI eAA a AOI O aCEO aI a aaOENA a A EA Artinya: AuSesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokohAy (Q. S Ash-Shaff : . Makna ayat tersebut menggambarkan bahwasanya perlunya penempatan jobdesk takmir masjid sesuai dengan potensi yang dimiliki takmir sehingga organisasi masjid menjadi kuat serta dilakukan dengan baik, tepat, terencana dan tuntas guna tercapainya tujuan yang diinginkan. Berbicara mengenai pengurus masjid atau takmir masjid, penelitian (Hidayat & Rifqi, 2. menjelaskan bahwasanya agar pengelola masjid berjalan dengan baik dalam menjalankan roda kepengurusannya, diperlukannya optimalisasi peran takmir masjid dalam menghasilkan laporan keuangan masjid yang berkualitas. Hasil Penelitian Puriyanti & Mukhibad . menyatakan bahwa kompetensi sumber daya manusia berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Hasil ini juga sama halnya yang disampaikan oleh penelitian (Isviandari et al. , 2. Puriyanti & Mukhibad . mengungkapkan semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin tinggi pula pengetahuannya sehingga dengan mudah takmir masjid dalam menyusun laporan keuangan yang berkualitas. Muslim & Sufina . menjelaskan bahwa semakin tinggi pendidikan penyusun dan penyaji laporan keuangan, akan memberikan efek yang berbeda terhadap penyusunan dan penyajian laporan keuangan, begitu juga dengan adanya pemahaman yang baik terkait dengan Standar Akuntansi organisasi Nirlaba. Sama halnya dengan Penelitian Isviandari et. menurutnya semakin tinggi kompetensi sumber daya manusia yang dimiliki oleh pengelola masjid, semakin tinggi pula kualitas laporan keuangan yang Najmudin dan Bayinah: Kompetensi Takmir Dalam Menjaga Kualitas. Selama ini pertanggungjawaban masjid sangat sederhana dengan hanya membuat laporan kas keluar masuk saja tanpa ada laporan terkait aset yang dimiliki masjid sehingga sering terjadi hilangnya aset yang dimiliki masjid oleh karena itu diperlukan dorongan dari semua pihak untuk memakmurkan masjid dengan praktik akuntabilitas. Sudah seharusnya takmir masjid di Indonesia yang diberikan amanah sebagai bendahara memiliki skill dalam membuat laporan keuangan dan tingkat pendidikannya SMK akuntansi atau S1 akuntansi karena dengan itu, takmir sudah memahami alur membuat laporan keuangan dan memahami standar akuntansi yang diberikan IAI sehingga dapat menjaga kualitas laporan keuangan masjid. Manajemen keuangan perlu juga dipahami dan dipraktekan oleh takmir masjid. Hasil penelitian Syaifuddin . mengungkapkan pengaruh praktik manajemen keuangan berpengaruh signifikan terhadap terhadap kualitas laporan keuangan. Semakin baik praktik manajemen keuangan maka akan meningkatkan kualitas laporan keuangan yang dihasilkan. Penelitian Fahmi . mengungkapkan bahwa praktik manajemen keuangan masjid meliputi tiga komponen, yaitu perencanaan anggaran, pengelolaan dana, serta pengendalian internal. Penelitian Isviandari et. mengungkapkan bahwa pengendalian internal memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Hasil ini Sama halnya dengan penelitian (Puriyanti & Mukhibad, 2. dan penelitian (Syaifuddin, 2. Isviandari al . dalam penelitiannya mengungkapkan Semakin baik pengendalian internal dilaksanakan dalam pengelolaan keuangan masjid semakin baik pula kualitas laporan keuangan masjid yang dihasilkan. Manajemen yang baik akan membuat organisasi dipercaya oleh masyarakat karena peningkatan kepercayaan masyarakat kepada badan usahanya diperlukan organisasi keagamaan khusus agar masyarakat dapat mempercayakan pengelolaan dana yang salah satu sumbernya dari jamaah. Pada penelitian Said . menyatakan pengurus dan komite Masjid berhak ikut serta dalam pengendalian internal yang efektif untuk meningkatkan kinerja keuangan Masjid yang pastinya berdampak terhadap kualitas laporan keuangan. Hal ini disebabkan karena kelalaian dalam pengelolaan dana akan berakibat mudahnya terjadi pencurian, penggelapan, dan bentuk manipulasi lainnya. Penerapan sistem pengendalian internal yang baik akan melindungi masjid dari kelalaian manusia, memberikan jaminan publik pada dana yang disumbangkan sehingga laporan keuangan yang dihasilkan dapat memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan serta membuat organisasi nirlaba lebih berkelanjutan dan dapat dipercaya. Sebaliknya, jika penerapan sistem pengendalian internal lemah, kemungkinan akan terjadinya kecurangan atau kesalahan yang akan menyebabkan salah saji dalam laporan keuangan (Puriyanti & Mukhibad, 2. Sumber pendanaan yang membiayai aktivitas masjid berkaitan erat dengan bersarnya dana yang dikelola oleh masjid. Dengan banyaknya jumlah dana yang disumbangkan ke masjid memerlukan manajemen keuangan yang baik dan sehat. Salah satu ciri manajemen keuangan yang baik dan sehat adalah adanya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan Berbicara mengenai dana masjid, takmir masjid harus paham Jurnal Akuntansi dan Keuangan Islam Vol. No. 2 (Oktober 2. mengenai perencanaan dalam pengumpulan dana. Menurut penelitian Syaifuddin . Pengumpulan dana memiliki pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan yang berkualitas. Karena dengan kegiatan pengumpulan dana merupakan salah satu faktor penentu dalam peningkatan kualitas laporan keuangan. Penelitian Lenap et al. menyatakan Potensi dana masjid dapat dilihat dari penerimaan masjid yang lebih besar dari pengeluaran masjid, jika dikelola dengan baik oleh takmir ini akan dapat menjadi solusi dalam kesenjangan sosial di masyarakat sehingga tidak ada lagi kesenjangan sosial di wilayah sekitar masjid. Tentu semakin banyak dana yang terkumpul oleh pengurus masjid dapat dikatakan sehat pada akhir periode atau tidak mengalami defisit pada laporan keuangan masjid. Hal ini akan berdampak juga terhadap kualitas laporan keuangan yang dihasilkan kususnya arus kas masjid yang sehat. Dana yang dimiliki oleh masjid harus digunakan untuk mensejahterakan masjid, tidak hanya membangun masjid fisik tetapi juga berdampak pada masyarakat (Pramesvari, 2. Oleh karenanya, pengurus masjid dituntut memiliki prinsip fathanah karena dalam manajemen masjid tidak hanya berpikir tentang bagaimana menggunakan keuangan, tetapi juga melibatkan perencanaan Sugiharto et. Dengan prinsip tersebut pengelola masjid akan lebih bijak dan pintar dalam menangani sumbersumber pendapatan tersebut. Zaman era teknologi ini takmir masjid harus sudah mampu dalam mengoperasikan dan mengembangkan dalam memanfaatkan teknologi. Pengelolaan keuangan yang dilakukan secara manual menjadi salah satu penyebab kehilangan data dan berkas laporan. Sedangkan laporan keuangan adalah data yang harus dipertanggung jawabkan (Badharudin & Wijaya. Penelitian Rachmadani et al, . membuat sistem informasi admintrasi keuangan pada sebuah masjid dengan adanya ini memudahkan kegiatan dan pekerjaan takmir sehingga pekerjaannya cepat dan tepat dalam informasi yang dibuat. sama halnya dengan penelitian Badharudin & Wijaya . mereka mampu membuat aplikasi berbasis website dan platform android dalam laporan keuangan sehingga menghasilkan manajemen keuangan masjid yang otomatis dan terkomputerisasi dan dinilai sangat baik pada pengujian user. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Kompetensi takmir dalam menjaga kualitas laporan keuangan masjid, maka diperoleh beberapa simpulan sebagai berikut: Takmir masjid mampu menerapkan akuntansi dan peran akuntansi agar memperlancar manajemen untuk dijadikan sebagai alat perencanaan, pengawasan dan pengambilan keputusan dari takmir masjid. Dewan Kemakmuran masjid harus memberikan kursus atau pelatihan kepada takmir masjid kususnya bendahara masjid dalam membuat laporan keuangan Najmudin dan Bayinah: Kompetensi Takmir Dalam Menjaga Kualitas. sehingga takmir mampu membuat laporan keuangan dan memberikan informasi melalui laporan keuangan kepada masyarakat dan donatur. Masjid sebagai entitas nirlaba perlu menampilkan laporan keuangan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas dari takmir masjid kepada Tentu dengan dibuatnya laporan keuangan masjid diharapkan memberikan informasi berkelanjutan yang berguna sehingga memberikan gambaran apakah tujuan itu dapat dicapai atau sudah terealisasi, untuk pembuatan anggaran periode selanjutnya dan bagi stakeholder mengetahui kinerja organisasi dari takmir masjid. Dengan rincian penerimaan dari donatur dan pengeluaran terlihat jelas di laporan keuangan sehingga mengedepankan transparansi sebagai bentuk tanggung jawab takmir masjid dalam mengelola dana yang diamanahkan oleh jamaah dan menjaga kepercayaan internal pengurus. Bentuk akuntabilitas di masjid dapat dilakukan dengan pelaporan tentang segala aktivitas masjid, salah satunya dengan praktik akuntansi dalam pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang dibuat takmir dilakukan untuk menjawab kecurigaan dan kekhawatiran berbagai pihak mengenai pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh takmir Dalam optimalisasi peran takmir dalam menjaga kualitas laporan keuangan masjid. Pertama, pengurus masjid memiliki sumber daya manusia yang berkompeten. Kedua, pengurus masjid menerapkan manajemen keuangan terkusus untuk pengendalian internal dari pengurus masjid. Ketiga, pengurus masjid menerapkan strategi dalam kegiatan pengumpulan dana. Keempat, pengurus masjid memanfaatkan teknologi dalam hal adminitrasi keuangan dan pelaporan keuangan. Agar penerapan terwujud dalam menjaga kualitas laporan keuangan masjid, takmir masjid dapat lebih memahami dan praktekkan kompetensi oleh takmir masjid. Kompetensi takmir masjid dalam menjaga kualitas laporan keuangan masjid dapat dimaknai sebagai amanah dan kewajibannya kepada stakeholder dan Allah Swt. Maka dengan penelitian ini, diharapkan membantu para takmir masjid dalam memaksimalkan kompetensi untuk menjaga laporan keuangan yang berkualitas. Tentu penerapannya itu dengan niat tulus kepada Allah Swt. DAFTAR PUSTAKA