192 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Tari Lalosu Makkunrai dalam Masyarakat Bugis Wajo Nurwahidah Fakultas Seni dan Desain. Universitas Negeri Makassar, indonesia1 Email: nurwahidah@unm. Abstrak. Penelitian ini didesain untuk menghasilkan data tentang tari Lalosu/Laluso Makkunrai dalam masyarakat Bugis Wajo. Hal ini penting dilakukan karna penelitian ini memiliki relevansi dengan keberlanjutan seni pertunjukan, khususnya seni tari dalam etnis Bugis. Dengan demikian tari Lalosu/Laluso Makkunrai tidak hanya menjadi kisah kenangan manis masa silam, akan tetapi sebagai kontribusi ilmiah dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan bentuk penyajian tari yang meliputi: gerak, penari, pola lantai, musik tari, tempat dan waktu pertunjukan, kostum dan aksesoris, serta properti tari Lalosu/Laluso Makkunrai. Hal ini tentunya berdampak pada penguatan keberadaan Lalosu/Laluso Makkunrai dalam masyarakat etnis Bugis khususnya, dengan cara berkesinambungan dari generasi ke generasi sebagai pewaris budaya. Manfaat lain adalah bahwa hasil penelitian ini menjadi bahan apresiasi dan perbandingan kajian di kalangan akademisi, peneliti, seniman dan pemerhati seni dalam berbagai perspektif sehingga melahirkan informasi ilmu pengetahuan yang lebih komprehensif dan bernilai guna dalam kemaslahatan hidup Lebih spesifik penelitian ini menjadi bahan kajian sumber, dokumentasi, dan inventarisasi jejak kesenian etnis Bugis di Instansi atau Perguruan Tinggi Seni di Sulawesi Selatan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan etnokoreologis dengan pengumpulan data berdasarkan emik, dengan teknik pengumpulan data: observasi, wawancara, maupun dokumentasi. Penulisan etnografinya berdasarkan emik dan etik, serta analisis datanya kulitatif holistik. Kata Kunci: Tari Lalosu Makkunrai. Bentuk penyajian, etnis Bugis. Kabupaten Wajo This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License. Nurwahidah, dosen Prodi Seni Tari. FSD. UNM Tari Lalosu Makkunrai dalam Masyarakat Bugis Wajo PENDAHULUAN Lalosu Makkunrai merupakan salah satu tari yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Bugis Wajo. Tarian ini merupakan pengembangan dari tari tradisional Sere Lalosu/Sere Bissu yang ditarikan oleh Bissu, yakni sebuah komunitas tradisional yang diyakini oleh masyarakat Wajo sebagai manusia suci, mempunyai kesaktian, tabib /dukun, penasehat dalam kerajaan, sekaligus perantara dan penyampai kehendak antara makhluk di bumi (Alekawa/Paratiwi/Butting lin. dengan makhluk di khayangan (Butting langiA. dan makhluk yang mendiami dasar laut (Butting ri Li. , sekaligus penyambung lidah antara rakyat dengan Datu (Raj. yang memerintah dalam masyarakat Bugis Wajo. awancara dengan Angkuru Wajo H. Jannah2 28 mei 1. Hal tersebut diperkuat oleh informasi dari H. Daeng Manda, salah seorang Maestro Tari di Sulawesi Selatan, kelahiran Tosora . alah satu wilayah di Wajo, dan pernah bermukim lama di Tempe dan merupakan teman akrab Andi Muddariah Petta Balla Sar. , bahwa Lalosu Makkunrai merupakan pengembangan dari Sere Lalosu/Sere Alusu/Sere Bissu yang di tarikan oleh Bissu di Wajo. Tarian ini di susun oleh Petta Balla Sari bersama tim dalam sanggarnya pada tahun 1960-an yang akan tampil di Istana Negara dan pada saat penjemputan Presiden RI Ir. Soekarno di Pare-Pare. Hal ini dilakukan karena setiap kali tim kesenian dari seluruh Provinsi di Indonesia akan tampil di Istana, pastilah mereka menampilkan penari yang berpenampilan menarik . antik, gemulai, dan bertalenta bai. di hadapan Presiden dan Tamu Negara. Jika yang ditampilkan adalah Sere Lalosu yang ditarikan oleh Bissu, maka kesannya adalah penyambutan ritual, sementara penampilan yang dibutuhkan adalah penampilan yang menghibur. awancara dengan H. Dg. Manda. Maestro Tari Sulawesi Selatan, 2. Demikian halnya dengan perbincangan dengan Dammar, salah seorang Budayawan di daerah Wajo, bahwa Lalosu Makkunrai dimungkinkan terinspirasi dari gerak Sere Lalosu/Sere Laluso/Sere Bissu yang tidak diketahui kapan keberadaanya di daerah Wajo. Akan tetapi Sere Lalosu/Sere Bissu tersebut selalu ditampilkan di setiap kegiatankegiatan ritual dalam masyarakat Bugis Wajo. Dengan demikian hal ini dimungkinkan sebagai tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat tradisional Bugis Wajo sejak zaman kerajaan. awancara dengan Dammar, 1 Juni 1. METODE PENELITIAN Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah menemukan keberadaan dan bentuk penyajian tari Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo. Hal ini dapat dilakukan dengan kajian tekstual sebagai bahan pelacakan dalam bentuk gerak tari Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo, yang merupakan fenomena tari dipandang sebagai bentuk secara fisik . yang relatif berdiri sendiri. Tari semata-mata merupakan bentuk atau struktur yang Pada masa tersebut H. Jannah masih menjabat sebagai Angkuru Lolo . akil dari Angkuru Toa/Biss. Jannah/Aji Jannah dilantik menjadi Angkuru Toa/Bissu pada tanggal 2 Desember 2003, di rumah Adat Atakkae oleh Buapati Wajo Mustakim Tinulu. 194 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 tampak secara empirik dari luarnya saja . urface structur. , tidak harus mengaitkan dengan struktur dalamnya . eep structur. Ay (Hadi, 2007: . Hal tersebut sejalan dengan pendapat Anya Peterson Royce dalam Anthropology of The Dance, bahwa bentuk tari, yakni membahas tentang struktur yang mengkaji tari dari pendekatan tekstual. Ay ( Royce, 2007: . Dengan demikian tari Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo sebagai sebuah bentuk tari akan dikaji berdasarkan konsep koreografis yang lebih spesifik menganalisa tentang bentuk gerak, sebagai salah satu unsur keutuhan dalam sebuah komposisi tari atau koreografi. Marco de Marinis mengemukakan, bahwa teks seni pertunjukan berbeda dengan teks linguistik yang single layers yaitu bahasa. Teks pertunjukan tidak hanya multikode atau multidimensi, akan tetapi juga direkayasa dari bermacam-macam media ekspresi, yang menunjukkan bahwa teks seni pertunjukan sebagian besar secara material selalu berbeda dan kompleks karena multi layers, yaitu semua elemen dari seni pertunjukan di antaranya penari, gerak, musik tari, tempat pertunjukan, busana tari, properti dan lain-lain (Marinis, 1993: . Penelitian dengan objek material Tari Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo yang menekankan pada bentuk gerak Tari dalam masyarakat etnik Bugis menggunakan etnokoreologi sebagai pendekatan, serta melibatkan beberapa teori dari berbagai disiplin sebagai penyangga/penopang dalam kajian tekstual dan kontekstual tari Maddewata. Etnokoreologi merupakan mata rantai dari etnoart dengan perspektif fenomenologi sebagai payung utamanya . asis filosofisny. Sebagai basis filosofis, fenomenologi merupakan perspektif yang mengarahkan perhatian pada pengetahuan yang dimiliki oleh suatu masyarakat atau golongan dalam suatu masyarakat. Pengetahuan yang dimaksudkan adalah pengetahuan yang bersifat kolektif yang disebut sebagai kesadaran kolektif . ollective counsciousnes. , dalam istilah etnosains disebut Dengan kata lain fenomenologi mengungkapkan makna-makna yang diberikan oleh para pelaku, karena definisi dan makna-makna tersebut merupakan halhal yang secara mendasar membimbing dan mengendalikan perilaku-perilaku para aktor . terhadap lingkungan yang mereka hadapi (Ahimsa-Putra, 2005: 109-. Etnoart sebagai akar dari etnokoreologi memiliki beberapa asumsi dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki kesadaran, memiliki pengetahuan atas apa yang dilakukan, serta memiliki tujuan-tujuan berkenaan dengan perilaku atas Kesadaran inilah yang membimbing manusia dalam berperilaku dan Kesadaran manusia atas apa yang ada di sekelilingnya, atas tujuan-tujuan yang dimilikinya, serta atas apa yang dilakukannya membuat gejala sosial budaya bermakna tidak hanya bagi peneliti tapi juga bagi pelakunya . Oleh karena itu makna-makna yang perlu ditampilkan, adalah pertama-tama makna yang diberikan oleh pelaku, bukan makna yang diberikan oleh peneliti (Ahimsa-Putra, 2007: 6-. Dengan demikian etnokoreologi sebagai sebuah perspektif yang berakar dari etnoart merupakan kajian tentang kesenian yang menggunakan sudut pandang emik atau sudut pandang orang yang diteliti, dan akan digunakan dalam penelitian Bentuk Tari Lalosu Makkunrai dalam Masyarakat Bugis Wajo Gerak Tari Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo . Ahimsa-Putra mengemukakan, bahwa etnokoreologi sebagai sub disiplin dari ethnoart yang mempelajari berbagai macam bentuk dan jenis tarian pada berbagai suku bangsa di dunia sebagai objek materialnya, dan menggunakan perspektif emik dalam penelitiannya, khususnya pada tahap pengumpulan data, dan pada tahap penulisan etnografinya menggunakan perspektif emik-etik, dan holistik, serta menggunakan perspektif komparatif dalam analisisnya sebagai objek formalnya . al ini menempatkan etnokoreologi sebagai sebuah paradigm. (Ahimsa-Putra, 2008: 103-. Pendekatan etnokoreologi dalam penelitian ini salah satunya akan menekankan sudut pandang emik ketika akan membongkar konsep-konsep pemikiran para pewaris dalam mempertahankan dan mengembangkan tari Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo dalam kehidupan mereka. Penelitian tari Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo ini merupakan kombinasi kajian tekstual dan kontekstual. Kajian tekstual memandang kesenian sebagai teks. Kehadiran teks tersebut untuk dibaca dan dideskripsikan, bukan untuk dicari dan dijelaskan sebab Lain halnya dengan kajian kontekstual yang menempatkan fenomena kesenian dalam konteks yang lebih luas, yakni konteks sosial-budaya masyarakat yang diteliti . eep structur. (Ahimsa-Putra, 2000: . Pemahaman dan penjabaran mendalam tentang kajian tersebut membutuhkan referensi-referensi penyangga yang mendasar, khususnya dalam penelitian Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo menggunakan pendekatan etnokoreologis untuk menganalisis secara tekstual. Lokasi Penelitian Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo, dilaksanakan di Kabupaten Wajo. Sumber data pada penelitian Lokasi Penelitian Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo dalam Masyarakat Bugis Wajo, diperoleh dari sumber primer dan sekunder dengan lokasi penelitian di daerah Wajo. Sumber primer di antaranya Petta Ballasari. BapaAo Manda (Maestro Tari Sulawesi Selata. BapaAo Dammar. BapaAo Herman, penari dan pemusik Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo pada masanya. Sumber sekunder, yaitu budayawan, tokoh masyarakat, seniman, dan masyarakat etnis Bugis yang terkait maupun tidak terkait secara langsung dengan Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo . Hal lain adalah sumber tertulis di antaranya lontara dan benda-benda peninggalan sejarah yang terdapat pada LangkanaE dan Saoraja . empat tinggal raja/istan. , dan jejak-jejak sejarah lainnya yang ada di Wajo serta dokumen berupa foto dan lukisan yang semuanya merupakan gambar yang bercerita tentang sebuah peristiwa di daerah Wajo. Melengkapi data penelitian Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo dalam Masyarakat Bugis Wajo, yang dilaksanakan di Kabupaten Wajo dan sekitarnya. Studi pustaka bertujuan mencari data akurat tentang objek penelitian dan mencari konsep-konsep teori yang dapat digunakan untuk mengupas permasalahan melalui seleksi tulisan atau buku-buku yang mendukung objek penelitian. Studi Pustaka dalam hal ini, digunakan untuk memperoleh informasi awal tentang objek penelitian dengan penelusuran literatur-literatur seperti dalam tinjauan pustaka, khususnya bukubuku yang menjadi referensi dalam studi-studi terdahulu. Kegiatan ini sudah 196 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 berlangsung sejak perancangan proposal penelitian, dan akan dilanjutkan secara terus menerus setelah persetujuan proposal penelitian. Melalui observasi memungkinkan untuk mendapatkan informasi yang tidak didapatkan melalui studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian dengan judul Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo dalam Masyarakat Bugis Wajo, dilaksanakan di Kabupaten Wajo dan sekitarnya, merupakan penelitian lapangan sehingga observasi pada penelitian ini sangat diperlukan, karena banyak hal yang menyangkut penelitian, terutama penelitian seni tradisi dalam hal ini Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo sangat susah didapatkan datanya melalui wawancara, dan terkadang pemilik kesenian tidak mengerti maksud pertanyaan atau bahkan menutup-nutupi kejadian yang sesungguhnya karena dianggap tabu/pamali untuk memberi jawaban. Hal ini sebagai penegas, bahwa observasi sangat membantu peneliti untuk memperoleh data secara detail dengan melihat atau mengamati secara langsung pelaku, masyarakat pemilik kesenian, maupun penikmat kesenian yang merupakan objek penelitian, terutama keluarga bangsawan di Wajo, dan penari serta pemusik . Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo. Kegiatan ini sudah berlangsung sebelum dan sejak perancangan proposal penelitian, dan dilanjutkan secara terus menerus setelah persetujuan proposal penelitian. Wawancara digunakan untuk mendapatkan data yang otentik dan kredibel. Wawancara dilakukan dengan mendalam dengan informan atau nara sumber di antaranya Petta Ballasari dan keluarga, penari dan pemusik Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo . Nara sumber tersebut merupakan pelaku Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo pada zamannya dan pemelihara Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo sampai sekarang sehingga dapat memberikan data dan penjelasan terutama mengenai bentuk penyajian Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo yang meliputi penari . enis kelamin, umur, status sosia. , gerak . otif, ragam, leve. , pola lantai, tempat dan waktu pertunjukan, musik tari, kostum, tata rias, dan property, dengan prioritas dalam penelitian ini adalah bentuk gerak tari Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo . Kegiatan ini sudah berlangsung sebelum dan sejak perancangan proposal penelitian, dan dilanjutkan secara terus menerus setelah persetujuan proposal penelitian. Teknik pendokumentasian yaitu melakukan pendokumentasian dengan cara pengambilan data dengan cara mengkaji dokumen yang dimulai dari proses studi pustaka, wawancara, dan observasi, maupun secara audio visual . engambilan gambar, perekaman suara, secara visual, audio atau penggabungan keduanya yakni audio visua. Pengambilan data tersebut tentunya menggunakan alat pendokumentasian diantaranya perekaman audio, camera digital, dan perekaman audio visual/handycame. Kegiatan pendokumentasian sudah berlangsung sebelum dan sejak perancangan proposal penelitian, dan dilanjutkan secara terus menerus setelah persetujuan proposal penelitian. Analisis data dalam penelitian Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo dalam Masyarakat Bugis Wajo, dilaksanakan di Kabupaten Wajo dan sekitarnya. dengan menggunakan pendekatan etnokoreologis, dilakukan dengan proses analisis data kualitatif secara Tari Lalosu Makkunrai dalam Masyarakat Bugis Wajo Analisis tersebut berlangsung secara terus menerus, mulai dari pra lapangan . ebelum memasuki lapanga. , di lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Analisis sebelum di lapangan . nalisis pra lapanga. dilakukan berdasarkan hasil studi pendahuluan . ata sekunde. , yang akan digunakan untuk menemukan fokus Data sekunder tersebut didapatkan dari sumber tertulis, yakni beberapa tulisan atau referensi tentang tari di Sulawesi Selatan, khususnya dalam etnis Bugis yang ditulis oleh beberapa penulis lokal maupun asing. Analisis selanjutnya dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh, melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Reduksi data: merangkum, memilih hal-hal yang pokok ,memfokuskan pada hal-hal yang penting dengan mencari tema dan polanya, untuk memperjelas data yang sesungguhnya Data yang direduksi pada penelitian ini adalah data yang berkaitan dengan bentuk gerak Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo . Penyajian data: digunakan dalam penelitian adalah dengan teks yang bersifat naratif, biasanya berupa catatan lapangan. Verifikasi data: Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah temuan baru yang belum pernah ada, atau temuan yang sebelumnya masih remang-remang, gelap sehinga setelah diteliti menjadi lebih jelas. Temuan-temuan . yang didapatkan jika menjadi stagnan atau konsisten dari awal . maka kesimpulan tentang data tersebut dianggap sah . Kata lain adalah melakukan uji validitas penelitian, yakni derajad ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dilaporkan. Keabsahan data di cek dengan teknik triangulasi, yakni . Membandingkan data hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, . Membandingkan pernyataan setiap informan yang dinyatakan di depan umum maupun secara pribadi, . Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dari berbagai kalangan, misalnya keadaan dan perspektif rakyat biasa, bangsawan, kalangan berpendidikan, kalangan/orang berada . aya/berkecukupa. , dan kalangan/orang pemerintahan. Perbandingan tersebut mengarahkan pada temuan data yang mendasari perbedaan dan persamaan tersebut yang berujung pada temuan data yang sesungguhnya . alid/sa. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Penyajian Tari Lalosu Makkunrai Wajo Kata tari merupakan istilah dari bahasa Indonesia yang sepadan pemaknaanya dengan kata dance (Inggeri. , hula (Hawa. oged, lenggot bawa,taya, tandhak,igel (Jawa Tenga. , igel, mangigel, solah-masolah, pragina (Bal. , baindang, bailau (Sumatera Bara. , dalang (Cirebo. , jaga, sere, joget (Bugi. , gellu (Toraj. , malluya (Mamas. , sayo (Mamuj. ,angngarru, kanjara, sere jaga, akarena (Makassa. (Dibia dkk ,2007: . Kata Tersebut bermakna menggerakkan anggota tubuh baik yang pelan, cepat, disentakkan, di sengaja, ataupun tubuh bergerak karena tekanan emosi dari dalam tubuh. 198 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 Dalam traktat ilmiah tari di kenal dengan nama Choreography, yang berarti karya Dari kata ini kemudian dikenal istilah choreology . lmu tentang gera. ,dan choreographer . rang yang menciptakan gerak atau penata gera. ,(Echols and Hassan Shadily,1994:. Definisi tari dikemukakan oleh beberapa ahli diantaranya: . Corrie Hartong. Autari adalah gerak yang berbentuk dan ritmis dari badan , di dalam ruangAy . alam Sugianto, 2004:. , . Kamaladevi Catopadhnya. Autari adalah gerakan yang luar dan ritmis yang lama-kelamaan mengarah kepada bentuk-bentuk tertentuAy . alam Rusliyana, 1986:. , . John Martin. Autari adalah perwujudan tekanan emosi dalam bentuk gerak tubuhAy . alam Nadjamuddin, 1983:. , . Susanne K. Langer. Autari bukan sekedar menggerakkan tubuh dengan teknik yang baik, juga bagaimana menggerakkan emosi penontonAy . , . Pangeran Soeryadiningrat. Autari adalah gerak seluruh tubuh yang disertai dengan bunyi-bunyian . , ekspresi muka, dan gerak diserasikan dengan isi dan maknaAy . alam Wardana, 1990:. , dan . Soedarsono. Autari adalah ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan dalam gerak-gerak yang ritmis dan indahAy ( Soedarsono, 1977: . Uraian di atas memberikan gambaran bahwa tari diungkapkan dengan menggunakan tubuh manusia sebagai media utama,sebagai ekspresi jiwa yang diproyeksi melalu keteraturan gerak baik gerak representatif maupun simbolik, dan irama yang diciptakan oleh gerak maupun sebaliknya, ataupun irama internal maupun eksternal dalam suatu ruang, baik ruang dalam tubuh maupun diluar tubuh penari yang mempunyai makna. Makna . dalam tari sebagai pembeda antara gerak keseharian dan gerak yang diproyeksi dalam sebuah tari. Tari secara geografis dibagi menjadi dua yakni tari tradisional dan non tradisional. Tari tradisional dibagi menjadi tiga yakni tari tradisional primitif, rakyat, dan klasik. Sedangkan tari non tradisional, yaitu tari modern, post modern, kreasi, kontemporer, teater tari, dan eksperimental dance. (Lathief, 1. Lalosu Makkunrai sebagai tari yang merupakan pengembangan dari Sere Lalosu/Sere Bissu akan di kaji secara tekstual . ajian tekstua. sebagai bahan pelacakan dalam bentuk penyajian tari Lalosu Makkunrai, merupakan fenomena tari dipandang sebagai bentuk secara fisik . yang relatif berdiri sendiri. Tari semata-mata merupakan bentuk dan atau struktur yang tampak secara empirik dari luarnya saja . urface structur. , tidak harus mengaitkan dengan struktur dalamnya . eep structur. Ay (Hadi, 2007: . Hal tersebut sejalan dengan pendapat Anya Peterson Royce dalam Anthropology of The Dance, bahwa bentuk tari, yakni membahas tentang struktur yang mengkaji tari dari pendekatan tekstualAy ( Royce, 2007: . Dengan demikian Lalosu Makkunrai sebagai sebuah bentuk tari akan dikaji berdasarkan konsep koreografis . nalisis koreografi. yang meliputi unsur penari, gerak, pola lantai, musik tari, tempat pertunjukan, kostum, tata rias, dan properti, sebagai keutuhan dalam sebuah komposisi tari atau koreografi. Sebagai penegas Marco de Marinis mengemukakan, bahwa teks seni pertunjukan berbeda dengan teks linguistik yang single layers yaitu bahasa. Teks pertunjukan tidak hanya multikode atau multidimensi, akan tetapi juga direkayasa dari Tari Lalosu Makkunrai dalam Masyarakat Bugis Wajo bermacam-macam media ekspresi, yang menunjukkan bahwa teks seni pertunjukan sebagian besar secara material selalu berbeda dan kompleks karena multi layers, yaitu semua elemen dari seni pertunjukan di antaranya penari, gerak, musik tari, tempat pertunjukan, busana tari, properti dan lain-lain (Marinis, 1993: . Penari Lalosu/Laluso Makkunrai Wajo Masyarakat tradisional Bugis Wajo mempercayai bahwa setiap bilangan, baik dalam hitungan ganjil maupun genap memiliki makna, dan hal tersebut sangat berpengaruh dalam penentuan jumlah dalam banyak hal, demikian halnya dalam penentuan jumlah penari. Jumlah genap merupakan hitungan baik yang diyakini oleh masyarakat tradisional Bugis Wajo, yakni sigenne-gennekengi . ukup/berpasanga. , yakni segala sesuatu memiliki pasangan, yakni siang dengan malam, kiri dengan kanan, bumi dengan langit, perempuan dengan laki-laki yang bertujuan untuk melengkapi keberadaan hidup manusia di bumi, sehingga dalam menetapkan jumlah penari selalu dalam hitungan genap. Secara teknis sangat rasional, karena Lalosu Makkunrai mempunyai ragam mappabitte . enyabung aya. , yang otomatis harus mempunyai pasangan dalam menyabung ayam. Biasanya jumlah penari 12 sampai 24 orang menyesuaikan derajat penyelenggara hajatan. Terkadang pula karena keterbatasan penari dan ruang, akhirnya penari hanya 6 orang. Bahkan kini jumlah penari disesuaikan dengan ketersediaan dana dari penyelenggara hajatan. Gerak Tari Lalosu Makkunrai Wajo Lalosu Makkunrai memiliki empat ragam gerak, yakni ragam gerak Sere Suwali . ergerak dengan satu tanga. , ragam Mappabbitte . enyabung aya. , ragam Bali Sumange ( Berharap memperoleh keselamatan dan keberkaha. , ragam Caddio-rio . Adapun deskripsi gerak sebagai berikut. Ragam Sere Suwali . ergerak dengan satu tanga. Penari berdiri dengan sikap badan tegak menghadap ke depan, pandangan menghadap ke penonton. Kedua tangan memegang lalosu sambil digerakkan didepan badan . osisi awa. Tangan kiri kemudian memegang lalosu di depan badan sejajar dengan dada, kepala lalosu berada di sebelah kanan badan dan ekor disebelah kiri badan. Tangan kanan lurus ke bawah di samping badan. Kaki kanan kemudian diangkat ke depan dikuti kaki kiri dengan mengeper. Tangan kiri diputar di samping badan, dari arah bawah ke atas. Posisi penari membentuk dua baris sejajar . Ragam Mappabbitte . enyabung aya. Posisi penari tetap membentuk dua baris sejajar . Penari kemudian berjalan jinjit bertemu ditengah dengan posisi berlawanan dengan gerak mengadu ayam . empertemukan kepala aya. Selanjutnya berjalan jinjit kembali ke tempat dengan posisi tetap berlawanan. Kedua tangan tetap memegang lalosu, kemudian 200 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 penari terbagi dua, dan membentuk formasi selang-seling dengan pola lantai Kelompok pertama berjalan jinjit ketengah da mempertemukan kepala ayam, kelompok kedua berjalan jinjit ke arah luar lingkaran dengan posisi lalosu menhadap ke bawah. Penari dari arah luarpun masuk ke tengah lingkaran, dan penari di tengah lingkaran membalikkan badan untuk mempertemukan kepala lalosu . erak menyabung aya. Gerakan di ulang tiga kali dengan hitungan 6 x 8. Ragam Bali SumangeAo (Berharap memperoleh keselamatan dan keberkaha. Penari membentuk formasi sejajar . , mempertemukan badan lalosu dengan saling berhadapan, kemudian lalosu di letakkan di lantai dengan sejajar. Penari bergerak menyilangkan tangan di depan badan sambil berdiri, kemudian kedua tangan di ayun dan di putar disamping badan sejajar dengan paha. Kedua tangan kemudian di ayun bergantian ke sebelah kanan dan kiri atas, sedikit melewati Tangan kemudian di tepuk ringan ketika di ayun pada posisi kiri-atas. Gerak di ulang sambil bergantian tempat, membentuk 4 arah mata angin, dan kemudian kembali ke posisi semula untuk mengambil lalosu. Ragam Caddio-rio . Posisi penari kembali berbanjar menghadap ke depan. Kedua tangan memegang lalosu kemudian di ayun ke kanan 1 kali, dan ke kiri dua kali. Kedua tangan kemudian memegang lalosu seperti posisi awal untuk melakukan penghormatan. Penari selanjutnya membuka jalan untuk dilewati tamu undangan menuju tempat yang Ragam gerak tersebut di atas dilakukan dalam pola lantai atau garis yang dibentuk oleh penari di atas panggung dengan cara: Mabbarisi liolo . Mabbarisi libenreng . , dan mallebu . Bentuk pola lantai tersebut merupakan simbol yang memiliki makna dan nilai dalam masyarakat Bugis Wajo. Musik Tari Lalosu Makkunrai Wajo Istilah musik dikenal dari bahasa Yunani yaitu Musike ( Hardjana,1983: 6-. Musike berasal dari perkataan muse-muse, yaitu sembilan dewa-dewa Yunani di bawah dewa Apollo yang melindungi seni dan ilmu pengetahuan. Dalam metodologi Yunani kuno mempunyai arti suatu keindahan yang terjadinya berasal dari kemurahan hati para dewa-dewa yang diwujudkan sebagai bakat. Kemudian pengertian itu ditegaskan oleh Pythagoras, bahwa musik bukanlah sekedar hadiah . egeniusan/baka. dari para dewadewi, akan tetapi musik juga terjadi karena akal budi manusia dalam membentuk teoriteori dan ide konseptual. Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa Musik adalah perilaku sosial yang kompleks dan universal. Setiap orang atau setiap kelompok masyarakat memiliki apa yang disebut dengan musik, dan sewajarnyalah jika setiap anggota masyarakatnya adalah musikal (Djohan 1995: . Sejatinya musik adalah : . Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau kumpulan Tari Lalosu Makkunrai dalam Masyarakat Bugis Wajo bunyi dan disajikan sebagai musik. Bunyi/kesan terhadap sesuatu yang di tangkap oleh indra pendengar, . Suatu karya seni dengan segenap unsur pokok dan Musik tari Lalosu Makkunrai menggunakan instrument yang sama dengan yang digunakan pada Sere Bissu, yakni sepasang genrang . , ana beccing, ana kancing, lea-lea, kato-katto, suling, dan gong. Bagi masyarakat tradisional Bugis Wajo, jika alat musik tersebut digunakan sebagai musik tari Sere Bissu, maka alat musik tersebut maupun serangkaian bunyi yang dihasilkan diyakini dan dimaknai sebagai tetabuhan untuk mengundang para penghuni kerajaan langit (Butting ri Lang. maupun penghuni kerajaan dasar laut (Buttimg ri Li. untuk menyaksikan dan merestui hajatan yang di lakukan. Akan tetapi jika digunakan untuk musik tari Lalosu Makkunrai, maka serangkaian bunyi tersebut adalah pemberi tempo, memberi nuansa, dan aksentuasi bagi peralihan gerak, sekaligus kehadiran musik bersama gerak melengkapi keindahan sebuah koreografi. Tempat Pertunjukan Lalosu Makkunrai Pementasan Lalosu Makkunrai tidak dibatasi oleh waktu maupun ruang pertunjukan Lalosu Mankkunrai dipentaskan diberbagai upacara dan kegiatan dalam masyarakat Bugis Wajo, baik di rumah bangsawan, gedung pertunjukan, pada acara penyambutan tamu resmi pemerintahan, acara pernikahan, pelantikan pejabat pemerintahan, dan lain sebagainya. Kostum/ Busana Tari. Aksesoris. Tata Rias, dan Properti Tari Lalosu Makkunrai Kostum tari Lalosu Makkunrai tidak berbeda dengan kostum Sere Bissu/Sere Lalosu. Hanya saja karena kostum tersebut digunakan oleh perempuan tulen, maka kesan kostum tersebut lebih feminim dibanding ketika dipakai oleh Bissu. Tentunya tata riaspun mempunyai peran penting dalam menyempurnakan penampilan penari, yakni tata rias cantik yang menyesuaikan tempat dan waktu pertunjukan. Sebagaimana asal tari Lalosu Makkunrai, yakni Sere lalosu/Sere Bissu yang ditarikan oleh Bissu yang memiliki satu wujud dengan dua sifat, yakni maskulinitas dan feminitas. Hal inipun tercermin pada kostum yang di gunakan, yakni menggunakan baju bodo . usana perempua. dan terkadang menggunakan jas tutup . usana laki-laki-lak. atau menggunakan kebaya modern panjang, rok . usana perempua. /kain, celana panjang . usana laki-lak. , dilengakapi dengan selendang . usana perempua. dan destar . kat kepala sebagai busana laki-lak. Penggunaan warnapun menyimbolkan warna penghuni langit, yakni warna merah . ewakili laki-laki/Batara Guru/dewa khayanga. dan warna penghuni yang mendiami dasar laut yakni warna kuning . ewakili perempuan/We Nyili Timo/dewi dasar lau. Sekalipun aturan paten kostum Lalosu Makkunrai menyerupai kostum Sere Bissu seperti yang tersebut di atas, akan tetapi aturan kostum tersebut tidak mengikat, bahkan sudah ada beberapa kelompok tari yang menggunakan baju bodo dan rok panjang 202 INSIGHT: Indonesian Journal of Social Studies and Humanities Vol. No. 1, 2026 tanpa menggunakan celana panjang dan destar, yang menjadi keharusan adalah properti lalosu. Demikian halnya dengan penggunaan warna, menyesuaikan dengan selera pemakai, dan penyelenggara hajatan. Aksesoris yang digunakan terbuat dari bahan kuningan atau perak yaitu geno sirue/geno mabbule . , bangkara taroe . , lola . , simattayya . engikat lengan baj. , selendang, dan destar/passapu . engikat kepal. Lalosu merupakan istilah bahasa Bugis yang terdiri dari dua kata yakni lao dan Lao berarti pergi dan lesu berarti pulang yang ketika di gabung menjadi mallaolesu . ulang pergi/tidak menetap di satu tempa. atau mallesu-lesu . erulang-ulan. Sebagai sebuah benda. Lalosu merupakan properti tari yang terbuat dari awo . yang berukuran sekitar 50 cm, dan dibungkus dengan anyaman daun lontar yang berbentuk ayam, pada ujung sebelah kanan bambu berbentuk kepala ayam, dan ujung sebelah kiri berbentuk ekor ayam, dan di dalam bambu berisi buah sapa . uah pete cin. yang kering, yang menimbulkan efek bunyi ketika lalosu dimainkan pada saat menari. awancara dengan Herman, pimpinan Sanggar Teko Sengkang, 1 Juni 1. Pembahasan Lalosu tidak sekedar sebagai properti tari, tapi juga masyarakat tradisional Bugis Wajo tertama kaum Bissu mempercayai bahwa benda tersebut merupakan benda kesayangan makhluk khayangan, yakni para dewa menyukai ayam dan merupakan permainan/kesenangan para dewa. Mereka meyakini bahwa ketika Lalosu dimainkan, maka dewa-dewa akan turun bergabung dengan makhluk bumi, dan hajatan yang dilakukan akan berjalan dengan lancar. Perkembangan Lalosu Makkunrai menjadi familiar dalam masyarakat Bugis Wajo. Peran Andi Muddariah Petta Ballasari sebagai bangsawan yang berpengaruh di Wajo, sekaligus pemilik penginapan yang dikenal dengan nama Hotel Apada sangatlah besar pada masanya dalam memperkenalkan tari tradisional maupun tari kreasi Bugis Wajo. Tamu-tamu hotel baik wisatawan domestik maupun mancanegara, serta tamu-tamu pemerintah yang menginap di Hotel Apada senantiasa di jamu dan di jemput dengan tari Lalosu Makkunrai sebagai salah satu tatacara mappakkeadeAo . atacara/tatakram. dalam tradisi penjemputan selain tari Padduppa. Sebagaimana falsafah hidup masyarakat Bugis Wajo Ausipakatau, sipakaingeAo, sipakalebbiAy . aling menghargai sebagai manusia, saling mengingatkan, dan saling memuliaka. Hal inipun dibarengi dengan semboyan masyarakat Bugis Wajo Au Maradeka To Wajo-E adeAona NapoPuangAy (Orang Wajo itu adalah orang merdeka dan menjunjung tinggi adat istiada. Kini Lalosu Makkunrai tidak hanya dipentaskan di Hotel Apada . ang sudah berubah bentuk bangunanny. saja, melainkan dipentaskan diberbagai upacara dan kegiatan dalam masyarakat Bugis Wajo, di antaranya: pada acara penyambutan tamu resmi pemerintahan, acara pernikahan, pelantikan pejabat pemerintahan, dan lain sebagainya. Tari Lalosu Makkunrai dalam Masyarakat Bugis Wajo Kesimpulan Lalosu merupakan properti tari tradisional masyarakat Bugis Wajo yang memiliki makna lebih dari sekadar benda pendukung pertunjukan. Secara etimologis, istilah Lalosu berasal dari kata lao . dan lesu . yang mengandung makna pergerakan yang berulang atau tidak menetap. Sebagai properti tari. Lalosu dibuat dari bambu yang dibalut anyaman daun lontar berbentuk ayam dan menghasilkan bunyi khas ketika dimainkan. Dalam kepercayaan tradisional Bugis, khususnya di kalangan Bissu. Lalosu memiliki nilai sakral karena diyakini sebagai benda kesukaan para dewa yang berfungsi sebagai media penghubung antara dunia manusia dan dunia khayangan, sehingga penggunaannya diharapkan membawa keberkahan dan kelancaran dalam suatu hajatan. Perkembangan Tari Lalosu Makkunrai tidak terlepas dari peran Andi Muddariah Petta Ballasari yang berjasa memperkenalkan dan melestarikannya sebagai bagian dari tradisi penyambutan tamu di Wajo. Tari ini menjadi simbol penghormatan dan keramahan masyarakat Bugis Wajo yang berlandaskan nilai sipakatau, sipakaingeAo, sipakalebbi serta semangat menjunjung tinggi adat istiadat. Seiring perkembangan zaman, fungsi Tari Lalosu Makkunrai mengalami perluasan dari pertunjukan yang awalnya dipentaskan di Hotel Apada menjadi tari penyambutan yang hadir dalam berbagai kegiatan sosial dan pemerintahan, seperti penyambutan tamu resmi, pernikahan, pelantikan pejabat, dan acara adat lainnya. Dengan demikian. Tari Lalosu Makkunrai tidak hanya berfungsi sebagai warisan seni budaya, tetapi juga sebagai representasi identitas, nilai sosial, dan kearifan lokal masyarakat Bugis Wajo yang terus hidup dan berkembang hingga saat ini. DAFTAR PUSTAKA