KAJIAN VISUAL MOTIF PADA KAIN IKAT KEPALA KHAS CIREBON Fariz Al Hazmi Universitas Indraprasta PGRI farizalhazmi16@gmail. ABSTRACT Works of art from the past often hold historical value, reflecting the lives of people in society. The typical Cirebon headbands at the Jakarta Textile Museum convey various stories through their visual elements, which are preserved today through conservation efforts. This research aims to visually examine the motifs of typical Cirebon headbands in the Jakarta Textile Museum. The research employs a descriptive qualitative method with a visual semiotic approach, enabling the identification and analysis of the symbols and meanings of these motifs. Data collection techniques include observation and documentation. Two headband fabrics are used as research objects: the Macan Ali motif headband and the Sawat motif headband. Both were donated by general practitioner Mangkunegoro Vi in 1976 and were created using batik techniques. The study reveals that the Macan Ali headband motif represents symbols of the Cirebon Palace and Islam, incorporating calligraphic motifs symbolizing tawhid. In contrast, the Sawat motif headband reflects Javanese-Hindu influence, featuring motifs such as Garuda wings, the tree of life, meru, and tongues of fire, symbolizing the cosmology of life. Keywords: Headband Fabric. Batik Motif. Visual Semiotics. Cirebon. ABSTRAK Karya seni yang berasal dari masa lalu terkadang memiliki nilai historis yang mencerminkan kehidupan masyarakatnya. Kain ikat kepala khas Cirebon yang berada di Museum Tekstil Jakarta menyimpan berbagai cerita melalui visualnya yang terus di jaga hingga saat ini melalui Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji motif kain ikat kepala khas Cirebon yang ada di Museum Tekstil Jakarta secara visual. Metode penelitian menggunakan kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika visual. Sehingga simbol dan makna yang ada pada motif-motif tersebut dapat diungkapkan melalui identifikasi dan analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, terdapat dua kain ikat kepala sebagai objek penelitian yaitu ikat kepala motif Macan Ali dan motif Sawat. Kedua kain tersebut didapatkan dari sumbangan GP. Mangkunegoro Vi pada tahun 1976 dan dibuat dengan teknik batik. Hasil penelitian menemukan bahwa motif pada kain ikat kepala Macan Ali memvisualkan simbol Keraton Cirebon dan keislamannya dengan beberapa motif kaligrafi Sedangkan pada kain ikat kepala motif Sawat merupakan kain yang berasal dari pengaruh Jawa-Hindu dengan motif sayap garuda, pohon hayat dan meru dan lidah api sebagai simbol kosmologi kehidupan. Kata kunci: Kain Ikat Kepala. Motif Batik. Semiotika Visual. Cirebon. Vol. No. Juni 2024 Fariz Al Hazmi Kajian Visual Motif Pada Kain Ikat Kepala Khas Cirebon Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. PENDAHULUAN Seni yang berasal dari kreativitas masyarakat. kebudayaan adalah pola asumsi yang ditemukan dan ditentukan oleh suatu kelompok tertentu (Syakhrani dkk. , 2. Pola tersebut merupakan elemen penting karena memberikan makna tersirat yang terkait dengan nilai, kepercayaan, cara berpikir, cara hidup, dan pandangan dunia yang diadopsi oleh anggota masyarakat pada waktu tertentu (Eko & Putranto, 2. Wilayah geografis dan suku bangsa yang beragam membentuk suatu kebudayaan dan menyebabkan banyaknya potensi kesenian dengan berbagai wujud (Sunaryo, 2. Karya seni sebagai hasil budaya masyarakat memiliki peran dan makna penting dalam kehidupan mereka sebagai sesuatu yang perlu dilestarikan, terutama karya seni yang memiliki simbol-simbol penting di dalamnya. Seperti halnya karya seni yang berwujud dan terkadang menghadirkan bentuk-bentuk visual yang bermakna. Karya menggambarkan kehidupan masyarakat pembuatnya. Karena seni dapat berfungsi dalam memberikan aspek tentang eksistensi sosial atau kolektif dari bermacam-macam pengalaman personal maupun individu (Feldman, 1. , sehingga, proses pelestarian menjadi bagian penting agar dapat terus terjaga dan dapat dipelajari oleh generasi ke Melestarikan seni pada dasarnya berkaitan dengan warisan, sejarah tradisi dan keterampilan (Kay, 2. Karya-karya seni sebagai benda masa lalu memiliki nilai yang perlu dilestarikan dan menjadi warisan yang harus dijaga dengan baik (Al Hazmi & Damayanti, 2. Museum tekstil Jakarta merupakan salah satu tempat pelestarian karya seni yang menyimpan dan merawat benda-benda berupa karya seni tekstil. Museum tersebut diresmikan pada tahun 1976 dan telah menyimpan ribuan koleksi karya tekstil dari berbagai wilayah di Indonesia maupun dari luar negeri. Salah satu koleksi kain yang ada di Museum tekstil yaitu berupa ikat kepala dari Cirebon yang didapatkan oleh museum pada tahun 1976. Kain ikat kepala tersebut masih terjaga hingga saat ini melalui perawatan yang dilakukan oleh Museum Tekstil Jakarta. Nilai-nilai yang ada di dalamnya membuat kain ikat kepala khas cirebon menjadi karya yang sangat penting hingga dilestarikan agar tidak rusak dan hilang begitu saja. Bagian yang bernilai pada kain ikat kepala khas Cirebon tidak hanya pada fungsinya sebagai ikat kepala yang digunakan masyarakat, akan tetapi juga motif yang ada pada ikat kepala tersebut. Motif-motif pada kain ikat kepala khas Cirebon yang ada di Museum Tekstil Jakarta dibuat dengan teknik batik. Motif merupakan dasar pokok Vol. No. Juni 2024 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. suatu gambar yang dapat memiliki makna, tanda atau simbol yang dapat diungkapkan (Wulandari, 2022. Eskak, 2. Motif pada batik terkadang dibentuk melalui pemahaman masyarakat terhadap lingkungan dan menghasilkan bentuk visual yang bermakna (Al Hazmi, 2. , sehingga motif-motif yang ada pada kain ikat kepala khas Cirebon memiliki simbol dan makna yang dapat diungkapkan melalui kajian visual. Mengkaji mengungkapkan kondisi di masa lalu dan peranan produk budaya tersebut di tengah masyarakat pembuatnya. Berbagai penelitian terkait kajian visual terhadap batik Cirebon telah dilakukan untuk mengungkapkan sebuah makna pada motifnya. Penelitian yang dilakukan oleh Muthiah . menjelaskan bahwa kebanyakan motif batik Cirebon menampakkan pengaruh cina pada wujudnya dan berperan penting bagi Keraton Cirebon. Kemudian Yusup . dalam penelitiannya menjelaskan bahwa motif batik mega mendung Cirebon menjelaskan makna yang begitu mendalam sebagai motif yang berasal dari interaksi antara kebudayaan China dan Cirebon. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Handayani . , menyebutkan bahwa batik Cirebon tidak hanya merefleksikan nilai-nilai budaya, akan tetapi berdampak pada kehidupan sosial Dari beberapa penelitian yang ada dapat dipahami bahwa motif batik Cirebon merupakan karya seni yang berperan penting dalam kehidupan masyarakatnya, baik secara makna maupun simbolis. Nilai makna dan simbolis tersebut juga tentunya dapat dimiliki oleh kain ikat kepala yang terdapat di Museum Tekstil Jakarta, terutama pada bentuk-bentuk visualnya yang beragam. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji motif kain ikat kepala khas Cirebon yang ada di Museum Tekstil Jakarta. Sehingga simbol dan makna yang ada pada motif-motif tersebut dapat diungkapkan sebagai suatu bagian penting yang ada di masyarakat Cirebon. Mengkaji visual dapat dilakukan melalui pendekatan semiotika visual. Innis . mengatakan bahwa secara pengertian semiotika atau semiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu AusemeionAy yang berarti ilmu yang mengkaji tanda-tanda. Menurut Budiman . , semiotika visual merupakan ilmu yang digunakan untuk penyelidikan terhadap segala jenis makna yang disampaikan melalui sarana indra penglihatan . isual Semiotik visual terdiri dari bentuk denotasi dan konotasi. Denotasi dilakukan dengan mendeskripsikan suatu elemen visual yang dikenali dan ingin disampaikan, sedangkan konotasi merupakan pemaknaan dibalik elemen visual yang mengacu pada sosial budaya dari tanda tersebut (Chandler, 2022. Rose 2. Vol. No. Juni 2024 Fariz Al Hazmi Kajian Visual Motif Pada Kain Ikat Kepala Khas Cirebon Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. Peirce . mengemukakan teori segitiga makna dalam kajian semiotika yaitu ikon, indeks dan simbol. Ikon merupakan tanda yang muncul sebagai perwakilan fisik dan indeks merupakan tanda yang muncul dari hubungan sebab akibat (Sujarweni. Simbol merupakan tanda yang menunjukkan hubungan yang alamiah, namun bersifat arbitrer antara penanda dan petanda (Rose, 2. Kemudian. Hendri . mengatakan bahwa sebuah tanda tidak selalu mengandung ketiga dari unsur ikon, indeks dan simbol, namun bisa saja hanya mengandung dua dari tiga unsur tersebut. oleh karena itu, perlu adanya proses analisis secara mendalam untuk mengetahui unsur di balik suatu visual. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan secara deskriptif. Secara pengertian, metode kualitatif yaitu metode yang berlandaskan pada filsafat post positivisme dan digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (Sugiyono, 2. Sedangkan pendekatan deskriptif merupakan penelitian yang bersifat narasi tanpa menggunakan data statistik. Pendekatan tersebut biasa digunakan dalam penelitian semiotika visual karena lebih banyak mendeskripsikan sebuah tanda dan makna dalam suatu objek. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan studi literatur. Teknik observasi merupakan proses pengamatan jangka panjang yang dapat membantu dalam menemukan hasil dari suatu masalah (Ciesielska dkk. Analisis dikemukakan oleh Peirce . , yaitu menafsirkan suatu tanda yang mewakili apa yang ditandainya melalui rangkaian hubungan representamen, objek dan interpretan. Representamen merupakan sesuatu yang dapat ditangkap secara kasat mata sebagai perwakilan tanda (Albar, 2. Objek merupakan sesuatu yang diacu oleh tanda dan dikenali oleh pemakai tanda sebagai realitas (Budiman, 2. Interpretan merupakan konsep pemikiran dari pengguna tanda dan menurunkannya pada suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang memiliki tanda (Kriyantono, 2. Dari hal tersebut maka proses penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk visual motif-motif yang ada pada kain ikat kepala khas Cirebon sebagai objek untuk menemukan tanda yang merepresentasikan makna sebagai hasil penelitian yang didukung dengan dokumentasi. Kemudian, proses analisis visual sebagai bentuk intepretasi makna dalam pembahasan untuk menganalisis hasil penelitian yang didukung dengan studi literatur. Vol. No. Juni 2024 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan pada beberapa koleksi milik Museum Tekstil Jakarta, ditemukan 2 . buah kain berupa ikat kepala yang berasal dari Cirebon. Kedua kain tersebut didapatkan oleh Museum Tekstil Jakarta pada tahun 1976, sehingga kain tersebut merupakan salah satu kain tertua yang dikoleksi oleh Museum Tekstil Jakarta. Kemudian, proses identifikasi representasi dilakukan pada objek berupa kain ikat kepala tersebut yang kemudian diintepretasi melalui pemahaman Masing-masing kain diberi judul sesuai dengan motif utama pada objek yaitu ikat kepala motif Macan Ali dan ikat kepala motif sawat. Kain Ikat Kepala Motif Macan Ali Ikat kepala motif Macan Ali dibuat dengan teknik batik tulis pada media kain Kain terbuat dari teknik anyaman pipih yang dibuat secara manual dengan alat tenun tradisional yang disebut alat tenun gedhog. Kain ini merupakan koleksi yang didapatkan dari sumbangan GP. Mangkunegoro Vi pada tahun 1976. Ukuran kain yaitu 86,5 x 83,5 cm dengan warna latar cokelat kemerahan dan kombinasi warna lain seperti biru, hitam dan putih. Kondisi kain memiliki tambalan akibat sobek dan berlubang di beberapa bagian, namun untuk motif dan warna masih tampak baik dan masih terlihat dengan jelas. Gambar 01. Kain Ikat Kepala Motif Macan Ali Warna yang digunakan pada kain ini yaitu menggunakan jenis pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Warna cokelat kemerahan menggunakan kayu Tingi, warna biru didapatkan melalui pohon Tarum, warna putih merupakan warna kain asli yang ditutup lilin malam dan warna hitam berasal dari buah Jolawe. Vol. No. Juni 2024 Fariz Al Hazmi Kajian Visual Motif Pada Kain Ikat Kepala Khas Cirebon Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. Motif utama yang digunakan pada batik ini yaitu motif Macan Ali yang berjumlah 4 . motif terdapat pada setiap sisi kain. Kemudian, beberapa motif pelengkap yang digunakan berupa motif kaligrafi tulisan Arab pada setiap sisi kain dan disisi macan Ali, serta motif lingkaran pada bagian tengah dengan motif kaligrafi memutar dan lingkaran kecil di dalamnya. Karena meskipun motif macan ali merupakan motif yang dominan lebih besar dari motif-motif lainnya, motif kaligrafi Arab lebih banyak diterapkan pada kain ini. Berikut beberapa motif yang telah diidentifikasi: Tabel 01. Identifikasi Visual Pada Ikat Kepala Motif Macan Ali Gambar Motif Keterangan Motif Motif Macan Ali pada bagian badan kain sebanyak 4 buah yang dibuat dengan teknik Transformasi, di mana wujud macan dibuat melalui unsur tumbuhan. Motif Kaligrafi bertuliskan AuLa ilaha illallahu Muhammadar RasulullahAy pada bagian sisi kain sebanyak 4 buah Motif Kaligrafi bertuliskan AuLa ilaha illallahu Muhammadar RasulullahAy pada bagian belakang ekor Macan Ali sebanyak 2 buah Motif lingkaran yang dikelilingi Motif Kaligrafi bertuliskan AuLa ilaha illallahu Muhammadar RasulullahAy sebanyak 2 buah, dengan lingkaran lebih kecil di bagian tengah yang dikelilingi Motif Kaligrafi bertuliskan AuLa ilaha illallahu Muhammadar RasulullahAy. Motif Kaligrafi bertuliskan Allah Motif Pinggiran sulur daun Vol. No. Juni 2024 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. Motif kaligrafi pada kain menggunakan huruf arab dengan kalimat tauhid yang bertuliskan AuLa ilaha illallahu Muhammadar RasulullahAy yang artinya tiada Tuhan kecuali Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah. Kaligrafi ini terdapat pada setiap sisi kain sebanyak 4 . kalimat yang saling membatasi antara motif bagian tengah dan sisi luar kain. Kemudian juga terdapat pada setiap ekor Macan Ali sebanyak 2 . kalimat, di bagian tengah mengelilingi motif lingkaran sebanyak 2 . dua kalimat dan satu kalimat di dalam lingkaran besar mengelilingi bagian lingkaran yang ada di tengah kain. Sehingga, jumlah seluruh kaligrafi bertuliskan AuLa ilaha illallahu Muhammadar RasulullahAy pada kain ini sebanyak 9 kalimat. Selain itu, terdapat tulisan AuAllahAy di bagian depan kepala motif Macan Ali yang saling berhadapan sebanyak 2 . Sedangkan pada motif pinggiran menggunakan motif sulur membentuk daun-daun kecil berwarna hitam. Motif Macan Ali digunakan sebagai simbol keraton Cirebon yang biasa ditemukan pada bendera keraton Cirebon dan motif kaligrafi digunakan sebagai penanda bahwa keraton Cirebon merupakan kerajaan Islam. Pada motif lingkaran yang ada di bagian tengah merupakan simbol kosmos atau dunia dengan tulisan kalimat tauhid sebagai bentuk kepercayaan kepada Tuhan dan Rasullnya. Kain Ikat Kepala Motif Sawat Ikat kepala motif Sawat dibuat dengan teknik batik tulis pada media kain katun. Kain ini berukuran 88 x 85 cm dengan warna latar yaitu biru dan kombinasi warna putih dan cokelat terang. Sama seperti kain pertama, kain ini merupakan koleksi yang didapatkan dari sumbangan GP. Mangkunegoro Vi pada tahun 1976. Kondisi kain memiliki tambalan akibat sobek, berlubang di beberapa bagian dan terdapat noda sehingga beberapa motif sudah tampak kurang jelas dan beberapa tidak terlihat. Gambar 02. Kain Ikat Kepala Motif Sawat Vol. No. Juni 2024 Fariz Al Hazmi Kajian Visual Motif Pada Kain Ikat Kepala Khas Cirebon Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. Warna yang digunakan pada kain ini yaitu menggunakan jenis pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Warna warna biru muda dan biru tua didapatkan melalui pohon Tarum dengan jumlah pencelupan yang berbeda, warna cokelat terang dihasilkan dari kayu Jambal dan warna putih berasal dari warna asli kain yang ditutupi Motif utama pada kain ikat kepala ini yaitu motif sawat atau yang berarti sayap dengan beberapa motif pohon hayat, meru . , lidah, sulur tumbuhan dan motif pinggiran . di bagian tepi kain. Selain itu, terdapat juga isian pada motif yang disebut dengan isen-isen berupa cecek . , cecek pitu . itik tuju. , ukel, cecek sawut . itik gari. dan ular-ularan. Dikarenakan kondisi kain yang sudah mengalami kerusakan dan beberapa motif tampak tidak terlihat, maka untuk mengidentifikasi motif pada batik ini dilakukan dengan menaikkan ketajaman gambar. Hal tersebut dilakukan agar garis motif dapat lebih terlihat jelas dan mudah dikenali. Berikut hasil identifikasi motif pada kain ikat kepala motif sawat: Tabel 02. Identifikasi Visual Pada Ikat Kepala Motif Sawat Gambar Motif Keterangan Motif Motif sawat atau lar yang berarti sayap dengan motif pohon hayat pada bagian tengah sayap. Motif meru atau gunung yang terdapat pada setiap bagian sisi tengah kain. Motif ini berada di tengah antara motif sawat Motif lidah Api yang terdapat di bagian atas motif meru. Motif ini juga tersebar di beberapa bagian kain. Motif lung-lungan atau sulur tumbuhan yang menjadi latar pada kain. Vol. No. Juni 2024 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. Motif pinggiran atau disebut . di bagian tepi kain sebagai pembatas. Motif ini dibuat secara geometris dengan bagian bawah diberi pinggiran Untu Walang Secara visual, motif Sawat terlihat lebih dominan dengan 4 . motif sawat membentuk pola rotasi di setiap sisi pojok kain menghadap ke tengah kain dan 1 . motif sawat di bagian tengah dengan posisi diagonal ke arah kanan. Batik ini dibuat dengan teknik tulis menggunakan canting, karena dari pengamatan terlihat garis dan bentuknya yang berbeda-beda misalnya pada motif sawat ada sayap yang terlihat besar dan kecil. Motif sawat biasa ditemui pada beberapa batik di Jawa khususnya di keraton sebagai motif yang bersifat sakral. Secara simbolik, bagi masyarakat Cirebon motif sawat merupakan bentuk dua buah sayap burung garuda yang saling berhadapan sebagai simbol dunia atas dan simbol perlindungan. Sehingga motif ini masih ditemui pada kain batik Cirebon yang digunakan khusus untuk pengantin. Motif Pohon hayat sebagai simbol penghubung dunia atas dan dunia bawah yang bermakna sebagai Motif meru merupakan simbol dunia bawah dan sebagai simbol puncak tertinggi yang melambangkan keagungan, kemegahan dan keteguhan. Kemudian motif lidah api diyakini sebagai kesaktian untuk melindungi yang lemah dan motif lung-lungan berasal dari kata ulung-ulung yang berarti tolong menolong. Dari pemahaman maknamakna tersebut, maka kain ikat kepala motif Sawat ini merupakan simbol kosmologi kehidupan dunia yang saling berselaras. Makna Visual Pada Kain Ikat Kepala Khas Cirebon Kain ikat kepala merupakan benda yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Cirebon. Dalam tradisi Keraton Cirebon, batik tidak hanya sebagai hiasan visual akan tetapi memuat sistem nilai tertentu yang diyakini oleh masyarakat dan salah satunya diterapkan pada ikat kepala (Handayani, 2. Beberapa kain ikat kepala digunakan oleh mereka untuk melakukan kegiatan upacara adat atau kegiatan yang bersifat sakral khususnya di Keraton Cirebon. Berdasarkan data dari Museum Tekstil Jakarta, kedua kain ikat kepala Cirebon merupakan ikat kepala bagi laki-laki pada saat upacara adat. Kemudian, menurut UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat . , bahwa Ikat Kepala pada masyarakat Cirebon sebagai pemberi kekuatan dapat melindungi pemakainya Cara penggunaan kain ikat kepala Cirebon tersebut yaitu dengan melipat Vol. No. Juni 2024 Fariz Al Hazmi Kajian Visual Motif Pada Kain Ikat Kepala Khas Cirebon Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. kain secara diagonal menjadi bentuk segitiga. Kemudian, gunakan di kepala dengan mengikat bagian ujung kain sesuai dengan lingkar kepala. Bagian sudut kain menjuntai ke bawah dan dirapikan. Dari kedua kain yang ditemukan dalam koleksi Museum Tekstil Jakarta memperlihatkan dua bentuk visual yang berbeda secara konsep. Pada kain ikat kepala pertama yang diberi judul Ikat Kepala Motif Macan Ali memiliki unsur keislaman yang begitu kental dengan kaligrafi di dalamnya. Kain batik yang berisi kaligrafi juga tidak lepas dari pengaruh dakwah Sunan Gunung Djati yang menggunakan batik sebagai media berdakwah (Rachman, 2. Hal tersebut menunjukkan bahwa kain tersebut sangat sakral dan dijaga karena terdapat kalimat tauhid dan nama Allah. Karena dalam ajaran Islam benda yang bertuliskan ayat-ayat Al QurAoan atau nama Allah harus disimpan di tempat yang terhormat dan dilarang dibawa ke tempat najis atau kotor (Zaini, 1. Sehingga, tidak dimungkinkan bahwa kain ikat kepala ini digunakan secara bebas oleh masyarakat kecuali dalam kegiatan tertentu. Selain itu, kain bertuliskan kaligrafi juga menjadi simbol keislaman dan lambang kesultanan Cirebon (Prizzila, 2. Macan Ali merupakan simbol bendera yang disebut Aukad kacana singa baruang dwajalulaAy dalam aksara Pangeran Wangsatara (Hasbunallah, 2. Hingga kini, motif Macan Ali dijadikan sebagai identitas keislaman di Cirebon (Sudiana, 2014. Wahyusukma dkk, 2. Menurut Haris . menyebutkan bahwa Motif Macan Ali merupakan bentuk pengaruh dari Persia karena di sana pengagungan Sayyidina Ali Cirebon menggunakan simbol Macan Ali. Namun kata Ali dalam Macan Ali di Cirebon tidak ada hubungannya dengan sosok Ali Bin Abi Thalib. Motif macan ali pada kain ikat kepala pertama merupakan motif yang masih sering dijumpai pada kerajinan lain seperti pada lukis kaca maupun lukisan di atas kulit khas Cirebon. Beberapa motif tersebut juga ditemukan pada objek-objek di Keraton Cirebon seperti pada bendera dan hiasan dinding keraton. Penggambaran motif Macan Ali yang dibuat pada ikat kepala menggunakan teknik transformasi karena kepercayaan beberapa masyarakat Islam bahwa menggambar makhluk hidup seperti hewan tidak Seperti yang dikatakan Grata . bahwa ajaran Islam melarang menggambar makhluk hidup ciptaan Allah, sehingga beberapa bagian tubuh pada motif hewan diubah dengan bentuk lain. Namun, penggambaran motif Macan Ali pada batik ini berbeda dengan penggambaran motif Macan Ali pada beberapa objek lainnya. Menurut Sucitra . , motif Macan Ali digambarkan dengan kaligrafi Arab yang membentuk wujud macan sebagai simbol Keraton Cirebon. Jika pada beberapa objek Vol. No. Juni 2024 Jurnal Brikolase Online: : https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index doi: 10. 33153/brikolase. seperti lukis kaca atau bendera Keraton Cirebon motif macan ali digambarkan melalui transformasi bentuk kaligrafi Arab, pada motif ikat kepala ini Macan Ali di Transformasi dari Tumbuh-tumbuhan. Pada kain ikat kepala kedua dengan motif Sawat memiliki bentuk yang berbeda dengan kain ikat kepala motif Macan Ali. Dari struktur dan komposisi motifnya, kain ikat kepala motif sawat dikategorikan sebagai golongan batik semen. Menurut Susanto . , golongan semen merupakan motif batik yang ornamennya terdiri dari burung, tumbuhan atau hewan yang tersusun secara harmonis. Istilah kata semen berasal dari kata AusemiAy yang berarti tumbuh (Wulandari, 2. Motif-motif yang terdapat pada kain ikat kepala motif sawat juga memiliki beberapa motif lainnya yang mirip dengan batik semen daerah Jawa lainnya, seperti adanya motif lar atau sayap, motif meru, motif pohon hayat, lidah api dan sulur. Sawat merupakan visualisasi dari Garuda dan dalam kepercayaan agama Hindu Garuda merupakan kendaraan Dewa Wisnu, sehingga motif sawat dikaitkan dengan bentuk kekuatan (Muthiah, 2. Selain itu, motif pohon hayat juga ada pada kepercayaan agama Hindu di Jawa sebagai bentuk sumber kehidupan. Batik Sawat digambarkan dengan sepasang sayap dan menjadi simbol dunia atas (Susanto, 2. Sepasang menyimbolkan menuju kepada Tuhan sang Pencipta (Listiani dkk, 2. Dalam masyarakat Jawa, motif garuda hadir upacara-upacara adat sebagai pengharapan bagi pemakainya untuk diberi keselamatan dan perlindungan dari Tuhan (Septiani, 2. Sehingga dalam hal ini, kain ikat kepala motif Sawat khas Cirebon memiliki pengaruh dari Jawa-Hindu dengan fungsinya sebagai pelengkap kegiatan upacara adat. Hal menarik lainnya dari kedua kain ikat kepala Cirebon yang ada di Museum Tekstil Jakarta adalah penggunaan pewarna alami sebagai pewarnanya. Pewarna alami merupakan zat warna yang berasal dari alam seperti hewan maupun tumbuhan yang didapatkan dengan proses-proses tertentu (Wulandari, 2022. Satria & Suheryanto. Di Indonesia, penggunaan pewarna alami telah ada sejak masa nenek moyang dan masih digunakan pada kain batik hingga saat ini. Di Cirebon penggunaan warna biru didapatkan dari fermentasi daun tarum (Indigofera tinctori. dan pewarna merah kecokelatan didapatkan dari kayu tingi atau buah kesumba yang diekstraksi (Handayani. Seperti halnya kain ikat kepala Cirebon yang ada di Museum Tekstil Jakarta dengan menggunakan pewarna alami memperlihatkan bahwa pewarna tersebut telah ada sejak masa lalu. Vol. No. Juni 2024 Fariz Al Hazmi Kajian Visual Motif Pada Kain Ikat Kepala Khas Cirebon Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. SIMPULAN Kain ikat kepala khas Cirebon menjadi sebuah karya seni yang memiliki nilai secara historis dalam makna visualnya. Dua kain ikat kepala yang telah ada di Museum Tekstil Jakarta sejak tahun 1970 GP. Mangkunegoro Vi pada tahun 1976 memiliki representasi yang berbeda secara budaya. Kain-kain tersebut memiliki fungsi ikat kepala yang digunakan dalam kegiatan upacara di Keraton Cirebon. Pada kain ikat kepala motif Macan Ali memiliki motif yang dipengaruhi oleh unsur Islam seperti adanya kaligrafi arab yang bertuliskan tauhid. Motif macan Ali memiliki representasi kekuasaan Keraton Cirebon yang kental dengan spiritual agama Islam. Sedangkan pada kain ikat kepala motif sawat dipengaruhi oleh budaya Jawa-Hindu dengan visual sayap garuda sebagai hewan Tunggangan dewa Wisnu, motif pohon hayat, meru, lidah api dan lain-lain. Kain motif sawat merepresentasikan simbol kosmologi kehidupan dunia yang saling berselaras antara dunia atas yang diwakili motif sawat dan dunia bawah yang diwakili motif meru yang dipersatukan oleh motif pohon hayat sebagai simbol kehidupan. DAFTAR PUSTAKA