J. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Integrasi Rancangan Sistem Observasi Kapal Permukaan Otomatis dengan Google Earth 1Mahesa G. Satria*), 2Indra Jaya**) & 3Yopi Novita***) 1Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Program Sarjana IPB 2Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan FPIK IPB Kampus IPB Dramaga Bogor 3Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perairan FPIK IPB Kampus IPB Dramaga Bogor loza@gmail. com*), indrajaya123@gmail. com**), yop_novita@yahoo. com***) Abstrak Wahana permukaan tak berawak . nmanned surface vehicle (USV)) atau wahana permukaan otomatis . utonomous surface vehicle (ASV)) merupakan sebuah wahana . berbentuk kapal di permukaan . air yang dapat bergerak tanpa awak di dalamnya secara otomatis. USV dapat digunakan di perairan yang tidak dapat dilalui kapal dengan awak. Perkembangan USV di dunia sudah pesat, namun belum diimbangi dengan baik perkembangannya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan membuat USV yang bersifat autonomous, yaitu bergerak secara otomatis berdasarkan Tahapan penelitian meliputi perancangan USV, uji coba sistem observasi kapal permukaan Uji coba dilakukan dengan mengukur durasi oleng wahana di atas air dan mengukur akurasi GPS, kemudian menjalankan wahana pada lintasan lurus, zigzag, parallel, dan berbentuk S. Waktu oleng wahana sebesar 3 detik, akurasi GPS CEP 50% sebesar 1,9 meter dan 2DRMS 95% sebesar 4,7 meter. Selisi jarak terbesar waypoint dengan lintasan aktual pada lintasan lurus sumbu x sebesar 2,05 m dan sumbu y sebesar 1,27 m, lintasan zigzag sumbu x sebesar 2,63 m dan sumbu y sebesar 3,73 m, lintasan parallel sumbu x sebesar 4,82 m dan sumbu y sebesar 3,98 m, lintasan S sumbu x sebesar 3,85 m dan sumbu y sebesar 4,49 m. Kata Kunci: 2drms. Pendahuluan Unmanned surface vehicle (USV) adalah suatu wahana tanpa awak yang dioperasikan di permukaan . untuk keperluan tertentu. USV juga dikenal dengan sebutan autonomous surface vehicle (ASV) atau wahana permukaan otomatis karena menggunakan global positioning system (GPS) dalam penentuan arah tujuan pergerakan wahana tersebut . USV dapat digunakan di perairan yang tidak dapat dilalui oleh kapal dengan awak, termasuk lingkungan dengan tingkat ancaman yang tinggi atau area yang telah terkontaminasi nuklir, biologi, atau bahan kimia . Selain itu. USV juga dapat digunakan untuk survei perairan dangkal, militer untuk mengantar senjata, pengumpulan data lingkungan, dan berkoordinasi dengan wahana otomatis bawah air (AUV). Jika dibandingkan dengan AUV dalam system otomasi, tingkat akurasi USV jauh lebih baik dari AUV karena ketersediaan global positioning system (GPS) . Perkembangan USV di dunia sudah pesat. Saat ini survei batimetri dan oseanografi dapat dilakukan dengan menggunakan USV, seperti Delfim. Sesamo. IRIS. SCOUT, dan ROAZ, yang dapat digunakan pada perairan tawar maupun laut . USV memiliki manfaat yang cukup besar dalam observasi perairan. Namun perkembangan ini belum diikuti dengan baik di Indonesia, sehingga perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut pada teknologi USV. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menghasilkan suatu rancang bangun unmanned surface vehicle (USV) yang bersifat autonomous secara sederhana dan mudah digunakan, serta mendapatkan informasi mengenai kinerja unmanned surface vehicle (USV) yang telah dibuat. Diskusi 1 Perancangan USV 1 Perancangan Mekanik Mekanik yang dibuat berupa kapal yang dirancang dengan koncep katamaran. Tipe kapal ini memiliki dua buah lambung utama . yang simetris pada sisi kanan dan kiri. Konstruksi lambung yang demikian memungkinkan kapal bergerak . lebih seimbang dengan ukuran kapal yang relative besar serta memiliki daya angkut yang lebih Pembuatan kapal mengikuti tahapan pada Gambar 1. Daftar barang muatan diperlukan untuk mengestimasi panjang, lebar dan tinggi kapal yang akan dibuat. Kapal jenis katamaran dipilih karena tujuan pembuatan kapal ini lebih mengedepankan faktor daya muat dan stabilitas kapal dibandingkan kemampuan maneuver kapal. Sistem propulsi diletakkan pada bagian belakang hull untuk menggerakkan wahana di atas permukaan air. Motor yang digunakan pada sistem propulsi adalah motor brushless. Mempersiapkan daftar barang muatan Menghitung dimensi / ukuran wahana Memilih jenis dan bentuk lambung kapal Memperkirakan bobot wahana dengan dan tanpa muatan Membuat desain rancangan wahana Pemilihan material pembuatan wahana Pembuatan wahana Gambar 3 Diagram alir pembuatan kapal . Pembuatan wahana kapal mengikuti desain pada Gambar 2. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Gambar 4 Desain kapal permukaan otomatis Hasil rancang bangun unmanned surface vehicle (USV) dapat dilihat pada Gambar 3. Pembuatan hull kapal menggunakan bahan pipa PVC berukuran 3 inchi sehingga mudah untuk dibuat. Lambung kapal dibuat berbentuk bundar untuk meminimalisir resistansi ketika kapal melaju di atas permukaan air. Bagian rangka atas yang dibuat dengan bahan alumunium memiliki bobot yang ringan namun kokoh, sehingga tidak membuat bobot wahana menjadi berat. USV ini memiliki panjang total 77 cm, lebar total 52,5 cm dan tinggi total 50 cm sudah termasuk antenna. Kapal dengan muatan elektronik memiliki bobot 4 kg, sedangkan bobot tanpa muatan elektronik sebesar 2,7 kg. Wahana mampu mengangkut beban sebesar 4 kg selain perangkat elektronik di dalamnya. Wahana menggunakan propeller berbahan alumunium dengan dua buah daun propeller, diameter propeller 72 mm dan diameter hub propeller 6,73 mm. Propeller sangat berpengaruh terhadap kecepatan suatu kapal, karena fungsinya adalah mengubah daya putar dari motor menjadi daya dorong . Gambar 5 Hasil rancang bangun kapal permukaan otomatis Desain propeller yang buruk menjadi penyebab borosnya bahan bakar, dalam hal ini Jumlah daun propeller mempengaruhi efisiensi propeller, semakin sedikit jumlah daun propeller maka semakin tinggi nilai efisiensi propeller. Beban yang ditanggung oleng masing-masing daun propeller akan semakin tinggi jika jumlah daun propeller semakin J. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 2 Perancangan Sistem Elektronik Sistem elektronik USV terdiri atas beberapa bagian, yaitu Arduino Mega 2560 sebagai pusat pengendali. GPS sebagai penentu posisi koordinat. HMC5883L. ADXL345. Electronic Speed Control (ESC) sebagai driver pada motor brushless, motor brushless, motor servo untuk mengendalikan arah gerak wahana, micro SD, dan KYL-1020U untuk mengirimkan data ke ground segment. Hubungan fungsional antara semua bagian elektronik dapat dilihat pada Gambar 4. Batt Li-Po 3S 3000mAh UBEC 3A 5V HMC5883L Motor Servo ADXL345 Arduino Mega 2560 KYL-1020U GPS U-blox Neo 6M Batt Li-Po 2S 5000mAh ESC 30A Motor Brushless Batt Li-Po 2S 5000mAh ESC 30A Motor Brushless Tegangan Data . Laptop KYL-1020U Data . Gambar 6 Hubungan fungsional elektronik kapal permukaan otomatis Arduino Mega 2560 (Gambar . merupakan sebuah modul dengan rangkaian minimum mikrokontroler ATmega2560. Mikrokontroler ini sudah memiliki bootloader di dalamnya, sehingga dapat deprogram ulang dengan menggunakan Arduino IDE melalui jalur komunikasi Universal Asynchronous Receiver / Transmitter (UART). Dalam rangkaian minimum ini terdapat kristal eksternal sebesar 16 MHz yang merupakan nilai maksimum Kristal yang dibutuhkan ATmega2560, sehingga memungkinkan proses instruksi perintah berjalan lebih cepat . Gambar 7 Modul arduino mega 2560 Konfigurasi pin Arduino dengan beberapa perangkat ditunjukan Tabel 1. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Table 2 Konfigurasi arduino dengan perangkat lain Perangkat HMC5883L Pin Keterangan SDA SDA SCL SCL SDA SDA SCL SCL GPS U-blox Neo 6M RX1 RX Data KYL-1020U RX3 RX Data Micro SD Card Module Catalex D50 MISO D51 MOSI D52 SCK D53 ESC PWM signal Motor Servo PWM signal Receiver Remote Control D23 Input Channel 3 D25 Input Channel 1 D27 Input Channel 2 ADXL345 Modul HMC5883L digunakan sebagai sensor magnetometer yang menghasilkan nilai kompas atau arah dalam bentuk derajat dengan antarmuka I2C (Two Wir. ADXL345 merupakan sensor akselerometer yang digunakan untuk menentukan nilai roll dan pitch pada kapal. ADXL345 menggunakan antarmuka I2C. GPS digunakan untuk menentukan posisi koordinat dari wahana pada suatu lokasi. GPS ublox Neo 6M memiliki akurasi GPS 2,5 meter, kecepatan 0,1 m/s, dan arah 0,5 derajat pada CEP 50% . Komunikasi antara mikrokontroler dan GPS menggunakan jalur UART dengan BaudRate 9600. Format data yang dikirimkan dari GPS ke mikrokontroler menggunakan format data NMEA 0183. Contoh data NMEA 0183 yang didapatkan dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 8 Data nmea 0183 gps Modul micro SD card Catalex digunakan untuk membaca dan menulis data pada kartu micro SD. Antarmuka yang digunakan pada modul ini adalah Serial Peripheral Interface (SPI). Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Modul KYL-1020U merupakan modul radio yang bersifat transceiver, yaitu dapat berlaku sebagai transmitter dan receiver, dengan antarmuka UART dengan BaudRate 9600. Komunikasi antar KYL-1020U secara wireless menggunakan gelombang radio pada frekuensi 433 MHz. 3 Perancangan Perangkat Lunak Perangkat lunak merupakan sebuah instruksi tetap yang tersimpan dalam flash memory Mikrokontroler tidak dapat bekerja tanpa adanya perangkat lunak yang tertanam di dalamnya . Perangkat lunak pada system mikrokontroler disebut juga dengan Perancangan firmware dilakukan dengan menggunakan Arduino IDE versi 1. Firmware yang telah dibuat kemudian diunduh ke mikrokontroler Arduino Mega 2560. Perangkat lunak yang dibuat memiliki empat fungsi utama yaitu, menentukan arah tujuan wahana berdasarkan waypoint, menerima data kompas, roll, posisi koordinat berdasarkan GPS, melakukan penyimpanan data, serta mengirimkan data ke ground segment. Data yang diterima oleh ground segment ditampilkan dalam user interface. Alur perangkat lunak kapal permukaan otomatis dapat dilihat pada Gambar 7. Mikrokontroler melakukan inisialisasi sensor akselerometer (ADXL. , sensor magnetometer (HMC5883L) dan micro SD card pada saat awal dihidupkan. Jika micro SD card rusak atau belum dimasukkan maka mikrokontroler melakukan proses inisialisasi hingga micro SD card terdeteksi. Jika micro SD card serta sensor berfungsi dengan benar maka mikrokontroler membaca file WAYPOINT. TXT yang berisi titik-titik waypoint yang akan dituju sehingga akan diketahui jumlah waypoint. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Mulai Inisialisasi: Micro SD Card ADXL345 HMC5883L Tidak Ada Micro SD Card ? Ada Baca file WAYPOINT. TXT Inisialisasi servo Baca data GPS. Kompas. Roll Tidak GPS Valid? Motor BLDC berputar Menyimpan data posisi Hitung jarak kapal dengan waypoint Hitung kurs ke waypoint Mengirim data ke ground segment Servo mengarahkan kapal ke waypoint Tidak Jarak <= 4 Lanjut ke waypoint berikutnya Ada Waypoint masih ada? Tidak Kembali ke lokasi asal Selesai Gambar 9 Diagram alir perangkat lunak kapal permukaan otomatis AE ) AE (Oo Oo( - ) . Setelah mikrokontroler membaca banyaknya waypoint, kemudian servo digerakkan ke kanan dan ke kiri masing-masing selama dua detik kemudian kembali ke posisi normal untuk memastikan kapal dapat bermanuver dengan baik. Ketika semua komponen telah berfungsi dengan baik, mikrokontroler mengambil data posisi dalam bentuk koordinat dengan menggunakan modul GPS U-blox Neo 6M, arah orientasi kapal dengan sensor magnetometer dan nilai roll kapal dengan menggunakan sensor akselerometer. Posisi yang didapatkan melalui GPS harus merupakan data yang valid agar penentuan arah tujuan kapal menjadi akurat. Ketika data GPS yang didapatkan tidak valid maka mikrokontroler terus mengambil data hingga data GPS valid. Ketika data GPS sudah valid, maka kapal kemudian dijalankan untuk mengikuti waypoint yang ada. Perhitungan jarak J. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 kapal dengan waypoint menggunakan persamaan . dan arah tujuan kapal menuju waypoint menggunakan persamaan . 2 Antarmuka Pengguna dengan Google Earth Tampilan user interface dapat dilihat pada Gambar 8. User interface terdiri dari Google Earth dan juga Python. Data yang ditampilkan menggunakan Python terdiri dari data roll. Gambar 10 Tampilan antarmuka pengguna pitch, yaw / kompas, arah target, arah saat ini, selisih arah, jarak ke target, serta waypoint saat ini dan jumlah maksimal waypoint. Data yang ditampilkan menggunakan Google Earth adalah data posisi saat ini dari wahana dan lintasan yang akan dilalui oleh wahana. Pemilihan Google Earth untuk menampilkan posisi wahana dikarenakan penggunaan yang cukup mudah dan tampilan yang user friendly atau mudah digunakan. Google Earth juga tersedia dengan peta tak berbayar sehingga mudah untuk mengakses lokasi yang Lokasi wahana ditunjukkan dengan tool placemark. Posisi placemark berpindah sesuai posisi wahana sebenarnya . eal tim. dengan memperbaharui file *. yang berisi posisi koordinat placemark. Rute waypoint yang ditampilkan dengan menggunakan tool path pada Google Earth. Dalam penggunaannya, pengguna hanya perlu membuka file *. kml dengan menggunakan Google Earth kemudian menjalankan script python yang telah dibuat. Agar dapat berkomunikasi antara Arduino dengan perangkat komputer, port pada script python harus disesuaikan dengan port yang terbaca pada perangkat komputer. 3 Perancangan dan Uji Coba Sistem Observasi Kapal Permukaan Otomatis 1 Uji Stabilitas Uji stabilitas dilakukan dengan melihat nilai rolling duration. Nilai tersebut didapat dengan menghitung lama waktu yang dibutuhkan oleh kapal pada saat dimiringkan secara maksimal hingga kembali ke posisi tegak. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Roll Degree dT . Gambar 11 Grafik rolling duration Gambar 9 menunjukkan kapal membutuhkan waktu 3077 ms atau sekitar 3 detik untuk kembali pada keadaan tegak setelah dimiringkan secara maksimal. Wahana mengalami 6 kali oleng. Pada oleng pertama, sudut saat dimiringkan sebesar 13,4A ke kiri dan kapal mendapat dorongan untuk kembali ke posisi semula sehingga mencapai kemiringan 24A ke kanan. Pada oleng kedua, kapal miring ke kiri sebesar 4,7A lalu ke kanan hingga 3,1A. Rata-rata waktu yang dibutuhkan kapal untuk kembali ke posisi 0A pada tiap olengnya adalah 114,3 ms dengan reduksi oleng dari oleng pertama ke oleng kedua sebesar 86,8%. Persen reduksi oleng yang besar tersebut dikarenakan kapal yang digunakan berjenis Kapal berjenis mono hull memiliki nilai persen reduksi oleng yang lebih kecil dibandingkan kapal berjenis katamaran, yaitu sebesar 30 Ae 35 % . Nilai reduksi oleng yang besar akan mengakibatkan kapal akan lebih cepat kembali ke posisi semula setelah mengalami oleng. 2 Uji Akurasi GPS Uji akurasi GPS dilakukan dengan meletakkan GPS pada satu lokasi dalam waktu 60 menit untuk merekam posisi koordinat yang didapatkan. Peletakkan GPS harus di tempat yang terbuka dan tidak ternaungi agar GPS mendapatkan data posisi yang akurat. Untuk menghitung nilai akurasi GPS, nilai posisi yang digunakan dalam bentuk Easting dan Northing. Nilai posisi yang didapatkan dari GPS dalam bentuk Latitude dan Longitude kemudian diubah kedalam bentuk Easting dan Northing. Delta Y Posisi CEP Delta X -2 0 Gambar 12 Uji akurasi gps selama 60 menit Gambar 10 memberikan data akurasi GPS menggunakan CEP bernilai 1,9377 m dan 2DRMS bernilai 4,7570 m. Perhitungan nilai akurasi GPS menggunakan CEP (Circular Error J. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Probabl. 50% dan 2DRMS (Twice the Distance Root Mean Squar. 95% dengan persamaan . CEP 50% berarti radius 50% dari jarak akurasi GPS, sedangkan 2DRMS 95% berarti radius 95% dari jarak akurasi GPS. GPS memiliki tingkat akurasi yang semakin tinggi jika nilai akurasinya semakin mendekati nol. Nilai akurasi GPS yang didapatkan pada CEP 50% lebih kecil dibandingkan dengan nilai akurasi GPS pada CEP 50% berdasarkan datasheet, yaitu 1,9377 meter dibandingkan 2,5 meter. Hal tersebut menunjukan bahwa GPS yang digunakan masih memiliki tingkat akurasi yang tinggi 3 Uji Coba Sistem Observasi Kapal Permukaan Otomatis Uji coba dilakukan untuk melihat kemampuan wahana dalam mengikuti lintasan yang telah d bu t epert l t luru z gz g p r llel d berbe tuk huruf AuSAy de g wahana yang ada. Wahana dikatakan mampu mengikuti lintasan yang ada jika nilai selisih jarak wahana dengan waypoint tidak lebih besar dari nilai 2DRMS 95% GPS, yaitu sebesar 4,757 meter. Selisih jarak dihitung pada tiap titik waypoint terhadap posisi wahana yang sebenarnya pada sumbu X dan/atau sumbu Y. Pada lintasan lurus terdapat 11 titik waypoint yang dimulai dari titik -6,5526 LS dan 106,7473 BT menuju -6,5532 LS dan 106,7481 BT. Jarak antar waypoint rata-rata sebesar 11,4 meter, dengan panjang lintasan sebesar 114,7 meter. Nilai error terhadap sumbu x terbesar terdapat pada waypoint ke-7 yaitu sebesar 2,1 meter. Nilai error terhadap sumbu y terbesar terdapat pada waypoint ke-7 yaitu sebesar 1,2 meter. Nilai tersebut masih berada dibawah nilai 2DRMS 95% GPS sehingga dapat dikatakan bahwa wahana masih tepat mengikuti lintasan lurus. Hasil uji lapang pada lintasan lurus dapat dilihat pada Gambar 11. -6,5524 Lintang -6,5526 -6,5528 -6,553 -6,5532 -6,5534 Bujur Waypoint USV Gambar 13 Perbandingan waypoint dengan posisi aktual kapal pada lintasan parallel Pada lintasan zigzag terdapat 9 titik waypoint yang dimulai dari titik -6,5527 LS dan 106,7473 BT menuju -6,5531 LS dan 106,7479 BT. Jarak antar waypoint rata-rata sebesar 11,3 meter, dengan panjang lintasan sebesar 83,9 meter. Nilai error terhadap sumbu x terbesar terdapat pada waypoint ke-4 yaitu sebesar 2,6 meter. Nilai error terhadap sumbu y terbesar terdapat pada waypoint ke-1 yaitu sebesar 3,7 meter. Nilai J. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 tersebut masih berada dibawah nilai 2DRMS 95% GPS sehingga dapat dikatakan wahana tepat dalam mengikuti lintasan zigzag. Hasil uji lapang pada lintasan zigzag dapat dilihat pada Gambar 12. -6,5526 Lintang -6,5527 -6,5528 -6,5529 -6,553 -6,5531 -6,5532 Bujur Waypoint USV Gambar 14 Perbandingan waypoint dengan posisi aktual kapal pada lintasan parallel Pada lintasan parallel terdapat 16 titik waypoint yang dimulai dari titik -6,5527 LS dan 106,7474 BT menuju -6,5532 LS dan 106,7477 BT. Hasil uji lapang pada lintasan parallel dapat dilihat pada Gambar 13. Jarak antar waypoint rata-rata sebesar 7,8 meter, dengan panjang lintasan sebesar 141,9 meter. Nilai error terhadap sumbu x terbesar terdapat pada waypoint ke-5 yaitu sebesar 4,8 meter. Nilai error terhadap sumbu y terbesar terdapat pada waypoint ke-15 yaitu sebesar 3,9 meter. -6,5526 -6,5527 Lintang -6,5528 -6,5529 -6,553 -6,5531 -6,5532 -6,5533 Bujur Waypoint USV Gambar 15 Perbandingan waypoint dengan posisi aktual kapal pada lintasan parallel Nilai error pada sumbu y masih berada dibawah nilai 2DRMS 95% GPS, sedangkan nilai error pada sumbu x lebih besar dari nilai 2DRMS 95% GPS. Hal ini disebabkan posisi lintasan yang diagonal terhadap sumbu x dan sumbu y, sehingga jarak menjadi lebih jauh pada sumbu x dan sumbu y. Pada waypoint ke-5, jarak terdekat terhadap posisi GPS aktual sebesar 2,4 meter. Nilai tersebut masih masuk kedalam toleransi wahana dalam penghitungan jarak sehingga wahana melanjutkan perjalanan meskipun jarak pada sumbu x tersebut lebih besar dari nilai 2DRMS 95% GPS. Selain itu, kapal dengan jenis katamaran J. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 memiliki kekurangan dalam maneuver dan semua jenis kapal tidak dapat melakukan maneuver secara patah. Sehingga pada lintasan parallel gerak maneuver kapal akan lebih memutar dan menghasilkan jarak error antara titik waypoint dan posisi wahana yang lebih Pada lintasan berbentuk huruf S terdapat 16 titik waypoint yang dimulai dari titik -6,5526 LS dan 106,7474 BT menuju -6,5533 LS dan 106,7478 BT. Jarak antar waypoint rata-rata sebesar 8,9 meter, dengan panjang lintasan sebesar 134,8 meter. Nilai error terhadap sumbu x terbesar terdapat pada waypoint ke-9 yaitu sebesar 3,8 meter. Nilai error terhadap sumbu y terbesar terdapat pada waypoint ke-7 yaitu sebesar 4,4 meter. Nilai tersebut masih berada dibawah nilai 2DRMS 95% GPS sehingga dapat dikatakan bahwa wahana masih mengikuti lintasan dengan tepat. Hasil uji lapang pada lintasan S dapat dilihat pada Gambar 14. -6,5526 -6,5527 Lintang -6,5528 -6,5529 -6,553 -6,5531 -6,5532 -6,5533 -6,5534 Bujur Waypoint USV Gambar 16 Perbandingan waypoint dengan posisi aktual kapal pada lintasan S Pada uji lapang dapat dilihat bahwa USV merespon titik waypoint yang telah dibuat dan dapat mengikuti bentuk lintasan yang telah dibuat, yaitu lintasan lurus, lintasan zigzag, lintasan parallel, dan lintasan berbentuk huruf S. Nilai error yang ada dikarenakan adanya toleransi yang diberikan pada algoritma wahana. Hal ini menunjukkan bahwa USV bersifat autonomous yang dapat berjalan secara otomatis. Selain itu USV juga dapat dikendalikan menggunakan remote sebagai transmitter dengan jarak hingga 200 meter. Pemilihan mode manual dan otomatis dilakukan menggunakan remote kendali. Ketika remote kendali dihidupkan, maka wahana secara otomatis menjadi manual dan dapat Namun ketika remote kendali dimatikan, maka wahana secara otomatis berjalan mengikuti waypoint. Nilai rataan error posisi wahana terhadap lintasan pada sumbu x dan sumbu y sebesar 1,5 meter. Kesimpulan Rancang bangun wahana permukaan tak berawak . nmanned surface vehicle (USV)) telah berhasil dilakukan. USV berjalan secara otomatis dengan mengikuti waypoint yang telah USV yang dibuat cukup sederhana dengan bahan dasar pembuatannya menggunakan pipa PVC dan alumunium yang mudah didapatkan dan mudah dalam Waypoint yang ingin dituju dimasukkan kedalam micro SD pada wahana. Oto. Ktrl. Inst (J. Auto. Ctrl. Ins. Vol 8 . , 2016 ISSN : 2085-2517 Nilai error terbesar pada sumbu x yaitu 4,8 meter dan pada sumbu y 4,4 meter. Nilai akurasi GPS dengan CEP 50% sebesar 1,9 meter dan 2DRMS 95% sebesar 4,7 meter. Wahana mampu mengikuti lintasan dengan baik pada lintasan lurus, zigzag dan lintasan S dan cukup baik pada lintasan parallel dengan rataan error pada sumbu x dan sumbu y sebesar 1,5 meter. Pada lintasan parallel wahana kurang mampu melakukan maneuver pada lintasan yang berbelok patah. Wahana cukup stabil dengan waktu yang dibutuhkan untuk kembali pada keadaan semula sekitar 3 detik setelah diolengkan. Nomenklatur Latitude Longitude standar deviasi easting standar deviasi northing 2DRMS Twice the Distance Root Mean Square CEP Circular Error Probable Jari-jari Bumi Daftar Pustaka