PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 9 No. Mei - Juli e-ISSN : 2622-6383 doi: 10. 57178/paradoks. Peran Religiusitas Memengaruhi Persepsi dan Preferensi Investasi Syariah Pada Generasi Milenial Muslim di Kota Medan Manahilul Irfan1. Nurlaila2. Nurul Jannah3* email korespondensi : nuruljannah@uinsu. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medan. Indonesia1,2,3* *)correspondence Abstract This study aims to analyze the influence of religiosity, perceptions, and preferences on interest in Sharia-compliant investment among Muslim millennials in Medan City. The study is motivated by the growing awareness among Muslims of the importance of investing in accordance with Sharia principles, although concerns remain regarding profitability, flexibility, and Islamic financial literacy. A qualitative method with a phenomenological approach was employed. Informants were selected through purposive sampling and included ten Muslim millennials from various professional backgrounds, along with several additional informants to enrich the perspectives obtained. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation and were subsequently analyzed thematically. The findings indicate that religiosity is the dominant factor driving interest in Sharia-compliant investment, particularly through the desire to avoid riba and attain blessings in wealth. Perceptions of the security and profitability of Sharia investment varied. Some informants considered Sharia-compliant instruments to be relatively stable, whereas others remained uncertain about their potential returns compared with conventional investments. Investment preferences were influenced by value orientation, religiosity, financial literacy, and social influence. The main barriers included limited understanding of investment products, doubts regarding profitability, and negative perceptions of the flexibility of Sharia-compliant products. This study demonstrates that religiosity plays an important role in shaping interest in Sharia-compliant investment, while perceptions and financial literacy also exert a meaningful influence. These findings provide a basis for strengthening Islamic financial literacy and encouraging innovation in Shariacompliant investment products. Keywords: Religiosity. Perception. Preference. Investment Interest. Sharia-Compliant Investment. Millennial Generation Abstrak Studi ini bertujuan menganalisis religiusitas, persepsi, dan preferensi terhadap minat investasi syariah pada generasi milenial Muslim di Kota Medan. Penelitian dilatarbelakangi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat Muslim untuk berinvestasi sesuai prinsip syariah, namun masih terdapat keraguan terkait keuntungan, fleksibilitas, dan literasi keuangan syariah. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Informan dipilih melalui teknik purposive sampling, melibatkan sepuluh generasi milenial Muslim dari berbagai profesi serta beberapa informan tambahan untuk memperkaya perspektif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religiusitas menjadi faktor dominan yang mendorong minat investasi syariah melalui keinginan menghindari riba dan memperoleh keberkahan harta. Persepsi terhadap keamanan dan keuntungan investasi syariah beragam. sebagian informan menilai instrumen syariah stabil, sedangkan sebagian lainnya masih meragukan tingkat keuntungannya dibandingkan investasi Preferensi investasi dipengaruhi oleh orientasi nilai, religiusitas, literasi keuangan, dan pengaruh sosial. Faktor penghambat meliputi rendahnya pemahaman produk, keraguan terhadap keuntungan, serta persepsi negatif mengenai fleksibilitas produk syariah. Penelitian ini menunjukkan bahwa religiusitas berperan penting dalam membentuk minat investasi syariah, yang juga dipengaruhi oleh persepsi dan literasi keuangan. Temuan ini menjadi dasar penguatan literasi dan inovasi produk investasi syariah. Kata kunci: Religiusitas. Persepsi. Preferensi. Minat Investasi. Investasi Syariah. Generasi Milenial This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 579 Pendahuluan Investasi merupakan salah satu instrumen penting dalam pengelolaan keuangan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai aset dan kesejahteraan ekonomi di masa depan. Dalam perspektif ekonomi Islam, investasi tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga harus memenuhi prinsip-prinsip syariah yang bebas dari unsur riba, gharar . , dan maysir . Investasi syariah menjadi alternatif bagi masyarakat Muslim yang ingin mengembangkan harta secara produktif sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai agama. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan pasar modal syariah. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat bahwa jumlah investor syariah di pasar saham terus mengalami peningkatan, dari 169. 397 investor pada akhir tahun 2024 menjadi 217. investor pada akhir tahun 2025, dengan sekitar 90 persen di antaranya berasal dari kelompok usia 17Ae35 tahun yang mencakup generasi milenial dan generasi Z (BEI, 2. Data ini menegaskan bahwa generasi muda, termasuk milenial, merupakan segmen strategis dalam perkembangan pasar modal syariah nasional. Fenomena tersebut turut tercermin di Kota Medan sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Pulau Sumatera. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Medan, jumlah penduduk Kota Medan pada tahun 2024 mencapai sekitar 2,54 juta jiwa, dengan mayoritas penduduk beragama Islam dan didominasi oleh kelompok usia produktif. Kondisi demografis ini menjadikan Kota Medan sebagai pasar potensial bagi pengembangan investasi syariah di kalangan generasi milenial. Hasil observasi dan wawancara awal yang dilakukan peneliti terhadap beberapa masyarakat milenial Muslim di Kota Medan menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka telah mengenal istilah investasi syariah dan memiliki ketertarikan untuk berinvestasi sesuai prinsip Islam, namun pemahaman mereka mengenai mekanisme, manfaat, dan risiko investasi syariah masih beragam dan cenderung terbatas. Persoalannya, potensi besar tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat partisipasi aktif masyarakat, termasuk generasi milenial, dalam berinvestasi syariah. Data BEI menunjukkan bahwa dari seluruh investor syariah yang tercatat, hanya sekitar seperlima yang benar-benar aktif bertransaksi, sementara sebagian besar masih berstatus investor pasif. Fenomena ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara minat awal dan keberlanjutan keputusan investasi. Hasil wawancara awal peneliti memperkuat indikasi tersebut: sebagian informan milenial ragu memilih investasi syariah karena menganggap keuntungannya lebih rendah dibandingkan instrumen konvensional, sebagian lain menilai produk syariah kurang fleksibel dan belum sepopuler produk konvensional, sementara rendahnya literasi keuangan syariah membuat mereka belum memahami konsep dasar seperti akad, sistem bagi hasil, dan mekanisme pengelolaan dana (Februari, 2024. Di sisi lain, terdapat pula kelompok milenial yang tetap memilih investasi syariah karena dorongan religiusitas dan keinginan menghindari riba. Perbedaan sikap tersebut menunjukkan bahwa persepsi, preferensi, dan religiusitas saling berinteraksi dalam membentuk minat investasi syariah pada generasi milenial, meskipun pola interaksi tersebut belum banyak dipahami secara mendalam. Kajian mengenai keterkaitan religiusitas, persepsi, dan preferensi dengan keputusan keuangan syariah bukan hal baru dalam literatur ekonomi Islam. Rohani . menemukan bahwa persepsi berpengaruh signifikan terhadap minat masyarakat menggunakan produk keuangan syariah. (Saputri & Baining, 2. menunjukkan bahwa preferensi konsumen berpengaruh terhadap pemilihan produk syariah. (Hartini & Amri, 2. serta (Erininda et , 2. menegaskan bahwa religiusitas berperan kuat terhadap keputusan masyarakat dalam menggunakan layanan keuangan syariah. Namun demikian, penelusuran terhadap penelitian-penelitian tersebut memperlihatkan tiga celah penelitian . esearch ga. yang melandasi studi ini. Pertama, secara metodologis, penelitian terdahulu didominasi Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 580 pendekatan kuantitatif berbasis survei dan uji pengaruh antarvariabel, sehingga belum banyak mengeksplorasi secara mendalam bagaimana proses religiusitas membentuk makna dan pengalaman subjektif individu dalam mengambil keputusan investasi. Kedua, secara tematik, mayoritas penelitian terfokus pada sektor perbankan syariah, terutama minat menabung atau menjadi nasabah, sementara kajian pada ranah investasi syariah di pasar modal masih relatif terbatas. Ketiga, secara kontekstual, penelitian yang secara khusus mengkaji interaksi religiusitas, persepsi, dan preferensi generasi milenial terhadap minat investasi syariah di Kota Medan belum ditemukan peneliti, sehingga potensi dan tantangan unik yang dihadapi milenial Muslim di kota ini belum terpotret secara utuh dalam literatur yang tersedia. Berdasarkan celah tersebut, penelitian ini diposisikan untuk mengisi kekosongan literatur dengan menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis guna mengeksplorasi secara mendalam bagaimana religiusitas membentuk persepsi dan preferensi investasi syariah pada generasi milenial di Kota Medan, sekaligus menjadikan penelitian ini penting untuk Berdasarkan uraian latar belakang dan celah penelitian di atas, penelitian ini bertujuan untuk: pertama, menganalisis peran religiusitas dalam membentuk persepsi masyarakat milenial terhadap investasi syariah di Kota Medan. kedua, menganalisis peran religiusitas dalam membentuk preferensi masyarakat milenial dalam memilih instrumen investasi syariah dibandingkan konvensional. dan ketiga, mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong dan menghambat minat investasi syariah pada generasi milenial di Kota Medan. Melalui tujuan tersebut, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan kajian perilaku investor Muslim, sekaligus kontribusi praktis bagi lembaga keuangan syariah dan regulator dalam merancang strategi edukasi dan produk investasi syariah yang lebih relevan bagi generasi milenial. Landasan Teori Religiusitas Dalam Islam, religiusitas tidak hanya dipahami sebagai praktik ibadah ritual semata, tetapi mencakup dimensi keimanan . , pengamalan . , penghayatan . , pengetahuan agama . dan akhlak (Hasibuan, 2. Dalam konteks religiusitas seorang Muslim yang taat akan selalu menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman hidup, termasuk dalam aktivitas ekonomi dan keuangan. Religiusitas menjadi kompas moral yang membentuk pola pikir dan perilaku umat islam dalam mengambil keputusan termasuk keputusan investasi. Islam memerintahkan umatnya untuk mencari rezeki yang halal dan baik . alalan thayyiba. serta menjauhi praktik riba, gharar, dan maisir sebagaimana ditegaskan dalam banyak firman Allah SWT (QS. Al-Baqarah: 275-. Masyarakat milenial merupakan generasi yang adaptif terhadap perubahan termasuk dalam perkembangan teknologi finansial dan investasi. Dalam islam perubahan dan kemajuan teknologi tidak dilarang selama tetap dalam koridor syariat. Rasulullah SAW a Auaa UaaE ca acaA Yang artinya: Ausesungguhnya amal itu tergantung niatnyaAy (HR. Bukhari dan Musli. Hadis ini menegaskan pentingnya niat dan orientasi nilai dalam setiap tindakan termasuk dalam kegiatan ekonomi modern seperti investasi. Ketika persepsi dan preferensi milenial dibingkai dengan nilai-nilai keislaman maka aktivitas ekonomi seperti investasi akan mengarah pada pilihan yang sesuai syariat seperti investasi syariah. Investasi dalam islam harus memenuhi prinsip: Halal secara objek dan aktivitas Bebas dari riba, gharar, dan maisir Mengandung nilai keadilan dan kemaslahatan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 581 Minat terhadap investasi syariah tumbuh dari kesadaran religius bahwa harta harus dikembangkan dengan cara yang diridhai Allah SWT. Generasi milenial yang memiliki pemahaman dan pengamalan agama yang kuat akan cenderung lebih tertarik pada investasi syariah karena sesuai dengan prinsip keimanan dan dapat membawa Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia adalah ladang amal untuk Oleh karena itu segala bentuk aktivitas ekonomi harus dipertanggungjawabkan secara spiritual. Investasi syariah tidak hanya menjanjikan keuntungan duniawi tetapi juga nilai-nilai ukhrawi. Hal ini yang menjadikan religiusitas sebagai pengarah preferensi terhadap ekonomi yang berbasis syariah. Persepsi Persepsi merupakan proses internal individu dalam menafsirkan dan memahami informasi yang diterima melalui pancaindra. Menurut Robbins . , persepsi adalah proses di mana individu mengorganisasikan dan menginterpretasikan kesan sensorik mereka untuk memberikan makna terhadap lingkungan mereka. Dalam konteks ekonomi atau keuangan, persepsi dapat diartikan sebagai bagaimana individu memahami, menilai, dan merespons suatu produk atau layanan finansial seperti investasi. Faktor-faktor yang memengaruhi persepsi antara lain: Pengetahuan dan pengalaman sebelumnya Lingkungan sosial Keyakinan pribadi Media dan teknologi Generasi milenial . ahir antara tahun 1981Ae1. memiliki karakteristik unik dibanding generasi sebelumnya, yaitu: Digital-native: terbiasa dengan teknologi dan internet Kritis dan mandiri dalam mengambil keputusan Peduli pada nilai dan etika, termasuk dalam aspek keuangan Terbuka terhadap inovasi, termasuk platform investasi digital Berorientasi pada pengalaman dan nilai spiritual Milenial saat ini menjadi kelompok usia produktif yang mulai aktif dalam dunia investasi. Namun, minat investasi mereka sangat dipengaruhi oleh persepsi terhadap keamanan, nilai-nilai yang dianut . ermasuk keislama. , serta kenyamanan teknologi. Dalam penelitian Robbins . menemukan teori yg menyatakan bahwa persepsi tidak bersifat objektif, melainkan subjektif dan dipengaruhi oleh faktor internal . otivasi, pengalaman, emos. dan eksternal . nformasi, media, lingkungan sosia. Dalam konteks investasi milenial akan membentuk persepsi mereka berdasarkan pengalaman digital pemahaman keuangan dan nilai-nilai pribadi. Preferensi Preferensi merupakan kecenderungan atau pilihan individu terhadap sesuatu dibandingkan dengan alternatif lainnya. Menurut Kotler dan Keller . preferensi konsumen adalah sikap memilih suatu produk atau layanan berdasarkan manfaat, nilai, dan kepuasan yang dirasakan. Dalam konteks investasi, preferensi generasi milenial mencerminkan pilihan mereka terhadap jenis investasi tertentu, misalnya investasi berbasis syariah dibandingkan konvensional, yang dipengaruhi oleh faktor nilai, risiko, return, serta pertimbangan etika dan religiusitas. Dalam teori utilitas menjelaskan bahwa individu akan memilih produk . ermasuk investas. yang memberikan kepuasan . Milenial cenderung memilih investasi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga sejalan dengan nilai moral atau religius. Teori preferensi dapat digunakan untuk menganalisis tingkat kepuasan bagi konsumen, misalnya bila seseorang ingin mengkonsumsi atau menggunakan sebuah produk atau jasa dengan sumber daya terbatas maka ia harus memilih alternative sehingga nilai guna atau utilitas yang diperoleh mencapai optimal. Preferensi konsumen dapat diketahui dengan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 582 mengukur tingkat kegunaan dan nilai relatif penting setiap atribut yang terdapat pada suatu produk atau jasa. Atribut yang ditampilkan pada suatu produk atau jasa dapat menimbulkan daya tarik pertama yang dapat mempengaruhi konsumen. Penilaian terhadap produk dan jasa menggambarkan sikap konsumen terhadap produk atau jasa tersebut, sekaligus dapat mencerminkan perilaku konsumen dalam menggunakan atau mengkonsumsi suatu produk atau jasa (Harianto, 2. Penelitian Terdahulu dan Posisi Penelitian Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji keterkaitan religiusitas, persepsi, dan preferensi dengan perilaku keuangan syariah, namun dengan fokus dan pendekatan yang menggunakan pendekatan kuantitatif untuk membuktikan pengaruh religiusitas terhadap preferensi masyarakat memilih produk keuangan syariah, dan menyimpulkan adanya hubungan positif di antara keduanya. (Rohani, 2. serta (Hazarillah, 2. mengkaji persepsi risiko dan keamanan yang memengaruhi minat menabung atau berinvestasi syariah, sementara (Mujaddid, 2. menyoroti preferensi konsumen terhadap produk syariah dari sisi manfaat dan nilai yang dirasakan. Penelitian-penelitian tersebut secara konsisten membuktikan bahwa religiusitas, persepsi, dan preferensi merupakan tiga variabel yang saling berkaitan dalam membentuk keputusan keuangan syariah. Akan tetapi, penelitian tersebut umumnya menguji ketiga variabel secara terpisah melalui desain survei-kuantitatif dan berfokus pada produk perbankan syariah, seperti tabungan dan pembiayaan, sehingga belum menjelaskan secara mendalam bagaimana proses internal religiusitas berinteraksi dengan persepsi dan preferensi dalam membentuk minat investasi syariah, khususnya pada instrumen pasar modal syariah dan pada segmen generasi Berdasarkan analisis kritis terhadap penelitian-penelitian terdahulu, penelitian ini diposisikan untuk mengisi tiga celah utama. Pertama, secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk mengungkap makna dan pengalaman subjektif informan, bukan sekadar menguji hubungan statistis antarvariabel. Kedua, secara tematik, penelitian ini berfokus pada investasi syariah di pasar modal, seperti saham syariah, sukuk, dan reksa dana syariah, bukan produk perbankan syariah semata. Ketiga, secara kontekstual, penelitian ini mengambil lokus Kota Medan sebagai kota metropolitan dengan populasi Muslim milenial yang besar, namun belum banyak diteliti dalam literatur investasi syariah. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan kebaruan berupa pemahaman yang lebih kontekstual dan mendalam mengenai bagaimana religiusitas memodernisasi, dalam arti membentuk ulang dan menyesuaikan, persepsi dan preferensi investasi generasi milenial Muslim di Kota Medan. Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain fenomenologis untuk memahami secara mendalam pengaruh religiusitas terhadap persepsi dan preferensi minat investasi syariah pada generasi milenial Muslim di Kota Medan. Data penelitian terdiri atas data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, serta data sekunder yang bersumber dari Bursa Efek Indonesia, jurnal ilmiah, dan buku yang relevan. Subjek penelitian terdiri atas 10 informan utama yang merupakan generasi milenial Muslim berusia 30Ae45 tahun di Kota Medan. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan pengalaman, pengetahuan, atau ketertarikan terhadap investasi Wawancara dilakukan secara tatap muka di lokasi yang disepakati bersama dengan durasi sekitar 30Ae60 menit untuk setiap informan. Seluruh wawancara direkam dengan persetujuan informan, disertai pencatatan lapangan . ield note. , kemudian ditranskripsikan secara verbatim sebagai bahan analisis. Proses pengumpulan data dihentikan setelah tidak ditemukan informasi baru atau telah mencapai data saturation. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 583 Analisis data menggunakan teknik analisis tematik melalui beberapa tahapan, yaitu mentranskripsikan hasil wawancara, membaca transkrip secara berulang untuk memperoleh pemahaman menyeluruh, menyusun kode awal berdasarkan pernyataanpernyataan penting, mengelompokkan kode ke dalam subtema yang memiliki kesamaan makna, kemudian mengembangkan subtema menjadi tema utama yang merepresentasikan pengalaman informan. Tema-tema yang diperoleh selanjutnya ditelaah kembali dengan membandingkan seluruh data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi sebelum disusun menjadi narasi deskriptif. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, serta memenuhi kriteria credibility, transferability, dependability, dan confirmability. Hasil dan Pembahasan Hasil Penelitian Studi ini melibatkan informan yang dipilih berdasarkan kriteria purposive, yaitu milenial Muslim di Kota Medan yang memiliki ketertarikan atau pengalaman dalam investasi, khususnya investasi berbasis syariah. Berikut ini adalah gambaran umum informan yang telah diwawancarai: Table 1 Gambaran Umum Informan di Kota Medan Kode Informan Jenis Kelamin Laki- laki Laki- laki Perempuan Perempuan Laki- laki Laki Ae laki Perempuan Perempuan Perempuan Laki- laki Usia Profesi Status Investasi Pegawai swasta ASN Mahasiswi S2 Pegawai swasta ASN Pengusaha Pegawai swasta Pegawai swasta Pengusaha Investor aktif (Syaria. Masih ragu Baru memulai Aktif komunitas investasi syariah Investor aktif Investor syariah Investasi aktif non syariah Investor syariah Investor syariah Baru memulai Sumber: Olah Data Penulis . Pedoman wawancara dalam penelitian ini disusun berdasarkan fokus penelitian yang mengkaji pengaruh religiusitas, persepsi, dan preferensi generasi milenial terhadap minat investasi syariah di Kota Medan. Wawancara dilakukan secara mendalam . n depth intervie. dengan menggunakan pedoman semi-terstruktur. Pedoman ini memuat pokokpokok pertanyaan yang bersifat fleksibel, sehingga memungkinkan peneliti untuk menggali jawaban informan secara lebih luas dan mendalam sesuai dengan konteks percakapan. Pertanyaan wawancara disusun dengan merujuk pada rumusan masalah penelitian, meliputi lima aspek utama: . religiusitas, . persepsi, . preferensi, . faktor pendorong dan penghambat, serta . pengalaman dan harapan terhadap investasi syariah. Setiap aspek diuraikan ke dalam indikator yang lebih spesifik, kemudian dijabarkan dalam bentuk pertanyaan wawancara beserta tujuan dari masing-masing pertanyaan. Melalui pedoman ini, peneliti berusaha menjaga fokus wawancara agar tetap sesuai dengan tujuan penelitian, namun tetap memberi ruang bagi informan untuk mengemukakan pandangan, pengalaman, dan persepsi mereka secara bebas. Dengan demikian, data yang diperoleh tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga mendalam dan kontekstual, sehingga dapat menjawab rumusan masalah penelitian secara komprehensif. Berikut ini adalah pedoman wawancara yang penulis rangkum dalam table. Table 2 Pedoman Wawancara Aspek/Indikator Religiusitas Pertanyaan Wawancara Bagaimana Anda mengenai pentingnya nilai agama dalam aktivitas ekonomi, khususnya Tujuan Pertanyaan Mengetahui keputusan investasi. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 584 Apa alasan Anda memilih . tau belum memili. investasi berbasis syariah dibandingkan investasi konvensional? Apakah Anda merasa lebih tenang atau nyaman dengan instrumen investasi syariah? Mengapa? Bagaimana persepsi Anda terhadap keamanan dan risiko investasi syariah? Menurut Anda, apakah keuntungan investasi syariah cukup kompetitif Persepsi Apa kendala utama yang Anda hadapi dalam memahami produk investasi syariah? Jenis instrumen investasi apa yang Anda pilih atau minati . eksadana syariah, sukuk, saham syariah, dll. Preferensi Mengapa Anda instrumen syariah lainnya? Faktor apa yang mendorong Anda untuk berinvestasi syariah . isalnya pengaruh teman, komunitas, literasi. Faktor Pendorong dan Penghambat 10. Faktor apa yang membuat Anda ragu atau enggan berinvestasi syariah? Bagaimana pengalaman Anda sejauh ini dalam berinvestasi syariah? Pengalaman Dan Harapan Apa Anda perkembangan investasi syariah di masa depan? Menggali motivasi religius dan spiritual di balik preferensi Memahami aspek psikologis keputusan investasi. Mengidentifikasi persepsi risiko dibandingkan dengan investasi Menganalisis persepsi tentang keuntungan finansial. Menggali hambatan persepsi dan literasi keuangan. Mengetahui preferensi instrumen syariah yang diminati. Memahami dasar preferensi terhadap produk tertentu. Mengidentifikasi Mengetahui Mendapatkan kendala lapangan. Menggali rekomendasi informan untuk Sumber: Olah Data Penulis . Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, ditemukan beberapa tema utama yang menunjukkan hubungan antara religiusitas, persepsi, dan preferensi terhadap minat investasi syariah pada generasi milenial. Temuan tersebut dikelompokkan ke dalam subtema sebagai berikut: Religiusitas sebagai Dasar Pertimbangan Investasi Syariah Religiusitas muncul sebagai faktor dominan yang memengaruhi pilihan investasi syariah. Mayoritas informan menyatakan bahwa alasan utama mereka berinvestasi dalam instrumen syariah adalah keinginan untuk menghindari riba dan menjaga kehalalan harta. Informan A . tahun, pegawai swast. menegaskan bahwa. AuSaya memilih investasi syariah karena merasa lebih tenang. Bagi saya, aspek halal itu penting. Selain itu, saya juga ingin menjaga harta saya agar tetap bersih dari riba. Ay Hal senada diungkapkan Informan H . tahun, pegawai swast. , yang menyatakan bahwa kenyamanan spiritual lebih utama daripada besaran keuntungan. AuSaya memilih investasi syariah karena ingin menyesuaikan dengan prinsip agama. Walaupun kadang hasilnya tidak sebesar investasi konvensional, tapi saya lebih nyaman. Ay Informan D . tahun, mahasiswi S. memberikan dimensi tambahan dengan menekankan bahwa investasi syariah bukan hanya sarana mencari keuntungan, melainkan juga bentuk ibadah. Ia mengatakan. AuMenurut saya, investasi syariah bukan hanya soal keuntungan, tapi juga bentuk ibadah dan kontribusi ke Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 585 sistem ekonomi Islam. Ay Dengan demikian, religiusitas tidak hanya menjadi pendorong awal, tetapi juga memperkuat komitmen informan untuk tetap konsisten pada investasi syariah meski menghadapi keterbatasan keuntungan. Persepsi terhadap Keamanan dan Keuntungan Investasi Syariah Selain religiusitas, persepsi mengenai aspek keamanan dan keuntungan juga berpengaruh terhadap minat berinvestasi. Beberapa informan menunjukkan keraguan terhadap imbal hasil investasi syariah. Informan B . ASN) mengungkapkan. AuSaya tertarik sebenarnya, karena banyak teman kantor ikut investasi syariah. Tapi saya masih ragu apakah keuntungannya bisa menyaingi investasi konvensional. Ay Sebaliknya, informan yang sudah lebih lama berinvestasi justru menekankan aspek stabilitas. Informan F . ASN) menyatakan bahwa hasil dari investasi syariah memang tidak fantastis, namun memberikan rasa aman. AuSaya sudah coba beberapa instrumen, seperti sukuk dan deposito syariah. Hasilnya tidak fantastis, tapi cukup stabil. Ay Di sisi lain, informan G . tahun, pengusah. menunjukkan persepsi yang lebih Baginya, syariah belum mampu menandingi fleksibilitas dan profitabilitas instrumen konvensional. Ia mengatakan. AuSaya tahu ada investasi syariah, tapi menurut saya kurang fleksibel dan return-nya terbatas. Ay Dari temuan ini dapat disimpulkan bahwa persepsi terhadap keamanan dan keuntungan investasi syariah sangat beragam. Ada informan yang melihat stabilitas sebagai nilai positif, sementara yang lain masih menilai bahwa keuntungan syariah relatif kecil dibandingkan dengan investasi konvensional. Preferensi Investasi Syariah dibanding Konvensional Hasil wawancara juga memperlihatkan preferensi yang berbeda antar informan. Kelompok yang aktif berinvestasi syariah (A. H, dan I) lebih memilih instrumen syariah meskipun imbal hasil lebih rendah, karena nilai-nilai religiusitas menjadi prioritas utama. Informan C . tahun, freelance. dan J . tahun, pengusah. yang baru memulai berinvestasi, menjadikan investasi syariah sebagai sarana pembelajaran sekaligus Informan J menyatakan. AuSaya baru mencoba investasi syariah. Motivasi saya karena ingin diversifikasi usaha. Saya tidak ingin semua aset saya di bisnis saja. Ay Sementara itu. Informan G tetap memilih investasi konvensional dengan alasan keuntungan lebih besar dan instrumen lebih beragam. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan preferensi berdasarkan latar belakang profesi, pengalaman, dan orientasi nilai dari masing-masing informan. Faktor Pendorong dan Penghambat Minat Investasi Syariah Temuan lapangan menunjukkan adanya faktor pendorong dan penghambat dalam berinvestasi syariah. Faktor Pendorong yang dominan adalah religiusitas, yaitu dorongan untuk menghindari riba dan menjaga kehalalan harta (A. I). Selain itu, dukungan komunitas investasi syariah (D. H), pengaruh teman sebaya (I), serta keinginan untuk belajar dan memperluas literasi keuangan (C. J) juga memperkuat minat investasi . Faktor Penghambat di antaranya adalah rendahnya literasi keuangan pada investor pemula (C. I), keraguan terhadap tingkat keuntungan (B), serta anggapan bahwa produk syariah kurang fleksibel (G). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun aspek religiusitas kuat mendorong minat, namun hambatan dari sisi literasi dan persepsi keuntungan masih menjadi tantangan utama bagi pengembangan investasi syariah di kalangan milenial. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 586 Pembahasan Penelitian Religiusitas sebagai Faktor Penentu Minat Investasi Syariah Hasil penelitian menunjukkan bahwa religiusitas menjadi faktor dominan dalam mendorong generasi milenial berinvestasi pada instrumen syariah. Sebagian besar informan (A. H, dan I) menekankan pentingnya menghindari riba serta menjaga kehalalan harta. Informan D bahkan menyebutkan bahwa investasi syariah merupakan bentuk ibadah sekaligus kontribusi pada sistem ekonomi Islam. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Dayana, 2. yang menyatakan bahwa religiusitas berperan signifikan dalam memengaruhi keputusan masyarakat Muslim untuk menggunakan produk keuangan syariah. (Nurhayati, 2. juga menemukan bahwa tingkat religiusitas berhubungan positif dengan preferensi masyarakat terhadap investasi syariah. Dengan demikian, hasil wawancara dalam penelitian ini memperkuat argumen bahwa nilai agama bukan hanya motivasi moral, tetapi juga determinan praktis dalam pengambilan keputusan finansial. Meskipun demikian, temuan ini juga memperlihatkan nuansa yang belum banyak terungkap dalam penelitian kuantitatif sebelumnya. Jika (Nurhayati & Bayu, 2. mengukur religiusitas sebagai variabel yang memengaruhi preferensi secara statistis, wawancara mendalam dalam studi ini menunjukkan bagaimana religiusitas bekerja secara prosesual: bermula dari kesadaran menghindari riba, berkembang menjadi orientasi keberkahan, dan pada sebagian informan seperti D bertransformasi menjadi pemaknaan investasi sebagai ibadah. Proses internalisasi nilai semacam ini sejalan dengan konsep religiusitas pada kajian pustaka yang menempatkan iman, amal, dan akhlak sebagai satu kesatuan, namun belum banyak dieksplorasi secara naratif dalam penelitian investasi syariah terdahulu (Februari et al. , 2. Insight utama dari temuan ini adalah bahwa religiusitas milenial Muslim di Kota Medan tidak bersifat statis, melainkan berkembang melalui pengalaman personal dan sosial, sehingga kekuatannya sebagai determinan investasi dapat menguat seiring waktu. Persepsi terhadap Keamanan dan Keuntungan Investasi Syariah Persepsi milenial mengenai investasi syariah menunjukkan variasi. Informan B masih ragu terhadap tingkat keuntungan syariah, sementara Informan G menilai produk syariah kurang Sebaliknya. Informan F dan E menekankan stabilitas sebagai keunggulan investasi syariah, meskipun hasilnya tidak sebesar konvensional. Temuan ini konsisten dengan penelitian (Nurhayati & Bayu, 2. yang menyatakan bahwa persepsi risiko dan keuntungan memengaruhi keputusan investor dalam memilih instrumen investasi syariah. (Hasanah, 2. juga menemukan bahwa sebagian investor melihat investasi syariah lebih aman, meskipun return dianggap lebih kecil dibandingkan instrumen konvensional. Dengan demikian, wawancara lapangan menunjukkan adanya perbedaan persepsi yang disebabkan oleh literasi keuangan dan orientasi nilai dari masingmasing informan. Perbedaan penting yang ditemukan dalam penelitian ini adalah bahwa persepsi terhadap keamanan dan keuntungan investasi syariah pada milenial di Kota Medan tidak semata dibentuk oleh informasi produk, melainkan juga oleh lamanya pengalaman Informan F yang telah lama berinvestasi cenderung memaknai stabilitas sebagai nilai positif, sedangkan Informan B yang relatif baru justru menekankan aspek defisit keuntungan. Pola ini memperluas teori persepsi Robbins . yang menyatakan bahwa persepsi dibentuk oleh faktor internal . engalaman, motivas. dan eksternal . nformasi, lingkungan sosia. : dalam konteks penelitian ini, pengalaman investasi tampak menjadi variabel penengah yang menentukan apakah seorang milenial memaknai karakteristik produk syariah sebagai kekurangan atau justru sebagai kelebihan. Temuan ini memberikan insight bahwa strategi edukasi literasi keuangan syariah perlu disesuaikan Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 587 dengan tahap pengalaman investor, bukan disamaratakan untuk seluruh segmen milenial (Februari, 2024. Preferensi Investasi Syariah dibandingkan Konvensional Hasil penelitian memperlihatkan adanya dua kelompok preferensi. Kelompok pertama, seperti informan A. H, dan I, lebih memilih syariah karena pertimbangan religiusitas, meski return kecil. Kelompok kedua, seperti informan C dan J, memilih syariah sebagai sarana pembelajaran dan diversifikasi. Adapun informan G tetap berinvestasi pada instrumen konvensional karena lebih menekankan keuntungan. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Fadli et al. , 2. yang menemukan bahwa preferensi masyarakat terhadap investasi syariah dipengaruhi oleh nilai religiusitas, literasi, dan motivasi finansial. Penelitian (Dhea et al. , 2. juga mengonfirmasi bahwa meskipun tingkat keuntungan investasi syariah relatif lebih rendah, sebagian besar investor Muslim tetap memilih instrumen syariah karena alasan keyakinan agama. Dengan demikian, wawancara dalam penelitian ini mengonfirmasi adanya segmentasi investor: mereka yang berorientasi religius cenderung memilih syariah, sedangkan mereka yang berorientasi profit lebih memilih konvensional. Pola segmentasi preferensi yang ditemukan dalam penelitian ini memperkaya teori utilitas yang diuraikan pada kajian pustaka. Jika teori utilitas konvensional mengasumsikan individu memilih alternatif dengan nilai guna finansial tertinggi, temuan pada informan A. H, dan I menunjukkan bahwa nilai guna yang dikejar bukan semata utilitas material, melainkan utilitas spiritual berupa keberkahan dan ketenangan batin, sehingga mereka tetap memilih instrumen syariah meski imbal hasil lebih rendah. Sebaliknya. Informan G merepresentasikan pola utilitas klasik yang berorientasi murni pada keuntungan finansial. Adapun Informan C dan J memperlihatkan pola ketiga yang belum banyak dibahas dalam penelitian (Waadarahmah, 2. maupun (Misbachul Munir, 2. , yaitu preferensi yang terbentuk bukan dari keyakinan maupun perhitungan untung-rugi semata, melainkan dari motif eksploratif untuk belajar dan mendiversifikasi portofolio. Segmentasi tiga pola preferensi, religius, berorientasi profit, dan eksploratif, ini menjadi salah satu temuan penting yang memperluas pemahaman perilaku investor Muslim milenial di luar dikotomi syariahkonvensional yang selama ini mendominasi literatur. Faktor Pendorong dan Penghambat Minat Investasi Syariah Dari hasil studi ditemukan bahwa faktor pendorong investasi syariah antara lain religiusitas, dukungan komunitas, pengaruh teman, dan keinginan untuk meningkatkan literasi keuangan. Informan D dan H, misalnya, mengaku semakin yakin berinvestasi syariah setelah bergabung dalam komunitas ekonomi syariah. Sementara faktor penghambat meliputi rendahnya literasi (C. I), keraguan terhadap keuntungan (B), dan pandangan negatif bahwa produk syariah kurang fleksibel (G). Hasil ini selaras dengan penelitian (Suryani & Siregar, 2. yang menunjukkan bahwa literasi keuangan berpengaruh signifikan terhadap minat masyarakat berinvestasi syariah. Penelitian (Sutarya et al. , 2. juga menekankan bahwa hambatan utama adopsi produk syariah adalah minimnya pemahaman masyarakat terhadap instrumen yang ditawarkan. Dengan demikian, wawancara yang dilakukan peneliti memperkuat temuan tersebut: meskipun faktor religiusitas kuat, rendahnya literasi dan persepsi keuntungan menjadi tantangan nyata dalam meningkatkan minat investasi syariah. Interaksi antara faktor pendorong dan penghambat yang ditemukan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa minat investasi syariah pada milenial bukan hasil dari satu variabel tunggal, melainkan interaksi dinamis antara dimensi spiritual . , dimensi sosial . omunitas dan pengaruh teman sebay. , dan dimensi kognitif . iterasi keuanga. Temuan bahwa Informan D dan H semakin mantap berinvestasi syariah setelah terlibat dalam komunitas memperkuat argumen (Agustin & Hakim, 2. dan (Sahira et al. , 2. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 588 mengenai peran literasi, namun juga menambahkan elemen baru berupa peran modal sosial . ocial capita. komunitas sebagai penguat komitmen religius, aspek yang belum banyak disoroti dalam penelitian investasi syariah berbasis survei. Dengan demikian, penguatan minat investasi syariah pada milenial memerlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada edukasi produk, tetapi juga pada penguatan ekosistem komunitas sebagai wahana penguatan nilai. Sintesis dan Insight Temuan Secara keseluruhan, sintesis atas keempat tema menunjukkan bahwa minat investasi syariah pada generasi milenial Muslim di Kota Medan terbentuk melalui interaksi tiga lapis faktor, yaitu lapis spiritual . eligiusitas sebagai fondasi nila. , lapis kognitif-persepsual . emahaman dan penilaian rasional terhadap produ. , dan lapis sosial . omunitas, teman sebaya, dan literasi kolekti. Ketiga lapis ini dapat saling memperkuat atau justru saling menghambat, tergantung pada sejauh mana nilai religius seorang milenial telah terinternalisasi dan sejauh mana literasi keuangan syariahnya berkembang. Insight utama yang dapat ditarik adalah bahwa religiusitas berfungsi memodernisasi, dalam arti membentuk ulang, cara generasi milenial memandang dan memilih instrumen investasi, menyubordinasikannya pada kerangka nilai keislaman. Implikasi Teoretis Secara teoretis, temuan ini memperkaya kajian perilaku investor Muslim dengan menawarkan model interaksi religiusitas, persepsi, dan preferensi yang bersifat prosesual dan kontekstual, melengkapi model-model sebelumnya yang umumnya menempatkan ketiga variabel tersebut sebagai variabel independen-dependen dalam desain surveikuantitatif. Penelitian ini juga memperluas penerapan teori persepsi Robbins . dan teori preferensi atau utilitas Kotler dan Keller . ke ranah investasi syariah di pasar modal, konteks yang sebelumnya lebih banyak diterapkan pada produk perbankan Implikasi Praktis dan Kontribusi Penelitian Secara praktis, temuan ini memberikan sejumlah masukan bagi lembaga keuangan syariah, regulator pasar modal, dan komunitas edukasi keuangan. Pertama, strategi edukasi literasi keuangan syariah perlu dirancang berjenjang sesuai tahap pengalaman investor, mengingat persepsi terhadap keamanan dan keuntungan produk syariah berbeda antara investor pemula dan investor berpengalaman. Kedua, penguatan komunitas investasi syariah dapat menjadi strategi efektif untuk mengonversi minat menjadi keputusan investasi aktif, karena modal sosial komunitas terbukti memperkuat komitmen religius informan. Ketiga, inovasi produk syariah yang lebih kompetitif dari sisi imbal hasil dan fleksibilitas diperlukan untuk menjangkau segmen milenial yang berorientasi profit maupun yang bersifat eksploratif-diversifikatif. Kontribusi praktis ini melengkapi kontribusi teoretis penelitian, sekaligus menjawab tujuan penelitian yang dirumuskan pada bagian Kebaruan (Novelt. Penelitian Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan kualitatif fenomenologis untuk memahami secara mendalam bagaimana religiusitas membentuk makna, persepsi, dan preferensi investasi syariah pada generasi milenial Muslim di Kota Medan. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang didominasi pendekatan kuantitatif dan berfokus pada hubungan antarvariabel, penelitian ini mengungkap pengalaman subjektif informan dalam memaknai investasi syariah. Penelitian ini juga menghasilkan temuan mengenai segmentasi preferensi investor Muslim milenial ke dalam tiga kelompok, yaitu religius, berorientasi profit, dan eksploratif. Temuan tersebut memberikan kontribusi Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 9 . | 589 dalam memperkaya kajian investasi syariah di pasar modal, khususnya pada konteks generasi milenial Muslim di Kota Medan. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian, dapat dipahami bahwa minat investasi syariah pada generasi milenial di Kota Medan dipengaruhi oleh faktor spiritual berupa religiusitas serta pertimbangan rasional, seperti persepsi terhadap keuntungan dan keamanan investasi. Religiusitas berperan penting dalam membentuk preferensi investasi sesuai dengan prinsip syariah, sedangkan persepsi terhadap keuntungan dan keamanan menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan investasi. Dengan demikian, preferensi investasi syariah merupakan hasil interaksi antara religiusitas, literasi keuangan, pengaruh sosial, dan persepsi terhadap produk investasi yang tersedia. Daftar Pustaka