JKM Jurnal Kesehatan Masyarakat ITEKES Cendekia Utama Kudus P-ISSN 2338-6347 E-ISSN 2580-992X Vol. No. April 2026 KARAKTERISTIK PIODERMA DI INDONESIA: A LITERATURE REVIEW Satria Akbar Putra Asmara1. Ulil Albab Habibah2. Khansa Alika Filandra3. Arif Jamal Ar Rasyid4. Taufiq Imansyah5 Fakultas Kedokteran. Universitas Islam Indonesia Email: 23711076@students. ABSTRAK Pioderma merupakan infeksi kulit akibat bakteri yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, terutama dipengaruhi oleh iklim tropis, kebersihan, dan faktor sosial ekonomi. Namun, data mengenai karakteristik pasien dan pola klinis pioderma secara nasional masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik demografis, klinis, dan terapi pioderma di Indonesia. Tinjauan literatur review dilakukan pada Februari 2026 melalui Google Scholar. Pubmed. Garuda, dan ScienceDirect menggunakan kerangka PCC dan panduan PRISMA. Artikel observasional tahun 2016-2026 yang membahas karakteristik pioderma di Indonesia diseleksi. Data yang diekstraksi meliputi usia, jenis kelamin, jenis pioderma, dan terapi. Analisis dilakukan secara naratif. Delapan studi dari berbagai wilayah di Indonesia dianalisis. Pioderma paling sering terjadi pada anak usia 0-5 tahun, meskipun beberapa studi menunjukkan prevalensi tinggi pada usia dewasa lanjut. Mayoritas pasien berjenis kelamin lakilaki, namin perbedaannya tidak signifikan. Jenis pioderma tersering adalah impetigo, diikuti folikulitis, furunkel, dan ektima dengan variasi antar wilayah. Terapi kombinasi . opikal dan sistemi. merupakan pendekatan yang paling sering digunakan. Antibiotik sistemik yang dominan adalah golongan penisilin dan eritromisin, sedangkan antibiotik topikal yang paling banyak digunakan adalah asam fusidat, meskipun mupirosin juga ditemukan pada beberapa fasilitas Pioderma di Indonesia terutama menyerang anak-anak, namun juga dapat ditemukan pada usia dewasa akibat penurunan fungsi kulit dan Jenis kelamin bukan faktor penentu utama, sedangkan higienitas berperan lebih penting. Manifestasi klinis bervariasi antar wilayah dengan impetigo sebagai jenis tersering. Terapi kombinasi menjadi pilihan utama dengan penggunaan antibiotik sistemik golongan penisilin dan topikal asam fusidat. Temuan ini menunjukkan pentingnya data nasional yang lebih representatif untuk mendukung strategi penatalaksanaan pioderma di Indonesia. Kata Kunci: Pioderma. Karakteristik klinis. Terapi. Indonesia ABSTRACT Pyoderma is a bacterial skin infection that remains a significant health problem in Indonesia, influenced by tropical climate, hygiene practices, and socioeconomic However, national data describing patient characteristics and clinical patterns are still limited. This study aims to identify the demographic characteristics, clinical manifestations, and treatment patterns of pyoderma in Indonesia. A literature review was conducted in February 2026 using Google Scholar. PubMed. Garuda, and ScienceDirect based on the PCC framework and PRISMA guidelines. Observational studies published between 2016 and 2026 discussing pyoderma characteristics in Indonesia were included. Extracted data included age, sex, type of pyoderma, and treatment modalities. A narrative analysis was performed. Eight studies from various regions in Indonesia were Pyoderma was most commonly found in children aged 0Ae5 years, although several studies reported a relatively high prevalence among older Most patients were male, but the difference was not significant. The most frequently reported type of pyoderma was impetigo, followed by folliculitis, furuncle, and ecthyma, with variations across regions. Combination therapy using both topical and systemic antibiotics was the most commonly applied treatment Systemic antibiotics were mainly from the penicillin and erythromycin groups, while fusidic acid was the most frequently used topical agent, although mupirocin was also used in some healthcare settings. Pyoderma in Indonesia predominantly affects children but can also occur in adults due to age-related decline in skin function and comorbidities. Sex is not a major risk factor, whereas hygiene plays a more significant role in disease occurrence. Clinical manifestations vary across regions, with impetigo being the most commonly reported type. Combination therapy with topical and systemic antibiotics remains the primary treatment approach, with penicillin as the dominant systemic therapy and fusidic acid as the leading topical agent. Keywords: Pyoderma. Clinical characteristics. Treatment. Indonesia LATAR BELAKANG Pioderma merupakan setiap penyakit infeksi yang menyerang kulit baik di lapisan epidermis maupun dermis . Penyakit ini disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes. Secara umum pioderma dibagi menjadi primer . mpetigo, folikulitis, furunkel, karbunkel, erysipela. dan sekunder . lkus tropikum, dermatitis, scabie. Penyakit ini banyak ditemukan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kondisi Iklim tropis yang secara biologis akan meningkatkan risiko terjadinya infeksi bakteri pada kulit. Pioderma dominan menyerang anak usia sekolah 9-12 tahun dikarenakan faktor kebersihan yang kurang . Faktor pendukung seperti sosial ekonomi yang kurang, kekurangan gizi, tinggal di daerah padat penduduk, dan sanitasi buruk juga dinilai akan meningkatkan risiko. Data di Kota Sumba Barat Daya. Indonesia mendapati bahwa 17. 9% dari total pasien yang datang ke fasilitas kesehatan memiliki keluhan pioderma dengan proporsi pasien anak 7% . Meskipun sering ditemukan di Indonesia, data mengenai profil kasus pioderma yang mencerminkan karakteristik pasien dan distribusinya di fasilitas pelayanan kesehatan masih terbatas. Penelitian yang tersedia umumnya hanya dilakukan di provinsi atau wilayah tertentu, sehingga belum menggambarkan kondisi secara menyeluruh di berbagai daerah di Indonesia. Akibatnya, pola kejadian pioderma secara nasional masih belum dapat dipetakan dengan jelas. Tingginya risiko pioderma di Indonesia yang dipengaruhi oleh iklim tropis, kondisi kebersihan, dan faktor sosial ekonomi menjadikan penyakit ini masih relevan sebagai masalah kesehatan. Keterbatasan data terkini mengenai profil pioderma dapat menghambat upaya penatalaksanaan yang tepat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil pioderma pada pasien di fasilitas pelayanan kesehatan sebagai dasar untuk mendukung upaya penanganan yang lebih efektif di Indonesia. METODE PENELITIAN Tinjauan literatur ini dilakukan pada bulan Februari 2026. Pencarian literatur melalui 4 database yaitu Google Scholar. PubMed. Garuda, dan Sciencedirect. Pencarian dilakukan menggunakan kata kunci yang dikombinasikan dengan boolean operator. Penyusunan kata kunci berdasarkan PCC framework dengan population berupa pasien yang demografis, dan context berupa wilayah Indonesia. Kriteria inklusi yang diterapkan pada penelitian ini adalah artikel 10 tahun terakhir . , artikel yang membahas terkait karakteristik pioderma, studi observasional, dan artikel berbahasa Inggris atau Indonesia. Kriteria eksklusi yang diterapkan pada artikel ini adalah grey literature, conference abstract, letter to editor, artikel yang tidak dapat diakses sepenuhnya. Artikel disaring berdasarkan pedoman PRISMA seperti pada gambar 1. Ekstraksi data dilakukan meliputi nama penulis, tahun terbit, desain studi, lokasi, sampel, dan hasil. Variabel yang dimasukkan dalam kolom hasil meliputi usia, jenis kelamin, jenis pioderma, jenis terapi, terapi topikal, dan terapi sistemik. Analisis dilakukan secara naratif. Gambar 1. Alur PRISMA HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Ekstraksi Data Penulis. Desain Lokasi Sampel Hasil Gama et al. Deskriptif etrospe RSUP 164 orang Prof. Dr. Kandou Manado Jenis kelamin Laki-laki: 51,8% Perempuan: 48,2% Usia 15-24: 17,1% 25-44: 24,4% 45-64: 44,5% >=65: 14% Jenis pioderma Folikulitis : 38,4% Furunkel : 23,8% Selulitis : 19,5% Impetigo bulosa: 0,6% Impetigo krustosa: 1,8% Karbunkel: 3,7% Ektima: 3% Terapi topikal Asam fusidat: 59,8% Mupirosin: 7,3% Gentamicin: 7,3% Silver sulfadiazine: 2,4% Eritromisin: 0,6% Neomisin: 0,6% Tidak menggunakan: 22% Terapi sistemik Sefadroksil: 24,4% Doksisiklin: 1,8% Klindamisin: 48,2% Amoksisilin: 1,8% Eritromisin: 2,4% Ciprofloksasin: 0,6% Co-Amoksiklav: 0,6% Tidak menggunakan: 20,1% Karna et al. Deskriptif etrospe Rumah 202 orang Sakit Umum Pusat Prof. Ngoerah. Denpasar Usia (M/F) 0-5: 40,34%/28,91% 5-11: 17. 64%/13. 12-16: 5. 88%/1. 17-25: 5. 04%/12. 26-35: 16. 80%/19. 36-45: 5. 88%/10. 46-55: 2. 52%/2. 56-65: 4. 20%/8. > 65: 1. 68%/3. Jenis kelamin Laki-laki: 58. Perempuan: 41. Jenis pioderma Ektima: 25. Furunkel: 32. Folikulitis: 12. Karbunkel: 5. Impetigo Bulosa: 11. Jenis terapi Terapi kombinasi: 62. Antibiotik sistemik: 11. Antibiotik topikal: 25. Terapi sistemik Co-Amoxiclav: 64. Cefadroxyl: 32. Erythromycin: 2. Terapi topikal Asam Fusidat: 86. Mupirocin: 1. Gentamicin: 11. Auliya et al Deskriptif etrospe RSUD Dr. 272 orang Soetomo. Surabaya Usia 0-5: 24,1% 5-11: 9,8% 12-16: 5. 17-25: 12. 26-35: 10. 35-45: 11% 46-55: 11. 56-65: 7. > 65: 6. Jenis kelamin Laki-laki: 50. Perempuan: 49. Terapi topikal Antibiotik topikal: 40,3% Steroid topikal: 5. Pelembab: 5. Anti fungal: 0. Lainnya: 24. Terapi sistemik Antibiotik sistemik: 65,1% Antihistamin: 26. Non-steroid oral : 35. Steroid oral: 0. Lainnya: 1. Arthaningsih Deskriptif et al. , 2020 . Rumah 53 orang Sakit Umum Pusat Sanglah,D Usia O 4: 58,5% > 4: 41,5% Jenis kelamin Laki-laki: 64,2% Perempuan: 35,8% Jenis pioderma Impetigo Bulosa: 50,9% Impetigo Krustosa: 15,1% Folikulitis: 11,3% Karbunkel/Furunkel: 1,9% Jenis terapi Topikal: 18,9% Antibiotik Sistemik: 1,9% Topikal Antibiotik Sistemik: 79,2% Terapi sistemik Amoksisilin: 18,6% Sefadroksil: 41,9% Cefixime: 11,6% Eritromisin: 27,9% Terapi topikal Natrium fusidat krim: 40,4% Kompres NaCl 0,9%: 3,8% Kompres NaCl 0,9% natrium fusidat krim: 50% Kompres NaCl 0,9% gentamisin: 5,8% Nurainiwati Deskriptif et al. , 2020 . Rumah Sakit Islam Aisyiyah. Malang 46 orang Ayuningtyas Deskriptif et al. , 2024 . RSUD Dr. 49 orang Soetomo. Surabaya Usia 0-11: 39% 12-25: 28% 26-45: 20% 46-65: 13% Jenis kelamin Laki-laki: 56,52% Perempuan: 43,48% Jenis pioderma Impetigo: 32,6% Ektima: 21,7% Furunkel: 19,5% Folikulitis: 15,3% Jenis terapi Antibiotik Topikal: 15,2% Antibiotik Sistemik dan Topikal: 46,5% Antibiotik Sistemik dan Kompres NaCl 32,6% Terapi sistemik Amoxicillin: 4,76% Amoxicillin Clavulamic Acid: 9,52% Erythromycin: 11,90% Cefixime: 35,71% Cefadroxil: 16,67% Levofloxacine: 11,90% Clindamycin: 4,76% Doxycycline: 4,76% Terapi topikal Mupirocin: 50,00% Na Fucidat: 16,67% Gentamicin: 33,33% Usia 0-4: 51% 5-9: 30,6 % 10-18: 18,4% Jenis kelamin Laki-laki: 47% Perempuan: 53% Jenis terapi Topikal: 10,2% Sistemik: 8,2% Topikal Sistemik: 67,3% Tidak ada data: 14,3% Terapi topikal Antibiotik Topikal: 67,3% Steroid Topikal: 10,2% Moisturizer: 16,3% Kompres NaCl: 40,8% Bedak Salisil (Salicyl Tal. : 4,1% Terapi sistemik Antibiotik Sistemik: 63,3% Antihistamin Oral: 51% Steroid Oral: 2% Oral Non-steroid: 2% Latifah et observasi RSUD 75 Pasien , 2023 . Ulin deskriptif Banjarma sin tahun Umur 0-5: 24% 6-11: 22,7% 12-16: 12% 17-25: 6. 26-35: 4% 36-45: 12% 46-55: 8% 56-65: 9. 65>:1. Jenis kelamin Laki laki:53. Perempuan:46. AJenis pioderma Ektima :25,3% Impetigo Bulosa:20% Furunkel :16% Folikulitis :13. Impetigo Krustosa: 10. Selulitis: 6. Karbunkel:4% Erisipelas: 2. Hidradenitis: 1. Jenis terapi Antibiotik topikal:37. Antibiotik sistemik:33. Antihistamin:19. Lumataw et , 2016 . Kelamin Laki laki:63,16% Perempuan:36,84% Usia A<1 tahun : 12,28% 1-4 tahun : 49,12% 5-14 tahun : 38,60% Jenis pioderma AImpetigo krustosa :39,47% Folikulitis :21,05% Furunkel :18,42% Impetigo bulosa: 12,28% Terapi sistemik Sefadroksil : 11,4% Deskriptif . etrospe RSUPProf 114 Pasien Dr. Kandou Manado. Klindamisin : 0,88% Amoksisilin :1,75% Eritromisin : 67,5% Cefixime :1,75% Terapi topikal Asam Fusidat : 52,63% Mupirosin : 20,18% Gentamisin :17,54% Jenis terapi Terapi Kombinasi . ntibiotik sistemik antibiotik topika. :73,68% Antibiotik Sistemik : 9,65% Antibiotik Topikal :16,67% Keterangan: M=male/ F= female Usia Tinjauan literatur ini melibatkan penelitian dengan ragam populasi. Terdapat penelitian yang hanya melibatkan populasi 0-14 tahun, populasi diatas 15 tahun, dan populasi nol hingga lanjut usia. Namun, secara garis besar, populasi 0-5 tahun merupakan fase usia yang rentan untuk terjangkit pioderma kemudian diikuti populasi anak sekolah. Hal ini disebabkan oleh 2 faktor utama yaitu perilaku dan kondisi Pada fase umur tersebut, anak cenderung memiliki rasa penasaran yang tinggi sehingga minat untuk mengeksplorasi lingkungan juga Eksplorasi yang melibatkan lingkungan dan tidak diimbangi dengan sanitasi yang baik membuat anak menjadi rentan terhadap infeksi oleh patogen . ,6,9,. insiden ini juga diperkuat oleh seringnya anak mengalami cedera yang mengakibatkan luka sehingga mempermudah patogen masuk ke dalam tubuh . Kemudian kondisi tubuh terutama kulit yang belum mumpuni turut berperan dalam hal ini. Kondisi kulit pada anak jika dibandingkan dengan populasi dewasa memiliki epidermis dan dermis yang tipis. Selain itu, protektor pada kulit berupa sistem imun alami dan adaptif juga belum matang . ,6,. Stamatas et al menyebutkan bahwa kulit anak memiliki stratum korneum yang lebih tipis . Namun penelitian Gama et al yang melibatkan populasi diatas 15 tahun hingga lansia menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian ini justru menunjukkan umur 45-64 tahun menjadi populasi yang paling rentan. Mungkin peristiwa ini dapat terjadi karena pada umur tersebut, terjadi penurunan fungsi kulit sehingga kurang mampu melindungi dari trauma. Kemudian munculnya banyak penyakit penyerta seperti diabetes melitus membuat integritas kulit terganggu . Strbo et al menyebutkan penuaan kulit berkaitan dengan bertambahnya umur yang membuat kulit menjadi lebih kering dan tipis sehingga rentan terkena infeksi. Peristiwa ini disebabkan oleh penurunan kolagen dan elastin . Jenis kelamin Mayoritas laki-laki terjangkit pioderma. Hal ini disebabkan oleh perilaku sering beraktivitas diluar rumah sehingga kemungkinan untuk terjadinya trauma dan infeksi lebih besar. Selain itu, laki-laki kurang memperhatikan kebersihan . ,3,5,. Namun, perbedaan ini tidak menunjukkan hasil yang mencolok . ,5,. Sedangkan Nurainiwati et al menyebutkan populasi perempuan lebih rentan. Hal ini mungkin disebabkan oleh pemakaian make up, trauma akibat kebiasaan mencukur dan gemar berpakaian ketat . Namun, perbedaan hasil juga tidak mencolok antara laki-laki dan Depari et al menyebutkan meskipun laki-laki menjadi populasi yang rentan untuk terkena pioderma, namun tidak signifikan . =0. Sedangkan variabel higienitas menunjukkan hasil yang signifikan . Hal ini diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan hasil yang tidak signifikan juga terhadap jenis kelamin. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin bukanlah penentu seseorang lebih beresiko untuk terjangkit pioderma, namun menjaga kebersihan menunjukkan hal yang lebih penting . Jenis pioderma Mayoritas jenis pioderma yang ditemukan adalah impetigo. Penyakit ini sering disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan muncul paling banyak pada populasi anak terutama yang memiliki higienitas yang buruk. ,6,. Sedangkan tiga penelitian lain meunjukkan hasil yang berbeda. Gama et al dan Karna et al menunjukkan folikulitis dan furunkel menjadi jenis pioderma yang paling banyak muncul . kemudian Latifah et al menunjukkan bahwa pioderma terbanyak yang ditemukan secara klinis adalah ektima . Perbedaan ini disebabkan oleh beragamnya populasi umur subjek penelitian. Arthaningsih et al dan Lumataw et al hanya melakukan penelitian pada populasi anak . Sedangkan Nurainiwati et al menggunakan populasi anak hingga pasien usia 65 tahun. Meskipun begitu mayoritas subjek adalah anak-anak . Jenis terapi Mayoritas penelitian terinklusi menggunakan terapi kombinasi sebagai pengobatan. Terapi ini umumnya diberikan untuk pioderma dengan lesi multipel, luas, atau melibatkan infeksi jaringan di bawah kulit . Kombinasi antara terapi topikal dan sistemik ini memiliki beberapa meminimalisir risiko penularan dan resistensi antibiotik . Sedangkan penelitian oleh Latifah et al cenderung menggunakan terapi topikal saja. Hal ini mungkin disebabkan oleh derajat penyakit pada populasi Latifah et al terbilang ringan dan tidak terdapat gejala sistemik sehingga cukup menggunakan terapi topikal saja. Oganesyan et al dan Bandyopadhyay menyatakan terapi topikal sejatinya lebih efektif dan cocok karena bekerja langsung pada lokasi infeksinya . Hasil yang cukup menarik juga ditunjukkan oleh Nurainiwati et al yang menyebutkan sistemik Nacl terbanyak kedua. Kompres NaCl sering diberikan pada pioderma dengan krusta dan pus agar pemberian antibiotik topikal menjadi lebih efektif . Kim & Lee menyebutkan bahwa penggunaan NaCl diikuti antibakterial pelemahan toleransi stress osmotik sel . Antibiotik sistemik Mayoritas penelitian menemukan bahwa antibiotik golongan penicilin dan erithromisin menjadi obat sistemik yang paling banyak diresepkan untuk kasus pioderma. Pemilihan penicilin sebagai antibiotik yang paling sering diresepkan kemungkinan karena penicilin merupakan antibiotik broad spectrum yang dapat menangani berbagai macam bakteri patogen . Sedangkan pemilihan eritromisin dalam peresapan sebagai antibiotik sistemik lini kedua akibat banyaknya kemungkinan akan terjadinya alergi penicilin . Dengan memilih meresepkan eritromisin dibandingkan hipersensitivitas dan juga diharapkan untuk mengurangi biaya lebih yang harus dikeluarkan jika dilakukan tes alergi . Eritromisin bekerja dengan menghambat sintesis protein pada bakteri dan mempunyai spektrum antibakteri yang tidak kalah luas dibandingkan dengan penisilin sebagai antibiotik lini pertama . Selain menghindarkan potensi alergi, eritromisin digunakan akibat tingginya resistensi penicilin. Pada penelitian yang dilakukan James et al ditemukan bahwa angka resistensi penicilin sebagai drug of choice cukup Pada penelitian ini ditemukan bahwa angka resistensi penicilin terhadap S. aureus mencapai 97. Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan resistensi eritromisin pada angka 39. 2% . Antibiotik topikal Mayoritas penelitian menunjukkan asam fusidat merupakan antibiotik topikal yang paling sering digunakan. Dominasi penggunaan asam fusidat dikaitkan dengan efektivitasnya terhadap bakteri gram positif terutama Staphylococcus aureus, permeabilitas kulit yang baik, serta potensi alergi yang rendah. Selain faktor efektivitas dan keamanan, aspek akses pelayanan kesehatan juga berperan dalam pemilihan terapi. Pada beberapa fasilitas kesehatan, mayoritas pasien merupakan pengguna BPJS, sedangkan asam fusidat termasuk dalam daftar obat yang ditanggung BPJS. Hal ini menyebabkan penggunaan asam fusidat cenderung diprioritaskan . ,3,5Ae. Namun, penelitian oleh Nurainiwati et al menunjukkan mayoritas pasien diresepkan mupirocin. Hal ini disebabkan karena memang . Bandyopadhyay serta Galindo & Hebert menunjukkan bahwa mupirocin menjadi lini pertama karena jarang menyebabkan alergi, terbukti efikasinya, dan murah . SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Pioderma di Indonesia ditemukan pada berbagai kelompok usia dengan kecenderungan lebih tinggi pada anak usia dini, meskipun juga dapat muncul pada usia dewasa lanjut. Distribusi jenis kelamin laki-laki kebersihan dan faktor lingkungan lebih berperan dibandingkan jenis Manifestasi klinis bervariasi antar wilayah, dengan impetigo sebagai jenis yang paling sering dilaporkan, diikuti oleh folikulitis, furunkel, dan ektima. Penatalaksanaan umumnya menggunakan terapi kombinasi antibiotik topikal dan sistemik, terutama pada kasus dengan lesi luas atau Antibiotik sistemik yang paling sering digunakan berasal dari golongan penisilin dan eritromisin, sedangkan asam fusidat menjadi terapi topikal yang paling dominan, meskipun mupirosin juga digunakan di beberapa fasilitas kesehatan. Secara keseluruhan, variasi karakteristik klinis dan pilihan terapi menunjukkan bahwa faktor usia, kondisi kulit, higiene, serta praktik pelayanan kesehatan mempengaruhi pola kejadian dan penatalaksanaan pioderma di Indonesia. Saran Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pioderma di berbagai provinsi di Indonesia untuk memperoleh gambaran epidemiologi yang lebih representatif secara nasional. Pengumpulan data yang lebih merata di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan dapat membantu dalam pemetaan pola kejadian pioderma serta faktor-faktor yang Selain itu, peningkatan upaya promotif dan preventif seperti edukasi kebersihan diri, perbaikan sanitasi lingkungan, serta deteksi dini pada kelompok risiko tinggi, terutama anak-anak, perlu dilakukan guna menurunkan angka kejadian pioderma di Indonesia. Kemudian untuk hasil ekstraksi yang lebih lengkap diharapkan dapat mengakses artikel rujukan karena kendala keterbatasan maksimal DAFTAR PUSTAKA