Breastfeeding Self-Efficacy dan Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif di Kota Bandar Lampung Monica Dara Delia Suja*. Roslina. Sudarmi. Lely Sulistianingrum Jurusan Kebidanan Tanjungkarang. Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Tanjungkarang. Lampung Author's Email Correspondence (*): mddsuja@gmail. ( 6285281475. ABSTRAK Pemberian ASI eksklusif 6 bulan awal kehidupan mampu mengurangi 13% angka kematian balita serta jadi salah satu strategi pengukuran dalam upaya menaikkan status gizi serta kelangsungan hidup balita. Hasil Riskesdas tahun 2021 menunjukkan bahwa pemberian ASI Eksklusif sampai usia bayi 6 bulan di Indonesia masih rendah, yaitu hanya sebesar 52,5%. Kegagalan pemberian ASI eksklusif kerap menjadi masalah bagi para ibu menyusui. Permasalahan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pengetahuan, sosial support, keyakinan diri untuk menyusui atau breastfeeding self-efficacy (BSE). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan breastfeeding self-efficacy (BSE) dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu di wilayah kerja Puskesmas Korpri Kota Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Responden pada penelitian ini adalah ibu postpartum di wilayah kerja Puskesmas Korpri Kota Bandar Lampung. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan menetapkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara breastfeeding self-efficacy dengan keberhasilan ASI Eksklusif . -value <0,. Peningkatan breastfeeding self-efficacy pada ibu menyusui dapat menjadi kegiatan rutin yang harus dilaksanakan oleh tenaga Kata Kunci: menyusui. ASI eksklusif. efikasi diri Published by: Article history : Tadulako University Received : 12 10 2023 Address: Received in revised form : 30 10 2023 Jl. Soekarno Hatta KM 9. Kota Palu. Sulawesi Tengah. Accepted : 02 11 2023 Indonesia. Available online : 31 12 2023 Phone: 6282348368846 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Email: preventifjournal. fkm@gmail. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 14 NOMOR 3 ABSTRACT Giving exclusive breastfeeding in the first 6 months of life can reduce the infant mortality rate by 13% and is one of the measurement strategies in an effort to improve the nutritional status and survival of The results of Indonesia's Basic Health Survey in 2020 show that exclusive breastfeeding until the baby is 6 months old in Indonesia is still low, namely only 52. Failure to provide exclusive breastfeeding is often a problem for breastfeeding mothers. This problem can be caused by several factors, such as knowledge, social support, and a mother's self-confidence to breastfeed, or breastfeeding selfefficacy (BSE). This study aims to determine the relationship between breastfeeding self-efficacy (BSE) and the success of providing exclusive breastfeeding to mothers located in the Korpri Public Health Center work area in Bandar Lampung City. This research uses a cross-sectional research design. The respondents in this study were postpartum mothers in the Korpri Health Center working area in Bandar Lampung City. Samples were selected using purposive sampling techniques and establishing inclusion and exclusion criteria. The results of this study show that there is a significant relationship between breastfeeding self-efficacy and the success of exclusive breastfeeding . -value <0. Increasing breastfeeding self-efficacy in mothers should be a routine activity that must be carried out by health workers in public health centers. Keywords : breastfeeding. exclusive breastfeeding. self-efficacy PENDAHULUAN Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber asupan nutrisi yang maksimal untuk bayi sampai umur 24 bulan serta dapat memberikan manfaat bagi kesehatan secara raga serta psikis baik pada ibu dan bayi. ASI eksklusif sepanjang 6 bulan salah satu bagian terutama dalam Sustainable Development Goals (SDG. yang ialah rencana aksi global dunia menggapai peningkatkan kesehatan ditahun 2030. Pemberian ASI eksklusif 6 bulan awal kehidupan sanggup kurangi 13% kematian balita serta jadi salah satu strategi pengukuran dalam upaya menaikkan status gizi serta kelangsungan hidup balita . Data dari World Health Organization (World Health Organizatio. menampilkan ada 800. 000 balita wafat pada tahun 2016 sebab pemberian ASI eksklusif yang tidak maksimal. Sehingga sasaran pemberian ASI eksklusif 6 bulan pada tahun 2025 sebanyak 50% . United Nations Childrens Emergency Fund (UNICEF) pula menargetkan tiap negeri wajib sanggup menggapai angka 80% guna kurangi efek terbentuknya bermacam permasalahan kesehatan pada balita . Kegagalan pemberian ASI eksklusif kerap menjadi masalah bagi para ibu menyusui. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 14 NOMOR 3 Permasalahan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pengetahuan, sosial support, keyakinan diri untuk menyusui atau breastfeeding self-efficacy . Faktor lainnya seperti sosial support yang diberikan baik keluarga maupun petugas kesehatan mengindikasikan bahwa pemberian ASI tidak eksklusif pada bayi hampir 3 kali lebih besar pada ibu yang memiliki social support rendah . BSE ibu yang rendah membuat mereka tidak memberikan ASI eksklusif. Ibu merasa tidak mempunyai kecukupan produksi ASI untuk memenuhi kebutuhan bayi menjadi faktor utama ibu tidak memberikan ASI eksklusif atau menghentikan pemberian ASI sebelum waktunya, sehingga menjadi salah satu penentu berhasil atau gagal dari pemberian ASI eksklusif, penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara breastfeeding self-efficacy dengan keberhasilan ASI eksklusif . Hasil Riskesdas tahun 2020 menunjukkan bahwa pemberian ASI Eksklusif sampai usia bayi 6 bulan di Indonesia masih rendah, yaitu hanya sebesar 15,3%. Pemberian ASI Eksklusif di Provinsi Lampung pada tahun 2020 adalah sebesar 59,4%. Data Profil Kesehatan Kota Bandar Lampung Tahun 2021 persentase pemberian ASI Eksklusif 88,9%, angka ini meningkat dibandingkan tahun 2020 yaitu 72,3%. Namun, data Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa kecamatan yang memiliki cakupan ASI eksklusif kurang dari target yaitu Puskesmas Korpri. Cakupan bayi usia kurang dari 6 bulan yang diberikan ASI eksklusif di wilayah Puskesmas Korpri hanya 50%. Cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Korpri termasuk ke dalam cakupan yang terendah jika dibandingkan dengan puskesmas lain di Kota Bandar Lampung. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di puskesmas Penelitian tentang breastfeeding self-efficacy dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Korpri belum pernah dilaksanakan. Puskesmas Korpri merupakan salah satu puskesmas dengan cakupan ASI eksklusif yang rendah di Kota Bandar Lampung sehingga perlu dilakukan penelitian untuk melihat tingkat keyakinan diri ibu untuk menyusui . reastfeeding selfefficac. dan persentase pemberian ASI eksklusif di wilayah tersebut. Tujuan ini penelitian ini adalah mengetahui hubungan breastfeeding self-efficacy dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Korpri Kota Bandar Lampung. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 14 NOMOR 3 METODE Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Responden pada penelitian ini adalah ibu menyusui di wilayah kerja Puskesmas Korpri Kota Bandar Lampung dengan total populasi sebanyak 256 ibu menyusui. Teknik sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling. Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah ibu menyusui bayi berusia 6 - 24 bulan di wilayah Puskesmas Korpri, dengan jumlah sampel minimal 50 ibu Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan rumus Slovin. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu ibu postpartum 6-24 bulan, bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Korpri dan bersedia mengikuti penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan pengisian kuesioner yang dibagikan secara langsung melalui posyandu dan ibu yang berkunjung ke Poli KIA di Puskesmas Korpri. Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan Breastfeeding Self Efficacy Ae Short Form (BSE-SF) yang terdiri dari 14 item pertanyaan digunakan untuk mengukur efikasi diri menyusui . Kuesioner untuk mengukur breastfeeding self-efficacy menggunakan Breastfeeding SelfEfficacy Scale-Short Form (BSES-SF), yang dikembangkan oleh Bandura pada tahun 1997. BSES-SF adalah instrumen yang sangat baik untuk mengukur breastfeeding self-efficacy dan dianggap mampu untuk mengidentifikasi keyakinan diri ibu selama menyusui. BSES-SF merupakan kuesioner yang berisi 14 item pernyataan tentang keyakinan dan kepercayaan diri dalam hal menyusui. Masing-masing item mempunyai 5 poin skala likert dan kemudian dijumlahkan untuk memperoleh total skor yang berkisar antara 14Ae70. Penelitian Siti Awaliyah pada tahun 2019 menggunakan BSES-SF jika total skor kurang dari 55 dikategorikan rendah dan jika total skor lebih dari 56 dikategorikan tinggi . Keberhasilan pemberian ASI eksklusif jika ibu memberikan ASI saja sejak dilahirkan selama 6 bulan tanpa menambahkan dan/ atau mengganti dengan makanan atau minuman lain. Analisis univariat menggambarkan karakteristik responden dengan tabel frekuensi dan analisis bivariat dengan uji chi-square dan regresi logistik Software yang digunakan untuk analisis data univariat maupun bivariat menggunakan SPSS 26. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 14 NOMOR 3 HASIL Tabel 1. Karakteristik Responden Penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Korpri Karakteristik Responden Jenis Kelamin Anak Laki-laki Perempuan Usia Anak 6-12 bulan 13-18 bulan 18-24 bulan Usia Ibu Paritas Primipara Multipara ASI Eksklusif Tidak Breastfeeding Self Efficacy Rendah Tinggi Sumber : Data Primer,2023 Jenis kelamin anak yang paling banyak adalah perempuan . %) dengan usia anak paling banyak 6-12 bulan . %). Sedangkan, karakteristik dari sisi maternal yaitu usia ibu paling banyak pada usia 30-43 tahun . %) dan merupakan ibu multipara . %). Ibu yang memberikan ASI eksklusif pada penelitian ini sebanyak 34 orang . %) sedangkan yang tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 16 orang . %). Breastfeeding self-efficacy ibu sebagian besar sudah termasuk kategori tinggi yaitu 32 orang . %), sedangkan ibu dengan self-efficacy rendah sebesar 18 orang . %). PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 14 NOMOR 3 Tabel 2. Hubungan Antara Breastfeeding Self Efficacy dan ASI Eksklusif ASI Eksklusif Variabel Tidak n (%) n (%) Nilai p-value . % CI) Breastfeeding Self Efficacy Rendah Tinggi 6 . %) 28 . %) . 35 Ae 58. Sumber: Data Primer, 2023 Hasil analisis bivariat (Tabel . menunjukkan bahwa ibu dengan breastfeeding self-efficacy tinggi dan memberikan ASI eksklusif sebanyak 28 responden . %). Ibu dengan breastfeeding self-efficacy rendah dan tidak memberikan ASI eksklusif sebanyak 12 responden . %). Dari hasil analisis univariat menggunakan uji chi-square didapatkan nilai p-value antara variabel bebas yaitu breastfeeding self-efficacy dan keberhasilan ASI eksklusif sebesar 0. <0. sehingga secara statistik dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara breasftfeeding self-efficacy dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik regresi logistik sederhana didapatkan nilai Odds Ratio yaitu 14 . % CI 3. 35 Ae 58. sehingga dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemungkinan ibu dengan breastfeeding self-efficacy tinggi 14 kali lebih besar untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu dengan breastfeeding self-efficacy rendah. PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Korpri sebesar 68%, angkat tersebut masih jauh dibawah target ASI eksklusif untuk Kota Bandar Lampung. Berdasarkan data Profil Kesehatan Kota Bandar Lampung didapatkan beberapa Puskesmas sudah mampu mencapai hingga 100%. Pemerintah Kota Bandar Lampung juga telah melakukan berbagai program untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif di Kota Bandar Lampung seperti dengan pemberian penyuluhan tentang ASI eksklusif. Secara global, cakupan PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 14 NOMOR 3 ASI Eksklusif di dunia juga telah mengalami peningkatan, seiring dengan semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya memberikan ASI eksklusif kepada bayi sampai usia 6 bulan . Penelitian ini menunjukkan bahwa breastfeeding self-efficacy merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan keberhasilan ibu dalam memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Hal ini sejalan dengan penelitian Lou et al. , pada tahun 2018 yang juga membuktikan bahwa breastfeeding self-efficacy merupakan prediktor penting dalam keberlangsungan pemberian ASI . Breastfeeding self-efficacy atau efikasi diri ibu saat menyusui merupakan variabel penting dalam keberhasilan ASI eksklusif yang akan berpengaruh terhadap: 1. Apakah seorang ibu memilih untuk menyusui sebagai metode pemberian makanan bayi yang diinginkan, 2. Berapa banyak usaha yang akan dia keluarkan selama menyusui. Apakah ibu akan tekun dalam usahanya sampai tercapai penguasaan. Apakah dia memiliki pola pikir yang meningkatkan diri atau merugikan diri sendiri. Bagaimana dia merespons secara emosional terhadap kesulitan menyusui . Bandura menggambarkan bahwa efikasi diri adalah kemampuan seseorang untuk menunjukkan suatu perilaku atau melakukan sesuatu . Efikasi diri menyusui juga berhubungan dengan persepsi ibu terhadap kecukupan ASI untuk bayinya . Sebuah penelitian menggambarkan bahwa tingkat efikasi diri dalam menyusui berhubungan dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dalam inisiasi dan kelanjutan menyusui, serta membuat ibu berpikir positif ketika menghadapi masalah menyusui dan menghadapi tantangan dengan cara yang lebih positif dan efisien . Hasil penelitian Henshaw pada tahun 2015 menunjukkan bahwa selain teknik menyusui yang diajarkan kepada seorang yang berperan sebagai ibu yang baru diperlukan penekanan yang sama juga harus diberikan pada kepercayaan diri dan persepsi positif kepada ibu tentang kepercayaan terhadap diri mereka sendiri sebagai orang yang terampil dan efektif dalam menyusui . Kepercayaan diri ibu yang menjadi faktor penting agar seorang ibu untuk terus menyusui bayinya. Persepsi positif tentang diri ibu sendiri pada saat menyusui dan efikasi diri ibu menentukan keberlanjutan pemberian ASI . Kepuasan menyusui merupakan perasaan puas yang diperoleh selama menyusui yang dihasilkan dari hubungan yang baik antara ibu dan bayi untuk memenuhi keinginan atau PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 14 NOMOR 3 kebutuhan. Pendidikan dan promosi ASI eksklusif yang diberikan oleh tenaga kesehatan profesional baik dokter, bidan, atau perawat dapat menjadi faktor yang mendorong keberhasilan program ASI eksklusif . Pendampingan oleh penyedia layanan kesehatan atau konselor menyusui sejak awal kehamilan hingga setelah melahirkan harus diterapkan agar ibu mendapat informasi tentang ASI eksklusif . Hingga saat ini pengembangan ilmu pengetahuan terkait breastfeeding self-efficacy berkembang dengan sangat pesar. Penelitian Chipojola et al. , 2020 menunjukkan bahwa pengembangan BSE relatif berjalan baik. Peningkatan efikasi diri ibu menyusui melalui intervensi di tingkat individu . Penelitian terbaru yang mengevaluasi intervensi tingkat individu menunjukkan bahwa hal tersebut bergantung pada kondisi struktural yang menciptakan kondisi yang lebih besar untuk mendukung keberhasilan menyusui, seperti dengan penerapan program Baby-Friendly Hospital. Mungkin penting untuk keberhasilan intervensi. perbandingan kontrol baru-baru ini di Jepang menemukan hal itu intervensi yang berfokus pada individu secara efektif akan terpengaruh . Masalah saat menyusui paling banyak terjadi saat masa postpartum sehingga membuat ibu merasakan pengalaman yang kurang baik saat menyusui . Masalah yang paling sering terjadi adalah perasaan ASI yang tidak cukup, luka pada puting, mastitis, abses payudara, dan sumbatan ASI. Masalah tersebut menyebabkan rasa sakit bagi ibu menyusui sehingga tidak jarang beberapa ibu berhenti menyusui karena rasa sakit yang dialami tersebut . Menyusui membutuhkan perjuangan yang cukup berat bagi seorang ibu, terlebih bagi ibu baru. Oleh sebab itu, breastfeeding self-efficacy menjadi faktor penting bagi ibu untuk berhasil memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara breastfeeding self-efficacy dengan keberhasilan ibu dalam memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Hubungan antara kedua variabel tersebut secara statistik tergolong kuat, dengan nilai p-value <0,001. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 14 NOMOR 3 SARAN Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti merekomendasikan agar pemerintah dan tenaga kesehatan meningkatkan cakupan ASI eksklusif melalui program-program yang dapat meningkatkan breastfeeding self-efficacy ibu menyusui. Program-program tersebut dapat berupa pendidikan dan promosi ASI eksklusif yang diberikan oleh tenaga kesehatan profesional baik dokter, bidan, atau perawat. Pendampingan oleh penyedia layanan kesehatan atau konselor menyusui sejak awal kehamilan hingga setelah melahirkan. Selain itu, diperlukan intervensi yang berfokus pada peningkatan kepercayaan diri ibu dalam menyusui. Penelitian lebih lanjut juga perlu dilakukan untuk mengkaji metode yang efektif untuk meningkatkan breastfeeding selfefficacy pada ibu menyusui di Indonesia, metode penelitian yang digunakan dapat berupa penelitian eksperimental. DAFTAR PUSTAKA