PENELITIAN ASLI EDUKASI DETEKSI DINI TANDA BAHAYA KEHAMILAN PADA IBU HAMIL DI BPM MARIANA Friska Sitorus1*. Dewi R Bancin2. Surya Anita3. Rut Enjelika4 1,2,3,4 Universitas Sari Mutiara. Medan. Sumatera Utara. Indonesia Info Artikel Abstrak Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih menjadi tantangan serius dalam upaya peningkatan derajat kesehatan Salah satu penyebab utamanya adalah keterlambatan dalam mengenali dan menangani tanda bahaya kehamilan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini Kata kunci: Edukasi kesehatan, tanda bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil bahaya kehamilan, ibu hamil, pengabdian mengenai deteksi dini tanda bahaya kehamilan melalui masyarakat, deteksi dini edukasi interaktif. Sasaran kegiatan adalah ibu hamil di BPM Mariana, yang memiliki keterbatasan akses informasi Metode pelaksanaan kegiatan meliputi ceramah interaktif, diskusi kelompok, simulasi, serta pembagian media edukatif berupa leaflet dan poster. Hasil kegiatan Penulis Korespondensi:Friska Sitorus menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam Email: firskasukadono@gmail. pengetahuan peserta mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan, seperti perdarahan, nyeri kepala hebat, pembengkakan wajah dan tangan, serta penurunan gerakan Selain itu, keterlibatan keluarga dan kader kesehatan dalam kegiatan ini turut memperkuat jejaring dukungan terhadap ibu hamil. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi yang dilakukan secara langsung dan kontekstual mampu meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan ibu hamil dalam menghadapi risiko kehamilan. Diharapkan kegiatan serupa dapat diintegrasikan secara berkelanjutan ke dalam program layanan kesehatan ibu, guna mendukung penurunan angka kematian ibu di tingkat komunitas. Riwayat Artikel: Diterima: 16 Juni 2025 Direvisi: 22 Juni 2025 Diterima: 29 Juni 2025 Diterbitkan: 09 Juli 2025 Jurnal Abdimas Mutiara e-ISSN: 2722-7758 Vol. 06 No. Juli, 2025 (P281-. Homepage: https://e-journal. sari-mutiara. id/index. php/JAM DOI: https://10. 51544/jam. Copyright A 2025 by the Authors. Published by Program Studi : Sistem Informasi Fakutas Sains dan Teknologi Informasi Universitas Sari Mutiara Indonesia. This is an open access article under the CC BY-SA Licence (Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International Licens. Pendahuluan Kehamilan merupakan fase penting dalam kehidupan seorang wanita yang memerlukan perhatian khusus, baik dari segi fisik, psikologis, maupun sosial. Selama masa kehamilan, ibu hamil berisiko mengalami berbagai perubahan dan komplikasi yang bisa membahayakan kesehatan dirinya maupun janin yang dikandung. Oleh karena itu, pemahaman ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan merupakan hal krusial dalam mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius (Prawirohardjo. Tanda bahaya kehamilan adalah gejala atau kondisi yang menunjukkan adanya gangguan atau kelainan selama kehamilan, yang jika tidak segera ditangani dapat berdampak fatal. Tanda bahaya tersebut antara lain: perdarahan dari jalan lahir, nyeri perut hebat, sakit kepala menetap, pandangan kabur, pembengkakan pada wajah dan tangan, serta gerakan janin yang Kurangnya pengetahuan dan kewaspadaan terhadap gejala-gejala tersebut sering kali membuat ibu hamil terlambat mendapatkan pertolongan medis, sehingga meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas maternal maupun neonatal (Kemenkes RI, 2. Tanda bahaya kehamilan merupakan tanda yang mengindikasikan adanya bahaya yang dapat terjadi selama kehamilan, yang apalabila tidak terdeteksi bisa menyebabkan kematian. Pada masa kehamilan, tanda bahaya kehamilan bisa saja terjadi seperti pada trimester I yaitu mual muntah berlebihan, demam tinggi dan perdarahan. Sedangkan pada trimester II tanda bahaya nya yaitu odema, gerak janin kurang dan berat badan tidak naik, dan pada trimester 3 tanda bahaya nya yaitu ketuban pecah dini dan kelainan letak (Hanni et, al 2. ) Kehamilan merupakan proses fisiologis yang terjadi secara alami, namun dalam perjalanannya dapat berkembang menjadi kondisi patologis yang membahayakan ibu maupun Oleh karena itu, deteksi dini terhadap tanda bahaya kehamilan menjadi aspek penting dalam upaya penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian neonatal (AKN). Berdasarkan data WHO . , penyebab utama kematian ibu di negara berkembang adalah komplikasi kehamilan yang tidak terdeteksi dan tertangani secara tepat waktu. Di Indonesia, berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2022. AKI masih tergolong tinggi yaitu sebesar 189 per 100. 000 kelahiran hidup. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan, seperti perdarahan, nyeri kepala hebat, bengkak pada wajah dan tangan, serta gerakan janin berkurang. Padahal, pengenalan dan penanganan dini terhadap tanda-tanda tersebut dapat mencegah komplikasi serius bahkan kematian. Sumatera utara merupakan salah satu provinsi dengan tingkat kematian ibu yang cukup tinggi yakni sebesar 239 per 100. 000 kelahiran hidup. Sedangkan jumlah kematian ibu dikota medan sebanyak 3 jiwa dari 47. 541 per 100. 000 kelahiran hidup. AKI masih menjadi perhatian bagi dinas kesehatan kota medan dengan pelaksanaan program yang ditujukan kepada ibu hamil. (Dinkes Provinsi Sumatera Utara, 2. Pendidikan kesehatan yang tepat dan berkelanjutan merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi kehamilan berisiko. Sayangnya, di beberapa wilayah, masih banyak ibu hamil yang belum mendapatkan informasi yang cukup terkait tanda bahaya kehamilan. Minimnya edukasi ini menjadi tantangan tersendiri dalam pelayanan kesehatan ibu, terutama di daerah dengan akses terbatas terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan (MoH, 2. Sayangnya, di beberapa wilayah terutama daerah rural atau terpencil, masih banyak ibu hamil yang tidak mendapatkan informasi memadai tentang kesehatan kehamilan. Faktor-faktor seperti rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, dan budaya yang tidak mendukung keterbukaan informasi menjadi penyebab utama kurangnya literasi kesehatan ibu hamil. Padahal, edukasi yang sederhana dan mudah dipahami dapat menjadi kunci dalam menyelamatkan nyawa ibu dan bayi (Wulandari, 2. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada ibu hamil mengenai deteksi dini tanda bahaya kehamilan. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman ibu hamil tentang kondisi yang perlu diwaspadai selama kehamilan, serta mendorong mereka untuk segera mencari pertolongan medis bila mengalami gejala yang Dengan peningkatan kesadaran ini, diharapkan angka komplikasi dan kematian terkait kehamilan dapat ditekan. Solusi Permasalahan Mitra Solusi yang ditawarkan sesuai dengan permasalahan mitra : Solusi yang ditawarkan untuk menjawab permasalahan mitra tersebut adalah dengan melakukan kegiatan edukasi dan penyuluhan secara langsung kepada ibu hamil yang dikemas secara interaktif dan partisipatif. Kegiatan ini akan memberikan penjelasan mengenai tandatanda bahaya kehamilan, seperti perdarahan, nyeri kepala hebat, pembengkakan wajah dan kaki, gangguan penglihatan, dan berkurangnya gerakan janin, dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Selain itu, akan dibagikan media edukasi seperti leaflet dan poster yang dirancang menarik, berwarna, dan berisi ilustrasi agar informasi dapat terserap dengan lebih efektif. Tidak hanya menyasar ibu hamil, kegiatan ini juga melibatkan keluargaAiterutama suami dan anggota rumah tangga lainnyaAiserta kader kesehatan desa. Melalui diskusi kelompok dan simulasi kasus, diharapkan mereka turut aktif dalam mengenali tanda bahaya dan mendukung ibu hamil untuk segera merujuk ke fasilitas kesehatan apabila gejala tersebut muncul. Selain itu, kolaborasi dengan pihak Puskesmas dan bidan desa akan dilakukan untuk memastikan kesinambungan edukasi melalui program-program yang telah berjalan, seperti kelas ibu hamil dan posyandu. Dengan pendekatan ini, solusi yang diberikan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga berpotensi memberi dampak jangka panjang terhadap peningkatan literasi kesehatan ibu dan keluarga Mitra dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah ibu-ibu hamil yang memeriksakan kehamilan di BPM Mariana, yang mayoritas berada pada usia kehamilan trimester kedua dan Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara singkat dengan tenaga kesehatan setempat, diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil di wilayah ini masih memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai tanda bahaya kehamilan. Ketidaktahuan ini menyebabkan keterlambatan dalam pengambilan keputusan untuk mencari pertolongan medis ketika gejala komplikasi mulai muncul. Selain itu, keterbatasan tenaga penyuluh dan media edukasi di fasilitas kesehatan primer menyebabkan penyampaian informasi belum dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Metode Prosedur dan tahapan proses PKM ini yaitu dimulai dari. Pendataan jumlah ibu hamil trimester II dan i di BPM Mariana. Penyusunan panitia kegiatan pelatihan. Penentuan lama kegiatan dan jadwal kegiatan serta tempat kegiatan. Melaksanakan kegiatan pelatihan kepada ibu hamil, kader dan bidan. Secara ringkas kegiatan yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut : Pengurusan ijin kegiatan PkM. Pre test sebelum kegiatan PkM. Sosialisasi dan Post test setelah kegiatan PkM. Hasil Dan Pembahasan Dari kegiatan Pengabdian Masyarakat yang dilaksanakan kepada ibu-ibu hamil, suami dan keluarga masih ada 35% ibu-ibu hamil yang belum mengetahui tentang Deteksi Dini Tanda Bahaya Kehamilan Pada Ibu Hamil . Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan tujuan utama untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan. Berdasarkan hasil pre-test yang dilakukan sebelum penyuluhan, diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil belum memahami secara utuh apa saja yang termasuk tanda bahaya kehamilan. Mereka umumnya hanya mengetahui tanda-tanda yang bersifat umum, seperti pusing dan mual, namun tidak menyadari bahwa gejala seperti perdarahan, nyeri kepala hebat, penglihatan kabur, pembengkakan wajah dan tangan, serta penurunan gerakan janin merupakan kondisi yang berisiko tinggi dan memerlukan penanganan segera (Kemenkes RI, 2018. WHO, 2. Penyuluhan yang diberikan menggunakan metode ceramah interaktif dan diskusi kelompok kecil, dilengkapi dengan media edukatif seperti leaflet dan poster bergambar. Metode ini terbukti efektif meningkatkan partisipasi dan pemahaman peserta. Setelah dilakukan posttest, terjadi peningkatan pemahaman ibu hamil mengenai minimal lima tanda bahaya kehamilan, serta langkah awal yang harus dilakukan ketika gejala tersebut muncul. Hasil ini sejalan dengan teori Notoatmodjo . yang menyatakan bahwa pendidikan kesehatan yang berbasis komunikasi dua arah cenderung lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perubahan perilaku masyarakat. Partisipasi keluarga dan kader kesehatan juga turut mendukung keberhasilan kegiatan ini. Edukasi yang melibatkan anggota keluarga, terutama suami dan orang tua, sangat penting karena mereka berperan dalam pengambilan keputusan saat kondisi darurat kehamilan terjadi (Saifuddin, 2. Hal ini diperkuat oleh temuan di lapangan bahwa banyak keputusan medis masih dipengaruhi oleh anggota keluarga terdekat. Oleh karena itu, pendekatan edukasi keluarga menjadi bagian penting dari strategi promosi kesehatan ibu. Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Puskesmas dan bidan desa setempat. Kolaborasi ini mempermudah pelaksanaan edukasi karena pihak Puskesmas memiliki data sasaran yang akurat dan hubungan langsung dengan komunitas. Selain itu, tenaga kesehatan setempat menyatakan bahwa materi dan media edukasi dari kegiatan ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan rutin seperti kelas ibu hamil dan posyandu. Kolaborasi lintas sektor dalam kegiatan edukasi kesehatan ini mendukung rekomendasi WHO . tentang pentingnya pendekatan multisektor dalam promosi kesehatan maternal. Namun demikian, terdapat beberapa tantangan, seperti keterbatasan waktu dan jumlah peserta dalam satu sesi edukasi. Selain itu, beberapa peserta masih terlihat pasif karena malu bertanya atau takut menjawab pertanyaan. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi yang lebih personal dan empatik perlu dikembangkan dalam kegiatan serupa ke depannya (Mubarak & Chayatin, 2. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini membuktikan bahwa edukasi sederhana namun terarah, yang dilakukan secara langsung dan kontekstual, dapat meningkatkan pemahaman ibu hamil mengenai tanda bahaya kehamilan. Program ini dapat menjadi salah satu upaya nyata dalam menurunkan risiko komplikasi kehamilan dan mendukung pencapaian target penurunan angka kematian ibu secara nasional. Kesimpulan Dan Saran Kesimpulan Dari kegiatan PkM yang dilakukan di BPM Mariana Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan dalam bentuk edukasi deteksi dini tanda bahaya kehamilan pada ibu hamil terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan peserta. Melalui metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan penggunaan media edukasi yang komunikatif, ibu hamil menjadi lebih memahami pentingnya mengenali gejala-gejala yang berisiko tinggi selama kehamilan seperti perdarahan, sakit kepala hebat, pembengkakan ekstremitas, dan penurunan gerakan janin. Selain itu, keterlibatan keluarga dan kader kesehatan dalam kegiatan ini memperkuat jejaring dukungan sosial yang diperlukan ibu hamil dalam mengambil keputusan cepat saat menghadapi kondisi darurat. Kolaborasi dengan pihak Puskesmas dan bidan desa juga memberikan kontribusi besar dalam keberhasilan kegiatan ini, baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan, maupun keberlanjutan. Dengan edukasi yang terarah dan berbasis komunitas, kegiatan ini berpotensi mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka kematian ibu secara nasional melalui peningkatan literasi kesehatan dan deteksi dini komplikasi kehamilan Saran Agar dampak dari kegiatan edukasi deteksi dini tanda bahaya kehamilan dapat berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak ibu hamil, disarankan agar kegiatan edukatif seperti ini dijadikan program rutin yang terintegrasi dalam layanan kesehatan masyarakat, khususnya melalui kelas ibu hamil dan posyandu. Edukasi yang berkelanjutan akan membantu memperkuat pemahaman ibu hamil terhadap kondisi berisiko selama kehamilan, serta mendorong mereka untuk lebih sigap dalam mengambil keputusan saat menghadapi gejala yang mencurigakan. Selain itu, pengembangan media edukasi yang lebih bervariasi seperti video pendek, infografis digital, dan audio edukatif berbasis lokal sangat disarankan agar informasi lebih mudah dipahami dan diterima oleh ibu hamil dari berbagai latar belakang pendidikan dan Dalam setiap kegiatan edukasi, keterlibatan keluarga, terutama suami dan orang tua, juga sangat penting untuk diperkuat, karena dukungan keluarga merupakan faktor kunci dalam pengambilan keputusan medis yang cepat dan tepat. Tenaga kesehatan dan kader di wilayah setempat juga disarankan untuk mendapatkan pelatihan tambahan mengenai teknik komunikasi kesehatan yang efektif dan pendekatan edukatif yang sesuai dengan karakteristik masyarakat lokal. Hal ini penting agar pesan kesehatan yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan mendorong perubahan perilaku yang positif. Terakhir, perlu dilakukan evaluasi secara berkala terhadap hasil edukasi, baik melalui survei pengetahuan maupun observasi praktik ibu hamil dalam merespons tanda bahaya kehamilan, agar efektivitas program dapat terus ditingkatkan dan disesuaikan dengan kebutuhan lapangan. DAFTAR PUSTAKA