TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals Strategi Guru Pendidikan Islam dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman pada Generasi Z Annisa Hidayati1* . Alia Nadira2. Dwita Saskia3 . Tuti Nuriyati4 1,2,3,4 IAIN Datuk Laksemana Bengkalis *Email Korespondensi: hidayatiannisa59@gmail. Info Artikel Abstrak Diterima : 27 Mei 2025 Direvisi : 20 Juni 2025 Diterbitkan : 29 Juni 2025 Kata Kunci: Strategi. Guru. Nilai-nilai. Keislaman. Pendidikan Cara merujuk artikel Hidayati. , dkk. Strategi Guru Pendidikan Islam dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman pada Generasi Z. TaAodiban: Journal of Islamic Education, 5 . , h. Generasi Z sebagai generasi digital memiliki karakteristik unik seperti kemampuan teknologi tinggi, multitasking, dan ketergantungan pada media sosial, yang menjadi tantangan tersendiri dalam proses pendidikan, khususnya dalam penanaman nilai-nilai keislaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi yang dapat diterapkan oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk nilai-nilai keislaman pada generasi tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis berbagai literatur akademik terkait strategi pembelajaran, teknologi pendidikan, serta karakteristik generasi Z. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang efektif harus bersifat adaptif, inovatif, dan berbasis teknologi, seperti penggunaan blended learning, media sosial, aplikasi pembelajaran, metode visual, serta pendekatan yang menumbuhkan kreativitas dan nilai kewirausahaan. Selain itu, peran guru PAI sebagai pendidik, teladan, motivator, dan evaluator sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai keislaman secara kontekstual. Kesimpulannya, keberhasilan penanaman nilai Islam pada Generasi Z sangat bergantung pada kemampuan guru dalam menyelaraskan pendekatan pembelajaran dengan kebutuhan dan gaya hidup digital generasi ini. Abstract Generation Z as a digital generation has unique characteristics such as high-tech capabilities, multitasking, and dependence on social media, which are challenges in the educational process, especially in instilling Islamic values. This study aims to examine the strategies that can be applied by Islamic values in this generation. The method used is literature research with a qualitative approach, through the analysis of various academic literature related to learning strategies, educational technology, and the characteristics of generation Z. The results of the study show that effective learning strategies must be adaptive, innovative, and technologybased, such as the use of blended learning, social media, learning applications, visual methods, and approaches that foster creativity and entrepreneurial values. In addition, the role of PAI teachers as educators, role models, motivators, and evaluators is very important in instilling Islamic values contextually. conclusion, the success of instilling Islamic values in Generation Z is highly dependent on the ability of teachers to align learning approaches with the needs and digital lifestyles of this generation. Keywords: Strategy, values, islam Keywords: Strategy, teachers, values. Islam. Education PENDAHULUAN Strategi guru pendidikan Islam dalam menanamkan nilai-nilai keislaman pada generasi Z didasari oleh tantangan besar yang dihadapi teknologi saat ini. Generasi Z, yang lahir di tengah pesatnya perkembangan teknologi maya, memiliki karakteristik unik This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals seperti ketergantungan pada media sosial, akses informasi yang sangat cepat, dan pola pikir yang cenderung kritis serta terbuka. Kondisi ini membuat proses penanaman nilai-nilai agama tidak bisa lagi dilakukan dengan cara-cara tradisional semata, melainkan memerlukan pendekatan yang kreatif, adaptif, dan relevan dengan dunia Pembentukan karakter yang efektif dilakukan melalui pendidikan karakter. Pendidikan Ratna Megawangi adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil de-ngan sehari-hari, sehing-ga memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungan-nya. (Endang Kartikowat, dkki. Guru pendidikan Islam berperan penting sebagai fasilitator dan teladan dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam secara nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan kasih sayang, bukan hanya sebatas teori, tetapi juga dalam praktik sehari-hari. Strategi mempertimbangkan karakter generasi Z yang cenderung menyukai pendekatan visual, interaktif, dan berbasis pengalaman Selain itu, guru juga perlu mampu memanfaatkan media maya secara positif, seperti melalui video, aplikasi pembelajaran, atau media sosial, agar pesan-pesan keislaman dapat tersampaikan secara efektif. Di sisi lain, tantangan dari lingkungan sekitar yang semakin plural, arus globalisasi, dan paparan nilai-nilai yang kadang bertentangan dengan ajaran Islam menuntut guru untuk membekali siswa dengan mengosongkan etis yang kuat. Oleh karena itu, strategi penanaman nilai tidak hanya fokus pada mengalihkan ilmu, tetapi juga pada pembentukan karakter, penanaman kesadaran diri, serta penguatan spiritualitas siswa agar mereka mampu menjadi generasi Muslim yang tangguh, berakhlak, dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan tetap memegang teguh nilai-nilai METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian pustaka . ibrary researc. dengan pendekatan Metode pengumpulan dan analisis data dari berbagai sumber yang relevan, seperti buku, artikel jurnal, laporan penelitian, serta sumber digital yang membahas inovasi strategi gamifikasi, dan penggunaan media sosial dalam konteks ilmu pendidikan islam Pendekatan ini bertujuan untuk menggali pemahaman mendalam terkait efektivitas penerapan teknologi digital dan inovasi dalam pembelajaran IpI, khususnya untuk memenuhi kebutuhan generasi Z di era Proses analisis dilakukan dengan menganalisis data yang dikumpulkan secara sistematis untuk menemukan pola, tren, dan temuan yang sesuai. Validitas penelitian didukung oleh triangulasi data melalui perbandingan berbagai sumber akademik yang memiliki otoritas dalam bidangnya, sehingga menghasilkan sintesis yang komprehensif dan aplikatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Strategi Guru Pendidikan Islam Generasi z ialah sebuah konsep sosial yang mencakup kelompok individu dengan rentan usia yang serupa serta pengalaman sejarah yang sama Mannheim merupakan tokoh pertama yang melakukan studi Generasi Z (Gen Z), yang lahir pada mempunyai karakteristik unik. Mereka sangat adaptif terhadap teknologi tapi memiliki rentang perhatian yang Tidak kepercayaan Islam (PAI), tantangan utama pembelajaran yang relevan, menarik,dan tenggelam menggunakan kebutuhan dan preferensi belajar mereka. sebagai akibatnya tumbuh minat dan motivasi belajar sebab This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals memotivasi serta minat belajar adalah faktor Pada setiap lembaga pendidikan baik yang bersifat formal atau nonformal, pastilah mempunyai komitmen yang kuat terhadap usaha untuk pembinaan akhlakul karimah siswa, hal ini tidak bisa dipungkiri lagi pendidikan yang berkomitman untuk membina akhlakul karimah pada siswanya, tentunya memiliki strategi atau cara tersendiri dalam proses pembinaannya. Hal ini disebabkan perbedaan karakter dari masing-masing peserta didik pada suatu Keberagamaan strategi guru agama islam dalam proses pembinaan akhlakul karimah bertujuan untuk menarik minat belajar para siswa, dan untuk membentuk suasana belajar yang tidak menjenuhkan dan keberhasilan dalam pembinaan akhlakul karimah siswa dapat semaksimal mungkin berhasil dengan baik. Tugas seorang guru memang berat dan banyak, akan tetapi semua tugas guru itu akan dikatakan berhasil, apabila ada perubahan tingkah laku dan perbuatan pada anak didik ke arah yang lebih baik. Maka tentunya hal yang paling mendasar ditanamkan adalah akhlak. Karena jika pendidikan akhlak yang baik dan berhasil ajarannya berdampak pada kerendahan hati dan perilaku yang baik, baik terhadap sesama manusia, lingkungan dan yang paling pokok adalah akhlak kepada Allah Swt. jika ini semua kita perhatikan maka tidak akan terjadi kerusakan alam dan tatanan kehidupan, sebagaimana firman Allah SWT. a a e a aA aN aA a caEO a eOCaN eIa EIA a a a aI aO eEae aa eEa aa AaO eEAA a Aa a eOaO aEA a AA AOA AEA AOA AEA AIA AIA ANA AEA AEA aIA AyA e a e a A Oa e a eOA a ea e Artinya: AuTelah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal it. Allah membuat mereka merasakan sebagian dari . perbuatan mereka agar mereka kembali . e jalan yang bena. Ay (Nurbayani. Pendidikan Islam merupakan upaya mendidik kepercayaan Islam dan nilai-nilai agar menjadi cara hidup atau menjadi sistem hayati seorang dalam bentuk segenap aktivitas yang Dilakukan seseorang buat membantu seseorang atau peserta didik pada menanam atau menumbuh kembangkan ajaran islam serta nilai-nilainya buat dijadikan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. (Siswati, dkk . Pendidikan kepercayaan Islam di sekolah yang bertujuan buat menyadari manusia yang berlaku maka dia adalah upaya buat mendidik, memahami sekaligus menanam dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam kepada peserta didik Tujuan tak terbatas dari pendidikan islam merupakan membina serta tempat tinggal siswa menggunakan nilainilai agama sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam. Pendidikan kepercayaan yang berkualitas akan bisa menciptakan asal daya manusia yang berkualitas juga sehingga mampu Berkompetisi pada era globalisasi mirip yang terjadi waktu ini menggunakan permanen memegang teguh ajaran agama Islam. target pendidikan kepercayaan Islam ialah buat membantu siswa pada menumbuh potensi-potensi kemanusiannya sesuai menggunakan Ajaran agama Islam. guru memainkan peran krusial pada pendidikan agama Islam disekolah. Terlebih dahulu peran guru dalam menanamkan nilai-nilai Ibadah melalui keterlibatan peserta didik dalam praktik ibadah mahdhah maupun ibadah ghairu (Hepy Kusuma Astuti . pembelajaran yang harus dilakukan oleh Pengajar serta siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan sukses dan efisien. strategis pembelajaran seseorang guru akan ditentukan bernyanyi metode yang akan digunakan dalam struktur dalam proses Akibatnya, seorang guru wajib tahu konsep awam yang digunakan taktik pembelajaran. Gagasan mengadopsi teknik pembelajaran yang berorientasi tujuan merupakan aspek yang This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals pagar krusial berasal proses pembelajaran. secara visual, bersifat narasi, pembelajaran Tercapainya tujuan pembelajaran memilih keberhasilan suatu metode pembelajaran. menggunakan gaya informal. Teknik pembelajaran ini juga dapat c. Mengoptimalkan Pembelajaran dengan mempertinggi keterlibatan siswa selama perangkat lunak serta media sosial Generasi proses pembelajaran. aktivitas tak terbatas di z ialah generasi baru yang tak bisa lepas asal aktivitas fisik,namun juga mencakup media umum yang hampir semua perangkat kegiatan psikologis, kepribadian, serta lunak ada digedjetnya. sesuai hasil survei diketahui generasi ini memakai 79% Waktu Ada beberapa strategi yang dapat per hari digunakan buat berinteraksi dilakukan oleh guru dalam pembelajaran menggunakan Ponsel pintarnya. Sedangkan dikelas untuk generasi z ini diantaranya : akses mereka terhadap media umum Generasi Z cenderung kurang menyukai minimal 10 kali dalam satu hari baik metode pembelajaran satu arah mirip Facebook, twittwr. Whatshapp dan liannya. ceramah, dan lebih tertarik pada pendek stan Melihat tingginya interaksi generasi ini yang interaktif serta peraktis. Mereka terhadap media sosial tidak ada salahnya terbiasa mengakses informasi secara mandiri kita sebagai guru mencoba memanfaatkan melalui teknologi digital, tapi tak jarang kali serta memaksimalkan media umum menjadi menghadapi tantangan pada menilai media pada pembelajaran. pola aplikasi yang keakuratan informasi tersebut. oleh karena Google, itu, kiprah guru menjadi menjadi fasilitator kelompok ruang, elearning. Zoom. Cloud, sangat penting untuk membimbing siswa metting. Sistem Manajemen Pembelajaran pada menyaring dan tahu informasi yang (LMS) ini semua merupakan media sosial mereka dalam proses pembelajaran yang yang dapat dimanfaatkan buat pembelajaran aktif dan kolaboratif. berani atau online. Generasi Z, yang tumbuh di era digital. Pembelajaran memiliki kecendrungan kuat terhadap kewirausahaan dan kreativitas sangat pembelajaran visual. Mereka lebih dari itu relevan menggunakan karakter generasi z sederhana memahami informasi yang tersaji waktu ini. seperti yang telah dijelaskan melalui gambar, video, serta animasi sebelumnya, generasi ini memiliki dibandingkan dengan Panjang teks atau ceramah konvensional. oleh karena itu, dianggap, mampu bersikap realistis dalam memandang masa depan. Bila pola menggabungkan elemen visual dan hiburan, belajar, seperti desain grafis, pembuat mirip metode edutainment, menjadi sangat Bila Metode ini mengintegrasikan materi menggunakan pembelajaran yang kreatif, pembelajaran menggunakan Berbasis Visual dan Menyenangkan Generasi ini memiliki pendidikan kepercayaan Islam, guru bisa struktur otak yang lebih mendalam diaspek perkembangan Visual, maka asal itu belajar menghasilkan blog eksklusif atau akun harus di menyembunyikan pada bentuk YouTube yang berisi konten konten Hal ini dilakukan karena generasi ini Islami, sangat sederhana tahu segala sesuatu yang menggunakan cara ini peserta didik tidak tersaji dalam bentuk gambar. Metode hanya belajar materi agana, namun juga mengembangkan kreativitas mereka penggunaan metode edutainment. Metode Mengoptimalkan Pembelajaran dalam ini ialah metode yang Pemangkasan teknik kelompok Mintasih mengatakan generasi mengajarkan konfensional seperti ceramah. Metode menggunakan rekan sejawatnya karena menggabungkan antara materi pembelajarn mereka punya rasa percaya diri yang This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals tinggi ini menjadi modal utama bagi mereka buat petunjuk diri untuk membersihkan tampilan baru serta idenya kepada teman kerja kelompok ini tidak hanya dalam situasi yang konkret namun juga di global Maya merupakan generasi ini menyukainya pekerjaan yang sama Konferensi Video dan media lainnya. Ini baru saja menggunakan penelitian yang Dilakukan bernyanyi Penipu yang menyatakan 53% generasi ini menyenangi komunikasi secara secara eksklusif menggunakan menggunakan teknologi berita Pesan instan dan konferensi menggunakan pada dasarnya Generasi ini sedang mencari pekerjaan gerombolan dengan sistem pekerjaan yang sama. Penerapan Sistem Blanded Learning Sistem pembelajaran ini adalah kombinasi antara belajar berani (Onlin. ialah pembelajaran pada satu semester bisa dimerencanakan menggunakan doa jenis pertemuan konvensional dan berani menggunakan gabungan ini diharapkan dapat mengenai target pembelajaran buat generasi ini. Blanded Learning menggunakan pembelajaran berbasis teknologi maka perlunya guru buat pengetahuannya sesuai menggunakan perkembangan zaman yakni ihwal ilmu pengetahuan serta teknologi. Misalnya dalam pembelajaran Pengajar dapat memanfaatkan WhatsApp kelas Pengajar tinggal memberikan tautan materi atau tugas yang dapat diakses peserta didik untuk dipelajari. (Ahmad Daud . Menurut Majid dan Andayani bahwa pendidikan karakter, setidaknya ada tiga strategi yang perlu dialui, yaitu: Moral Knowing/ Learning to Know. Tahapan ini merupakan langkah awal dalam pendidikan karakter. Dalam langkah ini tujuan diorientasikan pada penguasaan pengetahuan tentang nilainilai. Murid diharapkan harus mampu membedakan nilai-nilai akhlak mulia atau terpuji dan dan akhla akhlak buruk atau nilai-nilai memahami secara logis dan rasional atas makna penting akhlak mulia dan bahaya akhlak buruk atau tercela dalam kehidupan, mengenal kepribadian Nabi Muhammad Saw, sebagai figur teladan akhlak mulia, sebagaimana ajaran Islam. Moral Loving/ Moral Feeling. Langkah ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa butuh terhadap nilai-nilai akhlak mulia. Tahap ini menjadi sasaran pendidik dari demensi emosional murid, hati, atau jiwa, bukan lagi akal, rasio dan Seorang guru menyentuh emosi murid sehingga tumbuh kesadaran, keinginan, dan kebutuhan terhadap nilainik akhlak mulia dam dirinya. Guna mencapai langkah ini seorang guru bisa kisah-kisah Dalam hal ini, murid diharapkan juga mampu menilai diri sendiri . atas beberapa kekurangan yang ada. Moral Doing/Learning to do. Pada tahap ini diharapkan para murid telah mempraktikkan nilai-nilai akhlak terpuji dalam pola kehidupan mereka. Jika selama perubahan tingkah laku terpuji belum terlihat walaupun sedikit, maka selama itu pula seseorang memiliki beberapa pertanyaan yang sesegera mungkin dicari jawabannya. Teladan merupakan guru yang paling baikdalam internalisasi nilai, sedangkan langkah berikutnya adalah pembiasaan dan (Subaidi,dkk. Karakteristik Pengajar Dalam Menanamkan Nilai-Nilai di Generasi Z Karakteristik guru adalah sifat-sifat khas, akhlak baik yang harus dimiliki oleh seorang guru agar dapat menjadi suri tauladan bagi anak didiknya, juga memiliki rasa cinta kasih dan tulus ikhlas dalam proses kegiatan belajar mengajar agar anak didik memiliki semangat dan motivasi yang tinggi sehingga akan timbul sikap aktif, kreatif, dan inovatif. Guru terlahir atau ada semenjak manusia itu This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals sendiri ada, karena begitu manusia sering kali melakukan beberapa hal dalam terlahir ke dunia sesungguhnya proses waktu yang bersamaan. pendidikan telah terjadi. Proses pendidian 5. Fast Switcher, generasi yang cepat beralih dalam arti proses internalisasi suatu nilai dari satu pikiran /pekerjaan ke dari orang dewasa kepada orang yang pikiran/pekerjaan yang lain dianggap perlu menerima suatau nilai. Sharing is Caring, generasi Z menjadikan (Munawir, dkk. , 2. berbagai hal sebagai bentuk kepedulian. Guru dapat menjadi role-model atau di sebut juga generasi yang senang entrepreneur bagi siswa didiknya melalui (Siti Rahma Harahap. karakteristik personalnya, karakteristik Adapun Dampak Karakteristik Generasi Z dilihat dari Karakteristik Generasi Z yang memiliki dampak Karakteristik personal signifikan terhadap berbagai aspek adalah sikap dan atribut guru yang berkaitan dengan keberadaan dan cara pekerjaan, dan ekonomi. Berikut beberapa berperilakunya dalam situasi personal yang memungkinkan untuk berelasi Pendidikan. Generasi Z secara mendalam, kaya dan efektif dengan metode pembelajaran yang lebih interaktif orang lain. Karakteristik profesional dan engaging. Mereka lebih suka belajar melalui video, game, dan simulasi dari memungkinkannya untuk menyelesaikan pada membaca buku teks. tugas profesinya secara bertanggung Pekerjaan: Generasi Z menginginkan jawab dan berkompeten. Karakteristik pekerjaan yang fleksibel dan memiliki pedagogis adalah keterampilan guru kontrol atas pekerjaan mereka sendiri. (Yimmy Ellya Mereka lebih tertarik untuk bekerja di Kurniawan. , 2. perusahaan yang memiliki misi dan visi Beberapa gerombolan generasi ini yang sejalan dengan nilai-nilai mereka. memiliki ciri yang tidak sama Demikian Ekonomi: Generasi Z adalah generasi yang juga halnya dengan generasi Z yang paling besar dalam sejarah dan memiliki identik dengan dampaknya terhadap daya beli yang tinggi. Mereka akan teknologi, selain itu generasi Z juga menjadi konsumen utama di masa depan memiliki karakteristik yang tidak sama dan akan mendorong pertumbuhan dengan beberapa generasi sebelumnya, (Maria Taliwuna. pada diantaranya yaitu: Banyak hal yang bisa dilakukan oleh Tech savvy, web savvy, generasi ramah guru dalam menerapkan ilmu yang aplikasi, generasi Z juga di sebut telahdiajarkan kepada peserta didik. menggunakan generasi digital yang mahir Diantaranya adalah melalui kegiatan dangan drung menggunakan teknologi pembiasaan yang dapat diintegrasikan Bahasa Indonesia: pada proses pembelajaran di sekolah mengakses berbagai informasi secara gotong royong, bakti sosial, cepat dan sederhana. shalat berjamaah, membaca Al-Quran dan Human sosial, generasi Z intens berinteraksi lain-lain, kegiatan-kegiatan tersebut wajib melalui media sosial menggunakan diikuti oleh warga sekolah termasuk guru, seluruh kalangan. tidak hanya sebagai "Pengajar yang baik" Ekspresif, generasi Z cenderung toleran kepada anak didiknya terhadap perbedaan serta sangat ramah Guru dituntut menjadi sosok pendidik menggunakan lingkungan. yang memiliki tanggungjawab besar yang Multitasking, generasi Z dikenal juga dapat ditiru dandijadikan contoh bagi menjadi generasi yang serba bisa serta para peserta didiknya. Kepribadian yang mantap, sifat-sifat yang luhur dan suri This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals tauladan yang baik dapat menigkatkan kewibawaan guru. Sebagaimana telah dicontohkan Nabi Muhammad saw, dengan kepribadian dan akhlak beliau, menjauhi sifat-sifat yang buruk. Masalah keribadian guru menjadi prioritas utama dan perhatian yang besar di kalangan ulama dari masa ke masa hingga saat ini. Imam Al-Ghazali berpendapat, "Bahwa seorang guru yang dapat diserahi tugas mendidika adalah guru yang cerdas dan sempurnanya akal dan juga yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki beberapa ilmu dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadi contoh dan (Muhammad irwansyah. Secara lebih luas Ibnu Faris menjelaskan bahwa konsep pendidikan Islam adalah membimbing melalui langkah-langkah yang tepat, untuk mendidik jiwa, akhlak, intelektual, jasmani, agama, social, politik, semangat jihadnya. Hal memunculkan konsep pendidikan yang komprehensif, dimana kebutuhan hidup keseimbangan dalam hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antar manusia dan antar manusia dengan lingkungan sekitarnya. (Riska Rahmasari. Karakteristik Pendidikan Agama Islam peningkatkan proses belajar mengajar keterbukaan psikologis. Karena dalam proses belajar mengajar, fleksibilitas kognitif guru Pendidikan Agama Islam terbagi atas tiga dimensi yaitu: pertama. Dimensi karakteristik kepribadian guru Pendidikan Agama Islam, guru dapat mempertimbangkan berbagai alternatif pelajaran Agama Islam pada peserta didik, dan dapat menggunakan humor secara proporsional dalam menciptakan proses belajar mengajar yang menarik. Kedua, sikap kognitif guru Pendidikan Agama Islam terhadap peserta didik harulah dapat menunjukkan sikap yang demokratis dan tenggang rasa terhadap semua peserta didik, responsif terhadap keadaan kelas, serta dapat menilai peserta didik berdasarkan faktor-faktor yang ada. Ketiga. Sikap kognitif guru Pendidikan Agama Islam terhadap materi dan metode harulah menggunakan metode yang relevan sesuai dengan sifat materi. (Zainuddin, dkk. Dalam penanaman nilai karakter terutama religius, peran pendidikan agama Islam sangat strategis sebagai sarana transformasi pengetahuan dalam aspek keagamaan, transformasi norma dan nilai moral untuk membentuk sikap yang berperan dalam mengendalikan kepribadian yang utuh (Ainiyah, 2013: . Hal ini menuntut guru PAI harus bisa menjadi figur teladan, sebab karakter peserta didik juga merupakan manifestasi keteladanan yang dipengaruhi guru. Untuk menanamkan nilai karakter religius, guru pendidikan agama Islam dapat merancang skenario pembelajaran agar lebih kreatif dan variatif yang dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran dan memuat penanaman nilai karakter religius, membiasakan peserta didik dengan ekstra keagamaan yang dilaksanakan sebagai bahan pertimbangan dalam penanaman nilai karakter selanjutnya. Selain itu, dibutuhkan kerjasama antara orang tua dan guru sebagai penguatan agar nilai karakter religius yang penerapannya di rumah. Sehingga, berbagai upaya ini diharapkan mampu This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals menunjang optimalnya penanaman nilai karakter melalui pendidikan agama Islam. (Intan Mayang Sahni Badry,dkk. Peran Guru Dalam Menanamkan Nilai Nilai Keislaman Penanaman nilai-nilai agama islam sangat penting dalam usia golden age yaitu usia 0-6 tahun, usia dimana dalam usia ini merupakan masa pertumbuhan dan masa perkembangan. Masa ini adalah masa yang memiliki peran penting dalam menentukan masa depan anak. Dalam masa inilah penanaman agama islam sebaiknya dilakukan karena akan mudah diserap mengingat pertumbuhan anak pada tahun pertama berlangsung pesat. Pada masa ini perlu diberikan stimulusstimulus yang baik agar mendapatkan respon yang baik. Rangsangan tersebut mempengaruhi kecerdasan dan emosional si anak. Selain itu dimasa ini anak memiliki sikap takjub dalam melihat terhadap suatu hal. Oleh karena itu, penanaman sejak dini dianjurkan kepada orang tua agar memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang anak. Hal ini dimaksudkan supaya anak memiliki pemahaman dasar, keyakinan, dan kecintaan terhadap agama Islam yang mereka anut serta sebagai bekal anak dalam mengamalkan ajaran-ajarm agama Islam. (Yusuf Hanifah, dkk. Penanaman nilai-nilai sangat berpengaruh terhadap hasil dari proses pembentukan konsep diri seorang Konsep diri seorang remaja akan pembentukannya di Tanami dengan nilainilai keislaman nilai-nilai keislaman yang dimaksud adalah berbakti terhadap kedua orang tua, sholat lima waktu, berbudi pekerti yang baik, berbicara yang sopan dan lain sebagainya. Nilai-nilai agama islam memiliki kebenaran yang hakiki. Nilai-nilai petunjuk, pedoman dan pendorong bagi manusia dalam memecahkan masalah hidup seperti ilmu agama, ekonomi, politik, social, budaya dan lain sebagainya sehingga terbentuk pola motivasi, tujuan hidup dan perilaku manusia yang menuju kepada keridhaan Allah SWT. oleh karena itu untuk membentuk konsep diri remaja yang positive maka sangatlah perlu penanaman nilai-nilai keislaman, supaya konsep diri dari remaja tersebut berlandaskan pada pokok-pokok nilainilai keislaman seperti akidah, syariah, dan akhalak. (Adi Saputra. Yuzarion. Ada aneka macam-macam kiprah Pengajar Pendidikan kepercayaan Islam yang melaksanakan dalam menaikkan nilai karakter islam kepada generasi z. hasil penelitian di Pengajar PAI kompilasi menanamkan nilai karakter Islam adalah menjadi berikut: Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) pada membimbing generasi z menghasilkan karakter islam siswa menjadi pemimpin yang meneladani nilai-nilai islam. Khususnya penanaman karakter islami pada siswa, membimbing siswa saat proses aktivitas belajar mata pelajaran pendidikan kepercayaan Islam dan memerintahkan siswa buat melaksanakan shalat Dhuhur secara berkelompok, membaca Al-Quran, dan lain-lain. PAI menggunakan banyak sekali Macam metode, termasuk metode dijalankan. kebiasaan baik menghasilkan karakter Metode merupakan suatu cara yang digunakan pendidik buat menanamkan norma Bahasa Indonesia:menyampaikan pelatihan yang menstruasi pembentukan akhlak terhadap suatu hal kegiatan tertentu Bahasa Indonesia: lalu mendidik Biasakan Ulangi aktivitas tersebut berulang kali. Perkembangan kepribadian This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals seseorang siswa tergantung pada seluruh kegiatan ekstrakurikuler, mirip kegiatan iman serta takwa (IMTAQ), berupa pembiasaan terhadap nilai akhlak terpuji yang Terkandung pada Hal ini dilakukan dengan aktivitas Tadarus Al-Qur'an dan Guru Pendidikan agama Islam (PAI) menjadi Pendidikan peran guru PAI menjadi pendidik tidak terbatas pada hanya mengajar atau memberikan materi Pengajar PAI pada sekolah ini berperan menjadi pendidik yang Bertanggung jawab bukan sekedar penyaluran pengetahuan, tapi terhadap penanaman karakter peserta didik melalui banyak sekali aktivitas pembelajaran dan kegiatan Hal ini dimulai berasal sikap guru yang contoh peserta didik itu sendiri, yang mewakili nilai-nilai Islami dalam sikap, perilaku, serta tindakan sehari-hari. Selain mengajarkan materi kepercayaan Pengajar PAI juga membina peserta didik buat menginternalisasi ajaran Islam buat kehidupan sehari-hari mereka, sebagai akibatnya mereka bisa menjadi individu yang beriman dan sangat mulia. Peran pengajar PAI bukan hanya tentang hal hal akademis, namun mempunyai moral dan rohani yang krusial dalam menghasilkan eksklusif siswa secara menyeluruh. karena Pengajar ialah seseorang panutan menjadi contoh Pengajar PAI di Sekolah Menengan Atas Muhammadiyyah Kotta Barat Surakarta mendidik peserta didik buat menjaga kebersihan, menghormati guru Orangtua, dan sesama siswa. Serta menggunakan bahasa yang sopan dan santun. guru jua memberikan contoh serta bimbingan agar bisa mengaji menggunakan memperhatikan tajwid yang benar. Guru Pendidikan kepercayaan Islam (PAI) menjadi Motivator Pengajar PAI secara memberikan dorongan kepada peserta didik buat menerima serta menanamkan nilai-nilai karakter Islami. Dorongan ini terwujud dalam bentuk motivasi yang diberikan kepada peserta didik dan Pengendalian disiplin mereka. Pengajar Pendidikan Islam melakukan pelatihan dengan menerapkan kebiasaan seperti senyum, sapaan, salam, perilaku sopan, santun, membaca doa dan Asmaul Husna sebelumnya dan sesudah belajar,dan melaksanakan shalat dzuhur berjamaah, kegiatan muhadhoroh, dan sholawat nabi. Pengajar bisa tidak sama menggunakan seseorang pembimbing pada bepergian yang Bertanggung jawab Peran Pengajar PAI sangat penting pada membimbing siswa dalam menerapkan nilai karakter Islami. guru PAI berperan aktif dalam upaya pencegahan peserta didik asal perilakuperilaku yang tidak baik. Mereka selalu tegang agar siswa menerapkan kebiasaan seperti senyum, sapaan, salam,dan sikap sopan serta Selain itu, mereka juga memberikan bimbingan kepada siswa norma-norma Guru Pendidikan agama Islam (PAI) sebagai Penilai guru PAI mencakup karakter Islami peserta didik yakni menggunakan Pendidikan Al-Qur'an dan Al-Hadits. Pendidikan Al-Islam. Pendidikan Bahasa Arab yang dikuatkan melalui praktik ibadah. Pendidikan AlIslam mencakup unsur Akidah. Akhlak. Fikih, serta Tarikh. dimata pelajaran akhlak Pengajar PAI menambahkan materi sekaligus penanaman nilai karakter Islami pada siswa. Guru Pendidikan Islam (PAI)menjadi menunjukkan Kepribadian yang menjadi model contoh. Mereka berbicara dengan sopan, menjalankan tugas dengan disiplin, berpakaian sopan,serta menjaga korelasi baik dengan semua elemen. Mereka juga konsisten dalam menerapkan kebiasaan seperti senyum, sapaan, salam,serta sikap sopan dan santun menggunakan rekan Pengajar dan siswa- This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals peserta didik mereka. Pengajar berperan menjadi konselor bagi peserta didik serta mempunyai pelatihan resmi menjadi konselor serta mungkin tidak selalu bisa menyampaikan burung pipit kepada seluruh orang. sesuai penelitian tentang siswa yang tak taata turan serta tak berlatih norma seperti senyum, sapa, salam,serta sikap sopan dan sopan, peneliti menemukan bahwa guru PAI menyampaikan Teguran dan burung Jika ada siswa yang tidak taat hukum Bahasa Indonesia Pengajar Pendidikan agama Islam menyampaikan (Zulfikar Nur Akbar. Peran guru PAI sebagai pembimbing dengan berupaya memberikan motivasi, memberikan nasehat, menjadi tauladan dengan hal ini guru juga harus menjadi contoh yang baik bagi siswanya karna tindak tanduk guru itu diikuti oleh Jadi sebisa mungkin guru mampu menjaga akhlak dan wibawanya sebagai guru agar mampu menjadi contoh yang baik bagi siswanya. (Masduki Daryat, dkk. Hal Ini keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya, berbangsa dan bernegara. (Abdul Gafur. Tantangan Sosial Menanamkan Nilai Nilai Keislaman pada Generasi Z Tantangan pendidikan agama islam untuk generasi z yang semakin nyata perlu adanya tindakan konkrit yang harus Telah dilakukan, salah satu peran Islam menggunakan baik dan praktek konkret pendidikan kepercayaan Islam sebagai sebuah tujuan akhir, yang menginginkan seseorang buat tahu Ajaran kepercayaan Islam, mempunyai kecerdasan berpikir (IQ), (EQ)serta mempunyai kecerdasan spiritual (SQ) buat bekal hidup menuju kesuksesan dunia serta akhirat. Solusi ini penulis tawarkan buat untuk pendidik. Teladan asal untuk pendidik Pendidik yang baik berdasarkan perspektif al-qur'an (Ramadhani,A. kesadaran ini harus ditumbuhi pada pendidik sebab Generasi Z artinya generasi yang mudah buat meniru, sangat berlebihan kapan gen Z melihat dan contoh teladan yang kurang bagus berasal para pendidiknya. yang baiklah dimulai berasal hati, tindakan dan Kata-kata yang mencermati yang akan terjadi asal terkhusus buat pendidik yang pendidikan kepercayaan islam. Membenahi niat dan instropeksi diri bagi para pendidik merupakan langkah awal menuju pendidikan yang memiliki contoh yang Sifat-sifat yang harus melekat pada dalam diri pendidik persperktif al-qur'an shidiq,amanah, ( Sarnoto. , dkk, 2. Sebab tumpuan mengarahkan siswa pada baik serta jelek akhlaknya ialah pendidik, maka meniru Rasulullah SAW pada membimbing para teman menjadi sebuah usaha konkrit menuju teladan yang baik. Tidak seharusnya pendidik berbuat di luar batas syariat agama Islam,dalam insiden yang sudah terjadi saat pendidik berbuat pada luar batas syariat agama islam tentu sebagai sebuah pelajaran berharga buat tak diulangi pada lain saat. Pembelajaran di dunia maya akses global Maya yang semakin mudah bisa dimanfaatkan pendidik untuk mencari referensi belajar, mengikuti menggunakan itu pemerintah atas lahirnya kurikulum This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals kesempatan yang lebar-lebarnya buat penggunaan internet dan jaringan global Manfaat global Maya sebagai Islam Bermanfaat buat membentengi kenakalan remaja pada dunia maya. semua itu bertujuan buat mengingat bahwa masih ada kebaikan yang mampu dicari memakai jaringan media umum serta agar logaritma pencarian jaringan sosial media mereka tidak dipenuhi dengan situs-situs kenakalan remaja. Pendidik juga bisa memanfaatkan dunia Maya menjadi sebuah saran pembelajaran contohnya untuk gambar, video, artikel, data dan permainan islami. Pendidikan wajib memiliki cara maka dari itu dunia Maya tak dipenuhi dengan situs-situs kenakalan remaja maka dengan adanya konten pendidikan Islam yang hadir akan menyeimbangkan isi asal dunia maya, perlunya tindakan ini wajib dilanda dengan maksud tidak ada buat kebaikan moral para siswa Mengisi saat kosong untuk pendidik buat membuat konten pendidikan kepercayaan Islam juga akan membumikan pendidikan kepercayaan Islam di dunia maya. Penguatan pendidikan kepercayaan islam penguatan pendidikan agama islam akan lebih mudah Bila terjadi hubungan interkoneksi antara kepercayaan sains . lmu pengetahua. dan teknologi. Keterbukaan ini akan berdampak pada sebenarnya pendidikan kepercayaan islam sangat penting dan memang benar pendidikan kepercayaan Islam ini berisikan segala kebaikan buat gila Islam mengatur asal yang terkecil hingga yang terbesar, dari yang paling mudah sampai yang tersusah,dari yang paling pertama hingga yang terakhir. Dalam menghadapi beberapa tantangan dan problematika yang masih menjadi hambatan, penting untuk mencari cara yang paling efektif tujuan-tujuan Islam. (Yusnaili Budianti, dkk. Pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan orang tua selalu disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Sehingga mereka tidak sempat memberikan perhatian dan kasih saying kepada anak-anaknya serta tidak khususnya pendidikan karakter anakanaknya. Selain kurangnya perhatian yang diberikan orang tua kepada anak, para orang tua juga masih banyak yang Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan agama khususnya pendidikan akhlak cukup diberikan di lembaga . atau guru ngaji yang ada di lingkungan sekitar. (Ima Ismail. Semua peraturan itu sebenarnya akan Kompleksitas pendidikan ini bisa pada benahi dari pendidikan kepercayaan islam terlebih dahulu. Jika pendidikan agama islam itu baik makanya indonesia yang mempunyai populasi pemeluk agama islam terbesar kemungkinannya akan baik juga sektor Islam rahmatan lil alamiinharus segara di bumikan menggunakan buktibukti konkret dengan pemahaman islam yang kaffah maka sedikit kemungkinan akan terjadi pragmatisme pada global pendidikan Indonesia. Konstruksi pendidikan kepercayaan Islam Bila memang perlu pada bangun dan perlu menerima dukungan berasal pemerintah untuk mengahdapi tantangan pendidikan islam bagi gen Z, maka sudah seharusnya pemerintah menyampaikan kepercayaan Islam pada Indonesia dan Umat Islam sebagai pemeluk kepercayaan terbesar di Indonesia serta merasakan Buktinya pendidikan agama islam melahirkan tokoh-tokoh yang Bermanfaat bagi Indonesia, melalui lulusan pondok pesantren yang dengan sadar ikut dan mengelola negara ini buat kebaikan This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. TaAodiban: Journal of Islamic Education Volume 5 No 2 Januari-Juni 2025, 138-151 e issn 2797-5886 DOI: https://doi. org/10. 61456/tjie. Website: https://ojs. id/index. php/tadibanjournals beserta persepi rakyat ihwal global pondok pesantren yang dahulu dianggap tidak mempunyai Kompetensi yang baik juga wajib mulai dikikis, secara perlahan. pendidikan kepercayaan Islam yang ada di Indonesia sudah seharusnya indonesia menjadi rumah bagi yang nyaman buat mahasiswa,serta banyaknya santri berprestasi pada Indonesia juga seharusnya. (Wahyu Taufiqur Rohman, dkk . KESIMPULAN Dalam menghadapi tantangan era digital, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada Generasi Z yang memiliki karakteristik multitasking, ekspresif, dan aktif di dunia Strategi yang digunakan tidak lagi bisa bersifat konvensional, melainkan harus bersifat inovatif dan adaptif dengan memanfaatkan teknologi digital, media sosial, serta pendekatan visual dan Guru PAI dituntut menjadi fasilitator, motivator, sekaligus teladan yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke kehidupan sehari-hari siswa. Pendekatan yang efektif meliputi penggunaan blended learning, pembelajaran berbasis aplikasi, metode edutainment, hingga pembelajaran berbasis proyek dan Selain itu, penguatan karakter keislaman juga memerlukan sinergi pengetahuan, dan teknologi untuk menciptakan pemahaman Islam yang kontekstual dan menyeluruh. Penting bagi setiap guru untuk penanaman nilai-nilai keislaman pada Penanaman nilai-nilai keislaman pada siswa dapat dilakukan melalui pendidikan karakter keislaman. Penanaman karakter keislaman dapat dilakukan pada setiap pelajaran. Guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang sistematik mulai dari melakukan diskusi maupun penugasan atau problem solving yang mengacu siswa untuk lebih paham terkait materi yang disampaikan (Widiastuti, 2. Sedangkan pada mengawalinya dengan pembacaan ayatayat pilihan yang terdapat didalam AlqurAoan kemudian menelaah isi ayat tersebut bersama siswa. Dengan demikian siswa akan lebih paham dan mengerti tentang perintah maupun larangan dalam islam yang nantinya dapat menjadi pedoman hidup kedepannya. (Anggita Yuli Permatasari dkk. Untuk mengatasi tantangan yang ada, implementasi yang tepat. Salah satu memberikan pelatihan kepada para cara-cara mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pendidikan karakter dan pembelajaran sehari-hari. Pendidikan dan pelatihan guru secara berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam mengajarkan nilai-nilai moral dan serta memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari siswa. (Ashari,dkk. Dengan demikian, strategi guru dalam menanamkan nilai-nilai keislaman harus selaras dengan gaya belajar dan tantangan yang dihadapi Generasi Z, agar mereka tumbuh menjadi pribadi muslim yang berakhlak mulia, cerdas secara spiritual, emosional, dan intelektual, serta siap menghadapi tantangan zaman. REFERENSI