PENINGKATAN KAPASITAS PETERNAK RUMINANSIA MELALUI PENYULUHAN DAN PELATIHAN FERMENTASI PAKAN DI DESA PAYUNG MULYA. KECAMATAN PUBIAN, KABUPATEN LAMPUNG TENGAH CAPACITY BUILDING OF RUMINANT FARMERS THROUGH COUNSELING AND TRAINING ON FEED FERMENTATION IN PAYUNG MULYA VILLAGE. PUBIAN SUB-DISTRICT. CENTRAL LAMPUNG DISTRICT Lusia Komala Widiastuti1*. Muhammad Mirandy Pratama Sirat2 . Slamet Setio2. Syahrio Tantalo2 1 Program Studi Peternakan. Jurusan Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Indonesia 2 Program Studi Nutrisi dan Teknologi Pakan Ternak. Jurusan Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Indonesia *Penulis korespondensi: lusiakomala@fp. Abstrak Peningkatan kapasitas peternak adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan usaha peternakan, karena dengan meningkatnya kapasitas peternak maka produktivitas ternak yang dipelihara juga akan lebih Oleh karena itu, tim pengabdian kepada masyarakat Fakultas Pertanian Universitas Lampung melalui Program Klinik Pertanian Keliling rutin menyelenggarakan kegiatan berbasis penyuluhan maupun pelatihan untuk mengatasi permasalahan di bidang peternakan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peternak ruminansia di Desa Payung Mulya. Kecamatan Pubian. Kabupaten Lampung Tengah melalui penyuluhan terpadu mengenai manajemen pemeliharaan, reproduksi, dan kesehatan ternak, serta praktik pembuatan fermentasi pakan yang meliputi pembuatan silase dari rumput gajah dan dedak, serta amoniasi jerami padi menggunakan urea. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pemberian kuesioner yang sama sebelum kegiatan . re-tes. dan setelah kegiatan . ost-tes. berisi 29 pertanyaan terkait pemeliharaan, kesehatan, reproduksi dan teknologi fermentasi pakan. Peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 40 orang terdiri dari 33 orang peternak ruminansia Desa Payung Mulya dan 7 orang mahasiswa KKN Universitas Lampung. Hasil kegiatan pengabdian ini terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan terkait manajemen pemeliharaan ternak sebesar 44,19% . ari 41,72% menjadi 85,91%), kesehatan ternak sebesar 18,68% . ari 67,89% menjadi 86,57%), reproduksi ternak sebesar 32,66% . ari 55,41% menjadi 88,07%), dan teknologi pembuatan pakan fermentasi sebesar 70,09% . ari 20,14% menjadi 90,23%). Dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian yang telah dilakukan mampu meningkatkan pengetahuan peternak terkait aspek manajemen pemeliharaan, kesehatan, dan reproduksi ternak serta teknologi fermentasi pakan. Kata kunci: fermentasi pakan, kapasitas peternak, penyuluhan, pelatihan, ruminansia Abstract Increasing the capacity of farmers is one of the efforts made to improve livestock businesses, as it enables the productivity of the livestock raised to be more optimal. Therefore, the community service team of the Faculty of Agriculture. University of Lampung through the Klinik Pertanian Keliling Program routinely organizes extension and training-based activities to overcome problems in the livestock sector. This program aims to increase the capacity of ruminant farmers in Payung Mulya Village. Pubian Sub-District. Central Lampung District through integrated counseling on livestock maintenance, reproduction, and health management, as well as feed fermentation practices that include silage production from elephant grass and bran, and ammoniation of rice straw using urea. The evaluation of the activity was conducted by administering the same questionnaire both before . and after . ost-tes. the program, which consisted of 29 questions related to livestock management, health, reproduction, and feed fermentation technology. A total of 40 participants took part in the activity, comprising 33 ruminant farmers from Payung Mulya Village and 7 students from the Community Service Program (KKN) of Universitas Lampung. The results of the community service activity demonstrated an increase in knowledge and skills, with improvements of 44. 19% in livestock management . 72% to 85. 91%), 18. 68% in livestock health . 89% to 86. 57%), 32. 66% in livestock reproduction . 41% to 88. 07%), and 70. 09% in feed fermentation technology . 14% to 90. 23%). This community service program concludes that it effectively enhanced the participants' knowledge and skills in livestock management, health, reproduction, and feed fermentation technology. Keywords: feed fermentation. farmer capacity. Submitted 26-04-2025 | Revision 21-05-2025 | Accepted 26-05-2025 | Published 30-06-2025 Article ID 45726 | Copyright . 2025 Bull. Community. Serv. :67-77 https://doi. org/10. 24815/bulpen. Widiastuti et al. Pendahuluan Sektor peternakan memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan protein hewani di Indonesia. Dalam budidaya peternakan, peran peternak termasuk ke dalam faktor lingkungan yang berkontribusi sebesar 70% terhadap Namun, keterbatasan yang dihadapi peternak seperti kurangnya pengetahuan terkait pemeliharaan ternak maupun penyediaan pakan dapat membuat produktivitas ternak menjadi kurang Penyediaan pakan di peternakan dengan skala kecil biasanya mengandalkan hijauan yang tumbuh di lingkungan sekitar tempat tinggal. Akan tetapi, masalah lain muncul saat musim kemarau tiba, yaitu kurangnya ketersediaan hijauan segar yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Menurut Septian et al. , produksi hijauan pada musim kemarau dapat berkurang hingga 70%. Permasalahan ini terjadi pada banyak peternak yang belum pernah mendapatkan kegiatan fermentasi pakan sehingga merasa kesulitan dalam pemenuhan hijauan pakan, terutama saat musim kemarau. Desa Payung Mulya. Kecamatan Pubian. Kabupaten Lampung Tengah merupakan salah satu desa yang masyarakatnya banyak memiliki ternak ruminansia seperti sapi dan kambing. Kecamatan Pubian sendiri merupakan salah satu kecamatan dengan populasi sapi dan kambing yang cukup banyak yaitu 3. 175 ekor sapi dan 989 ekor kambing (BPS 2. Namun karena jaraknya yang berada jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Lampung Tengah (A97 k. , desa ini masih belum banyak terpapar teknologi dan pengetahuan di bidang Berdasarkan pendahuluan untuk analisis situasi, peternak di desa Payung Mulya membutuhkan peningkatan kapasitas dengan cara memberikan informasi berupa penyuluhan dan pelatihan. Permasalahan utama dalam budidaya peternakan yang ada di Desa Payung Mulya adalah manajemen pemeliharaan yang belum optimal dan belum dimanfaatkannya teknologi pengolahan pakan sebagai upaya penyediaan pakan khususnya di musim kemarau. Hal ini diketahui berdasarkan hasil pra-survei sebelum kegiatan penyuluhan dilaksanakan dan juga hasil pre-test sebelum peternak diberikan penyuluhan dan pelatihan. Peternak sapi dan kambing yang ada di desa ini masih menggunakan cara beternak yang tradisional, seperti pemberian pakan yang hanya mengandalkan ketersediaan hijauan yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal, kemudian belum ter manfaatkannya limbah dengan baik, serta jenis kandang yang Bull. Community. Serv. :67-77 masih dijadikan satu. Permasalahan ini menjadi penyebab produktivitas ternak ruminansia menjadi tidak maksimal. Tim pengabdian kepada masyarakat dari Jurusan Peternakan. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung bertujuan meningkatkan kapasitas peternak ruminansia di desa tersebut melalui kegiatan penyuluhan manajemen pemeliharaan, reproduksi, dan kesehatan ternak, serta pelatihan pembuatan fermentasi pakan. Program penyuluhan ini dirancang untuk pemeliharaan ternak ruminansia melalui pendekatan komprehensif yang mencakup lima aspek fundamental. Pertama, aspek seleksi dan manajemen pembibitan yang menjadi pondasi uatama mengingat faktor genetik menyumbang sebesar 30% terhadap produktivitas ternak (Lasandrang et al. Dalle et al. Aspek kedua yang tidak kalah penting adalah manajemen pakan yang berkontribusi sebesar 70% dalam keseluruhan biaya usaha peternakan (Widiastuti et al. Ternak yang dipelihara dengan tujuan penggemukan tidak akan bertambah bobotnya jika peternak hanya mengandalkan hijauan saja dan justru akan Penyuluhan ini menekankan pentingnya formulasi pakan yang seimbang untuk mencapai target produktivitas. Aspek yang ketiga adalah perkandangan merupakan salah satu bagian dari manajemen pemeliharaan yang berperan dalam tatalaksana dan kemudahan peternak dalam melakukan budidaya. Selain itu, kandang yang baik akan mendukung kenyamanan ternak dan menghindarkan ternak dari penyakit. Aspek yang keempat yaitu manajemen kesehatan, karena ternak yang sakit tentu tidak akan optimal dalam proses produksi dan dapat menulari ternak lain yang ada di dalam kandang, sehingga perlu dilakukan pencegahan penyakit dan penanganan terhadap ternak yang sakit Aspek kelima yaitu manajemen reproduksi, terutama pada ternak yang dipelihara dengan tujuan pembibitan agar dapat menghasilkan cempe maupun pedet dalam kurun waktu tertentu. Permasalahan yang sering dihadapi oleh peternak adalah sulitnya mencari pakan hijauan, terutama saat musim kemarau karena banyak hijauan yang mengalami kekeringan. Selama ini, peternak sapi dan kambing di Desa Payung Mulya hanya memberikan pakan hijauan seadanya saat musim kemarau seperti pemberian jerami padi maupun rumput-rumput kering yang banyak tumbuh di areal persawahan maupun ladang di sekitar tempat tinggal. Salah satu metode yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan Page 68 Widiastuti et al. melakukan fermentasi pakan, yaitu dengan mengolah pakan hijauan menjadi silase. Menurut Elferink et al. serta Widiastuti dan Novi . , silase adalah proses pengawetan hijauan pakan segar dalam kondisi anaerob dengan penambahan EM4 yang mengandung berbagai jenis bakteri fermentor yang berperan menghasilkan berbagai jenis asam organik seperti asam laktat, asetat, dan butirat sebagai hasil fermentasi karbohidrat yang terlarut oleh bakteri sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan pH. Prasetyo . menambahkan bahwa penurunan nilai pH akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan mikroorganisme pembusuk yang membuat hijauan menjadi lebih Oleh karena itu, tim KPK Fakultas Pertanian Universitas Lampung memberikan solusi dengan melakukan pelatihan pembuatan silase dengan memanfaatkan hijauan pakan lokal yang tumbuh di sekitar tempat tinggal peternak. Metode Waktu dan Tempat Kegiatan ini dilaksanakan pada Januari hingga Februari 2025 yang berlokasi di Desa Payung Mulya. Kecamatan Pubian. Kabupaten Lampung Tengah. Kegiatan dirancang dalam tiga tahapan yang terdiri dari analisis situasi untuk pemetaan permasalahan, pelaksanaan, dan evaluasi . re-test dan post-tes. Peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 40 orang terdiri dari 33 orang peternak ruminansia Desa Payung Mulya dengan lama beternak dan jumlah kepemilikan ternak ruminansia . api dan kambin. yang beragam dan 7 orang mahasiswa KKN Universitas Lampung. Metode Pelaksanaan Metode yang digunakan berupa penyuluhan manajemen pemeliharaan, reproduksi, dan kesehatan ternak serta pelatihan pembuatan fermentasi pakan dengan metode silase dengan menggunakan rumput gajah, dedak, dan molases serta metode amoniasi dengan menggunakan jerami padi dan urea. Tahapan kegiatan terdiri . Tahap analisis situasi untuk pemetaan permasalahan dilakukan pada 12 s/d 18 Januari 2025 yang melibatkan 7 orang mahasiswa KKN Desa Payung Mulya untuk melakukan pendataan jumlah peternak ruminansia, mencatat jenis pakan yang berpotensi untuk dilakukan pengolahan, serta analisis permasalahan yang dihadapi oleh peternak di Desa Payung Mulya. Tahapan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan berupa pre-test dan post-test dilakukan pada tanggal 25 Januari 2025, sedangkan untuk pengamatan terhadap keberhasilan fermentasi pakan dilakukan Bull. Community. Serv. :67-77 pada 15 Februari 2025. Pada tahapan dilakukan yaitu memberikan pre-test yang berbentuk kuesioner pada peternak yang berisi pertanyaan terkait pengetahuan pemeliharaan, kesehatan, dan reproduksi Setelah dilakukan pre-test, kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan yaitu penyampaian materi terkait manajemen pemeliharaan, kesehatan, dan reproduksi ternak oleh tim pengabdian masyarakat dengan metode ceramah dan tanya jawab dan kemudian dilanjutkan dengan praktik pembuatan pakan fermentasi yaitu silase dan amoniasi. Rangkaian kegiatan ini tersaji pada Gambar 1. Tahapan evaluasi dilakukan dengan cara memberikan post-test yang berbentuk kuesioner untuk mengetahui perubahan pengetahuan peternak setelah kegiatan penyuluhan dilaksanakan. Pada dasarnya, terdapat beberapa tahap proses dalam desain yaitu menganalisis, menyusun, dan merancang. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan hasil desain yang sesuai dan memiliki nilai jual. Oleh karena itu digunakan metode rasional dalam proses Metode rasional adalah proses merancang dengan langkah-langkah yang terstruktur, rinci, dan jelas untuk mendapatkan solusi desain yang baik (Azis 2. Pembuatan pakan silase Persiapan pembuatan pakan silase terdiri atas hijauan yang digunakan untuk pembuatan pakan silase yaitu rumput gajah yang diperoleh dari lingkungan sekitar tempat tinggal peternak Desa Payung Mulya sebanyak 25 kg. Rumput gajah dicacah kasar menggunakan sabit dengan ukuran sekitar 3Ae5 cm dan dijemur di bawah paparan sinar matahari selama 1 hari. Praktik pembuatan silase di Desa Payung Mulya dilakukan dengan cara menyiapkan 25 kg rumput gajah yang sudah dicacah kecil-kecil dengan ukuran sekitar 5Ae10 cm. Rumput gajah kemudian diratakan di atas terpal kemudian ditaburi dengan 5 kg dedak dan dihomogenkan agar merata. EM4 dilarutkan ke dalam air dengan persentase EM4 yang digunakan sebesar 3% dari berat segar hijauan. Farda et al. mengatakan bahwa persentase air dalam campuran bahan yang akan difermentasi diukur dengan cara menggenggam dan memeras campuran bahan yang telah basah kemudian dilihat tetesan air yang keluar dari genggaman Setelah rumput gajah, dedak, dan EM4 Page 69 Widiastuti et al. tercampur merata, hijauan dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam silo sambil dimampatkan agar padat dan tidak ada sisa udara di dalam silo. Setelah padat, silo ditutup hingga rapat dan difermentasi selama 21 hari yang selanjutnya disebut dengan ensilase. Pembuatan pakan amoniasi Proses persiapan bahan fermentasi untuk pembuatan amoniasi diawali dengan penyiapan jerami padi sebanyak 10 kg sebagai bahan baku pakan amoniasi. Jerami padi dipotong-potong supaya tidak terlalu menggumpal menggunakan sabit dan dijemur di bawah paparan sinar matahari selama 1 hari. Persiapan larutan fermentor EM4 Persiapan larutan fermentor Effective Microorganisms-4 (EM. ditujukan untuk untuk Bull. Community. Serv. :67-77 mempersiapkan dan memperbanyak kandungan mikroorganisme fermentor. Tahap pertama yang dilakukan yaitu mempersiapkan cairan EM4 dalam botol berwarna coklat kemasan 1 liter. Kemudian mempersiapkan larutan EM4. Larutan EM4 1:1:1000 menggunakan ember berkapasitas 5 liter yang terdiri dari 5 ml EM4, 5 ml molases, dan 5 liter air. Pembuatan larutan EM4 ini mengacu pada pelatihan pembuatan silase berbasis rumput Pakchong yang dilakukan oleh Farda et al. bahwa larutan fermentor dibuat dengan mencampurkan EM4 dengan molases dan air sebagai pelarutnya dengan perbandingan 1:1:1000. Gambar 1. Rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh tim klinik pertanian keliling. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung Analisis Data Evaluasi kegiatan dilakukan dengan analisis data peningkatan pengetahuan peternak dengan pengetahuan peternak berdasarkan kuesioner pre-test dan post-test yang diberikan sebelum dan setelah kegiatan pengabdian dilakukan. Data hasil analisis disajikan dalam bentuk grafik kemudian digolongkan menjadi 3 kriteria tingkat pengetahuan yaitu rendah (<50%), sedang . Ae 70%), dan tinggi (>70%). Hasil dan Pembahasan Penyuluhan Pengabdian kepada masyarakat merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh civitas akademika untuk memberdayakan masyarakat agar lebih baik lagi dalam menjalankan usahanya dan memiliki keterkaitan yang erat dengan sustainable development, yang memiliki makna bahwa jika masyarakat diberdayakan dengan baik, masyarakat dapat menuju suatu upaya keberlanjutan baik dari segi ekonomi, ekologi, maupun sosial yang dinamis (Suhaimi 2017. Widiastuti dan Wati 2. Page 70 Widiastuti et al. Bull. Community. Serv. :67-77 Berdasarkan kegiatan penyuluhan yang telah dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat, hasil yang diperoleh yaitu peternak di Desa Payung Mulya memperoleh informasi dan pengetahuan pemeliharaan, reproduksi, dan kesehatan ternak yang dapat diterapkan dalam pemeliharaan sehari-hari. Berdasarkan hasil observasi awal, teridentifikasi bahwa masyarakat peternak di Desa Payung Mulya selama ini belum tersentuh program penyuluhan dan minim pengalaman mengikuti kegiatan edukasi dan pelatihan terkait manajemen peternakan. Tahapan kegiatan pelaksanaan dan evaluasi pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan yaitu penyampaian materi dalam bentuk powerpoint oleh tim yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sebelum dilakukan penyuluhan, peserta diminta untuk mengisi kuesioner sebagai pre-test yang berisi beberapa pertanyaan terkait materi yang akan disampaikan. Kegiatan penyampaian materi tersaji dalam Gambar 2. Setelah dilakukan penyampaian materi, peserta diberikan post-test untuk mengukur peningkatan kapasitas peternak yaitu pengetahuan tentang materi yang telah disampaikan. Gambar 2. Penyampaian materi oleh tim pengabdian masyarakat Gambar 3. Foto bersama peserta pengabdian masyarakat Peningkatan pengetahuan peternak diukur berdasarkan analisis data hasil kuesioner pre- test dan post-test. Hasil komparasi antara nilai pre-test dan post-test disajikan pada Gambar 4. Evaluasi Peningkatan Kapasitas Peternak (%) Manajemen Manajemen Pretest Manajemen Teknologi fermentasi pakan Post-test Gambar 4. Hasil kapasitas pengetahuan peternak berdasarkan materi penyuluhan Page 71 Widiastuti et al. Bull. Community. Serv. :67-77 Berdasarkan analisis komparatif data pre-test dan post-test (Gambar . , teridentifikasi peningkatan pada tingkat pengetahuan peternak mengenai seluruh materi pelatihan yang disampaikan, yang dirincikan sebagai berikut: Kapasitas pengetahuan peternak tentang mengalami peningkatan dari kriteria rendah . ,72%) menjadi kriteria tinggi . ,91%). Kapasitas pengetahuan peternak tentang topik manajemen reproduksi mengalami . ,41%) . ,07%). Kapasitas pengetahuan peternak tentang topik manajemen kesehatan mengalami . ,89%) . ,57%). Kapasitas pengetahuan peternak tentang topik teknologi fermentasi pakan mengalami peningkatan dari kriteria rendah . ,14%) menjadi kriteria tinggi . ,23%). sapi di Desa Purworejo . ,47% Ie 86,85%) dan Desa Mekar Jaya . ,04% Ie 85,58%) (Sirat et al. peternak kambing di Desa Sungkai Utara . ,91% Ie 83,29%) (Sirat et al. , 2. Desa Margomulyo . ,21% Ie 87,89%) (Sirat et 2. Desa Tambak Jaya . ,45% Ie 89,91%) (Qisthon et al. , serta Pekon Teba Liokh . ,79% Ie 85,03%) (Ermawati et al. Temuan konsisten ini mengindikasikan rerata peningkatan pengetahuan sebesar 45Ae50 poin persentase pada seluruh materi yang diberikan. Nilai peningkatan kapasitas pengetahuan peternak pada setiap materi sosialisasi disajikan pada Gambar 5. Materi manajemen kesehatan ternak memiliki persentase peningkatan yang paling rendah yaitu sebesar 18,68%, kemudian persentase peningkatan materi reproduksi dan pemeliharaan ternak berturut-turut sebesar 32,66%, dan 44,19%. Materi penyuluhan yang memiliki persentase peningkatan terbesar yaitu topik teknologi fermentasi pakan yaitu sebesar 70,09%. Hal ini disebabkan karena peternak sudah lebih banyak mengetahui terkait manajemen kesehatan berdasarkan informasi dari mantri hewan yang ada di Desa Payung Mulya, sedangkan untuk materi penyuluhan yang lain peternak belum banyak mengetahui karena belum pernah diadakan penyuluhan di desa Pada topik teknologi fermentasi pakan, peternak belum banyak mengetahui informasi bahwa pakan dapat diolah lebih lanjut untuk mengantisipasi kelangkaan hijauan di musim Berdasarkan bukti empiris dari serangkaian kegiatan pengabdian masyarakat sebelumnya, meningkatkan pengetahuan peternak secara Data menunjukkan peningkatan pengetahuan dari kategori rendah (<50%) ke tinggi (>70%) pada berbagai lokasi: . peternak Persentase Peningkatan Kapasitas Peternak per Topik Materi Penyuluhan Teknologi fermentasi pakan Manajemen kesehatan Manajemen reproduksi Manajemen pemeliharaan Gambar 5. Persentase peningkatan kapasitas pengetahuan peternak berdasarkan materi penyuluhan Pelatihan Pembuatan Silase Pelaksanaan pelatihan pembuatan silase yang telah dilakukan oleh tim pengabdian dan peternak di Desa Payung Mulya. Kecamatan Pubian. Kabupaten Lampung Tengah tersaji pada Gambar 6. Page 72 Widiastuti et al. Bull. Community. Serv. :67-77 Gambar 6. Pelatihan pembuatan silase bersama dengan peternak Proses pengawetan pakan atau disebut fermentasi dikelompokkan menjadi fermentasi aktif dan pasif. Fermentasi secara aktif dilakukan secara anaerob yang berarti membutuhkan kondisi penyimpanan rapat dan kedap tanpa oksigen dengan menambahkan probiotik. Pada fermentasi secara pasif tidak menambahkan probiotik buatan, namun dengan memanfaatkan probiotik alami yang sudah ada di bahan serat hijauan dalam proses fermentasinya (Tantalo et Rumput gajah yang digunakan sebagai bahan pembuatan silase mengandung serat kasar yang tinggi . ,86%). Oleh karena itu, teknik fermentasi dengan metode ensilase dapat menurunkan kandungan serat kasar yang ada di dalamnya sehingga dapat dengan mudah dicerna oleh ternak (Naif et al. Dedak padi dibutuhkan dalam pembuatan silase untuk mempertahankan kandungan nutrient, sumber karbohidrat, dan dapat menurunkan kandungan serat kasar. Selain dedak padi. EM4 digunakan dalam pembuatan silase sebagai aktivator mikroorganisme seperti Lactobacillus sp. Streptomyces sp. yang dapat membantu menguraikan struktur kompleks dalam rumput gajah sehingga akan menurunkan kadar serat Monitoring Hasil Pembuatan Silase Tahapan monitoring atau pemantauan pembuatan silase dilakukan setelah 21 hari penyimpanan secara anaerob. Setelah proses fermentasi terjadi selama rentang waktu tersebut, pakan silase menunjukkan adanya perubahan aroma, tekstur, dan warna. Aroma yang ditimbulkan yaitu wangi khas fermentasi seperti aroma tape. Hal ini disebabkan karena adanya proses fermentasi asam laktat. Warna pakan silase yang dihasilkan yaitu warna coklat kekuningan dari yang sebelumnya berwarna hijau khas rumput gajah. Menurut Dalle et al. dan Lasandrang et al. , perubahan warna ini terjadi karena selama proses fermentasi terjadi sintesis pigmen phatophitin yang merupakan derivat klorofil. Untuk tekstur silase yang dihasilkan yaitu seperti remahan yang lembut, tidak lengket, dan tidak menggumpal satu sama lain. Hasil fermentasi silase tersaji pada Gambar 7. Gambar 7. Hasil fermentasi pakan dengan metode silase selama penyimpanan 21 hari. Hasil silase rumput gajah pada kegiatan pelatihan ini sesuai dengan hasil pelatihan silase berbasis bahan rumput yang dilakukan oleh Farda et al. dan Qisthon et al. bahwa silase dapat menghasilkan tekstur pakan yang lembut dengan aroma asam dan harum berwarna hiaju kekuningan, dengan kadar pH antara 2-3 serta disukai oleh ternak dengan palatabilitas baik, hal ini sesuai dengan pernyataan Pamungkas et al. bahwa tingkat palatabilitas berperan penting pada penyusunan ransum, karena jumlah konsumsi pakan dipengaruhi oleh palatabilitas. Konsumsi pakan yang tinggi menunjukkan tingkat palatabilitas pakan yang baik, sebaliknya jika Page 73 Widiastuti et al. Bull. Community. Serv. :67-77 konsumsi pakan rendah palatabilitas pakan tidak baik. Pelatihan Pembuatan Amoniasi Jerami Padi Setelah dilakukan pembuatan silase rumput gajah, pelatihan dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan pembuatan amoniasi jerami padi (Gambar . Jerami padi atau damen banyak terdapat di lingkungan sekitar tempat tinggal peternak karena Desa Payung Mulya didominasi oleh areal persawahan. Pada umumnya, jerami padi hanya diberikan begitu saja ke ternak atau dibakar karena dianggap tidak memiliki manfaat. Oleh karena itu, peternak diberikan pelatihan pembuatan amoniasi jerami padi agar ke depannya jerami padi tidak hanya menjadi limbah atau diberikan begitu saja ke ternak. Jerami padi yang diberikan langsung ke ternak kandungan serat kasar dan lignin yang begitu tinggi yang sulit dicerna oleh ternak. Gambar 8. Pelatihan pembuatan amoniasi jerami padi bersama dengan peternak Pembuatan amoniasi jerami padi dilakukan dengan menggunakan jerami padi dan pupuk Sebanyak 500 g urea dilarutkan ke dalam 5 L air. Persentase urea yang dibutuhkan yaitu 5% dari berat jerami padi (Bata dan Sodiq 2. Jerami padi sebanyak 10 kg dicampurkan dengan larutan urea dengan cara dipercikkan secara Setelah campuran merata, semua bahan dimasukkan ke dalam silo. Proses fermentasi dilakukan selama minimal 21 hari dalam kondisi Zulaikhah et al. menyatakan bahwa teknologi amoniasi jerami dapat meningkatkan kualitas kandungan nutrien pada jerami dan daya cernanya. Syaiful dan Siva . menambahkan bahwa pakan amoniasi jerami padi dapat mempertahankan dan mencegah kerusakan jerami serta meningkatkan kualitas nutrisinya. Monitoring Jerami Padi Hasil Pembuatan Amoniasi Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kualitas fisik jerami padi teramoniasi setelah 21 hari difermentasi secara anaerob (Gambar . , diperoleh data berupa warna, aroma, dan Jerami padi yang sebelumnya berwarna kuning berubah menjadi warna coklat sedikit kekuningan yang menandakan bahwa proses fermentasi sudah berlangsung dengan baik. Ilham et al. menyatakan bahwa perubahan warna yang terjadi pada tanaman yang mengalami proses ensilase disebabkan karena terjadi peningkatan suhu selama proses Peningkatan menyebabkan panas ini akan merusak pigmen alami dan mempengaruhi struktur jerami, sehingga dapat mengakibatkan perubahan Selain itu. Candrasari et al. menambahkan bahwa terjadi proses browning reaction akibat panas dari karbon dioksida (CO. yang dihasilkan dari proses fermentasi. Gambar 9. Tampilan jerami padi sebelum . dan setelah . amoniasi dengan penyimpanan selama 21 hari Page 74 Widiastuti et al. Aroma yang dihasilkan dari amoniasi jerami padi yaitu aroma gas amonia yang agak Hal ini disebabkan karena adanya proses hidrolisis urea secara sempurna. Selain aroma gas amonia, ada sedikit aroma asam yang disebabkan karena adanya proses fermentasi asam laktat. Tekstur yang dihasilkan dari amoniasi jerami padi yaitu lembut, tidak menggumpal, dan tidak mengeluarkan lender. Selain itu, hasil amoniasi tidak menunjukkan adanya pertumbuhan jamur atau kapang, di mana pertumbuhan jamur atau kapang ini mengindikasikan adanya kontaminasi dan kondisi yang tidak anaerob selama proses Hasil pada kegiatan pengabdian ini sesuai dengan Tantalo et al. bahwa amoniasi jerami padi menghasilkan tekstur jerami padi yang bertekstur lembut, memiliki aroma asam, tidak terdapat jamur yang tumbuh, dan menghasilkan perubahan warna jerami padi dari kuning menjadi kecoklatan setelah proses amoniasi dilakukan selama 21 hari. Kesimpulan Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil meningkatkan kapasitas peternak ruminansia di Desa Payung Mulya melalui penyuluhan dan manajemen pemeliharaan, kesehatan, dan reproduksi ternak. Evaluasi data pre-test dan post-test pengetahuan tertinggi pada aspek teknologi fermentasi pakan . ,09%), diikuti oleh manajemen pemeliharaan . ,19%), reproduksi . ,66%), dan kesehatan ternak . ,68%), dengan total peserta 40 orang. Tingginya peningkatan pada fermentasi pakan disebabkan oleh minimnya pengetahuan awal peternak terkait pengolahan pakan alternatif, sementara peningkatan terendah pada kesehatan ternak diduga karena adanya informasi dasar dari mantri hewan setempat. Program ini efektif dalam mengoptimalkan produktivitas ternak melalui pemanfaatan bahan lokal seperti rumput gajah dan jerami padi, serta membekali peternak dengan solusi berkelanjutan untuk mengatasi kelangkaan hijauan di musim kemarau. Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terimakasih kepada . Fakultas Pertanian Universitas Lampung atas pendanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Program Klinik Pertanian Keliling FP Unila Tahun 2025. Pemerintah Desa Payung Mulya. Kecamatan Pubian. Kabupaten Lampung Tengah. Provinsi Lampung sebagai mitra kegiatan pengabdian. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Bull. Community. Serv. :67-77 Lampung lokasi Desa Payung Mulya atas bantuan dan kerjasama dalam kegiatan pengabdian. Daftar Pustaka