Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Juli 2023. Hal. 56 - 62 Edukasi dan Pengolahan Tanaman Toga Kumis Kucing Sebagai Terapi Komplementer di Banjar Sila Dharma Mengwitani Badung Gede Trima Yasa 1*, apt Ni Putu Ayu Deviana Gayatri 2, apt Made Dwike Swari Santi 3 Intitut Tekonologi dan Kesehatan Bintang Persada e-mail: gedetrima12@gmail. com1, gayatrilecture@Gmail. com2 madedwikess@gmail. * Penulis Korespondensi: E-mail: gedetrima12@gmail. Abstract Indonesian Institute of Sciences in 2019, stated that approximately 29,477 plant species were taxonomically identified. This data shows that 9. 47% of the total species in the world found in Indonesia. These plants were empirically use by Indonesian ancestor to promotes health and cure various diseases. This medicinal plant is well known to as family medicinal plant (TOGA. Tanaman Obat Keluarg. Family medicinal plants (TOGA) are home-cultivated plants that are efficacious as medicine. This community service using presentation method, delivered by the lecturers of clinical and community pharmacy undergraduate study program. Furthermore, the level of understanding of participants were measured using the pretest and posttest methods. The result of pretest and posttest tests revealed a significant increase in respondents' knowldege regarding toga plant education. Pretest data shows that 46% of respondents understand material related to the use of TOGA, and in the posttest results it is found that 89% of respondents understand material related to the use of TOGA. Significant increase also found in respondents' knowledge level about use of cat's whiskers leaves as a complementary therapy. Pretest data shows that 20% of respondents know about the use of cat's whiskers leaves as a complementary therapy, and in the posttest data show that 85% of respondents understand material related to the use of cat's whiskers leaves as a complementary therapy. Keywords: Education. Toga Plansts, cat's whiskers leaves. Complementary therapy. Abstrak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia tahun 2019 menyebutkan bahwa sebanyak kurang 477 spesies tumbuhan berhasil diidentifikasi secara taksonomi. Data ini menunjukan sebanyak 9,47% dari total seluruh spesies yang ada di seluruh dunia berada di Indonesia. Banyaknya jenis tumbuhan yang hidup di indonesia mampu di manfaatkan dengan baik oleh para leluhur terdahulu dengan memanfaatkan tumbuhan sebagai obat untuk berbagai penyakit. Tanaman obat ini biasanya di sebut sebagai TOGA Tanaman obat keluarga (TOGA) merupakan tanaman budidaya di rumahan yang berkhasiat sebagai obat. Metode dalam pengabdian ini menggunakan pemaparan materi yang di lakukan oleh dosen S1 Farmasi Klinis dan Komunitas dengan metode ceramah dan tanya jawab serta hasil pemaparan materi akan di ukur dengan uji Pretest dan posttest. Hasil dari uji pretest dan posttest didapatkan bahwa terjadi penigkatan pemahaman responden terkait dengan edukasi tanaman Toga dengan hasil pretest 46% responden paham dan hasil posttest meningkat sebesar 89% responden paham. Hasil Edukasi pemanfaatan daun kumis kucing sebagai terapikomplementer juga mengalami peningkatan diamana hasil uji pretest 20% responden paham dan hasil uji Posttest meningkat menjadi 85%. Kata kunci: Edukasi. Tanaman Toga. Kumis Kucing, terapi Komplementer. Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Juli 2023. Hal. 56 - 62 PENDAHULUAN Terletak di derah tropis membuat Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah dan bervariasi. Data dari LIPI tahun 2019 menyebutkan bahwa sebanyak kurang lebih 29. spesies tumbuhan berhasil diidentifikasi secara taksonomi (Aryanta, 2. Data ini menunjukan sebanyak 9,47% dari total seluruh spesies yang ada di seluruh dunia berada di Indonesia. Jumlah ini bertambah dari data pada tahun 2014 disebabkan karena banyak jenis tumbuhan yang ada pada publikasi lama dan terkini yang belum terekam (LIPI, 2. Banyaknya jenis tumbuhan yang hidup di indonesia mampu di manfaatkan dengan baik oleh para leluhur terdahulu dengan memanfaatkan tumbuhan sebagai obat untuk berbagai penyakit (Kemenkes, 2. Tumbuhan-tumbuhan ini ahirnya di budidayakan dan ditanam kembali dengan tujuan mempermudah mendapatkan bahan obat yang berasal dari tanaman. Tanaman yang biasa digunakan sebagai bahan obat sering disebut apotek hidup karena mampu mengobati beberapa penyakit (Kemenkes, 2. Apotek hidup merupakan istilah untuk tanaman yang di tanaman di pekarangan rumah atau keluarga yang bisa di manfaatkan sebagai obat atau terapi pendamping pengobatan untuk mempercepat proses penyembuhan penyakit, dimana seiring dengan berjalannya waktu istilah apotek hidup diganti dengan istilah Tanaman Obat Keluarga (Mayang dkk, 2. Tanaman obat keluarga (TOGA) merupakan tanaman budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat dimana untuk saat ini masih banyak orang yang menggunakan obat tradisional untuk menyembuhkan beberapa penyakit dengan cara menanam tanaman obat keluarga ini di pekarangan rumah agar lebih mudah didapatkan (Nurdiawati dkk 2. Tanaman obat keluarga yang biasanya ditanam di pekarangan rumah karena memiliki bentuk dan manfaat yang banyak adalah kumis kucing dengan nama latih Orthosiphon aristatus (Sukmawati 2. Kumis kucing merupakan tanaman yang berasal dari famili Laminaceae dengan daun berbentuk bulat telur atau lonjong dengan bunga berbentuk tandan yang keluar di ujung cabang dengan mahkota berwarna putih atau ungu pucat. (LIPI, 2. kumis kucing telah dipakai sejak dahulu sebagai pengobatan pada gangguan saluran kemih dan ginjal, hipertensi, diabetes militus, dan gout atau asam urat (Surahmaida, 2. Hasil penelitian penunjukan kumis kucing mampu memberikan efek anti hipertensi dengan menghambat kontraksi ototpolos Aorta (Ohashi et al, 2. Pengolahan kumis kucing sebagai terapi komplementer bisa dilakukan dengan beberapa cara dimana salah satu cara yang paling mudah dilakukan dirumah adalah dengan membuatnya sebagai loloh, dimana loloh merupakan minuman tradisional khas bali yang dibuat dengan cara merebus daun kumis kucing Bersama air agar zat-zat berkhasiat yang ada dalam tanaman larut kedalam air (Mindarti 2. Berdasarkan latarbelakang diatas pengabdian ini bertujuan untuk memberikan edukasi terhadap pentingnya menananm tanaman toga di pekarangan rumah serta memberikan pelatihan atau cara pemanfaatan tanaman toga kumis kucing sebagai loloh untuk terapi METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang Edukasi Tanaman Toga dan Pengolahan Tanaman Toga Kumis Kucing Sebagai Terapi Komplementer, yang dilaksanakan oleh tim pengabdian masyarakat dan dosen S1 Farmasi Klinis dan Komunitas Intitut Teknologi dan Kesehatan Bintang Persada. Pengabdian ini dilakuan pada Minggu 28 Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Juli 2023. Hal. 56 - 62 mei 2023 yang bertepat di banjar Sila Dharma mengwitani Badung yang dimulai pada pukul 07:00-14:00 Wib Kegiatan ini terbagi menjadi: Pemberian Materi Edukasi Tanaman Toga dan Pemanfaatan daun Kumis Kucing sebagai terapi Komplementer. Pemberian materi penyuluhan dengan menggunakan metode ceramah dan menggunakan media slide power point yang berisi penjelasan mengenai tanaman obat keluarga secara umum dan beberapa jenis tanaman obat keluarga yang sudah mengalami uji klinik dan dipublikasikan secara ilmiah pada jurnal, terdiri dari khasiatnya secara ilmiah, penanaman dan pemeliharaan, serta materi pengolahannya secara sederhana agar bisa langsung di gunakan sebagai terapi pendamping atau terapi Melakukan Pretest dan Posttest sebelum pemberian materi. Pretest diberikan sebelum dilakukan pemaparan materi oleh para dosen yang ditunjuk untuk memberikan materi terkait dengan tanaman obat keluarga dan pemanfaatan kumis kucing sebagai terapi komplementer. Posttest diberikan sesudah materi diberikan oleh para dosen yang ditunjuk untuk memberikan materi terkait dengan tanaman obat keluarga dan pemanfaatan kumis kucing sebagai terapi komplementer. Pembuatan Loloh/minuman dari Rebusan Daun kumis Kucing Pembuatan loloh/minuman dari rebusan daun kumis kucing di demokan oleh para dosen dengan memberikan langkah-langkah cara pembuatan loloh kumis kucing dari memilih bahan sampai ahirnya bisa di konsumsi sebagai terapi obat komplementer. Diskusi dan Tanya jawab Pada bagian ini dilakukan diskusi dan tanya jawab antara masyarakat di banjar Sila Dharma Mengwitani Badung dengan pemateri terkait pemaparan materi edukasi dan pembuatan loloh dari daun kumis kucing. HASIL dan PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat yang berjudul edukasi tanaman TOGA dan pemanfaatan tanaman TOGA kumis kucing sebagai terapi komplementer di banjar Sila Dharma Mengwitani Badung dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat dan dosen S1 Farmasi Klinis dan Komunitas Intitut Tekonogi dan Kesehatan Bintang Persada pada hari minggu 28 Mei 2023. Pengabdian ini dilakukan di banjar Sila Dharma Mengwitani Badung, karena banjar ini termasuk lingkungan tempat berdirinya Intitut Teknologi dan Kesehatan Bintang Persada sehingga kegiatan pengabdian ini di harapkan mampu memberikan dampak posititif kepada masyarakat sekitar perguruan tinggi sehingga hadirnya perguruan tinggi ini bisa di dukung dan diterima dengan baik oleh masyarakt sekitar. Pengabdian ini dilakukan pada hari minggu 28 Mei 2023 dengan tujuan memberikan kesempata seluruh lapisan masyarakat untuk mengikuti kegiatan ini karena mengingat hari minggu adalah hari libur dan bersamaan dengan kegiatan para lansia sehingga diharapkan bisa meningkatkan antusias warga sekitar dalam mengikuti kegiatan pengabdian ini dengan melihat jumlah peserta yang hadir pada saat pengabdian yaitu sebanyak 76 orang dengan karakteristik responden sebagai berikut: Tabel 1. Jenis Kelamin Responden Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan Total (Sumber : Hasil Pengambilan Data Responde. Persentase Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Juli 2023. Hal. 56 - 62 Tabel diatas menunjukan bahwa persentase kehadiran laki-laki lebih sedikit dari pada perempuan dengan nilai persentase kehadiran laki-laki 37% dan perempuan 63%. Dalam kegiatan ini lebih didominasi oleh perempuan, hal ini didukung oleh penelitian Mayang . yang menyampaikan bahwa keingintahuan perempuan lebih tinggi daripada laki-laki mengingat perempuan merupakan ibu rumah tangga dan selaku penolong pertama ketika keluarganya mengalami kesakitan, sehigga dengan adanya kegiatan edukasi dan pemanfaatan tanaman toga sebagai terapi komplementer membuat para ibu rumah tangga atau perempuan mendominasi kehadiran pada saat pengabdian. Tabel 2. Distribusi Umur Responden Rentang Umur Jumlah Total (Sumber : Hasil Pengambilan Data Responde. Persentase Tabel distibusi umur diatas menunjukan adanya perbedaan yang signifikan dari rentang umur 25-35 hanya ada 5% dari total masyarakat yang hadir dikarenakan menurut menelitian Fahyuni . masyarakat dalam rentang umur ini lebih cendrung mengakses informasi melalui media sosial sehingga kurang adanya minat untuk mengikuti kegiatan pengabdian. Pada rentang 35-45 mulai ada peningkatan yaitu sekitar 22% dari total masyarakat yang hadir dimana pada usia ini para masyarakat mulai menunjukan antusiasnya pada kegiatan yang memberikan dampak positif apalagi dalam rangka meningkatkan kesehatan Rentang usia 45 sampai 65 secara berturut-turut memberikan persentase sebesar 39% pada rentang 45-55 dan 32%. Pada rentang 55-65. Rentang usia yang paling banyak datang pada kegiatan pengabdian ini mengingat pada usia ini masyarakat sudah memasuki pra lansia dan lebih memiliki kepedulian yang lebih tinggi untuk meningkatkan derajat kesehatannya. Selain itu tingginya jumlah pada usia ini dikarenakan kegiatan pengabdian ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan para lansia sehingga secara tidak langsung para lansia lebih mendominasi kegiatan ini. Setelah dilakukan penghitungan karakterisitik peserta pengabdian dengan melihat jenis kelamin dan usia selanjutnya akan dilakukan pengujian Pretest dan Posttest pada peserta pengabdian masyarakat dengan tujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta terhadap tanaman toga dan pemanfaatannya untuk terapi komplementer. Metode Pretest dan Postest juga digunkan untuk mengukur seberapa tingkat keberhasilan dari sebuah pemaparan materi atau input yang diberikan kepada responden dalam hal ini masyarakat di banjar Sila Dharma Mengwitani Badung yang mengikuti pengabdian dengan cara melihat hasil perbandingan hasil sebelum pemaparan materi dan sesudah pemaparan materi dan setelah di lakukan uji di dapatkan hasil Pretest sebagai berikut : Tabel 3. Hasil Uji Pretest Masukan / Input Edukasi tanaman Toga Edukasi pemanfaatan Daun Kumis Kucing sebagai untuk terapi komplementer Pretest Paham Tidak paham Total Responden Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Juli 2023. Hal. 56 - 62 (Sumber : Hasil Pengambilan Data Responde. Hasil pengujian Prestest didapatkan bahwa masih ada sekitar 53% responden yang belum memahami tanaman toga secara umum dikarenakan kurangnya informasi yang didapatkan oleh para responden dan jarangnya ada edukasi terkait tanaman toga. Hasil yang sangat mencolok terkait penggunaan kumis kucing sebagai terapi komplementer dapat dilihat bahwa sebanyak 80% responden tidak memahami penggunaan kumis kucing sebagai terapi komplementer dan hanya mengetahui bahwa kumis kucing hanya bisa digunakan sebagai tanaman hias. Ini dikarenakan kurangnya informasi dan penyuluhan terhadap penggunaan kumis kucing sebagai loloh yang bisa digunakan sebagai terapi komplementer. Selanjutnya dilakukan pemberian materi edukasi yang dilakukan oleh para dosen S1 Farmasi Klinis dan Komunitas terkait tanaman toga, dimana pemberian ini dilakukan dengan metode ceramah dengan bantuan power point untuk memaparkan materi. Materi yang diberikan terkait dengan Tanaman toga secara umum, jenis-jenis tanaman toga yang bisa di tanam di pekarangan rumah, manfaat dari tanaman toga dan pemanfaatannya sebagai terapi Gambar 1. Pemaparan Materi (Sumber : LPPM Teknologi dan Kesehatan Bintang Persad. Selanjutnya dilakukan pemberian edukasi cara pemanfaatan kumis kucing sebagai pengobatan komplementer yang dibuat dalam bentuk sediaan loloh/minuman dari hasil rebusan daun kumis kucing yang di demokan oleh para dosen dimana loloh atau minuman ini dibuat dengan cara merebus daun kumis kucing selama 15 menit dan ditambahan madu sebagai perasa serta perasan jeruk nipis untuk menambah citarasa segar dari loloh ini. Gambar 2. Demonstrasi Pembuatan Loloh Daun Kumis Kucing (Sumber : LPPM Teknologi dan Kesehatan Bintang Persad. Setalah pemaparan materi edukasi dan pemberian cara pembuatan loloh daun kumis kucing selanjutnya dilakukan posttest untuk mengukur kembali sejauh mana pemahaman Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Juli 2023. Hal. 56 - 62 dari responden atau pesrta pengabdian dalam menyimak keseluruhan materi yang Hasil posttest di dapatkan sebagai berikut : Tabel 4. Hasil Uji Posttest Masukan / Input Edukasi Tanaman Toga Edukasi Pemanfaatan daun Kumis Kucing Sebagai untuk Terapi Komplementer (Sumber : Hasil Pengambilan Data Responde. Posttest Paham Tidak paham Total Responden Hasil dari tabel Posttest diatas menunjukan bahwa sebanyak 89% responden paham terhadap pemaparan edukasi terkait tanaman toga dan 85% responden menerima dengan baik edukasi pemanfaatan daun kumis kucing sebagai loloh untuk terapi komplementer. Selanjutnya akan dilakukan perbandingan antara hasil prestest dan posttest yaitu sebagai Tabel 5. Pebandingan Uji Pretest dan Posttest Masukan / Input Edukasi Tanaman Toga Edukasi Pemanfaatan Daun Kumis Kucing Sebagai Loloh untuk Terapi Komplementer (Sumber : Hasil Pengambilan Data Responde. Uji Perbandingan Pretest Posttest Paham Tidak paham 46% . Responde. 89 % . Responde. 20% . Responde. 85 % . Responde. Hasil tabel diatas menunjukan sebelum dan sesudah dilakukannya edukasi tentang tanaman toga dan pemanfaatan daun kumis kucing sebagai terapi komplementer dapat dilihat bahwa, dari hasil sebelum pemaparan materi edukasi tanaman toga di dapatkan hasil pemahaman responden sebsar 46% dan sesudah edukasi tanaman toga hasil Posttest yang didapatkan sebesar 89%. Dari hasil ini bisa dilihat bahwa terdapat peningkatan hasil pemahaman responden terhadap tanaman toga setelah diberikan materi dari dosen terkait tanaman toga. Peningkatan hasil juga di dapatkan pada saat uji edukasi pemanfaatan daun kumis kucing sebagai terapi komplementer, dimana sebelum edukasi didapatkan hasil pengujian sebesar 20% dan sesudah edukasi terjadi pengingkatan yang signifikan dimana hasil uji yang di dapatkan sebesar 85%. Peningkatan ini menjadi indikator bahwa penyampaian materi yang dilakukan oleh pemateri tersampaikan dengan baik, selain itu tingginya peningkatan ini terjadi karena memang masih banyak masyarakat yang belum mengetahui pemanfaatan daun kumis kucing sebagai terapi komplementr, sehingga pada saat selesai pemaparan materi edukasi, pemahanan responden menjadi meningkat dan memberikan hasil yang signifikan. Menurut penelitian Wiryanto . menyebutkan pemberian edukasi yang berhasil dapat dilihat dari peningkatan hasil uji Pretest dan Posttest yang dilakukan, dimana dari hasil yang didapatkan terdapat peningkatan yang signifikan dari hasil uji pretest dan posttest (Wiryanto, 2. Keberhasilan ini didukung oleh penelitian Effendy . yang berjudul Pengaruh pemberian pretest dan posttest terhadap hasil belajar mata diklat HDW. DEV. A pada siswa SMK Negeri 2 Lubuk Basung yang menyebutkan bahwa pemberian edukasi pada siswa dapat dikatakan berhasil dengan meningkatnya nilai posttest dari peserta (Effendy 2. Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. No. Juli 2023. Hal. 56 - 62 KESIMPULAN Kesimpulan dari pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen S1 Farmasi Klinis dan Komunitas Intitut Tekonolgi dan Kesehatan Bintang Persada dilatar belakangi oleh banyaknya sumber daya alam yang melimpah di indonesia serta banyaknya bahan alam yang bisa di manfaatkan sebagai terapi komplementer yang bisa di sebut tanaman obat keluarga (TOGA). Hasil dari pemaparan materi terkait edukasi tanaman toga dan pemanfaatan daun kumis kucing sebagai terapi komplementer dengan uji Pretest dan Posttest di dapatkan hasil uji sebagai berikut: Hasil uji Pretest edukasi tanaman toga 46% responden paham dan setelah di lakukannya pemaparan materi dilakukan Posttest dengan hasil 89% responden Hasil uji Pretest edukasi pemanfaatan daun kumis kucing sebagai loloh untuk terapi komplementer didapatkan 20% responden paham dan setelah di lakukannya pemaparan materi dilakukan Posttest dengan hasil 85% responden paham. Hasil diatas menunjukan terjadinya peningkatan yang signifikan pada hasil Pretest dan Posttest yang sebagai indikator berhasilnya pemaparan materi dan demonstrasi pembuatan loloh daun kumis kucing sebagai terapi komplementer di banjar Sila Dharma Mengwitani Badung. DAFTAR PUSTAKA