JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Implikasi Upacara Wuat WaAoi Dalam Prospek Pendidikan Keberlanjutan Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Rosita Aprila. Didik Iswahyudi. Engelbertus Kukuh Widijatmoko Implikasi Upacara Wuat WaAoi Dalam Prospek Pendidikan Keberlanjutan Rosita Aprila. Didik Iswahyudi. Engelbertus Kukuh Widijatmoko. Universita PGRI Kanjuruhan Malang. Jawa Timur. Indonesia rositaaprila7@gmail. didik@unikama. kukuhwidijatmoko@unikama. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna simbolik dari upacara wuat waAoi dalam kehidupan masyarakat Manggarai serta implikasinya dalam prospek pendidikan keberlanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan wawancara mendalam terhadap narasumber yang memahami tradisi wuat wa'i. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara wuat waAoi tidak hanya memiliki nilai budaya dan religius yang tinggi, tetapi juga memuat nilai-nilai pendidikan seperti tanggung jawab, solidaritas sosial, dan penghormatan terhadap Nilai-nilai ini sangat relevan dalam pengembangan pendidikan keberlanjutan yang menghargai kearifan lokal dan hubungan manusia dengan lingkungan. Dengan demikian, tradisi lokal seperti wuat wa'i dapat menjadi sumber pembelajaran kontekstual dalam sistem pendidikan modern. Kata kunci: Kearifan Lokal. Manggarai. Pendidikan Keberlanjutan. Simbolik Budaya. Wuat WaAoi Abstract This study aims to describe the symbolic meaning of wuat wa'i ceremony in Manggarai community life and its implications in the prospects of sustainability education. This study uses a qualitative approach with descriptive methods. Data were collected through literature studies and in-depth interviews with speakers who understand the wuat wa'i tradition. The results showed that the wuat WA'i ceremony not only has high cultural and religious value, but also contains educational values such as responsibility, social solidarity, and respect for nature. These values are particularly relevant in the development of sustainability education that values local wisdom and the human relationship with the environment. Thus, local traditions such as wuat wa'i can be a source of contextual learning in the modern education system. Keyword: Local Wisdom. Manggarai. Sustainability Education. Symbolic Culture. Wuat WaAoi PENDAHULUAN Indonesia adalah Negara yang terbentang dari sabang sampai marauke dan kaya akan keberagaman seperti suku, agama , ras, budaya maupun adat/istiadat, dan hampir setiap pulau memiliki ciri khas kebudayaan dan adat istiadat di daerahnya masing-masing. Adanya peran adatistiadat yang sangat kental akan menjadi sebuah budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Asnawi . Tradisi atau kebiasan adalah salah satu pola kehidupan kebudayaan yang sudah lama ada semenjak kelompok masyarakat pertama berada dalam suatu wilayah atau daerah tertentu hingga menjadi suatu warisan dari leluhur kepada generasi seterusnya. Budaya merupakan suatu kebiasaan atau hasil pemikiran yang sifatnya turun temurun yang diwarisi oleh nenek moyang suatu daerah kepada generasi yang kemudian terus dijalankan dan dilaksanakan Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Implikasi Upacara Wuat WaAoi Dalam Prospek Pendidikan Keberlanjutan Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Rosita Aprila. Didik Iswahyudi. Engelbertus Kukuh Widijatmoko dalam kehidupan maupun lingkungan adat suatu darah tertentu (Zainuddin, 2. Pendidikan merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan karakter dan kecerdasan suatu bangsa. Menurut Saraswari . pendidikan merupakan hak dasar warga Negara Indonesia, dan oleh karena itu setiap warga Negara memperoleh pendidikan yang berkualitas sesuai dengan keterampilannya, tanpa memandang kelas sosial, status ekonomi, ras, suku, agama, dan jenis kelamain. Pendidikan adalah salah satu aspek terpenting dalam pembangunan suatu Negara, pendidikan juga berupaya untuk membentuk karakter dan kepribadian yang positif pada setiap individu. Pendidikan memiliki peran sentral dalam meningkatkan sumber sebuah bangsa (Abidin, 2. Salah satu upaya untuk meningkatkan tingkatan pendidikan adalah melalui pelaksanaan upacara adat dan tradisi lokal yang seperti upacara wuat waAoi. Wuat waAoi merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat Manggarai untuk saling bahu membahu dalam membiayai pendidikan anak menuju perguruan tinggi. Upacara wuat waAoi merupakan wujud gotong royong yang sudah menjadi ciri khas budaya manggarai dan sudah ada sejak lama. Menurut Fusnika, dkk . Budaya gotong royong memiliki memiliki nilai-nilai gotong royong antara lain: kebersamaan, kekeluargaan, tolong menolong, sosialisasi, keikhlasan, tanggung jawab, serta persatuan dan kesatuan. Dengan terdapat nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya gotong royong. Gotong royong merupakan bantuan spontan atu timbal balik di antara anggota masyarakat (Slikkerveer, 2. Upacara wuat waAoi sudah menjadi tadisi timbal balik atau bahu membahu dalam mengumpulkan biaya untuk pendidikan. Pada saat upacara wuat waAoi masyarakat manggarai akan hadir guna untuk memberikan sumbangan berupa uang maupun persembahan moral berupa doa dan nasihat. Dalam konteks pendidikan, wuat waAoi memiliki peran penting dalam mendukung anakanak menuju jenjang perguruan tinggi. Keberlanjutan pendidikan adalah tujuan utama bagi setiap negara, dan melalui upacara wuat waAoi dapat memahami bagaimana masyarakat lokal berkontribusi pada pendidikan generasi muda. Upacara adat wuat waAoi yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, yang telah menjadi bagian dari sistem pendidikan informal yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan kearifan lokal. Upacara wuat waAoi tidak hanya sekedar ritual, tetapi juga sarana transmisi pengetahuan dan nilai-nilai sosial yang mendalam. Melalui upacara ini, generasi muda diajarkan tentang pentingnya kebersamaan, kerjasama, dan harmoni dengan alam. Ini adalah aspek-aspek yang sering terabaikan dalam pendidikan formal yang cenderung fokus pada kompetensi akademik. Oleh karena itu, integrasi upacara ini dalam kurikulum sekolah dapat membantu siswa mengembangkan kompetensi sosial dan emosional yang penting untuk kehidupan mereka di masa depan. Dalam konteks globalisasi dan perubahan sosial yang cepat, penting bagi sistem pendidikan untuk beradaptasi dan tetap relevan. Upacara wuat waAoi menawarkan perspektif unik tentang bagaimana pendidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan lokal sambil tetap mempertahankan relevansi global. Melalui penelitian ini, kita akan melihat bagaimana upacara tradisional dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan pendidikan global, seperti yang dirumuskan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal. PBB. Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh :. Fransiskus Seda dan Maria Dominika Niron . dengan Judul "Wuat WaAoi: Model Gotong Royong Masyarakat Manggarai dalam Pembiayaan Pendidikan di Perguruan Tinggi" hasil penelitian menemukan bahwa bentuk gotong royong dalam wuat waAoi adalah mengumpulkan dana untuk pendidikan dan memberi sumbangan moril berupa doAoa dan nasihat berbasis budaya. H ilda Trinita Nurti, dkk . dengan judul "Fungsi dan Nilai Mantra Upacara wuat waAoi Pada Masyarakat Rempo Desa Pondo Kabupaten Manggarai Barat-NTT". Hasil dari penelitian ini adalah berupa fungsi sistem pelaksana adat, sebagai pelindung, alat pendidikan, sebagai alat pembenaran ritual dan istiadat, dan nilai yang terkandung dalam upacara wuat waAoi adalah nilai cinta kasih, nilai religius, nilai solidaritas, nilai kerja keras, nilai etika, dan nilai estetika. Stefania Helmon dan Antonius Nesi . dengan Judul "Nilai-Nilai Kearifan Lokal Dalam Tuturan Adat Torok Wuat WaAoi Masyarakat Manggarai: Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Implikasi Upacara Wuat WaAoi Dalam Prospek Pendidikan Keberlanjutan Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Rosita Aprila. Didik Iswahyudi. Engelbertus Kukuh Widijatmoko Kajian Ekolinguistik Metaforis" Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat nilai kearifan lokal dalam tuturan adat Torok wuat waAoi yaitu cinta kasih, kerja keras, religius, dan solidaritas. Peneliti mengambil judul ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana upacara wuat wa'i dapat menjadi alat untuk mengajarkan konsep pembelajaran berkelanjutan. Pembelajaran berkelanjutan tidak hanya tentang pengetahuan akademik yang terus diperbarui, tetapi juga tentang bagaimana seseorang dapat terus belajar dan berkembang sepanjang hidupnya. Upacara wuat wa'i, dengan fokusnya pada pembelajaran melalui pengalaman dan refleksi, menawarkan model yang dapat di adaptasi dalam pendidikan formal untuk mendukung pembelajaran seumur hidup. Pada penelitian ini dapat menggaris bawahi pentingnya mempertahankan dan menghargai warisan budaya dalam pendidikan. Upacara wuat wa'i adalah contoh bagaimana kearifan lokal dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pendidikan yang berkelanjutan dan inklusif. Dengan mengintegrasikan upacara ini ke dalam sistem pendidikan, dapat membantu memastikan bahwa nilai-nilai budaya dan tradisi tidak hilang di tengah arus modernisasi dan Keberagaman suku dan budaya masyarakat Indonesia tercermin dari adatistiadatnya masing-masing yang digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur dan itu dilakukan untuk kelestarian daerah atau suku. METODE Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk memahami implikasi upacara wuat waAoi terhadap prospek pendidikan budaya di Manggarai. Sumber data yang digunakan meliputi informan kunci seperti tokoh adat, pendidik, dan anggota masyarakat yang memiliki pengetahuan mendalam tentang upacara tersebut. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur menggunakan komunikasi telepon, yang memberikan fleksibilitas dalam mengeksplorasi pandangan narasumber. Selain itu, dokumentasi berupa rekaman video dan foto juga digunakan untuk memperkaya data dan mendukung validitas hasil penelitian. Observasi tidak langsung dilakukan melalui analisis dokumen yang relevan untuk memahami konteks sosial dan budaya yang terkait dengan upacara wuat waAoi. HASIL DAN PEMBAHASAN Adat Wuat WaAoi Dalam Budaya Manggarai. Gambar 1. 1 Prosesi Penyembelihan Ayam Jantan Putih Wuat waAoi merupakan salah satu ritus yang terdapat di Manggarai untuk melepas kepergian seseorang yang akan melanjutkan pendidikan ataupun merantau untuk mengubah nasib. Secara etimologis, istilah wuat waAoi berasal dari bahasa Manggarai dimana wuat mengacu pada bekal, sedangkan waAoi merujuk pada kaki. Jadi waut waAoi diartikan sebagi Aubekal perjalananAy Penjelasan lebih lanjut mengenai wuat waAoi merupakan sebuah ritual untuk membekali perjalanan seseorang yang hendak merantau keluar pulau dengan tujuan mengenyam pendidikan atau mencari nafkah. Tradisi wuat waAoi . ekal perjalana. merupakan sebuah pola kehidupan berbudaya yang sudah lama terbentuk sejak orang-orang memulai peradaban di Manggarai. NTT hingga sekarang menjadi sebuah warisan kebudayaan pada generasi muda (Jumpa, 2. Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Implikasi Upacara Wuat WaAoi Dalam Prospek Pendidikan Keberlanjutan Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Rosita Aprila. Didik Iswahyudi. Engelbertus Kukuh Widijatmoko Tradisi wuat waAoi ini adalah tradisi yang turun-temurunkan dari nenek moyang Dari generasi ke generasi berikutnya. Wuat waAoi ini ditujukan bagi siswa-siswi yang mau melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fransiskus Seda dan Maria Dominika Niron . , tradisi wuat waAoi melibatkan masyarakat yang secara bergantian hadir memberikan sumbangan dalam bentuk materi . serta dukungan moral berupa doa dan nasihat budaya kepada anak yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan Penelitian ini menunjukkan bahwa dana yang terkumpul dari tradisi ini dapat mencapai antara Rp 15 juta hingga Rp 100 juta, sehingga tradisi ini memiliki dampak positif dalam membantu pembiayaan pendidikan tinggi bagi masyarakat Manggarai. Pelaksanan upacara wuat waAoi ini dimulai dari mengundang para leluhur di depan pintu rumah keluarga tersebut, yang dilakukan oleh tetua adat. Bersamaan dengan itu, barang-barang yang diperlukan sebagai persembahan kepada leluhur keluarga adalah sebutir telur ayam kampung yang bertujuan untuk mengundang roh-roh para leluhur dari keluarga yang Dalam kepercayaan masyarkat Manggarai bahwa upacara tersebut akan mendatangkan para leluhur untuk mendengar dan menyaksikan ritual wuat waAoi. Setelah itu di lanjutkan dengan ritual utama pengucapan goAoet . engucapan mantr. Ayam jantan putih merupakan salah satu hewan yang dibunuh dan dijadikan sesajen dalam upacara wuat waAoi. Menurut kepercayaan masyarakat Manggarai penggunaan ayam jantan putih dalam ritual wuat waAoi melambangkan cita-cita luhur dan niat yang tulus. Hal ini terungkap dalam goAoet Auuwa haeng wulang, langkas haeng ntalaAy (Tinggi sampai di bulan dan jangkau sampai di langi. Adapun maksud dari goAoet ini sebagai pengingat untuk anak-anak yang bersekolah dan menuntut ilmu, rajin dan tekun belajar, tidak bermalas-malasan. Dengan begitu, mereka tetap fokus dalam meraih cita-cita. Dalam tradisi wuat wa'i, memiliki dua peristiwa penting terjadi. Kedua aspek ini tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling melengkapi barulah wuat wa't menjadi bermakna. Dua hal yang dimaksud adalah mengumpulkan dana untuk menyediakan kebutuhan bagi anak yang hendak keluar dari kampung dan tura manuk Bakok . yam puti. Acara Tura Manuk Bakok tersebut dalam agama lokal wilayah Manggarai, doa berupa permohonan kepada Yang Maha Tinggi (Mori kraen. agar perjalanannya selamat sampai di tempat tujuan. Makna ayam putih adalah kata yang mengandung arti keamanan dan keaslian. Putih, atau warna bakok, merupakan tanda kesucian. Sedangkan pengumpulan dana dilakukan melalui sumbangan individu yang dilakukan oleh anggota keluarga atau siapa saja yang mengikuti acara tersebut. Yang berpartisipasi dalam upacara wiat waAoi ini adalah seluruh keluarga besar wan koe etan tuAoa . ari yang muda sampai yang tua dalam satu kampun. dan yang menghadiri upacara ini adalah hanya yang diundang oleh keluarga yang bersangkutan dan seluruh anggota keluarga besar. Selain itu, penelitian oleh Leonardus Agung Mandut dan rekan-rekannya . mengungkapkan bahwa tradisi wuat waAoi dijadikan sebagai ajang untuk mendukung keberhasilan pendidikan di Manggarai. Tradisi ini sangat bermanfaat sebagai bekal perjalanan untuk melanjutkan pendidikan, dengan memberikan dukungan moral . dan finansial kepada anak yang akan merantau untuk studi lanjut. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yunus & Ledo . , tradisi wuat waAoi bukan hanya sebuah ritual adat, tetapi juga menjadi bentuk solidaritas keluarga besar dalam mendukung pendidikan anak-anak yang akan merantau untuk menempuh pendidikan tinggi. Dalam prosesnya, keluarga besar berkumpul untuk berdoa dan memberikan restu, serta menyerahkan bantuan dalam bentuk materi sebagai bekal perjalanan (Yunus & Ledo, 2. Selain itu. Ruben et al. menegaskan bahwa wuat waAoi merupakan salah satu bentuk modal sosial dalam masyarakat Manggarai yang berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan kekerabatan dan memperkuat identitas budaya. Dalam penelitian mereka, ditemukan bahwa praktik ini tidak hanya bertujuan untuk mendukung pendidikan tetapi juga untuk memastikan bahwa anak yang berangkat merantau tetap terhubung dengan akar budayanya (Ruben et al. , 2. Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Implikasi Upacara Wuat WaAoi Dalam Prospek Pendidikan Keberlanjutan Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Rosita Aprila. Didik Iswahyudi. Engelbertus Kukuh Widijatmoko Upacara Wuat Wa'i dapat digunakan sebagai alat untuk pendidikan berkelanjutan Gambar 1. 2 Prosesi Torok (Menyampaikan Doa Atau Pujian Kepada Leluhu. Dalam konteks pendidikan berkelanjutan, wuat waAoi bukan sekedar ritual adat, tetapi juga memiliki peran strategis dalam memberikan dukungan moral, spiritual, dan bahkan materil kepada anak yang akan menempuh perjalanan akademiknya. Upacara ini menjadi wujud nyata dari keterlibatan keluarga dan komunitas dalam mendorong generasi muda untuk terus menuntut ilmu demi masa depan yang lebih baik. Menurut Sugiarto dan Ledo . , tradisi wuat waAoi dalam masyarakat Manggarai tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai bentuk dukungan sosial dalam pendidikan berkelanjutan. Upacara ini memperkuat jaringan sosial yang memungkinkan siswa memperoleh dukungan moral dan finansial sebelum merantau untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Studi ini menemukan bahwa keterlibatan komunitas dalam wuat waAoi berkontribusi pada peningkatan akses pendidikan bagi generasi muda di daerah tersebut. Selain itu, penelitian oleh Maria et al. menegaskan bahwa wuat waAoi memiliki peran strategis dalam membangun modal sosial bagi siswa yang akan menempuh perjalanan akademik. Mereka mengidentifikasi bahwa tradisi ini tidak hanya memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas, tetapi juga menjadi sarana transfer nilai budaya yang menanamkan semangat belajar dan tanggung jawab terhadap pendidikan. Sementara itu. Herman dan Widyastuti . dalam penelitiannya menyebutkan bahwa praktik wuat waAoi merupakan bentuk nyata dari pendidikan berbasis komunitas yang mendukung keberlanjutan pendidikan. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa dengan adanya tradisi ini, siswa merasa lebih siap secara mental dan emosional untuk menghadapi tantangan akademik, karena mereka telah mendapatkan restu dan dukungan dari keluarga serta masyarakat sekitar. Dalam upacara ini, keluarga dan masyarakat tidak hanya berdoa untuk keberhasilan anak, tetapi juga memberikan nasehat dan pesan moral agar mereka tetap berpegang pada nilai-nilai luhur saat berada di tanah perantauan. Dengan demikian wuat waAoi dapat menjadi saran yang efektif untuk menanamkan pendidikan karakter berbasis budaya yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Menurut Widiastuti et al. , upacara wuat waAoi dalam masyarakat Manggarai memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak melalui pemberian pesan moral dan nilai-nilai luhur sebelum mereka merantau untuk menempuh pendidikan. Studi ini menemukan bahwa nasihat yang diberikan oleh keluarga dan tokoh adat menekankan pentingnya disiplin, kejujuran, serta tanggung jawab sebagai bagian dari pendidikan karakter berbasis budaya. Selain itu. Setiawan dan Nugroho . menegaskan bahwa keterlibatan komunitas dalam upacara wuat waAoi mencerminkan budaya gotong royong yang masih kuat di masyarakat Manggarai. Partisipasi aktif masyarakat dalam bentuk doa bersama serta pemberian sumbangan material merupakan wujud nyata dari solidaritas sosial yang mendukung keberlanjutan pendidikan bagi generasi muda. Salah satu aspek yang menrik dari upacara wuat waAoi adalah keterlibatan aktif komunitas Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Implikasi Upacara Wuat WaAoi Dalam Prospek Pendidikan Keberlanjutan Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Rosita Aprila. Didik Iswahyudi. Engelbertus Kukuh Widijatmoko dalam mendukung pendidikan anak mereka. Masyarakat yang hadir dalam upacara ini sering kali memberikan sumbangan secara spontan, baik dalam bentuk uang maupun barang, sebagai bentuk kepedulian dan dukungan finansial bagi anak yang akan melanjutkan pendidikan. Sementara itu, penelitian oleh Rahman et al. mengungkapkan bahwa wuat waAoi bukan hanya sekadar ritual adat, tetapi juga sebuah sistem sosial yang memungkinkan anak-anak memahami nilai berbagi dan kepedulian terhadap sesama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik ini memperkuat hubungan sosial antara keluarga, komunitas, dan individu yang merantau, sehingga menciptakan jejaring dukungan yang berkelanjutan bagi para pelajar di tanah perantauan. Dampak Adat Wuat WaAoi terhadap keberlanjutan pendidikan Gambar 1. 3 prosesi penyampaian pesan untuk anak yang hendak merantau Masyarakat adat, pendidikan formal sering kali berada dalam posisi yang dilematis ketika berbenturan dengan tradisi yang mengakar kuat. Sistem pendidikan modern menuntut kesinambungan dan konsistensi dalam proses belajar, sedangkan adat seperti wuat waAoi sering kali menuntut individu untuk menjalani kewajiban adat yang bisa mengganggu proses Akibatnya, keberlanjutan pendidikan sering kali menjadi tantangan bagi generasi muda yang masih terikat dengan sistem adat ini. Menurut Santoso et al. , masyarakat adat sering menghadapi dilema antara mempertahankan tradisi dan mengikuti sistem pendidikan formal yang menuntut konsistensi akademik. Studi mereka di Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa tradisi seperti wuat waAoi dapat menjadi faktor yang memperlambat proses pendidikan karena adanya kewajiban adat yang harus dijalankan oleh siswa, terutama dalam keluarga yang masih sangat berpegang teguh pada norma budaya. Sementara itu. Rahardjo dan Tanuwijaya . menyoroti bagaimana ketidak seimbangan antara tuntutan adat dan pendidikan modern sering kali menyebabkan rendahnya angka keberlanjutan pendidikan di komunitas adat. Mereka menemukan bahwa siswa yang berasal dari keluarga adat yang kuat lebih cenderung mengalami wuat waAoi. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Dewantara et al. menunjukkan bahwa tantangan dalam pendidikan bagi masyarakat adat bukan hanya berasal dari aspek budaya, tetapi juga dari kurangnya fleksibilitas dalam sistem pendidikan formal. Mereka mengusulkan model pendidikan berbasis komunitas yang lebih inklusif, di mana tradisi seperti wuat waAoi dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sebagai bagian dari pembelajaran kearifan lokal, sehingga tidak menghambat proses akademik siswa. Selain aspek kewajiban sosial, adat wuat waAoi juga memiliki dampak ekonomi yang cukup Dalam banyak kasus, keluarga harus mengeluarkan biaya yang besar untuk memenuhi tuntutan adat, seperti dalam hal pernikahan atau upacara adat lainnya. Beban ekonomi ini sering kali mengurangi prioritas keluarga dalam membiayai pendidikan anak-anak Akibatnya, banyak anak yang terpaksa putus sekolah karena orang tua tidak mampu membayar biaya pendidikan. Menurut Mulyadi et al. , beban ekonomi yang diakibatkan oleh kewajiban adat dalam komunitas tradisional sering kali menjadi faktor utama yang menghambat akses pendidikan bagi anak-anak. Studi mereka menemukan bahwa keluarga Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Implikasi Upacara Wuat WaAoi Dalam Prospek Pendidikan Keberlanjutan Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Rosita Aprila. Didik Iswahyudi. Engelbertus Kukuh Widijatmoko yang harus mengalokasikan dana besar untuk ritual adat, seperti wuat waAoi,sering kali mengalami kesulitan dalam membiayai pendidikan anak-anak mereka, yang pada akhirnya meningkatkan risiko putus sekolah. Selain itu, penelitian oleh Siregar dan Handayani . menunjukkan bahwa dalam beberapa masyarakat adat di Indonesia, pengeluaran untuk upacara adat dapat mencapai 50Ae70% dari total pendapatan tahunan keluarga. Hal ini mengurangi alokasi dana untuk pendidikan dan kesehatan, yang berdampak langsung pada rendahnya tingkat partisipasi anak-anak dalam pendidikan formal. Sementara itu. Rahmawati et al. menegaskan bahwa tekanan ekonomi akibat tuntutan adat tidak hanya berdampak pada pendidikan anak-anak, tetapi juga pada kesejahteraan keluarga secara keseluruhan. Mereka menemukan bahwa dalam kasus tertentu, orang tua lebih memilih untuk menarik anak-anak mereka dari sekolah agar dapat membantu secara finansial dalam memenuhi kebutuhan adat, yang pada akhirnya memperburuk siklus kemiskinan di komunitas Kaitan Upacara Wuat WaAoi Dengan 3 Skil Pembelajaran Ppkn Civic Knowledge/Pengetahuan Kewarganegaraan Tradisi wuat waAoi sebagai bagian dari budaya Manggarai memberikan kontribusi penting dalam membangun civic knowledge atau pengetahuan kewarganegaraan siswa. Melalui pemahaman terhadap ritual ini, peserta didik memperoleh wawasan tentang keberagaman budaya di Indonesia dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, seperti solidaritas sosial, gotong royong, dan tanggung jawab kolektif. Pengetahuan semacam ini sangat relevan dalam konteks pembelajaran PPKn karena memperluas pemahaman siswa terhadap konsep negara kebangsaan yang majemuk serta pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari identitas nasional. Tradisi wuat waAoi juga memberikan landasan pengetahuan bagi siswa mengenai pentingnya peran komunitas dalam mendukung keberlanjutan pendidikan. Pemahaman ini memperkaya wawasan kewarganegaraan karena menunjukkan bagaimana sistem sosial adat dapat berfungsi sebagai jembatan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional, termasuk dalam bidang pendidikan. Siswa belajar bahwa praktik budaya tidak harus bertentangan dengan sistem pendidikan formal, melainkan bisa saling melengkapi jika diintegrasikan dengan bijaksana ke dalam kurikulum dan kebijakan pendidikan. Civic Dispositions/Sikap Kewarganegaraan Melalui pelaksanaan wuat waAoi, siswa dapat mengembangkan civic dispositions seperti empati, kepedulian terhadap sesama, dan rasa tanggung jawab sosial. Upacara ini menunjukkan bagaimana masyarakat secara sukarela memberikan dukungan moral dan materi kepada anak yang akan menempuh pendidikan tinggi. Nilai-nilai ini penting untuk ditanamkan dalam pembelajaran PPKn agar siswa terbiasa menjadi warga negara yang peduli terhadap kemajuan orang lain dan aktif dalam kegiatan sosial. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi individu yang kompeten, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Wuat waAoi juga mengajarkan pentingnya sikap reflektif terhadap tantangan sosial dan budaya yang dihadapi masyarakat adat. Dalam konteks PPKn, siswa diajak untuk berpikir kritis terhadap dilema antara mempertahankan tradisi dan memenuhi tuntutan pendidikan modern. Melalui diskusi dan refleksi ini, siswa diajarkan untuk menghargai nilai-nilai budaya tanpa mengabaikan pentingnya pendidikan. Sikap ini akan membentuk warga negara yang terbuka terhadap keberagaman pandangan dan mampu mengambil keputusan yang bijak dalam kehidupan bermasyarakat. Civic Skills/Keterampilan Kewarganegaraan Pembelajaran tentang adat wuat waAoi dapat dijadikan sarana untuk mengembangkan civic skills, seperti kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi, dan mengambil keputusan. Siswa diajak untuk menelaah bagaimana praktik budaya dapat berdampak positif maupun negatif terhadap keberlanjutan pendidikan. Mereka juga dapat melakukan simulasi pemecahan masalah, seperti merancang model integrasi wuat waAoi dalam sistem pendidikan Volume 9. Nomor 3. Agustus 2025 JURNAL ILMIAH MUQODDIMAH: Implikasi Upacara Wuat WaAoi Dalam Prospek Pendidikan Keberlanjutan Jurnal Ilmu Sosial. Politik Dan Humaniora E-ISSN : 2598-6236 http://jurnal. um-tapsel. id/index. php/muqoddimah Rosita Aprila. Didik Iswahyudi. Engelbertus Kukuh Widijatmoko agar tidak menghambat proses akademik. Kegiatan ini mendorong siswa untuk berpikir logis dan kreatif dalam menyikapi persoalan sosial di sekitar mereka. Melalui pemahaman terhadap tradisi wuat waAoi, siswa juga dapat dilatih untuk mengembangkan keterampilan partisipasi aktif dalam masyarakat. Dalam konteks PPKn, siswa diajarkan untuk menjadi warga negara yang mampu berperan dalam kegiatan sosial, baik sebagai pelaksana, pengamat, maupun pengambil keputusan. Tradisi wuat waAoi yang melibatkan seluruh komunitas menjadi contoh konkret bagaimana partisipasi kolektif dapat memperkuat solidaritas sosial dan meningkatkan kesejahteraan bersama. Pembelajaran seperti ini dapat memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan yang bernilai sosial dan memperkuat demokrasi partisipatif. SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini menegaskan bahwa upacara wuat waAoi memiliki peran strategis dalam mendukung pendidikan berkelanjutan melalui transmisi nilai-nilai budaya lokal yang kaya, seperti gotong royong, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap alam. Tradisi ini tidak hanya menjadi mekanisme sosial dalam membiayai pendidikan tinggi, tetapi juga sarana edukatif informal yang menanamkan karakter dan identitas budaya kepada generasi muda. Dalam konteks pendidikan modern yang sering kali terfokus pada aspek kognitif. Wuat WaAoi menawarkan pendekatan pembelajaran berbasis komunitas yang holistik dan kontekstual. Meskipun demikian, tantangan tetap ada, khususnya dalam menyeimbangkan tuntutan adat dengan kesinambungan pendidikan formal, serta beban ekonomi yang mungkin timbul dari pelaksanaan tradisi tersebut. Saran Untuk pengembangan selanjutnya, penelitian ini merekomendasikan integrasi nilai-nilai yang terkandung dalam upacara wuat waAoi ke dalam kurikulum pendidikan formal sebagai bagian dari pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Pihak sekolah, pemerintah daerah, dan tokoh adat diharapkan menjalin kolaborasi dalam merancang model pembelajaran kontekstual yang relevan dengan budaya setempat tanpa menghambat proses akademik siswa. Penelitian lebih lanjut juga perlu dilakukan untuk mengembangkan pendekatan pendidikan yang inklusif dan adaptif terhadap dinamika sosial-budaya masyarakat adat, khususnya dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan di bidang pendidikan. DAFTAR PUSTAKA